background image
HASIL PENELITIAN
Penelitian Aktivitas Biologik
Infus Benalu Teh (Scurulla
atropurpurea Bl. Danser) terhadap
Aktivitas Sistim Imun Mencit
M. Wien Winarno, Dian Sundari, Budi Nuratmi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian aktivitas biologik infusum benalu teh (Scurulla
atropurpurea (BI) Danser) terhadap aktivitas sistem imun pada mencit. Bahan yang
diteliti dalam bentuk infusum dengan dosis pemberian 15 mg, 75 mg, 150 mg, dan
1500 mg/100 gram bb. Sebagai pembanding digunakan akuades.
Infus diberikan secara oral, 1 kali sehari selama 7 hari berturut-turut, setelah
imunisasi dengan sel darah merah domba. Pengamatan meliputi berat limpa dan
pengukuran konsentrasi lg G. Selain itu dilakukan penentuan LD
50
menggunakan
hewan tikus putih, dengan cara Thompson-Weil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infusum benalu teh pada semua
dosis tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap berat limpa dan konsentrasi lg G
(P>0,01), tetapi pada pengamatan konsentrasi lg G setiap minggu, terlihat pola
perkembangan yang meningkat terutama pada dosis 150 mg/100 g bb. yaitu 97,0
mg/dl. Penghitungan LD
50
mendapatkan nilai > 5 gram/kg bb, sehingga bahan dapat
digolongkan tidak beracun.
PENDAHULUAN
Pada saat ini pengembangan obat anti tumor atau anti-
kanker yang berasal dari tanaman banyak digalakkan, meng-
ingat bahan obat asal tanaman tersebut banyak terdapat di
Indonesia. Salah satu bahan obat asal tanaman tersebut adalah
Scurulla atropurpurea (BI) Danser yang biasanya dikenal
dengan nama benalu teh.
Benalu teh (Scurulla atropurpurea (BI) Danser) adalah
tumbuhan yang hidupnya menumpang pada tumbuhan teh dan
menghisap makanan dari tumbuhan inang untuk kelangsungan
hidupnya. Tanaman ini digunakan oleh sebagian masyarakat
yang tinggal di daerah di Indonesia sebagai obat anti tumor
atau antikanker
(1)
. Daun dan batang tanaman ini mengandung
senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, triterpen, saponin dan
tanin
(2,3)
.
Di Eropa dan Amerika ada jenis tanaman misalnya Viscum
album L. yang dipakai untuk mengobati tumor atau kanker.
Penelitian yang pernah dilakukan tanaman tersebut bersifat
imunostimulator yaitu, melalui pengaktifan sel granulosit dan
makrofag, yang memberi sifat anti tumor
(4)
, mungkin benalu
teh mempunyai sifat tersebut dengan mekanisme imuno-
stimulator yang lain yaitu meningkatkan konsentrasi lg G.
Tumor atau neoplasma adalah suatu pertumbuhan jaringan
baru yang tidak normal akibat pertumbuhan sel-sel baru yang
terus menerus tanpa kontrol dan tidak berfungsi bagi tubuh.
Secara garis besar tumor dapat digolongkan menjadi 2 jenis,
yaitu : tumor jinak (benigna) dan tumor ganas (maligna)
(5,6)
.
Sampai sekarang penyakit kanker (tumor ganas) masih
merupakan masalah dalam bidang kesehatan di Indonesia,
dengan angka kematian yang terus meningkat, yaitu 1,4%
tahun 1972 menjadi 4,3% pada tahun 1986 dan 4,4% pada
tahun 1992
(7,8,9)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 11
background image
Ada teori yang menyatakan dalam pembentukan antigen
tumor invivo dilibatkan respon imun humoral maupun seluler.
Respon antibodi terhadap tumor memerlukan bantuan efektor
imun yang lain seperti makrofag dan Natural Killer (NK).
Sampai saat ini belum ada bukti antibodi secara sendiri dapat
menghambat perkembangan atau pertumbuhan sel tumor,
kecuali bukti penelitian invitro terhadap beberapa jenis sel
tumor yang dapat dilisiskan oleh antibodi
(10,11)
.
Imunoglobulin merupakan salah satu fraksi protein dalam
darah yang diproduksi sebagai reaksi terhadap berbagai rang-
sang antigenik yang diproduksi oleh limfosit B dan berperan
dalam kekebalan humoral. Kerja sama imunoglobulin dengan
sel NK terjadi karena sel NK memiliki reseptor Fc lg G. Bila
imunoglobulin G (lg G) mengikat antigen berupa protein pada
permukaan sel tumor yang disebabkan oleh virus, lg G melapisi
permukaan sel tumor, maka terjadi tumorosida. Peran lg G
sangat penting karena aktivitas sel NK terhadap antigen tumor
sangat rendah
(10,11)
.
Tujuan penelitian ini untuk menambah dan melengkapi
informasi mengenai benalu teh sebagai obat tumor atau kanker
yaitu dengan melihat aktivitas lg G pada mencit putih dengan
metode Uji difusi gel kuantitatif.
BARAN DAN CARA
a. Bahan dan Alat Penelitian
1) Bahan
Tanaman atau bagian tanaman yang diteliti ialah herba
Scurulla atropurpurea (BI.) Danser., yang dikumpulkan dari
daerah Probolinggo Jawa Timur dan telah dideterminasi, di
Herbarium Bogoriensis, Bogor.
2) Percobaan Toksisitas akut (LD
50
)
·
Tikus galur Sprague Dawley jenis kelamin jantan dan
betina dengan berat 150-180 gram (40 ekor).
·
Natrium klorida
·
Akuades
·
Kapas steril
·
Sonde lambung
3) Penelitian aktivitas sistem imun
·
Mencit galur C
3
H jenis kelamin jantan dengan berat
18-23 gram (50 ekor)
·
Akuades
·
Buffer Saline Phosphat
·
EDTA
·
Lempeng agar imunodiffusion
·
Immuno viewer
·
Micrometer pipet
·
Pipet tips
·
Capillary tube dengan heparin
·
Micro tube centrifuge
·
Sonde lambung
b. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan
Acak Lengkap dengan 10 pengulangan, untuk melihat peng-
aruh pemberian infusum benalu teh terhadap berat limpa pada
minggu ke 2. Rancangan petak terbagi (split spot) terdiri dari 2
faktor, melihat pengaruh pemberian infusum benalu terhadap
konsentrasi lg G, dari minggu 0 sampai minggu ke-2.
c. Cara Kerja
1) Pembuatan infus benalu teh
Pengolahan bahan tanaman benalu teh dengan cara di-
keringkan dengan sinar matahari dan dalam lemari pengering
dengan suhu tidak lebih dari 50° C sampai mendapatkan bobot
yang konstan. Bahan digiling dan diayak dengan menggunakan
ayakan Mesh 48, serbuk benalu dibuat infus sesuai Farmakope
Indonesia
(12)
.
2) Pembuatan suspens antigen
Sel darah merah domba (SDMD), dipisahkan dari plasma
dengan pemusingan 1500 rpm. Plasma dikeluarkan kemudian
dilakukan pencucian dengan larutan buffer saline phosphat
(BSP) dengan pH 7,2. Pencucian dilakukan paling sedikit tiga
kali. Setelah pencucian selesai BSP dibuang, sehingga diper-
oleh suspensi SDMD 100%. Ke dalam suspensi SDMD 100%
ditambahkan PBS dengan volume yang sama, sehingga
didapatkan suspensi SDMD 50% menjadi 1% dengan
penambahan BSP.
3) Percobaan LD
50
cara Thompson-Weil
(13)
Tikus diberi dosis obat dalam bentuk infus dengan sonde
lambung. Dosis ditentukan dari percobaan pendahuluan dan
kematian diobservasi selama 2 minggu. Pada hari terakhir
pengamatan, semua hewan coba didekapitasi dan dilakukan
pemeriksaan makroskopik. Bila terdapat kelainan organ dalam,
dicatat dan diperiksa secara mikroskopik.
4) Penelitian aktivitas sistem imun
Lima puluh ekor mencit jantan galur C
3
H, dengan berat
badan 20-30 gram, dibagi secara acak menjadi 5 kelompok
diperlakukan dengan sepuluh ulangan (berdasarkan rumus
Federer). Kelompok I mendapatkan akuades dan suntikan sus-
pensi SDMD 1 % intraperitoneum; Kelompok II mendapatkan
infus dengan dosis 15 mg/100 g dan suntikan suspensi SDMD
1 %; Kelompok III mendapatkan infus dengan dosis 75 mg/100
dan suntikan suspensi SDMD 1 %; Kelompok IV mendapatkan
infus dengan dosis 150 mg/100 g dan suntikan suspensi SDMD
1%; Kelompok V mendapatkan infusum dosis 1500 mg/100 g
dan suntikan suspensi SDMD 1 %. Bahan percobaan diberikan
secara oral setiap hari, selama 7 hari dan tiap kelompok men-
dapat makanan dan minuman adlibitum. Satu minggu sebelum
bahan obat dan suntikan SDMD diberikan, dilakukan peng-
ambilan darah lewat vena orbitalis, kemudian diulang peng-
ambilannya 1 minggu setelah pemberian obat dan 2 minggu
setelah pemberian obat pertama. Pemisahan serum darah di-
lakukan dengan cara disentrifus pada 3000 rpm selama 10
menit. Serum yang diperoleh langsung diukur kadar imunoglo-
bulinnya untuk penelitian
(13)
.
d. Pengamatan
1) Pengukuran konsentrasi imunoglobulin G (lg G)
Ke dalam sumuran imunodifusi radial yang masing-masing
mengandung anti lg G mouse, dengan mikro pipet dimasukkan
5
µl serum. Pengukuran diameter presipitasi dilakukan pada
hari ketiga menggunakan alat immunoviewer
(10)
.
2) Pengamatan berat limpa
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
12
background image
Pada akhir percobaan mencit dibius dengan menggunakan
eter, dilakukan pembedahan dari bagian inguinal sampai
torakal untuk mengangkat limpa, sisa cairan yang menempel
pada organ dihisap dengan kertas saring. Berat limpa ditimbang
menggunakan timbangan analitik merk Sartorius.
e. Analisis data
1) Analisis data toksisitas akut (LD
50
dilakukan menurut
metode Thompson-Weil dengan batas kepercayaan 95%.
2) Analisis data aktivitas sistem imun dilakukan :
·
Bila data yang didapat distribusinya normal dilakukan
uji parametrik dengan anova 2 way
(11,12)
.
·
Bila data yang didapat distribusinya tidak normal di-
lakukan uji dengan Friedman dan dilanjutkan dengan
uji berganda
(11,12)
.
HASIL PENELITIAN
1) Uji toksisitas akut (LD
50
)
Pemberian infusum benalu teh dengan dosis tertinggi yang
dapat diberikan pada tikus, selama 14 hari pengamatan, tidak
menimbulkan kematian ataupun tanda-tanda intoksikasi, serta
tidak menimbulkan perubahan tingkah laku maupun bobot
badan. Pengamatan makroskopik tidak menunjukkan adanya
penyimpangan morfologi pada organ hati, ginjal, limpa, paru
dan jantung. Dengan demikian didapatkan harga LD
50
> 5
gram/kg bb, sehingga dapat digolongkan bahan termasuk
kategori tidak beracun
(14)
.
2) Penelitian aktivitas sistem imun
a) Pengukuran konsentrasi Imunoglobulin G (lg G)
Pemberian infus benalu teh pada semua dosis, setelah
diimunisasi dengan sel darah merah domba terlihat kenaikan
konsentrasi lg G pada setiap minggunya (Tabel 1). Perhitungan
uji normalitas dan homogenitas kadar lg G hewan perlakuan
dan kontrol memperlihatkan distribusi normal dan sebaran
yang homogen. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan per-
hitungan analisis uji parametrik anova 2 way
(14)
.
Pada uji statistik tersebut tidak terdapat perbedaan nyata
antar dosis perlakuan (P>0,01). Bila dilihat pola perkembangan
lg G minggu ke-0,1 dan 2 terdapat perbedaan sangat nyata pada
P<0,01. Pengujian dengan regresi Poli/nominal Orthogonal
terhadap pola perkembangan lg G minggu ke-0,1, dan 2 pada
dosis 15, 75, 1500 mg/100 g bb. dan akuades umumnya mem-
punyai pola perkembangan yang sama (regresi mendatar),
namun pada dosis 150 mg/100 g bb. menunjukkan pola
perkembangan yang meningkat (regresi linier) dengan
persamaan garis Y = 265,13 + 97X, dengan peningkatan kon-
sentrasi 97,0 mg/dl (Gambar 1).
b) Berat limps
Pengukuran berat relatif limpa (berat limpa per bobot
badan akhir) disajikan dalam tabel 3. Bila dilihat kelompok per
kelompok, maka kelompok akuades menunjukkan berat relatif
limpa yang besar, yaitu 15,8 mg disusul Dosis 1, Dosis 2, Dosis
4 dan Dosis 3. Pada uji homogenitas dan normalitas mem-
perlihatkan data mempunyai distribusi tidak normal dan sebar-
an yang tidak homogen. Berdasarkan hal tersebut dilakukan uji
non-parametrik Krusal-Wallis dari uji statistik tersebut berat
relatif limpa dari 5 kelompok perlakuan tidak berbeda nyata
(P>0,05) (Tabel 2).
Tabel 1. Hasil pengukuran rata-rata konsentrasi 1gG (dalam mg/dl).
Dosis Waktu
Rata-rata
Dl
Minggu 0
Minggu 1
Minggu 2
452,0
± 127,32
485,0
± 87,23
527,7
± 112,99
D2
Minggu 0
Minggu 1
Minggu 2
472,7
± 126,81
601,8
± 183,25
523,2
± 230,65
D3
Minggu 0
Minggu 1
Minggu 2
366,7
± 167,71
450,0
± 117,52
560,7
± 148,01
D4
Minggu 0
Minggu 1
Minggu 2
435,6
± 59,93
443,8
± 100,39
452,2
± 96,86
Akuades
Minggu 0
Minggu 1
Minggu 2
429,9
± 120,83
507,3
± 153,16
500,3
± 109,26
Keterangan :
D1 = Dosis infusum benalu teh 15 mg/100 g bb.
D2 = Dosis infusum benalu teh 75 mg/100 g bb.
D3 = Dosis infusum benalu teh 150 mg/100 g bb.
D4 = Dosis infusum benalu teh 1500 mg/100 g bb.
Akuades = akuades 0,3 ml/10 g bb.
Gambar 1. Persamaan regresi hubungan pemberian infus benalu teh
dosis 150 mg/100 g dengan peningkatan konsentrasi lgG.
PEMBAHASAN
Tanaman benalu teh (Scurulla atropurpurea (BI) Danser)
secara empirik digunakan untuk mengobati penyakit tumor atau
kanker. Aktifitasnya sebagai obat antitumor atau antikanker
mungkin secara tidak langsung yaitu rnelalui pengaktifan
sistem kekebalan tubuh dengan mengukur konsentrasi lgG.
Pemakaian bahan sebagai obat anti tumor atau kanker me-
nimbulkan dugaan bahwa bahan bersifat imunostimulator yaitu
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 13
background image
Tabel 2. Berat relatif limpa mencit pada akhir percobaan.
Ulangan
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jumlah Rata-rata
Dosis 1
0,186 0,055 0,061 0,089 0,199 0,313 0,258 0,154 0,073 0,088
147,6
14,8
± 0,09
Dosis 2
0,082 0,500 0,209 0,278 0,970 0,940 0,570 0,580 0,075 0,081
108,1 10,8
± 0,075
Dosis 3
0,052 0,084 0,058 0,082 0,100 0,068 0,096 0,073 0,045 0,055
71,2
7,1
± 0,019
Dosis 4
0,151 0,075 0,070 0,069 0,137 0,070 0,248 0,052 0,090 0,055
101,7 10,1
± 0,061
Akuades 0,056
0,064
0,089
0,060 0,205 0,148 0,061 0,051 0,043 0,022
158,4 15,8
± 0,084
dapat meningkatkan konsentrasi lgG. Hasil pengujian pem-
berian infusum benalu teh pada semua dosis perlakuan tidak
memperlihatkan adanya peningkatan konsentrasi lgG (P>0,01),
dengan pembanding akuades, tetapi pada dosis 150 mg/100 g.
bobot badan terjadi kecenderungan peningkatan konsentrasi
lgG. Sehingga dapat dikatakan infus benalu teh pada dosis
tersebut di atas dapat dikatakan bersifat imunostimulator yaitu
peningkatan konsentrasi lgG. Kemungkinan diantara senyawa-
senyawa imunostimulator. Wagner (1985) secara umum
menyebutkan golongan terpenoid, alkaloid atau polifenol mem-
punyai sifat imunostimulator.
Pengamatan terhadap berat relatif limpa, tidak terjadi
perubahan pada berat limpa pada semua dosis perlakuan,
sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan dari pengamatan
tersebut.
KESIMPULAN
Infusum benalu teh (Scurulla atropurpurea (Bl) Denser)
merupakan bahan yang tidak toksik dengan LD
50
>5 gram/kg
bobot badan.
Pengaruhnya terhadap konsentrasi lgG tidak berbeda nyata
antar dosis perlakuan (P>0,01), tetapi pada pengamatan kon-
sentrasi lgG tiap minggu terlihat pola perkembangan yang
meningkat, dengan peningkatan konsentrasi 97,0 mg/dl.
14
UCAPAN TERIMA KASIH
Ditujukan kepada Kepala Puslitbang Farmasi, Badan Litbangkes Depkes
RI. serta seluruh staf KPPOT yang telah memberikan saran dan bantuannya
sejak perencanaan sampai selesai penelitian.
KEPUSTAKAAN
1.
Sudarman Mardisiswojo, Harsono Rajakmangun S. Cabe Puyang Warisan
Nenek Moyang. 2 Balai Pustaka Jakarta, Jakarta.
2.
Chairul, dkk. Skrining Fitokimia dan Analisis Komponen Kimia ekstrak
batang Benalu Teh (Scurulla atropurpurea (Bl) Dans). Dibawakan dalam
Seminar Nasional ke-IX. Penggalian, Pelestarian, Pengembangan dan
Pemanfaatan Tumbuhan Obat : Secang dan Benalu. Yogyakarta, 21-22
September 1995.
3. IGP. Santa. Studi Kemotaksonomi-Farmakognasi Benalu Antikanker
(Scurulla atropurpurea (B1.) Denser & Dendophtroe pentandra (L) Miq.
Dibawakan dalam Seminar nasional ke-IX. Penggalian, Pelestarian,
Pengembangan den Pemanfaatan Tumbuhan Obat : Secang dan Benalu.
Yogyakarta, 21-22 September 1995.
4.
Wagner, Hildebert. Immunostimulants of Fungi and Higher Plants, 1984.
5. Achmad Tjarta, Sutisna Himawan : Kumpulan Kuliah Patologi. Bag.
Patologi Anatomik FK. UI.
6.
Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Rumah Tangga, 1972.
7.
Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Rumah Tangga, 1986.
8. Departemen Kesehatan RI dan Biro Pusat Statistik. Survei Kesehatan
Rumah Tangga, 1992.
9.
Abbas AK, Lictman AH, Pober JS. Cellular and Molecular Immunology
Saunders Co. Philladelphia, 1991.
11. Rott IM. Essential Immunology. Blackwell Science Publ. Oxford, 1991.
12. Departemen Kesehatan RI. Farmakope Indonesia, 1979.
13. Mohamad Sadikin dkk. Vitamin A dan Imunitas : 3. Peningkatan Titer
Antibodies Tikus Anti Sel Darah Merah Domba oleh Pemberian Vitamin
A secara Oral, MKI 1995; 45 (7).
14. Sudjana. Metode Statistilk. Tarsito Bandung
Exercise the muscles well, but spare the nerves always
(Schopenhauer)
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000