background image
Faktor-faktor Penyebab Kerentanan
Pasien Imunokompromi
terhadap Penyakit Infeksi
H. Soemarsono
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Pengertian imunokompromi mempunyai konotasi, bahwa
defek (kerusakan) imun diperoleh oleh seseorang yang sebe-
lumnya sehat sistim imunnya. Defek ini jelas mengakibatkan
kepekaan dan risiko yang tinggi terhadap infeksi. Di negara
berkembang diperkirakan jumlah pasien imunokompromi yang
disebabkan pengobatan medik lebih besar daripada yang dikom-
promi oleh proses penyakit primer seperti limfoma.
Kondisi klinis yang diobati dengan obat-obat imunokom-
promi saat ini luas sekali, termasuk : keadaan inflamasi, vaskuli-
tis, autoalergi, arthritis dan keganasan. Obat-obat yang biasa
dipakai sebagai pengobatan tumor menyebabkan serangkaian
efek samping terhadap pertahanan pejamu; terutama granulosi-
topeni, fungsi fagositosis menurun, respon imun yang terganggu
dan kerusakan kulit, dan penurunan pertahanan mukosa. Tidak
berlebihan kiranya bila keadaan tersebut di atas merupakan
akibat yang terciptakan secara iatrogenik, dan wajib diperkecil.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
I. Faktor Intrinsik
1)
Faktor utama penyebab kerentanan terhadap infeksi pada
pasien imunokompromi adalah perangkat imunitasbeserta kerja
sistimnya yang tidal( sempurna (defisien).
2)
Faktor intrinsik lainnya adalah :
a) Penyakit
Penyakit primer atau kondisi yang diderita pasien yang me-
nyebabkan supresi imun berupa defek humoral, seluler, kombi-
nasi humoral-seluler, defek fagosit dan defek campuran. Dalam
hal ini agaknya ada hubungan antara macam defek imunologi,
macam penyakit/kondisi dengan macam infeksi yang tertentu
(tabel I).
Dipresentasikan pada Simposiwn Infeksi Nosokomial pada Pasien /munokom-
promi. Jakarta, 8 Februari 1992.
Tabel 1. Pola Infeksl pada Paslen Imunokompromi
Kondisi/Infeksi Derek Infeksi
Spesifik
Mieloma Multipel
Hodgkin
Neutropenia
Diabetes
Uremia
Humoral
Seluler
Fagosit
Campuran
Campuran
Pneumonia, Bakteremia,
Peritonitis, Herpes Zoster.
Pneumonia, Tuberkulosis,
Herpes, Hepatitis.
Pneumonia, Bakteremia,
Abses, Ulserasi mulut, fa-
ring anus.
Selulitis, Infeksi Traktus
Urinarius, Pneumonia, Tu-
berkulosis.
Infeksi Traktus Urinarius,
Pneumonia, Septikemi.
b)
Keadaan gizi
Malnutrisi protein-kalori meningkatkan kepekaan terhadap
infeksi dan sering menjadi sebab kesakitan dan kematian. Pada
keadaan PCM kapasitas bakterisid neutrofil masih dalam batas
normal, namun imunitas seluler terganggu berat : jumlah sel T
pada darah tepi berkurang menjadi hanya sepertiga dari normal.
Kadar komponen komplemen di bawah normal, dan titer kom-
plemen hemolitik total rendah. Kadar imunoglobulin serum
biasanya normal atau bahkan meninggi, namun respon antibodi
spesifik terhadap imunisasi dengan antigen standar amat ber-
kurang.
Hal ini berakibat meningkatnya angka infeksi jalan napas,
infeksi kulit dan gastroenteritis bahkan septikemi gram negatif.
Respon inflamasi berkurang dan tak terbentuk jaringan granulasi
secara normal. Luka infeksi kulit dapat berkembang ke arah
gangren dan tidak ke arah supurasi seperti pada pasien normal.
c)
Umur
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
10
background image
Pada pasien berumur lanjut, infeksi perorangan mengan-
dung risiko kematian yang tinggi; infeksi seringkali merupakan
pukulan terakhir bagi para lanjut usia yang menderita satu atau
lebih penyakit menahun. Selain itu, mereka ini lebih banyak
mengidap penyakit-penyakit yang justru lebih berat, seperti
pneumonia, bronkhitis khronis, dan tuberkulosis.
Dan bermacam-macam komponen respon imun, yang ter-
banyak menurun adalah fungsi imun seluler (cell mediated
immune function): fungsi sel menurun, sel B baik jumlah maupun
fungsinya hanya sedikit menurun. Kadar IgM serum menurun
bermakna sesuai usia, IgG menetap, IgA meninggi sedikit. Leko-
sit neutrofil agak meningkat jumlahnya, dan mempertahankan
kapasitas bakterisidal yang normal, meski kapasitas fagositiknya
mungkin berkurang.
II. Faktor Ekstrinsik
Unsur-unsur ekstrinsik yang langsung berhubungan dengan
kepekaan terhadap infeksi dapat dirangkum menjadi faktor :
1)
Kuman patogen atau potensial
2)
Cara mendekatkan/mengintroduksi kuman pada badan
penderita
3)
Pengobatan :
a)
Obat-obat yang menghasilkan imunosupresi
b)
Obat-obat yang menciptakan kuman yang resisten
ad. 1) Kuman penyebab dapat berasal dan masyarakat RS yang
terdiri dari :
a) ­ Pasien lain pengidap infeksi
­
Staff medik/paramedik pembawa kuman
­
Pengunjung pembawa kuman
b)
Peralatan kedokteran yang dipakai dan lingkungan
c)
Makanan dan minuman yang disajikan.
ad. 2) Cara mendekatkan/mengintroduksi kuman ke dalam ba-
dan penderita melalui rudapaksa integritas pertahanan kulit dan
mukosa, seperti :
a)
Operasi, atau tindakan invasif lainnya
b)
Tindakan non invasif.
ad. 2.a) Invasif :
1) Kateter intra vaskuler ­ masuknya kuman sebagai berikut :
a.
Kontaminasi kulit
Flora kulit masuk melalui ujung kateter pada saat insersi.
b.
Kontaminasi endoluminal
Kateter dapat terkontaminasi oleh teknik aseptik yang salah,
waktu memegang kateter atau sistim infus.
c.
Kontaminasi endogen
Kuman dalam darah yang berasal dari fokus lain dapat
mengkontaminasi kateter; dalam hal ini hasil biakan ujung kateter
akan berupa kuman gram negatif, karena kuman-kuman berasal
dari infeksi paru-paru, jalan kemih maupun intra abdominal
adalah gram negatif.
Sebaliknya biakan yang gram positif biasanya berasal dari
kuman kulit pasien atau tangan pelaku pemasangan kateter intra
vaskuler. Patogenesis ini dapat diikuti dengan gambar 1.
ad. 2.b) Tindakan non invasif
Patogenesis masuknya kuman adalah melalui jalan pen-
cernaan (mulut) atau jalan nafas (hidung).
Gambar 1. Sumber-sumber infeksi yang berkaitan dengan kateter/infus
intra vaskuler
Contoh untuk kontaminasi melalui jalan pencernaan
adalah : menyajikan makanan minuman melalui mulut, atau
langsung melalui nasogastrik.
Contoh kontaminasi melalui jalan nafas adalah : menghirup
udara yang mengandung kuman, atau melalui slang oksigen,
slang penghisap lendir, slang endotrakheal, trakheostomi.
3) Pengobatan
Pengobatan yang menyebabkan pasien rentan terhadap
infeksi dimaksud adalah :
a) Obat-obat secara langsung meninggikan kerentanan.
Obat-obat dimaksud adalah obat-obat imunosupresif yang
diberikan untuk penyakit-penyakit primer lainnya yaitu :
1. Obat-obat limfolitik, termasuk :
a.
Obat Alkylating : Nitrogen Mustard dan Cytoxan.
b.
Steroid : Hidrokortison, prednison.
c.
Radiasi Ro"; efek samping merusak limfosit dengan cara
merusak DNA nya, mengakibatkan terganggunya replikasi.
2. Anti-metabolit :
Analog purine : contoh dengan azathioprin, limfosit tak
dapat berreplikasi dan tak dapat membentuk antibodi.
3. Antibiotik :
­
Actinomycin D menghentikan sintesis RNA
­
Khloramfenikol menghalangi (blok) sintesis protein,
menyebabkan anemia aplastik.
b) Cara pengobatan yang menghasilkan kuman-kuman resisten
Cara yang dimaksud adalah cara pengobatan dengan anti-
biotika untuk suatu infeksi yang sedang berlangsung, namun se-
cara tidak diharapkan, melalui interaksi antara antibiotik dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 11
background image
mikroflora pasien menciptakan flora baru dengan kuman-
kuman yang resisten di dalam traktus digestivus.
Proses ini terjadi dalam tatalaksana pasien netropenik, di
mana dekontaminasi usus pasien dengan suatu regimen anti-
biotik dipersyaratkan sebagai prosedurbaku, untuk mengurangi
risiko infeksi secara bermakna; kuman-kuman ini amat potensial
untuk tersebar di dalam unit yang bersangkutan (gambar 2).
Gambar 2. Bagan Mekanisme Pengembangan Flora Resisten
KESIMPULAN
Penatalaksanaan infeksi pada pasien imunokompromi ada-
lah pelik. Selain keadaan sistim imunnya sendiri yang defektif
dan kritis terhadap infeksi, masalah pengobatannya di pihak lain
mengandung ancaman menambah kerentanan.
Data mikroorganisme, tersedianya antibiotik dan khemote-
rapeutik yang sesuai, dasar-dasar perawatan yang baik, serta data
fisik-imunologik penderita merupakan prasyarat keberhasilan
pengobatan infeksi pada pasien imunokompromi.
KEPUSTAKAAN
1.
Hydi RM, Patnode RA. Immunology. Reston, Virginia: Reston Publ Co.
2.
Durack DT. Infection in compromised host. Dalam: Clinical Aspects of
Immunology. Oxford: Blackwell Scient Publ, 1982.
3.
Van Der Waai D. The digestive tract as a central endogenous source of
bacterial and fungal infections. Dalam: Pros Simposium Penanggulangan
Infeksi. Jakarta: FKUI, 1990.
4.
Van Dalen R. Intravascular catheters and infection. Dalam: Pros Simposium
Penanggulangan Infeksi. Jakana: FKUI, 1990.
5.
Pincing AJ. The Spectrum of HIV Infection : routes of infection. Clin
Immunol Allerg 1986; 6(3): 467­88.
6.
Klatersky J. A Review of chemoprophylaxis and therapy of bacterial infec-
tions in neuropenic patients. Dalam: Diagnostic Microbiology and
Infectious Disease 1989; 12: 201 s - 207 s.
Man has his will, but woman has her way
(Oliver WendeffHtofines)
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
12