TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Manfaat Kortikosteroid
pada Asma Bronkial
Faisal Yunus
Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia SMF Paru
RSUP Persahahatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi kronik saluran
napas yang menyebabkan sensitifnya trakea dan cabang-cabang-
nya (hipereaktivitas bronkus) terhadap berbagai rangsangan.
Rangsangan ini dapat menimbulkan obstruksi saluran napas
yang menyeluruh dengan derajat yang bervariasi dan dapat
membaik dengan atau tanpa diobati. Pada kelainan ini berperan
berbagai sel inflamasi antara lain sel mast dan eosinofil
(1-3)
.
Penyakit asma dapat terjadi pada berbagai usia baik laki-laki
maupun perempuan. Angka kejadian asma bervariasi di berbagai
negara, tetapi terlihat kecenderungan bahwa penderita penyakit
ini meningkat jumlahnya, meskipun belakangan ini obat-obat
asma banyak dikembangkan. Di negara maju angka kesakitan
dan kematian karena asma juga terlihat meningkat.
Inflamasi kronik adalah dasar duri penyakit asma, oleh
karena itu obat-obat antiinflamasi berguna untuk mengurangi
inflamasi yang terjadi pada saluran napas. Kortikosteroid adalah
salah satu obat antiinflamasi yang paten dan banyak digunakan
dalam penatalaksanaan asma. Obat ini diberikan baik yang be-
kerja secara topikal maupun secara sistemik.
PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI ASMA BRON-
KIAL
Penyempitan saluran napas yang terjadi pada penyakit asma
merupakan suatu hal yang kompleks.Hal ini terjadi karena lepas-
nya mediator dari sel mast yang banyak ditemukan di permukaan
mukosa bronkus, lumen jalan napas dan di bawah membran
basal. Berbagai faktur pencetus dapat mengaktivasi sal mast
(4)
.
Selain sel mast sel lain yang juga dapat melepaskan mediator
adalah sel makrofag alveolar. eosinofil, sel epitel jalan napas,
netrofil, platelet, limfosit dan monosit. Inhalasi alergen akan
mengaktitkan sel mast intralumen, makrofag alveolar, nervus
vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. Peregangan vagal
menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi
yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel
jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke
dalam submukosa, sehingga memperbesar reaksi yang teijadi
(5)
.
Mediator inflamasi secara langsung maupun tidak langsung
menyebabkan serangan asma, melalui sel efektur sekunder se-
perti eosinofil. netrofil, platelet dan limfosit. Sel-sel inflamasi
ini juga mengeluarkan mediator yang kuat seperti lekotriens.
tromboksan, PAF dan protein sitotoksis yang memperkuat reaksi
asma. Keadaan ini menyebabkan inflamasi yang akhirnya me-
nimbulkan hipereaktivitas bronkus
(5)
. Pada Gambar 1 dapat
dilihat peranan berbagai sel pada reaksi asma.
Reaksi asma ada dua macum yaitu reaksi asma awal (early
asthma reaction = EAR) dan reaksi asma lambat (late asthma
reaction = LAR). Pada reaksi asma awal, obstruksi saluran napas
terjadi segera yaitu 1015 menit seteluh rangsangan dan meng-
hilang secara spontan. Spasme bronkus yang terjadi merupakan
respons terhadap mediator-mediator sel mast terutama histamin
yang bekerja langsung pada otot poles bronkus atau melalui
refleks vagal. Keadaan ini mudah diatasi dengan beta-2 agonis
(4,5)
.
Pada reaksi asma lambat, reaksi terjadi setelah 34 jam
rangsangan oleh alergen dan bertahan selama 1624 jam, bahkan
kadang-kadang sampai beherapa minggu. Fase ini disertai
dengan reaktivasi sel mast dan aktivasi netrofil sehingga timbul
inflamasi akut berupa edema mukosa, hipersekresi lendir, infla-
masi netrofil, rusaknya tight junction epitel bronkus dan spasme
bronkus. Pada fase ini peran spasme bronkus kecil, akibatnya
reaksi ini sukar diatasi dengan pemberian beta-2 agonis
(4,5)
.
Setelah reaksi asma awal dan reaksi asma lambat, proses
dapat terus berlanjut menjadi reaksi inflamasi subakut atau
kronik. Pada keadaan ini terjadi inflamasi di bronkus dan se-
kitarnya, berupa
(4,5)
:
·
Infiltrasi sel-sel inflamasi terutama eosinofil dan monosit
dalam jumlah besar ke dinding dan lumen bronkus.
·
Kerusakan epitel bronkus oleh mediator yang dilepaskan
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
10
Gambar 1. Peranan sel inflamasi pada reaksi asma
(5)
Gambar 2. Fase obstruksi jalan napas pada asma
(4)
eosinofil.
·
Edema mukosa dan eksudasi plasma.
·
Hipersekresi lendir yang kental Jail kelenjar submukosa
yang mengalami hipertroli.
Pada Gambar 2 dapat dilihat face obstruksi jalan napas
pada asma.
Pada beberapa keadaan reaksi asma dapat juga terjadi tanpa
melibatkan sel mast misalnya pada waktu hiperventilasi, inhalasi
udara dingin, asap, kabut dan SO
2
. Pada keadaan ini reaksi asma
terjadi melalui reteks saraf. Rangsang ujung saraf eferen vagal
(c.fiber) yang ada di mukosa menyebabkan lepasnya neuropeptid
sensorik senyawa P, neurokinin A dan Calcitonin Gene-Related
Peptide (CGRP). Neuropeptid inilah yang menyebabkan ter-
jadinya bronkokonstriksi, edema bronkus, eksudasi plasma,
hipersekresi lendir dan aktivasi sel-sel inflamasi
(6)
.
Hiperaktivitas bronkus merupakan ciri khas penyakit asma,
besarnya hipereaktivitas bronkus ini dapat diukur secara tidak
langsung. Pengukuran ini merupakan parameter objektif untuk
menentukan beratnya hiperaktivitas bronkus yang ada pada
seseorang penderita. Berbagai cara digunakan untuk mengukur
hipereaktivitas bronkus ini, antara lain dengan uji provokasi
beban kerja, inhalasi udara dingin, inhalasi antigen maupun
inhalasi zat nonspesifik
(7-11)
.
MEKANISME KERJA KORTIKOSTEROID PADA
ASMA
Mekanisme kerja kortikosteroid pada asma belum diketahui
dengan pasti. Salah satu teori mengemukakan bahwa kortiko-
steroid dapat membentuk makrokortin dan lipo-modulin yang
bekerja menghambat fosfolipase A
2
membentuk leukotrien.
prostaglandin, tromboksan dan metabolit asam arakidonat lain
(4)
.
Pada Gambar 3 dapat dilihat cara kerja makrokortin terhadap
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 11
Gambar 3. Penghambatan makrokortin terhadap fosfolipase A
2
(4)
fosfolipase A
2
. Mekanisme kerja steroid yang lain adalah meng-
halangi pembentukan mediator oleh sel inflamasi, menghalangi
penglepasan mediator dan menghalangi respons yang timbul
akibat lepasnya mediator
(12)
(Tabel l).
Tabel 1. Efek kortikosteroid terhadap mediator yang timbul pada serang-
an asma
(12)
Mediator Sumber
Efek
PGD
2
PAF-"acether"
LTD
4
Histamin
Bradikinin
Faktor turunan
kamplemen
Siklooksigenase
besar produk dari sel
mast netrofil
Basofil, makrofag,
platelet, netrofil
Eosinofil
Sel mast
Sel mast
Basofil
Kininogen di plasma
Kininogen yang dilepaskan
oleh basofil
Aktivasi sistim komplemen
di plasma (menerlukan
adanyn netrofil)
Tidak ada
Menekan pembentukan
Menekan pembentukan
Menghambat penglepasan
Menekan pembentukan
Menghambat penglepasan
Tidak ada
Tidak ada
Menghambat penglepasan
Menekan pembentukan
Menghalangi penggabung-
an terhadap lekosit
Sebagai anti inflamasi kortikosteroid bekerja melalui bebe-
rapa mekanisme
(13,14)
, yaitu :
·
Menghambat metabolisme asam arakidonat sehingga mem-
pengaruhi leukotrien dan prostaglandin,
·
Mengurangi kebocoran mikrovaskuler,
·
Mencegah migrasi langsung sel-sel inflamasi,
·
Menghambat produksi cytokines,
·
Meningkatkan kepekaan reseptor pada otot polos bronkus.
KLASIFIKASI ASMA
Asma menurut Konsensus Internasional diklasifikasikan
berdasarkan etiologi, beratnya penyakit asma dan pola waktu
terjadinya obstruksi saluran napas. Klasifikasi ini berguna untuk
diagnosis dan penatalaksanaan penyakit serta menentukan
prognosis penyakit
(1,3)
.
Klasifikasi berdasarkan etiologi
Dari segi mekanisme penyakit dan pengobatan, perlu di-
bedakan faktor-faktor yang menginduksi inflamasi dan menim-
bulkan penyempitan saluran napas dan hiperaktivitas (inducers)
dengan faktor-faktor yang dapat mencetuskan konstriksi akut
pada penderita yang sensitif (inciters). Banyak usaha dilakukan
untuk menentukan klasifikasi secara etiologi. Termasuk klasifi-
kasi ini adalah
(1,3)
:
·
Asma intrinsik (criptogenic)
Asma yang tidak disebabkan oleh faktor lingkungan.
·
Asma ekstrinsik
Penyakit asma yang berhubungan dengan atopi, predisposisi
genetik yang berhubungan langsung dengan IgE sel mast dan
respons eosinofil lerhadap alergen yang umum.
Klasifikasi berdasarkan berat penyakit
Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang dapat menentukan
beratnya penyakit. Kombinasi berbagai pemeriksaan, gejala-
gejala dan uji faal paru berguna untuk mengklasifikasi penyakit
menurut beratnya. Klasifikasi ini lebih penting untuk tujuan
penatalaksanaan asma. Pada klasifikasi ini beratnya ditentukan
oleh berbagai faktor yaitu
(1,3)
:
I. Gambaran klinik sebelum pengobatan
·
gejala
·
eksaserbasi
·
gejala malam hari
·
pemberian obat inhalasi -2 agonis
·
uji faal paru
II. Obat-obat yang digunakan untuk mengontrol penyakit
Dari gabungan tersebut maka asma diklasifikasikan dalam
(Gambar 4) :
1. Intermitten
2.
Persisten ringan
3.
Persisten sedang
4.
Persisten berat
Klasifikasi berdasarkan pola waktu serangan
Klasifikasi asma juga bisa dibuat berdasarkan pola waktu
terjadi serangan yang dipantau dengan pemeriksaan APE. Kla-
sifikasi ini mencerminkan berbagai kelainan patologi yang me-
nyebabkan gangguan aliran udara serta mempunyai dampak
terhadap pengobatan. Termasuk dalam klasifikasi ini adalah
(3)
:
·
Asma Intermitten
Pada jenis ini serangan asma timbul kadang-kadang. Di
antara dua serangan APE normal, tidak terdapat atau ada hi-
pereaktivitas bronkus yang ringan.
·
Asma Persisten
Terdapat variabilitas APE antara siang dan malam hari, se-
rangan sering terjadi dan terdapat hiperaktivitas bronkus. Pada
beberapa penderita asma persisten yang berlangsung lama, faal
paru tidak pernah kembali normal meskipun diberikan peng-
obatan kortikosteroid yang intensif.
·
Brittle Asthma
Penderita jenis ini mempunyai saluran napas yang sangat
sensitif, variabilitas obstruksi saluran napas dari hari ke hari
sangat ekstrim: Penderita ini mempunyai risiko tinggi untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
12
Gambar 4. Klasifikasi Asma berdasarkan berat penyakit
Dikutip dari (3)
mengalami eksaserbasi tiba-tiba yang berat dan mengancam
jiwa.
PENATALAKSANAAN ASMA
Asma pada kebanyakan penderita dapat dikontrol secara
efektif meskipun tidak dapat disembuhkan. Penatalaksanaan
yang paling efektif adalah mencegah atau mengurangi inflamasi
kronik dan menghilangkan faktor penyebab. Faktor utama yang
berperan dalam kesakitan dan kematian pada asma adalah tidak
terdiagnosisnya penyakit ini dan pengobatan yang tidak cukup.
Penatalaksanaan asma berguna untuk mengontrol penyakit.
Asma dikatakan terkontrol bila
(13)
:
·
Gejala kronik minimal (sebaiknya tidak ada), termasuk ge-
jala asma malam
·
Eksaserbasi minimal (jarang)
·
Tidak ada kunjungan ke Unit Gawat Darurat
·
Kebutuhan obatagonis -2 minimal (idealnya tidak diperlu-
kan)
·
Tidak ada keterbatasan aktivitas termasuk exercise
·
Variasi harian APE kurang dari 20%
·
Nilai APE normal atau mendekati normal
·
Efek samping obat minimal (tidak ada).
Tujuan penatalaksanaan asma adalah untuk
(13)
:
·
Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma
·
Mencegah eksaserbasi penyakit
·
Meningkatkan fungsi paru mendekati nilai normal dan
mempertahankan nilai tersebut
·
Mengusahakan tercapainya tingkat aktivitas normal, ter-
masuk exercise
·
Menghindari efek samping karena obat
·
Mencegah kematian karena asma
Penatalaksanaan asma jangka panjang perlu dirancang se-
demikian rupa agar penyakit dapat dikontrol dengan pemberian
obat-obatan seminimal mungkin. Pengobatan diberikan berda-
sarkan tahap beratnya penyakit.
Secara garis besar obat asma terdiri atas 2 golongan, yaitu
obat yang berguna untuk menghilangkan serangan asma, yaitu
mengurangi bronkokonstriksi yang terjadi. Ob t ini disebut obat
pelega napas (reliever) yang umumnya beker sebagai bronko-
dilator. Termasuk dalam golongan ini adalah
(13-17)
:
·
Inhalasi agonis -2 aksi singkat
·
Kortikosteroid sistemik
·
Inhalasi anti kolinergik
·
Golongan Xantin
·
Agonis -2 oral
Obat ini diberikan pada saat terjadi serangan asma, tergan-
tung dari beratnya serangan obat dapat diberikan dalam bentuk
tunggal atau kombinasi. Pemberian dalam bentuk inhalasi lebih
dianjurkan. karena pemberian secara inhalasi mempunyai he-
berapa keuntungan yaitu
(3,18)
:
·
Dosis rendah
·
Efek samping minimal
·
Bekerja terbatas pada saluran napas
·
Efek terapeutik cepat
·
Dapat memobilisasi sekret di saluran napas
Tetapi obat ini juga mempunyai kelemahan yaitu, cara pem-
berian yang kadang-kadang sulit dan harga obat yang relatif mahal.
Golongan obat kedua adalah obat yang dapat mengontrol
asma disebut sebagai controller medications. Obat ini diberikan
setiap hari untuk jangka waktu yang lama.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 13
Termasuk dalam golongan ini adalah
(13-17)
:
·
Kortikosteroid inhalasi
·
Kortikosteroid sistemik
·
Sodium kromolin
·
Sodium nedokromil
·
Teofilin lepas lambat
·
Inhalasi agonis -2 aksi lama
·
Agonis -2 aksi lama oral
·
Ketotifen
·
Obat anti alergen lain
MANFAAT KORTIKOSTEROID PADA ASMA BRON-
KIAL
Obat pengontrol asma yang paling efektif adalah kortiko-
steroid. Cara pemberian yang paling baik adalah secara inhalasi.
Pemakaian kortikosteroid inhalasi jangka panjang dapat me-
nurunkan kebutuhan terhadap kortikosteroid sistemik. Pada
asma kronik berat dibutuhkan dosis inhalasi yang tinggi untuk
mengontrol asma. Bila dengan dosis inhalasi yang tinggi belum
juga dapat mengontrol asmanya, maka ditambahkan kortiko-
steroid oral. Pada pemakaian kortikosteroid inhalasi jangka pan-
jang dapat timbal efek samping kandidiasis orofaring, disfonia
dan kadang-kadang batu. Efek samping itu dapat dicegah dengan
pemakaian spacer atau dengan mencuci mulut sesudah pemakai-
an alat.
Obat kortikosteroid sistemik diberikan bila obat inhalasi
masih kurang efektif dalam mengontrol asma. Obat sistemik
juga diberikan pada seat terjadi serangan asma yang berat.
Pemberian obat selama 57 hari dapat digunakan sebagai
terapi maksimal untuk mengontrol gejala asma. Pemberian dem-
ikian dilakukan pada permulaan terapi jangka panjang maupun
sebagai terapi awal pada asma yang tidak terkontrol atau selama
masa perburukan penyakit
(13,14)
.
Pemberian obat kortikosteroid jangka panjang mungkin
perlu untuk mengontrol asma persisten berat, tetapi pemberian
itu terbatas oleh karena risiko terhadap efek samping. Pemberi-
an inhalasi kortikosteroid jangka lama selalu lebih baik
daripada pemberian secara oral maupun parenteral
(13,14)
.
Bila pemberian oral diberikan untuk jangka lama harus di-
perhatikan kemungkinan timbal efek samping. Untuk jangka
panjang pemberian obat secara oral lebih baik daripada paren-
teral. Preparat oral golongan steroid yang bersifat short acting
seperti prednison, prednisolon dan metil prednisolon lebih baik
karena efek mineralokortikoidnya minimal, masa kerja pendek
sehingga efek samping lebih sedikit dan efeknya terbatas pada
otot. Bila mungkin prednison oral jangka lama diberikan selang
sehari pada pagi hari untuk mengurangi efek samping. Tetapi
kadang-kadang penderita asma berat memerlukan obat tiap hari
bahkan dua kali sehari
(13,14)
.
HASIL PENELITIAN PEMBERIAN KORTIKOSTE--
ROID PADA PENDERITA ASMA DI RSUP PERSA-
HABATAN
Pemberian budesonid inhalasi pada 15 penderita asma go-
longan EIA( Exercise Induced Asthma) dengan dosis 2x200 ug
selama 8 minggu dapat mengurangi hipereaktivitas bronkus serta
mencegah EIA. Empat minggu setelah penghentian obat efek
penal-man derajat hipereaktivitas bronkus masih terlihat, tapi
efek proteksi timbulnya ETA sudah menghilang. Tidak ada efek
samping pemberian obat
(19)
.
Pada penderita asma ringan dan sedang pemberian budesonid
inhalasi secara buta ganda tersamar dengan dosis 2 x 200 ug se-
lama 8 minggu menunjukkan peningkatan faal paru dan penurunan
derajat hipereaktivitas bronkus secara bermakna. Manfaat obat
masih terlihat setelah 2 dan 4 minggu pengobatan dihentikan.
Pada penelitian tersebut tidak ditemukan efek samping pada pen-
derita yang menggunakan steroid inhalasi
(20)
.
Penelitian lain adalah membandingkan efektivitas inhalasi
beklometason dipropionat (BDP) dengan obat ketotifen oral
secara acak tersamar ganda. Inhalasi BDP diberikan 2 x 200 ug
dan ketotifen diberikan 2 x I mg per oral selama 9 minggu.
Penelitian ini mendapatkan hasil sebagai berikut
(21)
:
·
Beklometason dipropionat dan ketotifen menurunkan de-
rajat hipereaktivitas bronkus secara sangat bermakna, tetapi
beklometason memberikan efek yang lebih baik secara ber-
makna dibandingkan dengan ketotifen.
·
Manfaat pengobatan masih terlihat 2 minggu dan 4 minggu
setelah pengobatan ditentukan.
·
Tidak terdapat efek samping yang berarti selama pemberian
obat.
Pada penderita asma akut berat ternyata pemberian kortikos-
teroid intravena yaitu triamsinolon asetonid 40 mg memberikan
perbaikan klinis dan faal paru yang lebih baik secara bermakna
dibandingkan penderita yang tidak mendapat kortikosteroid.
Pada kelompok penderita yang mendapat steroid, perbaikan
secara subjektif dan objektif terlihat setelah 4 jam pemberian
obat, sedangkan kelompok yang tidak mendapat kortikosteroiud
22,17% tidak menunjukkan perbaikan dengan pemberian bronko-
dilator saja
(22)
.
PENUTUP
Asma adalah penyakit dengan dasar inflamasi kronik salur-
an napas dan hipereaktivitas bronkus. Pengobatan asma selain
menghilangkan atau mengurangi obstruksi saluran napas, hen-
daklah ditujukan pula untuk mengurangi inflamasi kronik yang
ada pada penderita asma stabil. Pada penderita yang mendapat
serangan akut kortikosteroid berguna untuk mengatasi inflamasi
akut yang terjadi. Kortikosteroid adalah obat antiintlamasi yang
sangat poten dan bermanfaat menurunkan derajat hipereaktivitas
bronkus pada panderita asma.
Kortikosteroid inhalasi adalah obat antiintlamasi pilihan
untuk mengontrol asma. Pemberian inhalasi mempunyai ber-
bagai manfaat karena efektivitasnya tinggi dan efek sampingnya
minimal.
Pada suatu serangan asma akut berat pemberian kortiko-
steroid sedini mungkin akan mempersingkat serangan asma dan
memberikan efektivitas pengobatan yang lebih baik.
KEPUSTAKAAN
1. National Heart. Lung, Blood Institute. National Institute of Health. Inter-
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
14
national Consensus Report on Diagnosis and Dea nenl of Asthma, Defi-
nition. diagnosis and classification. Eur Respir J, 1992; 5: 6057.
11 Faisal Y. Hadiano M, Husaeri F. Pemeriksaan hypereaktivitas bronkus
dangan alat Astograph-laporan pendahuluan. Paru 1987 ; 7: 812.
2. American Thoracic Society. Medical Section of the American Lung Asso-
ciation. Standard for the diagnosis and care of patients with chronic
obstructive pulmonary disease (COPD) and asthma. Am Rev Respir Dis,
12. Ellin-Micallef R. Mode of action of Gluccoorticosteroids and their effects
on asthmatic airways. Im Ellul-Micallef, Lam WK, Togood M. (Edit.
Advances in the use of inhaled corticoteroids. Exccrpta Medica Amster-
dam 1987 : 3659.
1987; 136: 22543.
3 National Institute of Health. National Heart Lung and Blood Institute.
Diagnosis and Classification. In: Global Initiative for asthma 1995:4561.
13. National Instiotme of Health, National Heart Lung and Blood Institute. A
six-part asthma management program. In. Global Initiative for Asthma
1995 : 699117.
4. Kay AB. Basic mechanism in allergic asthma. In: Clack TJH, Mygind N.
Selmoa O. (Eds). Conicosteroids Treatment in Allergic Airway Disease.
Proceeding of a Symposium. Munksgaard Copenhagen 1982: 216.
14. Chung KF. Clark TIH. Conicosteroids. In: Asthma 3rd ed. eds. Clark.
Goffrey and Lee. London, Chapman & Hall Medical 1992 ; 41648.
5 So SY. Basic mechanism in allergic asthma. In. Ellul-Micallel. Lam WK,
Toogood 1H. (Edo). Advances in the use of inhaled conicosteroids.
15. Pauwels R. Non-steroidal prophylactic agents. In: Asthma 3rd. editor. ads.
Clark, Caffrey and Lee. Lmdon. Chapman & Hall Medical 1992 44961l
Excerpta Medica Amsterdam 1987: 30.
16. Weinberger M. Methylxanthines. In. Asthma. 3rd ed.. cd. Clark.Garrey
and Lee. London, Chapman & Hall Medical 1992; 390415.
6 Barnes PJ. Neuropeptide and asthma. Am Rev Respir Dis (suppl) 1991;
143:
S28-S32.
17. Hall IP, Tattersfield AE. Beta-agonists. In. Asthma 3rd ed. eds. Clark.
IX. Caffrey and Lee. London, Chapman & Hall Medical 1992 341 65.
7. Juniper EF, Frith PA. Hargreave FE. Airway responsiveness to histamine
and methacholin relationship to minimum treatment to consul symptoms
of asthma. Thorax 1981: 36. 5759.
18. Faisal Yunus. Prinsip dasar dan peranan terapi inhalasi. Medika 1992: (1)
18: 2531.
8. Faisal Yunus. Asrul Rasyid, Hadiano Mangunnegoro, EI Manuhutu. Per-
bandingan uji inhalasi histamin dan uji provokasi beban kerja pada pen-
derita "exercise-induced asthma". MM 19911; 40. 57710.
19. Hadiarto M, Faisal Y, Achmad H, Johannes R, Sulamet, EJ Manuhutu.
Usaha menurunkan hipereaktivilas bronkus pada penderila "exercise-
induced asthma". Medika 1990:9: 72942.
9. Cockroft DW. Measumment of airway responsiveness to inhaled histamine
or methacholine. method of continuous aerosol generation and tidal breath-
ing inhalatinn.In: Airway responsiveness-measurement and interpretation.
20. Hadiarto M, Tamsil S, Faisal Y. Wiwien H. Upaya menurunkan hipereak-
tivitas bronkus pada penderita asma. Perbandingan efek budesonid dan
ketotifen. Paru 1992:(12)1:108.
ed. Hargreave FE. Woolsack Ah Antra. Ontario. 1985. 22-8.
21. Mukhtar I, Faisal Y, Hadiarto M, Efek beklometason dipropionat dan
ketotifen terhadap hipereaktivitas bronkus pada penderita asma Paru 1995.
(15) 4:14655.
10. Woolcrek M. Test of airway responsiveness in epidemiology. In: Airway
respon
siveness-measurement and interpretation. ed. Hargreave FE.
Woolcock AJ. Asp In Ontario. 1985 13640.
22. Nancy Hutabarat T. Penman kortikosteroid pada asma akut berat Tesis
Bagian Pulmonologi FKUI. Jakarta 1989.
He who accuses another of improper conduct ought to look to himself
(Plautus)
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 15