background image
ULASAN
Eliminasi Penyakit Kusta
pada Tahun 2000
Sarwo Handayani
Pusat Penelitian Pen yakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
UAN
kan salah satu penyakit tropis yang
yang ditemukan pada tahun 1874, oleh GA Hansen. Kuman ini
berbentuk batang, gram positip, berukuran 0.34 x 2 mikron dan
berkelompok membentuk globus. Kuman Myohacterium leprae
hidup pada sel Schwann dan sistim retikuloendotelial, dengan
masa generasi 12­24 hari, dan termasuk kuman yang tidak ganas
serta lambat berkembangnya
(1)
.
Sampai saat ini kuman tersebut belum dapat dibiakkan
dalam medium buatan, dan manusia merupakan satu-satunya
sumber penularan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mem-
dengan prevalensi lebih dari 10 per 10.000 penduduk, sehingga
mereka dianggap berisiko tinggi untuk tertular kusta. Sebagian
besar penderita kusta terdapat di Afrika, Asia dan Amerika Latin,
sedangkan Eropa Barat dan Utara, penderita ini tersebar secara
sporadis
(1)
.
Penderita kusta di Indonesia nomor empat terbanyak di
dunia setelah India, Brazilia dan Nigeria. Penyakit ini tersebar di
berbagai daerah dengan prevalensi 0.5­49.6 per 10.000 pendu-
duk. Prevalensi kusta di Indonesia Bagian Timur lebih tinggi
ABSTRAK
Penyakit kusta masih menjadi masalah kesehatan, khususnya di negara sedang ber-
ikologis, juga beban sosial dan ekonomi.
, WHO mencanangkan target eliminasi kusta
da tahun 2000.
la
elalui: penemuan penderita secara
ningkatan ketrampilan petugas dan rehabili-
mua pihak dan kepatuhan berobat penderita
hun 2000 dapat tercapai.
ENDAHUL
P
Penyakit kusta merupa
masih menjadi masalah kesehatan di dunia, khususnya di negara-
negara sedang berkembang. Selain menimbulkan dampak psikolo-
gis penyakit inij uga mengakibatkan dampak sosial dan ekonomi.
Upaya untuk memberantas penyakit ini telah dilakukan, namun
hasilnya belum memuaskan. Melalui deklarasi Hanoi tahun
1994, WHO mencanangkan target eliminasi global kusta, yaitu
menurunkan prevalensi kurang dari 1 per 10.000 penduduk pada
tahun 2000.
BAKTERI PENYEBAB
Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Myobacterium leprae
biakkan kuman tersebut yaitu melalui: telapak kaki tikus, tikus
yang diradiasi, armadillo, kultur jaringan syaraf manusia dan
pada media buatan
(1,2)
.
Diagnosis penyakit lepra melalui usapan sekret hidung dan
melalui kerokan kulit penderita. Kuman yang berada di sekret
hidung yang kering, dapat bertahan hidup sampai 9 hari di luar
tubuh, sedangkan di tanah yang lembab dan suhu kamar, kuman
ini dapat bertahan sampai 46 hari
(1)
.
PREVALENSI KASUS
Jumlah penderita kusta di dunia pada saat ini diperkirakan 12
juta orang lebih, 80% di antaranya berasal dari daerah tropis. Di-
perkirakan 1,6 milyar penduduk dunia tinggal di daerah endemis
kembang. Selain menimbulkan beban ps
Dalam upaya pemberantasan penyakit kusta
kurang dari 1 kasus per 10.000 penduduk pa
Di Indonesia, upaya eliminasi kusta di
dini, pengobatan penderita, penyuluhan, pe
tasi kusta. Diharapkan dengan partisipasi se
maka tujuan eliminasi penyakit kusta pada ta
kukan m
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
10
background image
dibanding Indonesia Bagian Barat kecuali Aceh. Jumlah pende-
rita yang tercatat pada akhir Desember 1992 sebanyak 70.961
orang atau prevalensi 3.8 per 10.000 penduduk. Lebih setengah-
nya tercatat berada di tiga propinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Barat
dan Sulawesi Selatan
(4)
.
MENGAPA ELIMINASI PENYAKIT KUSTA
Upaya pemberantasan penyakit kusta mendapat perhatian
utama di negara-negara sedang berkembang, khususnya di ne-
gara yang endemik kusta karena:
1) Beban fisik dan sosial yang harus ditanggung oleh penderita,
keluarga dan masyarakat.
Besarnya penyakit tidak hanya dinyatakan pada besarnya
prevalensi dan insiden saja, tetapi juga dampak psikologis.
2) Penyakit kusta termasuk penyakit dengan epidemiologi yang
unik.
·
Distribusi penyakit tidak merata, sehingga memungkinkan
penentuan daerah prioritas.
·
Prevalensi yang tercatat merupakan hasil kumpulan kasus
selama beberapa tahun bahkan beberapa dekade lalu.
·
Kasus baru yang tercatat hanya sedikit.
Upaya eliminasi dilakukan dengan 4 cara yaitu:
·
Secara epidemiologi
Di beberapa negara, penyakit kusta telah mendapat peng-
obatan kembali yang lebih baik.
·
Secara teknologi
Multi Drug Therapy (MDT) terbukti efektif dalam menyem-
buhkan penyakit kusta.
·
Secara politik
Adanya dorongan kuat dan pemerintah dalam upaya elimi-
nasi penyakit kusta, terutama di negara-negara endemik.
·
Secara ekonomi
Terdapat sejumlah agen donor dan organisasi non pemerin-
tah yang sanggup membiayai penggunaan MDT dalam upaya
eliminasi penyakit kusta.
PENGOBATAN
Sampai tahun 1950 belum ditemukan obat yang efektif
untuk menyembuhkan penyakit kusta, satu-satunya cara untuk
menangani penderita kusta adalah dengan mengisolasi penderita
ketempat penawatan khusus. Kemudian ditemukan dapson, yaitu
obat anti penyakit kustayang pertama. Namun dalam dua dekade
berikutnya, ternyata dapson menjadi kurang efektif karena bakteri
penyebab kusta yaitu Mycobacterium leprae menjadi resisten,
sehingga pengobatan gagal dan penyakit akan kambuh lagi. Di-
samping itu pengobatan yang berlangsung lama sering meng-
akibatkan penderita menjadi putus asa dan malas berobat.
Pada tahun 1981 WHO merekomendasikan penggunaan
Multi Drug Therapy (MDI), yaitu pengobatan baku terhadap
pasien dengan kusta multibasil dan pasien dengan kusta paucibasil.
Regimen ini diharapkan efektif, dapat digunakan secara luas dan
diterima oleh semua pasien; sampai saat ini telah diterima se-
bagai pengobatan standar untuk penyakit kusta.
Untuk orang dewasa WHO merekomendasikan MDT se-
bagai berikut:
·
Kusta dengan multibasil
­ 600mg rifampisin dan 3000mg clofazimin setiap 4 minggu.
­ 5 mg clofazimin dan 100 kg dapsone setiap hari selama 24
bulan.
·
Kusta dengan paucibasil
­ 600 mg rifampisin setiap 4 minggu
­ 100 mg dapsone setiap hari selama 6 bulan.
Ternyata penggunaan MDT selama 10­15 tahun telah me-
nunjukkan efektivitas penyembuhan yang tinggi, dapat diterima
pasien secara luas dengan sedikit efek samping. Dan pengamat-
an selama lebih dari 9 tahun, diketahui bahwa angka kekambuh-
an pengobatan dengan MDT hanya 0.1% per tahun. Perubahan
pengobatan dari dapson menjadi MDT telah mencegah kurang
lebih 1/2 juta pasien dan kekambuhan selama 10­15 tahun.
Jumlah kasus yang disembuhkan dengan MDT sejak tahun 1985
mendekati 6.7 juta. Dan selama ini belum ada laporan adanya
resistensi terhadap multi obat tersebut
(5)
.
Proyek pada tahun 2000 adalah menurunkan prevalensi
sebesar 83%, dan untuk kasus baru sebesar 50%. Penurunan ini
akan berupa kesembuhan lebih dari 10 juta kasus pada tahun
2000
(5)
.
PEMBERANTASAN PENYAKIT KUSTA DI INDONESIA
Di Indonesia, tujuan program pemberantasan penyakit kuista
adalah menurunkan angka prevalensi penyakit kustra menjadi
0,3 per 1000 penduduk pada tahun 2000.
Upaya yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit kusta
Melalui
(1)
:
1) Penemuan penderita secara dini.
2) Pengobatan penderita.
3) Penyuluhan kesehatan di bidang kusta.
4) Peningkatan ketrampilan petugas kesehatan di bidang kusta.
5) Rehabilitasi penderita kusta.
DIAGNOSIS DAN PENGOBATAN
Diagnosis penyakit kusta masih tergantung pada penemuan
klinis dan bakterioiogis, yang sifatnya subyektif dan merupakan
mata rantai yang lemah dalam pemberantasan kusta. Dalam suatu
penelitian ditemukan bahwa rata-rata penyakit kusta baru ter-
diagnosis setelah 2 tahun menderita dan terdiagnosis rata-rata
dalam 4,5 kali kunjungan
(3)
.
Mycobacterium leprae masih belum dapat dibiakkan dalam
medium buatan, sehingga diagnosis yang tepat dalam waktu
pendek masih belum memungkinkan; teknik serologi untuk
mengukur antibodi spesifik terhadap antigen M. leprae masih
belum memuaskan, karena hanya bermakna pada penderita ke-
lompok multibasiler, hampir tidak berguna pada kelompok
paucibasiler, dan masih belum dapat meramalkan secara pasti
kemungkinan sakit-tidaknya orang-orang sehat yang seroposi-
tip
(3)
.
Akhir-akhir ini telah dikembangkan teknik menggunakan
enzim polimerase yang merupakan cara M. leprae yang
sensitif, spesifik dan cepat. PCR dikembangkan pentama kali
oleh Mullis et all (1991) merupakan cara invitro untuk mem-
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 11
background image
perbanyak DNA suatu mikroorganisme dengan menggunakan
enzim polimerase
(3)
.
Kelebihan penggunaan teknik PCR adalah sensitivitas dan
spesifisitasnya yang tinggi sehingga mampu mendeteksi M.
leprae secara akurat dan dalam waktu yang cepat. Selain itu
dengan PCR dapat ditentukan penderita pausibasiler, orang sehat
carrier dan sumber-sumber penularan lain seperti: alat-alat rumah
tangga, lantai, pakaian dan sebagainya. Kelemahan utama teknik
PCR adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan; kelemahan
lain adalah bahwa PCR tidak mampu membedakan M. leprae
yang hidup dan yang mati
(3)
.
Di samping perkembangan dalam bidang diagnosis, saat ini
sedang dilakukan penelitian pembuatan vaksin, yang dibuat
dengan teknik DNA rekombinan, sehingga dihasilkan sejumlah
antigen dalam skala besar. Evaluasi vaksin ini telah dilakukan
oleh TDR (Tropical Diseases Research) di Malawi dan Vene-
zuela, dan akan dilanjutkan di Asia Tenggara
(6)
, Trial pemberian
vaksin bersama-sama dengan terapi MDT pada penderita kusta
telah dilakukan di Calcutta (India). Sejumlah 50 penderita kusta
diberi pengobatan MDT selama 2 tahun, 30 di antaranya diberi-
kan campuran vaksin anti lepra yang mengandung M. leprae dan
M. bovis (BCG), sedangkan 20 lainnya hanya diberikan M. bovis
(BCG), dan 20 pasien lainnya sebagai kontrol. Tergantung pada
berat penyakit, dilakukan penyuntikan 1­6 kali dengan interval
waktu 3 bulan. Hasilnya pasien yang mendapat pengobatan
campuran MDT dan vaksin secara klinis lebih cepat sembuh
daripada pasien yang hanya mendapat pengobatan MDT saja
(kontrol)
(7)
.
Penggunaan kombinasi obat baru yang lebih efektif juga
menjadi perhatian utama. Beberapa macam obat baru yang telah
berhasil diidentifikasi untuk pengobatan penyakit kusta adalah
derivat dan rifamisin, antibiotik beta-lactam, aminoglikosid,
kuinolon(8) (pefloxacin, ofloxacin dan sparfioxacin) minosiklin,
klarithromisin
(9)
, serta kombinasi antara ofloxacin dan rifam-
Pisin
(10)
.
OFLOXACIN DAN RIFAMPICIN
Pada tahun 1992 telah dilakukan percobaan obat dalam skala
besar yang dilaksanakan di tujuh negara yaitu: Brazil, Kenya,
Mali, Myanmar, Pakistan, Filipina dan Vietnam. Pengobatan ini
diberikan secara oral, yang merupakan gabungan antibiotik baru
yaitu ofloxacin dengan rifampisin. Dalam percobaan yang me-
libatkan 4000 pasien tersebut, dibandingkan penggunaan regi-
men baru dengan regimen MDT standar, hasilnya dapat dilihat
setelah 4 sampai 5 tahun kemudian. Kombinasi dengan obat ini
ternyata dapat memperpendek waktu penyembuhan menjadi 1
bulan dibandingkan dengan standar pengobatan yang sudah ada
yaitu 6 bulan sampai 4 tahun
(10)
.
Cara kerja antibiotik ofloxacin ini adalah membunuh baksil
lepra dengan menghambat enzim yang mengontrol jalannya
DNA coils yang masuk ke dalam baksil. Ofloxacin menjadi
alternatif kedua setelah rifampisin karena kecepatan dan efikasi-
nya dalam membunuh baksil lepra yang telah dilakukan pada
percobaan dengan teknik foot pad pada mencit
(10)
. Konsentrasi
minimum ofloxacin yang dibutuhkan untuk menghambat per-
tumbuhan Myco bacterium leprae adalah 50 mg/kg berat badan,
sedangkan untuk rifampisin dan rifabutin adalah 0.003% dan
0.00l%
(11)
.
Penelitian saat ini ditekankan pada anggapan bahwa ofloxacin
dapat lebih cepat membunuh baksil mutan yang resistan terhadap
rifampisin. Akan tetapi karena kombinasi rifampisin dan ofloxacin
lebih mahal daripada dapson dan clofazimine, pengobatan baru
yang lamanya 4 minggu menjadi sama besar biayanya dengan
standar pengobatan yang 6 bulan atau 2 tahun. Namun dengan
penggunaan yang lebih luas maka biaya pengobatan dengan
ofloxacin dapat ditekan sehingga tujuan untuk eliminasi lepra
pada tahun 2000 dapat cepat tercapai.
PENUTUP
Untuk mencapai tujuan eliminasi, kita harus mencapai pre-
valensi pada tingkat kurang dari 300.000 kasus pada tahun 2000,
dan perkiraan 1,8 juta kasus. Dan upaya untuk menurunkan
kasus menjadi kurang dan 1 per 10.000 hendaknya tidak hanya
dicapai pada tingkat dunia, akan tetapi juga tingkat nasional dan
propinsi.
Dengan perkembangan diagnosis baru yang lebih cepat dan
efektif dan dengan pengobatan MDT lebih yang intensif, di
harapkan beban penyakit akan menurun, sehingga setelah tahun
2000, sumber daya yang digunakan untuk menanggulangi pe-
nyakit lepra, dapat dialihkan untuk tujuan lain.
KEPUSTAKAAN
1. Hasibuan Y, Wan al Kadri. Epidemiologi Kustadan Program Pemberantas-
an Penyakit Kusta di Indonesia. Berita Epid El (Mei) 1990: 14.
2. Duerden BI, Reis TMS, Jewsbury JM. Microbial and Parasitic Infection.
London. 1993: 106.
3. Wirohadidjojo YW. Polymerase Chain Reaction untuk Deteksi M. leprue.
Diklat Kursus PCR. PAU UGM, 199!.
4. Alkadri W. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dalam Pemberantasan
Penyakit Kusta di Indonesia (bagian pertama). Berita Epid RI. Desember
1993: 12.
5. Noorden SK. Eliminating leprosy as public health problem ­ is the Opti-
misim Justified?. World Health Forum 1996; 17: 109.
6. Leprosy. TDR/JCB (9). 1986; 3: 12.
7. Majumder V. Mukerjee A, Hajra SK, Saha B, Saha K. Immunotherapy of
far­ advanced lepromatous leprosy patients with low ­ dose convit vaccine
along with multidrug therapy (Calcutta Trial, Abs). Int J Lepr Other
Mycobact Dis, 1996. (Mar); 64(1).
8. Leprosy. TDR/JCB (10). 1985; 3: 12.
9. Gelber RH. Chemotherapy of lepromatous leprosy: Recent development
and prospects for the future (Abs) Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 1993.
(Nov); 13(11).
10. New Leprosy Treatment. TDR News. 992, (Feb); 38: 1.
11. Dhople AM, Ibanez MA. In Vivo Susceptibility of Mycobw.terium !eprae
to ofloxacin either singly or combination with rifampisin dan rifabutin.
Anti Leprosy Activity ofoxloxacin and ansamycins in Mice (Abs). Arznei-.
mittelforschung 1994 (Apr); 44(4).
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
12