background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Penatalaksanaan Pneumonia Bakteri
pada Usia Lanjut
Dr Ria Faridawati
Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Unit Paru Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Walaupun kini telah banyak kemajuan dalam pengobatan
infeksi saluran napas ternyata pneumonia masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat secara umum dan khususnya
pada golongan usia lanjut
(1,2)
. Pneumonia usia lanjut mempunyai
angka mortalitas mendekati 40%. Tingginya angka mortalitas
ini disebabkan oleh penyakit penyerta dan kondisi tertentu
seperti diabetes melitus, payah jantung kronik, penyakit
vaskuler, penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), peminum
alkohol dan penyakit-penyakit lainnya. Penyakit-penyakit
tersebut di atas umumnya terdapat pada usia lanjut
(3)
.
Pengobatan pneumonia pada usia lanjut harus berhati-hati
terutama pada penderita yang mempunyai faktor risiko ter-
tentu; selain itu pneumonia usia lanjut memberi gejala klinik
yang bermacam-macam, sehingga sering sulit membuat
diagnosis yang tepat.
Dalam tinjauan kepustakaan ini dibahas klasifikasi dan
epiderniologi, patogenesis, diagnosis, gambaran radiologik dan
penatalaksanaan pneumonia pada usia lanjut.
KLASLFIKASI PNEUMONIA
Menurut gambaran klinik pneumonia dibagi atas typical
pneumonia dan atypical pneumonia atau pneumonia yang tidak
khas. Typical pneumonia secara klinik ditandai dengan demam
tinggi, perasaan dingin, nyeri dada dan batuk produktif,
terdapat leukositosis, secara radiologis biasanya melibatkan
satu 1obus
(1,4)
. Kuman penyebab yang sering antara lain adalah
Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenzae, Klebsiella
pneumon Staph ylococcus aureus, bakteri aerob gram negatif
dan bakteri aerob.
Atypical pneumonia sering tanpa gejala demam, rasa
dingin, batuk tidak produktif, nyeri kepala, mialgia,
leukositosis yang tidak terlalu tinggi
(1,4)
. Secara radiologis
didapatkan gambaran bronkopneumonia
(1)
.
Klasifikasi lain dan pneumonia adalah menurut tempat asal
infeksi; dibagi atas:
- Community acquired pneumonia yaitu pneumonia yang di-
dapat dalam masyarakat.
- Hospital acquired (nosokomial) yaitu pneumonia yang di-
dapat di rumah sakit
(1,2,4,5)
.
Berdasarkan etiologi, pneumonia dapat dibagi atas:
- Pneumonia bakteri
- Pneumonia virus
- Pneumonia mikoplasma
- Pneumonia riketsia
Pada pneumonia bakteri, kuman penyebab yang sering an-
tara lain Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus pyo-
genes
(6)
.
EPIDEMLOLOGI
Pneumonia dapat terjadi di semua negara tetapi data untuk
perbandingan sangat sedikit, terutama di negara berkembang.
Di Amerika pneumonia merupakan penyebab kematian
keempat pada usia lanjut, dengan angka kematian 169,7 per
100.000 penduduk
(1)
. Tingginya angka kematian pada
pneumonia sudah dikenal sejak lama, Osler W menyebutkan
pneumonia sebagai "teman pada usia lanjut"
(1)
.
Usia lanjut merupakan risiko tinggi untuk pneumonia, hal
ini juga tergantung pada keadaan pejamu dan berdasarkan
tempat mereka berada. Pada orang-orang yang tinggal di rumah
sendiri insidens pneumonia berkisar antara 25 ­ 44 per 1000
orang dan yang tiaggal di tempat perawatan 68 ­ 114 per 1000
orang. Di rumah sakit pneumonia usia lanjut insidensnya tiga
kali lebih besar daripada penderita usia muda
(1)
.
Venkatesan dkk mendapatkan dan 38 orang pneumonia usia
lanjut yang didapat di masyarakat, 43% diantaranya disebabkan
oleh Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenzae dan
virus influenza B; tidak ditemukan bakteri gram negatif. Lima
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
10
background image
puluh tujuh persen lainnya tidak dapat diidentifikasi karena
kesulitan pengumpulan spesimen dan sebelumnya telah diberi
kan antibiotik
(7)
.
Pada penderita kritis dengan penggunaan ventilator meka
nik dapat terjadi pneumonia nosokomial sebanyak 10% sampai
70%
(1)
.
PATOGENESIS
Terjadinya pneumonia berhubungan dengan jumlah bakteri
yang teraspirasi, penurunan daya tahan tubuh pejamu dan vim
lensi koloni bakteri di orofaring
(8)
.
Pada penderita pneumonia usia lanjut yang berada di
rumah, umumnya terdapat peningkatan koloni gram negatif.
Mekanisme tersebut dihubungkan dengan pemakaian antibiotik
serta tubuh yang lemah dengan adanya penyakit kronik. Secara
kuantitatifaspirasi bakteri dan orofaring mungkin akan mening-
kat pada penderita dengan penurunan kesadaran seperti penyakit
degeneratif, kelainan esofagus, CVD, trakeostomi, pemasangan
pipa lambung, dan pemakaian obat-obatan seperti sedatif.
Turunnya daya tahan tubuh dihubungkan juga dengan
imunitas humoral dan imunitas seluler, malnutrisi, perokok
berat dan penyakit sistemik. Faktor predisposisi pneumonia
adalah penggunaan pipa endotrakeal, pemakaian nebuhaler,
adanya super infeksi dan malnutrisi.
Hampir sebagian besar (50%­60%) pneumonia yang di
dapat di rumah sakit disebabkan oleh hasil aerob gram negatif,
dapat juga disebabkan oleh Streptococcus aureus, Hemophillus
influenzae
(3,10)
.
DIAGNOSIS
Tidak didapatkan demam pada 20% pneumonia usia lanjut
dan dapat tanpa disertai batuk produktif dan perasaan
dingin
(3,4)
. Pada pemeriksaan fisik, tanda klasik seperti perkusi
yang redup, suara napas bronkial, ronki basah tidak selalu
dijumpai. Frekuensi pernapasan 24 kali per menit cukup
bermakna pada penderita pneumonia usia lanjut
(3)
. Pneumonia
usia lanjut dapat bersama sama syok septik yang memberi
gejala letargi, anoreksi, dan perubahan mental.
Pada sebagian besar penderita didapatkan leukosit yang
normal atau sedikit meninggi, kadang-kadang didapatkan leu-
kositosis
(3)
. Dapat terjadi peningkatan ureum, kreatinin dan
glukosa, terdapat juga hiponatremi atau hipernatremi,
hipofosfatemi; dapat terjadi hipoksemi yang disebabkan infeksi
akut dan dapat disertai payah jantung, PPOK atau keduanya.
Pada pneumonia usia lanjut diagnosis radiologik ditegakkan
bila didapatkan gambaran infiltrat baru. Tetapi kadang-kadang
sulit menilai gambaran radiologik terutama jika didapatkan
keadaan dehidrasi. Sering kali infiltrat belum terlihat pada 24-48
jam setelah perawatan
(3)
. Gambaran radiologi kadang-kadang
masih tampak normal pada pneumonia dini, pneumonia oleh
bakteri gram negatif dan tuberkulosis endobronkial. Pada pneu-
monia usia anjut sering didapatkan penyakit penyerta seperti
PPOK, gagal jantung dan sindrom gawat napas pada dewasa;
pada keadaan ini gambaran radiologi sangat sukar dinilai
(3)
.
Pneumonia oleh pneumococcus
Penyakit ini biasanya akut dengan demam tinggi; pada usia
lanjut tidak selalu demam, mungkin disertai keadaan umum
yang lemah, malaise dan dehidrasi berat. Gambaran radiologik
menunjukkan konsolidasi, biasanya unilateral. Buruk
prognosisnya bila terdapat leukopeni, hipotermi, infiltrat
bilateral, dan adanya penyakit di luar paru.
Pneumonia oleh Hemophillus influensa
Umumnya terdapat pada pneumonia di masyarakat dengan
penyakit penyerta dan keadaan tertentu seperti PPOK, keganas
an pada paru, diabetes melitus, serta pada peminum
alkohol
(3,10)
. Secara radiologik tampak bercak-bercak infiltrat,
hampir semua pada lobus kanan bawah dengan efusi pleura
(3)
.
Pneumonia oleh Klebsiella
Pneumonia dapat terjadi karena infeksi nosokomial dan
mengakibatkan bakteremi. Umumnya berkembang dengan ada
nya diabetes melitus, PPOK dan pada peminum alkohol
(3,11)
.
Pneumonia oleh Legionella
Pada usia lanjut merupakan keadaan berbahaya terutama
dengan riwayat perokok dan penyakit hati.
Gejala klinik yang penting adalah perasaan dingin
berulang; gejala di luar paru seperti diare, nausea dan vomitus
terjadi sebanyak 25%,sakit kepala dan perubahan mental terjadi
lebih dan 30% penderita
(3)
.
Diagnosis banding pneumonia legionella pada usia lanjut
adalah gagal jantung, emboli paru, sindrom gawat napas pada
dewasa, aspirasi lambung, keganasan di paru, pneumonitis
radiasi, reaksi hipersensitif obat
(3)
.
PENATALAKSANAAN
Identifikasi etiologi penting untuk pengobatan antibiotika.
Pemeriksaan bakteri dapat dengan cara pewarnaan gram dan
sputum, pewarnaan gram cairan pleura, kultur sputum, kultur
darah dan cairan pleura. Kadang-kadang sukar untuk memper
oleh sputum yang baik pada pneumoniausia lanjut, karena itu
dapat digunakan antibiotik secana empirik. Dapat juga
dilakukan upaya diagnostik secara invasif seperti aspirasi
transtrakeal, aspirasi endotrakeal dan bronkoskopi. Hasil yang
didapat pada tindakan diagnostik invasif ini tergantung dan
keahlian me lakukan prosedur, dibutuhkan nilai yang akurat
secara mikro biologi
(1,3)
.
Pada pneumonia oleh pneumococcus, penisilin adalah obat
pilihan utama
(1,3,5,6)
. Pada pneumonia ringan dapat diberikan per-
oral, tetapi pada pneumonia berat dengan malabsorbsi perlu
diberikan dengan cara parenteral, dosis dapat lebih dari 1.2 juta
unit per hari. Pada bakteremi tidak dibenarkan pemberian peni-
silin dosis tinggi guna untuk menghindari efek samping penisilin
seperti anemi hemolitik. Pada penderita yang alergi terhadap
penisilin dapat diberikan eritromisin. Pemberian eritromisin
intravena dapat mengakibatkan nausea, vomitus, tromboflebitis
dan kehilangan pendengaran yang reversibel terutama pada usia
lanjut dengan fungsi ginjal menurun. Pemberian sefalosporin
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 11
background image
harus hati-hati pada penderita alergi terhadap penisilin sebab
dapat terjadi reaksi hipersensitif si1ang
(2,10)
.
Terjadinya demam berulang umumnya karena reaksi obat
atau terjadi superinfeksi yang terjadi hari keempat sampai
ketujuh pengobatan.
Pneumonia oleh Hemophilus influenzae
Obat antibiotik yang terpilih adalah ampisilin. Pada pende
rita yang resisten terhadap ampisilin dapat diberikan cefonicid
atau cefuroxime sodium. Pilihan lain adalah penisilin atau
sefalosporin. Bila alergi terhadap penisilin dapat diberikan
kloramfenikol atau trimetoprim-sulfametoksasol
(2,3)
.
Pada pneumonia oleh gram negatif dianjurkan terapi
dengan dua obat yaitu aminoglikosid dan sefalosporin generasi
ketiga. Efek samping nefrotoksik dan ototoksik dapat dikurangi
dengan memeriksa kadar dalam serum. Kadar tertinggi dalam
serum pada tobramisin sulfat dan gentamisin sulfat 8­9 ug/ml
dan 30 ug/ml untuk amikasin sulfat.
Pneumonia oleh strain staphylococcus
Diterapi dengan oksasilin, nafsilin dan sefalotin. Pada
pneumonia oleh karena Staphylococcus maka vankomisin
adalah obat pilihan utama.
Pneumonia oleh Legionella
Sebagai obat pilihan utama yaitu entromisin. Bila klinis
tidak ada kemajuan dapat ditambahkan rifampisin yang bekerja
sinergis dengan eritromisin
(3,6,12)
.
Pleuropneumoni oleh bakteri anaerob
Paling baik diterapi dengan penisilin dan pilihan lain yaitu
klindamisin. Klindamisin sering memberi hasil yang cepat dan
baik pada penderita yang sebelumnya diterapi dengan penisilin.
Berdasarkan penelitian maka standar lama pengobatan
pada pneumonia oleh pneumococcus tanpa komplikasi adalah
7-10 hari; untuk bakteri anaerob 2 minggu, pada Hemophilus
influenza lebih dan 2 minggu karena lesi yang biasanya luas, 2-3
minggu untuk batang gram negatif atau Streptococcus aureus
dan 3 minggu untuk Legionella.
Dalam penatalaksanaan harus diperhatikan nutrisi, jumlah
kalori yang dibutuhkan baik parenteral atau melalui pipa lam-
bung
(9)
. Cairan dan elektrolit perlu dinilai karena pada pneumo-
nia dapat terjadi hiponatremi atau hipernatremi. Infeksi
meningkatkan katabolisme protein dan melemahkan sistim
imunitas humoral dan seluler.
Sistim respirasi harus diperhatikan, bila terjadi hipoksemi
dapat diberi oksigen. Pemberian oksigen dapat dinilai dengan
analisis gas darah, karena keracunan oksigen dapat
melemahkan gerakan mukosiliar dan menyebabkan fibrosis.
Penting diperhatikan interaksi obat-obat yang dipakai, agar
dicapai efek obat yang maksimum dengan efek samping yang
minimal. Dalam pemberian obat lebih dan dua macam dapat
terjadi percepatan metabolisme obat, penganuh terhadap pem-
buluh darah perifer atau mempengaruhi sistim saraf sentral
(13)
.
Fisioterapi diperlukan untuk pengeluaran sputum dan juga
untuk mencegah terjadinya dekubitus serta mencegah
terjadinya kontraktur
(9)
.
KESIMPULAN
1) Pneumonia pada usia lanjut sering memberikan gambaran
klinik yang ringan, sehingga kadang-kadang tidak segera di
terapi.
2) Pemberian antibiotik pada pneumonia usia lanjut dapat
secara empirik dan data statistik dan epidemiologi sambil me
nunggu identifikasi bakteri atau bila mendapatkan kesulitan
pada identifikasi bakteri.
3) Dalam penanganan pneumonia usia lanjut harus diperhati
kan penyakit penyerta yang umumnya terdapat pada usia lanjut
seperti diabetes melitus, payah jantung kronik, penyakit
vaskuler, PPOK dan lain-lain.
KEPUSTAKAAN
1. Niederman MS, Sarosi GA. Respiratory infection. In: George RB, Light
RW, Matthay MA, 2nd eds. Chest medicine essentials of pulmonary and
critical care medicine. Baltimore: Williams & Wilkins, 1.990; 307­09.
2. Gleckman RA, Bergman MH. Bacterial pneumonia: specific diagnosis and
treatment of the elderly. Geriatrics 1987; 42: 29­41.
3. Cunha BA, Gingrich D, Rosenbaum GS. Pneumonia syndromes: a clinical
approach in the olderly. Geriatrics 1990; 45: 49­55.
4. Kiss TG. Infections of the lung parenchyma. In: Diagnosis and
management of pulmonary disease in primary practice. Sydney: Addison-
Wesley Pubi Co 1982; 122­31.
5. Finegold SM, Johnson CC. Pyogenic bacterial pneumonia, lung abscess
and empyema. In: Murray JF, Nadel JA, eds. Textbook of Respiratory
Medicine. Philadelphia: WB Saunders Co 1988; 803­20.
6. Crofton J, Douglas A. Pneumonia. In: Respiratory disease. Singapore: PG
Publ Pte Ltd, 1983; 165­87.
7. Ven Katesen Pet al. A hospital study of community acquired pneumonia in
the elderly. Thorax 1990; 5: 254­58.
8. Stein D. Managing pneumonia acquired in nursing homes: special con
cerns. Geriatrics 1987; 42: 81­90.
9. Pemington JE. In: Respiratory infections: diagnosis and management. 2nd
ed. New York: Raven Press, 1989; 177­81.
10. Harris GD, Johanson WG. Pathogenesis of bacterial pneumonia. In:
Guenter CA, Welch MG. ed. Pulmonary medicine. Second ed.
Philadelphia: lB Lippincott Co. 1982; 347­68.
11. Cherniack RM, Cherniack L. Lung parenchymal disease. In: Respiration in
health and disease. Third ed. Tokyo: WB Saunders Co. 1983; 299­301.
12. Hodson ME. Pneumonia. In: Warwick MT. Hodson ME, Corri, Kerr IH.
(eds). Clinical atlas respiratory disease. New York: JB LippincottCo. 1989;
122­29.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
12