Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengobatan Standar
Penderita TBC
Merryani Girsang
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Tujuan pengobatan penderita tuberkulosis (TBC) dengan OAT (Obat Anti
Tuberkulosis) standar jangka pendek, adalah memutuskan rantai penularan dengan
menyembuhkan paling sedikit 85% kasus TB baru dengan BTA positif, dan 70%
cakupan pelayanan untuk BTA positif yang ditemukan guna mencegah terjadinya
resistensi obat.
PENDAHULUAN
Di Indonesia penyakit tuberkulosis (TBC) masih merupa-
kan masalah kesehatan yang serius; data P2TBParu menunjuk-
kan adanya peningkatan kasus TB-paru dari tahun ke tahun
(1)
.
Diperkirakan ada sekitar 450.000 orang penderita TB baru
setiap tahun dan sebanyak itu pula yang tidak terdiagnosis di
masyarakat, sedang yang meninggal akibat TB diperkirakan
175.000 orang setiap tahun
(2)
. Penyakit TBC yang diperkenal-
kan dengan sebutan TB-paru merupakan penyakit yang
mengganggu sumberdaya manusia dan umumnya menyerang
kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi rendah, penyakit
ini menular dengan cepat pada orang yang rentan dan daya
tahan tubuh lemah; diperkirakan seorang penderita TB aktif
dapat menularkan basil TB kepada 10 orang di sekitarnya
(1)
.
Peningkatan kasus dan kematian yang disebabkan oleh TB-paru
antara lain karena tidak diobati, tidak mengerti telah terinfeksi
basil TB; juga karena angka cakupan yang rendah, cakupan
tinggi tapi hasil pengobatan rendah serta adanya kasus-kasus
baru akibat transisi demografi
(3)
.
SEJARAH PENGOBATAN
Tahun 1940 ditemukan efek bakteriostatik sulfanilamide
(dapsone) pada binatang percobaan yang terinfeksi kuman
tuberkulosis, tetapi efek ini tidak ditemukan pada manusia
(4)
.
Pada tahun 1944 Waksman mengisolasi antibiotik baru dari
Streptomyces griseus yang dikenal sebagai streptomisin, obat
ini mempunyai efek anti tuberkulosis pada binatang percobaan
dan kemudian digunakan sebagai Obat Anti Tuberkulosis yang
pertama pada manusia
(5)
.
Pengobatan TBC hanya menggunakan satu macam obat
yaitu streptomisin sampai tahun 1949, saat ditemukan Asam
Para Amino Salisilat (PAS) yang dapat mencegah terjadinya
resistensi terhadap streptomisin. Sejak itu pengobatan penyakit
TB-paru selalu menggunakan dua jenis obat atau lebih.
Kemudian pada tahun 1952 ditemukan INH (Isoniazid) yang
kemudian menjadi komponen penting dalam pengobatan TB,
karena sangat efektif, toksisitasnya rendah dan harganya murah.
Pada tahun 1972 mulai digunakan Rifampisin sebagai
paduan obat jangka pendek yang pemberiannya dikombinasi
dengan Ethambutol agar waktu pengobatan dipersingkat men-
jadi enam bulan atau separuh dari waktu pengobatan dengan
Streptomisin yang masa pengobatannya dua belas bulan dengan
efek terapi yang tidak kurang.
Pada tahun 1995 WHO menganjurkan strategi DOTS
(Directly Observed Treatment Shortcourse), strategi kompre-
hensif untuk digunakan oleh pelayanan kesehatan primer di
seluruh dunia untuk mendeteksi dan menyembuhkan penderita
TB, agar transmisi penularan dapat dikurangi di masyarakat
(6)
.
PENGOBATAN PENDERITA TB-PARU
Obat yang diberikan kepada penderita TB-paru dengan
BTA (Bakteri Tahan Asam) positif, adalah OAT (Obat Anti
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
6
Tuberkulosis) yang telah diprogramkan pada tahun 1993/
1994
(6)
.
Untuk pengamanan dalam pelaksanaan pengobatan, padu-
an OAT dikemas dalam bentuk blister kemasan harian
kombipak (paket kombinasi), yang terdiri dari kombipak I,
kombipak II untuk fase awal dan kombipak III untuk fase
lanjutan, oleh karena itu sekali seorang penderita memulai
pengobatan, ia harus menyelesaikannya dengan lengkap dan
hingga sembuh
(7)
.
Obat Anti Tuberkulosis yang digunakan dalam program
pengobatan TB jangka pendek adalah: Isoniazid (H), Rifam-
pisin (R), Pirazinamid (Z), Streptomisin (S) dan Ethambutol
(E). Oleh karena itu penggunaan Rifampisin dan Streptomisin
untuk penyakit lain hendaknya dihindari untuk mencegah
timbulnya resistensi kuman. Pengobatan penderita harus
didahului oleh pemastian diagnosis melalui pemeriksaan
radiologik, dan laboratorium terhadap adanya Bakteri Tahan
Asam (BTA) pada sampel sputum penderita.
Pemberian OAT juga harus sesuai dengan berat badan
penderita, rata-rata berat badan penderita TB menurut peng-
alaman petugas kesehatan antara 33-50 kg sehingga kemasan
dalam blister kombipak I , kombipak II, kombipak III dan
kombipak IV sangat sesuai; bagi penderita dengan berat badan
lebih dari 50 kg perlu penambahan dosis. Pemberian peng-
obatan dengan sistem kombipak sangat efektif dan praktis.
EFEKTIFITAS OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)
1. Obat yang digunakan harus dalam kombinasi paling sedikit
dua macam obat; untuk mencegah timbulnya resistensi primer
terhadap salah satu obat, gunakan 3-5 macam obat.
2. Obat harus dimakan secara teratur selama masa peng-
obatan untuk masing-masing fase pemberian.
3. Lamanya pengobatan perlu diperhatikan untuk mencapai
penyembuhan, yang sangat tergantung pada kombinasi obat
yang digunakan.
4. Bila obat kategori I selesai , tetapi basil Tb masih positif,
dianggap sudah resisten; lakukan uji resistensi dan pengobatan
dilanjutkan ke kategori II.
5. Pemakaian OAT blister ditelan sekaligus sebelum tidur
malam, satu atau 2 jam sebelum makan pagi. Setelah fase awal
intensif selesai/selama 2 bulan menelan obat, sebaiknya laku-
kan Rontgen dan pemeriksaan terhadap sputum, jika masih
positif, obat kombipak II diteruskan selama satu bulan dan
dilihat perkembangannya
(8)
.
INDIKATOR PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBER-
KULOSIS
Obat yang dipakai dalam program pemberantasan TB
sesuai dengan rekomendasi WHO berupa paduan obat jangka
pendek yang terdiri dari tiga (3) kategori, setiap kategori terdiri
dari 2 fase pemberian, yaitu fase awal intensif dan fase
lanjutan/intermiten
(1,8)
sebagai berikut:
-
Kategori I (2 HRZE/4H3R3), diberikan ke pada penderita
baru BTA positif dan penderita baru BTA negatif, tetapi
Rontgen positif, dan ekstra paru berat. Diberikan 114 kali dosis
harian berupa 60 kombipak II dan fase lanjutan 54 kombipak
III dalam kemasan dos kecil.
-
Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E3), diberikan ke pada
penderita dengan BTA (+) yang telah pernah mengkonsumsi
OAT sebelumnya selama lebih dari sebulan, dengan kriteria:
penderita kambuh (relaps) BTA (+) dan gagal pengobatan
(failure) BTA (+) dan lain-lain dengan kasus BTA masih (+).
Diberikan 156 dosis; fase awal sebanyak 90 kombipak II, fase
lanjutan 66 kombipak IV, disertai Streptomisin.
- Kategori III (2HRZ/4H3R3) diberikan ke pada: penderita
baru BTA (-)/Rontgen (+) dan penderita ekstra paru ringan.
Pemberian dengan dosis 114 kali. Pada fase awal 60 kombipak
I dan fase lanjutan 54 kombipak III.
-
OAT sisipan (HRZE), diberikan pada pengobatan kategori
I dan kategori II yang pada fase awal masih BTA (+), untuk ini
diberikan obat sisipan selama satu bulan, dimakan setiap hari.
Kategori kasus berdasarkan riwayat pengobatan :
1. Kasus baru: penderita yang belum pernah mendapat
pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT), atau pernah
akan tetapi kurang dari satu bulan.
2. Kambuh/Relaps : pernah dilaporkan sembuh, tetapi datang
lagi dengan BTA(+).
3. Pindahan/transfer in: telah terdaftar dan mendapat
pengobatan di tempat lain, kini datang berobat serta
mendaftarkan diri untuk lanjutan pengobatan.
4. Pengobatan
setelah
default/lalai : penderita yang kembali
datang berobat setelah berhenti makan obat selama dua bulan
atau lebih.
5. Gagal : penderita BTA (+) yang tetap memberikan hasil
BTA (+), walaupun setelah pengobatan fase awal.
Pemakaian obat anti tuberkulosis (OAT) jangka pendek
sesuai rekomendasi WHO, yaitu berdasarkan kategori dan
klasifikasi penyakit, sangat penting. Obat anti TB yang
digunakan sesuai dengan program pemerintah guna mencegah
kegagalan pengobatan. Dengan keteraturan minum obat,
penderita dijamin dapat sembuh.
Tujuan pengobatan adalah untuk menjamin kesembuhan
dan mencegah terjadinya resistensi primer yang dapat
merugikan penderita serta menyulitkan kesembuhan. Untuk itu
digunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short
Course Therapy) yang artinya: pengobatan TB jangka pendek
dengan pengawasan ketat oleh petugas kesehatan atau keluarga
penderita
(9)
. Strategi ini diperkenalkan oleh WHO; DOTS tidak
hanya mencakup pengawasan langsung pengobatan, tetapi juga
pelayanan laboratorium, penyediaan obat- obatan yang ampuh
serta pemantauan langsung; untuk itu diperlukan PMO
(Pengawas Menelan Obat).
Diharapkan strategi DOTS di Indonesia dapat berhasil
untuk mengurangi penularan. Di negara seperti Peru, Vietnam,
Tanzania, Bangladesh dan Nepal
(10)
yang telah lebih dahulu
menggunakannya, strategi ini menunjukkan hasil positif, dilihat
dari keberhasilannya dalam pemberantasan TB.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Pemberian OAT dengan strategi DOTS, dapat memutuskan
rantai penularan dengan menyembuhkan penyakit, paling
sedikit 85% dari kasus TB yang ditemukan.
2. Pemeriksaan Rontgen dan pemeriksaan laboratorium harus
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 7
dilakukan sebelum mengkonsumsi OAT.
KEPUSTAKAAN
3. OAT akan berdaya guna menyembuhkan penderita TB,
jika dikonsumsi secara teratur dan taat.
1. Depkes RI. Pedoman Penyakit Tubekculosis dan Penanggulangannya.
1994.
4. Penyuluhan kepada penderita TB-paru mengenai penyakit-
nya, perlu diberikan sebelum pengobatan, agar penderita
mengerti dan mau mengikuti jadual pengobatan.
2. GERDUNAS-TB.
Gerakan
Terpadu Nasional Penanggulangan Tuber-
kulosis. Stop TB dengan DOTS. 1999.
3. Tety, dkk. DOTS sebagai strategi baru dalam penanggulangan Tuber-
kulosis dan penatalaksanaan di puskesmas. Medika, 1999; 4.
5. Penanggulangan TB memerlukan kerjasama antar lembaga
swasta, LSM termasuk organisasi profesi dalam rangka
implementasi kebijakan dalam pemberantasan TB, khususnya
melalui pendekatan strategi DOTS.
4. Cheesbrough M. Medical Laboratory Manual for Tropical Countries.
1993; VIII : 289.
5. Elmer WK, Stephen DA, William MJ, Paul CS, Washington CW Jr.
Diagnostic Microbiology. 1992.
6.
WHO. Stop TB with DOTS. 1999.
6. Program pengobatan penyakit TB sesuai strategi DOTS
diharapkan akan cepat memberi kesembuhan secara prima pada
masyarakat.
7.
Sumartoyo E. When Tuberculosis Treatment Fails. Am. Rev. Respir. Dis,
1993; 147 : 1311-20.
8. Depkes RI. Pedoman Penyakit Tuberkulosis dan Penanggulangannya.
1997.
7. Perlu peningkatan pengetahuan, keterampilan petugas
pelayanan kesehatan dalam memberi pelayanan pengobatan
kepada penderita TB.
9. WHO. Stop TB at the Source. Report on the Tuberculosis Epidemic.
1995.
10.
WHO. Groups at Risk. Report on the Tuberculosis Epidemic. 1996.
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
8