TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Efusi Pleura Parapneumonia
Djoko Mulyono
SMF Paru Rumah Sakit Samsudin SH, Sukabum, Jawa Barat
PENDAHULUAN
Setiap efusi pleura yang menyertai pneumonia bakteri
abses paru atau bronkiektasis disebut efusi pleura parapneu-
monia (efusi parapneumonia)
(1)
.
Pneumonia masih merupakan salah satu infeksi yang
sering dijumpai baik di masyarakat maupun di dalam rumah
sakit. Insidens terjadinya efusi pleura karena pneumonia
sekitar 36-57%
(2-4)
.
Efusi parapneumonia umumnya dibedakan atas efusi
tanpa penyulit (uncomplicated) dan efusi dengan penyulit
(complicated). Hal ini penting dalam menentukan tindakan
lebih lanjut untuk mengelola efusinya. Tindakan pertama
adalah memilih antibiotik yang tepat sesuai dengan dugaan
etiologinya atau hasil pengecatan dahak/cairan pleura dengan
Gram, dan dipertimbangkan apakah perlu memasang drainase
pipa karet.
Efusi parapneumonia yang tidak mengalami komplikasi
dapat sembuh spontan dengan terapi antibiotik. Efusi
parapneumonia yang mengalami komplikasi memerlukan pe-
ngosongan rongga pleura
(2,5-7)
. Efusi parapneumonia yang
mengalami komplikasi biasanya membentuk lokulus yang
berbentuk tunggal maupun multipel yang akhirnya membentuk
kavitas berisi nanah (empiema) dan merupakan stadium akhir
dari efusi parapneumonia yang mengalami komplikasi
(2,5-10)
.
PATOFISIOLOGI
Akibat aspirasi mikroorganisme ke dalam alveoli sub-
pleura, terjadi migrasi dan mengumpulnya PMN pada endotel
alveoli. Metabolit oksigen, unsur granul, dan posfolipase
membran yang dihasilkan oleh PMN aktif menyebabkan ke-
rusakan endotel paru, subpleura dan pembuluh darah pleura
yang akan meningkatkan permeabilitas kapiler. Akibat per-
bedaan tekanan gradien pleura-interstisial paru maka cairan
mengalir dari interstisium malalui mesotelium ke dalam
rongga pleura. Akumulasi cairan pleura terjadi bila produksi
cairan yang masuk ke rongga pleura melebihi daya absorpsi
sistim limfatik pleura parietalis. Efusi parapneumonia yang
terjadi pada 48-72 jam pertama jumlahnya sedikit dan bersifat
eksudat dengan PMN-predominan yang steril (kebocoran
kapiler/stadium eksudatif)
(2)
. Analisis cairan pleura menunjuk-
kan : pH>7.30, glukosa>60 mg/dl, LDH<500 U/L
(5-7)
.
Bila pneumonia belum diobati, setelah beberapa hari
terjadi kerusakan endotel yang lebih parah disertai sembab
setempat dan terbentuk cairan pleura yang lebih banyak.
namun terus berbiak dan melakukan invasi ke dalam rongga
pleura. Penemuan kuman dengan pengecatan Gram serta
pembiakan cairan pleura, menunjukkan bahwa telah terjadi
invasi kuman dan menjadi persisten di dalam rongga
pleura
(11,12)
. Cairan pleura pada saat invasi bakteri (stadium
fibro-purulen) khas ditandai dengan peningkatan jumlah PMN,
penurunan pH dan kadar glukosa, peningkatan LDH.
Interleukin-8 (IL-8) adalah faktor kemotaksik untuk PMN
pada empiema, dan TNF alfa mungkin berperan dalam meng-
hasilkan IL-8
(13)
. Rasio glukosa pada cairan pleura terhadap
serum menurun sampai <0.5, hal ini disebabkan karena
meningkatnya glikolisis dari PMN dan metabolisme bakteri
(13)
.
Hasil metabolisme glukosa berupa CO
2
dan asam laktat
berakumulasi pada rongga pleura, menyebabkan turunnya pH
sampai <7.1. LDH meningkat, sering sampai >1000 U/L akibat
lisis sel. Juga selama stadium kedua (fibropurulen), cairan
pleura menjadi lebih kental akibat perpindahan plasma protein
ke dalam rongga pleura berkaitan dengan hilangnya aktivitas
fibrinolisis akibat proses keradangan
(14,15)
. Proses tersebut akan
menghasilkan deposisi lapisan fibrin yang padat pada kedua
sisi permukaan pleura dan fibroblast yang aktif bergerak ke
dalam rongga pleura tanpa dirintangi oleh mesotel (yang
rusak) dan mulai mengeluarkan glikosaminoglikan dan
kolagen ke dalam cairan pleura yang mengental. Fibrin dan
kolagen akan membentuk sekat-sekat pada kedua permukaan
pleura sehingga terbentuk lokulasi cairan pleura, keadaan ini
menghambat gerakan paru. Volume cairan pleura dapat
meningkat akibat dari sumbatan pada stoma pleura parietalis
oleh fibrin dan kolagen serta pembengkakan mesotelium.
Tanpa pengobatan, stadium organisasi (empiema) terjadi
beberapa minggu kemudian, menghasilkan kavitas atau
lokulasi multipel yang terbentuk akibat migrasi fibroblast dan
pembentukan matriks fibrin-cairan pleura. Proses ini meng-
hasilkan "peel" pleura yang tidak elastis yang menghambat
drainase cairan pleura dan gerakan ekspansi paru. Penurunan
opsonisasi bakteri akibat berkurangnya komplemen meng-
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 9
hasilkan bakteri yang persisten
(16)
.
Empiema yang tidak diobati tidak dapat sembuh spontan,
drainase dapat melalui dinding dada (empiema necessitatis)
atau melalui paru (fistula bronkopleura). Penanganan yang
rasional adalah mengidentifikasi stadium patofisiologi dan
mencegah progresivitas menjadi empiema
(17)
.
DIAGNOSIS
Identifikasi yang cepat dari penderita efusi parapneumonia
yang mengalami komplikasi akan memberikan hasil yang baik
melalui drainase rongga pleura. Secara klinis, amat sulit
membedakan penderita efusi parapneumonia yang mengalami
komplikasi dengan yang tidak mengalami komplikasi
(2)
.
Penampilan tidak berbeda dalam hal usia, jumlah lekosit, suhu
tubuh, nyeri dada pleuritik atau perluasan pneumonia
(3)
.
Analisis cairan pleura adalah test diagnostik yang amat
berguna dalam menentukan stadium efusi parapneumonia
untuk menentukan terapi. Bila pada saat dilakukan torako-
sentesis didapatkan pus (empiema), pengosongan rongga
pleura harus segera dilakukan. Cairan empiema dapat
menunjukkan patogen tertentu bila bahan diambil dengan
prosedur yang benar, pemeriksaan termasuk biakan kuman
anaerob, penderita belum mendapatkan antimikrobial, dan
rongga pleura tidak multilokulasi
(17)
. Pengecatan Gram yang
positif meskipun cairan nonpurulen, menunjukkan stadium
lanjut dari penyakit dan harus segera dilakukan drainase
(16)
.
Konsentrasi protein cairan pleura, hitung jenis sel, atau
persentase PMN tak dapat membedakan suatu efusi yang
mengalami komplikasi atau tidak
(2,5)
. Pengukuran pH cairan
pleura akan menolong dalam membuat keputusan klinik; pH
7.20-7.30 adalah batas untuk melakukan pengosongan rongga
pleura pada cairan yang bakteri negatif, nonpurulen
(5-7)
. Kadar
glukosa berhubungan langsung dengan pH cairan pleura pada
efusi parapneumonia
(6)
. Asidosis cairan pleura dan rendahnya
kadar glukosa adalah akibat metabolisme bakteri dan
fagositosis PMN
(15)
. pH < 7.00, glukosa < 40 mg/dl dan LDH
>1000 U/L menunjukkan efusi parapneumonia yang meng-
alami komplikasi
(2)
. pH
7.30 akan memberikan hasil yang
baik hanya dengan terapi antibiotik. pH < 7.10 memerlukan
drainase segera untuk mencegah terjadinya sepsi dan fibrosis
pleura
(16)
.
Analisis retrospektif menemukan bahwa 13 dari 16
penderita efusi parapneumonia yang mengalami komplikasi,
pH < 7.20, pencegahan Gram positif atau biakan kuman
positif, sembuh hanya dengan pemberian antibiotika
(9)
. Poe
dkk. mengevaluasi 91 penderita efusi parapneumonia dengan
menggunakan kriteria Light untuk drainase pembedahan,
menyatakan kriteria tersebut mempunyai spesifisitas tinggi
tetapi sensitivitasnya rendah. Ketika mengevaluasi data
berdasarkan kriteria Sahn dan Light yang telah direvisi (efusi
nonkomplikasi : pH
7.30, glukosa > 60 mg/dl dan
LDH<1000 U/L), 18 dari 22 penderita sembuh tanpa
meninggalkan cacat
(8)
.
Parameter biokimia cairan pleura bukan merupakan indi-
kasi absolut untuk melakukan drainase rongga pleura, tetapi
amat berguna sebagai data tambahan. Berdasarkan data
tersebut masuk akal bila terapi permulaan efusi parapneumonia
hanya dengan antibiotik bila cairan pleura mempunyai pH
7.30, glukosa >60 mg/dl dan LDH < 1000 U/L. Bila
pneumonia diobati dengan antibiotika yang sesuai pada tahap
tersebut, tidak diperlukan drainase rongga pleura. Bila cairan
pleura nonpurulen mempunyai pH < 7.10, glukosa < 40 mg/dl,
dan LDH > 1000 U/L diperlukan pengosongan rongga pleura
(tube drainage)
(16)
.
Diperkirakan bahwa efusi parapneumonia yang disebab-
kan oleh pneumococcus, bahkan bila ditemukan kumannya
pada cairan pleura, masih lebih jinak bila dibandingkan dengan
infeksi oleh kuman lain
(2,3,8)
.
Computed tomography
Kegunaan dari X-foto toraks standar pada kelainan pleuro-
pulmonal yang kompleks amat terbatas, meskipun efusi akan
tampak pada X-foto toraks identifikasi terhadap lokulasi amat
sukar.
Pada efusi parapneumonia, CT amat berguna dalam hal :
1. membedakan kelainan parenkim terhadap pleura, 2. meng-
evaluasi kelainan parenkim, 3. menentukan lokulasi, 4. meng-
evaluasi permukaan pleura, dan 5. membantu dalam penentuan
terapi
(16)
.
Tidak semua penderita efusi parapneumonia dengan kom-
plikasi memerlukan pemeriksaan CT toraks, tetapi berguna
pada penderita efusi komplikasi dengan lokulasi untuk per-
timbangan terapi, yang akan menurunkan morbiditas, morta-
litas maupun lamanya rawat tinggal
(16)
.
PENATALAKSANAAN
Antibiotika
Pemberian antibiotika secara dini pada pneumonia akan
mengurangi terjadinya efusi parapneumonia dan perubahan
lebih lanjut dari efusi nonkomplikasi ke arah efusi terkompli-
kasi melalui pengurangan kerusakan kapiler dan pembersihan
bakteri dari rongga pleura secara cepat
(11)
.
Terdapat sedikit perbedaan penetrasi antara penisilin dan
sepalosporin ke dalam epiema dan cairan parapneumonia
noninfeksi. Obat-obatan yang menunjukkan penetrasi pleura
terbaik adalah aztrenam, klindamisin dan siprofloksasin,
cephalothin, dan penisilin dengan rasio cairan pleura terhadap
serum mencapai 79-167%, 1 sampai 4,5 jam setelah pemberian
dosis tunggal atau terbagi. Aminoglikosida tidak aktif atau
kurang penetrasi ke dalam empiema dibandingkan pada efusio
parapneumonia nonkomplikasi. Inaktivasi terjadi akibat eksu-
dat purulen, asidosis cairan pleura atau lingkungan dengan PO
2
yang rendah
(16)
.
Penelitian komparatif antibiotika pada empiema belum
pernah dilakukan. Berdasarkan organisme penyebab empiema,
kuman anaerob, kuman aerob Gram negatif, dan stafilokokus,
terapi tunggal dengan imipenem atau ticarcilin-asam klavu-
lanat atau terapi kombinasi dengan klindamisin dan ceftazi-
dime atau klindamisin dan aztreonam dapat diterima untuk
pemilihan antibiotik secara empiris
(16)
.
Bila cairan berbau busuk atau pengecatan Gram positif,
alternatif terhadap aminoglikosida perlu dipikirkan.
Lama pemberian antibiotik tergantung pada keadaan
klinik penderita. Efusi nonkomplikasi harus diobati berdasar-
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
10
kan etiologi pneumonia tanpa eskalasi dosis atau peningkatan
lamanya pengobatan. Penderita empiema harus mendapatkan
terapi lebih lama (beberapa minggu), seperti halnya pada abses
paru. Karena kebanyakan empiema disebabkan oleh kuman
anaerob, klindamisin oral atau penisilin harus diberikan terus
selama waktu pengobatan setelah antibiotika parenteral
dihentikan
(16)
.
Chest tubes
Untuk drainase rongga pleura, pilihan standar yang
dipakai adalah tube thoracostomy dengan memakai chest tube.
X-foto lateral dekubitus akan memperjelas bahwa efusi tidak
lokulasi. Pada efusi nonpurulen dengan petanda biokimia yang
diduga mengalami komplikasi, pemasangan chest tube akan
cepat mengosongkan rongga pleura dan paru cepat
mengembang serta mencegah terjadinya kavitas empiema.
Chest tube harus diambil bila cairan menjadi serous dan
jumlahnya < 50 ml/hari
(16)
.
Setelah dilakukan pemasangan, dilakukan X-foto toraks
posisi PA dan lateral atau CT untuk evaluasi letak chest tube;
salah letak dari chest tube, harus dipikirkan bila febris tidak
membaik, nyeri dada persisten, dan drainase yang minimal.
Pada lokulasi multipel diperlukan drainase yang lebih agresif
melalui empiektomi dan dekortikasi
(18)
.
Torakoskopi
Peranan torakoskopi pada penanganan empiema masih
diperdebatkan karena hasilnya masih tergantung pada stadium
empiema dan saat intervensi dilakukan
(16)
, tetapi debridement
dan irigasi pleura pada 30 orang penderita empiema membawa
hasil yang memuaskan pada 12 penderita, sedangkan sisanya
memerlukan tindakan lebih lanjut
(19)
.
Dekortikasi
Sepsis pleural yang persisten menunjukkan keadaan
fibropurulen yang lanjut atau tahap organisasi dari efusi
parapneumonia, memerlukan tindakan drainase pembedahan
atau empiektomi/dekortikasi
(20,21)
.
Penderita efusi lokulasi mempunyai volume cairan yang
lebih besar, waktu rawat tinggal yang lebih lama dan sering
memerlukan tindakan tube thoracostomy dibandingkan
penderita efusi nonlokulasi. Keadaan pH < 7.20, LDH > 1000
U/L dan glukosa < 40 mg/dl berhubungan dengan lokulasi
tetapi tidak berkaitan dengan empiema. Terdapat hubungan
antara ketebalan pleura parietalis dan luasnya perbaikan pleura
dengan stadium empiema. Bila tebal pleura parietalis > 4 mm,
diperlukan tindakan dekortikasi
(22)
. Dekortikasi lebih superior
terhadap drainase terbuka pada penderita yang memerlukan
operasi besar, dengan penurunan lama rawat tinggal. Secara
keseluruhan morbiditas lebih rendah dengan dekortikasi bila
dibandingkan dengan drainase terbuka dan drainase melalui
chest tube
(23)
.
Dekortikasi/empiektomi merupakan tindakan yang dipilih
pada keadaan trapped lung atau lokulasi multipel sehingga
menghambat drainase cairan pleura. Bila dekortikasi dikerja-
kan dalam 2 minggu dari infeksi rongga pleura, lapisan pleura
visceralis biasanya mudah dilepaskan terhadap paru, penderita
dipulangkan setelah perawatan 7-10 hari
(16)
.
RINGKASAN
Pendekatan analitik terbaik untuk mendiagnosis serta
modalitas terapi yang optimal untuk efusi parapneumonia yang
mengalami komplikasi, masih kontroversial. Petanda dini
untuk mengetahui apakah cairan pleura sudah mengalami
komplikasi masih diperdebatkan.
Faktor terpenting dalam menentukan perbaikan efusi
parapneumonia adalah waktu antara gejala awal dan terapi
yang diberikan meskipun efusi parapneumonia yang dini
belum memberikan komplikasi.
Torakosentesis harus dikerjakan bila dicurigai adanya
efusi parapneumonia, analisis cairan pleura akan membantu
menentukan tindakan selanjutnya. Drainase rongga pleura
memakai kateter atau chest tube untuk efusi nonpurulen akan
mencegah terjadinya sepsis dan progresivitas ke arah empie-
ma. Bila terjadi rongga pleura dengan lokulasi multipel, perlu
tindakan yang lebih agresif untuk drainase cairan, biasanya
dengan empiektomi dan dekortikasi, kecuali pada penderita
dalam keadaan buruk, lebih baik dengan drainase terbuka.
KEPUSTAKAAN
1.
Light RW. Disorders of the pleura. In Textbook of Respiratory Medicine.
Editor : Murray, Nadel. WB Saunders Company, 1998 : 1703-44.
2. Light Rw, Girard WM, Jenkinson SG, George RB. Parapneumonic
effusions. Am J Med. 1990; 69 : 507-12.
3.
Taryle DA, Potts DE, Sahn SA. The incidence and clinical correlates of
parapneumonic effusions in pneumococcal pneumonia. Chest 1978; 74 :
170-3.
4.
Bartlett JG, Finegold SM. Anaerobic infections of the lung and pleural
space. Am Rev Respir Dis. 1974; 110: 56-77.
5. Potts DE, Levin DC, Sahn SA. Pleural fluid pH in parapneumonic
effusions. Chest 1976; 70: 328-31.
6. Light RW, Mac Gregor MI, Ball WC Jr, Luchsinger PC. Diagnostic
significance of pleural fluid pH and pCO2. Chest 1973; 64 : 591-6.
7. Potts DE, Taryle DA, Sahn SA. The glucose-pH relationship in
parapneumonic effusion, Arch Intern Med 1978; 138 : 1378-80.
8. Poe RH, Marin MG, Israel RH, Kallay MC. Utility of pleural fluid
analysis in predicting tube thoracostomy/decortication in parapneumonic
effusions. Chest 1991; 100: 963-7.
9.
Berger HA, Morganroth ML. Immediately drainage is not required for all
patients with complicated parapneumonic effusions. Chest 1990; 97:
731-5.
10. Strange C, Sahn SA. The clinician's perspective on parapneumonic
effusions and empyema. Chest 1992; 103: 259-61.
11. Antony VB, Hadley KJ, Sahn SA. Mechanisms of pleural fibrosis in
empyema: pleural macrophage-mediated inhibition of fibroblast
ploriferatiion. Chest 1989; 95S: 230-1.
12. Sahn SA, Taryle DA, Good JT Jr. Experimental empyema: timecourse
and pathogenesis of pleural fluid acidosis and low pleural fluid glucose.
Am Rev Respir Dis 1983; 128: 811-5.
13. Broadsus VA, Hebert CA, Vitangcol RV, et al. Interleukin-8 is a major
neutrophil chemotactic factor in pleural liquid of patients with empyema.
Am Rev Respir Dis 1992; 146: 825-30.
14. Sahn SA, Reller RB, Taryle DA, Antony VB, Good JT Jr. The
contribution of leucocytes and bacteria to the low pH of empyema fluid.
Am Rev Respir Dis 1983; 128: 811-5.
15. Idell S, Girard W, Koening KB, McLarty J, Fair D. Abnormalities of
pathways of fibrin turnover in the human pleural space. Am Rev Respir
Dis 1991; 144: 187-94.
16. Sahn SA. Management of complicated parapneumonic effusions. Am
Rev Respir Dis 1993; 148: 813-17.
17. Bartlett JG, Gorbach SL, Thadepalli H, Finegold SM. Bacteriology of
empyema. Lancet 1974; 1: 338-40.
18. Stark DD, Federle MP, Goodman PC. CT and radiographic assessment
of tube thoracostomy. AJR 1983; 141: 253-8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 11
19. Ridley PD, Brainbridge MV. Thoracoscopic debridement and pleural
irrigation in the management of empyema thoracis. Ann Thorac Surg
1991; 51: 461-4.
21. Van Way C Narrod J, Hopeman A. The role of early limited thoracotomy
in the treatment of empyema. J Thirac Cardiovasc Surg 1998; 96: 436-9.
22. Himmelman RB, Callen PW. The prognostic value of loculations in
parapneumonic pleural effusions. Chest 1986; 90: 852-6.
20. Lemmer JH, Botham MJ, Orringer MB. Modern management of adult
thoracic empyema. J Thorac Cardiovasc Surg 1985; 90: 849-55.
23.
Asbaugh DG. Empyema thoracis. Factors influencing morbidity nd
mortality. Chest 1991; 99: 1162-5.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
12