HASIL PENELITIAN
Penentuan Vektor Malaria
di Kecamatan Teluk Dalam, Nias
Damar T. Boewono, Sustriayu N, T. Sularto, Mujiono, Sukarno
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI Stilatiga, Jawa Tengah
ABSTRAK
Suatu penelitian vektor malaria telah dilakukan pada tahun 1995, di tiga desa yang
terletak di daerah pantai dan pedalaman, Kecamatan Teluk Dalam, pulau Nias, Propinsi
Sumatera Utara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tersangka vektor di daerah tersebut adalah
An. nigerrimus, An. sundaicus, An. kochi, An. barbirostris dan An. sinensis. Dua spesies
telah terbukti sebagai vektor malaria, yaitu An. tessellatus dan An. sinensis, ditemukan
positip mengandung sporozoit, masing-masing dengan uji ELISA pemeriksaan toraks.
Kata kunci: Malaria; vektor; Nias.
PENDAHULUAN
Malaria adalah penyakit yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Anopheles. Dilaporkan 77 spesies Anopheles ada di
Indonesia
(1)
, tetapi hanya 20 spesies diketahui sebagai vektor
malaria
(2)
. Suatu spesies nyamuk dinyatakan sebagai vektor
malaria apabila pernah ditemukan sporozoit di dalam kelenjar
ludahnya
(3)
. Kemampuan suatu spesies Anopheles sebagai vektor
malaria dipengaruhi beberapa faktor seperti: lama hidup, ke-
padatan, pilihan hospes atau kesukaan menggigit dan kerentan-
an terhadap infeksi parasit malaria. Di samping itu juga faktor-
faktor lingkungan seperti temperatur dan kelembaban udara
(4)
.
Pulau Nias terletak di Samudera Indonesia, tepatnya di
sebelah Barat pulau Sumatera. Pulau tersebut merupakan suatu
daerah kabupaten, termasuk Propinsi Sumatera Utara. Kasus
malaria dilaporkan cukup tinggi, Slide Positive Rate (SPR)
berkisar antara 814 persen setiap tahun (Dinas Kesehatan
Kabupaten Dati II, Nias; 1993). Keadaan ekologi suatu pulau,
sangat mempengaruhi epidemiologi malaria di daerah tersebut.
Guna penentuan strategi pemberantasan, perlu diketahui vektor
yang berperan di dalam penularan penyakit malaria di daerah
tersebut. Pernah ditemukan sporozoit pada kelenjar ludah
nyamuk M. ludlowi dan Nm. tesselata, di pulau Nias
(5)
. Parasit
indeks masing-masing adalah 2.73 persen dan 0.79 persen, dari
pembedahan 256 dan 127 spesimen. Sampai saat ini belum ada
konfirmasi vektor malaria di daerah tersebut.
Guna menunjang Program Pemberantasan Penyakit Me-
nular, telah dilakukan penelitian tentang vektor malaria di Ke-
camatan Teluk Dalam, pulau Nias, dimulai pada tahun 1992.
Dalam tulisan ini dilaporkan hasil penelitian tentang kemampuan
spesies nyamuk Anopheles sebagai vektor (Vectorial Capacity)
dalam kaitannya dengan penentuan vektor malaria di daerah pe-
nelitian.
BAHAN DAN CARA KERJA
Daerah penelitian
Penelitian dilakukan di desa Hilinifaoso, Lagundri dan
Hilisimaetano, Kecamatan Teluk Dalam, pulau Nias, Propinsi
Makalah telah dibawakan pada Seminar Hasil-hasil Penelitian, Stasiun Pene-
tian Vektor Penyakit, Tahun 1995/1996. Salatiga 30-31 Januari 1996. Pene-
litian dibiayai oleh WHO/TDR
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
9
Sumatera Utara (Gambar 1). Tempat penelitian merupakan
daerah persawahan dengan sistim irigasi non teknis. Sebagian
daerah merupakan rawa-rawa dengan air tawar atau payau dan
banyak tumbuh pohon nipah. Macam tanaman ekonomi yang
ditanam petani adalah kelapa, kopi dan karet. Jumlah penduduk
di desa Hilinifaoso, Lagundri dan Hilisimaetano, masing-masing
412, 4.45 dan 7.231 orang. Mata pencaharian penduduk yang
utama adalah bertani. Macam ternak dipelihara di daerah pene-
litian adalah babi, sedikit kambing, sedangkan kerbau dan sapi
hampir tidak ada.
Selama penelitian, suhu udara pada malam hari berkisar
antara 28.09 ± 0.11°C dan 21.52 ± 0.12°C. Kelembaban udara
berkisar antara 88.38 ± 0.54% dan 93.875 ± 0.49%. Jumah curah
hujan pada tahun 1995 adalah 1799 mm, jumlah hari hujan 191,
dengan maksimum dan minimum tercatat 278 mm dan 79 mm,
masing-masing bulan Desember dan Juli.
Teknik sampling
Penelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan De-
sember 1995. Penangkapan nyamuk di!akukan setiap dua minggu
satu kali, meliputi:
1) Penangkapan nyamuk malam hari
Suatu team terdiri dan 4 orang bertugas, sebagai penangkap
nyamuk. Dua kolektor ditempatkan di dalam dua rumah berbeda.
Dua kolektor yang lain ditempatkan di luar (di serambi) dua
rumah yang berbeda. Kofektor bertugas menangkap nyamuk
yang hinggap dan menggigit pada dua tungkai mereka yang di-
buka atau bagian badan lain. Penangkapan dilakukan selama 12
jam, dimulai pada saat matahari terbenam dan diakhiri menje-
lang matahari terbit. Petugas penangkap nyamuk diganti setelah
6 jam bekerja. Nyamuk ditangkap menggunakan aspirator dan
dengan bantuan lampu senter dikumpulkan di dalam gelas plas-
tik. Semua nyamuk Anopheles yang tertangkap diidentifikasi
dan ditentukan kepadatan setiap spesies (/orang/malam). Pem-
bedahan ovarium dilakukan untuk penentuan persentase parous.
Sebagai contoh nyamuk disimpan guna penentuan vektor ma-
laria. Penentuan vektor malaria dilakukan dengan menggunakan
tiga metode yaitu:
a. Metode pembedahan dan pemeriksaan kelenjar ludah
Dengan menggunakan dua jarum halus, kepala nyamuk
ditarik dan dipisahkan dari toraks, sehingga kelenjar ludah ter-
tarik keluar. Kelenjar ludah kemudian dipindahkan ke dalam
larutan garam fisiologis pada slide dan ditutup gelas penutup.
Dengan perlahan dan sangat hati-hati gelas penutup ditekan
menggunakan jari. Pemeriksaan dilakukan di bawah mikroskop,
pethesaran 4001000 kali
(3)
.
b. Metode Uji ELISA
Uji ELISA untuk sporozoit dilakukan terhadap nyamuk
Anopheles parous. Cara yang digunakan adalah modifikasi me-
tode Burkot et al
(6,7)
. Penentuan sporozoit menggunakan anti-
bodi monokional terhadap Plasmodium falciparum dan P. vivax.
Penentuan vektor malaria menggunakan metode ELISA, dilaku-
kan di laboratorium NAMRU-II Jakarta. Uji ELISA dilakukan
untuk mendeteksi sirkum sporozoit antigen yang berasal dari
sporozoit. Guna mengurangi false-positive, maka pengujian
hanya dilakukan pada bagian protoraks.
c. Metode sediaan toraks (Squash-Method)
Metode ini digunakan untuk pemeriksaan sporozoit dalam
jaringan toraks nyamuk. Dengan menggunakan jarum halus di-
lakukan pembedahan jaringan protoraks dalam lanitan garam
fisiologis. Setelah diuraikan, jaringan otot serta kulit toraks di-
pisahkan dan dibuang. Setelah sediaan kering pada temperatur
kamar, difiksasi dengan metanol 96% dan diwarnai dengan
Giemsa. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop perbesaran
1000 kali.
d. Percobaan infeksi buatan dengan parasit malaria
Percobaan ini menggunakan An. sinensis strain Nias dari
koloni laboratonium. Nyamuk digigitkan kepada penderita yang
mengandung gametosit Plasmodium vivax atau P. falciparum.
Setelah disimpan selama 1214 hari, dibedah untuk diperiksa
adanya parasit malaria pada kelenjar ludah. Tujuan percobaan
adalah untuk mengetahui kerentanan An. sinensis strain Nias
terhadap infeksi ma1aria
(3)
. Sebagai kontrol digunakan An. sinen-
sis strain Cina, yang telah diketahui sebagai vektor malaria di
dataran Cina bagian tengah dan timur
(8,9,10)
.
2) Uji presipitin
Dilakukan penangkapan nyamuk yang hinggap/istirahat di
dalam dan di luar rumah, pada pagi hari pukul 06.0008.00.
Nyamuk Anopheles yang tertangkap diidentifikasi, dan dibuat
sediaan darah pada kertas saring. Uji presipitin dilakukan di
Institute for Medical Research, Kuala Lumpur, Malaysia.
3) Penentuan siklus gonadotropi
Dilakukan dengan metode: pewarnaan, pelepasan dan pe-
nangkapan ulang (mark release recapture). Nyamuk yang di-
gunakan adalah Anopheles hyrcanus group, spesies An. nigerri-
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
10
mus dan An. peditaeniatus. Penelitian dilakukan pada bulan Mei
1995, di desa Kebondawa, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah.
4) Penentuan kemampuan nyamuk sebagai vektor
Kemampuan nyamuk sebagai vektor malaria (vectorial Ca-
pacity), ditentukan dengan 4 faktor utama yaitu: kepadatan
populasi spesies nyamuk (/orang/malam), kerentanan nyamuk
terhadap infeksi penyakit, pilihan hospes dan umur atau pro-
porsi nyamuk parous.
Hubungan tersebut dinyatakan dengan rumus:
p
p
a
m
VC
n
ln
2
-
=
(m) = kepadatan spesies Anopheles (/orang/malam), (a) = proporsi spesies
Anopheles menggigit manusia/malam, ditentukan dari Human Blood Index
(HBI), dibagi jumlah hari satu siklus gonotropi (hasil penelitian di Banyubiru
adalah 23 hari). (p
n
) = harapan hidup nyamuk setiap hari, ditentukan dari akar
pangkat (jumlah hari satu siklus gonotropi) daripada proporsi nyamuk parous =
(p). (n) = jumlah hari yang diperlukan bagi sporozoit untuk tumbuh dan ber-
kembang di dalam tubuh nyamuk. Untuk perhitungan ini digunakan 10 hari
(11,12)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penangkapan, ditemukan 8 spesies nyamuk
Anopheles menggigit manusia (Tabel 1). Tiga spesies yang lain
tidak ditabulasikan karena selama dilakukan penelitian, jumlah
yang tertangkap kurang dari 5 ekor. Tiga spesies tersebut adalah
An. maculatus, An. barbumbrosus dan An. balabacensis. Dari 11
spesies yang ditemukan, 7 di antaranya dicurigai sebagai vektor
malaria seperti: An. barbirostris, An. sinensis, An. nigerrimus,
An. kochi, An. sundaicus, An. maculatus dan An. balabacensis.
Spesies tersebut dicurigai sebagai vektor malaria, karena di
beberapa daerah di Indonesia pernah ditemukan mengandung
sporozoit.
Anopheles barbirostris, pernah ditemukan positip mengan-
dung sporozoit di daerah Benteng (tahun 1938) dan Wonorejo
(tahun 1939), Propinsi Sulawesi Selatan. Dilaporkan bahwa
sporozoit indeks masing-masing adalah 11 persen dan 13.15
persen
(13)
. Spesies tersebut juga dilaporkan sebagai vektor ma-
laria di Flores Barat (Lee et al., 1983) dan Timor Barat (Lien et
Tabel 1. Kisaran Vectorial capacity genus : Anopheles di daerah Keca-
matan Teluk Dalam, Pulau Nias
Subgenus/ Daerah
Penelitian
Spesies
Desa Hilinofaoso Desa Lagundri Desa Hilisimaetano
Subgenus:
Anopheles
An. nigerrimus
An. crawf6rdi
An. sinensis
An. peditaeniatus
An barbirostris
0.002 2.750
0.582 9.667
0.441 17.497
0.000 0.000
0.000 0.000
0.002 3.732
0.014 7.788
0.003 12.112
0.000 3.433
0.000 2.319
0.067 3.483
0.255 6.927
0.957 13.899
0.000 0.000
0.000 0.000
Subgenus:
Cellia
An. kochi
An. tessellatus
An. sundaicus
0.405 14.907
0.353 6.462
0.367 11.828
0.000 1.614
0.001 3.086
0.000 0.000
1.449 11.068
0.041 1.229
0.000 0.000
al., 1975). Perhitungan vectorial capacity selama penelitian di
daerah Kecamatan Teluk Dalam, berkisar antara 0.02.319 (Tabel
1). Hasil tersebut menyatakan bahwa potensi An. barbirostris
sebagai vektor malaria di daerah penelitian, lebih rendah dari-
pada spesies lain. Pemeriksaan kelenjar ludah baik secara pem-
bedahan, uji ELISA maupun pemeriksaan toraks, tidak ditemukan
sporozoit (Tabel 2, 3, 4).
Anopheles sundaicus, dinyatakan sebagai vektor malaria di
sepanjang pantai pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan
kepulauan Nusa Tenggara Timur
(14,15)
. Spesies tersebut juga
dilaporkan sebagai vektor malaria di daerah pantai pulau Su-
lawesi
(16)
. Sporozoit indeks di desa Margosoeko dan Sitihinggil,
Sulawesi Selatan, masing-masing dilaporkan 39 persen dan 20
persen
(13)
. Pada tahun 1995, telah diinformasikan bahwa An.
sundaicus air tawar, sebagai vektor malaria di daerah Tapanuli
Selatan. Dari percobaan infeksi buatan, 40 persen dinyatakan
positip mengandung sporozoit (Atmosoedjono; komunikasi
pribadi). Hasil penelitian daerah Kecamatan Teluk Dalam,
menunjukkan bahwa An. sundaicus hanya ditemukan di desa
Hilinifaoso. . Vectorial capacity berkisar antara 0.36711.828
(Tabel 1). Walaupun An. sundaicus di pulau Nias pernah dila-
Tabel 2. Penentuan vektor malaria dengan metode pemeriksaan kelenjar ludah, di Kec. Teluk Dalam, Pulau Nias
Desa Hilinifaoso
Desa Lagundri
Desa Hilisimaetano
Spesies
Jumlah Positip/
Jumlah Diperiksa
Sporozoit
Indeks
(%)
Jumlah Positip/
Jumlah Diperiksa
Sporozolt
Indeks
(%)
Jumlah Positip/
Jumlah Diperiksa
Sporozoit
Indeks
(%)
Sub genus
Anopheles
An. nigerrimus
An. crawfordi
An. sinensis
An. pediteniatus
An. barbirostris
0 / 21
0 / 105
0 / 277
0 / 37
0 / 26
0.000
0.000
0.000
0.000
0.000
0 / 63
0 / 76
0 / 119
0 / 51
0 / 44
0.000
0.000
0.000
0.000
0.000
0 / 140
0 / 205
0 / 345
0 / 0
0 / 0
0.000
0.000
0.000
0.000
0.000
Sub genus
Cellia
An. kochi
An. tessellatus
An. sundaicus
0 / 199
0 / 98
0 / 147
0.000
0.000
0.000
0 / 56
0 / 79
0 / 0
0.000
0.000
0.000
0 / 344
0 / 56
0 / 0
0.000
0.000
0.000
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 11
porkan positip mengandung sporozoit, dengan sporozoit indeks
2.73 persen
(5)
, tetapi pemeriksaan kelenjar ludah pada penelitian
ini belum menemukan sporozoit (Tabel 2, 3 dan 4).
Pada tahun 1925, An. kochi di daerah Kisaran, Sumatera
Utara, pernah di laporkan positip mengandung sporozoit. Spesies
tersebut juga dinyatakan sebagai vektor malaria di daerah Tapa-
nuli Selatan. Hasil uji ELISA 20 ekor nyamuk yang ditangkap
menggigit manusia, 5.0 persen ditemukan positip mengandung
P. vivax. Dari percobaan infeksi buatan, 25 persen dilaporkan
positip mengandung sporozoit (Atmosoedjono, 1995; komuni-
kasi pribadi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi An.
kochi sebagai vektor malaria di daerah Kecamatan Teluk Dalam
relatip cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari perhitungan vecto-
rial capacity di desa Hilinifaoso dan Hilisimaetano, masing-
masing berkisar antara 0.40514.909 dan 1.44911.068. Tetapi
selama penelitian tidak ditemukan An. kochi positip mengan-
dung sporozoit (Tabel 24).
Anopheles nigerrimus dahulu dikenal sebagai An. hyrcanus var.
X. Nyamuk ini pernah dilaporkan positip mengandung
sporozoit di daerah Benteng, Sulawesi Selatan, dengan sporozoit
indeks 9.2 persen. Spesies tersebut ditemukan mengandung
sporozoit di daerah Karangbinangoen, Lamongan, Jawa Timur,
dengan sporozoit indeks 10 persen
(17)
. Hasil perhitungan vecto-
rial capacity di daerah Kecamatan Teluk Dalam, berkisar antara:
0.0023.732 (Tabel 1). Selama penelitian, nyamuk ini tidak
ditemukan positip mengandung sporozoit (Tabel 2, 3 dan 4).
Anopheles sinensis pernah dilaporkan sebagai vektor ma-
laria di daerah Sungei Tuan dan Mandailing, Sumatera Utara
dengan sporozoit indeks 1.5 persen (Walch-Walch-Sorgdrager)
(18)
.
Satu ekor nyamuk di daerah Pamanukan, Jawa Barat, pernah
ditemukan mengandung sporozoit
(17)
. Soesilo (1926) melapor-
kan bahwa pernah menemukan satu ekor nyamuk An. sinensis di
pulau Nias
(5)
. Tetapi di daerah Teluk Dalam, spesies tersebut di-
laporkan prevalen di antara nyamuk Anopheles yang ditemu-
kan
(19)
. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vectorial capacity
berkisar antara 0.00317.497 (Tabel 1). Pemeriksaan kelenjar
ludah 741 spesimen, tidak menemukan sporozoit (Tabel 2).
Pemeriksaan sediaan toraks, menemukan satu ekor nyamuk
positip (sporozoit indeks 0.9 persen (Tabel 3). Uji ELISA
terhadap 608 spesimen, semua negatip (Tabel 4). Hasil uji
ELISA 45 spesimen dan percobaan infeksi buatan dengan P.
falciparum, juga tidak menemukan positip mengandung sporo-
Tabel 3. Penentuan vektor malaria dengan metode sediaan toraks di Kec. Teluk Dalam, Pulau Nias
Desa Hilinifaoso
Desa Lagundri
Desa Hilisimaetano
Spesies
Jumlah Positip/
Jumlah Diperiksa
Sporozoit
Indeks (%)
Jumlah Positip/
Jumlah Diperiksa
Sporozoit
Indeks (%)
Jumlah Positip/
Jumlah Diperiksa
Sporozoit
Indeks (%)
Sub genus
Anopheles
An. nigerrimus
An. crawfordi
An. sinensis
An. pediteniatus
An. barbirostris
0 / 16
0 / 33
1 / 114
0 / 0
0 / 0
0.000
0.000
0.900
0.000
0.000
0 / 17
0 / 38
0 / 67
0 / 29
0 / 23
0.000
0.000
0.000
0.000
0.000
0 / 21
0 / 12
0 / 84
0 / 9
0 / 0
0.000
0.000
0.000
0.000
0.000
Sub genus
Cellia
An. kochi
An. tessellatus
An. sundaicus
0 / 52
0 / 33
0 / 67
0.000
0.000
0.000
0 / 49
0 / 28
0 / 0
0.000
0.000
0.000
0 / 31
0 / 23
0 / 0
0.000
0.000
0.000
Tabel 4. Penentuan vektor malaria dengan metode Uji ELISA di Kec. Teluk Dalam, Pulau Nias
Desa Hilinifaoso
Desa Lagundri
Desa Hilisimaetano
Spesies
Diperiksa
jumlah/(vial)*
Sporozoit
positip (vial)
Diperiksa
jumlah/(vial)
Sporozoit
positip (vial)
Diperiksa
jumlah/(vial)
Sporozoit
positip (vial)
Sub genus
Anopheles
An. nigerrimus
An. crawfordi
An. sinensis
An. pediteniatus
An. barbirostris
26 / ( 5)
63 / 03)
139 / (28)
0 / ( 0)
0 / ( 0)
0
0
0
0
0
15 / ( 3)
61 / (12)
127 / (26)
0 / ( 0)
0 / ( 0)
0
0
0
0
0
28 / (6)
166 / (33)
342 / (78)
0 / ( 0)
0 / ( 0)
0
0
0
0
0
Sub genus
Cellia
An. kochi
An. tessellatus
An. sundaicus
28 / (6)
17 / (3)
34 / (7)
0
0
0
40 / (8)
98 / (20)
0 / (0)
0
(1)**
0
121 / (24)
17 / ( 3)
0 / ( 0)
0
(1)**
0
* Satu vial berisi 5 spesimen nyamuk ** Positip Plasmodium falciparum
zoit. Walaupun vectorial capacity An. sinensis cukup tinggi,
nampak tidak menyebabkan kenaikan jumlah kasus malaria di
daerah penelitian (Gambar 2, 3 dan 4).
Gambar 2. Vectorial capacity, An. sinensis, An. tessellatus dan Jumlah
kasus malaria, desa Hilisimaetano Kecamatan Teluk Dalam,
pulau
Nias,
tahun
1995
Gambar 3. Vectorial capacity, An. sinensis, An. tessellatus dan Jumlah
kasus malaria, desa Lagundri, Kecamatan Teluk Dalam,
pulau
Nias,
tahun
1995
Gambar 4. Vectorial capacity, An. sinensis, An. tessellatus dan Jumlah
kasus malaria, desa Hilinifaoso, Kecamatan Teluk Dalam,
pulau
Nias,
tahun
1995
Anopheles balabacensis adalah vektor malaria di daerah
Balikpapan, Kalimantan Timur, sporozoit indeks dilaporkan
1.712.1 persen Spesies tersebut di daerah Kabupaten Banjar-
negara, juga pernah ditemukan positip, dengan sporozoit indeks
4.4 persen
(20)
. Anopheles maculatus dilaporkan sebagai vektor
malaria di daerah pegunungan desa Kalikajar, Kabupaten Wono-
sobo, Jawa Tengah. Sporozoit indeks spesies tersebut adalah 0.7
persen dari pembedahan 130 spesimen yang diperiksa
(15)
. Pada
waktu terjadi wabah di Kediri, Jawa Timur, tiga ekor An. ma-
culatus dari 529 spesimen yang diperiksa, ditemukan positip
mengandung sporozoit (Venhuish)
(15)
. Selama penelitian, dua
spesies tersebut ditemukan kurang dari 5 ekor. Oleh karena itu
sangat kecil kemungkinannya sebagai vektor malaria.
Anopheles tessellatus tidak pernah dilaporkan sebagai vek-
tor malaria, kecuali di kepulauan Maldives, karena merupakan
satu-satunya Anopheles yang ditemukan
(11)
. Di pulau Nias, spe-
sies tersebut pernah ditemukan mengandung sporozoit dengan
indeks 0.4 persen Uji ELISA spesimen dari desa Lagundri dan
Hilisimaetano, masing-masing ditemukan satu pool (5 ekor nya-
muk/pool), positip P. falciparum (Tabel 4). Vectorial capacity
An. tessellatus selama penelitian tidak terlalu tinggi, berkisar
antara 0.0016.462 (Tabel 1). Angka Vectorial capacity tampak
tidak berpengaruh terhadap.jumlah kasus malaria di tiga daerah
penelitian (Gambar 24).
KESIMPULAN
Selama penelitian telah ditemukan 5 spesies Anopheles ter-
sangka vektor malaria di daerah Kecamatan Teluk Dalam, pulau
Nias. Nyamuk tersebut adalah An. nigerrimus, An. sundaicus,
An. kochi, An. barbirostris dan An. sinensis. Dua spesies Ano-
pheles telah terbukti ditemukan mengandung sporozoit, yaitu
An. tessellatus dari desa Lagundri dan Hilisimaetano ditemukan
positip Plasmodium falciparum dengan uji ELISA. Satu ekor An.
sinensis dari desa Hilinifaoso ditemukan mengandung sporozoit
dengan pemeriksaan toraks. Nyamuk Anopheles tersangka vek-
tor yang lain, tidak ditemukan mengandung sporozoit. Pengaruh
tingginya angka Vectorial capacity nyamuk vektor terhadap
jumlah kasus malaria di daerah penelitian tidak nampak.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis men gucapkan terimakasih kepada Ka. Badan Litbang Kesehatan
dan Ka. Puslit Ekologi Kesehatan, atas kesempatan yang diberikan sehinggu
penelitian ini dapat dilaksanakan. Ucapan terimakasih juga disampaikan ke-
pada WHO/TDR, yang telah bersedia membiayai penelitian ini. Penulis juga
mengucapkan terimakasih kepada dr. TB. Ambarita Ka. Dinas Kesehatan Dati
II, Nias dan dr. A. Khaerani selaku Ka. Puskesmas Teluk Dalam dan seluruh staf
SPVP baik di Unit lapangan Hilisimaetano maupun di Salatiga, yang telah
membantu penelitian ini. Tidak lupa ucapan terimakasih juga disampaikan ke-
pada NAMRU-II Jakarta dan Bapak Soeroto Atmosoedjono, yang telah mem-
berikan saran dan fasilitas uji ELISA.
KEPUSTAKAAN
1. Apiwatnasorn C. A list of mosquito species in Southeast Asia. SEAMEO
TROPMED National Centre of Thailand; Mahidol University, Bangkok,
Thailand, 1986. 73pp.
2. Kirnowardoyo S. Status of malaria vectors in Indonesia. Southeast Asian J.
Trop. Med. and Publ. Health, 1985; 16: 12932.
3. WHO. Manual on Practical Entomology in malaria. Part 11. 1975. WHO:
191 pp.
4. Hodgkin EP. The transmission of malaria in Malaya. .Studies from the
Institute for Medical Research Federation of Malaya, No. 27, 1956. 98p.
5. Soesilo R. Uittreksel uit het rapport omtrent het onderzoek naar de
verspreiding van de malaria op een eiland Nias. Gen. tijdschr. voor Ned
Indie, 1926; 75: 127.
6. Burkot TR, Zalawa F, Gwadz RW, Collins FH, Nussenzweig RS, Roberts
DR. Identification of Malaria infected mosquitoes by two-side enzume
linked immunosorbent assay. Am. J. Trop. Med. Hyg. 1984; 33: 2273 1.
7. Burkot TR, Williams JL. Schneider I. Identification of Plasmodium
falciparum infected mosquitoes by double antibody enzyme linked immu
nosorbent assay. Am. J. Trop. Med. Hyg. 1984; 33: 78388.
8. Chow CY. Note on the time of feeding of An. hyrcanus var sinensis and An.
minimus in the vicinity of Chungking. Chinese Medical Journal, 1949; 67:
48990.
9. Hindle E, Feng LC. Experiments with malaria and mosquitoes in Shantung,
China with a note on the value of local species of fish for the duration of
mosquito larvae. Trans. Roy. Soc. Trop. Med. Hyg. 1929; 31: 7 180.
10. Ho C, Chou TC, Chen TH, Hsueh AT. The An. hyrcanus group and its
relation to malaria in East China. Chinese Medical Journal, 1962; 81:
7178.
11. Reid JA. Anopheline mosquitoes of Malaya and Borneo. Studies from the
Institute for Medical Research, Malaysia, No. 31, 1968, 520p.
12. White GB. The importance of An. leucospirus group mosquitoes as vectors
of malaria and filariasis in relation to transmigration and forestry in
Indonesia. with assesment of An. balabacensis ecology and vectorial
capacity. WHO/VBCRU/VBC. 025. 1983.
13. van Hell JC. lets overde Anophelinen faunavan zuid-Celebes met vermeld-
ing' van de malaria-overbrengsters in dit gebiet. Med. Maandbl. 1950
379394.
14. Kirnowardoyo S, Pitoyo PJ, Malik A. Anopheles balabacencis Baisas, 1936
d Kalimantan Timur. Seminar Entomologi Kesehatan, P41 Cabang Jakarta.
1985.
15. Sundararaman S, Soeroto RM, Siran M. Vectors of Malaria in Mid-Java.
Indian J. Malariology, 1957; 11: 32 139.
16. Collins RT, Jung RK, AnoezH, Sutrisno RH, Putut D. A study of the coastal
malaria vectors, Anopheles sundaicus (Rodenwaldt) and Anopheles sub
pictus Grassi, in South Sulawesi, Indonesia. WHO/VBNC/79.740.
17. Van Hell JC. De betekenis van A, (A) hyrcanus var. X als malaria over-
brenger op Zuid-Celebes. Med. Manndbl. 1950; 3: 557567.
18. Beales PF. A review of the taxonomic status of An. sinensis and its
bionomics in relation to malaria transmission. WHO/VBC/84.898.
19. Damar T, Sustriayu N, Sularto T, Mujiono, Sukarno. Anopheles hyrcanus
spesies group dan potensinya sebagai vektor malaria di pulau Nias. (In-
progress), 1994.
20. Pranoto. Survei Sewaktu Entomologi Malaria di Kabupaten Banjarnegara.
Laporan Subdit Serangga, P2M PLP, Jakarta, 1991.
Kalender Peristiwa
September 10-13, 1997 - KURSUS PENYEGARAN III DAN LOKAKARYA
PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI PENYAKIT
KANKER BAGI DOKTER UMUM
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jl. Salemba 6, Jakarta, INDONESIA
Sekr. : Bagian Patoogi Anatomik
FK Universitas Indonesia
Jl. Raya Salemba Raya 6
Jakarta, INDONESIA
September 13-17, 1997 - KONGRES NASIONAL VI DAN SIMPOSIUM INTERNA-
SIONAL PERKUMPULAN PERINATOLOGI INDONESIA
Hotel Manado Beach
Manado, Sulawesi Utara, Indonesia
Sekr.: Perinasia
Jl. Tebet Utara IA/22 Jakarta 12820
Telp. : (021) 828 1243
Fax. : (021) 828 1243, 830 6130
Perinasia Cabang Sulawesi Utara
Bagian Ilmu Kesehatan.Anak RSUP Malalayang
Jl. Tana Wangko Raya
PO Box 66 Manado 96115
Telp. : (0431) 859 091
Fax. : (0431) 351 260
Email :
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
14