background image
sosio-ekonomi yang rendah. Dari penelitian di Sulawesi Sela-
tan, Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing oleh Cross
JH et al, Clarke MD et al ditemukan bahwa 90% dari pen-
duduk yang diperiksa paling sedikit diinfeksi oleh satu macam
cacing, 80% oleh dua macam cacing dan 60% oleh tiga macam.
Hasil survey cacing-cacing yang ditularkan melalui tanah oleh
Departemen Kesehatan antara tahun I975 s/d tahun I980 di
18 lokasi tersebar di 16 propinsi mencakup 6590 orang me-
nunjukkan bahwa prevalensi infeksi cacing
yang
ditularkan.
melalui tanah adalah cukup tinggi yaitu berkisar antara 60 -
90%. Telah diketahui pula bahwa adanya hubungan yang
timbal
balik antara
investasi
parasit
dengan keadaan
gizi khususnya gizi anak, demikian pula ada kaitannya yang
erat dengan perilaku dan lingkungan pemukiman.
4.2.
Strategi pemberantasan
--
mengingat masih terbatasnya sarana maka prioritas pem-
berantasan diberikan kepada daerah produksi vital yaitu
perkebunan, pertambangan dan transmigrasi.
metode pemberantasannya adalah dengan pengobatan
penderita dan perbaikan kesehatan lingkungan.
meningkatkan penyuluhan kesehatan masyarakat untuk
mendorong masyarakat berpartisipasi serta melaksanakan
sendiri pencegahan dan pemberantasan penyakit ini.
untuk mendapatkan dampak yang lebih baik bagi derajat
kesehatan
maupun kesejahteraan
masyarakat
maka
pemberantasan penyakit cacing yang ditularkan lewat
tanah dapat diintegrasikan pada usaha-usaha lainnya
seperti usaha perbaikan gizi maupun kegiatan keluarga
berencana.
KESIMPULAN
1. Penyakit parasit di Indonesia masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting, terutama bagi rakyat
pedesaan dan rakyat yang berpenghasilan rendah di desa
maupun di kota.
2. Mengingat adanya kaitan yang sangat erat antara masalah
penyakit parasit dengan berbagai masalah lainnya seperti
misalnya masalah gizi, perilaku, lingkungan fisik dan
biologis serta tingkat sosio-ekonomi dari rakyat maka
pemberantasan penyakit parasit haruslah merupakan
salah satu komponen dalam pembangunan nasional
bidang kesehatan.
3. Berhasilnya pemberantasan penyakit parasit tidak ter-
gantung dari pemberantasan penyakit parasitnya melulu
tetapi juga tergantung seberapa jauh sektor-sektor lainnya
dalam kegiatan pembangunan di sektor masing-masing
dapat memberikan dampak yang positip bagi berkurang-
nya penyakit parasit.
4. Kelestarian hasil pemberantasan penyakit parasit hanya
dapat terjamin bila masyarakat yang bersangkutan ikut
serta secara aktif.
5. Peranan penelitian adalah penting untuk menunjang
program pemberantasan penyakit parasit dan karena itu
kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian perlu di-
tingkatkan.
Masalah Penyakit Malaria di Jawa Tengah
Soebodro MPH
Kepala Kantor
Wilayah Departemen Kesehatan/Dinas Ke-
sehatan Propinsi Jawa Tengah.
1. PENDAHULUAN
Penyakit malaria di Jawa Tengah sudah lama dikenal
sebagai penyakit rakyat yang telah menjadi problema kesehat-
an sejak jaman penjajahan Belanda, Jepang dan masa perang
kemerdekaan, bahkan sampai dengan masa pembangunan
sekarang ini. Hampir semua daerah Tingkat II di Jawa Tengah
pernah dilanda oleh penyakit ini walaupun dengan angka
penderita mempunyai tingkatan yang berbeda. Sebelum
± I960 malaria lebih banyak diderita oleh penduduk daerah
pantai baik daerah pantai Selatan Jawa Tengah seperti Cilacap,
Kebumen dan Purworejo maupun Pantai Utara seperti Brebes,
Tegal, Batang sampai ke Rembang. Semenjak waktu tersebut
sampai dengan sekarang penyakit malaria di Jawa Tengah
lebih banyak ditemukan di daerah-daerah pedalaman terutama
di daerah persawahan yang mempunyai persediaan air hampir
sepanjang tahun dan waktu tanam padi tidak bersamaan
seperti Banjarnegara, Wonosobo, dan Purbolinggo serta daerah-
daerah perkebunan dan kehutanan yang letaknya mempunyai
ketinggian ± 200 - 500 meter di atas laut, seperti Batang
Selatan, lereng gunung Muria di Kabupaten Jepara.
Menurut catatan sekarang penyakit malaria tidak menim-
bulkan banyak kematian seperti pada waktu-waktu yang lalu,
tetapi bagi perseorangan tetap menimbulkan kelemahan badan
dan gangguan gizi sehingga mudah timbul komplikasi penyakit-
penyakit lain.
Dan oleh karena penyakit malaria yang menurut sifatnya
mudah menyebar pada sejumlah penduduk terutama di daerah
persawahan, perkebunan dan kehutanan yaitu justru di daerah
produsen bahan pangan dan bahan-bahan expor vital, maka
bila penyakit tersebut tidak ditangani secara baik, akan dapat
menjadi problema kesehatan yang luas serta dapat mengham-
bat pelaksanaan pembangunan.
Dalam rangka peningkatan produksi pangan khususnya
beras, pemerintah terus berusaha meningkatkan areal sawah
dan penyediaan pengairan dengan membangun saluran saluran
dan waduk-waduk untuk irigasi, seperti waduk Sempor,
Wadaslintang, Wonogiri, Jratun Seruna dan sebagainya.
Hal tersebut secara tidak langsung akan memperluas pula
areal-breeding place vektor penyakit malaria. Sedangkan
pemberantasan penyakit Malaria dengan mempergunakan
insektisida selalu diikuti dengan efek-efek negatif yaitu polusi
lingkungan dan masalah resistensi vektor. Oleh karena itu
sangat
perlu segera dilakukan penelitian dan percobaan-
percobaan untuk mengatasi penyakit malaria dengan tindakan-
tindakan yang bersifat lintas sektoral.
2. SITUASI PENYAKIT MALARIA DI JAWA TENGAH
2.1. Metode Monitoring
Untuk mengetahui angka penyakit malaria, di Jawa Tengah
telah dilakukan aktivitas surveillance sejak kurang lebih tahun
I960 dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Pencarian penderita malaria secara aktif petugas Sektor
Malaria guna mendatangi dari rumah ke rumah atau dari
Simposium Masalah Penyakit Pazasit
4
background image
kampung ke kampung di seluruh Jawa Tengah dengan cycle
minimal 1 bulan sekali. Setiap penderita panas/ demam yang
ditemukan diambil preparat darahnya untuk diperiksa di
laboratorium.
b. Pencarian penderita malaria secara
pasif,
baik pengam-
bilan preparat darah dari penderita panas/demam yang datang
di Puskesmas, rumah sakit dan sebaginya.
c. Penelitian epidemiologi, yaitu kontak survey di sekitar
kasus malaria.
d. Mass Fever Survey di daerah-daerah yang dipandang
perlu atau kadang dilakukan pula mass survey.
Catatan :
Sebelum tahun I960 monitoring terhadap pen yakit malaria
di Jawa Tengah dilakukan hanya dengan mass fever survey,
mass survey atau kontak survey saja.
2.2. Mortalitas dan Morbiditas
a. Mortalitas
Kematian karena penyakit malaria tidak pernah tercatat secara
baik. Sebelum tahun I960 dr. Surono memperkirakan 4% dari
jumlah penderita malaria. Sekarang diperkirakan angka ter-
sebut yaitu lebih kecil. Laporan kematian karena penyakit
malaria jarang dilaporkan di Jawa Tengah.
b. Morbiditas
Pada tahun I953 tercatat slide positivity rate (SPR) :
23,73%.
Angka malaria terendah di Jawa Tengah tercatat dalam
masa Pembasmian Malaria. Pada tahun I965 SPR sebesar
0,04% dengan jumlah penderita I.II3 di antara 2.588,224
orang yang diperiksa darahnya.
Situasi politik pada tahun I965 dengan putusnya hubungan
dengan PBB dan WHO dan timbulnya pemberontakan
G30S/PKI, menyebabkan pelaksanaan Pemberantasan Pe-
nyakit Malaria di Jawa Tengah terlantar. Sejak tahun I965
dari tahun ke tahun kasus malaria meningkat. Pada tahun
I969 kasus malaria tercatat 59.782 orang di antara 2.I0I.
444 preparat yang diambil atau SPR 2,84%.
Suatu kenaikan sebesar 50 x dalam waktu 5 tahun. Bahkan
pada tahun I973 kasus malaria mencapai jumlah SPR
6,85% dengan kasus 209.809 penderita. Pada tahun I979
angka malaria tercatat sebanyak 53.980 penderita di
antara 2.784.348 preparat yang diperiksa atau SPR I,94%.
Secara terperinci kasus malaria dari tahun I953 sampai
dengan tahun I979 terlihat dalam tabel I, 2 dan 3.
c. Penyebaran Penyakit Malaria di Jawa Tengah
Pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang penyakit malaria
banyak terdapat di daerah pantai selatan dan utara Jawa
Tengah, walaupun di daerah pedalaman juga tidak terhindar
dari gangguan penyakit tersebut. Bahkan seluruh daerah
Kabupaten seluruh Jawa Tengah pernah dilanda oleh penyakit
malaria, walaupun ketinggian angka malaria tidak sama.
Dengan adanya penyemprotan insektisida diseluruh Jawa
Tengah pada tahun I96I - I965 density An. sundaicus sebagai
vektor utama didaerah pantai utara tidak lagi dapat ditemukan.
Dengan demikian angka malaria di pantai utara Jawa Tengah
sangat menurun sedang di daerah pantai selatan pun angka
malaria tersebut menjadi jauh lebih rendah dibanding daerah
pedalaman.
Gambaran tersebut dapat dilihat dalam peta
Annual Parasite Incidence (API) pada tahun 1978 dan tahun
I979(Gambar I).Penderita malaria tertinggi terdapat di Kabu-
paten Banjarnegara, Wonosobo dan Purbolinggo (± 75%)
pada tahun I978. Sedang pada tahun I979 di daerah tersebut
ada sedikit menurun karena adanya perubahan aktivitas
pemberantasan di daerah tersebut, tetapi daerah malaria
"baru" timbul di Kabupaten Batang dan Jepara pada tahun
1979. Ditinjau dari segi geografi daerah tersebut mempunyai
ciri :
1. Ketinggian antara 200 - 500 meter di atas laut.
2. Temperatur antara 20°- 26° c.
3. Kelembaban 65 - 75%.
4. Persawahan terase, yang selalu terdapat air.
5. Waktu tanam padi tidak bersamaan.
6. Vektor An. aconitus dominan.
3. KLINIK, DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN
3.I.
Klinik
Penyakit malaria dikenal sebagai penyakit dengan gejala-gejala
sebagai berikut :
(a) Gejala unium, seperti : pusing, sakit kepala, mual, mun-
tah-muntah, lesu, lemah badan, pucat, atau anemi.
(b) Gejala khusus, seperti : panas, demam, menggigil dan
limpa membesar.
(c) Tanda-tanda pasti adalah ditemukannya parasit malaria
dalam darah.
Perlu dicatat bahwa dalam penelitian epidemiologi sering
kali ditemukan hasil positif pemeriksaan laboratorium pada
orang-orang yang tidak mempunyai gejala-gejala dan masih
dapat bekerja seperti biasa.
3.2.
Diagnostik
Dalam pelaksanaan pemberantasan malaria diagnostik yang
ditegakkan ialah setiap penderita demam atau dalam waktu
sebulan yang demam agar diambil preparat darahnya. Sedang
positip malaria ditegakkan setelah preparat diperiksa di labo-
ratorium dan dapat ditemukan plasmodium.
3.3.
Pengobatan
Setiap penderita demam yang diambil darahnya diberikan
obat presumptive treatment yaitu single dose 4-aminoquino-
line dan pyrimethamine dengan
maksud
menghilangkan
gejala-gejala tersebut dan mencegah penularan. Setelah pre-
parat diperiksa di laboratorium dan ternyata positif wajib
diberikan radical
treatment obat 4-aminoquinoline
dan
8-aminoquinoline
dengan aturan seperti terlampir. Sistem
tersebut setiap kali diperiksa efektivitasnya.
Pengobatan preventif perlu diberikan kepada orang yang
masuk ke daerah malaria
dengan 2 x I50 mg 4-aminoqui-
noline dua kali seminggu, termasuk para transmigran ke luar
Jawa.
4. GANGGUAN DAN AKIBAT PENYAKIT.
4.1. Gangguan gizi
Plasmodium parasit malaria menyerang dan menghancurkan
butir-butir darah merah sehingga penghantaran makanan
ke seluruh tubuh menjadi sangat terganggu. Akibatnya pen-
derita malaria kecuali anemis, juga mengalami penyakit-
penyakit kurang gizi.
5
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
4.2. Aspek kesehatan perorangan
Pada perseorangan penyakit malaria menyebabkan tidak enak
badan, lemah, tidak kuat bekerja, konsentrasi belajar menurun,
bahkan pada bayi dan anak-anak penyakit malaria yang
menyerang terlalu lama dikhawatirkan mengganggu
per-
kembangan sel-sel otak hingga
menghambat kecerdasan.
Penyakit malaria dapat
pula
menyebabkan penderita mudah
terkena komplikasi dan bahkan dapat menyebabkan kematian.
4.3. Aspek kesehatan masyarakat
Karena sifat penyakit malaria yang dapat menular, maka
penyakit tersebut dapat menimbulkan morbiditas yang tinggi
di kalangan masyarakat. Dr. H.Y. Leimena memperkirakan
penyakit tersebut dapat menyebar sampai 30% dari penduduk,
bila tidak ditangani secara baik. Dengan kelemahan badannya,
penderita malaria mudah terkena penyakit-penyakit lain,
yang menyebabkan kesehatan masyarakat bertambah buruk
lagi.
4.4. Aspek sosial dan ekonomi
Di samping penyebaran penyakit tersebut yang luas, 40%
dari penderita adalah golongan umur yang produktif, sehingga
penyakit malaria dapat menyebabkan penghasilan masyarakat
jauh berkurang, biaya perawatan kesehatan tinggi dan menam-
bah pengangguran. Dapat diketahui pula bahwa ,penyakit
tersebut banyak berjangkit di daerah pedesaan. persawahan,
perkebunan, dan kehutanan. Jadi justru penyakit malaria
banyak berjangkit di daerah produksi bahan pangan dan
bahan-bahan expor yang vital. Hal tersebut dapat mengganggu
kelancaran pembangunan.
5. METODA PENCEGAHAN, PEMBERANTASAN, IMUNO-
LOGI DAN EPIDEMIOLOGI.
5.1. Pencegahan.
Penularan penyakit malaria dari orang sakit kepada orang
yang sehat pada umumnya lewat vektor yaitu dengan gigitan
nyamuk Anopheles. Penularan Iewat cara lain misalnya dengan
transfusi darah donor yang mengandung hama malaria kepada
recipien, kemungkinannya sangat kecil, karena tentunya
setiap donor diperiksa kesehatannya lebih dahulu dan justru
penderita malaria biasanya juga menderita anemia sehingga
tak mungkin diambil darahnya.
Jadi rantai penularan penyakit malaria adalah : -- penderita
-- vektor -- orang sehat -- dan seterusnya. Pencegahan
malaria sesuai dengan rantai penularan tersebut bermaksud
melindungi orang yang sehat dari penularan. Hal tersebut
dapat dilakukan dengan beberapa cara :
(a) Mencegah gigitan vektor, dengan cara :
-- Membunuh/menghalau nyamuk dengan semprotan
insektisida.
-- Menggosok bagian tubuh dengan obat pengusir nyamuk
seperti minyak kayu putih dan sebagainya.
- Tidur dengan memakai kelambu atau dalam ruang yang
anti nyamuk dengan memasang kawat kasa pada setiap
ventilasi.
Catatan :
Cara-cara tersebut dapat menurunkan angka penularan, tetapi
sukar dilaksanakan secara massal pada masyarakat.
(b) Dengan memakai obat anti malaria.
Obat yang dapat dipakai misalnya 4-aminoquinoline
dosis
150 mg dua tablet dan diminum seminggu 2 kali.
Cara tersebut sukar pula dilakukan secara massal tetapi
cukup efektif untuk orang yang masuk ke daerah malaria
tinggi, termasuk untuk para transmigran ke luar Jawa.
5.2. Pemberantasan Penyakit Malaria
Prinsip Pemberantasan Malaria adalah memutus mata rantai
penularan. Mata rantai mana yang harus diputus dipilih mata
rantai yang paling lemah dalam arti mudah, murah dan efektif.
Dalam program pemberantasan malaria cara yang dipilih
adalah :
(a) Memberantas vektor dengan insektisida dengan tujuan
untuk mengurangi atau menghentikan transmisi.
(b) Mencari penderita yang masih ada untuk diobati.
Walaupun cara tersebut dipilih yang paling mudah, murah dan
efektif, tetapi kenyataannya tetap tidak mudah, tidak murah
dan sering tidak efektif juga.
Nyatanya, penyakit malaria di Jawa Tengah belum juga dapat
dibrantas secara baik, walau biaya tiap tahun ± 2 milyard
rupiah.
5.3. Imunologi
Belum diketahui secara pasti apakah plasmodium penyebab
malaria dapat menimbulkan kekebalan pada pendefita. Banyak
sekali ditemukan penderita yang pernah sakit malaria dan
telah sembuh secara sempurna dengan pengobatan, kemudian
ternyata sakit lagi sebagai penderita baru dengan cara infeksi
baru. Tetapi banyak didapatkan penderita malaria di daerah
malariaous yang tidak jatuh sakit dan masih dapat bekerja
secara biasa walaupun orang tersebut mengandung hama
malaria dalam darahnya. Tetapi orang-orang dari "daerah
bebas malaria" yang masuk ke daerah malariaous, banyak
terserang penyakit malaria dengan gejala-gejala yang berat,
bahkan sampai meninggal.
Sebagai contoh di antara transmigran dari DKI dan Denpasar
Bali dilaporkan ada ±
109 meninggal karena sakit malaria di
Sulawesi Tenggara.
Dari data-data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
plasmodium malaria dapat menimbulkan "daya tahan tubuh"
terhadap serangan malaria lagi, tetapi seberapa besar kekuatan-
nya belum dapat diketahui. Di beberapa negara telah dapat
dibuktikan bahwa beberapa strain plasmodium malaria jelas
menimbulkan kekebalan. Jika kekebalan tersebut dapat
dikembangkan, akan berguna sekali dalam program pem-
berantasan penyakit malaria, seperti cara pemberantasan
cacar dengan vaksinasi.
5.4.
Epidemiologi
Plasmodium malaria dapat hidup dalam tubuh
manusia dan
dalam tubuh nyamuk. Putaran kehidupan hama dalam tubuh
manusia terjadi dalam darah dengan siklus : merozoid --
tropozoid -- schizont -- merozoid muda.
Merozoid muda masuk lagi ke dalam butir darah merah.
Di dalam sel darah merah sebagian terbesar merozoid muda
tersebut mengulangi siklusnya dan sebagian kecil membentuk
makro- dan mikrogametocyt yang siap
untuk masuk tubuh
nyamuk pada waktu nyamuk tersebut menggigit orang sakit
malaria. Sebagian lagi dapat masuk dalam sel hati untuk
kehidupan
merozoid-merozoid
muda.
Siklus
kehidupan
plasmodium dalam tubuh orang atau periode intrinsik me-
makan waktu 10 -
14 hari.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
6
background image
TABEL 1:
PARASITE RATES AND SPRAYING DATA
IN CENTRAL JAWA PROVINCE ( 1952 - I978 ).
YEARS
PARASITE RATES
S P R A Y I N G
Slides
Pos
TOTAL
SPR (%)
DDT. Kg.
DIN.
Population
protected.
P.f.
%P.f.
1952
6.642
72.599
1953
7.626
1 .810
23,73
5.214
21.515
1954
65.279
1 2.624
1 9,33
27.758
1 53.630
1955
23.994
3.700
15,42
75.272
477.063
1956
87.486
1 2.110
I3,84
1 81.263
33.753
1 .594.206
1957
197.280
15.009
7,60
349.232
236.927
5.062.550
1958
217.144
10.776
(4,96
22.373
363.495
1959
59.842
426
- staring MEP
(0,71
1960
78.216
974
1,24
455.0I8
1 8.959
5.977.343
1961
1 00.596
260
0,25
1.574.733
34.640
20.997.353
1962
318.239
845
(0,26
(
7.050.166
34.261
64.203.129
1963
1 38.091
127
(0,09
1964
2.536.574
1.719
456
26,5
0,06
3.260.707
516
25.701.533
1965
2.588.224
1 .11 3
588
52,8
0,04
542.092
2.855.499
1966
1.9I0.771
.
3.467
1 .698
48,9
0,18
22.071
11 .505
1967
1.412.765
1 .266
473
37,3
0,09
38.861
148.880
1968
1.588.301
7.014
2.951
42,0
0,44
704
5.830
1969
2.101.444
59.782
29.870
50,1
2,84
45.371
275.887
1970
2.496.349
64.377
36.688
56,9
2,57
1 42.681
879.432
1 971
2.265.172
35.639
1 9.790
55,5
1,57
526.287
2.887.588
1972
2.734.197
55.813
31.152
55,8
2,04
436.137
2.316.25
1
1973
3.058.977
209.809
60.071
28,6
6,85
436.727
2.454.579
1974
3.1 57.608
1 22.963
40.840
33,2
3,89
6.604.308
3.230.855
1975
2.811.206
56.246
33.112
58,87
2
325.651,9
1.636.625
1976
2.596.325
62.360
28.285
45,36
2,40
518.522,9
2.831.595
1977
2.696.089
81.541
31.979
39,22
3,02
1.854.893,5
9.194.958
1978
2.920.466
1 00.719
34.031
33,79
3,45
1.390.038
7.689.795
1979
2.784.348
53.980
25.610
47,44
1 ,94
1.330.118,1
7.171.986
Semarang, 6 Maret 1979.
Kepala P2. Malaria Dit. Da. P3M. Propinsi,
Jawa - Tengah,
ttd.
(
SUKAMTO. SKM).
NIP : I40020557.
Mikro dan makrogamet yang terhisap oleh nyamuk dalam
lambung nyamuk akan mengadakan pembuahan dan ter-
bentuklah zygote. Dari zygote kemudian terbentuk
ookinet
oocyste dalam dinding lambung nyamuk dan terbentuklah
spora yang seterusnya menjadi sporozoit
yang siap
dalam kelenjar ludah nyamuk untuk masuk dalam tubuh
orang lewat gigitan nyamuk.
Siklus kehidupan plasmodium dalam tubuh nyamuk atau
periode extrinsik memerlukan waktu I0 - 12 hari.
Dengan mengetahui siklus kehidupan parasit dan waktu
intrinsik dan extrinsiknya serta cara penularan penyakit mala-
ria dapat ditetapkan bahwa : pemeriksaan preparat oleh
laboratorium memungkinkan pengaturan waktu antara pem-
berian presumptive dan radical treatment yang harus kurang dari
10 hari dan pelaksanaan pemberantasan vektor dengan fogging
agar diulang tiap minggu selama 8 - I0 minggu.
6. PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERANTASAN PE
NYAKIT MALARIA DI JAWA TENGAH
Tujuan dari Program Pemberantasan Penyakit Malaria di
Jawa Tengah ialah : menghindarkan kematian penduduk oleh
penyakit malaria dan terutama menurunkan jumlah penderita
malaria, sehingga penyakit malaria tidak menjadi problema
kesehatan
masyarakat
dalam
pelaksanaan pembangunan.
Sasaran diarahkan terutama pada daerah-daerah pedesaan,
persawahan, perkebunan, dan kehutanan, yaitu daerah pro-
duksi b ahan pangan dan bahan expor yang vital.
Metoda
yang dipakai adalah memutus rantai penularan
yaitu dengan cara :
· Memberantas vektor dan
· Pencarian dan pengobatan penderita.
Dalam pelaksanaan disusun program sebagai berikut :
7
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus I980
background image
TABEL 2: MALARIA DI JAWA TENGAH TH. I969 - 1974.
No.
Kabupaten/
1969
I 970
I 971
1 972
I 973
1974
Kodya.
S.D.
POS
%
S.D.
POS
%
S.D.
POS
%
S.D.
POS
%
S.D.
POS
%
S.D.
POS
%
1 Kod. Semarang
11 802
11 7
1
1 8392
53 0,3
17244
29 0,2
22875
31 0,23
28274
970
3,4
29031
157
0,54
2 Kab. Semarang
75255
1 711 2,30
9711 4
2829 2,9
91025
3217 3,5
94929
5186 3,5
123087
28459
23,1
136785
11468
8,35
3
"
Demak
53088
900
1,70
69883
1672 2,4
62277
466 0,7
81991
622 0,75
75665
5350
7,1
82905
2787
3,36
4
"
Kendal
48050
2050
4,3
611 05
2719 4,4
39333
1325 3,4
49402
1256 2,54
66517
5523
8,3
736111
3094
4,2
5
"
Grobogan
1 23334
1 4644 11 ,9
11 6858
8313 7,1
85264
2312 2,7
109778
1943 1,76
169374
26949
15,9
190449
1 9193 1 0,07
6
"
P a t i
47341
2672
5,6
68898
2246 3,2
70392
1327 2
79828
1 334 1,67
98585
5435
5,5
97558
4574
4,69
7
"
Kudus
24428
218
0,9
51 880
1 447 2,8
24429
360 1,5
50583
375 0,74
50176
5279
10,5
.50117
2832
5,65
8
"
Jepara
48281
885 1 ,8
56514
2716 4,8
43929
701 1,6
62452
755 I,20
72279
4546
6,3
76609
2202
2,87
9
"
Rembang
34846
3265
9,4
41360
575 1,4
42682
465 1,1
50909
328 0,64
60265
2673
4,4
83695
3172
3,29
I0
"
Blora
56874
5718 10
44748
1 331 3
51726
569 1,1
58468
493 0,84
78536
8558
10,9
77658
5554
7,15
11 Kod. Pekalongan
4076
44
1,1
3514
33 0,9
4981
18 0,4
1 6956
11 0,06
9247
72
0,8
9579
1 00
1 ,04
I2
"
Tegal
3612
1 0,02
2837
2 0,1
5756
0 0,1
7224
1 0,01
6631
5
0,1
4370
3
0,06
13 Kab. Batang
59597
2516
4,2
69292
3446 5
43955
1160 2,6
54353
995 1,83
66917
7775
11,6
66947
2691
4,02
14
"
Pekalongan
45785
733
1,6
36105
454 1,2
42716
1082 2,5
59858
625 I,04
72558
1 871
2,6
1 00201
2098
2,09
I5
"
Pemalang
72254
0
0
81211
48 0,05
78938
205 0,2
72538
336 0,46
88847
4346
4,9
91941
1 049
1 ,14
16
"
Tegal
64419
1 1
0,01
84563
8 0,01
74475
146 0,2
77426
63 0,08
72257
1 76
0,2
74978
470
0,63
17
"
Brebes
70545
29
0,04
1 15807
56 0,04
98090
338 0,3
97365
439 0,43
83489
73
0,1
80514
275
0,34
18
"
Banyumas
136184
469
0,3
153141
503 0,3
135885
248 0,2
152548
433 0,28
1 63498
3124
1 ,9
150915
3126
2,07
19
"
Bj. Negaza
93551
8946
9,6
11 4845
9162 8
105457
3170 3
146067
1 0414 7,12
114581
6544
5,7
1 30982
7999
6, 11
20
"
Purbolinggo
86010
2007
2,3
1 02988
3332 3,2
97666
3193 3,3
1 25551
4672 3,72
140916
6848
4,8
1 83175
5421
2,96
21
"
Cilacap
178390
2641 1,5
118126
2647 2,2
109551
1235 1,1
164999
1947 I,I8
1 78739
2924
1,6
1 51731
1279
0,84
22 Kod. Magelang
2388
3
0,1
4022
1 0 0,2
3894
3 0,1
8684
13 0,I4
1 2852
33
0,2
7371
8
0, 11
23 Kab. Magelang
43177
1 01 0,2
96665
1 388
1,4
1 00855
1223
1 ,2
1 04150
826 0,79
114941
1972
1,7
109526
1162
1 ,06
24
"
Temanggung
41280
1 341 3,2
41025
672 1,6
44698
1 01 0,2
60074
97 0,16
57576
1245
2,2
63829
558
0,87
25
"
Wonosobo
56620
2063
3,6
57074
3454 6
42532
1 177 2,8
71563
1 076 1,5
76825
5399
7
78458
4660
5,94
26
"
Purworejo
93319
1 886
2
78716
2503 3,2
55440
1481 2,7
71459
1816 1,98
96288
4017
4,2
85348
I591
1 ,86
27
"
Kebumen
1 22482
1 570 1 ,3
1 43042
2156
1,5
1 37324
11 30 0,8
1 39976
1697 I,2I
141242
7321
5,2
1 41085
3056
2,17
28 Kod. Surakarta
1 6152
39
0,2
27138
94 0,3
30980
147 0,5
30154
11 7 0,38
30066
853
2,8
25789
485
1 ,88
29 Kab. Sukoharjo
44710
111 0,2
67428
618 0,9
56932
453 0,8
62749
1 321 2,10
72388
5194
7,2
64720
2945
4,55
30
"
Klaten
57247
1 29
0,2
11 1646
2771 2,5
92222
2415 2,6
11 7707
5751 4,88
1 45070
1 3308
9,2
139201
7916
5,69
3I
"
Boyolali
9511 3
1 254
1,3
1 07603
1418 1,3
1 07557
1 238
1,1
1 09008
1 822 I,67
142614
1 1662
8,2
I52705
7705
5,04
32
"
Kr. Anyar
30971
1 64
0,5
76509
610 1
71833
1 538 2,1
92203
4300 4,16
82745
7466
9
94871
3457
3,64
33
"
Sragen
56584
1 285
2,9
90400
2474 2,7
98686
2360 2,4
1 06723
2365 2,2I
130684
1 2863
9,8
1 25930
4342
3,45
34
"
Wonogiri
1 03679
259
0,2
85894
2517 2,4
96442
753 0,8
103647
2353 2,27
137619
1 0676
7,7
124694
5535
4,44
Jumlah
2101444
59782
2,84
2496349
64377 2,57
2265172
35639
1,57
2734197
55813 2,04
3058977
209809
6,85
3157608 1 22963
3,89
Semarang, 8 - Maret - I979.
background image
TABEL 3: ANGKA MALARIA PROPINSI DATI 1 JAWA TENGAH TH. 1974 - 1978.
No.
Kabupaten/Kodya
1 9 7 4
1 9 7 5
1 9 7 6
1 9 7 7
1 9 7 8
SLIDES
POS
SPR
SLIDES
POS
SPR
SLIDES
POS
SPR
SLIDES
POS
SPR
SLIDES
POS
SPR
1.
Kod. Semarang
29.031
157 0,54
29.953
36
0,12
21.950
10
0,04
29.054
17
0,06
35.862
55 0,15
2.
Kab. Semazang
136.785
11.468 8,35
108.904
2.786
2,55
87.218
616
0,78
107.828
740
0,69
1 17.575
3.374 2,87
3.
"
Demak
82.905
2.787 3,06
66.617
500
0,75
63.495
85
0,13
60.973
59
0,10
65.837
134 0,20
4.
"
Kendal
73.611
3.094 4,20
78.613
1.398
1,78
57.451
298
0,52
54.130
146
0,27
68.568
1.223 1,78
5.
"
Grobogan
190.449
19.193 10
137.695
4.708
5,42
109.411
593
0,54
112.363
102
0,09
110.454
436 0,39
6.
"
P a t i
97.558
4.574 4,69
82.422
1.811
2,33
75.245
199
0,26
82.898
64
0,08
94.283
130 0,14
7.
"
Kudus
50.117
2.832 5,65
49.719
912
1,81
41.317
51
0,12
44.343
9
0,02
49.227
25 0,05
8.
"
Jepara
76.609
2.202 2,87
76.148
1.356
1,78
62.264
140
0,23
71.286
76
0,11
87.045
4.947 5,68
9.
"
Rembang
83.695
3.172 3,19
62.890
764
1,19
44.628
86
0,19
52.888
25
0,05
57.903
50 0,09
10.
"
Blora
77.658
5.554 7,15
64.467
1.494
2,31
48.024
738
1,54
58.423
56
0,09
61.440
60 0,09
11.
Kod. Pekalongan
9.579
100 1,05
7.518
11
0,15
1 0.404
0
0
8.725
4
0,04
10.094
2 0,02
12.
"
Tegal
4.370
3 0,06
4.357
4
0,11
2.978
3
0,10
3.202
1
0,03
2.862
0 0
13.
Kab. Batang
66.947
2.691 4,02
76.559
1.644
2,15
62.374
605
0,99
54.920
1.420
2,58
61.887
6.671 1 0,78
14.
"
Pekalongan
100.201
2.098 2,10
67.434
905
1,34
58.812
87
0,15
59.289
345
0,58
67.294
812 1 ,21
15.
"
Pemalang
91.941
1.049 1,14
90.540
284
0,38
91.002
53
0,06
88.098
95
0,11
97.927
658 0,67
16.
"
Tegal
74.978
470 0,63
81.687
411
0,50
81.132
200
0,25
90.439
106
0,12
98.885
487 0,49
17.
"
Brebes
80.514
275 0,34
94.088
222
0,77
87.745
1 55
0,18
89.754
260
0,29
87.751
310 0,35
18.
"
Banyumas
150.915
3.126 2,07
139.034
1.358
0,98
1 45.901
1 .544
1,05
143.764
2.023
1,41
152.756
4.842 3,17
19.
"
Bj. negara
130.982
7.999 6,10
157.294
17.685
11,21
244.057
47.707
19,55
219.109
44.136
20,14
169.206
22.961 13,57
20.
"
Purbolinggo
183.175
5.421 2,95
153.693
4.190
2,72
138.376
2.700
1,95
165.852
12.118
7,31
178.362
15.693 8,80
21.
"
Cilacap
151.731
1.279 0,84
151.393
517
0,34
127.820
366
0,29
126.130
402
0,32
142.533
784 0,55
22.
Kod. Magelang
7.371
8 0,10
6.515
11
0,17
9.911
3
0,03
8.777
1
0,01
6.617
4 0,06
23.
Kab. Magelang
109.526
1.162 1,06
105.534
550
0,53
1 08.003
411
0,36
114.274
1.259
1,10
128.525
2.393 1,86
24.
"
Temanggung
63.829
558 0,87
44.423
286
0,64
37.549
178
0,47
35.562
283
0,79
38.717
354 0,91
25.
"
Wonosobo
78.458
4.660 5,94
56.745
1.712
3,02
58.294
2.979
5,11
83.196
11.083
13,32
99.668
15.326 15,38
26.
"
Purworejo
85.348
1.591 1,86
84.039
645
0,75
76.317
1.123
1,48
80.496
2.087
2,59
101.730
7.257 7,13
27.
"
Kebumen
141.085
3.056 2,17
139.164
554
0,40
128.707
251
0,21
143.415
4.151
2,89
187.591
10.730 5,72
28.
Kod. Surakarta
25.789
485 1,88
29.341
64
0,22
33.585
14
0,04
36.372
4
0,01
31.432
4 0,01
29.
Kab. Sukoharjo
64.720
2.945 4,57
48.379
997
2,06
43.809
113
0,26
46.273
22
0,04
48.332
26 0,05
30.
"
Klaten
139.201
7.916 5,68
128.931
3.443
2,84
1 05.992
370
0,35
114.968
103
0,09
114.260
116 0,10
31.
"
Boyolali
152.705
7.705 5,18
110.756
2.062
1,86
85.361
222
0,26
81.572
89
0,11
101.003
547 0,54
32.
"
Kr. anyar
94.871
3.457 3,6
79.888
895
1,13
68.681
154
0,22
67.880
56
0,08
78.455
55 0,07
33.
"
Sragen
125.930
4.342 3,42
100.294
685
0,66
89.639
89
0,10
85.713
12
0,01
82.275
13 0,01
34.
"
Wonogiri
124.694
5.535 4,42
101.172
1.346
1,35
88.873
217
0,27
84.512
147
0,17
84.110
240 0,28
Jumlah
3.157.608
122.963 3,89
2.811.206
56.246
2
2.596.325
62.360
2,40
2.696.099
81.541
3,02
2.920.466
100.719 3,45
Semarang, 9 - Maret - 1979.
Kepala P2. Malazia Dit.Da.P3M. Propinsi Jateng.
ttd.
( SUKAMTO. SKM)
NIP. : 140020557
background image
1. Surveillance
Dalam surveillance penyakit malaria terdiri dari beberapa
kegiatan yaitu :
(a) Pencarian penderita secara aktif yang dilakukan oleh
petugas-petugas khusus yaitu Juru Malaria Desa (JMD)
yang berlangsung dari rumah ke rumah untuk mengambil
preparat darah dari orang-orang yang sakit dengan gejala-
gejala malaria yaitu demam.
(b) Pencarian penderita secara pasif yang dilakukan oleh
tenaga Puskesmas dan Rumah Sakit terhadap penderita
yang datang ke tempat-tempat tersebut.
(c) Pencarian penderita yang lain misalnya dengan Mass
Survey, Mass Fever Survey di daerah-daerah yang dianggap
perlu.
(d) Pemeriksaan laboratorium terhadap preparat yang diambil
secara pasif dan aktif untuk penentuan Positif Malaria
Mikroskopis.
(e) Usaha pengobatan yaitu pengobatan presumptive atau
pendahuluan terhadap semua penderita demam yang
diambil preparat darahnya dan pengobatan sempurna atau
radical treatment terhadap semua kasus malaria yang
positif laboratorium.
2. Penelitian Entomologi
Usaha ini dilakukan terutama di daerah yang mempunyai
angka malaria tinggi untuk menentukan :
(a) Jenis vektor.
(b) Kepadatan vektor.
(c) Sifat-sifat hidup vektor/bionomik.
(d) Resistensi vektor terhadap insektisida.
Cara-cara yang dipakai adalah :
(a) Pemeriksaan jentik-jentik di breeding place.
(b) Pemeriksaan siang hari terhadap nyamuk dewasa di resting
place indoor dan outdoor.
(c) Pemeriksaan malam hari dengan man biting indoor, out-
door dan sekitar kandang ternak.
(d) Pemeriksaan resistensi vektor dengan bio-assay test atau
resistensi test.
Berdasarkan atas penelitian vektor tersebut ditetapkan
cara-cara pembasmian dan insektisida yang dipakai dalam
pemberantasan tersebut.
3. Operasi pemberantasan vektor
Di Jawa Tengah sesuai dengan hasil penelitian entomologi
dan surveillance malaria, dilakukan operasi pemberantasan
vektor sebagai berikut
(a) Penyemprotan rumah dengan DDT 2 gr/m
2
indoor
residual-spraying DDT spraying.
(b) Penyemprotan rumah dengan Malathion 2 gr/m
2
(indoor
residual/Malathion), seperti di Kecamatan Gunungpati
Semarang, Kecamatan Rembang di Purbolinggo.
(c) Penyemprotan rumah dengan Fenitrothion 1 gr atau
2 gr/m
2
seperti di Kecamatan Jambu Semarang, Kecamat-
an Rakit Banjarnegara.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
10
background image
KASUS MALARIA Dl PROPINSI JAWA TENGAH
TAHUN 1978 - 1979
11
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
(d) Penyemprotan Fenitrothion 2% sistem fogging seperti
di lima kecamatan di Banjarnegara.
(e) Penyemprotan Malathion 4% sistem fogging di empat
kecamatan di Wonosobo.
Daerah penyemprotan, jenis insektisida yang dipakai, dosis
insektisida dan sistem penyemprotan yang dipergunakan
disesuaikan dengan hasil penelitian entomologi dan surveil-
lance.
7. PROBLEMA YANG DIHADAPI DI JAWA TENGAH.
7.1. Problema tehnis
(a) Di beberapa daerah di Jawa Tengah mulai timbul resistensi
vektor An. aconitus terhadap DDT. Kematian dengan 4%
DDT turun dari 100% menjadi 50% bahkan ada yang
sampai hanya 15 sampai dengan 20%
(b) Sifat An. aconitus berubah dari indoor vector menjadi
outdoor vector.
An. aconitus mengigit orang di dalam
rumah dan hinggap untuk istirahat pada dinding dalam
rumah berubah sifat mampu menggigit di luar rumah
atau istirahat di luar rumah setelah menggigit orang.
(c) Ada tanda-tanda An. aconitus lebih banyak mengigit orang
(anthropophilic) daripada sifat aslinya yaitu makan darah
hewan atau zoophilic. Hal tersebut mungkin karena
jumlah hewan yang makin mengurang misalnya di Banjar-
negara.
(d) Adanya penderita yang tak terperiksa petugas (hidden
cases) atau penderita tanpa gejala malaria.
7.2. Problema administratif
(a) Jumlah tenaga yang menangani langsung usaha Pemberan-
tasan Malaria di lapangan makin menurun, karena tenaga-
tenaga yang meninggal, pensiun, dapat profesi ke bidang
lain tidak dapat diganti dengan yang baru, sedang pe-
nambahan personil Puskesmas lapangan belum mencukupi
sesuai yang diperlukan.
(b) Kemampuan dan semangat tenaga lapangan dalam bidang
Pemberantasan Malaria dirasa menurun karena kejemuan
terhadap bidang tugasnya yang monoton dan kurang
adanya kaderisasi dengan tenaga-tenaga muda.
(d) Mutasi pegawai ketempat yang diperlukan sukar pelaksa-
naannya karena kesulitan perumahan dan masalah sosial
ekonomi yang lain.
(e) Harga insektisida yang sangat tinggi.
7.3.
Problema sosial
(a) Masyarakat
kurang menyukai penyemprotan dengan
insektisida, karena akan kotor, polusi dan sebagainya.
(b) Penderita yang diobati baik presumptive atau radical
banyak yang drop-out, karena kurang pengertian dari
masyarakat.
(c)
Areal sawah basah yang mulai meluas dan sistem tanam
padi yang tidak bersamaan memperluas breeding place
vektor malaria.
(d) Mobilitas penduduk dari satu daerah ke daerah yang
makin tinggi.
8. KESIMPULAN
Dengan adanya perkembangan dan perubahan
kondisi
geografi serta adanya problema-problema seper
ti tersebut
di atas, penyakit malaria di Jawa Tengah cukup potensial
bahkan akan dapat bertambah poten. Untuk mengatasi ha
tersebut maka diperlukan penelitian lebih mendalam
untuk
dapat menemukan metoda-metoda pemberantasan yan
g lebih
sesuai serta serasi dengan kondisi-kondisi yang ada, dan
me-
toda tersebut agar lebih bersifat lintas sektoral yang dapa
memelihara keseimbangan lingkungan.
9. SARAN
9.1. Pemberantasan Penyakit
Malaria
dengan
metoda
pemakaian insektisida agar tidak dijadikan metoda yang rutin
.
Apabila metoda tersebut cukup efektif dapat dipaka
i secara
meluas, tapi agar ada pembatasan waktu pemakaiannya,
misalnya 3 sampai dengan 5 tahun saja, karena metoda
ter-
sebut selalu disertai efek-efek yang negatif yaitu resistensi,
toxis, polusi, tidak disukai masyarakat dan bahannya impor
yang mahal harganya.
9.2.
Agar segera dicoba dilaksanakan metoda dengan pen-
dekatan Iintas sektoral yang dapat memelihara keseimbangan
lingkungan, misalnya :
(a) Usaha pengeringan berkala dari sawah-sawah berteras
(intermitten irrigation), untuk mengurangi waktu ke-
sempatan bertelur vektor.
(b) Usaha penanaman padi secara serempak untuk memutus
kesinambungan penularan malaria.
(c)
Usaha penanaman sawah bergilir antara padi dan tanaman
kering seperti jagung, kedele dan sebagainya.
(d) Kebersihan sawah tempat bertelur nyamuk dari rumput
-
rumput yang tidak perlu.
(e)
Peningkatan jumlah ternak sapi dan kerbau di,
,
daerah
pedesaan (Zooprophylaxis), sehingga vektor An. aconitus
yang zoophilic tidak menjadi anthropophilic.
(f)
Penempatan kandang-kandang ternak jauh diluar rumah
dan di dekat tempat bertelur nyamuk/sawah, sehingga
kontak antara vektor-orang berkurang.
(g) Penanaman ikan di sawah-sawah (biological control)
misalnya dengan ikan mujair, ikan kepala timah (pancak)
atau lunjar cetol (phusilia) dan sebagainya.
(h) Pendidikan terhadap masyarakat tentang kesehatan agar
masyarakat mencegah/mengurangi kesempatan terhadap
gigitan nyamuk misalnya dengan kelambu dan sebagainya.
(i)
Pendidikan terhadap
masyarakat tentang pengobatan
anti malaria baik preventif, presumptive dan radical treat-
ment. Metoda tersebut tidak perlu berlaku secara total,
tetapi lebih bersifat lokal sesuai dengan kondisi lingkung-
an dan masyarakat.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
12