background image
HUBUNGAN AFLATOXIN DENGAN
CARCINOMA HATI
Dr. Muhilal
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi
Bogor
Summary
Correlation between manifestation of liver cancer and
aflatoxin is presented. Some researchers reported that in la-
boratory animals there are significant correlation between
the manifestation of liver cancer and aflatoxin intake in some
species. It is difficult to apply the result for human beings.
In human body the study can be carried out retrospectively
and epidemiologically only.
Based on results of some researchers, significant correlation
between manifestation of liver cancer and aflatoxin in human
can be concluded. Data of aflatoxin contents in the dietary
food consumed
by Indonesian people are also presented.
PENDAHULUAN
Pada tahun 1960 terjadi malapetaka yang menimpa peter-
nakan kalkun di Inggris dimana ratusan unggas tersebut mati.
Terjadinya malapetaka tersebut merangsang para ahli untuk
meneliti secara intensif zat racun yang menyebabkannya.
Akhirnya dapat diidentifikasi sekelompok zat racun yang di-
hasilkan oleh jamur
Aspergillus flavus
yang kemudian diberi
nama Aflatoxin. Jadi kata Afla pada aflatoxin ini diambil
dari suku kata depan dari nama jamur yang mula-mula diketa-
hui dapat memproduksi racun tersebut.
A. flavus
tersebut
banyak mencemari kacang tanah yang banyak dipakai dalam
campuran makanan unggas tersebut.
Identifikasi zat racun tersebut dapat dilakukan antara
lain dari fluoresensinya setelah ekstrak racun dikhromatografi-
kan pada lapisan tipis (thin layer khromatography = TLC).
Ternyata pada TLC dapat diidentifikasi 4 macam toksin
yang diberi nama aflatoxin B1, B2 Gi dan G2. Huruf B dan G
menggambarkan warna fluoresensi dari toxin tersebut dimana
aflatoxin B warna flurosensinya biru (Blue-B) dan aflatoxin
G warna fluoresensinya hijau (Green-G). (C
AMPBELL
1967)
Organ yang mengalami kerusakan berat karena keracunan
aflatoxin ini ialah
hati.
TOKSISITAS AFLATOXIN PADA BINATANG PERCOBA-
AN.
Percobaan dengan memakai binatang untuk mengetahui
toksisitas aflatoxin dilakukan dengan mencampur makanan
binatang tersebut dengan aflatoxin murni. Dapat juga dilaku-
kan dengan mencampur makanan binatang tersebut dengan
bahan makanan yang telah dianalisa kandungan aflatoxinnya.
Binatang percobaan yang diberi dosis aflatoxin yang tinggi
(misalnya 1 mg/kg makanan) dapat menderita kerusakan hati
yang berat/akut yang dapat menyebabkan kematian dalam
waktu pendek. Sebaliknya bila dosis aflatoxin tersebut rendah
tetapi diberikan dalam jangka lama akibat yang timbul adalah
Carcinoma-hati.
Kesensitifan binatang percobaan terhadap keracunan af-
latoxin ini sangat berlainan dari jenis binatang yang satu de-
ngan lainnya. Tikus percobaan (
"
rat
"
) Strain Fischer misal-
nya sudah timbul Carcinoma-hati bila pada diitnya dicampur
aflatoxin B1 sebanyak 1 ug/kg selama 20 minggu. Sebaliknya
tikus percobaan Strain Wistar belum menunjukkan gejala tim-
bulnya Carcinoma-hati dengan dosis yang jauh lebih tinggi
dari 1 ug/kg diit.
Demikian juga ikan "rainbow strout
"
Strain Shastra sudah
menderita Carcinoma-hati bila dalam diitnya dicampur afla-
toxin B1 dengan takaran 0,5 ug/kg makanan. Sebaliknya ikan
"
Cokosalmon
"
tidak menderita apa-apa bila diberi diit dengan
kandungan aflatoxin 40 x lebih tinggi dari itu(STOLOFF 1977)
Selain jenis dan strain dari binatang percobaan hal yang
mempengaruhi efek aflatosikosis tersebut ialah umur binatang,
status gizi dan jenis aflatoxin yang mengkontaminasi ma-
kanan.
Binatang percobaan yang status proteinnya baik biasanya
kurang sensitif terhadap keracunan aflatoxin. Hal ini mung-
kin ada hubungannya dengan lebih baiknya proses detoksi-
fikasi karena cukupnya enzima yang diperlukan untuk itu.
Diantara keempat macam aflatoxin yang terdapat dalam
makanan tersebut yang paling toksis adalah aflatoxin B1.
Celakanya, kebetulan jenis aflatoxin B1 yang paling banyak
diketemukan pada pelbagai bahan makanan.
Seperti halnya zat racun lain, aflatoxin mengalami proses
detoksifikasi yang terjadi di dalam hati untuk dikeluarkan
dari tubuh. Sebelum diekskresi zat tersebut akan mengalami
proses hidroksilasi dan setelah itu dikonyungasikan dengan
glucuronate atau sulfat dalam membentuk zat yang lebih po-
lar sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui saluran pen-
cernaan. Proses ini sejajar dengan proses detoksifikasi dari
berbagai zat racun yang memasuki tubuh binatang ataupun ma
16
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
background image
nusia. Enzima yang berperan dalam proses hidroksilasi ini
ialah
"
Mixed Function Oxidase
"
yang bekerjanya memerlu-
kan pertolongan NADPH dan oksigen sebagai donor H dan O
(CAMPBELL
H
AYES
1974).Produk dari aflatoxin yang sudah
dikonyugasikan dengan glukuronat ataupun sulfat tersebut
kemudian dikeluarkan melalui saluran pencernaan mungkin
bersama-sama campuran empedu.
Tetapi di dalam pencernaan ada berbagai macam mikroorganis-
me yang dapat memisahkan glucuronat ataupun sulfat dari
aflatoxin sehingga sebagian derivat aflatoxin dapat terserap
kembali. Proses penyerapan kembali dan pengeluaran lagi nan-
tinya ini sebagai penyebab kerusakan hati dan Carcinoma-
hati.
Ada juga pendapat bahwa proses terjadinya Carcinoma ka-
rena hasil metabolisme aflatoxin yang rumus kimianya belum
dapat diidentifikasi.
AFLATOXIN DAN CARCINOMA-HATI PADA MANUSIA
Yang telah dikemukakan di atas adalah beberapa contoh
hasil percobaan dengan binatang yang menyangkut Carcinoma-
hati yang terjadi karena aflatoxin dan metabolisme aflatoxin
dalam tubuh binatang.
Meskipun sudah ada bukti dengan binatang percobaan bah-
wa ada hubungan antara aflatoxin dengan Carcinoma-hati,
tetapi akan timbul pertanyaan apakah demikian juga halnya
pada manusia. Dengan manusia tidak dapat dilakukan perco-
baan dengan memberikan diit yang mengandung aflatoxin
kemudian diikuti perkembangannya. Penelitian yang dapat di-
lakukan ialah penelitian epidemiologis dan retrospektif.
Penelitian epidemiologis pernah dilakukan di Filipina
(SALAMAT
1978 -- komunikasi pribadi). Penelitian ini me-
nyangkut hubungan banyaknya kejadian Carcinoma-hati dan
pola konsumsi makanan yang banyak tercemar oleh aflatoxin.
Bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat yang di-
teliti dan tercemar aflatoxin adalah jagung. Hasil penelittian
mereka menunjukkan adanya hubungan antara Carcinoma-hati
dengan pola konsumsi makanan yang banyak tercemar afla-
toxin. Ada hal yang menarik perhatian mereka ialah pada da-
erah yang konsumsi minyak kelapanya tinggi banyaknya ke-
jadian Carcinoma-hati lebih rendah. Kemudian timbul perta-
nyaan apakah minyak kelapa yang sebagian besar terdiri dari
asam lemak jenuh ini dapat mengurangi toksisitas aflatoxin.
Untuk menjawab pertanyaan ini lalu dilakukan penelitian la-
boratorium dengan memakai tikus percobaan untuk me-
ngetahui efek dari lemak tersebut terhadap toksisitas
afla-
toxin. Penelitian ini baru akan selesai mungkin akhir tahun
1979.
Di Indonesia hubungan antara aflatoxin dengan Carcino-
ma-hati primer telah diteliti oleh
PANG (
1974 ), bekerja sa-
ma dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor.
Pada sejumlah pasien yang menderita Carcinoma-hati primer
dan kontrolnya telah dilakukan penelitian klinik dan laborato-
ria untuk menegakkan diagnosa dan analisa aflatoxin meliputi
makanan yang biasa dikonsumsi pasien, urine 24 jam pada hari
pertama datang di R.S. dan hasil biopsi liver. Usia penderita
antara 7 sampai 75 tahun dengan rata-rata 49 tahun. Sampel
makanan yang biasa dikonsumsi penderita banyak terkontami-
nasi aflatoxin B1 dan G1. Kadar aflatoxin B1 antara 8 sampai
1190 ppb (part perbillion) sedangkan kadar G1 antara 4
sampai 690 ppb. Aflatoxin yang diditeksi pada analisa liver
biopsi meliputi aflatoxin B1, G1 dan M1. Demikian juga de-
ngan air kenih.
Ada penelitian di India
(YADGIRI,
dkk. 1970) yang me-
nyimpulkan bahwa setelah dipelajari berbagai sifat fisiknya
secara laboratoria zat yang mirip dengan aflatoxin B1 pada
TLC tersebut bukan aflatoxin B1. Meskipun demikian adanya
aflatoxin M1 (salah satu bentuk hidroksilasi aflatoxin B1
yang terdapat dalam susu --"milk") menggambarkan bahwa
yang bersangkutan mengkonsumsi aflatoxin dari makanan.
Hasil penelitian
PANG,
dkk. ini sangat penting dan membe-
ri gambaran bahwa kemungkinan sebagian (atau mungkin se-
bagian besar ? ) Carcinoma-hati disebabkan karena keracunan
aflatoxin. Faktor penyerta lain seperti adanya penyakit hati
lain sebelum terkontaminasi aflatoxin secara kontinyu perlu
diteliti lebih lanjut.
Penelitian seperti yang dilakukan oleh
PANG,
dkk. ini ma-
sih langka. Hal ini mungkin karena di negara-negara yang su-
dah maju dengan perlengkapan yang serba cukup kasus-kasus
Carcinoma-hati primer yang dapat dihubungkan dengan mi-
kotoksin tidak banyak. Sebaliknya di negara-negara yang se-
dang berkembang perlengkapan penelitian yang belum mema-
dai disamping kadang-kadang minat peneliti sendiri masih ku-
rang.
KRISNAMACHARIN,
dkk. (1975) juga melaporkan ter-
jadinya aflatoksikosis pada orang karena konsumsi jagung yang
mengandung aflatoxin B1 lebih dari 6 mg per kg ( dalam
STOLOFF
1977 ).
BATAS KADAR AFLATOXIN YANG TIDAK BERBAHAYA
Setelah diketahui bahwa aflatoxin berbahaya untuk kese-
hatan maka beberapa negara dan lembaga internasional menca-
ri batas yang
.
dianggap
"
safe
"
untuk berbagai komoditi.
WHO/PAG berdasarkan percobaan dengan berbagai bina-
tahg, termasuk
Rhesus, menganjurkan bahwa
"safe level "
tersebut 30.ppb (part perbillion atau ug/kg) untuk aflatoxin
Bj. Ada beberapa negara yang mengikuti anjuran WHO ini
misalnya India.
FDA ( Food Drug Administration) di Amerika Serikat
menetapkan kadar aflatoxin maximum yang dibolehkan pada
kacang tanah 15 ppb sedang pada makanan lain dan makanan
ternak 20 ppb.
Dr Swedia lain lagi. Kadar aflatoxin maksimum yang dibo-
lehkan pada bahan makanan 5 ppb untuk aflatoxin total se-
dangkan pada makanan ternak kadar yang dibolehkan 600
ppb aflatoxin B1.
Di Indonesia sendiri pemerintah belum menetapkan kadar
aflatoxin maksimum pada bahan makanan yang beredar.
Beberapa instansi telah mengadakan penyuluhan pada petani
tentang cara-cara menangani hasil panenan sehingga dengan ti-
dak langsung akan mengurangi pencemaran oleh aflatoxin.
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
1 9
background image
Kadar aflatoxin pada beras simpanan dan varitas kacang yang
tahan terhadap aflatoxin sedang dalam penelitian.
KANDUNGAN AFLATOXIN BERBAGAI MAKANAN DI
INDONESIA
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor telah mela-
kukan penelitian kandungan aflatoxin kacang tanah dan hasil
olahnya, bumbu-bumbu dan beberapa komoditi lain yang sam-
pelnya diambil dari Jakarta, Bogor dan Bandung. Beberapa
contoh kandungan aflatoxin berbagai bahan makanan seperti
tercantum dalam tabel.
Kandungan aflatoxin pada berbagai komoditi.
Komoditi
Banyaknya
sampel/analisa
Kandungan afla-
toxin (ppb)
(a)
B1
Gl
Kacang tanah (dari pengecer)
20
180
353
Bungkil kacang
20
126
174
Minyak kacang tanah
20
61
82
Oncom
39
67
120
Oncom goreng
16
41
83
Uteng-uteng gepuk
2
170
83
Sambal pecel/sate
5
83
49
Keju kacang tanah
3
13
...
Beras
2
0
0
Gaplek (kondisi baik)
3
0
0
Gaplek ( berjamur )
3
303
283
Bawang merah
2
0
0
Beras yang dibiarkan berjamur
dilaboratorium
1
1000
16
Kacang tanah ( fisiknya baik )
6
0
0
Dari tabel kandungan aflatoxin berbagai bahan makanan
di atas ternyata banyak bahan makanan yang kandungannya
jauh lebih tinggi dari kadar yang dianggap tidak berbahaya me-
nurut WHO ( 1967 ).
Kacang tanah sendiri, bahan makanan yang mula-mula di-
ketahui banyak mengandung aflatoxin, tidak selalu kandungan
aflatoxinnya tinggi. Kacang tanah yang fisiknya masih baik
umumnya tidak mengandung atau tidak banyak aflatoxinnya.
Sebagai tenaga yang bekerja dalam bidang kesehatan sebaiknya
berperan serta dalam memberi pengertian kepada masyarakat
untuk memilih bahan makanan yang tidak membahayakan ke-
sehatan.
Kedele merupakan bahan makanan yang boleh dikatakan
mempunyai resistensi tinggi terhadap pencemaran oleh afla-
toxin. Ada dugaan kuat hal ini karena kandungan Zn yang
rendah dan asam phitat yang tinggi. Hal ini sangat
menguntungkan untuk Indonesia dimana banyak dikonsumsi
bahan makanan yang dibuat dari kedele, misalnya tempe dan
tahu.
Menghindari mengkonsumsi makanan yang tercemar af-
latoxin ini perlu diperhatikan. Pencegahan jauh lebih utama
dari pengobatan.
KEPUSTAKAAN
1. CAMPBELL T C: Mycotoxin in the Food Chain.
Virginia Journal
of Science
18 : 67, 1967.
2. CAMPBELL T C AND J R HAYES : Role of Nutrition in the Drug
Metabolizing Enzyme System.
Pharmacological
Review 26 : 201,
1974.
3. STOLOFF.
L: "Aflatoxin
An Overview" in Micotoxins in Hu-
man and Animal
Health. (Ed. J.V. Rodricks, C.W. Hesseltine,
M.A. Mehlman). Pathotox Publisher, Inc, Illinois, 1977.
4. PANG R T L, HUSAINI DARWIN KARYADI : Aflatoxin and
Primary Hepatic Cancer in Indonesia.
Presented at the 5th World
Congress of Gastroenterology,
Mexico, 1974.
5. YADGIRI B, B REDDY, P G TULPULE, S G SRIKANTIA AND
C GOPALAN : Aflatoxin and Indian Childhood Cirrhosis.
J Amer
Clin Nutr
23 : 94, 1970.
6. MUHILAL AND NURYADI :
Status
Report
on Mycotoxin in In-
donesia. For use at Meeting FAO/UNEP 1977 International Con-
ference for Mycotoxrn.
7. SALAMAT, L.A. (1987). Food Nutrition Research Institute
Manila
(Personal Communication).
8. PROTEIN ADVISORY GROUP :
P.A.G. bull.
no. 7, 1967.
Tahukah anda bahwa...........................................!!??
Suatu pernyataan telah dikeluarkan oleh FDA yang menga-
takan bahwa tidak ada bukti yang menunjukan bahwa pe-
makaian IUD/AKDR dapat menimbulkan kanker cervix
atau endometrium.
Dikatakan bahwa dibanding pil, pemakaian IUD/AKDR
adalah dua kali lebih aman.
Population report
3 : 56, May 1979.
q
Tahukah anda bahwa
.......................
Anak-anak di zaman modern ini mengalami pertumbuhan
yang lebih cepat dibanding anak-anak 20 tahun yang lalu. Hal
ini dibuktikan oleh survey yang diadakan oleh kementerian
Kesehatan Jepang. Telah diteliti murid sekolah dari taman ka-
nak-kanak sampai sekolah menengah serta sekolah lanjutan
dan didapatkan rata-rata tinggi badan anak laki-laki yang ber-
umur 17 tahun adalah 169,3 cm, berat 59,9 kg dan lebar dada
85,5 cm. Sedang pada anak wanita yangberumur 17 tahun ting-
gi badan 156,6 cm, berat badan 52 kg dan lebar dada 81,7
cm. Dikatakan dibanding anak yang seumur pada tahun 1958
didapatkan perbedaan yang cukup menyolok.
Japan medical Gazette
16 (5) : 8,1979
2 0
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979