background image
HASIL PENELITIAN
Efek Pemberian Minuman
Karbohidrat Berelektrolit Selama
Latihan Sepeda Terhadap
Perubahan Metabolisme
Karbohidrat Dalam Suasana Panas
dan Lembab Tinggi
Dr. Gusbakti Rusip, MSc
Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, Medan
PENDAHULUAN
Konsumsi minuman karbohidrat berelektrolit dapat mem-
pertahankan kadar glukosa darah dan rehidrasi cairan yang ke-
luar melalui keringat berlebihan selama latihan dalam cuaca
panas dan lembab tinggi
(1,2,3)
.
Pengambilan glukosa oleh otot selama latihan dapat me-
ningkat 30­40 kali lipat dibandingkan tanpa melakukan aktivitas
fisik/latihan. Ini tergantung pada intensitas dan lamanya latihan
yang dija1ankan
(4,5)
. Peningkatan ini dapat dicapai dengan meng-
aktifkan mekanisme membran yang terlibat dalam pengangkutan
glukosa serta enzim-enzim yang bertanggung jawab terhadap
pelepasan glukosa. Faktor-faktor yang berperan antara lain jumlah
dan aktivitas penghantaran glukosa melalui membran, sarkoplas-
mik kalsium, insulin, tahap subtrak dalam otot dan peredaran da-
rah serta cadangan glukosa
(6)
. Peningkatan pemakaian glukosa
tepi selama latihan sebanding dengan pengeluaran glukosa dari
hati. Pada tahap permulaannya terjadi proses glikogenolisis, se-
lanjutnya bila latihan ditingkatkan lagi, proses glukoneogenesis
berperan, proses ini memerlukan bahan pelopor (prekusor) glu-
kogenik yaitu asam laktat, piruvat, gliserol dan alanin
(6)
. Pada
latihan berkepanjangan secara kontinu selama beberapa jam, pe-
ngeluaran glukosa hati menurun, sehingga tidak dapat memper-
ABSTRAK
Pemberian minuman karbohidrat berelektrolit selama latihan dapat mempertahankan
kadar glukosa darah selama melakukan aktivitas fisik/latihan, di samping itu dapat
luar melalui keringat selama latihan. Tujuan
sebagai bahan pengganti dari cairan yang ke
penelitian adalah untuk melihat efek pemberian
elektrolit terhadap perubahan metabolisme k
tinggi.
suplementasi minuman karbohidrat ber
arbohidrat dalam suasana panas dan lembab
r
an dalam penelitian ini. Selama peneliti
suhu 31 1 ± 0.1°C dan lembab relatif 91.2 ±
beda, setiap subjek diberi salah satu jenis
, 12% (HC) atau minuman tanpa karbohidrat
an diberikan secara buta ganda.
g
a darah dan insulin meningkat secara
Sepuluh sukarelawan laki-laki diikut se tak
an subjek mengayuh sepeda ergometer pada
0.9%. Dijalankan dalam tiga waktu yang ber
minuman karbohidrat berelektrolit 6% (MC)
(plasebo) setiap 20 menit sampai kelelahan d
Hasil penelitian ini menunjukkan kadar lukos
bermakna berbanding dengan plasebo sedangkan kadar hormon pertumbuhan dan kor
tisol tidak didapati perbedaan terhadap ketiga jenis minuman selama latihan sampai
kelelahan.
Kata kunci: kadar glukosa darah, insulin, hormon pertumbuhan dan kortisol.
Disampaikan dalam Seminar Ilmiah Nasional X Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia
(IAIFI), Semarang, Oktober 1995.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
8
background image
tahankan pemakaian glukosa tepi dan menyebabkan hipogli-
kemia
(7)
. Pengekalan hemostasis peredaran glukosa darah
penting untuk fungsi sistem saraf pusat dan otak. Sebenarnya
60% glukosa hati dipergunakan sebagai bahan bakar untuk
metabolisme otak pada manusia
(8)
.
Penurunan kadar glikogen otot bergantung kepada beberapa
faktor, termasuk nutrisi sebelum latihan, intensitas dan bentuk
latihan, keadaan latihan serta suhu sekitarnya
(9)
. Subjek yang
mengambil makanan kaya dengan karbohidrat cenderung meng-
gunakan sebagian besar tenaga dan karbohidrat selama latihan
steady-state
(10)
. Mekanisme peningkatan pemecahan glikogen
otot sesudah pemberian makanan kaya dengan karbohidrat, di-
hubungkan dengan peningkatan aktivitas asetil koenzim A
yang menghambat oksidasi asam lemak bebas.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, mekanisme
pengaturan peningkatan pengambilan glukosa oleh otot selama
latihan, mempengaruhi beberapa faktor antara lain:
1. translokasi pengangkutan glukosa dari tempat simpanan
intrasel ke membran plasma
(10)
.
2.
peningkatan aktivitas pengangkutan membran yang
tersedia dan sarkoplasmik kalsium yang bertanggung jawab
terhadap pe rangsangan mekanisme pengangkutan glukosa
(11)
.
Telah lama diketahui bahwa tahap insulin tertentu diperlu-
kan untuk pengambilan glukosa oleh otot
(12)
, ternyata bahwa ta-
hap insulin plasma akan menurun selama latihan
(13)
. Walaupun
dapat juga dinyatakan bahwa pengangkutan dan pengambilan
glukosa meningkat selama kontraksi otot tanpa adanya insu-
lin
(14)
.
TUJUAN
Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh pemberian
minuman karbohidrat berelektrolit dan plasebo terhadap meta-
bolisme karbohidrat dalam suasana panas dan kelembaban tinggi.
BAHAN DAN CARA
1) Subjek
Sepuluh sukarelawan tentara laki-laki telah mengambil ba-
gian dalam penelitian ini. Dijalankan di Laboratonum Fisologi
Olahraga Pusat Pengajian Sains Perubatan Universiti Sains
Malaysia.
2) Peralatan
Sepeda ergometer (Lode NVL-77), Spektrofotometer
(Microflow, Shimazu CL-750), Gamma counter dan
temperature probe (Libra Medical ET 300).
Protokol penelitian
Puasa 10­l2 jam sebelum ujian. Suhu rektal dan kulit (dada,
lengan atas, paha dan betis) diukur dengan temperature probe.
Kateter infus dimasukkan ke vena lengan bawah bagian dorsal
dan tetap dipertahankan dengan hepanin salin (10 unit/ml), darah
diambil sebelum, selama dan akhir percobaan sebanyak 10 ml
setiap 20 menit sampai kelelahan. Sebelum latihan pemanasan
subjek diberi minuman 3 ml/kgbb. Latihan pemanasan 5 menit
pada VO
2max
50%; segera sesudah pemanasan beban kerja di-
tingkatkan VO
2max
60% sampai terjadi kelelahan.
Cara penelitian
Setiap subjek dikehendaki mengayuh sepeda ergometer
dalam tiga waktu yang berbeda dengan jarak 2­3 minggu
dalam keadaan panas (31°C) dan lembab tinggi (91%).
Setiap subjek dibagi tiga kali percobaan, kepada masing-
masing 10 subjek diberi minuman salah satu dari karbohidrat
berelektrolit 6% (MC) dan karbohidrat berelektrolit 12% (HC),
plasebo (P) tanpa karbohidrat tetapi mengandung gula tiruan
yaitu aspartame diberikan secara double blind, sebanyak 3
ml/kgbb setiap 20 menit sampai kelelahan. Ketiga minuman
yang diberikan dalam bentuk minuman komersil, yang telah
dianalisis kandungan karbohidrat dan elektrolitnya (Tabel 1).
Tabel 1. Komposisi kandungan minuman yang diberikan.
Komposisi
minuman
Unit HC MC P
Osmolalitas (mOsm.l
-1
)
684.0 ± 1.4
325.0 ± 1.4
38.0 ± 1.3
Glukosa (g.1
-
')
71.6± 2.2
20.5 ± 1.4
0.0
Sukrosa
(g.P)
45.7 ± 1.2
39.1 ± 0.9
0.0
Natrium (mmol.l
-
')
21.1 ± 0.2
21.1 ± 0.0
3.4 ± 0.1
Kalium (mmol.l
-
')
3.4 ± 0.0
3.5 ± 0.1
0.0
Klorida (mg.l
-1
)
390.0 ± 1.9
391.0 ± 1.9
0.0
Kalsium (mg.l
-1
)
28.1 ± 0.4
28.2 ± 0.3
23.2 ± 0.6
pH
3.7 ± 0.0
3.7 ± 0.0
2.9 ± 0.0
Sewaktu percobaan dijalankan, subjek mengayuh sepeda
ergometer pada beban kerja VO
2max
60% dengan kecepatan di-
pertahankan pada 60 rpm sampai kelelahan (yaitu apabila subjek
tidak dapat mempertahankan kecepatan antara 30­60 rpm).
Setiap subjek yang mengambil bagian dalam penelitian ini
dinasihatkan tidak melakukan olahraga berat selama tiga hari
sebelum percobaan dilakukan.
Untuk memastikan tahap fitness yang sama semasa
percobaan, subjek dianjurkan untuk mempertahankan latihan
antara waktu 2­3 minggu sebelum percobaan berikutnya.
Analisis biokimia darah
Setiap sampel darah vena (10 ml) yang diambil dipisahkan
dua bagian. Lima mililiter dimasukkan ke dalam tabung yang
berisi antikoagulan litium hepanin sedangkan sisanya dimasuk-
kan ke dalam tabung yang benisi antikoagulan natium fluorid,
sampel ini disentrifuge selama 5 menit pada 6000 rpm dan suhu
4°C, plasma yang diperoleh disimpan pada suhu ­20°C untuk
analisis insulin, hormon pertumbuhan dan kortisol; sedangkan
tabung yang berisi natrium fluorida untuk analisis glukosa plasma
memakai kit komersil (Bohringer Mannheim Gmbh, Perido-
chrom Glucose) dan absorbannya diukur dengan spektrofoto-
meter (Microflow, Shimadzu CL-750). Hormon insulin dan
kortisol dianalisis dengan kit komersil radioimunoasai dengan
metode Cout-A-Count (Diagnostic Product Corporation), se-
dangkan honmon pertumbuhan dengan metode Double
antibody (Diagnostic Product Corporation). Kesemuanya
diukur dengan menggunakan gamma counter.
Analisis statistik
Perubahan metabolisme karbohidrat selama latihan berse-
peda terhadap ketiga jenis minuman, dianalisis dengan analysis
of variance (ANOVA) dan Test-t (Student's t-test). Uji statistik
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
9
background image
dijalankan dengan menggunakan program komputer Statistical
Package for Social Sciences (SPSS). Pada tahap probabiliti ku-
rang dari 0.05 (p <0,05) dianggap mempunyai perbedaan yang
signifikan secara statistik. Data yang diperoleh dalam bentuk
rata-rata ± SE.
HASIL PENELITIAN
1) Subjek
Nilai rata-rata (± SE) untuk umur, berat badan, tinggi badan
bagi subjek masing-masing adalah 24.6±0.3 tahun, 60.7±2.3 kg
dan 166.3±0.5cm sedangkan VO
2max
44.6+0.5 ml.kg
-1
.men
-1
.
2) Perubahan kepekatan plasma glukosa
Kepekatan plasma glukosa sebelum pemberian MC, HC dan
P masing-masing adalah 4.4 ± 0.1 mmol.l
-1
, 4.5 ± 0.2 mmo1.l
-1
4.5 ± 0.2 mmol.l
-1
dan tidak mempunyai perbedaan secara
signifikan (Gambar 1). Berbanding dengan P, kepekatan plasma
gluko terhadap kedua jenis minuman MC dan HG meningkat
secara signifikan pada menit ke-20 paras glukosa bagi MC me-
ningkat pada 5.2 ± 0.2 mmol.l
-1
vs 4.3 ± 0.1 mmol.l
-1
p <0.05,
sedangkan untuk minuman HC 5.5 ± 0.3 mmol.l
-1
vs 4.3 ± 0.1
mmol.l
-1
, p >0.01). Sesudah itu kedua-duanya bertahan hingga
akhir percobaan. Pada minuman MC dan HC terdapat peningkat-
an kepekatan plasma glukosa mengikuti waktu yang signifikan
(ANOVA, p <0.001), tetapi bagi minuman P. kepekatan plasma
glukosa menurun secara signifikan selama latihan (ANOVA,
p < 0.01) dan mencapai nilai 4.1 ± 0.2 mmol.1
-1
pada waktu
kelelahan.
Gambar 1. Kepekatan plasma glukosa (mmol.l selama latihan rata-rata
± SE.
3) Perubahan Kepekatan plasma insulin
Perubahan kepekatan plasma insulin untuk ketiga-tiga per-
cobaan dapat diperlihatkan pada Gambar 2. Sebelum pemberi-
an minuman, kepekatan plasma insulin untuk MC, HC dan P
masing-masing adalah 9.1 ± 0.4 µU.ml
-1
, 11.4 ± 0.7 µU.ml
-1
dan
9.7 ± 0.4 µU.ml
-1
. Ketiga nilai ini tidak mempunyai perbedaan
yang signifikan. Dibandingkan dengan minuman P kepekatan
plasma insulin meningkat secara signifikan pada menit ke-20
untuk MC (9.9 ± 1.1 µU.ml
-1
vs 7.0 ± 0.7 µU.ml
-1
p <0.05) dan
HC (15.77 ± 2.1 µU.ml
-1
vs 7.0 ± 0.7 µU.ml
-1
, p < 0.0l). Sesudah
itu kepekatan plasma insulin menurun pada menit ke-40 tetapi
masih signifikan lebih tinggi untuk MC (8.4 ± 0.9 µU.ml
-1
vs
6.2± 0.9 µU.m1
-1
, p < 0.05) dan HC (12.4 ± 1.2 µU.ml
-1
vs 6.2±
0.9 µU.m1
-1
, p <0.01). Pada waktu kelelahan kepekatan plasma
insulin mencapai tahap 8.4 ± 0.8 µU.m1
-1
untuk MC dan 11.7 ±
1.0 µU.ml
-1
untuk HG. Peningkatan kepekatan plasma insulin
selama latihan adalah signifikan bagi MC (ANOVA, p <0,05)
dan HC (ANOVA, p <0.001), sedangkan untuk minuman P
kepekatan plasma insulin menurun secara signifikan sehingga
akhir latihan (ANOVA, p <0.05).
Gambar 2. Kepekatan plasm Insulin (µU.ml
-1
) selama latihan rata-rata ±
SE.
4) Perubahan kepekatan hormon pertumbuhan dan kortisol
Perubahan respon hormon pertumbuhan terhadap ketiga-
tiga minuman ditunjukkan pada Tabel 2. Apabila dibandingkan
dengan nilai sebelum latihan kepekatan hormon pertumbuhan
terhadap ketiga jenis minuman meningkat pada akhir latihan
(MC, p<0.01; HC, p<0.001; P, p<0.01). Walau bagaimanapun
tidak ada perbedaan bermakna terhadap hormon pertumbuhan di
antara ketiga-tiga minuman.
Kepekatan hormon kortisol plasma juga lebih tinggi (p <
0.001) terhadap ketiga minuman pada akhir percobaan diban-
dingkan dengan sebelum latihan dijalankan. Walau bagaimana
pun tidak ada perbedaan bermakna terhadap ketiga minuman.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
10
background image
Tabel 2. Kepekatan plasma hormon pertumbuhan dan kortisol selama
latihan
(nilai
purata
±
piawai).
Plasma hormon
Jenis
minuman
Sebelum latihan
Akhir latihan
Hormon pertumbuhan
MC
8.0 ± 2.4
30.2 ± 7.2**
(mU.I
-1
) HC
6.3±
1.9
29.6±4.7***
P
4.6± 1.4
35.1 ±6.9**
Hormon kortisol
MC
306.2 ± 29.2
507.7 ± 46.4***
(nmol.1
-1
) HC
303.6±32.1
518.8±47.5***
P
309.5±29.8
495.0±39.6***
Keterangan:
** p < 0.01 : p < 0.001 berbanding dengan sebelum lutihan.
PEMBAHASAN
Dalam kajian ini pemberian minuman karbohidrat berelek-
trolit dan plasebo pada setiap subjek sebanyak 3 ml kg/bb
setiap 20 menit. Jumlah volume minuman lebih penting karena
kadar pengosongan saluran pencernaan juga dipengaruhi oleh
volume dan kepekatan minuman
(16)
.
Dalam penelitian ini yang berlangsung dalam suasana panas
dan lembab tinggi kepekatan glukosa adalah lebih tinggi pada
HC berbanding dengan MC (Gambar 1). Sewaktu latihan terjadi
penurunan glukosa karena meningkatkan penggunaan glukosa
oleh otot dan kemungkinan kadar pengosongan lambung yang
lambat. Pengaturan kadar glukosa dalam darah dipengaruhi oleh
kepekatan insulin, hormon kortisol, hormon pertumbuhan dan
adrenalin. Dalam kajian ini insulin plasma semasa senaman
adalah rendah (Gambar 2), ini kemungkinan dipengaruhi oleh
peningkatan kortisol dan noradrenalin di dalam darah yang
mengakibatkan pelepasan insulin dihambat
(15)
. Kepekatan insu-
lin yang rendah semasa senaman juga membantu meningkatkan
lipolisis jaringan adipos secara tidak langsung dan mungkin
menggantikan penggunaan glukosa oleh jaringan. Dengan kata
lain, penggunaan lemak sebagai bahan pengganti karbohidrat
dan terjadi penghematan glukosa yang banyak, sehingga kadar.
glukosa dapat dipertahankan melalui proses ini selama aktivitas
fisik/latihan. Dengan minuman plasebo, kepekatan glukosa da-
rah menurun berbanding dengan sebelum latihan, tetapi masih di
atas kadar hipoglisemi (yaitu > 2.5 mmol.l
-1
) Dalam penelitian
ini nilai glukosa pada akhir latihan dengan minuman plasebo
adalah 4.1 ±0.2 mmol.l
-1
.
Walaupun ketiga-tiga percobaan ini dijalankan dalam suasana
panas, hal ini tidak meningkatkan kadar glikogenolisis otot oleh
karena cadangan karbohidrat endogen mungkin lebih banyak.
Keadaan ini telah diuraikan oleh Yaspelkis, dkk (1993) dengan
mengukur kepekatan glikogen otot
(17)
. Hasil yang sama juga di-
dapati oleh Young, dkk (l985)
(18)
dan Nielsen, dkk (l990)
(19)
.
Pemberian minuman berkarbohidrat selama latihan mungkin
mengakibatkan berkurangnya glikogenolisis dan glukogenesis
hati
(20)
, hal ini memungkinkan terjadi penghematan glikogen
hati sehingga dapat mempertahankan kadar glukosa.
Dalam penelitian ini, hormon kortisol dan pertumbuhan di-
tentukan pada akhir latihan. Hasil yang diperoleh dan ketiga
minuman yang diberikan menunjukkan peningkatan lebih ku-
rang sama baik hormon kortisol maupun pertumbuhan (Tabel 2).
Kedua hormon ini memberi pengaruh yang lebih besar terhadap
stres fisologi dan psikologi, dimana hormon ini akan terangsang
oleh respon latihan yang berterusan. Secara faali, kedua hormon
ini mengatur penghasilan glukosa hati selama latihan. Dalam
kajian ini, pemberian minuman berkarbohidrat tidak mem
pengaruhi peningkatan plasma kortisol maupun pertumbuhan,
hal ini hampir sama dengan penelitian terdahulu dengan latihan
larian pada tredmil selama dua jam
(21)
. Ini juga didukung oleh
penelitian yang dijalankan oleh Francesconi, dkk (1985) dan
Tsintzas, dkk (1993)
(22,23)
.
KESIMPULAN
Pemberian minuman karbohidrat berelektrolit selama latih-
an sepeda dalam suasana panas dan lembab tinggi nampaknya
banyak membantu mempertahankan kadar glukosa darah;
glukosa darah ini merupakan sumber energi yang. diperlukan
untuk kontraksi otot, di samping itu juga mengekalkan
hemostasis peredaran glukosa darah adalah penting untuk
fungsi sistem saraf pusat dan otak.
KEPUSTAKAAN
1. Costill DL, Miller JM. Nutrition for endurance sport: carbohydrate and
fluid balance. Int. J. Sport.s Med. 1980; 1: 2­14.
2. Coyle EF. Coggan AR. Effectiveness of carbohydrate feeding in delaying
fatigue during prolonged exercise. Sports Med. 1984;I: 446­58.
3. Nielsen B. Dehydration, rehydration and thermoregulation. Med Sport Sci.
1984; 17: 81­96.
4. Katz A, Boberg S. Sahlin K, Wahren J. Leg glucose uptake during maximal
dynamic exercise in humans. Am. J. Physiol. 1986; 25 1(1): E65­E70.
5. Wahren J, Ahlborg G, Felig P. Jorfeldt L. Glucose metabolism during
exercise in man. In: Muscle metabolism during exercise (Pernow, B &
Sakin. B.. Eds). London: Plenum Press, 1971; pp 189­204.
6. Holloszy JO. Costable SH. Young DA. Activation of glucose transport in
muscle by exercise. Diabetes Metabolism Rev. 1986; 1(4): 409­23.
7. Felig O, Cherif A. MinigawaA. Wahren J. Hypoglycemiaduring prolonged
exercise in normal men. N. Engl. J. Med. 1982; 306(15): 895­900.
8. Astrad PO, Rodahl K. Textbook of work physiology. Physiological bases
of exercise. In: Nutrition and Physical Performance 3rd ed. New York:
McGraw-Hill Inc. 1986; pp 549­50.
9. Costill DL. Carbohydrate for exercise: Dietary demands for optimal
performance. Int. J. Sport. Med. 1988; 9(1): 1­18.
10. Christensen EH. Hansen O. Arbeitsfahigkeit undernahrung. Scand. Arch.
Physiol. 1939: 81: 160­71.
11. Plough 1, Galbo H, Vinten J, Jorgensen M, Richter EA. Kinetics of
glucose transport in rat muscle: Effects of insulin and contractions. Am. J.
Physiol. 1987; 253(6): E12­E20.
12. Hargreaves M. Skeletal muscle carbohydrate metabolism during exercise.
Austr. J. Sc. Med. Sports 1990; 22(2): 1­4.
13. Berger M; Hagg S. Ruderman NB. Glucose metabolism in perfused
skeletal muscle. Interaction of insulin and exercise on glucose uptake.
Biochem. J. 1975; 146(1): 231­38.
14. Pruett ED. Glucose and insulin during prolonged work stress in men living
on different diets. J. Appl. Physiol. 1970; 28(2): 199­208.
15. Plough T, Galbo H, Richter Increased muscle glucose uptake during
contraction: no need for insulin. Am. J. Physiol. 1984; 247(6): E726­73 I.
16. Coyle EF. Coggan AR, Hemmert MK. Ivy JL. Muscle glycogen utilization
during prolonged sternuous exercise when fed carbohydrate. J. Appl.
Physiol. 1986; 61(1): 165­72.
17. Hagendall J, Hartley LH, Saltin B. Arterial noradrenaline concentration
during exercise in relation to the relative work levels. Scand. J. Clin. Lab.
Invest. 1970: 26(4): 337­42.
18. Young AJ, Sawka MN. Levine L, Cadarette BS, Pandolf KB. Skeletal
muscle metabolism during exercise is influenced by heat acclimation. J.
Appl. Physiol. 1985; 59(6): 1929­35.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 11
background image
19. Nielsen B, Savard G, Richter EA. Hargreaves M. Saltin B.Muscle blood
flow and muscle metabolism during exercise and heat stress. J. Appl.
Physiol. 1990; 69(3): 1040­46.
20. Hultman E, Sjoholm H. Substrate availability. In: Knuttgen, Vogel,
Pooriman, hit. Series on Sport Sciences. Bioch. Exerc. 1983: 13: 63­75.
2l. Deutse PA, Singh A, Hofmann A, Moses FM, Chrousos GG. Hormon
responses to ingesting water or a carbohydrate type and concentration.
Am. J. Clin. Nutr. 1992; 51(6): 1054­57.
22. Francesconi RP, Sawka MN, Pandolf KB, Hubbart RW, Yowi S. Plasma
hormonal responses at graded hypohydration le' exercise-heat stress. 3.
Appl. Physiol. 1985; 59(6): 1855­60.
23. Tsintzas K, Liu R, Willaims C, Campell I, Gaitanos H. The effects of
carbohydrate ingestion on performance during a 30 km race. Int. J. Sports.
Nutr. 1983; 3(2): 127­39,
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
12