background image
ULASAN
Alternatif Baru
Pengobatan Demam Tifoid
yang Resisten
RHH Nelwan
Subbagian Penyakit Tropik dan Infeksi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
INTRODUKSI
Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan ter-
utama di negara-negara yang sedang bekembang. Obat
standard yang sampai saat ini digunakan berupa kloramfenikol,
ampisilin atau amoksilin dan kotrimoksazol. Di negara se-
keliling Indonesia maupun di negara Asia lainnya masalah
Salmonella yang multi resisten terhadap obat-obat standard
sudah sering dilaporkan.
Salah satu alternatif yang memang masih tersedia adalah
pengobatan demam tifoid dengan kelompok obat kuinolon;
hanya sayang sekali sampai saat ini masih belum tersedia obat
dari kelompok kuinolon untuk anak-anak dan remaja yang
bebas dari efek samping sehingga satu-satunya obat anti-tifoid
lainnya yang diberikan secara parenteral berupa seftriakson
suatu sefalosporin generasi ketiga yang (pada masa krisis
seperti saat ini) sering kali tidak terjangkau pengadaannya oleh
dana yang disediakan penderita. Mungkin untuk saat ini
kelompok sefalosporin generasi ke-tiga yang dapat diberikan
secara oral merupakan salah satu alternatif terbaik; sefiksim
misalnya aman dari segi pemberian pada anak dan remaja,
klinis terbukti memiliki efikasi yang sama baiknya dengan
kloramfenikol, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai suatu
alternatif terapi yang masih terjangkau khususnya untuk
penderita dengan infeksi kuman yang sudah resisten total
terhadap obat antimikroba standard kovensional.
CIRI FARMAKOLOGIK UMUM SEFIKSIM
Antimikroba sefiksim memiliki beberapa ciri unik untuk
kelompok sefalosporin. Obat ini antara lain memiliki substitusi
vinyl pada atom C2 yang telah memperpanjang waktu paruh
menjadi berlipat ganda dibandingkan dengan sefalosporin oral
lainnya. Selain itu 2-caboxymethoxyimino menambah stabilitas
terhadap enzim beta laktamase yang merupaan ciri kemantapan
struktur dan keampuhan obat betalaktam pada umumnya.
Tambahan dari struktur 2-aminothiazolyl telah memperluas dan
meningkatkan spektrum antimikroba dan daya pemusnah ter-
hadap kuman-kuman yang biasa dijumpai pada infeksi di
komunitas.
Karakteristik farmakologi sefiksim menunjukkan bio-
availabilitas rata-rata mendekati 50% dengan waktu paruh
rata-rata 3,5 jam dan pada dosis oral 200 mg kadar plasma
antara 2 - 2,6 mcg/ml. Sedangkan pada 100 mg kadar plasma
antara 11,5 mcg/ml. Penyerapan tidak dipengaruhi oleh makan-
an. Ciri unik lainnya adalah bahwa sefiksim tidak mengalami
metabolisme di tubuh dan diekskresi dalam bentuk utuh tanpa
diubah. Ekskresi melalui urin sebesar 50% dan ekskresi sisanya
terbanyak dari saluran cerna melalui empedu. Kadar obat di
empedu pada dosis 100 mg mencapai 135 mcg/ml.
Indikasi penggunaan utama obat ini adalah pada infeksi
saluran nafas dan pada infeksi saluran kemih dengan dosis 50-
200 mg 2 X sehari tergantung berat ringan infeksinya. Kontra-
indikasi penggunaan obat adalah pada mereka yang hiper-
sensitif terhadap sefalosporin.
Efek samping obat yang dipantau pada sekitar 27.000
anak adalah gejala gastrointestinal (diare, mual, kembung atau
nyeri ulu hati) dalam persentasi yang kecil.
SPEKTRUM ANTIMIKROBA SEFIKSIM
Seperti telah diuji di berbagai negara termasuk Indonesia
kemampuan sefiksim untuk mengatasi infeksi pada umumnya
sangat baik. Pengecualian meliputi kuman Staphylococcus
aureus dan Enterococcus dari kelompok Gram positif dan
Pseudomonas aeruginosa dari kelompok Gram negatif. Selain
itu dari kelompok kuman anaerob didapat resistensi total dari
Bacteroides spp.
Khususnya di Indonesia sensitivitas kuman seperti E. coli
yang paling sering menyebabkan infeksi saluran kemih men-
dekati 95%. Terhadap yang paling sering menyebabkan infeksi
saluran nafas seperti Strept. pneumoniae mendekati 94% dan
juga terhadap Klebsiella pneumoniae mendekati 93%. Kuman
Klebsiella pneumonia merupakan penyebab utama dari pneu-
monia pada usia lanjut. Menyangkut infeksi saluran nafas atas
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 9
background image
seperti yang disebabkan B. catarrhalis keampuhan 100% dan
juga pada STD khusus N. gonorrheae 100%.
Karachi-Pakistan membandingkan sefiksim dengan obat stan-
dard kloramfenikol dengan masing-masing 41 dan 44 penderita
anak telah memberikan hasil 95% membaik dengan sefiksim
sedangkan penderita yang diberikan kloramfenikol hanya 30%
yang membaik karena kuman S. typhi yang multi resisten. Dari
70% penderita yang gagal di terapi dengan kloramfenikol
hampir seluruhnya kecuali 2 penderita dari 31 anak berhasil
diatasi dengan sempurna oleh sefiksim. Tidak dijelaskan me-
ngenai kekambuhan pada penderita yang diobati di Karachi.
Data invitro lainnya memberi petunjuk bahwa kuman
Salmonella typhi maupun S. paratyphi A yang paling sering
menyebabkan demam tifoid memiliki kadar hambat minimal
(KHM) rata-rata 0,06 mcg/ml sehingga secara teoritis infeksi
saluran cerna ini sebenarnya harus dapat diatasi dengan dosis
100 mg yang memberikan kadar dalam darah melebihi 0,25
mcg/ml dan yang dapat bertahan selama 12 jam pada tingkat
konsentrasi ini. Dengan demikian tercipta suatu keadaan invitro
yang berpeluang untuk dapat diterjemahkan dengan baik invivo
dan memberikan alternatif pengobatan yang baru untuk kasus-
kasus demam tifoid.
KESIMPULAN DAN RINGKASAN
Pada saat diperlukan alternatif pengobatan yang baik
untuk penderita dengan kuman Salmonella typhi yang kloram-
fenikol, ampisilin dan kotrimoksasol, diperlukan obat yang
aman dan efektif khususnya untuk para penderita remaja dan
anak-anak.
EFIKASI KLINIK SEFIKSIM PADA UMUMNYA DAN
KHUSUSNYA PADA DEMAM TIFOID
Ternyata dari hasil pemeriksaan invitro maupun invivo
pada saat ini obat generasi ke-3 sefalosporin oral sefiksim telah
membuktikan keberhasilannya mengatasi anak yang terjangkit
demam tifoid. Mengingat hasilnya yang sangat memuaskan
tersebut sefiksim dapat merupakan salah satu alternatif terapi
untuk demam tifoid. Pada anak-anak khususnya saat ini dengan
masalah krisis ekonomi sedangkan kelompok obat lini ke-2
yang aman untuk anak seperti seftriakson dan aztreonam sering
berada di atas daya beli masyarakat sosioekonomi lemah, salah
satu solusi terbaik yang dapat ditempuh adalah dengan meng-
gunakan sefiksim dengan biaya relatif lebih murah.
Di luar negeri maupun di Indonesia hasil efikasi men-
dekati kesempurnaan untuk berbagai infeksi saluran nafas atas
seperti faringitis, tonsillitis, sinusitis dan otitis media maupun
untuk infeksi saluran nafas bawah seperti bronkitis, bronkop-
neumonia dan pneumonia. Pada saluran kemih sangat ber-
manfaat pada sistitis dan pielonefritis sedangkan pada STD
khususnya uretritis gonokok dapat diatasi dengan dosis tunggal
400 mg. Untuk infeksi lainnya lama terapi antara 3-14 hari
dengan dosis 2 kali 50-100 mg/sehari. Untuk anak-anak dengan
infeksi komunitas saluran nafas seperti sinusitis dan infeksi
saluran nafas bawah 3 mg/kgBB/perhari.
Khususnya pada demam tifoid dosis yang digunakan pada
anak dan lama pemberian adalah sebagai berikut : sefiksim
dapat diberikan dalam dosis 10 mg/kg BB 2 kali sehari selama
12 hari atau berupa dosis tunggal 25 mg/kg BB sekali sehari
selama 8 hari. (Tabel 1).
KEPUSTAKAAN
Tabel 1. Pengobatan Demam Tifoid Pediatrik dengan Sefiksin oral.
1.
Asbach MW. Single oral dose Cefixime 400 mg for acute uncomplicated
cystitis and gonorrhoea. Drugs 1991; 42 (suppl 4): 10-13.
Dosis
Lama Terapi
Cara Pemberian
10 mg/kg BB
25 mg/kg BB
12 hari
8 hari
dalam 2 x pemberian (BID)
dalam 1 x pemberian (OD)
2. Brogden RN dkk. Cefixime : A review of its antibacterial activity,
pharma cokinetic properties & therapeutics Drugs 1989; 38 : 524-50.
3.
Billo AG dkk. Cefixime an oral option for the treatment of MDR enteric
fever in children. Fujisawa Roundtable Discusion Bali 1997; 6 hal.
4.
Cahn P dkk. Cefixime therapy for treatment of severe acute pneumonia. J
Drug Rev 1993; 6 (suppl 1): 59-60.
5.
Davey P. Assessing cost effective antibiotic treatment of pharyngitis and
acute otitis media. Curr Ther Res 1994; 55 (suppl 1) : 2-13.
Untuk kelompok pertama hasil terapi 100% sembuh
dengan 5 kekambuhan sedangkan untuk dosis tunggal selama 8
hari tercatat kegagalan 3 diantara 90 penderita atau cure rate
yang mendekati 96% dan tercatat 1 kekambuhan. Kekambuhan
pada umumnya terjadi, sekitar 3 minggu selesai terapi sehingga
dianjurkan untuk memonitor keadaan penderita selama mini-
mal 1 bulan selesai terapi (Girgis dkk.). Suatu studi lainnya di
6. Girgis NI dkk. Cefixime in the treatment of uncomplicated multi drug
resistant Salmonella typhy septicemia in children 3
rd
APSTP Bali 1997
Abstrak 78.
7. Netwan RHH. Perkembangan Mutakhir Sefalosporin Acta Medica
Indonesiana 1994.
8. Warsa UC dkk. Antibacterial activity of Cefixime against 928 clinical
isolations in Jakarta 3
rd
WPCCID Bali, 1992.
A hungry belly has no ears
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
10