background image
HASIL PENELITIAN
Pola Komplikasi Kronik
Diabetes Mellitus Tipe II
pada Lansia di RSUP Manado
Bambang Singgih, Edward Jim, Karel Pandelaki
Bagian Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/
Rumah Sakit Umum Pusat Manado, Manado
PENDAHULUAN
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit gangguan
metabolik yang ditandai dengan hiperglikemi. Kelainan ini
akibat gangguan sekresi insulin oleh sel
pankreas atau
gangguan produksi, gangguan pengambilan glukosa darah oleh
sel otot dan sel hati, atau produksi glukosa berlebihan dari
hati.
1,2
Klasifikasi DM yaitu diabetes mellitus tergantung
insulin (tipe I), diabetes mellitus tidak tergantung insulin (tipe
II), diabetes tipe lain, dan diabetes gestasional.
1,2
Komplikasi yang mungkin terjadi dapat dibedakan atas
komplikasi akut dan kronik. Komplikasi kronik dapat terjadi
pada target organ mata, ginjal, jantung, saraf;
2,3
komplikasi ini
umumnya timbul pada usia tua akibat periode hiperglikemik
yang lama dan (mungkin) tanpa gejala.
2
Komplikasi pada mata ditandai dengan retinopati diabeti-
kum, sedangkan gangguan saraf ditandai dengan adanya kese-
mutan dan berkurangnya sensibilitas (neuropati diabetikum).
Pada ginjal akan terjadi proteinuria tanpa sebab lain, yang bila
dibiarkan akan menjadi gagal ginjal kronik.
2,3,4
Diabetes mellitus dapat pula menimbulkan penyakit
jantung koroner, kardiomiopati diabetikum dan aterosklerosis
arteri koroner maupun perifer.
2,3
Serangan silent infarct juga
dapat terjadi, yang bisa fatal.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran
komplikasi kronik DM tipe II pada pasien lansia yang berobat
di poliklinik endokrin RSUP Manado.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan secara deskriptif prospektif cross
sectional pada pasien DM tipe II lansia yang kontrol di
poliklinik Endokrin ­ Metabolik RSUP Manado selama bulan
Mei 2002. Pemeriksaan mata dilakukan oleh dokter spesialis
mata, pemeriksaan saraf dilakukan oleh dokter spesialis saraf,
pemeriksaan jantung dilakukan dengan ECG, dan pemeriksaan
fungsi ginjal dilakukan dengan cara laboratorium..
Kriteria Inklusi :
Semua pasien DM tipe II lansia.
Kriteria Eksklusi :
-
Pasien DM tipe I
-
Pasien dengan riwayat hipertensi primer.
HASIL
Dari pasien usia 60 tahun atau lebih yang berobat di
poliklinik Endokrin RSUP Manado selama bulan Mei 2002,
didapatkan 166 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien
pria 75 orang (45,18%) dan wanita 91 orang (54,82%) dengan
rentang umur antara 60 ­ 82 tahun (tabel 1).
Tabel 1. Distribusi pasien DM tipe II lansia di poliklinik Endokrin RSUP
Manado
Jumlah Persentase
Pria 75 45,18
Wanita 91 54,82
Total 166 100
Survai juga mencatat komplikasi organ yang terjadi; pasien
yang belum menderita komplikasi retinopati, neuropati,
nefropati, maupun jantung adalah 14 orang (8,43%). Pasien
dengan 1 komplikasi pada target organ sebanyak 55 pasien
(33,13%), 2 komplikasi sebanyak 58 pasien (34,94%), 3 kom-
plikasi sebanyak 30 pasien (18,70%), sedangkan 4 komplikasi
sebanyak 9 pasien (5,42%) (tabel 2).
Tabel 2. Jumlah pasien dengan komplikasi
Jumlah Persentase
Tak ada
14
8,43
1 komplikasi
55
33,13
2 komplikasi
58
34,94
3 komplikasi
30
18,70
4 komplikasi
9
5,42
Total 166
100
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 5
background image
Neuropati 122 pasien (73,49%), retinopati 51 pasien
(30,72%), nefropati 41 pasien (22,70%), jantung 31 pasien
(18,67%).
Tabel 3. Jumlah pasien dengan komplikasi pada target organ
Neuropati adalah merupakan komplikasi yang paling
banyak ditemukan dengan gejala parestesi, kehilangan sensasi,
dan hipotensi ortostatik. Kelainan jantung ditandai dengan
iskemi dan infark; kardiomiopati tak dapat didiagnosis karena
penelitian ini tak menggunakan echocardiografi; pada mata
ditandai dengan retinopati diabetikum. Urinalisis dan peme-
riksaan kreatinin plasma dilakukan untuk diagnosis nefropati.
Tabel 4. Pasien dengan 1 komplikasi organ
Komplikasi Jumlah Persentase
Jantung 5
3,01
Nefropati 5
3,01
Retinopati 3
1,82
Neuropati 42
25,30
Total 55
33,13
Komplikasi 2 target organ adalah yang terutama dialami,
dan yang paling sering adalah neuropati dan retinopati, diikuti
oleh nefropati dan neuropati.
Tabel 5. Pasien dengan 2 komplikasi organ
Komplikasi Persentase
Jumlah
Jantung ­ Nefropati
1,82
3
Jantung ­ Retinopati
0
0
Jantung ­ Neuropati
5,42
9
Nefropati ­ Retinopati
1,82
3
Nefropati ­ Neuropati
11,45
19
Retinopati­ Neuropati
14,46
24
34,94
58
Pasien yang mengalami komplikasi 3 target organ cukup
banyak yaitu 30 orang (18,07%) dari 166 pasien, yang paling
banyak adalah nefropati, retinopati, neuropati yaitu 16 pasien
(53,33%).
Tabel 6. Pasien dengan 3 komplikasi organ
Komplikasi Jumlah
Persentase
Jantung ­ Nefropati ­ Retinopati
2
1,20
Jantung - Nefropati ­ Neuropati
9
5,42
Jantung ­ Retinopati ­ Neuropati
3
1,81
Nefropati ­ Retinopati ­ Neuropati
16
9,60
30
18,70
PEMBAHASAN
Pada pasien diabetes mellitus tipe II, pemeriksaan kese-
hatan rutin penting karena penemuan dini berbagai komplikasi
DM dan pengawasan kadar gula darah agar selalu optimal,
akan menurunkan risiko penyulit dan memperpanjang harapan
hidup.
2,3,9
Komplikasi kronik akibat DM akan meningkatkan angka
kematian dan kesakitan; dapat dibagi menjadi 2 yaitu kom-
plikasi vaskular dan non vaskular. Komplikasi vaskular dibagi
menjadi komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Kom-
plikasi makrovaskular adalah penyakit jantung koroner, cere-
brovascular disease, gangguan pembuluh darah perifer.
Komplikasi mikrovaskular adalah retinopati, neuropati, nefro-
pati. Komplikasi non vaskular misalnya : gangguan fungsi
seksual, gastroparesis, dan gangguan pada kulit.
2,4
Peningkatan
risiko terjadinya komplikasi ini berhubungan dengan hiper-
glikemi jangka lama; biasanya terjadi pada dekade kedua
setelah melalui masa asimtomatik.
2,4
Komplikasi Jumlah
Persentase
Jantung 31
18,67
Nefropati 41
24,70
Retinopati 51
30,72
Neuropati 122
73,49
Komplikasi neuropati umumnya terjadi pada 50% pen-
derita DM tipe II dengan gejala yang bermacam ­ macam,
misalnya parestesi, hipotensi ortostatik, anestesi, nyeri pada
ujung jari tangan maupun kaki.
2
Penelitian Hammond dan Aoki
9
menghasilkan data 30%
pasien dengan neuropati, 16% pasien dengan retinopati, 28 %
pasien dengan nefropati. Pada penelitian ini neuropati didapat-
kan pada 122 (73,49%) dari 166 pasien, terbanyak dibanding-
kan komplikasi retinopati, nefropati, dan jantung (Tabel 3)
Nefropati diabetikum adalah komplikasi mikrovaskular
akibat hiperglikemi kronik. Proteinuria merupakan tanda
penurunan fungsi ginjal yang ireversibel; timbul setelah pasien
mengalami masa hiperglikemik tanpa gejala dalam waktu lama.
2,4,12
Setelah terjadi nefropati, angka kesakitan dan kematian
akan meningkat. Penelitian Mattcok dkk
6
menunjukkan 10%
pasien yang proteinuria, meninggal dalam 3 ­ 4 tahun disebab-
kan serangan jantung dan stroke. Adanya proteinuria juga
merupakan tanda akan timbulnya komplikasi di organ selain
ginjal, misal jantung dan otak.
6,7
Pada penelitian ini nefropati
ada pada 41 pasien (24,70%), sebagian besar (36 dari 41
pasien) sudah menderita komplikasi lain selain ginjal (Tabel
2,3,4,5,6).
Hiperglikemi dalam waktu lama akan menimbulkan retino-
pati; yang jika progresif akan menimbulkan gangguan peng-
lihatan bahkan kebutaan.
2,3
Penelitian Rand
4
mendapatkan
bahwa lebih dari 60% penderita akan terkena retinopati dalam
10 tahun dan mendekati 100% dalam 15 tahun. Retinopati
diabetikum merupakan komplikasi mikrovaskular pada DM,
diklasifikasi menjadi dua yaitu proliferasi dan non proliferasi.
Non proliferasi biasanya timbul pada akhir dekade pertama
atau awal dekade kedua keadaan hiperglikemi, sedang proli-
ferasi adalah kelanjutan dari non proliferasi; kebutaan disebab-
kan oleh hilangnya sel retina karena iskemi.
2,4
Terjadinya
retinopati tergantung dari lamanya menderita DM dan kadar
gula darah.
2
Pada penelitian ini, pasien dengan retinopati se-
banyak 51 orang (30,72%) (Tabel 3).
Komplikasi pada jantung terjadi karena aterosklerosis
pembuluh darah koroner. Serangan infark tanpa rasa sakit dada
(silent infarct) sering terjadi pada pasien DM. Peningkatan
angka kesakitan dan kematian akibat komplikasi jantung me-
rupakan campuran dari faktor ­ faktor risiko.
2,4
Faktor itu
adalah peningkatan kolesterol / trigliserida akibat DM, ateros-
klerosis pada DM, nefropati, hipertensi, kardiomiopati DM dll.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
6
background image
Mattock dkk
6
mendapatkan hasil 14 dari 141 pasien dengan
proteinuria meninggal karena penyakit jantung (infark,
thrombosis koroner). Pada penelitian ini 31 pasien (18,67%)
menderita gangguan jantung, dan 26 di antaranya menderita
komplikasi lain di luar gangguan jantung (Tabel 2 - 6).
KESIMPULAN
Pada sebagian besar pasien DM tipe II lansia yaitu 91,57%
sudah ditemukan komplikasi.
KEPUSTAKAAN
1.
Darmono. Diagnosis dan klasifikasi diabetes mellitus. Dalam: Soeparman
(ed). Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FK
UI, 1996 : 550 ­ 596.
2.
Powers AC. Diabetes mellitus. In Braunwald E et al (eds). Harrison's
Principles of Internal Medicine, 15
th
ed. New York : Mc Graw Hill, 2001:
2109-37.
3.
FitzGerald MG. Diabetes. In Brocklehusrt JC (ed). Textbook of Geriatric
Medicine and Gerontology, 2
nd
ed. New York : Churchill Livingstone,
1978 : 495-509.
4.
Eisenbarth GS. Diabetes mellitus. In Becker KL, Bilezikian JP, Bremner
WJ et al (eds). Principles and Practice of Endocrinology and Metabolism,
2
nd
ed. Philadelphia : JB Lipincott Co, 1995 : 1202-303.
5.
Gerritsen J, Dekker JM, Ten Voonde BJ et al. Impaired autonomic
junction is associated with increased mortality, especially in subjects with
diabetes, hypertension or a history of cardiovascular disease. Diabetes
Care 2001; 24 : 1793-7.
6.
Mattock MB, Morrish NJ, Viberti G et al. Prospective study of micro-
albuminuria as predictor of mortality in NIDDM. Diabetes 1992 ; 41:
736-41.
7.
Phillipou G, Philips P J. Variability of urinary albumin excretion in
patients with microalbuminuria. Diabetes Care 1994 ; 17 : 425-7.
8.
Hanefeld M, Fischer S, Schmechel H. Diabetes intervention study: multi
intervention trial in newly diagnosed NIDDM. Diabetes Care 1991 ; 14 :
308-17.
9.
Hammond GS, Aoki TT. Measurement of health status in diabetic
patients. Diabetes Care 1992 ; 15 : 469-74.
10.
Roglic G, Metelko Z. Effect of war on glycemic control in type II diabetic
patients. Diabetes Care 1993 ; 16 : 806-7.
11.
Sundkuist G, Lilja B. Autonomic neuropathy predict deterioration in
glomerular filtration rate in patients with NIDDM. Diabetes Care 1993;
16 : 773-7.
12.
Klein R, Klein BE, Moss SE. Incidence of gross proteinuria in older
onset diabetes. Diabetes 1993 ; 42 : 381-8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 7