background image
KELAINAN KELENJAR THYROID
PADA
ANAK
dr. M. Sutan Assin
Sub bagian Endokrinologi
Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
R.S. Cipto Mangunkusumo
Jakarta.
SUMMARY
Thyroid abnormality is the most frequent encountered
endocrinopathy in children.
The author s experience lies mostly in the field of sporadic
congenital hypothyroidism. Most of these patient were con-
sidered as a Down s syndrome or as a short child with a low
intelligence level. In these cases hypothyroidism should also
be suspected.
Early diagnosis and prompt treatment greatly influence the
prognosis. In the last ten years we have found 40 cases of
hypothyroidism which could be classified as as sporadic creti-
nism. The correct diagnosis of the larger part of these patient
established too late.
PENDAHULUAN
Diantara endocrinopathia pada anak, kelainan kelenjar
gondok (thyroid) merupakan penyakit yang terbanyak dite-
mukan. Selama sepuluh tahun terakhir ini di klinik Endok-
rinologi Anak FKUI/RSCM, 60% dari semua penderita en-
dokrin adalah kelainan fungsionil atau anatomik kelenjar
thyroid. Kalau ditambah lagi dengan akibat-akibat dari ke-
kurangan zat iodine yang masih banyak sekali ditemukan di
Indonesia, maka permasalahan kelenjar thyroid pada umum-
nya dan pada anak khususnya cukuplah besar.
Hormon thyroid harus mutlak ada dalam jumlah yang
cukup untuk memungkinkan seorang anak bertumbuh dan
berkembang secara normal. Dengan berkurangnya hormon
ini, maka pertumbuhannya akan terhambat, aktivitasnya
akan berkurang dan kalau ini dimulai pada usia muda dan
berlangsung lama, maka inteligensinya juga akan sangat ren-
dah dan kemungkinan untuk memperbaikinya sangat kecil.
Sebaliknya terlalu banyak hormon thyroid (hyperthyroidism)
yang menimbulkan gejala toksikosis, jarang kelihatan pada
anak. Selama periode yang sama seperti disebut diatas, dik-
linik kami hanya ditemukan tiga kasus.
PEMBAGIAN KLINIK
Kelainan-kelainan apa saja bisa timbul pada kelenjar thy-
roid anak ? Teoritis semua kelainan yang ditemukan pada
orang dewasa juga bisa timbul pada anak seperti struma,
infeksi, cyste, neoplasma dan sebagainya. Tetapi di dalam kli-
nik ternyata bahwa pada anak lebih banyak ditemukan aki-
bat dari kelainan bawaan (congenital). Sedangkan pada orang
dewasa umumnya kelainan yang terjadi bersifat diperoleh
(acquired). Disamping itu pada anak terdapat hypofungsi
sedangkan pada orang dewasa lebih banyak hyperfungsi dari
kelenjar thyroid. Dalam garis besar untuk praktisnya kita da-
pat membagi kelainan thyroid sebagai berikut :
· Euthyroid
· Hyperthyroidism (thyrotoxicosis)
· Hypothyroidism
Ketiga-tiganya bisa dengan atau tanpa kelainan anatomik.
q Euthyroidi dengan struma. Banyak dijumpai pada anak
remaja, terutama wanita.
Pembesaran kelenjar thyroid tidak jelas, secara klinis menun-
jukkan kelainan fungsi thyroid. Biasanya mereka datang ke
dokter karena alasan kosmetik. Di dalam klinik disebut :
simple goiter atau non-toxic struma. Hypothesis mengenai
penyebab dari timbulnya simple goiter ini masih beraneka
ragam. Tetapi perlu diperhatikan bahwa simple goiter ini ter-
banyak ditemukan pada anak yang sedang dalam proses
pertumbuhan yang pesat.
Diagnostik dari kelainan ini biasanya tidak sukar, walaupun
kita tidak mempunyai fasilitas yang lengkap.. Yang perlu di-
singkirkan ialah kemungkinan adanya toksikosis, hypofungsi,
infeksi dan neoplasma. Dalam hal-hal yang meragukan, suatu
klinik dengan fasilitas yang lebih lengkap akan dapat mem-
berikan jawaban.
q
Thyrotoxicosis dengan atau tanpa struma. Jarang pada
anak, biasanya ditangani oleh klinik spesialis. Gejala-gejala-
nya tidak banyak beda dengan pada orang dewasa, yaitu :
adanya penurunan berat badan, gelisah, cepat tersinggung,
tidak tahan panas, kulit yang lembab dan panas, exophthal-
mus dan sebagainya.
q
Hypothyroidism. Ini merupakan kelainan kelenjar thyroid
yang terbanyak pada anak. Biasanya tidak disertai pembesaran
dari kelenjar thyroid.
Berbagai textbook memberikan klasifikasi yang berbeda
untuk hypothyroidism ini. Ada yang berdasarkan endemic
or sporadic, congenital or acquired, atau atas dasar etiologi
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
19
background image
seperti :
dysgenests, dyshormonogenesis, primary thyroid
disease dan sebagainya.
Menurut anggapan penulis sebaiknya pada waktu ini di
Indonesia dibagi sebagai berikut :
q
Endemic cretinism. Kelainan bawaan (congenital) yang di-
sebahkan oleh kekurangan zat iodine pada makanan dan
minuman. Menurut perkiraan pada saat ini ada 12 juta pen-
derita kelenjar gondok endemik di Indonesia, maka dengan
sendirinya diantara mereka tentu cukup banyak endemic
cretins.
Pada anak-anak dengan endemic cretinism kita menemukan
dua kelainan yang menyolok yaitu : ( i) Kelainan nerologik
sebagal akibat kerusakan susunan saraf pusat.
Penderita-
penderlta lni biasanya juga bisu tuli (tuna rungu). Dan (ii) Ge-
jala-gejala hypothyroidlsm, seperti Dwarfism, myxoedema,
mental retardation dan lain-lain.
q
Sporadic
hypothyroidism, dapat dibagi menjadi :
(A). Congenital (cretinlsm) yang dapat berupa :
· Athyreosis : kelenjar thyroid sama sekali tidak ada.
·
Maldescent : lingual atau sublingual thyroid
· Maldevelopment : bentuk dan fungsi kelenjar thyroid
tidak sempurna.
Dyshormonogenesis : produksi hormon terganggu ka-
rena kelainan enzym.
(B). Acquired (Juvenile hypothyroidism). Kelainan pada
thyroid yang sebelumnya bekerja dengan baik sebagai
akibat dari infeksi, operasi, neoplasma, trauma atau
penyakit autoimmune. Juga mungkin sebagai akibat
kerusakan kelenjar hypophyse (Pada anak jarang sekali).
DIAGNOSA
Pengalaman penulis terutama terletak pada penderita-
penderita dengan sporadic congenital hypothyroidism. Ke-
banyakan dari penderlta ini dikira seorang penderita Down s
syndrome atau anak
pendek
saja yang kebetulan bodoh. Se-
betulnya kalau ada seorang anak menunjukkan sifat-sifat
pendek, tertinggal perkembangannya, bodoh dan malas,
kita
harus sudah curlga ke arah hypothyroidism. Apalagi
kalau terdapat gejala-gejala lain seperti kulit kering, tak per-
nah berkeringat, muka yang sembab (myxoedema), obstipasi,
hernia umbilicalis, hypothermia, abdomen yang besar,
mucroglossi dan sebagainya. (lihat gambar). Atas dasar ini
saja kemungklnan bahwa klta sedang menghadapi seorang
anak dengan congenital hypothyroidism sudah besar sekali.
Kalau ada fasilitas, kita tambah pemeriksaan dengan : Hb
(yang biasanya rendah), cholesterol yang meninggi (tidak
selulu) dan bone age yang sangat tertinggal.
Sekarang di klinik modern ditambah dengan pemeriksaan
radio isotop seperti Iodine-uptake test, scanning dan penen-
tuun kadar hormon thyroid dalam darah.
Kalau fasilitas tidak ada untuk melakukan pemeriksaan-
peineriksaan tersebut dan kita mencurigai suatu hypothyroi-
dism, maka tidak ada salahnya jika kita mencoba memberi-
kan pulvus thyroid pada penderita-penderita ini dan kita
mengobservasi saja. Jika ada perobahan menjurus ke perbaik-
an, yang biasanya terlihat pada minggu ke dua atau ke tiga,
maka diagnosis hampir paati. Dosis pulvus thyroid mula -
mula cukup dengan 10 mg sehari dan dinaikkan sampai
timbul gejala-gejala dini dari hyperthyroidism, lalu diturunkan
kembali.
Diagnosis
dan pengobatan dini pada penderita-penderita ini
sangat penting karena akan menentukan prognosisnya. Biasa-
nya dengan pengobatan yang adekwat kita bisa memperbaiki
pertumbuhan badannya, menghilangkan gejala-gejala hypo-
thyroidism, tetapi peningkatan kecerdasan si penderita sering
agak mengecewakan.
Selama sepuluh tahun terakhir ini klinik kami telah menemu-
kan sekitar 40 kasus hypothyroidism yang tergolong sporadic
cretinism.
Kebanyakan dari penderita ini agak terlambat ditegakkan diag-
nosisnya, mungkin karena tidak terpikirkan ke arah cretinism.
KEPUSTAKAAN
1. DE GROOT L. J and STANDBURY J. B : The thyroid and its
diseases. 4th ed. Jonh Wiley Sons. New York, 1975.
2. DJOKOMOELJANTO R.R.J.S : The effect of iodine deficieney.
Thesis. Semarang, 1974.
3. GARDNER L. I:
Endocrine and genetic diseases of childhood
and adolescence. 2nd ed. W.B. Saunders Co. Philadelphia, 1975.
4. HUBBLE. D : Pediatrie endocrinology. lst ed. Blackwell Scientific
Publ. Oxford, 1969.
5. NELSON W.E. :
Texthook of pediatrics. 10th ed. W.B. Saunders
Co. Philadelphia 1975.
Gambar kiri
:
Seorang anak wanita berumur dua setengah
tahun dengan sublingual thyroid.
Gambar kanan : Seorang bayi wanita berumur lima bulan de
ngan hypothyroidism ( athyreosis )
Koleksi S. Assin.
20
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979