background image
Penerapan Biopsi Aspirasi Jarum Halus
dalam Deteksi Dini Kanker
Gani W. Tambunan
Bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr. Pirngadi, Medan
ABSTRAK
Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH), bukan merupakan alat diagnostik bar'.
Di negara Barat metode ini dipergunakan sebagai prosedur diagnostik rutin tumor.
Di Indonesia, BAJAH semakin banyak dipergunakan dalam pelayanan onkologik.
Pengetrapan BAJAH sebagai diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor, mempunyai
dampak positif pada aspek deteksi dini kanker, menejemen tumor, pengelola rumah
sakit dan bagi pasien sendiri. Keberadaan alat canggih berguna membantu diagnosis
kanker, tetapi sifatnya selektif. Untuk memperoleh basil yang optimal dari biopsi
aspirasi diperlukan kerja sama kelompok klinis, radiologis dan patologis.
Teknik biopsi aspirasi sederhana,
murah, cepat dan akurat dan dapat
dipergunakan hampir pada semua tumor baik yang letaknya superfisial maupun yang
terletak di rongga tubuh.
PENDAHULUAN
Walaupun teknologi radioterapi semakin maju dan berbagai
jenis obat penyakit kanker semakin maju dan semakin banyak di
pasaran, upaya penanggulangan penyakit kanker lebih banyak
diarahkan pada deteksi dini penyakit tersebut. Penyakit kanker
dapat dideteksi sedini mungkin dengan mempergunakan Bede-
retan alat diagnostik, mulai dari alat sederhana sampai pada alat
canggih. Pemeriksaan fisik merupakan alat diagnostik klasik dan
sederhana.
Kombinasi fisik diagnostik dengan biopsi aspirasi jarum
halus (BAJAH) merupakan alat diagnostik yang efektif dan
efrsien(
1,2.3.
> . Kedua alat diagnostik sederhana ini Bering dilupa-
kan atau kurang mendapat perhatian karena larut dalam ke-
beradaan alat canggih seperti ultrasonografi (USG),
CT
Scan
dan image magnetic resonance
(IMR). Keberadaan alat canggih
banyak membantu dalam diagnosis berbagai tumor, namun
sifatnya selektif karena biaya mahal(
2
).
Pada makalah ini dikemukakan peranan biopsi aspirasi
jarum halus dalam deteksi dini kanker dengan penekanan pada
aspek perkembangan, keterlibatan, teknik dan nilai diagnosis
sitologi pada klinik.
PERKEMBANGAN
Akhir-akhir ini alat diagnostik biopsi aspirasi jarum halus
(BAJAH) semakin luas dipergunakan baik sebagai diagnosis
preoperatif maupun sebagai diagnosis konfirmatif berbagai
kanker"). Konsep diagnosis BAJAH, pertama sekali
dikemukakan oleh Martin dan Ellis (1926) di Memorial Hos-
pital,
New York(6)
Tiga tahun kemudian (1933) Stewart
mengemukakan berbagai masalah yang berkaitan dengan
aspek sitopatologi. Dua puluh tahun setelah publikasi Martin
dan Ellis, di Eropah, terutama di negara Scandinavia, penggu-
naan biopsi aspirasi sebagai prosedur diagnostik pendahuluan
tumor, maju lebih pesat dibandingkan dengan negara asalnya.
Franzen, Soderstorm, Zajicek dari Swedia dan Cardozo dari
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
7
background image
Belanda, dikenal sebagai pakar biopsi aspirasi generasi pertama
di Eropa
(
3)
.
Melalui "murid-murid Scandinavia", metode biopsi
aspirasi tersebar ke negara lain seperti Australia.
Di Indonesia, biopsi aspirasi semakin banyak dikenal dan
dipergunakan untuk diagnosis pendahuluan tumor(5,7).
Di bebe-
rapa pusat pemeriksaan kanker, biopsi aspirasi semakin
banyak dipergunakan. Di Bagian Patologi Anatomik Fakultas
Kedokteran
USU,
Medan, biopsi aspirasi diperkenalkan
sebagai prosedur diagnostik tumor sejak tahun 1980. Pala
saat ini konsep BAJAH diterima dan dipergunakan sebagai
prosedur diagnosis pendahuluan berbagai tumor di RS. Dr.
Pirngadi dan di berbagai Rumah Sakit ataupun Klinik swasta
di Medan.
KAITAN DENGAN DISIPLIN ILMU LAIN
Untuk menentukan tumor neoplasia atau nonneoplasia dan
tumor jinak atau tumor ganas tersedia berbagai alat diagnosis
mulai dari alat sederhana sampai dengan alat canggih. Alternatif
pilihan tergantung pada letak dan kondisi tumor disertai
pertimbangan efisiensi dan efektivitasnya. Penanganan tumor
melibatkan berbagai disiplin ilmu. Demikian juga penetrapan
BAJAH sebagai salah satu prosedur diagnostik tumor,
memerlukan kerja sama yang erat antara disiplin ilmu kelompok
klinisi (bedah, penyaldt dalam, pulmonologi, THT, kesehatan
anak,kulitdan kelamin),radiologidan patologi
(2.8)
. Keberhasilan
metode biopsi aspirasi tergantung pads integrasi disiplin ilmu
tersebut. Sehubungan dengan itu perlu diperhatikan beberapa
aspek pads penerapan biopsi aspirasi dalam diagnosis kanker.
1.
Aspek klinis
Pengamatan klinisi yang cermat tentang sasaran biopsi
aspirasi baik pada tumor yang letaknya superfisial (palpable
rumor)
maupun tumor di dalam rongga tubuh (nonpalpable)
diperlukan untuk memperoleh basil optimal.
Tumor yang letaknya superfisial dapat dilakukan langsung
biopsi aspirasi tanpa kombinasi pemeriksaan lain. Pada tumor
difus dan letaknya dalam sering diperlukan pemeriksaan radiologi.
Tumor yang letaknya di rongga tubuh yaitu di rongga dada dan
abdomen memerlukan pemeriksaan radiologi.
Dokter umum yang bekerja di Rumah Sakit ataupun
Puskesmas yang diharapkan menjadi ujung tombak penemu
dini kanker, tidak mustahil dilatih dan mahir meaakukan
biopsi aspirasi pads tumor yang letaknya superfisial. Dengan
demikian kesempatan menemukan kanker sedini mungkin
lebih besar.
2.
Aspek radiologi
Kemajuan teknolgi radiologi yang pesat dan merupakan
mitra utama biopsi aspirasi, terutama pads tumor yang terletak
di rongga dada dan rongga abdomen. Keberadaan fluoroskop-
TV, ultrasonogram dan
CT
Scan sangat
bermanfaat dalam
menuntun ujung jarum sampai mencapai massa tumor. Kemajuan
teknlogi laboratorium, tersedianya pewarnaan dif-quik dan
ditopang kerja sama patologist dan radiologist, sitologi biopsi
dapat dilakukan lebih efektif dan efisien.
3.
Aspek Patologi
Di berbagai rumah sakit atau insitut, biopsi aspirasi dilaku-
kan di laboratorium patologi. Dengan demikian patologist
bukan hanya duduk di muka mikroskop memeriksa jaringan,
tapi juga memeriksa pasien. Cara ini lebih praktis. Apabila pads
pemeriksaan sediaan halms aspirat pertama belum memadai,
biopsi aspirasi dapat diulang pads waktu hampir bersamaan.
Dengan demikian waktu dapat dihemat dan akurasi diagnosis
lebih akurat. Billa biopsi aspirasi dilakukan dokter lain yang
bukan patologist, maka informasi singkat data klinis sangat
diperlukan dalam membantu membuat keputusan terutama
kasus yang meragukan.
KEUNTUNGAN BAJAH
Penggunaan biopsi aspirasi dalam diagnosis tumor
mempunyai dampak yang menguntungkan baik ditinjau dari
segi menejemen tumor, pelayanan onkologik rumah sakit
maupun bagi pasien.
Dampak dalam menejemen tumor
Ditinjau dari segi menejpmen tumor, biopsi aspirasi mem-
beri dampak menguntungkan :
1)
Menejemen tumor lebih sederhana.
2)
Penggunaan alat canggih lebih selektif.
3)
Tindakan biopsi yang tidak menguntungkan dapat dihin-
dari.
4)
Alternatif pengobatan dapat dilakukan segera.
Dampak terhadap pelayanan rumah sakit
Teknik dan peralatan biopsi aspirasi yang sederhana, murah
dan cepat memberi dampak yang menguntungkan bagi
pengelolaan rumah sakit, terutama rumah sakit pemerintah :
1)
Pelayanan onkologik dapat ditingkatkan
2)
Biaya operasional rumah sakit menurun
Dampak terhadap pasien
Teknik sederhana, murah, cepat dan tidak menimbulkan
efek samping yang berarti, memberi dampak yang menguntung-
kan sbb. :
1)
Biaya pemeriksaan lebih murah
2)
Hasil pemeriksaan cepat, rasa cemas dan sires dipersingkat
3)
Keinginan pasien konsultasi pada dokter meningkat dan
kesempatan menemukan kanker sedini mungkin lebih luas
4)
Pasien mendapat pengobatan segera.
KETERBATASAN BAJAH
Harus disadari bahwa jangkauan sitologi biopsi aspirasi
terbatas(2,3,8).
1) Luasnya invasi tumor tidak dapat ditentukan.
2)
Subtipe kanker tidak selalu dapat diidentifikasi.
3)
Dapat terjadi negatif palsu.
4)
Harus ada kerja sama klinisi dengan patologis.
8
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
background image
INDIKASI BAJAH
Paola hampir semua tumor dapat dilakukan biopsi aspirasi,
baik yang letaknya superfisial palpable ataupun tumor
yang
terletak di dalam rongga tubuh
unpalpable
dengan indikasi :
1) Preoperatif biopsi aspirasi pads tumor sangkaan maligna
operable. Tu juannya adalah untuk diagnosis dan menrrntukan
pola tindakan bedah selanjutnya.
Sebagai contoh tumor payudara dan kelenjar tiroid.
2) Maligna inoperable. Biopsi aspirasi merupakan diagnosis
konfirmatif.
3) Diagnosis konfirmatif tumor "rekuren" dan metastasis.
4) Membedakan tumor kistik,
solid
dan peradangan.
5) Mengambil spesimen untuk kultur dan penelitian.
TEHNIK BIOPSI ASPIRASI
Teknik biopsi aspirasi mencakup kegiatan mulai dari
pendekatan pasien, mempersiapkan peralatan, mengambil
aspirat tumor dan membuat sediaan(8).
a) Persiapan alat
Alat yang dipergunakan terdiri dari tabung suntik plastik
ukuran 10 ml, jarum halus, gagang pemegang tabung suntik,
kaca objek dan desinfektan alkohol atau betadin.
b) Pendekatan pasien
Dengan ramah pasien dianamnesis singkat. Wawancara
singkat ini dibuat sedemikian rupa, sehingga pasien tidak takut
atau stres dan bersedia menjalani biopsi aspirasi.
Biopsi dilakukan dengan kelembutan hati dan rasa tanggung
jawab terhadap sesama manusia.
c) Pengambilan aspirat tumor
1)Tumor dipegang lembut
2) Jarum diinsersi segera ke dalam tumor.
3) Piston di dalam tabung suntik ditarik ke arah proksimal;
tekanan di dalam tabung menjadi negatif; jarum manuver
mundur-maju. Dengan cara demikian sejumlah sel massa tumor
masuk ke dalam lumen jarum suntik.
4) Piston dalam tabung dikembalikan pads posisi semula
dengan cara melepaskan pegangan.
S)
Aspirat dikeluarkan dan dibuat sediaan hapus, dikeringkan
di udara dan dikirimkan ke laboratorium pusat pemeriksaan
kanker.
Pemahaman teknik dan aspek lain BAJAH tercantum
pada buku Penuntun Biopsi Aspirasi Jarum Halus(8).
DIAGNOSIS SITOLOGIK BIOPSI ASPIRASI DAN NILAI
KLINIK
1.
Posisif maligna disebut Posistif
2.
Kelainan jinak disebut Negatif
3.
Mencurigakan maligna disebut Suspek
4.
Tidak dapat diinterpretasi disebut Inkonklusif
1)
Sitologi positif merupakan
"mandat" untuk melakukan
tindakan lebih lanjut antara lain survei metastasis, menentukan
stadium, memilih alat diagnostik lain bila diperlukan
dan
mendiskusikan pola pengobatan.
2)
Sitologi negatif atau kelainan jinak, belum dapat menying-
kirkan adanya kanker; perlu dipikirkan kern ungkinan negatif
palsu. Negatif palsu dapat terjadi karena kesalahan teknis, se-
hingga sejumlah sel tumor tidak terdapat pads sediaan. Bila
terdapat diskrepansi sitologi dan data klinik, alternatif tindakan
terbaik adalah biopsi bedah; akan tetapi, pads kasus sitologi
negatif dengan spesifikasi kelainan dan cocok dengan gambaran
klinik, maka pola pengobatan dapat ditentukan.
3)
Sitologi suspek, mungkin memerlukan pemeriksaan lain
sebelum pengobatan antara lain pemeriksaan potongan beku
ataupun sitologi imprint
atau kerokan
durante operasionam.
4)
Inkonklusif
dapat terjadi karena kesalahan
teknik
atau
karena
situasi tumor, misalnya mudah berdarah, reaksi jaringan ikat
banyak atau tumor terlalu kecil, sehingga sulit memperoleh
sel tumor. Dalam praktek, sitologi inkonklusif
meningkatkan
negatif palsu.
KEPUSTAKAAN
1.
Frable
WJ, Frable MA
Thin needle aspiration biopsy. The diagnosis head
neck tumors revisited Cancer 1979, 43 :
1541-8.
2.
Linsk JA, Franzen S. Fine
needle aspiration for
the clinician.
Philadelphia :
J.B.
Lippincott
Co,
1986.
3. Drell
SR,
Sterret GF, Walters MI, Whitaker D. Manual and atlas of Fine needle
aspiration cytology. Churchill Livingstone, 1986.
4. Zajicek J. The aspiration smear. In : Koss. Diagnostic cytology and its
histopathology bases.
Ed. II, vol 2. Lippincott 1978, p. 1048-68.
5.
TambunanGW.Beberapacatatanmengenaibiopsiaspirasitumor.Pengalaman
pada 468 kasus. Naskah KONAS
VII,
Ujung Pandang, 1984.
6. Marthin HE, Ellis EB. Biopsy by needle puncture and aspiration. Ann Surg
1930;
92 : 169-181.
7.
Tambunan
GW.
Sitologi aspirasi dalam tatalaksana limfadenopati. Khusus
li mfoma malignum. Naskah Simposium Lekemia dan Lmmfoma II, Medan
1989.
8.
Tambunan
GW. Teknik
Biopsi
Aspirasi.
Penuntun Biopsi
Aspirasi Jarum
Halus. Aspek
Klinik
dan Sitologi NeoplasmaJakarta : Percetakan Hipokrates
1990.
9.
Hajdu SI, Melamed
MR.
Limitation of aspiration cytology in the diagnostic
of
primary neoplasm.
Acta Cytol
1984,
28 : 337-45.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
9

Document Outline