TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Diagnosis dan Penatalaksanaan
Artritis Reumatoid
Rizasyah Daud
Sub Bagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangkunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit yang
tersebar luas serta melibatkan semua kelompok ras dan etnik di
dunia. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang
ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosif simetrik yang
walaupun terutama mengenai jaringan persendian, seringkali
juga melibatkan organ tubuh lainnya. Sebagian besar penderita
menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang timbul, yang
jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan
persendian dan deformitas sendi progresif yang menyebabkan
disabilitas bahkan kematian dini
(1)
. Walaupun faktor genetik,
hormon sex, infeksi dan umur telah diketahui berpengaruh
kuat dalam menentukan pola morbiditas penyakit ini
(2,3)
,
etiologi AR yang sebenarnya tetap belum dapat diketahui
dengan pasti
(4)
.
GEJALA KLINIS
Gejala klinis utama AR adalah poliartritis yang meng-
akibatkan kerusakan rawan sendi dan tulang di sekitarnya.
Kerusakan ini terutama mengenai sendi perifer tangan dan kaki
yang umumnya bersifat simetris.
Pada kasus AR yang jelas, diagnosis tidak begitu sulit
untuk ditegakkan. Akan tetapi pada masa permulaan penyakit,
seringkali gejala AR tidak bermanifestasi jelas, sehingga
kadang-kadang timbul kesulitan dalam menegakkan diagnosis.
Walaupun demikian, seorang dokter tidak perlu terlalu cepat
menegakkan diagnosis pasti
(5)
; lebih baik menunda diagnosis
AR selama beberapa bulan dari pada gagal mendiagnosis jenis
artritis lain yang seringkali memberikan gejala serupa
(5)
. Pada
penderita harus diberi tahukan bahwa makin lama diagnosis
AR tidak dapat ditegakkan dengan pasti oleh seorang dokter
yang berpengalaman, umumnya akan makin baik pula prog-
nosis AR yang dideritanya.
KRITERIA DIAGNOSIS AR
Kriteria diagnostik AR disusun untuk pertama kalinya
oleh suatu komite khusus dari American Rheumatism Associa-
tion (ARA) pada tahun 1956. Karena kriteria tersebut dianggap
tidak spesifik dan terlalu rurnit untuk digunakan dalam klinik,
komite tersebut melakukan peninjauan kembali terhadap
kriteria klasifikasi AR tersebut pada tahun 1958.
Dengan kriteria tahun 1958 ini seseorang dikatakan
menderita AR klasik jika memenuhi 7 dari 1l kriteria yang
ditetapkan, definit jika memenuhi 5 kriteria, probable jika
memenuhi 3 kriteria dan possible jika hanya memenuhi 2
kriteria saja. Walaupun kriteria tahun 1958 ini telah digunakan
selama hampir 30 tahun, akan tetapi dengan terjadinya per-
kembangan pengetahuan yang pesat mengenai AR, ternyata
banyak dijumpai kesalahan diagnosis atau dapat memasukkan
jenis artritis lain seperti spondyloarthropathy seronegatif, pe-
nyakit pseudorheumatoid akibat deposit calcium pyrophos-
phate dihydrate, lupus eritematosus sistemik, polymyalgia
rheumatica, penyakit Lyme dan berbagai jenis artritis lainya
sebagai AR.
Pembagian AR sebagai classic, definite, probable dan
possible, secara klinis juga dianggap tidak relevan lagi. Hal ini
disebabkan karena dalam praktek sehari-hari, tidak perlu di-
bedakan penatalaksanaan AR classic dari AR definite. Selain
itu seringkali penderita yang terdiagnosis sebagai penderita
AR probable ternyata menderita jenis artritis yang lain.
Walaupun peranan faktor reumatoid dalam patogenesis
AR belum diketahui dengan jelas, dahulu dianggap penting
untuk memisahkan kelompok penderita seropositif dari sero-
negatif. Akan tetapi faktanya, faktor reumatoid seringkali tidak
dapat dijumpai pada stadium dini penyakit atau pembentukan-
nya dapat ditekan oleh disease modifying antirheumatic drugs
(DMARD). Selain itu spesifisitas faktor reumatoid ternyata
Dibacakan pada : Temu Ilmiah Reumatologi 1998, Hotel Millennium,
Jakarta 12 Desember 1998
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 9
tidak dapat diandalkan karena dapat pula dijumpai pada bebe-
rapa penyakit lain. Dua kriteria tahun 1958 yang lain seperti
analisis bekuan musin dan biopsi membran sinovial memerlu-
kan prosedur invasif sehingga tidak praktis untuk digunakan
dalam diagnosis rutin.
Dengan menggabungkan variabel yang paling sensitif dan
spesifik pada 262 penderita AR dan 262 penderita kontrol,
pada 1987 ARA berhasil merevisi kriteria klasifikasi reuma-
toid artritis dalam format yang baru. (Tabel 1)
Tabe1 1. 1987 Revised ARA. Criteria for Rheumatoid Arthritis
1.
Kaku pagi hari
2. Artritis pada 3 daerah persendian atau lebih
3. Artritis persendian tangan
4. Artritis simetris
5. Nodul reumatoid
6. Faktor reumatoid serum positif
7. Perubahan gambaran radiologis
Penderita dikatakan menderita AR jika memenuhi se-
kurang-kurangnya kriteria 1 sampai 4 yang diderita sekurang-
kurangnya 6 minggu.
KONSEP PENGOBATAN AR
Walaupun hingga kini belum berhasil didapatkan cara
pencegahan dan pengobatan AR yang sempurna, saat ini peng-
obatan pada penderita AR ditujukan untuk :
1) Menghilangkan gejala inflamasi aktif baik lokal rnaupun
sistemik.
2) Mencegah destruksi jaringan
3) Mencegah deformitas dan memelihara fungsi persendian
agar tetap dalam keadaan baik.
4) Mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian
yang terlibat agar sedapat mungkin menjadi normal kembali.
Dalam pengobatan AR umumnya selalu dibutuhkan pen-
dekatan multidisipliner. Suatu team yang idealnya terdiri dari
dokter, perawat, ahli fisioterapi, ahli terapi okupasional, peker-
ja sosial, ahli farmasi, ahli gizi dan ahli psikologi, semuanya
memiliki peranan masing-masing dalam pengelolaan penderita
AR baik dalam bidang edukasi maupun penatalaksanaan
pengobatan penyakit ini
(1,6)
. Pertemuan berkala yang teratur
antara penderita dan keluarganya dengan team pengobatan ini
umumnya akan memungkinkan penatalaksanaan penderita
menjadi lebih baik dan juga akan meningkatkan kepatuhan
penderita untuk berobat.
Setelah diagnosis AR dapat ditegakkan, pendekatan per-
tama yang harus dilakukan adalah segera berusaha untuk mem-
bina hubungan yang baik antara penderita dan keluarganya
dengan dokter atau team pengobatan yang merawatnya. Tanpa
hubungan yang baik ini agaknya akan sukar memelihara ke-
taatan penderita untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu
yang cukup lama
(6)
.
PERANAN PENDIDIKAN
Penerangan tentang kemungkinan faktor etiologi, pato-
genesis, riwayat alamiah penyakit dan penatalaksanaan AR
kepada penderita merupakan hal yang amat penting
(6)
. Dengan
penerangan yang baik mengenai penyakitnya, penderita AR
diharapkan dapat melakukan kontrol atas perubahan emo-
sional, motivasi dan kognitif yang terganggu akibat penyakit
ini
(6)
.
Saat ini telah banyak publikasi tentang manfaat pen-
didikan dini pada penderita AR. Salah satu yang banyak dilak-
sanakan di Amerika Serikat dan Kanada adalah The Arthritis
Self Management Program, yang diperkenalkan oleh Lorig
(7)
dkk. dari Stanford University. Peningkatan pengetahuan pen-
derita tentang penyakitnya telah terbukti akan meningkatkan
motivasinya untuk melakukan latihan yang dianjurkan, sehing-
ga dapat mengurangi rasa nyeri yang dialaminya
(6)
.
TREND PENGOBATAN AR SAAT INI
Berbeda dengan trend pada dekade yang lalu, saat ini
banyak di antara para ahli penyakit reumatik yang telah me-
ninggalkan cara pengobatan tradisional yang rnenggunakan
"piramida terapeutik". Beberapa ahli bahkan menganjurkan
untuk rnenggunakan pendekatan step down bridge dengan
rnenggunakan kombinasi beberapa jenis DMARD pada saat
yang dini untuk kemudian dihentikan secara bertahap pada saat
aktivitas AR telah dapat terkontrol
(8,9)
.
Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa penatalaksanaan
yang efektif hanya dapat dicapai bila pengobatan diberikan
pada masa dini
(1)
.
PENGGUNAAN OAINS
Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) umumnya di-
berikan pada penderita AR sejak masa dini, dimaksudkan
untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang seringkali
dijumpai walaupun belum terjadi proliferasi sinovial yang ber-
makna. Selain dapat mengatasi inflamasi, OAINS juga mem-
berikan efek analgesik yang sangat baik
(6)
.
OAINS terutama bekerja dengan menghambat enzim
siklooksigenase sehingga menekan sintesis prostaglandin.
Masih belum jelas apakah hambatan enzim lipooxygenase juga
berperanan dalam hal ini, akan tetapi jelas bahwa OAINS
bekerja dengan cara :
·
Memungkinkan stabilitas membran lisosomal
·
Menghambat pembebasan dan aktivitas mediator infla-
masi (histamin, serotonin, enzim lisosomal dan enzim lainnya).
·
Menghambat migrasi sel ke tempat peradangan
·
Menghambat proliferasi seluler
·
Menetralisasi radikal oksigen
·
Menekan rasa nyeri
Selama ini telah terbukti bahwa OAINS dapat sangat ber-
guna dalam pengobatan AR, walaupun OAINS bukanlah me-
rupakan satu-satunya obat yang dibutuhkan dalam pengobatan
AR. Hal ini disebabkan karena golongan OAINS tidak me-
miliki khasiat yang dapat melindungi rawan sendi dan tulang
dari proses destruksi akibat AR
(1,6)
. Untuk mengatasi proses
destruksi tersebut masih diperlukan obat-obatan lain yang
termasuk dalam golongan DMARD.
EFEK SAMPING OAINS
Semua OAINS secara potensial umumnya bersifat toksik.
Toksisitas OAINS yang umum dijumpai adalah efek samping
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
10
traktus gastrointestinalis terutama jika digunakan bersama
obat-obatan lain, alkohol, kebiasaan merokok atau dalam ke-
adaan stress
(6)
. Usia juga merupakan suatu faktor risiko untuk
mendapatkan efek samping gastrointestinal akibat OAINS.
Pada penderita yang sensitif dapat digunakan preparat OAINS
yang berupa suppositoria, "pro drugs", "enteric coated",
"slow release" atau "non-acidic". Akhir-akhir ini juga sedang
dikembangkan OAINS yang bersifat selektif terhadap jalur
COX-2 metabolisme asam arakidonat. OAINS yang selektif
terhadap jalur COX-2 umumnya kurang berpengaruh buruk
pada mukosa lambung dibandingkan dengan preparat OAINS
biasa.
Efek samping lain yang mungkin dijumpai pada peng-
obatan OAINS antara lain adalah reaksi hipersensitivitas,
gangguan fungsi hati dan ginjal serta penekanan sistem hema-
topoetik.
Selama duapuluh tahun terakhir ini, berbagai jenis OAINS
baru dari berbagai golongan dan cara penggunaan telah dapat
diperoleh di pasaran. Dalam memilih suatu OAINS untuk di-
gunakan pada seorang penderita AR, seorang dokter umumnya
harus memperitmbangkan beberapa hal seperti
·
Khasiat anti inflamasi
·
Efek samping obat
·
Kenyamanan/kepatuhan penderita
·
Biaya
Karena faktor seperti khasiat anti inflamasi, efek anal-
gesik, beratnya efek samping atau biaya dari berbagai jenis
OAINS saat ini umumnya masih tidak jauh berbeda, sejak be-
berapa tahun terakhir ini pilihan OAINS lebih banyak ber-
gantung pada faktor kenyamanan dan kepatuhan penderita
dalam rnenggunakan OAINS
(1,6)
.
PENGGUNAAN DMARD
Pada dasarnya saat ini terdapat dua cara pendekatan pem-
berian DMARD pada pengobatan penderita AR. Cara pertama
adalah pemberian DMARD tunggal yang dimulai dari saat
yang sangat dini. Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran
bahwa destruksi sendi pada AR terjadi pada masa dini
penyakit
(9)
. Brook and Corbett
(10)
, pada penelitiannya mene-
mukan bahwa 90% penderita AR telah menunjukkan gam-
baran erosi secara radiologis pada dua tahun pertama setelah
menderita penyakit. Hasil pengobatan jangka panjang yang
buruk pada sebagian besar penelitian sangat mungkin
disebabkan karena pengobatan baru dimulai setelah masa kritis
ini dilampaui.
Cara pendekatan lain adalah dengan rnenggunakan dua
atau lebih DMARD secara simultan atau secara siklik seperti
penggunaan obat-obatan imunosupresif pada pengobatan pe-
nyakit keganasan
(8)
.
Sebenarnya tidak terdapat batasan tegas mengenai saat
harus mulai rnenggunakan DMARD. Hal ini disebabkan ka-
rena hingga kini belum ada cara tepat untuk dapat mengukur
beratnya sinovitis atau destruksi tulang rawan pada penderita
AR. Dengan demikian, keputusan untuk rnenggunakan
DMARD pada seorang penderita AR akan sepenuhnya ber-
gantung pada pertimbangan dokter yang mengobatinya
(5)
.
Umumnya pada penderita yang diagnosisnya telah pasti,
OAINS harus diberikan segera. Pada penderita yang tersangka
menderita AR yang tidak menunjukkan respons terhadap
OAINS yang cukup baik dalam beberapa minggu, DMARD
dapat dimulai diberikan untuk dapat mengontrol progresivitas
penyakitnya
(5,6)
.
Beberapa jenis DMARD yang lazim digunakan untuk
pengobatan AR adalah :
Klorokuin
Klorokuin merupakan DMARD yang paling banyak
digunakan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena klorokuin
sangat mudah didapat dengan biaya yang amat terjangkau
sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah Indonesia dalam hal
eradikasi penyakit malaria.
Sebagai DMARD, klorokuin memiliki beberapa keter-
batasan. Banyak ahli yang berpendapat bahwa khasiat dan
efektivitas klorokuin agaknya lebih rendah dibandingkan
dengan DMARD lainnya, walaupun toksisitasnya juga lebih
rendah
(11,12)
. Dari pengalaman penggunaan klorokuin di Indo-
nesia diketahui bahwa sebagian penderita akan menghentikan
penggunaan klorokuin pada suatu saat karena merasa bahwa
obat ini kurang bermanfaat bagi penyakitnya
(13)
.
Toksisitas klorokuin sebenarnya tidak perlu terlalu dikha-
watirkan. Klorokuin dapat digunakan dengan aman jika dilaku-
kan pemantauan yang baik selama penggunaannya dalam jang-
ka panjang. Efek samping pada mata, sebenarnya hanya terjadi
pada sebagian kecil penderita saja. Mackenzie and Scherbel
(14)
,
pada penelitiannya telah dapat menunjukkan bahwa toksisitas
klorokuin pada retina bergantung pada dosis harian saja dan
bukan dosis kumulatifnya. Dosis antimalaria yang dianjurkan
untuk pengobatan AR adalah klorokuin fosfat 250 mg/hari atau
hidroksiklorokuin 400 mg/hari. Pada dosis ini jarang sekali
terjadi komplikasi penurunan ketajaman penglihatan. Efek
samping lain yang mungkin dijumpai pada penggunaan anti-
malaria adalah dermatitis makulopapular, nausea, diare dan
anemia hemolitik. Walaupun sangat jarang dapat pula terjadi
diskrasia darah atau neuromiopati pada beberapa penderita
(15)
.
Sulfasalazine
Sulfasalazine (SASP, salicyl-azo-sulfapyridine) diper-
kenalkan untuk pertama kalinya oleh Nana Svartz di Swedia
pada sekitar tahun 1930. Pada mulanya obat ini digunakan
untuk mengobati artritis inflamatif yang diduga disebabkan
karena infeksi, akan tetapi setelah digunakan beberapa waktu,
perhatian terhadap obat ini menurun akibat dipublikasikannya
laporan Sinclair dan Duthine mengenai pengaruh yang kurang
baik pada penggunaan obat ini di Inggris
(16)
. Obat ini kemu-
dian kembali menjadi populer setelah dipublikasikannya lapor-
an McConkey
(17)
Bira
(18)
dan kawan-kawan yang meneliti
kembali khasiat SASP pada penderita AR dengan metodologi
penelitian yang lebih baik.
Untuk pengobatan AR sulfasalazine dalam bentuk enteric
coated tablet digunakan mulai dari dosis 1 x 500 mg/hari,
untuk kemudian ditingkatkan 500 mg setiap minggu sampai
mencapai dosis 4 x 500 mg. Setelah remisi tercapai dengan
dosis 2 g/hari, dosis diturunkan kembali sehingga mencapai 1
g/hari untuk digunakan dalam jangka panjang sampai remisi
sempurna terjadi. Jika sulfasalazine tidak menunjukkan khasiat
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 11
yang dikehendaki dalam 3 bulan, obat ini dapat dihentikan dan
digantikan dengan DMARD lain atau tetap digunakan dalam
bentuk kombinasi dengan DMARD lainnya.
Kurang lebih 20% penderita AR menghentikan peng-
obatan SASP karena mengalami nausea, muntah atau dis-
pepsia. Gangguan susunan syaraf pusat seperti pusing atau
iritabilitas dapat pula dijumpai
(19,20)
. Neutropenia, agranulosi-
tosis dan pansitopenia yang reversibel telah pernah dilaporkan
terjadi pada penderita yang mendapatkan SASP
(21)
. Ruam kulit
terjadi kurang lebih pada 1% sampai 5% dari penderita yang
menggunakan SASP
(20)
. Penurunan jumlah sel spermatozoa
yang reversibel juga pernah dilaporkan walaupun belum per-
nah dilaporkan adanya peningkatan abnormalitas foetus
(20)
.
D-penicillamine
D-penicillamine (DP) mulai meluas penggunaannya sejak
tahun tujuhpuluhan
(6)
. Walaupun demikian, karena obat ini be-
kerja sangat lambat, saat ini DP kurang disukai untuk diguna-
kan dalam pengobatan AR. Umumnya diperlukan kurang lebih
satu tahun untuk dapat mencapai keadaan remisi yang adekuat,
dan rentang waktu ini dianggap terlalu lama bagi sebagian
besar penderita AR.
Dalam pengobatan AR, DP (Cuprimin 250 mg atau Trolo-
vol 300 mg) digunakan dalam dosis 1 x 250 sampai 300
mg/hari kemudian dosis ditingkatkan setiap dua sampai 4
minggu sebesar 250 sampai 300 mg/hari untuk mencapai dosis
total 4 x 250 sampai 300 mg/hari.
Efek samping DP antara lain adalah ruam kulit urtikarial
atau morbiliformis akibat reaksi alergi, stomatitis dan pem-
figus. DP juga dapat menyebabkan trombositopenia, lekopenia
dan agranulositosis. Pada ginjal DP dapat menyebabkan pro-
teinuria ringan yang reversibel sampai pada sindrom nefrotik.
Efek samping lain yang juga dapat timbul adalah lupus like
syndrome, polimiositis, neuritis, miastenia gravis, gangguan
mengecap, nausea, muntah, kolestasis intrahepatik dan
alopesia.
Garam emas
Auro Sodium Thiomalate (AST) intramuskular telah di-
anggap sebagai suatu gold standard bagi DMARD sejak 20
tahun terakhir ini. Khasiat obat ini tidak diragukan lagi, walau-
pun seringkali menyertakan efek samping dari yang ringan
sampai yang cukup berat.
AST (Tauredon ampul 10, 20 dan 50 mg) diberikan secara
intramuskular yang dimulai dengan dosis percobaan pertama
sebesar 10 mg, disusul dengan dosis percobaan kedua 20 mg
setelah 1 minggu kemudian. Setelah 1 minggu, dosis penuh
diberikan sebesar 50 mg/minggu selama 20 minggu. Jika res-
pons penderita belum memuaskan setelah 20 minggu, peng-
obatan dapat dilanjutkan dengan pemberian dosis tambahan
sebesar 50 mg setiap 2 minggu sampai 3 bulan. Kalau masih
diperlukan AST kemudian dapat diberikan dalam dosis sebesar
50 mg setiap 3 minggu sampai keadaan remisi yang memuas-
kan dapat tercapai.
Efek samping AST antara lain adalah pruritus stomantis,
proteinuria, trombositopenia dan aplasia sumsum tulang. Efek
samping AST agaknya terjadi lebih sering pada pengemban
HLA-DR3A. Jika timbul efek samping yang ringan, dosis AST
dapat dikurangi atau dihentikan untuk sementara, AST kemu-
dian dapat diberikan lagi dalam dosis yang lebih rendah.
Ridaura (auranofin tablet 3 mg) adalah preparat garam
emas oral telah dikenal sejak awal dekade yang lalu dan di-
anggap sampai sebagai DMARD yang berlainan sifatnya dari
AST.
Walaupun obat ini terbukti berkhasiat dalam pengobatan
AR, lebih mudah digunakan serta tidak memerlukan peman-
tauan yang ketat seperti AST, banyak para ahli yang berpen-
dapat bahwa khasiat auranofin tidaklah lebih baik dibanding-
kan dengan AST
(6)
.
Auranofin sangat berguna bagi penderita AR yang me-
nunjukkan efek samping terhadap AST. Auranofin diberikan
dalam dosis 2 x 3 mg sehari. Efek samping proteinuria dan
trombositopenia lebih jarang dijumpai dibandingkan dari peng-
gunaan AST. Pada awal penggunaan auranofin, banyak
penderita yang mengalami diare, yang dapat diatasi dengan
menurunkan dosis pemeliharaan yang digunakan.
Methotrexate
Methotrexate (MTX) adalah suatu sitostatika golongan
antagonis asam folat yang banyak digunakan sejak 15 tahun
yang lalu
(22)
. Obat ini sangat mudah digunakan dan rentang
waktu yang dibutuhkan untuk dapat mulai bekerja relatif lebih
pendek (3-4 bulan) jika dibandingkan dengan DMARD yang
lain. Dalam pengobatan penyakit keganasan, MTX bekerja de-
ngan menghambat sintesis thymidine sehingga menyebabkan
hambatan pada sintesis DNA dan proliferasi selular. Apakah
mekanisme ini juga bekerja dalam penggunaannya sebagai
DMARD belum diketahui dengan pasti.
Pemberian MTX umumnya dimulai dalam dosis 7.5 mg,
(5 mg untuk orang tua) setiap minggu. Walaupun dosis efektif
MTX sangat bervariasi, sebagian besar penderita sudah akan
merasakan manfaatnya dalam 2 sampai 4 bulan setelah peng-
obatan. Jika tidak terjadi kemajuan dalam 3 sampai 4 bulan,
dosis MTX harus ditingkatkan.
Efek samping MTX dosis rendah seperti yang digunakan
dalam pengobatan AR umumnya jarang dijumpai, dapat timbul
berupa kerentanan terhadap infeksi, nausea, vomitus, diare,
stomantis, intoleransi gastrointestinal, gangguan fungsi hati,
alopesia, aspermia atau leukopenia. Efek samping ini biasanya
dapat diatasi dengan mengurangi dosis atau menghentikan
pemberian MTX. Kelainan hati dapat dicegah dengan tidak
rnenggunakan MTX pada penderita AR yang obese diabetik,
peminum alkohol atau penderita yang sebelumnya telah
memiliki kelainan hati.
Pada penderita yang menunjukkan respons yang baik ter-
hadap MTX, pemberian asam folinat (Leucovorin) dapat
mengurangi beratnya efek samping yang terjadi. Leucovorin
diberikan dalam dosis 6 sampai 15 mg/ml luas permukaan
badan setiap 6 jam selama 72 jam jika terdapat efek samping
MTX yang dapat membahayakan penderita.
Walaupun penggunaan MTX memberikan harapan yang
baik dalam pengobatan AR, akan tetapi seperti halnya peng-
gunaan sitostatika lain, MTX sebaiknya hanya diberikan
kepada penderita AR yang progresif dan gagal di kontrol
dengan DMARD standard lainnya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
12
Cyclosporin-A
KEPUSTAKAAN
Cyclosporin - A (CS-A), adalah suatu undecapeptida sik-
lik yang di isolasi dari jamur Tolypocladium inflatum Gams
pada tahun 1972
(23)
. Dalam dosis rendah, CS-A telah terbukti
khasiatnya sebagai DMARD dalam mengobati penderita
AR
(24)
. Pengobatan dengan CS-A terbukti dapat menghambat
progrestivitas erosi dari kerusakan sendi. Kendala utama peng-
gunaan obat ini adalah sifat nefrotoksik yang sangat ber-
gantung pada dosis yang digunakan. Gangguan fungsi ginjal
ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar kraatinin
serum atau hipertensi. Efek samping lain CS-A adalah gang-
guan fungsi hati, hipertrofi gingiva, hipertrikosis, rasa terbakar
pada ekstremitas dan perasaan lelah.
1. American College of Rheumatology Ad Hoc Committee on Clinical
Guidelines : Guidelines for the Management of Rheumatoid Arthritis.
Arthritis Rheum 1996; 19 (5) : 713-22.
2.
Spector TD. Rheumatoid Arthritis. Rheum Dis Clin N Am 1990 ; 16 (3) :
513-37.
3.
Kellgren JH. Heberden Oration, 1963. The Epidemiology of Rheumatic
Diseases. Ann Rheum Dis 1964 ; 23 : 109-22.
4. Hochberg MC. Epidemiology of Rheumatoid Arthritis in Developed
Countries. J Rheumat 1983; 10 (suppl 10) : 7-10.
5. Harris ED Jr. Management of Rheumatoid Arthritis. In : Kelley WN,
Harris ED Jr, Rudy S, Sledge CB (Eds). Textbook of Rheumatology.
Third Ed. Philadephia : WB. Saunders Co, 1989; 982-92.
6.
Bensen WG, Bensen W. Therapy of Rheumatoid Arthritis : A Clinician's
Perspective. Triangle 28 1989 ; (1/2) : 35-42.
Dosis awal CS-A yang lazim digunakan untuk pengobtan
AR adalah 2,5 mg/KgBB/hari yang diberikan terbagi dalam 2
dosis setiap 12 jam. Dosis dapat ditingkatkan sebesar 15%
dosis awal setelah 6 minggu hingga mencapai 4 mg/KgBB/hari
sehingga tercapai kadar CS-A serum sebesar 74-150 mg/ml
atau jika kadar kreatinin serum meningkat mencapai lebih dari
50% nilai basal. Dosis pemeliharaan rata-rata berkisar antara 4
mg/KgBB/hari. Dalam dosis tersebut ternyata terjadi perbaikan
yang bermakna dalam beberapa outcome yang diukur.
7.
Daud R, Goldsmith CH. Does Arthritis Self-Management Program Have
Any Benefit For Arthritic Patients? Manuscripts (in preparation for
publication), McMaster University, Hamilton, Ontario, Canada : 1993.
8. Schwarzer AC, Arnold MH, Brooks PM. Combination Therapy in
Rheumatoid Arthritis. Bailliere,s Clin Rheumatol 1990; 4 (3) : 663-85.
9. Healey LA, Wilske KR. Reforming the Pyramid. A Plan for Treating
Rheumatoid Arthritis in the 1990s. Rheum Dis Clin N Am, 1989; 15 (3) :
615-19.
10. Brook A, Corbett M. Radiographic Changes in Early Rheumatoid
Disease. Ann Rheum Dis, 1977; 36 : 71-3.
11. Maksymowych W, Russell AS. Antimalarials in Rheumatology :
Efficacy and Safety. Semin Arthritis Rheum 1987; 16 (3) : 206-21.
Bridging Therapy
12. Scherbel AL. Use of Synthetic Antimalarial Drugs and Other Agents for
Rheumatoid Arthritis : Historic and Therapeutic Perspectives. Am J
Med, 1983; 75 (1 A) : 1-4.
Bridging therapy adalah pemberian glukokortikoid dalam
dosis rendah (setara dengan prednison 5 sampai 7,5 mg/hari)
sebagai dosis tunggal pada pagi hari. Walaupun tidak menim-
bulkan perubahan yang bermakna pada kadar dan irama kor-
tisol plasma atau growth hormone, pemberian ini akan sangat
berguna mengurangi keluhan penderita sebelum DMARD
yang diberikan dapat bekerja
(5)
.
13. Daud R. Combination of Sulfasalazine and Chloroquine in the Treatment
of Patients with Rheumatoid Arthritis. A Randomized Controlled. Trial.
M.Sc. Thesis, McMaster University, Hamilton, Ontario, Canada: 1992.
14. Mackenzie AH, Scherbel AL. Chloroquine and Hydroxychloroquine in
Rheumatological Therapy. Clin Rheum Dis 1980 ; 6 (3) : 545-66.
15. Zvaifler NJ. Antimalarias. In : McCarty DJ, Jr. (Ed) Arthritis and Allied
Conditions. 497-501, Philadelphia: Lea and Febiger, 1985.
Pengobatan Eksperimental
16. Sinclair RJG, Duthie JJR. Salazopyrin in the Treatment of Rheumatoid
Arthritis. Ann Rheum Dis 1949; 8 : 226-31.
Selain cara pengobatan di atas, terdapat pula beberapa ca-
ra lain yang dapat dipakai untuk mengobati penderita AR, akan
tetapi karena belum dilakukan uji klinik mengenai khasiat.dan
efektivitas dari modalitas tersebut, cara pengobatan tersebut
masih bersifat eksperimental dan belum digunakan secara luas
dalam pengobatan AR. Pengobatan eksperimental AR ini
antara lain meliputi penggunaan plasmaferesis, thalidomide,
J-interferon, inhibitor IL-1 dan antibodi monoclonal.
17. McConkey B, Amos RS, Durham S, et al. Sulphasalazine in Rheumatoid
Arthritis. Br Med J, 1980; 280 : 442-44.
18. Bird HA, Dixon JS, Pickup ME, et al. A Biochemical Assessment of
Sulphasalazine in Rheumatoid Arthritis. J Rheumatoid 1982; 9 : 36-45.
19. Porter DR, Capell HA. The Use of Sulphasalazine as a Disease
Modifying Antirheumatic Drug. Bailliere's Clin Rheumatol 1990; 4 (3) :
535-51.
20. Paulus HE. Clinical Pharmacology of the Antirheumatic Drugs. In
Schumacher HR, Klippel JH, Robinson DR. (Eds) : Primer on the
Rheumatic Diseases. Ninth Ed, Atlanta : The Arthritis Foundation 1988;
282-88.
Peranan Dietetik
AR adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dan
bukan suatu penyakit metabolik. Walaupun beberapa jenis
modifikasi dietetik, antara lain yang terakhir berupa suplemen-
tasi asam lemak omega 3 seperti asam eikosapentanoat pernah
dicoba dalam beberapa penelitian, ternyata hasilnya tidak
begitu meyakinkan
(5)
. Dengan demikian hingga saat ini se-
bagian besar para ahli berpendapat bahwa selain untuk
mencapai berat badan ideal, agaknya modifikasi dietetik saat
ini belum jelas kegunaannya dalam merubah riwayat alamiah
penyakit ini.
21. Pullar T, Hunter A, Capell HA. Sulphasalazine in Rheumatoid Arthritis :
A Double Blind Comparison of Sulphasalazine with Placebo and Sodium
Aurothiomalate. Br Med J 1983; 287 : 1102-04.
22. Tugwel P, Bennet K, Gent M. Methotrexate in Rheumatoid Arthritis
Indications, Contraindications, Efficacy and Safety. Ann Intern Med,
1987; 107 : 358.
23. Fauci AS, Young, Jr R. Immunoregulatory Agents. In: Kelley WN,
Harris ED Jr. Ruddy S, Sledge CB (Eds). Texbook of Rheumatology.
Third Ed. Philadelphia: WB. Saunders Co, 1989; 862-84.
24. Tugwell P, Bombardier C, Gent M, et al. Low Dose Cyclosporin Versus
Placebo in Patient with Rheumatoid Arthritis. Lancet, 1990; 335 :
1051-5.
Many talk like philosophers and live like fools
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 13