TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Masalah dan Penanganan Osteoartritis
Sendi Lutut
Harry Isbagio, Bambang Setiyohadi
Subbagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Di antara lebih dari 100 jenis penyakit sendi yang dikenal
maka osteoartrosis merupakan kelainan sendi yang paling sering
ditemukan. Osteoartrosis disebut primer, bila tak diketahui pe-
nyebabnya; dan disebut sekunder bila diketahui penyebabnya,
misalnya akibat artritis rematoid, infeksi, gout, pseudogout dan
sebagainya. Penyakit ini bersifat progresif lambat, umumnya
terjadi pada usia lanjut, walaupun usia bukan satu-satunya faktor
nsiko. Osteoartrosis menyerang terutama sendi tangan atau
sendi penyokong berat badan termasuk sendi lutut
(1)
. Di RS Cipto
Mangunkusumo, kekerapannya mencapai 56,7%
(2)
. Insidensnya
pada usia kurang dari 20 tahun hanya sekitar 10% dan meningkat
menjadi lebih dari 80% pada usia di atas 55 tahun.
Sendi lutut merupakan sendi penopang berat badan yang
sering terkena osteoartrosis
(3)
. Osteoartrosis sendi lutut ditandai
oleh nyeri pada pergerakan yang hilang bila istirahat, kaku sendi
terutama setelah istirahat latna atau bangun tidur, krepitasi dan
dapat disertai sinovitis dengan atau tanpa efusi cairan sendi. Bila
pasien hanya bersifatpasif, tidak mau melakukan latihan-latihan,
dapat terjadi atrofi otot yang akan memperburuk stabilitas dan
fungsi sendi. Akibat lain ialah genu varum atau genu valgus dan
subluksasi, terutama bila telah terjadi kekenduran ligamen
(4,5,6)
.
Umumnya penderita OA lutut datang berobat karena rasa
nyeri lutut yang mengganggu aktifitas sehari-hari. Gangguan ter-
sebut bertingkat-tingkat, dan mulai keluhan yang paling ringan
yang tidak mengganggu aktifitas sehari-hari, sampai yang paling
berat sehingga pasien tidak bisa berjalan.
FAKTOR PREDISPOSISI
Ada beberapa faktor predisposisi yang diketahui berhubung-
an erat dengan terjadinya osteoartrosis sendi lutut, yaitu umur,
jenis kelamin, obesitas, ras dan trauma.
Umur merupakan faktor risiko yang penting. Rata-rata laki-
laid mendapatkan osteoartrosis sendi lututpada umur 59,7 tahun
dengan puncaknya pada usia 5564 tahun, sedangkan wanita
65,3 tahun dengan puncaknya pada usia 6574 tahun. Selain itu
juga didapatkan bahwa penderita osteoartrosis yang berumur
lebih tua ternyata sudah menderita osteoartrosis lebih lama
dibandingkan yang berusia lebih muda
(3)
.
Penderitaosteoartrosis sendi lututmeningkatpada usia lebih
dari 65 tahun, baik secara klinik, maupun radiologik. Gambaran
radiologik yang berat (grade III dan IV menurut kriteria Kell-
green-Lawrence) makin meningkat dengan bertambahnya umur,
yaitu 11,5% pada usia kurang dari 70 tahun, 17,8% pada umur
7079 tahun dan 19,4% pada usia lebih dari 80 tahun; wanita
yang mempunyai gambanan radiologik osteoartnosis berat adalah
10,6% pada umur kurang dani 70 tahun, 17,6% pada umur 70-79
tahun dan 21,1% pada umur lebih dari 80 tahun; sedangkan pada
laki-laki 12,8% pada umur kurang dani 70 tahun, 18,2% pada
umur 7079 tahun dan 17,9% pada umur lebih dani 80 tahun
(7)
.
Prevalensi radiologik osteoantrosis akan meningkat sesuai de-
ngan umur. Pada umur di bawah 45 tahun jarang didapatkan
gambaran radiologik yang berat. Pada usia tua gambanan radio-
logik osteoartrosis sendi lutut yang berat mencapai 20%
(8)
.
Pada penelitian lain didapatkan bahwa dengan makin me-
ningkatnya umur, maka beratnya osteoartrosis secara radiologik
akan meningkat secara eksponensial (dikutip dan 5).
Hubungan antana osteoantrosis dengan umur sampai saat
ini belum jelas. Penelitian biokimiawi menunjukkan adanya
perbe- daan kelainan rawan sendi yang disebabkan oleh proses
menua
Dibacakan pada Simposium Gangguan Muskuloskeletal, Wisma Metropolitan,
Jakarta, 16 April 1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
8
dengan yang disebabkan oleh osteoartrosis. Selain perubahan
pada rantai proteoglikan dan kandungan air pada rawan sendi,
ternyata perubahan pada pembuluh darah sendi akan mengurangi
aliran darah ke sendi yang bersangkutan sehIngga akan mem-
pengaruhi proses perbaikan sendi bila terjadi kerusakan
(4,5)
.
Jenis kelamin mempengaruhi timbulnya osteoartrosis. Pada
usia di bawah 45 tahun, frekuensi osteoartrosis pada kedua jenis
kelamin sama, sedangkan di atas 50 tahun lebih sering terjadi
pada wanita
(7,9)
. Dari 500 pasien dengan osteoartrosis pada anggota
badan, ternyata 41,9% adalah penderita osteoartrosis sendi lutut
dan jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki (1,3: 1)
(3)
.
Wanita dan orang kulit hitam akan mendapatkan osteoarthri-
tis sendi lutut lebih berat dibandingkan laki-laki yang menderita
osteoartrosis sendi lutut yang berderajat sedang adalah 7%, se-
dangkan wanita 15,5% dan pada orang kulit hitam, laki-laki
15,6% sedangkan wanita 28,6%
(10)
. Rasa nyeri juga lebih banyak
didapatkan pada wanita dibandingkan laid-laid. Pada orang kulit
putih 45,9% wanita merasakan nyeri, sedangkan pada laki-laki
hanya 32,5% dan pada orang kulit hitam, wanita yang merasakan
nyeri 51,9% sedangkan laki-laki hanya 38,9%
(10)
. Pada penelitian
HANES I didapatkan penderita osteoartrosis sendi lutut pada
wanita lebih tinggi dibandingkan laki-laki (7,6% dibandingkan
4,3%). Frekuensi OA lutut pada wanita kulit hitam lebih tinggi
dibandingkan dengan pada wanita kulit putih, sedangkan pada
laki-laki, frekuensi pada kulit hitam sama dengan pada kulit
putih
(11)
.
Faktor lain yang berperan pada timbulnya osteoantrosis
sendi lutut adalah obesitas. Pada penelitian Framingham di-
dapatkan hubungan yang kuat antara obesitas dan osteoartrosis
sendi lutut, terutama pada wanita
(12)
. Pada penelitian Cushnagan
ternyata sebagian besar pasien osteoartrosis mempunyai berat
rata-rata di atas normal
(3)
. Pada penelitian HANES I, ternyata
didapatkan pula hubungan yang erat antara berat badan dengan
osteoartrosis sendi lutut
(11)
. Penelitian Silberger menunjukkan
bahwa faktor kegemukan bukan hanya berperan dari segi bio-
mekanik tapi juga dari segi metabolik (dikutip dari 4,5). Tikus
yang diberi makan makanan yang mengandung asani lemak
jenuh, akan lebih banyak yang menderita osteoartrosis diban-
dingkan tikus yang diberi makan makanan yang banyak mengan-
dung asam lemak tak jenuh.
Maquet berusaha menjelaskan secara biomekanika beban
yang diterima lutut pada obesitas. Pada keadaan normal, gaya
berat badan akan melalui medial sendi lutut dan akan diimbangi
oleh otot-otot paha bagian lateral sehingga resultannya akan
jatuh pada bagian sentral sendi lutut. Pada keadaan obesitas,
resultan gaya tersebut akan bergeser ke medial sehingga beban
yang diterima sendi lutut tidak seimbang. Pada keadaan yang
berat dapat timbul perubahan bentuk sendi menjadi varus yang
akan makin menggeser resultan gaya tersebut ke medial (dikutip
dari 13).
Faktor ras diduga mempengaruhi timbulnya osteoartro-
sis
(10,11)
. Osteoartrosis lutut lebih sering ditemukan pada orang
Asia, sedangkan osteoartrosis panggul lebih sering pada orang
Kaukasia.
Pekerjaan dan olah raga juga merupakan faktor predisposisi
osteoantrosis sendi lutut. Penelitian HANES I mendapatkan
bahwa pekerja yang banyak membebani sendi lutut akan mem-
punyai risiko terserang osteoantrosis lebih besar dibandingkan
pekerja yang tidak banyak membebani lutut
(11)
.
Faktor lain adalah merokok. Makin berat perokok, maka
makin rendah frekuensi osteoartrosis pada kelompok tersebut
(14)
.
Hal yang sama juga didapatkan pada penelitian HANES I dan
Framingham
(11,12)
. Hubungan antana merokok dan rendahnya
prevalensi osteoartrosis sendi lutut, belum dapat dijelaskan se-
cara pasti.
Beberapa faktor metabolik seperti diabetes melitus, hiper-
tensi, hiperurisemi dan Calcium pyrophosphare deposition
disease dikatakan juga berperan sebagai faktor predisposisi
timbulnya osteoantrosis
(4,5)
.
GAMBARAN KLINIK DAN RADIOLOGIK
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Ada tiga
tempat yang dapat menjadi sumber nyeri, yaitu sinovium, jaring-
an lunak sendi dan tulang.
Nyeri sinovium dapat terjadi akibat reaksi radang yang
timbul akibat adanya debris dan kristal dalam cairan sendi. Selain
itu juga dapat terjadi akibat kontak dengan rawan sendi pada
waktu sendi bergerak.
Kerusakan pada jaringan lunak sendi dapat menimbulkan
nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul sendi, peradangan
pada bursa atau kerusakan meniskus.
Nyeri yang berasal dari tulang biasanya akibat rangsangan
pada periosteum karena periosteum kaya akan serabut-serabut
penerima nyeri
(15)
. Selain itu rasa nyeri s dipengaruhi oleh
keadaanpsikologikpasien, sehinggadianjurkan untuk melakukan
evaluasi psikologik dalam penatalaksanaan penderita osteoartro-
sis
(16)
.
Nyeri pada osteoantrosis sendi lutut, biasanya mempunyai
irama diurnal; nyeri akan menghebat pada waktu bangun tidur
dan sore hari. Selain itu, nyeri juga dapat timbul bila banyak
berjalan, naik dan turun tangga atau bergerak tiba-tiba. Nyeri
yang belum lanjut biasanya akan hilang dengan istirahat, tetapi
pada keadaan lanjut, nyeri akan menetap walaupun penderita
sudah istirahat
(13)
.
Kaku sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi
biasanya tidak lebih dari 30 menit. Kaku sendi biasanya muncul
pada pagi hari atau setelah dalam keadaan inaktif. Selain itu
krepitusjuga sering ditemukan. Krepitus dapat ditemukan tanpa
disertai rasa nyeri, tapi biasanya berhubungan dengan nyeri yang
tumpul.
Kadang-kadang ditemukan pembengkakan sendi akibat
efusi cairan sendi.
Pada keadaan lanjut, dapat ditemukan deformitas sendi
lutut, misalnya genu v `rum maupun genu valgus. Bila sudah di-
temukan instabilitas ligamentum, hal ini menunjukkan keru-
sakan yang progresif dan prognosis yang buruk
(13,17)
.
Gambaran radiologik osteoantrosis pertama kali diperkenal-
kan oleh Kellgren dan Lawrence pada tahun 1957 dan akhirnya
diambil oleh WHO pada tahun 1961. Berdasarkan kriteria terse-
but, maka gambaran radiologik osteoantrosis dapat berupa pem-
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
9
bentukan osteofit pada tepi sendi, periarticular ossicles terutama
pada sendi interfalang distal dan proksimal, penyempitan celah
sendi akibat penipisan rawan sendi, psedokista subkondral de-
ngan dinding yang skierotik, dan perubahan bentuk ujung tulang.
Dari lima kriteria tersebut, dibuat kiasifikasi radiologik osteo-
artrosis atas 5 gradasi, yaitu tidak ada osteoartrosis (0 kritreria),
meragukan (1 kriteria), minimal (2 kriteria), sedang (3 kriteria),
berat (45 kriteria)
(18,19)
. Ada hubungan yang positif antara
gambaran klinik osteoartrosis sendi lutut dengan gambaran ra-
diologiknya
(20)
. Tetapi penelitian lain mendapatkan bahwa pada
evaluasi setelah I tahun pengobatan walaupun secara klinik ter-
dapat perbaikan, secara radiologik didapatkan perburukan. Juga
didapatkan bahwa obesitas ternyata berhubungan dengan per-
burukan gambaran radiologik
(21)
.
Altman dkk. menganjurkan foto anteroposterior sendi lutut
dalam keadaan berdiri agar dapat dinilai adanya penyempitan
celah sendi, osteofit dan sklerosis pada bagian medial dan lateral
sendi lutut
(22)
.
KRITERIA DIAGNOSIS DAN INDEKS OSTEOARTRO-
SIS SENDI LUTUT
Bila pada seorang penderita hanya ditemukan nyeri lutut,
maka untuk diagnosis osteoartrosis sendi lutut hams ditambah 3
kriteria dan 6 kriteria berikut, yaitu umur lebih dari 50 tahun,
kaku sendi kurang dari 30 menit, nyeri tekan pada tulang, pem-
besanan tulang dan padaperabaan sendi lutut tidak panas. Kriteria
ini memiliki sensitifitas 95% dan spesifisitas 69%
(23)
.
Bila selain nyeri lutut juga didapatkan gambaran osteofit
pada foto sendi lutut, maka untuk diagnosis osteoartrosis sendi
lutut dibutuhkan 1 kriteria tambahan dan 3 kriteria berikut, yaitu
umur lebih dari 50 tahun, kaku sendi kurang dari 30 menit dan
krepitus. Kriteria ini mempunyai sensitifitas 91% dan spesifisitas
86%
(23)
.
Selain itu dikembangkan pula kriteria untuk menilai berat
ringannya osteoartrosis sendi lutut dengan menggunakan in-
dex
(24)
(Tabel 1). Dengan sistem ini, maka bila indexnya 14,
maka derajat osteoartrosisnya ekstrim berat; 1113, sangat berat;
810, berat; 57, sedang dan 14, ringan.
PENATALAKSANAAN
Osteoartrosis sendi lutut merupakan kelainan sendi yang
mempunyai dampak terhadap kehidupan sehari-hari penderita-
nya. Osteoartrosis lutut akan mengurangi penampilan dan
mengganggu aktifitas sehari-hari seperti berbelanja, kegiatan
rumah tangga dan kegiatan sosial lainnya
(25)
. Penatalaksanaan
penderita osteoartrosis sang at penting agan penderita dapat kem-
bali melakukan aktifitas sehari-hari seperti sediakala.
Tujuan penatalaksanaan osteoantrosis sendi lutut adalah
untuk menghilangkan nyeri dan peradangan, menstabilkan sendi
lutut dan mengurangi beban pada sendi lutut. Penatalaksanaan
sebaiknya dilakukan pada stadium dini, terutama sebelum de-
formitas sendi dan instabilitas sendi terjadi.
Untuk mengurangi beban pada sendi lutut, maka dalam
melakukan aktifitas sehari-hari disarankan untuk memperhati-
kan hal-hal berikut
(26)
:
Tabel 1. Indeks Berat-ringannya Osteoartrosis Sendi Lutut
Skor
1.
Nyeri
A. Nyeri
selama
tidur
malam
tidak ada
hanya bila bergerak atau pada posisi
tertentu
tanpa bergerak
0
1
2
B. Kaku sendi.pada pagi hari atau setelah bangkit
dart
berbaring
1 menit
115
menit
15 menit
0
1
0 atau 1
D. Selama berjalan
tidak ada
setelah
berjalan beberapa langkah
segera
setelah
berjalan
dan
makin
sakit
0
1
2
E.
Ketika
berdiri
dari
posisi duduk tanpa bantuan lengan 0 atau 1
IL Jarak maksimum yang dapat ditempuh dengan berjalan
(dengan
nyeri)
tidak
terbatas
>
1
km,
tapi
terbatas
s/d
1
km
(kirakira
15
menit)
500900
m
(kirakira
815
menit)
300500
m
100300
m
< loom
dengan
1
tongkat/penyangga
dengan
2
tongkat/penyangga
0
1
2
3
4
5
6
1
2
III. Aktifitas seharihari
Apakah anda dapat menaiki tangga yang tegak
Apakah
anda
dapat menuruni tangga yang tegak
Apakah
anda
dapat
jongkok
?
Apakah anda dapat berjalan di jalan yang tidak rata
0 atau 2
0 atau 2
0 atau 2
0 atau 2
1) Jangan berjalan atau jogging sebagai pilihan olah raga.
Berenang dan bersepeda merupakan alternatifpilihan yang baik.
2) Hindari naik-turun tangga.
3) Duduk lebih baik danipada berdiri.
4) Duduk di kursi yang lebih tinggi lebih baik daripada duduk
di sofa yang rendah.
5) Hindari berlutut dan jongkok.
6) Sebelum bangkit dan duduk, geserlah dudukan ke tepi kursi
dengan posisi kaki di bawah badan, kemudian gunakan tangan
untuk mengangkat badan dan kursi.
Diet memegang peranan penting dalam penatalaksanaan
penderita osteoantrosis sendi lutut, terutama untuk menurunkan
kelebihan berat badan penderita. Walaupun sampai saat ini
belum pernahditeliti penganuh penurunan berat badan terhadap
nyeri lutut dan progresifitas osteoartrosis sendi lutut, tetapi di-
hanapkan beban terhadap sendi lutut akan berkurang.
Evaluasi psikologik sangat penting untuk diperhatikan, ka-
rena beratnya nyeri dan gangguan fungsional berhubungan erat
dengan keadaan psikologik penderita
(16)
.
Terapi fisik memegang peranan yang sangat penting; latihan
otot yang teratur akan memperbaiki gangguan fungsional, mengu-
rangi ketergantungan terhadap orang lain dan mengurangi nyeri.
Perbaikan tersebut mencapai 1025% pada rehabilitasi selama
24 bulan dan dapat bertahan sampai 8 bulan setelah rehabili-
tasi
(27)
. Terapi fisik dapat berupa pemanasan atau pendinginan
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
10
pada sendi yang sakit maupun latihan otot-otot sekitar sendi.
Pemanasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya
diaterini, ultrasound, sinar inframerah dan lain sebagainya. Pe-
manasan selama 1520 menit cukup efektif untuk mengurangi
nyeri dan kekakuan sendi
(26)
.
Latihan-latihan otot yang dapat dilakukan untuk penderita
osteoartrosis sendi hitut antara lain adalah quadriceps setting
exercise, straight leg raises, progressive resistive exercise
(PRE) dan hamstring exercise. Pada quadriceps setting
exercise, pen- derita dalam posisi berbaring di tempat tidur
dengan lutut lurus, kemudian penderita disuruh menekan
lututnya ke bawah. Per- tahankan selama 5 detik, kemudian
istirahat selama 5 detik dan diulangi sampai 1015 kali.
Latihan ini dilakukan sebanyak 3 kali perhari, kemudian dapat
ditingkatkan sampai 10 kali sehari. Pada straight leg raises,
penderita dalam posisi berbaring telen- tang. Bila tungkai
kanan yang akan dilatih, maka tungkai kiri dipertahankan lurus,
kemudian tungkai kanan diangkat lurus setinggi-tingginya,
kemudian turunkan perlahan-lahan sampai kira-kira 6 inchi dari
alas dan pertahankan selama 5 detik, lalu istirahat 5 detik.
Ulangi sampai 510 kali dan latihan dilakukan 23 kali sehari.
Pada progressive resistive exercise (PRE), pen- denta dalam
posisi duduk dengan lutut dalam keadaan fleksi dan tungkai
bawah diberi beban. Kemudian lutut diekstensikan per-lahan-
lahan sampai tercapai ekstensi maksimal dan pertahankan
selama 5 detik, kemudian istirahat. Latihan diulangi sampai 10
kali dan dilakukan 3 kali perhari. Pada hamstring exercise, pen-
derita dalam posisi berdini kemudian lutut difleksikan 20 kali
atau sampai penderita lelah
(17)
.
Obat-obatan untuk osteoartrosis, umumnya hanya bersifat
simtomatik untuk mengurangi nyeri. Pada tahap awal dapat di-
coba analgetik sederhana, seperti asetaminofen atau salisilat.
Bila tidak ada perbaikan, dapat diberikan obat anti inflamasi non
steroid Obat anti inflamasi non steroid bersifat menghambat
sintesis prostaglandin sehingga tidak boleh diberikan pada pende-
rita ulkus peptikum yang aktif atau dengan riwayat perdarahan.
Pemberian pada orang tuajuga hams hati-hati karena hambatan
terhadap sintesis prostaglandin akan menurunkan aliran darah
ke ginjal.
Pemberian steroid secara sistemik tidak dianjurkan karena
efek sampingnya jauh lebih besar daripada efek terapinya.
Pemberian injeksi steroid intra-artikuler dapat dipertimbangkan
pada keadaan nyeri hebat atau efusi cairan sendi berulang. Efek
penurunan nyeri setelah injeksi steroid akan menyebabkan pen-
derita merasa nyaman sehingga penderita tertentu akan tidak
memperhatikan pantangan dalam melakukan aktifitas sehari-
hari, sehingga osteoartrosis akan makin berat. Selain itu steroid
juga dapat menyebabkan kerusakan rawan sendi secara lang-
sung.
Pada keadaan lanjut dengan nyeri persisten,gangguan fungsi
yang berat dan deformitas sendi lutut,maka tindakan bedah dapat
dipertimbangkan. Pembedahan dapat hanya berupa osteotomi
atau sampai tindakan artroplasti maupun artrodesis
(13,17,26)
.
KESIMPULAN
1) Osteoartrosis merupakan kelainan yang bersifat progresif
lambat yang mengenai rawan sendi. Kelainan ini akan meng-
ganggu aktifitas sehari-hari penderitanya, terutama bila mengenai
sendi lutut.
2) Banyak faktor yang merupakan predisposisi osteoartrosis
sendi lutut, seperti umur, jenis kelamin, ras, obesitas, merokok
dan beberapa penyakit metabolik.
3) Untuk diagnosis osteoartrosis sendi lutut, dapat digunakan
kriteria Altman walaupun sebenarnya kriteria ini dikembangkan
untuk penelitian.
4) Pada penatalaksanaan osteoartrosis sendi lutut, penurunan
beban terhadap sendi lutut hams diperhatikan, baik dengan
mengatur aktifitas sehari-hari maupun dengan mengatur diet dan
latihan-latihan otot.
Obat umumnya hanya bersifat simtomatik. Pada keadaan
yang lanjut, tindakan bedah dapat dipertimbangkan.
KEPUSTAKAAN
1. Massardo L, Watt I, Cushnaghan J, Dieppe P. Osteoarthritis of the knee: an
eight year prospective study. Ann Rheum Dis 1989; 48: 8937.
2. Harry Isbagio, AZ Effendi. Osteoartritis. Dalam: Suparman (ed). Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid 1.2nd ed. Balai Penerbit FKUI, Jakarta! 985; 680-8.
3. Cushnaghan J, Dieppe P. Study of 500 patients with limb joint osteoarthri-
tis. I. Analysis by age, sex and distribution of symptomatic joint sites. Ann.
Rheum. Dis. 1991; 50: 813.
4. Moskowitz RW. Clinical and laboratory findings in osteoartritis. Dalam:
Mc Carty D (ed). Arthritis and Allied Condition. Textbook of Rheumato-
logy. 10th ed. Philadelphia: Lea & Febinger, 1985: 140832.
5. Mankin H.J. Clinical features of osteoarthritis. Dalam: Kelly ED, Ruddy S,
Sledge CS (eds). Textbook of Rheumatology. Vol III. 3rded. Philadelphia:
WB Saunders, 1989: 1480500.
6. Minor MA, Hewet(JE, Webel RR dkk. Efficacy of physical conditioning
exercise in patients with Rheumatoid Arthritis and Osteoarthritis. Arthr.
Rheum. 1989; 32(11): 1396405.
7. Felson DT, Naimark A, Anderson J et al. The prevalence of knee osteo-
arthritis in the elderly. The Framingham Osteoarthritis study. Arthr Rheum
1987; 30(8): 9148.
8. Van Saase JLCM, Van Romunde LKJ, Cats A et a!. Epidemiology of
osteoarthritis: Zoetermeer survey. Comparison of radiological osteoarthri-
tis in a Dutch population with that in 10 other populations. Ann. Rheum.
Dis. 1989; 48: 27 180.
9. Felson DI. Epidemiology of hip and knee osteoarthritis. Epidemiol. Rev.
1988, 10: 118.
10. Forman MD, Malamet R, Kaplan D. A survey of osteoarthritis of the knee
in the elderly. J. Rheumatol 1983; 10: 2827.
11. Anderson JJ, Felson DT. Factors associated with osteoarthritis of the knee
in the First National Health and Nutrition Examination Survey (HANES I).
Incidence for an association with overweight, race and physical demands of
work. Am. J. Epidemiol. 1988; 128: 17989.
12. Waldron HA. Prevalence and distribution of osteoarthritis in a population
from Georgian and early Victorian London. Ann. Rheum. Dis. 1991; 50:
3017.
12. Felson DT, Anderson JJ, Naimark A et al. Obesity and Osteoarthritis. The
Framingham study. Ann Intern Med 1988; 109: 1824.
13. Solomon L, Helfet AJ. Osteoarthritis. Dalam: Helfet AJ (ed). Disorders of
the Knee. 2nd ad. Philadelphia: JB Lippincott Co, 1982: 18398.
14. Felson DT, Anderson JJ, Naimark et al. Does smoking protect against
osteoarthnitis 7. Arthr. Rheum. 1989; 32(2): 16672.
15.. Hutton CW. Treatment, pain and epidemiology of osteoarthritis. Current
Opinion in Rheumatology 1990; 2: 7659.
16. Summers MN, Haley WE, Reveille JD et al. Radiographic assessment and
psychologic variables as predictors of pain and functional impairment in
osteoarthnitis of the knee or hip. Arthr. Rheum. 1988; 31(2): 2049.
17. Cailliet R. Knee pain and disability. Philadelphia: F.A Davis Co, 1989 :
130.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 11
18. Menkes Cl. Radiographic criteria for classification of osteoarthritis. J.
R.heumatol. 1991; 18 (supl 27): 135.
23. Altman RD. Criteria for classification of clinical osteoarthritis. J. Rheu-
atol. 1991; 18 (supi 27): 102.
19. Brandt KD, Fife RS, Braunstein EM et al. Radiographic grading of the
severity of knee osteoarthritis: Relation of Kellgren and Lawrence grade to
a grade based on joint space narrowing and correlation with arthroscopic
evidence of articular cartilage degeneration. Arthr. Rheum. 1991; 34(11):
13816.
24. Lequesne MG, Samson M. Indices of severity in osteoarthritis for weight
bearing joints. J. Rheumatol. 1991; 18 (supl 27): 168.
25. Yelin E, Lubeck D, Holman Het al. The impact of Rheumatoid Arthritis and
Osteoarthritis: The activities of patients with Rheumatoid Arthritis and
Osteoarthritis compared to control. J. Rheumatol. 1987; 14: 7107.
20. ClaessensAAMC, Schouten JSAG, van den Ouweland FAetal. Do clinical
findings associate with radiographic osteoarthritis of the knee. Ann.
Rheum. Dis. 1990; 49: 7714.
26. Brandt KD. Management of Osteoartlu-itis. Dalam: Kelly ED, Ruddy S,
Sledge CD (eds). Textbook of Rheumatology. Vol 111.3rd ed. Philadelphia:
WE Saunders 1989: 150112.
21. Dougados, Gueguen A, Nguyen Metal. Longitudinal radiologic evaluation
of osteoarthritis of the knee. J. Rheumatoi.1992; 19: 37884.
27. Fischer N, Pendergast DR. Gresham GE et al. Muscle rehabilitation: Its
effect on muscular and functional performance of patients with knee
osteoarthritis. Arch. Phys. Med. Rehabil. 1991; 72: 36774.
22. Altman RD. Fries JF, Bloch DA at al. Radiographic assessment of pro-
gression in osteoarthritis. Arthr. Rheum. 1987; 30(11): 121425.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
12