background image
Kekebalan terhadap Pertusis
pada Bayi usia 6-36 bulan yang
Tidak Diimunisasi di Daerah Kumuh
dan Keadaan Sosialnya
Muljati Prijanto, Rabea Pangerti Yekti, Farida S, Sumarno, Siti Mariani S,
Hambrah Sri Wuryani
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Pertusis (batuk rejan) adalah penyakit saluran pernapasan
akut. Penyakit ini biasa ditemukan pada anak-anak di bawah
umur 5 tahun. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernapas-
an akut lainnya, pertusis sangat mudah dan cepat penularannya.
Penyakit tersebut dapat merupakan salah satu penyebab tinggi-
nya angka kesakitan terutama di daerah padat penduduk. Sirkulasi
bakteri pertusis di daerah padat penduduk di Indonesia belum di-
ketahui secara pasti. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi
DPT. Vaksinasi pertusis lebih efektif dalam melindungi terhadap
penyakit daripada melindungi infeksi. Perlindungan yang tidak
lengkap terhadap penyakit pada anak yang telah divaksinasi
dapat menurunkan keganasan penyakit.
Infeksi alam memberi kekebalan mutlak terhadap pertusis
selama masa kanak-kanak, sedangkan perlindungan akibat
imunisasi kurang lengkap karena masih ditemukan pertusis pada
anak yang telah mendapat imunisasi lengkap walaupun dengan
gejala ringan.
Proporsi populasi yang rentan terhadap pertusis ditentukan
oleh: tingkatkelahiran bayi, cakupan imunisasi, efektivitas vaksin
yang digunakan, insiden penyakit dan derajat penurunan
kekebalan setelah imunisasi atau sakit
(1)
.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kekebalan
bayi umur 6 ­ 36 bulan yang tidak mendapat imunisasi di daerah
kumuh dan ingin diketahui pula hubungannya dengan keadaan
sosial keluarga bayi tersebut.
BAHAN DAN CARA
Daerah kumuh adalah daerah dengan kepadatan penduduk
lebih dari 500 jiwa tiap hektar, sedangkan daerah sedang adalah
daerah yang kepadatan penduduknya kurang dari 300 jiwa per
hektarnya. Data kepadatan penduduk yang digunakan berasal
dari laporan Biro Pusat Statistik tahun 1987.
Telah dipilih secara acak 10 kelurahan dari masing-masing
daerah yang memenuhi kriteria. Penentuan terakhir didasarkan
pada hasil kunjungan ke daerah tersebut. Pengamatan diutama-
kan pada keadaan sosial ekonomi, letak perumahan, dan jumlah
anak Balita kurang lebih 4000 orang. Karena sebagian besar
kelurahan memiliki kurang lebih 2000­3000 orang anak Balita,
maka dipilih 2 kelurahan dari masing-masing daerah penelitian.
Kedua kelurahan tersebut diperlakukan sebagai satu kesatuan
yang mewakili daerah penelitian.
Daerah kumuh diwakili oleh kelurahan Kampung Rawa
dan Tanah Tinggi yang berpenduduk masing-masing 17.964
jiwa dan 37.139 jiwa. Luas area untuk kedua kelurahan tersebut
masing-masing adalah 0,03 hektar dan 0,62 hektar. Sedangkan
daerah menengah diwakili oleh kelurahan Pondok Kopi yang
berpenduduk 23.440 jiwa dengan luas area 2,06 hektar dan
kelurahan Cipinang Melayu yang berpenduduk 27.432 jiwa
dengan luas area 2,63 hektar.
Pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan cara WHO's
EPI Cluster Design
(2)
. Satuan cluster adalah Rukun Tetangga
(RT). Jumlah cluster terpilih dapat dilihat pada tabel 1. Dipilih
secara acak 40 RT dari lebih kurang 200 RT di setiap daerah pe-
nelitian. Setelah diadakan musyawarah dengan kepala kelurahan
dan para ketua RT, akhirnya dipilih 30 RT sebagai lokasi pene-
litian. Sebagai dasar penimbangan adalah jumlah anak umur 5
tahun, kerja sama yang baik dari penduduk dan juga segi ke-
amanan bagi pelaksana penelitian.
Petugas mengunjungi setiap rumah di masing-masing RT
sesuai petunjuk yang ada sampai mendapatkan 7 rumah yang
mempunyai 7 bayi umur6­36 bulan dari setiap RT. Apabila pada
RT yang bersangkutan sampel penelitian belum mencukupi,
maka petugas mengunjungi RT-RT yang bersebelahan hingga
jumlah sampel di setiap cluster terpenuhi. Selanjutnya untuk
mengetahui status imun bayi/anak yang sama sekali belum
background image
Tabel 1. Jumlah RW, RT dan Cluster yang Terpilih untuk Penelitian
Kecamatan
RW
(n)
RT
(n)
Cluster
(n)
Daerah Kumuh :
Kampung Rawa
Tanah Tinggi
Daerah Sedang :
Pondok Kopi
Cipinang Melayu
8
13
6
7
32
47
19
40
12
18
13
17
Jumlah 34
138
60
mendapat imunisasi, jumlah bayi/anak perlu ditambah hingga
diperoleh sedikitnya 50 orang dari setiap daerah penelitian. Pada
bayi umur 6­36 bulan yang belum mendapat imunisasi kemudian
dilakukan pengambilan darah. Orang tua dari bayi/anak-anak
tersebut juga diwawancarai untuk mengetahui keadaan sosial,
situasi dalam rumah dan sanitasi.
Cara pengambilan darah: Darah diambil dari ujung jari seba-
nyak 0,1 ml dengan pipet kapiler, langsung diencerkan dengan
larutan bufer fosfat (PBS) sebanyak 5 kali. Selanjutnya dibawa
dengan termos pendingin ke Pusat Penelitian Penyakit Menular
untuk dipisahkan seranya.
Pemeriksaan kadar zat anti pertusis dilakukan dengan cara
mikro aglutinasi, menggunakan antigen yang terbuat dari strain
Bordetella pertussis 18­323
(3)
.
Definisi
Yang dimaksud dengan ventilasi baik adalah bila rumah
memiliki jendela dan lubang angin. Ventilasi sedang bila rumah
hanya memiliki jendela sedangkan ventilasi buruk bila rumah
tidak memiliki jendela dan hanya memiliki lubang angin saja.
Pembuangan asap dapur dibagi menjadi baik, sedang dan
buruk. Kriteria pembuangan asap dapur baik, sedang dan buruk
mengikuti definisi ventilasi, hanya letak jendela dan lubang
angin terletak di dapur.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah bayi yang mendapat imunisasi tidak lengkap dan
belum pernah mendapat imunisasi dapat dilihat pada tabel 2. Di
daerah kumuh dari 30 cluster jumlahnya 124 orang (59,05%)
dan di daerah sedang sebanyak 136 orang (64,76%). Jumlah
tersebut cukup besar karena pada tahun sebelumnya cakupan
masih rendah, pencatatan belum baik, penduduk di daerah ter-
sebut sering berpindah tempat.
Alasan mengapa ibu tidak membawa anaknya untuk di-
imunisasi ditunjukkan pada tabel 3. Alasan tertinggi anak tidak
Tabel 2. Status Imunisasi DPT Bayi Umur 6­36 bulan di Daerah Kumuh
dan
Sedang
di
Jakarta,
tahun
1989
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Status Imunisasi
n % n %
Lengkap
Tidak lengkap
Tidak pernah
86
116
8
40,95
55,24
3,81
74
101
35
35,24
48,10
16,67
Jumlah 210
100,00
210
100,00
diimunisasi atau imunisasi tidak lengkap adalah anak sedang
sakit dan alasan ke dua adalah ibu terlalu sipuk. Di daerah kumuh
masing-masing adalah 57,5% dan 17,5% dan di daerah sedang
adalah 57,2% dan 12,2%.
Tabel 3. Penyebab Belum Imunisasi atau Imunisasi yang Belum Lengkap
pada
Bayi
Umur 6­36
Bulan di Daerah Kumuh dan Sedang di
Jakarta
Daerah Kumuh Daerah Sedang
Penyebab
n % n %
A. Tidak
mengerti
imunisasi*
6
5
12
8,6
Tidak mengerti dosis imunisasi
5
4,2
2
1,4
Takut reaksi samping imunisasi
4
3,4
8
5,7
B. Tidak
mengerti
kapan
imunisasi* 3 2,5 2 1,4
Tidak percaya imunisasi
1
0,8
2
1,4
C. Kesulitan
transportasi*
­
­
­
­
Tidak ada petugas imunisasi
­
­
2
1,4
Tidak ada vaksin
­
­
­
­
Ibu terlalu sibuk
21
17,5
17
12,2
Masalah
keluarga
6
5
3
2,2
Anak sedang sakit
69
57,5
90
57,2
Waktu tunggu terlalu lama
4
3,3
9
6,4
Lain-lain
1
0,8
2
2,1
Jumlah 120
100,0
140
100,0
Keterangan :
A. Kurang informasi
B. Kurang motivasi
C. Hambatan
Tabel 4 menunjukkan jumlah sampel sera yang terkumpul.
Jumlah sera yang berasal dari daerah kumuh sebanyak 55 dan
yang berasal dari daerah sedang adalah 81. Berhubung kesulitan
mencari anak yang belum mendapat imunisasi DPT pada ke-
lompok umur tersebut di 30 cluster maka jumlah tersebut telah
ditambah dari RT yang berdekatan.
Tabel 4. Jumlah Sera Bayi Umur 6­36 Bulan dari Daerah Kumuh dan
Sedang
di
Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Bulan
Sera (n)
Sera (n)
6 ­12
13 ­ 24
25 ­ 36
22
20
13
25
32
24
Jumlah 55
81
Tabel 5 menunjukkan jumlah bayi yang memiliki zat anti
terhadap pertusis positif pada kelompok umur 6­11 bulan, 12­23
bulan dan 24­36 bulan. Jumlah bayi yang memiliki titer positif
sangat rcndah yaitu 18,18% di daerah kumuh dan 13,58% di
daerah sedang. Persentase bayi yang memiliki titer positif makin
meningkat dengan bertambahnya umur. Hal ini disebabkan ada-
nya infeksi alam. Bayi yang mcmiliki titer positif hampir se-
luruhnya bertiter rcndah di bawah titer yang dapat memberikan
perlindungan (160 U/ml). Jumlahnya yaitu 14 orang dengan titer
10 U/ml, 1 orang dengan titer 20 U/ml, 3 orang dengan titer 40 U/
ml dan 2 orang dengan titer 80 U/ml. Dengan demikian berarti
semua anak masih rentan terhadap infeksi batuk rejan.
background image
Tabel 5. Distribusi Titer Zat Anti Positif terhadap Pertusis pada Bayi
Umur 6-36 Bulan di Daerah Kumuh dan Sedang di Jakarta
Positif
Negatif Jumlah
Kelompok Umur
(bulan)
n % n % N %
Daerah
kumuh
:
6 ­12
1
4,5
21
95,5
22
100,0
13 ­ 24
6
30,0
14
70,0
20
100,0
25 ­ 36
3
23,1
10
76,9
13
100,0
Daerah sedang :
6 ­ 12
2
6,9
13
93,1
25
100,0
13 ­ 24
3
9,7
29
90,3
32
100,0
25 ­ 36
6
24,0
18
76,0
24
100,0
Jumlah bayi yang rentan terhadap pertusis diharapkan dapat
turun dari tahun ke tahun dengan meningkatnya cakupan
imunisasi, diperluasnya umur cakupan, potensi vaksin dan rantai
dingin yang memenuhi syarat, serta ditingkatnya penyuluhan
program kesehatan bagi ibu-ibu di daerah tersebut.
Vaksinasi pertusis ulangan tidak dianjurkan pada anak-anak
setelah umur6 tahun. Dengan tidak adanya rangsangan antigenik
dari vaksin atau infeksi alam, maka orang dewasa muda tidak
terlindung secara lengkap.
Menurut penelitian di Amerika Serikat
(4)
dahulu penyakit
pertusis sangat umum pada anak-anak dari golongan sosio-
ekonomi rendah sehingga anak remaja dan orang dewasa dari
kelompok ini berkesempatan mendapat rangsangan ulang secara
alami dari pemaparan terhadap penyakit. Di Amerika orang tua
kulit hitam dari golongan sosio-ekonomi rendah diduga mem-
punyai kekebalan terhadap pertusis lebih besar dari orang kulit
putih yang berasal dari golongan sosio-ekonomi menengah.
Penelitian tersebut menganggap bahwa orang dewasa sekarang
merupakan sumber utama penularan penyakit pertusis di
Amerika
(4)
. Orang dewasa agaknya merupakan sumber infeksi
terutama bila penyakit terjadi pada periode neonatal.
Beberapa hasil penelitian di luar negeri seperti di Inggris,
Swedia, Kanada, Finlandia dan Amerika menunjukkan bahwa
kenaikan pesat cakupan imunisasi pertusis di atas 80% meng-
hasilkan penurunan yang lebih besar, tidak seimbang dalam
insiden dan bahwa eradikasi pertusis akan mungkin bila cakupan
lebih besar dari 95%
(1)
. Pertimbangan teoritis memperkirakan
bahwa cakupan yang tinggi (lebih dari 90%) tidak menyebabkan
eradikasi dari pertusis tapi hanya mengubah insiden yang ber-
hubungan dengan umur. Walaupun anak-anak dewasa muda
akan terlindung dari pertusis pada masa bayinya, penurunan
kekebalan sejalan dengan umur akan menyebabkan kenaikan
jumlah orang dewasa yang rentan dan insiden pada orang dewasa
dan pada bayi yang sangat muda untuk diimunisasi di Amerika
(dikutip dari 4).
Di Indonesia telah dicapai cakupan imunisasi di atas 80%,
bahkan di beberapa propinsi telah mencapai lebih dari 90%;
namun pengamatan seperti di Amerika belum dilakukan.
Telah dianalisis pula pengaruh faktor-faktor seperti letak
dapur, ventilasi rumah, pembuangan asap, penyediaan air bersih
pada status kekebalan terhadap pertusis pada bayi-bayi tersebut.
Namun hasilnya menunjukkan tidak ada pengaruh dari berbagai
keadaan tersebut pada status kekebalan terhadap pertusis. Se-
lanjutnya data mengenai keadaan sosial di kedua daerah tersebut
akan tetap dibahas dalam makalah ini.
Tabel 6 menunjukkan tingkat pendidikan ibu dari bayi di
daerah kumuh dibandingkan dengan daerah sedang. Pendidikan
ibu yang terbanyak adalah Sekolah Dasar yaitu 67,31% di daerah
kumuh dan 63,86% di daerah sedang. Jumlah ibu yang ber-
pendidikan SLTA di daerah kumuh sebesar 1,92% dan di daerah
sedang sebesar 15,66%. Jumlah yang buta huruf di kedua daerah
tersebut adalah 15,38% di daerah kumuh dan 12,05% di daerah
sedang.
Tabel 6. Tingkat Pendidikan Ibu Bayi yang Diteliti di Daerah Kumuh dan
Sedang
di
Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Pendidikan
n % n %
Buta Huruf
8
25,49
8
9,88
SD
35 67,22 53 65,43
SLTP 8
15,38
7
8,64
SLTA 1
1,92
13
16,05
Perguruan
Tinggi
0 ­ 0 ­
Jumlah 52
100,0
81
100,00
Tabel 7 menunjukkan pekerjaan orang tua dari bayi-bayi
peserta penelitian yang tinggal di daerah kumuh. Terbanyak
adalah sebagai buruh harian/lepas sebesar 60% dan sebagai
wiraswasta sebesar 40%. Sedangkan di daerah sedang sebanyak
40,62% sebagai buruh harian, 31,25% sebagai karyawan/pe-
gawai dan 28,13% berwiraswasta. Sebagian besar responden
tidak mau memberikan jawaban tentang pekerjaan suaminya.
Tabel 7. Pekerjaan Orang Tua Bayi yang Diteliti di Daerah Kumuh dan
Sedang
di
Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Jenis Pekerjaan
n % n %
Tidak
ada
­ ­ ­ ­
Buruh harian lepas
12
60
13
40,62
Wiraswasta 8
40
9
28,13
Karyawan/pegawai ­
­ 10 31,25
Jumlah
20 100,00 32 100,00
Pelayanan kesehatan yang dipilih oleh keluarga bila anak-
nya sakit dapat dilihat pada Tabel 8. Pilihan tertinggi di kedua
daerah penelitian tidak berbeda yaitu berobat ke Poliklinik dan
pilihan kedua adalah berobatpada Bidan/Mantri. Tindakan yang
dilakukan bila anak sakit di kedua daerah tidak berbeda, yang
mencapai persentase tertinggi adalah diobati sendiri dan tindakan
dengan persentase tinggi ke dua adalah dibawa ke dokter Pus-
kesmas (Tabel 9).
Jumlah ruangan yang dimiliki keluarga di dacrah kumuh
rata-rata 2 ruangan dan salah satunya adalah kamar tidur. Di
daerah sedang jumlah ruang yang ditempati rata-rata adalah 3
background image
ruangan termasuk 2 sebagai kamar tidur. Pada penelitian ini tidak
dilakukan pengukuran luas kamar. Jumlah penghuni rumah di
daerah kumuh rata-rata adalah 7 orang, sedangkan di daerah
sedang adalah 5 orang.
Tabel 8. Pilihan Tempat Berobat bila Anggauta Keluarga Sakit di Daerah
Kumuh dan Sedang di Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Tempat Berobat
n n
°%
Diobati sendiri
1
4,17
7
15,91
Bidan/Mantri 8
33,33
15
34,09
Poliklinik 13
54,17
19
43,18
Dokter swasta
2
8,33
3
6,82
Jumlah 24
100,00
44
100,00
Tabel 9. Tindakan yang Dilakukan bila Anak Sakit Batuk di Daerah
Kumuh
dan
Sedang
di
Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Tindakan
n 46 n %
Tidak dimandikan
6
24
8
21,05
Tidak kena angin
2
8
1
2,63
Diobati sendiri
9
36
15
39,47
Dibawa ke dokter/PKM
8
32
13
34,22
Penambahan gizi
­
­
­
­
Pengurangan
ASI ­ ­ ­ ­
Lain-lain
­ ­ 1
2,63
Jumlah
25 100,00 38 100,00
Ventilasi rumah yang termasuk baik dan sedang tidak ber-
beda di kedua daerah penelitian, namun ventilasi buruk di daerah
kumuh jumlahnya 2 kali lebih besar dari daerah sedang, yaitu
29,41% berbanding 14,81% (Tabel 10). Keadaan pembuangan
asap dapur dan ventilasi rumah yang buruk akan berpengaruh
buruk pula terhadap kesehatan, terutama anak-anak.
Tabel 10. Ventilasi Dalam Rumah Peserta Penelitian di Daerah Kumuh
dan
Sedang
di
Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Ventilasi Rumah
n % n %
Baik
Sedang
Buruk
23
13
15
45,10
25,49
29,41
44
25
12
54,32
30,86
14,81
Jumlah 51
100,00
81
100,00
Letak dapur dan pembuangan asap dapur dapat dilihat pada
tabel 11 dan 12. Letak dapur di dalam atau di luar rumah tidak
berbeda antara kedua daerah penelitian, namun pembuangan
asap yang buruk di daerah kumuh tercatat 51,35% dan di daerah
sedang 31,33%. Pembuangan asap yang baik sebanyak 9,64%
terdapatdi daerah sedang, namun tidak terdapat di daerah kumuh.
Penyediaan air bersih (Tabel 13) di daerah kumuh yaitu
dengan membeli air bersih sebanyak 39,22%, menggunakan
sumur umum 25,49% dan hanya 23,53% yang menggunakan
sumur pribadi. Di daerah sedang yang mcnggunakan sumur
Tabel 11. Letak Dapur di Rumah Peserta Penelitian di Daerah Kumuh dan
Sedang
di
Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Letak Dapur
n % n %
Di dalam rumah
Di luar rumah
25
30
45,45
54,55
63
18
77,78
22,22
Jumlah 55
100,00
81
100,00
Tabel 12. Pembuangan Asap Dapur di Rumah Peserta Penelitian di Daerah
Kumuh
dan
Sedang
di
Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Pembuangan
Asap Dapur
n % n °%
Baik
Sedang
Buruk
­
26
28
­
48,15
51,85
8
49
24
9,88
60,49
29,63
Jumlah 54
100,00
81
100,00
Tabel 13. Sarana Penyediaan Air Bersih di Rumah Keluarga Peserta
Penelitian di Daerah Kumuh dan Sedang di Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Sarana
n °% n %
SumurUmum 13
25,49
22
27,16
Beli Air
20
39,22
­
­
Sumur Pribadi
12
23,53
59
72,84
PAM
6 11,76 ­ ­
Jumlah
51 100,00 81 100,00
pribadi sebanyak 71,08% sisanya menggunakan sumur umum
dan tidak ada lagi yang membeli air minum. Keadaan tersebut
menyebabkan ban yaknya penampungan air bersih di depan rumah
penduduk di daerah kumuh.
Sarana buang air besar ditunjukkan pada tabel 14. Di daerah
kumuh 68,09% menggunakan WC umum, sedangkan di daerah
sedang 60,98% telah memiliki WC pribadi. Namun di daerah
sedang yang kebetulan letaknya dekat sungai masih terdapat
10,98% yang masih menggunakan sungai sebagai sarana buang
air besar.
Melihat keadaan sosial tersebut di atas maka perbaikan
keadaan daerah kumuh perlu mendapat perhatian yang lebih
besardari pemerintah. Selain itu peran serta masyarakat dalam
program kesehatan dan perbaikan lingkungan perlu ditingkat-
kan.
Tabel 14. Sarana Tempat Buang Air Besar di Rumah Keluarga Peserta
Penelitian di Daerah Kumuh dan Sedang di Jakarta
Daerah Kumuh
Daerah Sedang
Sarana
n % n %
Selokan Umum
1
2,13
4
4,94
Sungai 1
2,13
9
11,11
WC Umum
32
68,09
19
23,46
WC Pribadi
13
27,66
49
60,49
Jumlah 47
100,00
81
100,00
background image
KESIMPULAN
1) Status kekebalan terhadap pertusis pada kelompok bayi
umur 6-36 bulan sangat rendah yaitu 18,18% di daerah kumuh
dan 13,58% di daerah sedang dan keduanya tidak berbeda nyata;
namun jumlah anak yang memiliki titer positif terhadap pertusis
pada kelompok umur 1-2 tahun yang tinggal di daerah kumuh
lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang tinggal di daerah
sedang yaitu 30% berbanding 9,7%.
Bayi umur 6-36 bulan baik yang tinggal di daerah kumuh
maupun daerah sedang 84% tidak memiliki kekebalan terhadap
pertusis, sedangkan sisanyakalaupun memiliki kekebalan belum
dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi. Berarti anak-
anak tersebut masih rentan terhadap infeksi pertusis.
2) Berbagai faktor sosial yang diteliti tidak menunjukkan ada-
nya hubungan dengan kekebalan terhadap pertusus.
SARAN
1) Di daerah kumuh dan sedang sasaran imunisasi dapat diper-
luas pada anak-anak sampai umur 3 tahun mengingat persentase
anak-anak yang rentan cukup tinggi.
2) Kondisi sosial ekonomi bayi umur 6-36 bulan di daerah
kumuh perlu mendapat perhatian yang lebih besar, karena ke-
adaan yang ada dapat mempercepat terjadinya penularan penya-
kit seperti ISPA, diare dan lain-lain. Penyuluhan pada ibu-ibu di
daerah tersebut perlu lebih ditingkatkan agar mereka lebih ber-
peran aktif dalam pelaksanaan program kesehatan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr Mashur, Kepala Bidang
Bindal PKPP, Bapak Daud Djayasudarma, koordinator Urban Strategi DKI, Dr
Surjadi Gunawan DPH, Kepala Pusat Penelitian Penyakit Menular, Dr Titi
Indijati, Kepala Direktorat Epidemiologi dan Imunisasi, Dir Jen P2M & PLP
atas segala petunjuk dan saran yang diberikan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak-bapak lurah, pim-
pinan Pusat Kesehatan Masyarakat, Ketua Rukun Warga, Rukun Tetengga dan
ibu-ibu PKK dari Kelurahan Kampung Rawa, Tanah Tinggi, Pondok Kopi,
Cipinang Melayu atas segala bantuannya selama penelitian dilaksanakan.
KEPUSTAKAAN
1. Thomas MG. Epidemiology of Pertusis. Reviews of infectious diseases,
vol II; 2; 1989; 255-262.
2. Henderson RH, T Sundaresen. Cluster sampling to assess immunization
coverage: a review of experience with simplified sampling method. Bull
WHO 1982; 60(2): 253-260.
3. Manclark C, BD Meade. Serological response to Bordetella pertussis. In:
Manual of Clinical Immunology. 2nd ed. Am Soc Microbiol 1980; 496-99.
4. Nelson JD. The changing epidemiology of Pertussis in young infants. Am J
Dis Child 1978; 132: 371-3.