background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 5
Artikel
Tinjauan Kecukupan Gizi
yang
Dianjurkan dan Penyakit Degeneratif
serta Implikasinya
Darwin Karyadi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Departemen Kesehatan RI, Bogor
PENDAHULUAN
Kecukupan gizi yang dianjurkan (Recommended Daily
Allowance ­
RDA) sering dipakai sebagai pedoman untuk ke-
perluan aplikasi pangan dan gizi, farmasi kedokteran dan mem-
punyai arti penting; namun di balik pemanfaatan yang positif,
diamati pula oleh berbagai pakar adanya kelemahan atau
kekurangan mengingat cepat berkembangnya ilmu pengetahuan
dasar dan terapan gizi dan ilmu-ilmu yang berkaitan. Oleh karena
itu, kecukupan gizi yang dianjurkan ditinjau kembali setiap
waktu tertentu (biasanya 5 tahun) seperti halnya terjadi di
Indonesia, Amerika Serikat, Eropa dan negara lain. Perubahan-
perubahan didorong oleh hasil-hasil penelitian mutakhir ter-
utama
di bidang ilmu
gizi eksperimental
pada
hewan percobaan
maupun pada manusia. Masalah lain yang timbul ditinjau dari
segi empiris adalah banyaknya penyakit-penyakit degeneratif
yang melanda terutama masyarakat kota dan atau modern akibat
cepatnya anus urbanisasi dan industrialisasi. Ketidaksesuaian
aplikasi praktisnya ditinjau dari sudut kajian RDA, memerlukan
penyempurnaan dan penyesuaian pandangan tentang RDA.
Suatu sisi lain yang beberapa dekade terakhir merupakan
indeks penting bagi peningkatan mutu kehidupan adalah ke-
sadaran lingkungan hidup yang sangat relevan dengan upaya
pencegahan penyakit akut maupun kronis termasuk penyakit
degeneratif. Pengendalian kualitas lingkungan hidup sangat
strategis dalam rangka memperlambat proses degeneratif dan
meningkatkan kemampuan respons imunitas terhadap berbagai
penyakit yang melanda masyarakat.
BATAS DAN KEGUNAAN RDA
Kecukupan gizi yang dianjurkan (recommended dietary
allowances
disingkat RDA) adalah banyaknya masing-masing
zat gizi yang harus terpenuhi dari makanan untuk mencakup
hampir semua orang sehat. Kecukupan gizi dipengaruhi oleh
umur, jenis kelamin, aktivitas, berat dan tinggi badan, genetika,
serta keadaan hamil dan menyusukan. Kecukupan gizi yang
dianjurkan agak berbeda dengan kebutuhan gizi
(requirement).
Yang terakhir ini lebih menggambarkan banyaknya zat gizi
minimal yang diperlukan oleh masing-masing individu, jadi ada
yang tinggi dan ada pula yang rendah, yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor antara lain faktor genetik.
Dalam penghitungan kecukupan gizi yang dianjurkan, pada
umumnya sudah diperhitungkan faktor variasi kebutuhan indi-
vidual, sehingga angka kecukupan gizi yang dianjurkan se-
tingkat dengan kebutuhan rata-rata ditambah dua kali simpangan
baku (deviasi standar); dengan demikian kecukupan yang di-
anjurkan sudah mencakup lebih dari 97,5% populasi. Untuk
beberapa zat gizi, misalnya berbagai vitamin dan mineral,
kecukupan gizi yang dianjurkan sudah mencakup pula terciptanya
cadangan zat gizi bersangkutan dalam tubuh. Cadangan ini dapat
dipakai untuk memenuhi kebutuhan pada waktu konsumsi zat
gizi tersebut kurang dari kebutuhan dalam jangka waktu tertentu.
Misalnya pada orang dewasa yang konsumsi vitamin A-nya
selalu cukup dalam jangka beberapa tahun, di dalam hatinya akan
tertimbun cadangan vitamin A yang dapat memenuhi kebutuhan
sampai sekitar tiga bulan tanpa konsumsi vitamin A dari luar
tubuh.
Kurva 1 berikut ini menggambarkan bagaimana kecukupan
bagi sebagian besar penduduk tersebut dicapai.
Nilai D adalah rata-rata kecukupan, sedangkan nilai F adalah
rata-rata kecukupan ditambah dua kali simpangan baku yang
dihitung dari akar jumlah kuadrat selisih nilai individu dikurangi
nilai rata-rata dibagi jumlah observasi. Konsumsi setingkat F
sudah mencukupi kecukupan 97,5% dari populasi, sehingga bila
kecukupan yang dianjurkan pada tingkat F, hanya sebagian kecil
populasi (2,5%) yang kecukupan riilnya sedikit di bawah anjur-
an.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
6
Kurva 1. Distribusi Keukupan Gizi Populasi
Konsumsi
Kecukupan yang dianjurkan selalu didasarkan pada patokan
berat badan untuk masing-masing kelompok umur dan jenis ke-
lamin. Patokan berat badan ini didasarkan pada berat badan yang
mewakili sebagian besar penduduk yang digolongkan sehat.
Karena dalam menyusun kecukupan ini lebih didasarkan pada
"patokan berat badan", maka dalam penggunaannya bila ada
penyimpangan beratbadan yang cukup berarti, angka kecukupan
ini perlu disesuaikan dengan berat badan tersebut. Dengan
mempertimbangkan angka-angka berat badan yang dikumpul-
kan dari berbagai survei gizi dan kesehatan, maka patokan berat
badan yang dipakai dalam penyusunan ini adalah seperti yang
disepakati dalam hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi
1978, 1983 dan 1988. Data yang dikumpulkan akhir-akhir ini
menggambarkan bahwa angka tersebut masih dapat digunakan.
Perlu disadari bahwa pencernaan manusia hanya mampu
menyerap molekul yang kecil sehingga protein, lemak, dan
karbohidrat harus dihidrolisis menjadi unit yang paling kecil
sebelum diserap. Protein dihidrolisis menjadi asam amino, zat
pati menjadi glukosa, dan lemak menjadi gliserol dan asam
lemak. Karena itu banyaknya zat gizi yang dapat diserap dan
dipakai tubuh dipengaruhi juga oleh nilai cerna masing-masing
zat gizi. Ada pula zat gizi yang nilai cernanya sangat rendah
karena membentuk kompleks dengan zat lain. Zat besi mudah
membentuk kompleks dengan asam fitat maupun oksalat yang
banyak terdapat dalam sayuran dan serealia, karena itu nilai
cernanya atau jumlah yang dapat diserap hanya sekitar 5-10%.
Perlu diketahui bahwa zat-zat gizi saling berinteraksi satu
sama lain, yaitu kehadiran suatu zat gizi secara berlebihan atau-
pun kekurangan akan mempengaruhi ketersediaan, penyerapan,
maupun metabolisme zat gizi yang lain. Misalnya kekurangan
vitamin A dapat mempengaruhi status besi dalam tubuh. Keku-
rangan vitamin D akan mempengaruhi penyerapan dan meta-
bolisme kalsium. Adanya interaksi antara berbagai zat gizi ini
memberi gambaran perlunya diupayakan suatu keseimbangan
(balance) zat-zat gizi yang dikonsumsi. Semakin bervariasi
atau beranekaragam menu kita, maka semakin tcrcapai kese-
imbangan dalam interaksi antara zat gizi, yang akan terpenuhi
dengan pedoman "empat sehat lima sempurna".
Kegunaan angka kecukupan gizi yang dianjurkan antara
lain :
(1)
Untuk menilai kecukupan gizi yang telah dicapai me-
lalui konsumsi makanan bagi penduduk/golongan masyarakat
tertentu yang didapatkan dari hasil survai gizi/makanan. Untuk
penilaian ini perlu diperhatikan bahwa untuk perhitungan ke-
cukupan dipakai patokan berat badan tertentu, misalnya pria
dewasa 55 kg dan wanita dewasa 47 kg. Bila hasil survai me-
nunjukkan bahwa rata-rata berat badan menyimpang dari pa-
tokan, maka perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian angka
kecukupannya. Demikian pula bila skor asam amino dan nilai
kecernaan hidangan berbeda dengan skor dan nilai yang dipakai
dalam menyusun kecukupan ini, perlu dilakukan penyesuaian.
Untuk orang dewasa kecukupan energi dan vitamin yang ada
kaitannya dengan penggunaan energi perlu disesuaikan dengan
kegiatan.
(2)
Untuk perencanaan pemberian makanan tambahan ba-
lita maupun perencanaan makanan institusi. Bagi balita gizi
kurang, kebutuhan protein dalam gram per kg berat badan sedikit
lebih tinggi daripada anak normal untuk mengejar pertumbuhan.
Karena itu untuk perhitungan kecukupan akan diberikan khusus
kecukupan yang dianjurkan untuk penderita KKP (Kurang Ka-
lori-Protein). Untuk perencanaan makanan institusi perlu diper-
hatikan jenis kegiatan dan proporsi yang diharapkan dari ma-
kanan institusi terhadap kecukupan sehari. Dengan demikian
dapat dicapai tingkat konsumsi yang memenuhi kecukupan se-
hari demi tercapainya produktivitas yang optimal.
(3)
Untuk perencanaan penyediaan pangan tingkat regional
maupun nasional. Perhitungan kebutuhan rata-rata energi, pro-
tein, dan zat gizi lain pada tingkat regional/nasional perlu diketahui,
demikian pula pola makanannya sehingga penyediaan pangan
yang mencukupi kebutuhan dapat dirancang. Angka kecukupan
yang dianjurkan ini adalah kecukupan tingkat fisiologis sehingga
untuk tingkat produksi dan penyediaan perlu diperhitungkan
kehilangan yang terjadi dari tingkat produksi sampai mencapai
tingkat konsumsi
(1,2)
.
Selanjutnya perlu diungkapkan keterbatasan RDA yang
tidak dapat mencapai kajian relevansinya tentang : a) Kelainan
metabolik yang diturunkan (genetik) seperti ketidakmampuan
memanfaatkan berbagai asam amino, vitamin dan karbohidrat
dalam diet. b) Penyakit menahun seperti penyakit degeneratif,
kardiovaskular tertentu, paru-paru dan ginjal. c) Diit khusus
dibutuhkan untuk pengobatan tertentu. d) Infeksi. e) Kelahiran
prematur dan f) Evaluasi diit individual, karena kecukupan hanya
diperuntukkan untuk golongan penduduk
(3)
. Jadi diperlukan
interpretasi dan persepsi yang tepat dalam mengartikan RDA ini.
KRITERIA KE TUJUH
Walford
(4)
dalam tinjauan RDA mengamati kontroversi
tentang perlunya suplementasi vitamin mineral, karena argu-
mentasi bahwa RDA yang disusun akan memenuhi persyaratan
gizi. Dirangkaikan dasar-dasar pengetahuan RDA yang me-
menuhi enam persyaratan yaitu : 1) Jumlah zat gizi tertentu yang
dikonsumsi oleh golongan penduduk yang sehat. 2) Jumlah yang
dibutuhkan untuk mencegah penyakit tertentu, terutama penya-
k
rata-rata
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 7
kit defisiensi gizi. 3) Derajat saturasi jaringan atau kecukupan
fungsi faali terkait dengan zat gizi tertentu. 4) Studi keseimbang-
an zat gizi yang mengukur status gizi, sehubungan dengan
konsumsi (intake), kebutuhan minimum atau titik keseimbang-
an nol. 5) Studi eksperimental sukarelawan yang mengauskan
(deplete) zat gizi tertentu dan dilanjutkan dengan koreksi tanda
defisiensi klinis, meresuplai jumlah zat gizi tertentu spesifik
tersebut. 6)Ekstrapolasi dari eksperimen hewan percobaan yang
dibuat defisiensi zat gizi tunggal tertentu dari diet.
Dengan mengutip pemyataan Ketua Komite Ilmiah Akademi
Nasional tentang RDA Dr. Henry Kamin sebagai berikut : "I
must admit that we do not have much information about the
intake of specific nutrients and remote rather than short-term
effects", Walford
(4)
kemudian menambahkan satu kriteria lagi
berdasarkan pernyataan di atas menjadi kriteria ke tujuh. Asumsi
yang dikemukakan yaitu dampak kelangsungan hidup (survival),
tipe kanker, prevalensi penyakit degeneratif selama rentang
hidup (life-span) akan memberi gambaran berbeda bila ditambah
satu kriteria lagi. Dengan mempertimbangkan hasil temuan di
bidang gerontologi ditambah hasil penelitian suplementasi pada
manusia terhadap parameter fungsional seperti kemampuan
respons imunitas, pemberian suplementasi gizi tertentu di atas
nilai-nilai RDA dapat dipertanggungjawabkan.
SIFAT BIOKIMIA PERORANGAN (BIOCHEMICAL
INDIVIDUALITY)
Setiap orang mempunyai keunikan struktur (organ tubuh,
jaringan, sel-sel) dan fungsi. Untuk mencapai kesehatan optimal,
mengingat karakteristik yang bervariasi, diperlukan zat-zat gizi
yang berbeda untuk setiap individu. Sifat yang khas tersebut
dikemukakan oleh Roger Williams
(5
) bahwa fungsi-fungsi ber-
beda antara individu berimplikasi kebutuhan berbagai zat gizi
yang berbeda pula.
Berbagai pengalaman klinis dan ratusan makalah tentang
biochemical individuality mengenai zat-zat gizi asam amino,
vitamin dan mineral mengungkapkan perkembangan menuju
suave konsep yang dikemukakan oleh DR. Jean Dausset, pe-
menang hadiah Nobel tahun 1980 yang disebut "Kompleks
histokompatibilitas. dan sistem immunitas terhadap penyakit
dan proses degeneratif". Setiap tubuh manusia mempunyai
keunikan dengan sifat kompleks histokompabilitas sehingga
kebutuhan dukungan kecukupan gizinya berbeda-beda untuk
mencapai fungsi optimal. Pernyataan Dausset sebagai berikut :
"An inventory of the immunological capacities of each individual
will need to be drawn up ..... In this way, preventive medicine of
high precision will be possible; a personalized medicine that will
be more efficient and less burdensome for the community than the
present mass system"
(6)
.
FAKTOR-FAKTOR ATAU DETERMINAN YANG ME-
NENTUKAN PENGGUNAAN JUMLAH ZAT GIZI
Utilisasi atau pemanfaatan suatu zat gizi dalam tubuh, organ
dan di tingkat sel yang berjumlah billiunan sangat tergantung dari
kandungan zat gizi makanan yang dikonsumsi (ada kurang lebih
45 zat gizi yang saling berinteraksi). Kebiasaan makanan yang
dibawa sejak kecil sangat terlekat dengan faktor sosio-budaya,
derajat ketersediaan biologis zat gizi, keadaan sehat atau sakit,
kisaran kebutuhan individual, perilaku hidup (lifestyles), dan
faktor polusi yang terkendalikan dan yang tak terkendalikan
yang selanjutnya mempengaruhi tubuh atau status gizi dan ke-
sehatan.
GIZI DAN WAWASAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Kebutuhan gizi sangat dipengaruhi oleh kualitas kesehatan
lingkungan; sanitasi lingkungan, kebersihan air maupun ke-
amanan (safety) pangan dapat menentukan kualitas kehidupan
manusia umumnya dan status gizi dan kesehatan khususnya.
Dengan isu mutakhir tentang pemanasan bumi dan perubahan
iklim, efek radiasi sinar ultraviolet dapat mempengaruhi ke-
butuhan gizi tertentu, terutama dari golongan antioksidan untuk
menangkal pengaruh negatif radikal bcbas.
Sejak lebih dari dua puluh tahun berselang, dunia kedokter-
an di luar negeri telah membuktikan pengaruh merokok terhadap
kejadian kanker, penyakit kardiovaskular, bronkhitis, emfisema,
dan sindrom berat badan lahir rendah; juga polusi udara karena
merokok terutama yang pasif dapat mengauskan cadangan vita-
min C yang pada gilirannya dapat menurunkan daya tahan tubuh.
Polusi yang tidak terkendalikan akibat pesatnya industrialisasi
dan urbanisasi sering dialami dalam kehidupan sehari-hari se-
perti kadmium dalam asap rokok, ikan yang mungkin tercemar
merkuri, merkuri dalam sepuhan rambut, kosmetik yang tidak
aman, Pb dalam uapan gas kendaraan, pestisida, inscktisida,
plasticizers yang mengandung PCB (polychlorinated biphenyl)
atau polyvinyl chloride (PVC). Masih banyak polutan toksik
yang bisa menimbulkan penyakit degeneratif, sebahagian masih
asumsi meskipun sudah dibuktikan dengan percobaan hewan,
karena sangat tidak mungkin membuktikannya pada manusia.
Sebagai contoh dikemukakan dua contoh berikut ini. Pe-
ngaruh kadmium telah dibuktikan dapat menyebabkan defisiensi
zat-zat gizi tertentu seperti vitamin C, D, B6, seng, besi, mangan,
Cu, selenium dan kalsium
(7)
. Pada jangka pan jang dapat merusak
ginjal, kelenjar adrenal dan anemia
(8)
. Penimbunan kadmium
dalam tubuh berlangsung lamban di organ ginjal dan hati dan
sedikit sekali yang dapat dikeluarkan
(9)
; ternyata vitamin C dan
besi dapat mengurangi deposit kadmium tersebut dan zat gizi
selenium dan seng dapat berfungsi sebagai proteksi terhadap
toksisitas kadmium
(10)
. Contoh lainnya adalah Pb dari uapan gas
kendaraan umum dan dari makanan. Polusi Pb yang progresif
mengakibatkan anemia, kerusakan ginjal, tiroid, jantung serta
degenerasi otak
(11)
. Sumber kontaminasi Pb dalam makanan,
terutama dari makanan kaleng yang rusak seperti sup, ikan,
daging dan sebagainya dapat mengandung Pb melebihi nilai
toleransi maksimal sebesar 150 mcg sehari
(12)
. Defisiensi gizi
lebih memperberat pengaruh Pb, terutama bila cadangan seng,
besi, kalsium dan fosfor berkurang
(13)
, suplementasi mineral
khususnya besi dan seng memulihkan keracunan Pb
(13)
,
ke-
mudian terungkap pula bahwa suplemen vitamin E dapat
mengurangi keracunan Pb
(14)
. Ketahanan tubuh terhadap zat-zat
11
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
8
toksik dari lingkungan perlunya diupayakan melalui status gizi yang
optimal.
KESIMPULAN
Telah diuraikan tinjauan pengertian, batasan, kegunaan ke-
cukupan gizi yang dianjurkan (RDA). Diamati kemajuan penge-
tahuan ilmu gizi serta aplikasinya dan meningkatnya penyakit
degeneratif terutama sebagai akitiat urbanisasi, industrialisasi
yang cepat, peningkatan polusi lingkungan yang tidak terhindar-
kan dan faktor-faktor penghambat konsumsi zat gizi lainnya.
Melalui pendekatan dari segi gerontologi dan keamanan ke-
cukupan gizi pada rentang hidup (lifespan), sifat biokimia per-
orangan yang mencirikan juga kompleks histokompatibilitas
tubuh untuk mencegah penyakit degeneratif dapat dijadikan
dasar pemecahan masalah pencegahan penyakit degeneratif.
KEPUSTAKAAN
1.
Darwin Karyadi, Muhilal. Kecukupan gizi yang dianjurkan. Jakarta:
Gramedia. 1985. hal. 3.
2.
Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi. Lembaga Ilmu Pengetahuan
9
Indonesia (LIPI). 1988. hal. 112.
3.
Hegarty V. Decisions in Nutrition. Times Mirror/Mosby College Publish-
ing, 1988. hal. 47.
4.
Walford RL. The 120 year Diet. New York : Simon and Schuster. 1986.
hal. 155.
5.
Williams RJ. Biochemical individuality. New York: Wiley. 1956.
6.
Dausset J. Science 1981; 213: 1474.
7.
Spivey MR. et al. In: Micronutrient Interactions: Vitamins, minerals and
hazardous elements. Levander OA, Cheng L. (eds). Ann. N.Y. Acad. Sci.
1980; 355.
8.
Nordberg (ed). Effects and Dose Response Relationship of Toxic Metals.
Amsterdam: Elsevier, 1976.
9.
Spivey. In: Micronutrient Interactions: Vitamins, Minerals and Hazardous
elements. Levander OA, Cheng L. (eds). Ann. N.Y. Acad. Sci. 1980; 355.
10.
Mason KB, Young JO. Selenium in Biomedicine. ed. OH. Muth dkk.
Wetport Conn., 1967.
11.
Petering HG. In: Micronutrient Interactions: Vitamis, Minerals and
Hazardous elements. Levander OA, Cheng L (eds). Ann. N.Y. Acad. Sci.
1980; 355.
12.
Consumer Report, July 1981. p. 376.
13.
Mahaffey KR, Rader JI. In: Micronutrient Interactions: vitamins, minerals
and hazardous elements. Levander OA, Cheng L. (eds). Ann. N.Y. Acad. Sci.
1980; 355.
14.
Levander OA, Cheng L. (eds). Micronutrients Interactions: vitamins,
minerals and hazardous elements. Ann. N.Y. Acad. Sci. 1980; 355