background image
Patogenesis Tukak Peptik
Julius
Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang
PENDAHULUAN
Kemajuan pesat mengenai tukak lambung/duodenum ter-
jadi pada masa 15 tahun terakhir ini, terutama dalam hal fisiologi
dan mekanisme patogenesis sehingga menyebabkan kemajuan
dalam hal pengobatan yang efektif dan rasional.
Berdasarkan survai epidemiologis didapatkan kira-kira 10%
penduduk Eropa dan Amerika telah pernah mengalami tukak
duodenum dan bertambah pada usia lanjut
(1)
, sedangkan tukak
lambung lebih jarang dari tukak duodenum, kecuali di daerah
Cina dan Jepang
(2)
. Perbandingan antara pria dan wanita di-
dapatkan 2,2 : 1.
Pada permulaan abad 20 ini, tukak lambung lebih sering
didapatkan seperti di Inggris, Eropa dan Amerika, tetapi
scsudah itu terlihat tukak duodenum lebih banyak. Dua puluh
tahun terakhir ini terlihat penurunan tukak duodenum sedangkan
tukak lambung tidak. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh
penurunan tukak duodenum itu sendiri atau disebabkan oleh
perbaikan pada sarana diagnostik atau pengobatan tukak duode-
num lebih baik pada saat ini.
Sekarang telah dapat diterima pandangan bahwa tukak
peptik dalam segala bentuknya disebabkan oleh ketidak se-
imbangan faktor agresif dan faktor defensif mukosa yang mem-
pertahankan keutuhan mukosa. Faktor agresif yang penting
adalah asam lambung yang disekresi oleh sel Parietal dan pepsin
yang diproduksi oleh sel Zymogen. Sedangkan faktor defensif
mukosa antara lain pembentukan dan sekresi mukus, sekresi
bikarbonat, aliran darah mukosa, difusi kembali ion hidrogen
pada epitel dan regencrasi epitel
(1)
.
PATOGENESIS TUKAK PEPTIK
Faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi dan tukak pada
saluran pencernaan bagian atas adalah perimbangan antara
faktor agresif (asam dan pepsin) dan faktor pertahanan (defensif)
dari mukosa.
Dibacakan pada : Simposium Perkembangan Muiakhir Perlindungan Mukosa
Lambung, Padang, 1992.
Faktor pertahanan ini antara lain adalah pembentukan dan
sekresi mukus, sekresi bikarbonat, aliran darah mukosa dan
difusi kembali ion hidrogen pada epitel serta regenerasi epitel.
Di samping kedua faktor tadi ada faktor yang merupakan faktor
predisposisi (kontribusi) untuk terjadinya tukak peptik antara
lain daerah geografis, jenis kelamin, faktor stress, herediter,
merokok, obat-obatan dan infeksi bakteria (Gambar 1).
Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi tukak peptik
(1)
Faktor Kontribusi
­ Geografis
­ Jenis kelamin
­ Psikosomatik
­ Herediter
­ Merokok
­ Obat-obatan
­ Lain-lain
­ Pembentukan dan sekresi
mukus
­ Sekresi bikarbonat
­ Aliran darah mukosa
­ Pembentukan "III Formation"
­ kegenerasi epitel
FAKTOR AGRESIF
Asam dan Pepsin
Peranan asam dan pepsin dalam hal patogcnesis tukak
peptik telah banyak dipclajari secara intensif. Peranan faktor
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 9
background image
agresif untuk terjadinya tukak peptik secara jelas belum ter-
ungkap secara keseluruhan, walaupun pada penderita tukak
duodenum peranan asam memegang peranan penting
(3)
, mungkin
dengan kombinasi faktor lain seperti meningkatnya sekresi sel
parietal, meningkatnya sekresi lambung seperti gastrin, asetilko-
lin atau histamin. Yang khas pada penderita tukak duodenum
adalah peningkatan asam lambung pada keadaan basal
(3)
dan
meningkatnya asam lambung pada stimulasi
(4)
atau lamanya
peningkatan asam setelah makan
(5)
. Selain itu terlihat pening-
katan motilitas di samping efek pepsin dan asam empedu yang
bersifat toksik pada mukosa duodenum (Gambar 2).
Gambar 2. Pengeluaran asam lambung setelah pemberian Pentagastrin
(6)
Tukak lambung berbeda dengan tukak duodenum karena
abnormalitas asam tidak begitu memegang peranan penting,
barangkali mekanisme pertahanan mukosa lebih penting (faktor
defensit); antara lain gangguan motilitas lambung yang me-
nyebabkan refluks empedu dari duodenum ke lambung, per-
lambatan pengosongan lambung
(1)
.
MEKANISME PERTAHANAN MUKOSA (FAKTOR
DEFENSIF)
Dibanding dengan faktor agresif, maka gangguan faktor
pertahanan mukosa lebih penting untuk terjadinya tukak peptik.
Epitel saluran pencernaan mempertahankan integritasnya me-
lalui beberapa cara, antara lain sitoproteksi seperti pembentukan
dan sekresi mukus, sekresi bikarbonat dan aliran darah.
Di samping itu ada beberapa mekanisme protektif di dalam
mukosa epitel sendiri 9ntara lain pembatasan dan mekanisme
difusi balik ion hidrogen melalui epitel, netralisasi asam oleh
bikarbonat dan proses regenerasi epitel (Gambar 3).
Semua faktor tadi mempertahankan integritas jaringan
mukosa saluran cerna; berkurangnya mukosa yang disebabkan
oleh satu atau beberapa faktor mekanisme pertahanan mukosa
akan menyebabkan timbulnya tukak peptik.
Jadi terlihat (a) bahwa untuk terjadinya tukak peptik selain
Gambar 3. Patofisiologi difusi batik asam melalui barter mukosa
(6)
adanya faktor agresif (asam dan pepsin), yang lebih penting
adalah integritas faktor pertahanan mukosa (defensif) saluran
cerna; jika ini terganggu maka barn timbul tukak peptik.
1. Pembentukan dan Sekresi Mukus
Mukus menutupi lumen saluran pencemaan yang berfungsi
sebagai proteksi mukosa.
Fungsi mukus sebagai proteksi mukosa :
a.
Pelicin yang menghambat kerusakan mekanis (cairan dan
benda keras).
b.
Barier terhadap asam.
c.
Barier terhadap enzim proteolitik (pepsin).
d.
Pertahanan terhadap organisme patogen.
Fungsi mukus selain sebagai pelicin, tetapi juga sebagai
netralisasi difusi kembali ion hidrogen dari lumen saluran pen-
cernaan
(7)
.
2. Sekresi Bikarbonat
Tempat terjadinya sistim bufer asam di lambung dan
duodenum masih kontroversial, menurut pandangan sebelum-
nya netralisasi asam oleh bikarbonat terjadi di mukus
(8)
dan
bikarbonat berasal dari sel epitel yang disekresi secara transport
aktif (Gambar 4).
Gambar 4. Diagram epitel sel dan beberapa komponen proteksi mu-
kosa
(10,11)
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
10
background image
Pandangan lain adalah bahwa efek sitoprotektif bikarbonat
terjadi pada permukaan membran epitel
(9)
.
3.
Aliran Darah Mukosa
Integritas mukosa lambung terjadi akibat penyediaan
glukosa dan oksigen secara terus menerus dan aliran darah
mukosa mempertahankan mukosa lambung melalui oksigenasi
jaringan yang memadai dan sebagai sumber energi. Selain itu
fungsi aliran darah mukosa adalah untuk membuang atau sebagai
bufer difusi kembali dari asam.
4.
Mekanisme Permeabilitas Ion Hidrogen
Proteksi untuk mencapai mukosa dan jaringan yang lebih
dalam diperoleh dari resistensi elektris dan permeabilitas ion
yang selektif pada mukosa. Pada binatang percobaan terlihat
esofagus dan fundus lambung kurang permeabilitasnya diban-
ding dengan antrum lambung dan duodenum. Pergerakan ion
hidrogen antar epitel dipengaruhi elektrisitas negatif pada
lumen; kation polivalen (Ca
++
Mg
++
dan Al
++
) dapat menutupi
tekanan elektris negatif dari ion hidrogen sehingga mempunyai
efek pada pengobatan tukak peptik
(10)
.
5.
Regenerasi Epitel
Mekanisme proteksi terakhir pada saluran cerna adalah
proses regenerasi sel (penggantian sel epitel mukosa kurang dari
48 jam). Kerusakan sedikit pada mukosa (gastritis/duodenitis)
dapat diperbaiki dengan mempercepat penggantian sel-sel yang
rusak. Respons kerusakan mukosa (ulserasi) pada manusia
belum jelas.
PERANAN PROSTAGLANDIN
Prostaglandin barangkali mempunyai peranan penting
untuk mempertahankan mukosa saluran cerna terhadap penga-
ruh sekitarnya. Banyak zat iritan yang didapatkan pada mukosa
saluran cerna yang merusak epitel bila sekresi prostaglandin
terganggu
(12)
.
Prostaglandin seri A dan E telah diketahui sejak 1967
menghambat sekresi asam lambung dan dapat mencegah tukak
peptik
(13)
; prostaglandin pada binatang dan manusia juga
meningkatkan sekresi mukus. Prostaglandin telah diyakini
mempertahankan integritas saluran cema dengan cara regulasi
sekresi asam lambung, sekresi mukus, bikarbonat dan aliran
darah mukosa.
Mekanisme Anti Tukak Peptik Dari Prostaglandin
a. Sitoprotektif :
-
Sekresi mukus.
-
Sekresi bikarbonat.
-
Aliran darah lambung.
b. Inhibisi sekresi asam.
Pada penelitian ternyata sekresi bikarbonat meningkat se-
telah pemberian PGE
2
(Gambar 5).
Prostaglandin E merupakan vasodilator yang poten (Gam-
bar 6).
Selain mempunyai sifat sitoprotektif, PGE 1 dan PGE 2
mempunyai efek menghambat sekresi lambung (Gambar 7).
Gambar 5. Efek prostaglandin pada sekresi bikarbonat selama pemberian
infus
pentagastrin
(14)
Gambar 6. Perubahan aliran darah setelah pemberian HCL isotonik dan
prostaglandin
(16)
Dari penelitian klinis dengan berbagai macam sitoprotektif
terlihat bahwa prostaglandin E sangat berfaedah mencegah efek
toksik obat antiinflamasi non-steroid (menghambat sintesa
prostaglandin) atau alkohol.
Pada suatu penelitian didapatkan aktivitas sintesa
prostaglandin pada mukosa bulbus duodenum selama puasa
lebih tinggi pada penderita tukak duodenum dari kontrol. Hasil
rasio total prostaglandin setelah makan dan sebelum makan lebih
rendah pada penderita tukak duodenum dari pada penderita
normal (Gambar 7).
Pada suatu penelitian penderita dengan tukak lambung dan
orang normal kadar prostaglandin jaringan di daerah antrum dan
korpus lambung pada tukak lambung didapatkan lebih rendah
dari orang normal (Gambar 8). Sedangkan pada tukak lambung
yang menyembuh didapatkan kadar prostaglandin jaringan lebih
tinggi dari yang tidak sembuh
(17)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 11
background image
Gambar 7. Rasio PC/AC sintesa Prostaglandin pada tukak duodenum
dan orang normah
(16)
Gambar 8. Kadar prostaglandin dart mukosa lambung
(17)
FAKTOR KONTRIBUSI/PREDISPOSISI
Faktor kontribusi/predisposisi antara lain letak geografis,
jenis kelamin, faktor psikosomatik, herediter, merokok, obat
dan faktor lainnya.
Letak geografis mempengaruhi adanya tukak peptik dan
mengenai jenis kelamin didapatkan pria lebih banyak pada tukak
Gambar 9. Perubahan asam lambung setelah pemberian prostaglandin
(18)
peptik. Faktor psikosomatik sangat mempengaruhi timbulnya
suatu tukak peptik dan secara umum dipercaya bahwa konflik
dapat memegang peranan untuk timbulnya tukak peptik pada
pcnderita yang mempunyai faktor predisposisi.
Faktor herediter: tukak peptik lebih sering terjadi 2­3 kali
dari keluarganya yang mendapat tukak peptik dibanding dari
populasi normal. Pada golongan darah O didapatkan 30­40%
lebih sering daii golongan darah lainnya dan tukak peptiknya
lebih sering di duodenum.
Pengaruh merokok terlihat pada penelitian epidemiologik;
perokok lebih sering menderita tukak peptik (pria : wanita ber-
banding 2,6 : 1,6) dan juga memperpendek residif.
Obat-obat yang mempengaruhi timbulnya tukak peptik
antara lain aspirin yang diketahui menghambat sintesis
prostaglandin. Selain itu obat anti inflamasi non-steroid juga
dapat merusak mukosa dan menghambat sekresi prostaglandin.
Sekarang tidak terbukti bahwa terdapat hubungan antara infeksi
Campylobacter (Helicobacter pylori) dengan gastritisdan ulkus
peptikum
(17,19)
KESIMPULAN
Pada pengelolaan tukak peptik secara rasional dan efektif
perlu dipahami patogenesis tukak peptik; antara lain :
1.
Faktor agresif (asam dan pepsin).
2.
Faktor defensif (pembentukan dan sekresi mulct's, sekresi
bikarbonat, aliran darah mukosa, pembatasan permeabilitas ion
hidrogen dan regenerasi epitel).
3.
Faktor kontribusi/predisposisi (geografis, jenis kelamin,
psikosomatik, herediter, merokok, obat dan lainnya).
KEPUSTAKAAN
1.
James E, Gigan MC. New developments in understanding peptic ulcer
diseases Seale co. 1986.
2.
Kasugai, T. Endoscopic Diagnosis in Gastroenterology. Igaku Shoin.
Tokyo. 1982.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
12
background image
3.
Kirkpatrick PM, Jr, Hirschowitz BI. Duodenal ulcer with unexplained
marked basal gastric acid cytoprotection. Gastroenterology 79: 4-10 :
1980.
4.
Isenberg JI, Grossman MI, Maxwell V, et al. Increased sensitivity to
stimulation of acid secretion by pentagastrin in duodenal ulcel. J Clin
Invest 55: 330-7: 1982.
5.
Malagelada JR. Longstreth GF, Deering TB, et al. Gastric secretion and
emptying after ordinary meals in duodenal ulcer gastroenterology 73:
989-94 : 1977.
6.
Devenport HW. Adigest on digestion, Year book. Chicago 1978.
7.
Allen A. The structure and funetion of gastrointestinal mucus, in Harmon
JW (ed): Basic mechanism of Gastrointestinal Mucosal Cell Injury and
Protection. Baltimore, Wiliams and Wilkins pp 351-67 : 1981.
8.
Gamer A, Hurst BC. Gastric bicarbonate secretion and mucosal cell in the
dog, in Harmon JW (ed): Basic Mechanism of Gastrointestinal Mucosal
Cell Injury and Protection. Baltimore, Wiliam and Wilkins pp 273--89 :
1981.
9.
Silen W, Kivilaakso E, Schiesel R et al. The cytoprotective effects of
bicarbonate, in Harmon JW (ed): Basic Mechanism of Gastrointestinal
Mucosal Cell Injury and Protection. Baltimore, Wiliam and Wilkins pp
265-72 : 1981.
10.
Moody FG, Zalewsky CA. The gastric surface eputhelial cell, in Hannan
JW (ed): Basic Mechanism of Gastrointestinal Mucosal Cell Injury and
Protection. Baltimore, Wiliam and Wilkins pp 373-89 : 1981.
11.
Powell DW. Physiological concepts of epithelial barrier, in Allen A.
Flemstorm G, Gamer A et al (eds): Mechanism of Mucosal Protection in
the Upper Gastrointestinal Tract. New York, Raven Press. pp 1-6, 1984.
12.
Robert A. Role of endogenous and exogenous prostaglandins in mucosal
protection, in Allen A, Flemstorm G, Gamer A et al (eds): Mechanism of
Mucosal Protection in the Upper Gastrointestinal Tract, New York, Raven
pp 377-8 : 1984.
13.
Konturek SJ. Gastric cytoprotection. Mt Sinai J Med 49: 355-69 : 1982.
14.
Feldman M. Gastric bicarbonate secretion in humans. Effect of penis
gastrin bethanecol, and 11, 16, 16 trimethyl prostaglandin E2. J Clin Invest
72: 295-303.
15.
Cheung LY. Topical efforts of 16,16-dimethyl prostaglandin E2 on gastric
blood flow in dogs. Am J Physiol 238: 514-9: 1980.
16.
Ahlquist DA, Dozois RR, Zinmeister AR, et al. Duodenal prostaglandin
synthesis and acid load in healed and duodenal ulcer diseases. Gastro
enterology 1983, 85: 522-8.
17.
Wright JP, Young GO, Klaf LI, et al. Gastric mucosal prostaglandin Elevel
in patient with gastric ulcer disease and carcinoma. Gastroenterology 82:
263-7 : 1982.
18.
Akdamar K, Agrawal N, Ertan A. Inhibition of nocturnal gastric secretion
in normal human volunteers by misoprostol 12: 902-4. 1982.
19.
Wright NA. Role of mucosal cell renewal in mucosal protection in the
gastrointestinal tract, in Allen A, Felmstrom G, Ganer A, et al (eds):
Mechanism of Mucosal Protection in the Upper Gastrointestinal Tract,
New York, Raven Press pp 15-20 : 1984.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 13