background image
Peranan Perawat dalam Efisiensi
Penggunaan Sumberdaya
Mariani Situmorang, SKM, MHA
Staf Direktur Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia (PPSDM),
Yayasan Kesehatan PG! Cikini, Jakarta.
PENDAHULUAN
Mutu pelayanan kesehatan senantiasa dituntut peningkatan-
nya baik oleh konsumen kesehatan (health consumers), oleh
pemberi pelayanan kesehatan (health providers) dan oleh
pihak lain, misalnya pihak yang membiayai pelayanan
kesehatan (payers). Konsumen senantiasa mengharapkan
peningkatan mutu pelayanan seperti kemudahan memperoleh
pelayanan kesehatan yang bermutu, kecepatan dan ketepatan
pelayanan, scrta biaya yang terjangkau. Tuntutan ini di-
pengaruhi olch beberapa faktor, antara lain, kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kemajuan di bidang komunikasi
dan informasi; meningkatnya tingkat pendidikan dan pen-
dapatan; serta
meningkatnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya keschatan.
Dalam situasi tersebut di atas dan dipengaruhi olch bcr-
bagai faktor lain seperti : kesulitan ekonomi, perkembangan
teknologi kedokteran (proliferation of medical technology),
biaya kesehatan yang senantiasa meningkat (spiralling health
costs), dan keterbatasan sumber daya, maka salah satu issue
pcnting yang menjadi kepedulian pelayanan keschatan saat ini
adalah efisiensi. World llealth Organisation menyatakan
bahwa untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pclayanan
kcschatan, maka perhatian yang besar harus dibcrikan kcpada
peningkatan cfisicnsi dalam pcngalokasian dan penggunaan
sumbcrdaya yang terbatas ( ). Kcpcdulian akan cfisicnsi
pelayanan keschatan dirasakan juga olch semua ncgara maju
yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation
and Development(
2
). Dinyatakan olch pengamat lain bahwa
" . . . throughout the industrialized world, the main policy
Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI Hospital
Expo, Jakarta ,
21 25 November 1993.
issue currently facing health care delivery systems appear to
be their efficiency
"
(
3
).
Suatu studi yang belum lama dilakukan
di Amerika mcnunjukkan bahwa, antara saat ini dan tahun
2000, administrator pclayanan kesehatan harus mampu mcng-
hadapi sembilan hal pokok yang sangat pcnting; dan hal
terpenting pertama adalah cost/finance(
4
) (Hudak et al, 1993).
Di Indonesia, dikemukakan bahwa beberapa masalah yang
dihadapi dalam pembiayaan kesehatan adalah keterbatasan
biaya, dan penggunaan biaya yang kurang efisien(
5
).
Salah satu bagian integral dari pelayanan keschatan dan
yang sampai saat ini masih mengkonsumsi sebagian besar
anggaran pclayanan kesehatan adalah pelayanan rumah sakit.
Efisiensi pengelolaan rumah sakit akan memberi dampak
besar terhadap cfisiensi pelayanan keschatan. Rumah sakit
perlu dikelola secara efisicn dan efektif dcngan memperhati-
kan prinsip-prinsip ekonomi kcschatan.
Pclayanan rumah sakit, yang kegiatan pclayanannya di-
laksanakan di berbagai divisi dan dibcrikan olch bcrbagai
jenis tenaga keschatan dan non kesehatan dari latar bclakang
profcsi yang berbcda, bcrsifat majcmuk dan kompleks. Oleh
karena itu, pengelolaan rumah sakit merupakan suatu
sistem
manajemen yang sangat kompleks, majcmuk dan luas yang
terdiri dari bcrbagai divisi atau subsistem yang masing-
masing memerlukan pengelolaan secara efektif dan efisicn.
Druckcr mengcmukakan bahwa ". . . health service adminis-
tration is one of the most difficult and complex management
challenges(
6
). Untuk senantiasa dapat memelihara dan
meningkatkan mutu manajemen dan pclayanan rumah sakit
maka setiap subsistem dalam sistem manajemen rumah sakit
16
Cermin Dunia Kedokteran . Edisi Khusus No. 91, 1994
background image
perlu dikelola secara profesional. Salah satu subsistem
pelayanan rumah sakit adalah subsistem pelayanan ke-
perawatan.
Dan
literatur diketahui bahwa divisi pelayanan keperawat-
an adalah subsistem terbesar yang bertugas memberikan
asuhan atau pelayanan yang merupakan fungsi inti pelayanan
rumah sakit dan berada di jajaran pelayanan terdepan. Di
samping itu, sebagai suatu subsistem yang besar, maka untuk
penyelenggaraan kegiatannya divisi keperawatan memerlukan
dan menggunakan biaya, supplies and equipment, serta sumber
daya manusia--tenaga keperawatan dan
non-keperawatan - dalamjumlah yang besar. Keadaan tersebut menyebabkan
divisi perawatan sebagai pusat biaya (cost centre) yang perlu
dikelola secara effisien dan profesional
(7)
.
Tenaga keperawatan, di divisi pelayanan keperawatan,
yang berperan, berfungsi dan bertanggung jawab dalam
keseluruhan kegiatan pelayanan keperawatan mempunyai
peranan yang besar dalam efisiensi penggunaan sumber daya
di divisi pelayanan keperawatan. Dalam makalah ini akan
dikemukakan peran perawat dalam efisiensi penggunaan
sumber daya. Namun, mengingat beragamnya jenis dan
tingkat asuhan keperawatan maupun jenis dan tingkatan
tenaga keperawatan maka tulisan akan dibatasi pada peran
perawat eksekutif--administrator dan manajer keperawatan-
sebagai penanggung jawab pengelolaan divisi pelayanan
keperawatan.
Uraian dalam tulisan ini, yang meliputi ruang lingkup
nursing administration, dan peran perawat eksekutif dalam
efisiensi penggunaan sumber daya) disajikan berdasarkan
bacaan dari literatur. Tujuan penulisan adalah memberikan
sedikit masukan khususnya bagi rekan-rekan perawat peserta
Kongres PERSI VI. Kiranya uraian dalam garis besar ini
dapat dikembangkan dalam upaya meningkatkan manajemen
pelayanan keperawatan untuk meneapai peningkatan mutu
pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari mutu
pelayanan rumah sakit.
RUANG LINGKUP NURSING ADMINISTRATION
Sebelum mengemukakan peran perawat eksckutif dalam
efisiensi penggunaan sumber daya, terlebih dahulu, akan
diuraikan seeara ringkas pengertian dan ruang lingkup
nursing administration yang merupakan tanggung jawab
perawat eksekutif.
Nursing administration diberi batasan sebagai suatu
bidang studi dalam keperawatan yang berfokus pada pe-
ngelblaan pelayanan keperawatan yang berfokus pada
pengelolaan pelayanan keperawatan yang terorganisir (admi-
nistration of organized nursing services). Pengembangan
pengetahuan nursing administration untuk dipraktekkan
sebagai suatu bidang studi terapan harus bersandar pada dua
perspektif yang independen yaitu keperawatan dan mana-
jemen. Namun nursing administration sebagai suatu bidang
studi memerlukan lebih banyak teori yang bersifat manajerial
dari pada klinik. Perawat administrator bukanlah seorang
praktisi klinik yang orientasi utamanya adalah pasien secara
perorangan. Nursing administration pada dasarnya ber-
kepedulian pada pengelolaan tiga macam clients yaitu : 1)
patients as aggregates; 2) the nurses in practice within the
system of organized nursing services; dan
3) the organization
of nursing service delivery.
Ada empat kelompok domain pengetahuan dan keterampil-
an yang dibutuhkan di dalam nursing administration. Keempat
domain tersebut dapat dilihat pada Bagan I(10 ).
Bagan 1. Kelompok domain
Dijabarkan lebih lanjut bahwa fokus studi Nursing Requi-
rements Domain adalah klien secara keseluruhan (client
aggregates) dalam konteks pelayanan keperawatan yang
diorganisir (organized nursing services). Client aggregates
merupakan fenomena yang spesifik dalam nursing
administration sebab pelayanan keperawatan bertanggung
jawab atas distribusi dan alokasi sumberdaya, serta peng-
awasan mutu. Domain ini memberi penekanan pada pengem-
bangan pengetahuan yang menjelaskan, menguraikan dan
memprediksi fenomena pada klien secara keseluruhan dan
bukan klien secara perorangan. Konsep-konsep yang ber-
hubungan dengan domain ini, antara lain, sistem pengklasi-
fikasian pasien (patient classification systems), tingkatan
asuhan (levels of care), mutu asuhan (quality of care), dan
Diagnostic Related Groups (DRGs). Pertanyaan (research
questions) yang menjadi kepedulian (concern) domain ini,
antara lain :
1) Adakah hubungan antara patient acuity dengan cost of
care, dengan nursing resource needs, dan dengan nursing
judgement of acuity?
2) Apakah alternatif pendekatan untuk menentukan nursing
intensity dan kebutuhan pasien akan pelayanan perawatan?
3) Bagaimana hubungan antara intensitas asuhan keperawatan,
karakteristik pasien tertentu dan biaya pelayanan perawatan.
Fokus studi Nursing Service Practice Domain adalah
paradigma praktek keperawatan. Domain ini menekankan
distribusi pelayanan keperawatan dalam suatu organisasi ter-
tentu. Oleh karena itu konsep yang dibahas di sini adalah
model praktek keperawatan, pengawasan dan pemeliharaan
mutu (quality control), pengelolaan staf (staffing), penugasan
asuhan pasien (patient-care assignment) dan lain-lain. Tiga
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
17
background image
pertanyaan yang menjadi kepedulian domain ini adalah :
1) Komponen-komponcn apakah yang paling cost
effective
untuk memberikan kepuasan, menurunkan komplikasi dan
mengurangi length of stay bagi kelompok pasien tcrtentu?
2) Tingkat pendidikan dan ketrampilan apa yang harus di-
miliki oleh para perawat agar mereka mampu memberikan
asuhan yang the highest quality but the most cost effective?
3) Bagaimanakah pola pengaturan staf (staffing patterns) yang
paling cost effective and efisien di unit-unit perawatan tertentu
(in acute, intermediate, and long-term care unit)?
Sementara dua domain tersebut di atas lebih mefokuskan
pada praktek klinik keperawatan, domain yang ketiga , Nursing
Organization Domain berfokus pada model manajemen dan
struktur organisasi. Domain meliputi pengembangan organi-
sasi pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari
organisasi rumah sakit yang bersifat kompleks. Dalam me-
menuhi keperluan keperawatan pasien secara keseluruhan,
nursing administration harus dapat memelihara dan menjamin
bahwa pelayanan keperawatan dilaksanakan secara efektif
dan efisien. Konsep yang termasuk dalam domain ini adalah
pengetahuan umum tentang teori administrasi, organisasi
serta manajemen yang kompleks, dan sistem manajemen ke-
perawatan. Dalam domain ini dapat dilihat bahwa nursing
management adalah bagian dari nursing administration. Per-
tanyaan yang menjadi kepedulian domain ini, antara lain :
1) Adakah hubungan antara struktur organisasi divisi ke-
perawatan dengan produktivitas staf keperawatan dalam
memberikan asuhan kepada pasien?
2) Bagaimana cara mengukur dan meningkatkan produktivitas
keperawatan?
3) Level atau tingkat partisipasi bagaimana yang diperlukan
olch perawat eksekutif, agar ia dapat berperan aktif dalam
pcmbuatan kcbijakan yang bcrsifat institution-wide, dan se-
lanjutnya agar ia mampu membuat perencanaan, pengorgani-
sasian dayanan keperawatan sccfisicn dan seefcktif mungkin?
Domain yang ke-empat, Environment Domain menyaji-
kan framework untuk mengidcntifikasi fenomena dan konsep
di lingkungan divisi pelayanan keperawatan. Hal ini sangat
diperlukan untuk memahami keseluruhan fenomena di tiga
domain lainnya Nursing Requirements, Nursing Service
Practice dan Nursing Organization. Pcrtanyaan yang menjadi
kcpcdulian domain ini adalah :
1 ) Apakah pcngaruh atau dampak pcngckangan biaya (cost
containment) terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
pclayanan kcperawatan?
2) Apakah cfck atau dampak suatu sistcm tertcntu, misalnya
DRGs, tcrhadap fungsi manajcr keperawatan dan mutu
asuhan keperawatan di rumah sakit?
3) Apakah dampak sistcm pcmbayaran rumah sakit tcrhadap
fungsi manajcr keperawatan dalam mengarahkan, mengelola
dan mengawasi staf ?
18
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No . 91, 1994
Dapat dilihat pada rincian di atas bahwa produk nursing
administration meliputi produk keperawatan dan manajemen.
Teori ini sejalan dcngan pemikiran Anderson (1989) yang
menyatakan bahwa sebagai akibat meningkatnya kompleksitas
manajemen pelayanan kesehatan maka nursing administration
harus mengikuti perkembangan tersebut dan outcome nursing
administration harus mencakup high-quality nursing product
dan high-qualiry management product.(")
PERAN PERAWAT EKSEKUTIF DALAM EFISIENSI
SUMBER DAYA
Menghadapi situasi dan kondisi seperti telah diuraikan pada
bagian Pendahuluan, dan merujuk kepada luasnya lingkup
nursing administration seperti diuraikan di atas, maka peran
perawat eksekutif berkembang menjadi luas, lebih kompleks
dan lebih sukar. Dapat dianalisis bahwa perawat eksekutif
mempunyai berbagai fungsi seperti planning, organizing,
staffing, directing, dan controlling sumber daya yang diperlu-
kan bagi terselenggaranya keseluruhan kegiatan pelayanan
keperawatan yang tersebar di keempat domain dan meliputi
kegiatan asuhan keperawatan langsung (direct nursing care)
dan asuhan keperawatan tidak langsung (indirect nursing care).
Sejalan dengan perluasan dan perkembangan perannya
serta guna pencapaian tujuan organisasi maka dituntut pula
peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para perawat
eksekutif baik di bidang keperawatan maupun di bidang
manajemen yang meliputi manajemen sumber daya manusia,
finansial, materi dan waktu. Dalam pengelolaan dan untuk
pencapaian missi organisasi (rumah sakit dan khususnya
divisi keperawatan), perawat eksekutif diharapkan mempunyai
visi ke depan dan senantiasa mampu mengikuti, meng
antisipasi, dan mengadaptasi perubahan dan pergeseran dalam
industri pelayanan kesehatan (health care industries) yang serba
tidak pasti (uncertain) dan terus berubah mengikuti kemajuan
iptek dan .peningkatan demand masyarakat.
Fralic (1992) menyatakan bahwa keberhasilan divisi ke-
perawatan sangat tergantung pada kompetensi dan ketrampilan
perawat eksekutif
(12
). Decher dan Sullivan (1992), menegas-
kan bahwa perawat eksekutif harus responsif terhadap
meningkatnya demand akan asuhan keperawatan
yang
higher
quality but lower cost.(
13
) Ahli lain, mengemukakan bahwa
keberhasilan pengelolaan keperawatan akan sangat tergantung
kepada perhatian dan kemampuan perawat eksekutif meng-
hadapi , mcngatasi, dan mengantisipasi serta mengadaptasi
kesulitan (constraints) dan peluang (opportunities) yang
timbul(
14
). Dijabarkan lebih lanjut bahwa di masa yang akan
datang nursing administration akan sangat tergantung pada
cmpat hal utama, yaitu :
1) Kemampuan memahami dan mengaplikasikan pengetahuan
dan keterampilan di bidang ekonomi dan kcuangan ke dalam
rcalitas pclaksanaan pclayanan keperawatan;
2) Ketrampilan mengembangkan dan mengelola sistim
background image
desentralisasi unit-unit pelayanan keperawatan dengan
kerangka kerja yang lebih profesional;
3) Visi dalam memimpin kontinuitas pelayanan keperawatan
dengan konteks kedewasaan profesi keperawatan
(maturing
nursing profession)
dalam sistim pelayanan kesehatan yang
terus berubah dan sumber daya yang terbatas; dan
4) Meningkatnya pengaruh teknologi terhadap peran dan
pengetahuan staf keperawatan dan fungsi perawat eksekutif
dalam sistim pelayanan kesehatan.
Salah satu kriteria pemimpin pelayanan keperawatan
adalah seorang perawat yang cakap, mempunyai kualifikasi
manajer dan mempunyai kewenangan serta bertanggung
jawab bagi berfungsinya pelayanan keperawatan
(15)
Dengan memiliki pengetahuan, kemampuan dan ketram-
pilan seperti terlihat dalam uraian-uraian tersebut di atas
maka diharapkan pengejawantahan peran perawat eksekutif
dapat terlihat di semua
domain nursing administration.
Dalam
efisiensi penggunaan sumber daya, perawat eksekutif dapat
berperan melalui dan/atau dalam beberapa fungsi serta tugas-
nya sebagai pengelola divisi pelayanan keperawatan. Efisiensi,
dalam tulisan ini, diartikan sebagai komponen produktivitas
yang membandingkan
input
dengan
output,
dan dapat di-
hitung dcngan rumus di bawah ini
(16)
Some Measure of Output (production)
Some measure of Input (labor, wages, or other resources)
Dalam tulisan ini peran perawat eksekutif dalam efisiensi
penggunaan sumber daya
(resources)
di divisi pelayanan
keperawatan akan dilihat dari dua sudut pandang, yaitu, 1)
pertama sebagai pemrakarsa atau konseptor berbagai ide,
kebijakan, strategi dan keputusan dalam lingkup tanggung
jawabnya yang diperlukan untuk menentukan pola sistem
pengelolaan pelayanan keperawatan; dan 2) sebagai pengelola
(perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta evaluasi)
pengimplementasian kebijakan, strategi dan keputusan--
keputusan dalam lingkup manajemen keperawatan sebagai
bagian integral dari manajemen rumah sakit.
Melalui kerjasama perawat eksekutif dengan para ekse-
kutif subsistem lainnya di rumah sakit, maka diharapkan
pengimplementasian kebijakan, strategi dan keputusan yang
dibuat berdasarkan visi serta analisis situasi yang kompre-
hensif akan memberi dampak terhadap peningkatan mutu
asuhan dan manajemen keperawatan yang dikelola secara
efisicn.
Berbagai studi dan penelitian di bidang manajemen ke-
perawatan menunjukkan bahwa sistem pelayanan keperawatan
-- struktur organisasi keperawatan, bentuk penugasan asuhan
pasien dan pendekatan proses keperawatan beserta diagnosis
keperawatan
(nursing diagnosis) --
yang dikelola secara
profesional akan meningkatkan profesionalisme tenaga dan
profesi keperawatan, mutu asuhan keperawatan, dan me-
ningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Perawat ekse-
kutif berperan sangat besar dalam memilih dan menentukan
model yang sesuai dengan situasi dan kondisi divisi pe-
layanan keperawatan yang dikelolanya. Sebagai contoh,
berikut ini akan disajikan secara ringkas uraian penugasan
asuhan pasien dan pendekatan proses keperawatan serta
hubungannya dengan peningkatan profesionalisme kepe-
rawatan, peningkatan mutu asuhan keperawatan, kepuasan
pasien, dan efisiensi penggunaan sumber daya.
Penugasan Asuhan Pasien
Beberapa model penugasan asuhan pasien telah dikenal
dalam manajemen keperawatan. Namun disebutkan bahwa ada
tiga model utama penugasan asuhan pasien, yaitu
Functional
Nursing, Team Nursing
dan
Primary Nursing
(17)
.
Perbedaan
yang mendasar pada ketiga model ini terletak pada sistim atau
pola pengaturan fungsi, tugas dan tanggung jawab yang di-
emban oleh perawat dalam pengorganisir dan melaksanakan
aktifitas yang diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan pasien.
Pada model
Functional Nursing
tanggung jawab dan tugas
keperawatan dibagi kepada dan dikerjakan oleh berbagai
tingkatan tenaga keperawatan. Semua pemberi asuhan kepe-
rawatan
(care-givers)
terlibat dalam perawatan pasien, tetapi
setiap perawat hanya ditugaskan untuk melakukan satu jenis
tugas tertentu, misalnya
me
-
monitor
tanda-tanda vital, mem-
bagikan obat, memberikan penyuluhan dan lain-lain. Penugas-
an pada model ini mengakibatkan adanya fragmentasi tugas.
Di samping itu, dari segi tenaga keperawatan bisa menyebab-
kan
infficient
danimpersonal
(17)
.
Tidak seperti
Functional Nursing, Team Nursing
adalah
suatu sistem pemberian asuhan keperawatan dcngan mem-
bentuk tim-tim keperawatan yang bertanggung jawab tcrhadap
pemberian asuhan keperawatan kepada sejumlah pasien ter-
tentu. Setiap tim terdiri dari beberapa orang tenaga ke-
perawatan profesional dan non profesonal. Pada sistim ini
masih terjadi fragmentasi tugas, tctapi tidak sebesar frag-
mentasi pada sistim
Functional. Di
dalam praktek, sistim ini
mudah sekali menjadi duplikasi sistim fungsional.
Pada model yang ketiga,
Primary nursing,
penekanannya
terletak pada pcnugasan seorang perawat profesional atau
registered nurse,
yang disebut sebagai
Primary Nurse
sebagai
penanggung jawab utama pemberi asuhan keperawatan ke-
pada
pasien tertentu.
Primary nurse
tersebut bertanggung
jawab
(responsible
dan
accountable)
untuk seluruh kegiatan
proses keperawatan -- yang meliputi pengkajian, menentukan
diagnosis keperawatan, pereneanaan, pengimplementasian,
dan evaluasi tindakan keperawatan -- mulai dari pasien
masuk sampai pasien pulang. Perawat bertanggung jawab
penuh selama 24 jam. Di dalam praktek, pada saat ketidak-
hadirannya maka
primary nurse
(yang dibantu
()la
temp
keperawatan dari tingkat yang lebih rendah (misalnya LPNs
dan
nursing assistants),
dapat mendelegasikan pelaksanaan
asuhan keperawatan kepada para perawat yang membantu-
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus
No. 9
1, 1994 19
background image
nya. Dengan sistim ini maka: tidak terjadi fragmentasi tugas;
primary nurse akan mengelola asuhan keperawatan secara
komprehensif dan profesional; terjadi peningkatan hubungan
terapetik antara perawat dan pasien, semua hal tersebut dapat
memberi dampak terhadap peningkatan profesionalisme,
peningkatan autonomi profesi dan kepuasan bekerja bagi
perawat, peningkatan kepuasan pasien akan mutu layanan dan
asuhan keperawatan, dan efisiensi penggunaan sumberdaya.
Masing-masing model mempunyai kelebihan dan ke-
lemahan. Meskipun ada perbedaan pendapat di antara para
peneliti, namun bila dilihat dari segi peneapaian peningkatan
kualitas profesi keperawatan, peningkatan mutu asuhan ke-
perawatan, peningkatan efektifitas dan efisiensi sumberdaya
maka Primary Nursing merupakan model yang relatif paling
tepat
.(17,
1
8,19
)
Hasil studi menunjukkan bahwa model primary
nursing dapat menghemat biaya sebesar $1.30 per pasien per
hari(
20
). Beberapa alasan yang dikemukakan dapat dilihat
dalam kutipan berikut
(17)
Functional
Team
Functional
Not
cost-effective
Not
cost-effective
Most likely to be cost
because :
because :
effective because :
1. Product (nursing
1.
Product is of only
1.
Product is of high
care is of poor
moderate quality,
quality since the
quality owing to
since expertise in
person most pre-
fragmentation;
judgement
and
pared and best
this results
,
in
communication
equipped to per-
many complaints
cannot be dele-
form does so on a
from clients.
gated from the
continuing basis
care-planners
for
the
same
(team leaders) to
clients.
2. Nursing staff easi-
2.
the
care-givers
(team members).
Turnover of nurs-
2.
Turnover of nurs-
ly becomes frus-
ing staff is mo-
ing staff is minimal
trated, and turn-
derate but vari-
because of higher
over rate is usually
able.
level
of satisfac-
high, thus increas-
tion experienced
ing cost of orien-
by nurses.
3.
tation and of staff
development.
Output from pro-
3.
Same as for func-
3.
Profesional nurses
fessional nurses is
tional nursing.
do the job for
low since they are
which they are
not required to
being paid;
perform the full
"unproductive"
job -- the total
time
decreases
nursing process--
dramatically.
for which they are
being paid.
Proses Keperawatan dan Diagnosis Keperawatan
Proses keperawatan (terdiri dari seperangkat kegiatan
keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosis
keperawatan, perencanaan, intervensi, dan evaluasi) memberi-
kan cara yang logik dan rasional bagi para perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan secara tepat, efisien dan
efektif sesuai dengan kebutuhan pasien.
(17,21)
Mengikuti pendekatan sistematik proses keperawatan,;
maka perawat profesional menetapkan diagnosis keperawatan.
berdasarkan data hasil pengkajian yang komprehensif akan
masalah kesehatan pasien (aktual dan potensial) serta pengkajian
akan sumberdaya dimiliki pasien yang akan bekerjasama
dengan perawat untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan,
Selanjutnya pereneanaan tindakan asuhan keperawatan dibuat
berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah ditegakkan.
Oleh sebab itu, apabila pendekatan ini diaplikasikan secara
benar maka efisiensi penggunaan sumberdaya dapat
ditingkatkan. Berdasarkan hasil studi dilaporkan bahwa
penerapan diagnosis keperawatan dapat menjadi dasar bagi
pecnapaian efisiensi dan efektifitas nursing
administration
(22)
.
Di samping itu, diagnosis keperawatan meningkatkan oto-
nomi, tanggung jawab, accountability, serta peranserta
perawat dalam pencapaian tujuan asuhan keperawatan dan
tujuan divisi pelayanan keperawatan.
Saya berpendapat pengaplikasian proses keperawatan de-
ngan diagnosis keperawatan dalam memberikan pelayanan,
kepada pasien akan mendukung dan sejalan dengan kebijak-
sanaan pembangunan Pelita VI, yang menyatakan: pengem-
bangan su mber daya manusia diarahkan pada pembentukan
tenaga profesional yang mandiri dan beretos kerja tinggi,
produktif, berkualitas, efisien, efektif dan berjiwa wiraswasta
(dikutip dari GBHN 1993).
Melanjutkan uraian pada paragraf-paragraf sebelumnya,
dalam peran sebagai pengelola pengimplementasian penugasan
asuhan pasien dan penerapan proses keperawatan, maka peran
perawat e ksekutif dapat terlihat dalam fungsi dan tugasnya
merencanakan sumber daya manusia (tenaga keperawatan dan
non keperawatan), materi (supplies and equipment), dan
finansial sesuai dengan kebutuhan. Kemampuan seeara pro-
fesional membuat prediksi dan pendistribusian jumlah tenaga
yang dibutuhkan serta pengalokasian sumber daya materi dan
finansial sesuai dengan keperluan pelayanan akan membcri
dampak terhadap efisiensi penggunaan sumber daya. Ke-
tidakmampuan melakukan pereneanaan yang baik dapat
terlihat dari beberapa fenomena seperti tidak tepatnya dan
tidak meratanya distribusi tenaga di unit-unit keperawatan,
menumpuknya supplies di unit-unit keperawatan kerena
jumlah yang dipesan (dari tempat penyimpanan) jauh me-
lebihi keperluan dan akhirnya tidak terpakai karena kada-
luarsa, rusak atau hilang. Berdasarkan hasil studi diketahui
bahwa rumah sakit kehilangan 1%/dollar/bulan untuk supplies
yang tidak terpakai (turn
over)
( 23 )
.
Dalam konteks manajemen yang lebih luas, perawat eksekutif
dapat berperan aktif dalam pengembangan strategic mana-
gement yang terdiri dari tiga strategi utama: operation, con-
trol, performance monitoring, and staff
development.(
24
)
Dalam
hal operational control, antara lain perawat eksekutif dapat
mengembangkan cara pendokumentasian yang dapat menjamin
bahwa biaya pelayanan keperawatan telah terhitung dengan
akurat. Mereka juga diharapkan berperan aktif dan kreatif
menciptakan sistim pemeliharaan/pemantauan supplies dan
equipments keperawatan, serta meningkatkan kesadaran staf
20
Ce
r
min Dunia Kedokteran. Edisi Khusus
No. 91, 1994
background image
keperawatan agar efisien dan efektif dalam penggunaan
sumber daya yang terbatas. Selanjutnya, perawat eksekutif
diharapkan berperan aktif dalam mengindentifikasi bidang
yang mungkin dapat diteliti untuk meningkatkan efisiensi
pelayanan keperawatan.
Dalam performance monitoring, dan staffing, kemampuan
perawat eksekutif merekrut, mengembangkan dan menempat-
kan tenaga keperawatan profesional sesuai dengan keadaan
dan tingkat kebutuhan pasien akan asuhan keperawatan (yang
dapat diketahui mclalui penetapan diagnosis keperawatan)
akan meningkatkan efisiensi pendayagunaan tenaga ke-
perawatan dan meningkatkan produktivitasnya. (Produktivitas
diartikan sebagai persentase waktu yang digunakan dalam
memberikan direct care, indirect care, dan unit-related
activities dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk
personal activities.) Penelitian membuktikan bahwa apabila
dikelola dengan bet-tar maka perawat profesional akan lebih
produktif daripada tenaga keperawatan non profesional.
Dikemukakan lebih jauh, apabila produktivitasnya diper-
hitungkan maka perawat profesional dinilai lebih cost-effective
daripada tenaga keperawatan non profesional
(24,.25)
.
Penempatan perawat profesional di unit yang tidak sesuai
dengan kemampuan dan keterampilannya adalah tidak efisien
dan akan merugikan institus . Demikian juga halnya dengan
penempatan yang tidak tepat bagi tenaga keperawatan yang
tidak atau kurang mampu melakukan suatu tugas keperawatan
tertentu akan tidak efisien dan dapat merugikan institusi.
Perawat cksekutif, dalam menghadapi perkembangan dan
perubahan profesi keperawatan dan pelayanan kesehatan,
perlu mcrevisi atau mcrumuskan kembali (redefine) peran,
fungsi dan tanggung jawab anggota tim keperawatan. Sejalan
dengan hal ini dan untuk peningkatan efisiensi, perlu disusun
dan dikembangkan standar pelayanan dan praktek ke-
perawatan.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian perawat eksekutif
adalah pengefisiensian penggunaan waktu pertemuan atau
rapat dcngan staf keperawatan. Mempersiapkan rapat dan
menentukan sebelumnya tujuan, topik bahasan rapat serta
mode pcneapaian tujuan rapat tersebut akan sangat mem-
bantu perawat eksekutif dalam memimpin rapat secara efisien.
Di samping hal-hal yang tersebut di atas, perawat eksekutif
diharapkan dapat mengelola divisi pelayanan keperawatan
sedemikian rupa agar tercipta suasana yang menyenangkan
schingga rumah sakit menjadi tempat kerja yang menyenang-
kan. Selanjutnya diharapkan tidak terjadi angka turn over
yang tinggi sebab turn over yang tinggi akan meningkatkan
biaya pengelolaan staf dan tidak efisien.
KESIMPULAN
Pada saat ini, dipengaruhi oleh berbagai faktor, institusi
pelayanan kesehatan dan herupaya untuk meningkatkan
efisiensi pelayanan tanpa mengorbankan mutu pelayanan.
Dalam sistem pelayanan rumah sakit, peningkatan mutu
manajemen dan pengelolaan secara efisien diperlukan oleh
setiap unsur atau subsistem pelayanan rumah sakit. Divisi
pelayanan keperawatan, merupakan salah satu subsistim ter-
besar dan berfungsi memberikan asuhan keperawatan yang
merupakan fungsi inti pelayanan rumah sakit.
Telah disampaikan secara ringkas bahwa untuk peneapaian
peningkatan mutu pelayanan keperawatan, kepuasan pasien,
maka divisi pelayanan keperawatan perlu dikelola seeara
profesional oleh perawat eksekutif yang peran dan
tanggungjawabnya menjadi semakin berkembang, semakin
luas dan komplek mengikuti peningkatan kompleksitas sistem
manajemen pelayanan kesehatan. Agar perawat eksekutif
dapat berperan aktif dan mampu menghadapi, mengantisipasi
dan mengadaptasi perkembangan serta perubahan di
pelayanan kesehatan yang dipengaruhi oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang kesehatan,
maka perkembangan dan perluasan peran tersebut menuntut
pula pengembangan dan peningkatan pengetahuan, kemampuan,
serta ketrampilan perawat eksekutif di bidang keperawatan
dan menajemen.
Dengan perkembangan dan perluasan peran yang diikuti
dengan peningkatan pengetahuan, kemampuan serta ketram-
pilannya, diharapkan perawat eksekutif dapat berperan aktif
dan kreatif di semua domain nursing administration. Ter-
masuk di dalamnya adalah peran dalam efisiensi penggunaan
sumber daya. Di dalam makalah ini disajikan secara ringkas
dan dalam garis besar peran perawat eksekutif dalam efisiensi
penggunaan sumber daya. Diuraikan peran perawat eksekutif
sebagai pemrakarsa gagasan atau konseptor berbagai
kebijakan, strategi dan keputusan-keputusan yang dibuat
untuk peningkatan mutu manajemen keperawatan sebagai
bagian integral dari manajemen rumah sakit. Kemampuan
perawat eksekutif membuat kebijakan dan keputusan dalam
menentukan sistem atau pola pelayanan keperawatan, dan
disertai dengan kemampuan mengelola
pengimplementasi-annyaakan memberi dampak yang besar terhadap penigkatan
mutu pelayanan keperawatan dan peningkatan efisiensi
penggunaan sumber daya.
KEPUSTAKAAN
1. World Health Organization, Economic Support for National Health for
All Strategies, Geneva: WHO, 1988.
2. Organization for Economic Co-operation and Development Helath Care
Systems in Transition : The Search for Efficiency, Paris: OECD. 1991
3. Parkin D. Comparing Health Service Efficiency Across Countries, in
A. Mc Guire et al (Eds), Providing Health Care: The Economics of
Alternative Systems of Finance and Delivery, New York: Oxford Uni-
versity Press, 1991
4. Hundak RP et al. Health Care Administration in the Year 2000:
Practitioners Views of Future Issues and Job Requirements, Hospital and
Health Service Administration, 23; 2 : 181-196.
5. Wasisto B. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Meningkatkan Mutu
Pelayanan Keperawatan, Makalah pada Simposium Keperawatan dalam
rangka Lustrum VI Akper St. Carolus, Jakarta, 21 September 1993.
6. Quick JC. et al. Health Administration can be Stresful but not Necessar-
ily Disstresful, Hospital and Health Services Administration, 1986;
101-111.
7. Hoffman FM, Financial Management for Nurse Managers, East
Norwalk, CT: Appleton Century, 1984.
Cermin
Dania
Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
2 1
background image
8. Mintzberg H. The Structuring of Organizations, New Jersey: Prentice
Hall, 1979.
9. Strassen L. Designing Health Delivery Systems, J. Am. Nurs 1988; 18
(9): 3-5
10. Kim HS. Nursing Knowlwdge and Theory: Implication for Nursing
Administration. In : HB. Heyden, B. Richardson (Eds) International
Administration of Nursing Services, Philadelphia: Charles Press, 1989
11. Anderson R. A Theory Development Role for Nurse Administrators
J. Am. Nurs. 1989; 19(5) : 23 - 9
12. Fralic MAF. Nursing Administration: The Next Decade. In : Decher PJ,
Sullivan EJ (Eds), Nursing Administration: A Micro/Macro Approach
for Effective Nurse Executive, Norwalk, CT: Appleton Lange, 1992.
13. Decher PJ, Sullivan EJ. Nursing Administration: A Micro/Macro
Approach for Effective Nurse Executive, Norwalk, CT: Appleton
Lange, 1992.
14. Porter-O Grady T. The Future of Nursing Administration. In : Decher,
P.J, Sullivan E.J. (Eds). Nursing Administration: A Micro/Macro
Approach for effective Nurse Executive, Norwalk, CT: Appleton
Lange, 1992
15. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Standar Pelayanan Rumah
Sakit, Jakarta: Dcpkes RI.
16. Ehrat KS. (1987) The Cost Quality Balance: An Analysis of Quality,
Effectiveness, Efficiency, and Cost. J. Am. Nurs. 1987; 17 (5) : 6-14
17. Iyer PW et al, Nursing Process and Nursing Diagnosis, Philadelphia:
WB Saunders Co. 1986.
18. Marram G. The Comparative Costs of Operating a Team and Primary
Nursing, J. Am. Nurs 1976; 5 (5) : 21-4.
19. Gillies DE, Nursing Management: A System Approach, Philadelphia:
W.B. Saunders Co, 1982.
20. Wolf GA. et al. Primary Nursing: The Impact on Nursing Costs within
DRGS", J. Am. Nurs. 1986; 16 (3): 9-11.
21. Leddy S, Papper JM. Conceptual Basis of Professional Nursing, Phila-
delphia: JB. Lippincott Co. 1985.
22. Maas ML. Nursing Diagnoses in a Professional Model of Nursing: Key-
stone for Effective Nursing Administration, J.Am Nurs. 1986; 16(12):
29-42.
23. Cookston B. et al, A Comprehensive Charge System for Unit Supplies
J. Am. Nurs. 1986; 16(4) : 31 - 4.
24. Do novan M.I Lewis G. Increasing Productivity and Decreasing Costs:
The Value of RNs J. Am. Nurs. 1987; 17(9) : 16-8.
25. Minyard K. et al. RNs may Cost Less than You Think, J. Am Nurs,
1986; 16(5) : 28-36.
26. Smith HL. et al. Nursing Departement Strategy, Planning, and Perfor-
mance in Rural Hospital, J. Am. Nurs: 1993; 23(4): 23-34.
2 2
Cermin Dunia Kedokteran, E disi Khusus No. 91. 1994