Artikel
LAPORAN KASUS
Malaria Serebral
laporan kasus
Celestinus Eigya Munthe
Puskesmas Naga Rantai, Kecamatan Kaur Utara, Bengkulu Selatan
PENDAHULUAN
Melaporkan satu kasus malaria cerebral yang berakhir
dengan kematian penderita karena terlambatnya perawatan
akibat kurangnya pengertian dan pengetahuan keluarga
penderita terhadap penyakit malaria, dan daerah endemis
malaria wilayah kerja Puseksmas Naga Rantai, Kecamatan
Kaur Utara, Kabupaten Bengkulu Selatan.
TINJAUAN PUSTAKA
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
sporozoa dari genus Plasmodium, yang secara klinis ditandai
dengan serangan paroksismal dan periodik, disertai anemia,
pembesaran limpa dan kadang-kadang dengan komplikasi
pernisiosa seperti ikterik, diare, black water fever, acute
tubular necrosis, dan malaria cerebral
(1,2)
Secara parasitologi dikenal 4 genus Plasmodium dengan
karakteristik klinis yang berbeda bentuk demamnya, yaitu :
(1,3)
1) Plasmodium vivax, secara klinis dikenal sebagai Malaria
tertiana disebabkan serangan demamnya yang timbul setiap 3
hari sekali.
2) Plasmodium malaria, secara klinis juga dikenal juga
sebagai Malaria Quartana karena serangan demamnya yang
timbul setiap 4 hari sekali.
3) Plasmodium ovale, secara klinis dikenal juga sebagai
Malaria Ovale dengan pola demam tidak khas setiap 2-1 hari
sekali.
4) Plasmodium falciparum, secara klinis dikenal sebagai
Malaria tropicana atau Malaria tertiana maligna sebab serang-
an demamnya yang biasanya timbul setiap 3 hari sekali dengan
gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi oleh jenis
plasmodium lainnya.
Gambaran klinis demam yang berbeda-beda ini terjadi
karena perbedaan masa inkubasi diantara setiap jenis Plasmo-
dium dalam tubuh manusia
(4)
.
Malaria cerebral adalah suatu komplikasi berat dari infeksi
Plasmodium falciparum yang ditandai demam yang sangat
tinggi, gangguan kesadaran, kejang yang terutama terjadi pada
anak, hemiplegi dan berakhir pada kematian jika tidak secepat-
nya mendapatkan perawatan yang tepat
(1,2,3,4)
.
ETIOLOGI
Penyebab malaria cerebral adalah akibat sumbatan pem-
buluh darah kapiler di otak karena menurunnya aliran darah
efektif dan adanya hemolisa sel darah
(1,3)
.
GAMBARAN KLINIS
1) Fase prodromal : gejala yang timbul tidak spesifik, pen-
derita mengeluh sakit pinggang, mialgia, demam yang hilang
timbul serta kadang-kadang menggigil, dan sakit kepala
(1,2,3)
.
2) Fase akut : gejala yang timbul menjadi bertambah berat
dengan timbulnya komplikasi seperti sakit kepala yang sangat
hebat, mual, muntah, diare, batuk berdarah, gangguan kesadar-
an, pingsan, kejang, hemiplegi dan dapat berakhir dengan ke-
matian. Pada fase akut ini dalam pemeriksaan fisik akan di-
temukan cornea mata divergen, anemia, ikterik, purpura, akan
tetapi tidak ditemukan adanya tanda rangsang meningeal
(1,4)
.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan parasit malaria
dalam pemeriksaan sediaan apus darah tepi memakai pewarna-
an Giemsa.
PENATALAKSANAAN MALARIA SEREBRAL
Terapi pada penderita malaria serebral adalah dengan
menggunakan Klorokuin diberikan secara IM dengan dosis
3,5-5 mg/kgBB setiap 6 jam atau diberikan IV dengan dosis
1,25 mg/kg BB selama 8 jam dalam dekstrose 5% 500 ml.
Untuk malaria yang resisten terhadap kloroquin digunakan
Quinine dihydrochloride diberikan secara IV dengan dosis 20
mg/kgBB dalam dekstrose 5% 500 ml selama 4 jam,
maksimum pemberian adalah selama 72 jam.
Setelah itu penderita dirawat sesuai dengan gejala yang
ada secara simptomatis dan suportif. Pada penderita yang
kejang dapat diberikan Phenobarbiton dengan dosis tunggal
3,5 mg/ kgBB secara IM.
Penggunaan Deksametason untuk mengurangi edema otak
Cermin Dunia Kedokteran No. 131,2001 5
pada penderita malaria cerebral tidak bermanfaat.
(1,2,3,4)
LAPORAN KASUS
Seorang anak perempuan usia 7 tahun diantar oleh keluar-
ga dalam keadaan kejang-kejang dan kesadaran yang menurun
setelah menderita demam yang hilang timbul selama ± 2
minggu. Kejang diterapi dengan diazepam 5 mg IV. Setelah
kejang hilang dilakukan alloanamnesa dan pemeriksaan fisik.
·
Alloanamnesa : anak menderita demam yang hilang tim-
bul selama 2 minggu. Demam timbul biasanya pada malam
hari dan hilang pada pagi harinya, kemudian anak kembali
demam pada sore hari dan sekitar 1 jam dan anak menggigil
seperti kedinginan sampai anak berkeringat, bila anak ber-
keringat demam kembali hilang dan anak tampak sehat seperti
biasa. Pada siang hari sepulang sekolah anak kembali mende-
rita demam yang sangat tinggi, anak mulai meracau dan meng-
gigit orang-orang yang ada di sekitarnya dan pada malam
harinya anak mulai kejang- kejang.
·
Vital sign : nadi : 120 X/menit; papas 32 X/menit; suhu
39,4°C; tekanan darah 100/70 mmHg.
·
Mata: konjungtiva anemis; sklera ikterik
·
Thorak : Rhonki halus basah (+) pada seluruh lapangan
paru
·
Abdomen tidak ditemukan kelainan
·
Kulit : tampak adanya purpura pada lengan kanan atas,
punggung dan bokong.
Diagnosa kerja: Malaria cerebral.
Pasien dianjurkan untuk dirawat dirumah sakit atau di pus-
kesmas, akan tetapi pihak keluarga menolak karena melihat
anak sudah tenang dan tertidur. Sebagai terapi lanjutan diberi-
kan Kloroquin tablet 150 mg basa dengan cara pemberian
2-2-1-1,Paracetamol tablet 3 X 250 mg dan B komplek 3 X 1
tablet, untuk diberikan pada penderita.
Keesokan harinya jam 07.30 keluarga penderita datang
dan meminta dokter untuk datang ke rumah memeriksa ke-
adaan pasien karena kondisi pasien yang memburuk.
Fari pemeriksaan fisik didapatkan :
·
Vital sign : nadi : 120 X/menit; Nafas : 40 X/menit; Suhu
40°C; tekanan darah : 90/60 mmHg.
·
Kesadaran: soporous comatous.
Terapi yang diberikan : Injeksi deksametason dap antal-
gin. Keluarga kembali dianjurkan untuk membawa penderita
ke rumah sakit, tetapi pihak keluarga tetap menolak dan ingin
anak dirawat di rumah raja. Pada akhirnya setelah dibujuk
keluarga penderita bersedia anaknya dirawat di puskesmas.
Sesampainya di puskesmas jam 08.30 Wib penderita segera
diberikan infus RL dengan keeepatan tetesan 30 tetes/menit,
injeksi oxytetrasiklin 120 mg dan dikompres dengan alkohol.
Sediaan apus darah tepi diambil untuk pemeriksaan malaria.
Vital sign dikontrol setiap 2 jam. Setelah dirawat di puskesmas
selama 7 jam penderita kemudian meninggal.
Hasil pemeriksaan darah tepi ditemukan Plasmodium
Vivax (+).
DISKUSI
Berdasarkan kepustakaan, malaria cerebral adalah suatu
komplikasi berat dari infeksi Plasmodium falciparum, akan
tetapi dalam sediaan darah tepi sulit untuk menemukan bentuk
tropozoit P1 falciparum untuk infeksi yang telah lama atau bila
telah terjadi hemolisa darah karena parasit malaria telah
menginvasi dinding epitelium pembuluh darah. Pada kasus ini
penulis menduga telah terjadi suatu infeksi campuran antara P1
vivax dan P1 falciparum sehingga pada pemeriksaan sediaan
darah tepi yang ditemukan hanya trophozoit P 1. vivax saja,
sementara gejala klinis penderita adalah gejala yang diakibat-
kan oleh infeksi P1. falciparum seperti : demam tinggi
paroksismal yang periodik, adanya purpura, gangguan kesadar-
an, serta kejang. Di puskesmas penulis tidak dapat memberi-
kan terapi sesuai dengan kepustakaan karena sarana yang
tersedia pada saat itu tidak ada sehingga penulis hanya dapat
memberikan terapi berdasarkan obat yang tersedia di
puskesmas saja. Kematian diduga terjadi sumbatan kapiler
pembuluh darah otak yang mengakibatkan kematian pada
jaringan otak.
Sebagai tindak lanjut kasus ini penulis melakukan peme-
riksaan darah tepi terhadap anak yang menderita demam di-
sekitar penderita radius 50 meter. Dari 14 sediaan yang penulis
periksa ditemukan 5 sediaan yang positif Pl. vivax. Dan ke-
seluruhan anak yang menderita demam diterapi sebagai
penderita malaria.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Telah dilaporkan satu kasus malaria cerebral yang meng-
akibatkan kematian penderita oleh karena lambatnya perawat-
an diberikan akibat kurangnya pengetahuan dan pengertian
keluarga penderita terhadap penyakit malaria. Untuk men-
cegah terulangnya kasus semacam ini maka penulis menyaran-
kan dilakukannya penyuluhan dan pemberian obat yang ber-
sifat prodilaksis didaerah endemis malaria secara berkala.
2. Petugas puskesmas secara aktif'melakukan pelacakan ter-
hadap penduduk yang berada disekitar rumah penderita yang
hasil pemeriksaan darah tepinya positif malaria atau yang
diduga menderita malaria.
KEPUSTAKAAN
1.
Zulkarnain Asyad : Malaria, dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Editor:
Soeparman, FKUI, Jakarta, Edisi II, 1993.
2.
Robinson, Richard : Medical Emergencies Diagnosis and Management,
6
th
Edition. India CBS, Publisher, 1994; Page : 316-7.
3. Hayes, C : Churchill Pocket Book of Medicine Churchill Livingstone
Edinburgh, 1992; Page : 245-6.
4. White NJ; Plorde JJ. : Malaria; in Harrison's Principles of Internal
Medicine Vol. I, 12
th
ed. New York, McGraw Hill Inc, 1991; page:
782-8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
6