background image
HASIL PENELITIAN
Pemeriksaan Cemaran Aspergilus pada
Tempe
Akmal
Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang
PENDAHULUAN
Aflatoksin adalah racun yang dihasilkan oleh jamur jenis
Aspergillus dan Penicillium tertentu, mempunyai sifat racun
yang sangat berbahaya yaitu kerusakan hati (hepatotoksik) dan
dapat menyebabkan kanker hati
(1,2,3)
.
Pada umumnya bahan makanan seperti kacang-kacangan,
gandum, singkong, kentang, susu dan keju cenderung tercemar
oleh jamur penghasil aflatoksin
(4)
. Tempe yang merupakan pro-
duk fermentasi kacang kedelai, termasuk makanan olahan jenis
kacang-kacangan yang banyak digemari oleh masyarakat, ter-
utama dari golongan ekonomi lemah karena harganya yang
relatif murah, di samping nilai gizinya yang tinggi
(5,6)
. Oleh ka-
rena itu tempe yang dijual di pasaran, hendaknya terjamin mutu-
nya terutama kebersihan dan keamanannya yakni bebas dari
bahan-bahan yang dapat menyebabkan keracunan.
Dewasa ini proses pembuatan tempe masih dilakukan secara
tradisional menggunakan peralatan dan teknik yang sangat se-
derhana. Oleh karena itu selama proses produksi, penyimpanan
dan transportasinya, tempe dapat tercemar dan ditumbuhi oleh
jamur jenis Aspergillus dan Penicillium
(5,7,8)
.
Mengingat besarnya bahaya yang dapat ditimbulkan oleh
tercemarnya bahan makanan ini oleh jamur penghasil aflatoksin,
maka pada penelitian ini telah diperiksa kemungkinan adanya
cemaran Aspergillusfiavus berbagai jenis tempe yang dijual di
Pasar Raya Padang. Pemeriksaan dilakukan dengan metode
mikrokültur atau slide culture menurut Samson RA
(9,10)
.
METODE PENELITIAN
1) Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi: mikroskop,
inkubator, oven, otokiaf, blender; cawan petri, kaca obyek, kaca
penutup, jarum ose (sengkelit), gelas ukur, labu Erlenmeyer,
gelas piala, timbangan analitis dan alat-alat lain yang umum di-
gunakan di laboratorium kimia farmasilmikrobiologi.
Bahan yang digunakan antara lain, tempe yang diproduksi
oleh berbagai produsen yang dibeli secara acak di Pasar Raya
Padang, Aspergillus flavus NRLL 1957 (pembanding), media
perbenihan Potato Dextrose Agar (PDA), larutan laktofenol, air
suling steril dan bahan-bahan lain yang umum digunakan di
laboratorium kimia farmasi/mikrobiologi.
ABSTRAK
Telah dilakukan pemeriksaan cemaran Aspergillusfiavus pada beberapa jenis tempe
yang dijual di Pasar Raya Padang dengan metode mikrokultur. Sampel diambil secara
acak pada berbagai tempat penjualan pada pagi dan sore hari, terdiri dari lima jenis;
masing-masing ,jenis diambil empat sampel.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa dari 40 sampel yang diperiksa, ternyata empat
sampel di antaranya telah tercemar dengan Aspergillus flavus dengan perincian: tiga
sampel dan kelompok yang diambil pagi hari dan satu sampel dan kelompok yang diambil
sore hari. Sedangkan berdasarkan jenisnya, dari empat sampel yang tercemar dua sampel
berasal dari tempe jenis-1 dan masing-masing satu sampel dan jenis-4 dan 5.
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
12
background image
2) Percobaan
a) Pembiakan Sampel Uji
Sebanyak 200 gram sampel tempe diblender halus dan di-
buat suspensi dengan konsentrasi 10
-2
dan 10
-3
dalam air suling
steril. Sebanyak 0,5 ml dari masing-masing suspensi disemaikan
pada permukaan medium potato dextrose agar yang telah me-
madat dalam cawan petni (pada medium ditambahkan kloram-
fenikol 100 mg/ml), kemudian diinkubasi pada suhu 20°­25°C
selama 5­7 hari.
b) Identifikasi Aspergillusfiavus
Sebanyak 20 ml medium potato dextrose agar dituangkan
ke dalam cawan petri. Setelah memadat lalu diiris dengan ukuran
0,5 x 0,5 cm (balok agar). Tiap balok agar diletakkan pada kaca
obyek di dalam cawan petri di atas batang gelas berbentuk segi-
tiga dengan alas kertas saring yang dibasahi dengan beberapa
tetes air suling steril. Dengan menggunakan jarum ose runcing,
satu koloni spora jamur diinokulasikan pada setiap sisi balok
agar, di atas kaca obyek dan ditutup dengan kaca penutup; ke-
mudian cawan petri ditutup dan diinkubasi pada suhu 20°­25°C
selama 5­7 hari. Semua pekerjaan inokulasi dilakukan di dalam
lemari steril. Setelah jamur bersporulasi, maka konidia dan
konidiofora akan menempel pada kaca penutup dan kaca obyek.
Kemudian disiapkan satu kaca obyek bersih lalu ditetesi dengan
larutan laktofenol, selanjutnya kaca penutup yang telah mengan-
dung sporulasi diletakkan pada kaca obyek tersebut.
Diamati di bawah mikroskop, jamur A. flavus mempunyai
konidia berwarna hijau kekuningan dan sangat cerah dengan ciri-
ciri sebagai berikut : bentuk bulat dengan permukaan bergerigi,
stenigmata uniseriat dengan fialida berbentuk botol atau biseriat
dengan fialida dan metula, konidiofora bergerigi dan tidak ber-
warna. Untuk memastikan adanya A. flavus dapat dibandingkan
dengan A. flavus NRLL 1957 standar, yang diperlakukan sama
dengan sampel uji.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, pengambilan sampel tempe dilakukan
secara acak di berbagai tempat penjualan di Pasar Raya Padang.
Sampel diambil dua kali, yaitu pagi dan sore hari dengan tujuan
untuk melihat pengaruh Iamanya waktu tempe dijajakan di pasar
terhadap peningkatan jumlah cemaran Aspergillus flavus. Dari
survai yang telah dilakukan di Pasar Raya Padang, ternyata ada
lima jenis tempe yang dijual, perbedaannya terletak pada bentuk
dan pembungkusnya (kemasan). Dari lima jenis tersebut, ma-
sing-masing diambil empat sampel di tempat penjualan yang
berbeda, baik pada pagi hari maupun sore hari. Secara keseluruh-
an jumlah sampel yang diperiksa adalah 40 buah.
Pada Tabel 1 dan Tabel 2, terlihat bahwa dari 40 sampel
yang diperiksa, ternyata empat sampel (10%) telah tercemar
jamur A. flavus dengan perincian : tiga sampel berasal dari
kelompok yang diambil pada pagi hari dan satu sampel berasal
dari kelompok yang diambil sore hari. Secara teonitis sampel-
sampel yang diambil sore hari akan lebih banyak tercemar
dibandingkan dengan sampel yang diambil pagi hari, namun
pada percobaan ini diperoleh hasil sebaliknya; mungkin karena
sebagian tempe yang dijual pagi hari berasal dari tempe-tempe
yang tidak terjuai pada siang dan sore hari kemarinnya.
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Cemaran Aspergilus flavus pada Tempe yang
Dijual
di
Pasar
Raya
Padang
No
Jenis
Tempe
Jumlah
Sampel
Jumlah Positif
A. flavus
Jumlah Negatif
A. flavus
1 Jenis-1
8
2
6
2 Jenis-2
8
0
8
3 Jenis-3
8
0
8
4 Jenis-4
8
1
7
5 Jenis-5
8
1
7
Jumlah 40
4
36
Keterangan:
Jenis-1 : Bentuk bulat panjang, dilapisi daun pisang
Jenis-2 : Bentuk segiempat, dibungkus dengan plastik
Jenis-3 : Bentuk pipih, dibungkus dengan daun pisang
Jenis-4 : Bentuk segiempat, dibungkus dengan daun pisang
Jenis-5 : Bentuk .segiempat, ujung lonjong, bagian atas dan bawahnya di-
lapisi
daun
pisang
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Cemaran Aspergilus flavus pada Tempe yang
Dijual di Pasar Raya Padang Berdasarkan Waktu Pengambilan
Sampel
Pagi Sore
No
Jenis
Tempe
Jumlah
Sampel
(+)
(­)
(+)
(­)
1 Jenis-1
8
2
2
0
4
2
Jenis-2
8
0
4
0
4
3 Jenis-3
8
0
4
0
4
4 Jenis-4
8
0
4
1
3
5 Jenis-5
8
1
3
0
4
Jumlah 40
3
17
1
19
Keterangan.
Pagi : Pukul 08.00 ­ 09.00 WIB
Sore : Pukul 16.00 ­ 17.00 WIB
(+) : Jumlah sampel yang tercemar A. flavus
(­) : Jumlah sampel tidak tercemar A. flavus
Berdasarkan jenisnya, ternyata tempe dengan bentuk bulat
panjang yang dilapisi daun pisang, lebih banyak tercemar A.
flavus dibandingkan jenis lainnya, sedangkan tempe bentuk segi
empat yang dibungkus plastik dan tempe bentuk pipih yang
dibungkus daun pisang, tidak tercemar sama sekali. Bila diper-
hatikan, pada ketiga jenis tempe yang tercemar tersebut terlihat
bahwa pembungkusnya tidak menutupi seluruh permukaan tempe
sehingga kemungkinan tercemar akan lebih besar, sedangkan
pada dua jenis lainnya yang tidak terceman ternyata seluruh per-
mukaan tempe ditutupi dengan plastik atau dengan daun pisang.
Berdasarkan kenyataan di atas, sebaiknya bila membeli
tempe di pasar hendaklah dipilih dari jenis yang seluruh per-
mukaannya ditutup dengan kemasannya. Dengan demikian,
masyarakat akan terhindar dari bahaya yang dapat timbul akibat
toksin A. flavus yang sangat berbahaya tersebut. Di samping itu
penlu dilakukan penyuluhan dan pembinaan kepada produsen
dan pedagangnya, agar memperhatikan masalah kebersihan dalam
proses pembuatan, penyimpanan dan distribusi tempe, meng-
ingat banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi tempe dalam
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995 13
background image
makanan sehari-harinya.
KESIMPULAN DAN SARAN
1) Tempe yang dijual di Pasar Raya Padang, sebagian kecil
telah tercemar oleh Aspergillus flavus.
2) Dari 40 sampel yang diperiksa, empat di antaranya tercemar
dengan A. flavus dengan perincian: tiga sampel dari kelompok
yang diambil pada pagi hari dan satu sampel dan kelompok yang
diambil sore hari.
3) Berdasarkan jenis tempe yang diperiksa, dari keempat sampel
yang tercemar, dua sampel berasal dari tempe jenis-I dan ma-
sing-masing satu sampel berasal dari tempe jenis-4 dan jenis-5.
Disarankan untuk melanjutkan penelitian ini dengan me-
nentukan jenis aflatoksin yang dihasilkan oleh A. flavus pen-
cemar, dengan metode kromatografi lapis tipis menggunakan
pembanding aflatoksin standar.
KEPUSTAKAAN
1. Donatus IA, Makhfoed D. Toksin Pangan, Pusat Antar Universitas Uni-
versitas Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 1992.
2. Doull J, Cassaret C.J. Toxicology: Basic Sciences of Poison. New York,
Toronto: MacMillan Pubi. Co. Inc. 1975.
3. Garnet RC. Carcinogenesis by Fungal Product, Br Med Bull 1980; 36(1):
47­52.
4. Muhilal RD. Pengaruh Penyimpanan Kacang Tanab di Rumah Tangga
terhadap kandungan Aflatoksin, Laporan Penelitian Gizi dan Makanan
1982; 1:93­100.
5. Kasmidjo RB. Tempe: Mikrobiologi dan Biokimia Pengolahan serta
Pemanfaatannya, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta 1990; hal. 5-30.
6. Sumarno. Uji Kandungan Aflatoksin dalam Bahan Makanan Asal Kacang
Tanah yang Bercdar di DIY Yogyakarta dan Jawa Tengah, dalam Kajian
Kimiawi Pangan 11, PusatAntarUniversitas Universitas Teknologi Pangan
dan Gizi, Universitas Gadjah Macla, Yogyakarta 1992.
7. Mureau C. Moulds, Toxin andFood, 2nd. ccl. Chichester, New York: John
Wiley & Sons 1989; 63­143.
8. Wilson BJ, Hayes AW. Toxicant Occuring Naturally in Food and Nutrition
Board, National Research Council, USA, 2nd. ed., National Academy of
Sciences, Washington. 1973.
9. SiregarC et al. Identifikasi Aflatoksin SecaraMikrobiologi pada Beberapa
Simplisia, Phyto Medica 1990; 1(3): 200­9.
10. Hitoko. Fungal Contamination and Mycotoxin Detection of Powdeimi
Herbal Drugs, J. AppI. Environ. Microb. 1978; 36: 352­56.
11. RaperKB, Fennel! DI. The Genus Aspergillus, Robert E. Krieger Publ.
Co., Malabar, Florida. 1988; 357­405.
Earnestness is the enthusiasm tempered by reason
(Pascal)
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
14