background image
KOMPLIKASI OFTALMOLOGIK DARI
MENINGITIS
dr Wilardjo, dr Pramanawati
Bagian Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/R S Dr Kariadi
Semarang
PENDAHULUAN
Meningen merupakan jaringan yang terdiri dari tiga la-
pisan yaitu durameter, arachnoid dan piameter yang me-
lindungi otak dan medula spinalis. Peradangan dari meningen;
meningitis dapat terjadi karena berbagai etiologi, antara lain:
meningococcus meningitis; tuberculous meningitis; purulent
meningitis dan acute serous meningitis. Untuk mendiagnose
adanya meningitis umumnya cukup berdasarkan adanya
tanda-tanda klinik seperti suhu yang meningkat, adanya Ker-
nig sign, Brudzinski sign, epistotonus dan lain-lain. Keluh
kesah cephalgia umumnya bersifat difus, akan tetapi kadang-
kadang mempunyai lokalisasi tertentu misalnya diregio fron-
talis, regio occipitalis yang menjalar ke tengkuk dan sebagai-
nya. Cephalgia ini sering disertai dizziness dan vomiting.
Punksi lumbal sangat penting pada penyakit ini karena
dapat dipakai untuk menegakkan diagnosa ataupun untuk
pengobatan.
KOMPLIKASI OFTALMOLOGIK
Sejak saat awal dari penyakit ini pemeriksaan mata ada-
lah suatu hal yang sangat penting. Bila timbul phenomena
motor irritative dengan gejala bermacam-macam spasme dan
tetani maka dapat nampak pada mata adanya blepharospas-
mus.
Oleh karena proses peradangan segera menyangkut nervi
craniales pada basis otak, maka tanda-tanda irritasi yang
pendek segera disusul dengan bermacam-macam gejala para-
lyse. Bentuk pupil menjadi irreguler dan mydriasis , refleks
lambat sampai negatip serta pupilary border memberi kesan
kaku (rigid).
Cabang-cabang nervi craniales banyak memberi inervasi ke
otot-otot mata sehingga efek paralyse saraf tampak sebagai
blepharospasmus paralyticus, kadang-kadang berakibat nys-
tagmus. Pasangan bola mata yang tidak lurus dapat menimbul-
kan keluhan binoculer diplopia dan hal ini dapat juga menjadi
penyebab cephalgia.
Bermacam-macam peradangan mata yang dapat timbul :
q
Dermatitis. -- Kulit palpebra dapat timbul bentukan-
bentukan vesiculae yang mirip dengan vesikel Herpes Zoster.
Vesikel ini mudah mengering dalam beberapa hari.
q
Conjunctivitis.
Dasar-dasar pathogenesa belum jelas.
q
Keratitis dan ulkus cornea. Atas dasar akibat dari adanya
lagophthalmus dan juga bilamana proses sampai menyangkut
N Trigeminus dan cabang-cabangnya.
q
Iritis dan i ridocyclitis. Peradangan bagian ini dapat dengan
produk eksudat serous sampai purulen. Akibat peradangan da-
pat serius sampai terjadi kebutaan.
q
Endophthalmitis dan panophthalmitis.Dapat terjadi aki-
bat perluasan radang dengan eksudat purulen (purulen meni-
ngitis) sampai ke bulbus oculi.
PEMERIKSAAN FUNDUSKOPI
q
Papilia nervi optici. Dapat
,
dijumpai adanya ( i) Papil oe-
dema (choked disk), ini jarang terjadi. (ii) Optic neuritis, mu-
dah dimengerti pathogenesanya. Dan (iii) Optic atropi. Semua
kelainan ini dapat terjadi unilateral maupun bilateral.
q
Retina. Dapat dijumpai adanya gambaran chorioretinitis;
gambaran perdarahan retina yang disebabkan oleh oblitera-
ting end arteritis atau dapat pula disebabkan oleh throm-
bosis vena.
TINJAUAN KASUS
Pada tahun 1977 (selama satu tahun) berhasil kami kum-
pulkan 94 kasus meningitis yang terdiri dari : 48 kasus ber-
macam-macam meningitis dan 46 kasus Meningoencephalitis.
Di mana semua penderita adalah golongan bayi dan anak-anak
yang berumur antara 16 bulan sampai 14 tahun.
Pada seorang penderita mungkin terdapat lebih dari satu
macam komplikasi.
Kelainan oftalmologik yang d
i
jumpai pada 48 kasus Meningitis.
Tidak ada kelainan oftalmologik
21
Kelainan pupil
23
Lagophthalmus
3
Conjunctivitis akut
2
Keratitis
4
Kelainan motilitas mata
14
Opticus atrophi
9
Optic neuritis
2
Maculopathia
5
Ccrmin Dunia Kedokteran No. 13. 1978
15
background image
Kelainan oftalmologlk yang dijumpal pada 46 kasus Meningo-ence-
phalitis.
Ti dak ada kelainan oftalmologik
24
Kelainan pupil
16
Lagophthalmus
4
Keraritis
4
Kelainan motilitas
11
Opticus atrophi
6
Choked disk
1
Perdarahan retina
2
Macul opathi a
4
PENGOBATAN DAN TINDAKAN
Sampai saat ini pemberian pengobatan symptomatis ma-
sih sering dilakukan. Bila dapat ditemukan mikro organisme
dalam liquor cerebrospinalis, maka pemberian obat dapat
lebih terarah.
Tindakan operasi Craniotomi telah pemah dilakukan di
Jepang, bertujuan membebaskan gangguan disekitar chiasma
opticum. Hal ini adalah untuk mencegah terjadinya opticus
atropi.
PEMBICARAAN
Meningitis banyak dijumpai pada anak-anak, pada uraian
diatas terkumpul 94 kasus selama satu tahun. Hal ini ber-
arti kira-kira delapan anak dalam sebulan. Dapat dibayang-
kan, misalkan di dalam Bagian Kesehatan Anak dari suatu
rumah sakit yang mempunyai 30 tempat tidur untuk penya-
kit-penyakit infeksi, berarti hampir 1/3 dari jumlah tempat
tidur dipergunakan penderita Meningitis. Dari jumlah ter-
sebut kira-kira 50% mengalami komplikasi o ftalmologik,
umumnya karena terlambat pemberian pengobatan.
Seperti diketahui sebagian besar komplikasi oftalmologik
adalah akibat dari terkenanya saraf otak. Regenerasi kelainan-
kelainan yang mengenai saraf apapun umumnya sukar. Lebih-
lebih opticus atrophi yang sudah lanjut berarti akan mem-
bawa akibat kebutaan dengan visus nol untuk selamanya.
Pada hal penderita masih anak-anak yang jangka waktu hidup-
nya masih jauh. Walaupun tidak buta mungkin juga terjadi
kelainan kosmetik yang sulit diatasi seperti blepharoptosis,
strabismus dan sebagainya.
Di samping itu komplikasi yang berupa peradangan mata
berat seperti ulkus cornea luas, uveitis, endopthalmi dan
panophthalmi akan menyebabkan penderitaan yang berupa
mengempesnya bola mata.
Maka sangat penting mengenal gejala-gejala klinik dari
meningitis agar dapat mendiagnosa penyakit itu sedini mung-
kin serta memberikan pengobatan yang terarah sehingga tidak
terjadi komplikasi.
KESIMPULAN
Penderita Meningitis sebagai penyakit peradangan atas
dasar adanya infeksi kuman masih banyak jumlahnya pada
anak-anak.
Komplikasi oftalmologik dapat terjadi mulai dari yang
ringan sampai berat berupa peradangan, paralyse dari yang
ringan sampai yang berat serta atropi organ-organ di dalam
ruang orbita dan bola mata.
KEPUSTAKAAN
1.
HEDGES T R Jr et al : Metastatic endophthalmitis as a compli-
cation of meningococcic meningitis. Arch Ophthal 55 : 503-
505, 1956.
2.
IMACHI J, TOSHIKAZU I: A case of cryptococcal meningitis
treated with craniotomy. Japanese J of Ophthal 16:51-56, 1972.
3.
RANSOM S W, CLARK S L : The anatomy of the nervus system.
9th ed. W B Saunders Co Philadelphia, 1957.
4.
WECHSLER I S : A textbook of clinical neurology. 8th ed. W B
Saunders Co. Philadelphia, 1958 .
16
Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978