background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Manajemen Laboratoris
Penyalahgunaan Obat
dan Komplikasinya
Suwarso
Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta
ABSTRAK
Di negara yang sedang berkembang kasus dan masalah penyalahgunaan obat
sangat kompleks. Permasalahan tidak hanya pada psikososialekonomi, tetapi juga
pada per-masalahan medis yang merupakan dampak komplikasi dari efek pemakaian
obat yang terus menerus. Hepatitis virus dan/atau non-virus, infeksi HIV, dan
endokarditis bakteri-alis merupakan komplikasi medis dari penyalahgunaan obat,
yang penyebarannya sangat cepat meluas di antara sesama pemakai. Untuk membantu
penanganan penyalahgunaan obat agar lebih akurat, akan dibahas manajemen
laboratoris dalam skrining, diagnosis, monitoring penyalahgunaan obat dan
komplikasinya.
Kata Kunci: Rapid test, Hepatitis, Human immunodeficiency virus (HIV),
Endokarditis bakterialis, Narkoba, Drug-addict.
PENDAHULUAN
Manajemen laboratoris penyalahgunaan obat dan metabolit-
nya dirancang dengan mempertimbangkan latarbelakang perma-
salahan penyalahgunaan obat yang umumnya demikian kompleks
di negara yang sedang berkembang, sehingga selain mengakibat-
kan masalah psikososialekonomi yang luas, juga masalah medis
yang variatif dan cepat penyebarannya.
Manajemen laboratoris yang ditulis di sini meliputi pe-
meriksaan skrining yang akan menetapkan ada-tidaknya obat,
bahan atau metabolitnya dalam sampel subyek yang diperiksa,
dan menetapkan ada-tidaknya komplikasi akibat pemakaiannya,
sehingga dari hasilnya bisa diambil langkah-langkah lanjutan
yang akurat dan efektif.
LATAR BELAKANG
Pengetahuan tentang obat/bahan yang diyakini mampu me-
mecahkan masalah fisik dan psikis (thinking, behaviour, feeling),
baik langsung maupun tidak langsung, ilmiah maupun tidak,
akhirnya akan diperoleh oleh individu. Efektifitas atau mujarab-
nya obat/bahan yang dipilih akan membuat individu mengulang
penggunaannya (recurrent), sementara toleransi tubuh akibat
pengulangan tersebut diatasi selain dengan cara menaikkan
frekuensi dan dosis, juga dengan cara mengkombinasi beberapa
macam obat/bahan dan memvariasi rute pemakaian (ingesti, in-
halan, injeksi, snorting).
Pengulangan/recurrenting yang sering akan menimbulkan
kondisi withdrawal (akut lamanya 5-10 hari, kronis 26-30
minggu), yakni kondisi ketersiksaan fisik dan psikis non-fatal
yang muncul jika 6-12 jam obat/bahan tidak dikonsumsi
1
. Kondisi
semacam ini membuat individu tergantung (dependent) sehingga
sangat sulit untuk tidak menggunakan ulang obat/bahan tersebut.
Recurrenting yang ekstrim akan membuat kondisi withdrawal
berat ("Sakaw", sakit karena putaw) yang akan membuat individu
secara kompulsif (kecanduan) menggunakan obat/bahan, tanpa
mempedulikan lagi untung-rugi, ada-tidak manfaat medis, legal-
ilegalnya cara yang diperoleh, yang selanjutnya menimbulkan
masalah baik di keluarga, lingkungan kerja maupun sosial.
Jumlah kematian pertahun karena penyalahgunaan obat (over-
dose) opiat mencapai 40-50% dari semua kematian karena obat
16
.
Salah satu bentuk preventif yang umum dilakukan oleh ber-
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 5
background image
bagai instansi perusahaan di negara maju antara lain dengan cara
skrining acak narkoba atas sampel urin dari karyawan atau calon
karyawannya. Hasil positif (obat mencapai atau melebihi batas
dosis toksik/tes sensitivitas) atau negatif (obat tidak mencapai
dosis toksik/tes sensitivitas) digunakan untuk mengambil keputus-
an, sementara untuk hasil ragu-ragu dan hasil positif yang ber-
urusan dengan hukum, keputusan diambil dari hasil test konfir-
masi atas sampel urin yang sama.
Tabel 1 memuat kadar batas pengambilan keputusan (cutoff)
hasil test skrining, dan test konfirmasi menurut the Substance
Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA)
7
.
Tabel 2 memuat tipe narkotik (penurun kesadaran atau rasa sakit)
dan psikotropik (khasiat spesifik pada mental dan perilaku)
menurut potensi disalahgunakan (abuse) dan manfaat medisnya.
Tabel 3 memuat jenis, bentuk fisik, cara umum pemakaian dan
efek klinis narkoba. Tabel 4 memuat jenis dan nama lain narkoba
yang secara komersial dapat ditest skrining dalam sampel urin.
Tabel 5 memuat obat/bahan yang diketahui tidak menimbulkan
reaksi silang pada test skrining amfetamin urin 100ug/ml.
KOMPLIKASI PENYALAHGUNAAN OBAT
Komplikasi penyalahgunaan obat yang akan dibahas di sini
meliputi hepatitis, infeksi HIV dan endokarditis.
Hepatitis
Hepatitis dicirikan dari meningkatnya SGPT minimum 1,5
kali batas atas normal dengan atau tanpa kenaikan SGOT. Darah
semacam ini terbukti infeksius. Peluang hepatitis pada resipien
yang mendapat 1 unit darah transfusi dengan SGOT SGPT me-
ningkat adalah 6 kali lebih besar. Sementara di Yogyakarta sekitar
4,8% dan 3,1% individu yang secara klinis sehat dan berpotensi
menjadi donor darah diketahui masing-masing mengandung virus
hepatitis-B dan -C, 80 dan 100% di antaranya terbukti infeksius
(HBeAg positip, HCV RNA positif)
5,6
. Sementara hepatitis lain
(hepatitis tifosa) merupakan hepatitis non-B,non-C yang sering
ditemukan di Yogyakarta (tidak dipublikasi). Analog dengan ini
maka pemakaian jarum suntik yang tercemar di antara IVDA
yang klinis sehat memiliki potensi tinggi untuk menularkan
hepatitis virus-B, -C dan -tifosa.
Infeksi HIV
Efisiensi infeksi HIV melalui satu kali pajanan dengan jarum
suntik yang tercemar adalah 0,5-1%, dan ini bertanggung jawab
pada 60-100% kasus-kasus HIV pada heteroseksual dan neonatus
di negara maju. Secara global kontribusi IVDA dalam kasus
infeksi HIV adalah 5-10%. Kontribusi terbesar berasal dari IVDA
di negara yang sedang berkembang yang mencapai 30-60%, dan
ini bertanggung jawab pada 20-30% dari keseluruhan prevalensi
anti-HIV di negara tersebut.
Deteksi infeksi HIV secara klinis sangat sukar, pendekatan
laboratoris karenanya merupakan salah satu cara yang sampai
saat ini masih dianggap lebih efektif. Sindrom klinis seperti flu-
like syndromes, demam, limfadenopatia, diare, berat badan
menurun dapat merupakan gejala prodromal infeksi HIV.
Endokarditis
IVDA merupakan penyebab pada 5-15% dari keseluruhan
insiden endokarditis bakterialis yang di USA; mencapai
20/100.000 penduduk. Mortalitas sangat tergantung pada lokasi,
kuman penyebab dan daya tahan tubuh yang di USA mencapai
5-40%. Mortalitas di kalangan IVDA relatif lebih tinggi karena
umumnya memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Lesi berupa
vegetasi di katup triskupid, aorta, mitral dan pulmonal terdeteksi
masing-masing pada 45%, 25%, 15%, dan 2% penderita. Kuman
penyebab meliputi stafilokokus koagulasi (50%), streptokokus
faekalis (8%), streptokokus viridan, -bovis, difteroid, kuman
Gram negatif, jamur (masing-masing 5%), dan kultur negatif 5%
2
.
MANAJEMEN LABORATORIS
Manajemen laboratoris meliputi skrining dan diagnosis ada-
nya narkoba serta komplikasinya.
A) SKRINING, KONFIRMASI NARKOBA & META-
BOLITNYA
Metode atau teknologi laboratorium yang digunakan untuk
skrining harus memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi.
EIA (enzyme immunoassay) dan imunokromatografi merupa-
kan dua metode yang memenuhi kriteria ini. Pertimbangan
tekniknya yang sederhana, membuat kedua metode ini menjadi
umum digunakan untuk skrining narkoba. Hasil skrining yang
"ragu" atau positif yang bertalian dengan hukum selanjutnya
dikonfirmasi dengan metode GC/MS; metode ini merupakan
paduan optimal antara alat ukur mass spectrometry yang memiliki
sensitivitas sangat tinggi (mengukur intensitas ion obat) dengan
gas chromatography yang memiliki spesifisitas tinggi [men-
diferensiasi obat menurut intensitas ion (m/z), hambatan waktu
(HW) dan bentuk kromatografi (K)], dan terbukti bahwa cara ini
mampu membedakan jutaan obat tanpa satupun diketahui me-
miliki m/z, HW dan K yang sama). Paduan optimal ini selain
mampu mendeteksi narkoba secara spesifik juga mampu men-
deteksi dosis abuse/toksik paling minim (Tabel 1).
Gambar 1 memuat deteksi dan konfirmasi narkoba sampel
(NKs) yang diduga memiliki narkoba standar (NKst) dengan
HW = 21,6 menit dan intensitas ion (m/z) = 184 oleh GC/MS.
Kadar NKs didapat dengan rumus:
Tinggi
Puncak
NKs
Kadar NKs =
X Kadar NKst
Tinggi
Puncak
NKst
Jenis narkoba yang sampai saat ini secara komersial dapat
dites meliputi semua narkoba yang tertera pada Tabel 4 (Seratec.
Germany
R
, Home-test Drug Abuse Insta Test.USA
R
). meng-
gunakan antibodi mono- dan poliklonal yang spesifik terhadap
narkoba dan metabolitnya. Dirancang sedemikian rupa sehingga
dapat dibuat dalam bentuk imunokromatografi kompetitif kua-
litatif yang praktis, tidak memerlukan tenaga trampil dan cepat
(hasil dapat diperoleh dalam 3-10 menit). Dengan sampel urin
teknik ini memiliki sensitivitas sesuai dengan standard National
Institute on Drug Abuse (NIDA, sekarang SAMHSA), dan
spesifisitas 99,7%.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
6
background image
Tabel 1: Kadar batas pengambilan keputusan (cutoff) narkotik dan bahan
adiktif (narkoba) dalam sampel serum/urin menurut Samhsa.
NARKOBA/Metabolitnya
Kadar awal/Skrining
(ng/ml)
Kadar Konfirmasi
(ng/ml)
Metabolit Marijuana
50
15
Metabolit Kokain
300
150
Metabolit Opiat:
300
-
Morfin
-
300
Kodein
-
300
Metabolit Amfetamin:
1000
-
Amfetamin
-
500
Metamfetamin
-
500
Phencyclidine 25
25
Tabel 2: Jenis Narkotik dan Psikotropik menurut Potensi Abuse dan
Manfaat
Tipe
Potensi Abuse/
Manfaat Medis
Narkotik Psikotropik
I. Tinggi/Nihil
Heroin
Kokain
Ganja
MDMA
Ekstasi
LSD
STP
II. Tinggi/Pilihan
akhir
Morfin
Petidin
Amfetamin
Fensiklidin
Sekobarbital
Metakualon
Metilfenidat
(Ritalin)
III. Minim-
Menengah/Umum
Kodein Fenobarbital
Flunitrazepam
IV. Minim/Umum
-
Klordiazepoksid
Diazepam
Bromazepam
Klonazepam
Klobazam
Nitrazepam(BK, DUM, MG)
Tabel.3: Jenis, bentuk fisik, cara umum pemakaian dan efek klinis NARKOBA.
NARKOBA Bentuk
Fisik
Cara
Pemakaian
Efek Klinis
Temperatur
Tekanan darah
Denyut jantung
Nafsu makan
Melambung
Energi &
Kesigapan
Gelisah
Dizziness
Insomnia
Eufori
Depresi
Toxic psychosis,
paranoia dan
delusi
AMFETAMIN/
METAMFETAMIN
Serbuk kasar
Kristal
Potongan (chunks)
Kapsul/tablet berba
gai ukuran, warna
Ditelan
Dihisap
Dirokok
Injeksi
Takikardi, Palpitasi, Aritmi
Sedasi
KOKAIN SERBUK
KOKAIN:
Serbuk kristal putih
pahit, tidak berbau
CRACK COCAINE:
Potongan crack kecil
putih kecoklatan
Dihisap
Dirokok
Injeksi
Tonus CNS
Simpatik
Denyut jantung
Tekanan darah
Mood
Vasokonstriksi
Melambung
Paranoid
Midriasis
Depresi
Sedasi
Seizures
Takipneu
Heart failure
Kenaikan penampilan karena
overestimation
Eufori diikuti disfori, agitasi, ansietas, delusi
obat
Penggunaan bersama alkohol akan memperlama efek toksik.
CANNABINOIDS Bubuk daun kering
Rokok lintingan
Potongan hashish
Hashish oil
Dirokok
Makanan
kering/
dimasak
Cardiac output
Nadi
Tekanan.Intraokuler
Bronkodilatasi
Nafsu makan
Koordinasi
Fotofobia
Apati
Halusinasi
Relaxation inhibiion
Intoksikasi
Subjective slowing of time
PHENCYCLIDINE Tablet/Kapsul
Serbuk
Dihisap
Dirokok
Injeksi
Oral
Tekanan darah
Nistagmus
vertikal-horizontal
Berkeringat
Analgesia
Euforia
Mual/muntah
Kejang umum tonik-klonik
Ekstrim agresif
Intoksikasi
Skizofrenia
OPIAT
Bubuk putih, hitam
coklat.
Liquid injeksi
Tablet/kapsul
Dihisap
Injeksi
Oral
CNS
Sensasi nyeri
Emosi nyeri
Respirasi
Sedasi
Rasa lemah
Miosis
Mual/muntah
Konstipasi
Pucat
Eufori
Analgesi
Drowsiness
Pusing
METHADONE Serbuk
kristal
putih
Tablet/kapsul
Liquid injeksi
Oral
Injeksi
CNS
Sensasi nyeri
Emosi nyeri
Respirasi
Sedasi
Rasa lemah
Miosis
Fotofobia
Konstipasi
Retensi urin
Libido
Rasa lemah
Pusing
Pening
BARBITURAT Bubuk
putih
Tablet/Kapsul
Liquid injeksi
Oral
Injeksi
CNS
Ansietas
Akuiti mental
Denyut jantung
Eufori
Anestesi
Hipnotik
Hipotensi
Kardiovaskuler
Respirasi
Fungsi miokard
Kontraksi miokard
Slowed speech
BENZODIAZEPINES Bubuk
kristal
berbagai warna
Oral
Depresi
Drowsiness
Pening
Pusing
Mual/muntah
Konstipasi
Ansietas
Fatigue
Letargi
Mulut kering
Inkoordinasi motorik
1) Dasar Dan Validitas Test
Test didasarkan pada kompetisi penjenuhan IgG anti-narkoba
yang mengandung substrat enzim (ada dalam keadaan bebas di
zone S) oleh narkoba sampel atau narkoba yang telah dikon-
jugasi enzim (ada dan terfiksir di zone T). Jika dijenuhi oleh
narkoba sampel (sampel positif narkoba), maka IgG anti-narkoba-
substrat tidak akan berikatan dengan narkoba-enzimnya, sehingga
tidak terjadi reaksi enzim-subtrat yang berwarna. Sebaliknya jika
tidak dijenuhi (sampel negatif narkoba) atau hanya sebagian
dijenuhi (sampel mengandung narkoba dalam jumlah di bawah
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 7
background image
ambang batas pemeriksaan), maka IgG anti-narkoba-substrat akan
berikatan dengan narkoba-enzimnya secara penuh atau sebagian,
sehingga terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna penuh
(gelap) atau lamat-lamat (ragu-ragu).
Valid tidaknya test dikontrol dengan mengikutsertakan pada
zone S suatu kontrol validitas yang berupa IgG goat-substrat.
Karena IgG goat bukan antibodi spesifiknya narkoba, maka baik
pada sampel urin yang ada, ada dalam jumlah di bawah ambang
batas pemeriksaan atau tidak ada sama sekali narkobanya, semua-
nya tidak akan menjenuhi dan hanya akan mendifusikan IgG
goat-substrat dari zone S ke zone C untuk menemui dan mengikat
IgG anti-IgG goat yang dikonjugasi enzim (KAGE) sehingga
terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna di zone C.
a. Bila Sampel Urin Negatif
Pada sampel urin yang tidak mengandung narkoba, maka jika
urin ini diteteskan di zone S, urin hanya mendifusikan IgG anti-
narkoba-substrat dan IgG goat-substrat dari zone S ke zone T dan
zone C. Di zone T IgG anti-Narkoba akan berikatan dengan nar-
koba-enzimnya (KNE); sementara di zone C IgG goat akan
berikatan dengan IgG anti-IgG goat-enzim (KAGE), sehingga
baik di zone T maupun zone C terjadi reaksi enzim-substrat
berupa pita warna pink.
b. Bila Sampel Urin Positif
Di zone S narkoba urin positif akan langsung berikatan dan
Tabel 4. Jenis dan nama lain narkoba yang secara komersial dapat diskrin
Kelompok
Nama Narkoba
Nama lain
Nama Farmakologi
Kapan terdeteksi
pada Urine
Tersekresi pada
Urine sebagai
Nama Sensitivitas
Amphetamine -
Speed
- Ice
- Crystal
- Crank
- Essence
-Ecstasy(MDMA)
-Evo (MDMA)
-Shabu-shabu
-Adam
-Clarity
-Dexedrine
-Benzodrine
-Desoxyne
-Methedrine
1-2 hari
Amphetamine
Seratec-AMP
Instant view
Hone test
Huma drug
Acon
1000 ng/ml
Methamphetamin
Sama dengan Amphetamine
-Dexies -Uppers
Sama dengan
Amphetamine
1-2 hari
Metamphetamine,
Amphetamine
Seratec-M-AMP
Instant view
500 ng/ml
Stimulan
Cocaine
-Coke -Crack -Snow
-Rock Cocaine -Flake
Cocaine 1-3
hari Benzoylecgonine
Seratec-COC
Instant view
300 ng/ml
Cannabinoid -Marijuana
-Dope
-Weed
-Hemp
-Hash
-Cimeng
-Pot
-Maryjane
-Colombian
-Sinsemilla
-Ganja
-Barang
-Gele
-Grass
-THC
-Marinol
- 1-2 joint : 2-3 hari
- Dirokok : 1-5 hari
- Perokok moderat
(4 kali/mg): s/d 5 hari
- Perokok berat: s/d 10
hari
- Pengguna kronis-
(lebih dari 5 joint
sehari) : 14 s/d 18 hari
THC-Asam
karboksilat
senyawa
glukonoid
Seratec - THC
Instant view
Home test
Huma drug
Acon
First sign genix
50 ng/ml
Halusinogen
Phecyclidine
-Angel Dust -PCP-HOG
-Crystal cyclone -Killer Weed
Phencyclidine -14
hari
-s/d 30 hari pada
pengguna kronis
Phencyclidine Seratec-PCP
Instant view
25 ng/ml
Oplate -Smack
-Tar
-Tiger
-Horse
-White lady
-White stuff
-Opium
-Junk
-Putauw
-Scaq
-Morpho. m
-Heroin
-Morphine -Percodan
-Codeine -Paracodin
-Oxycodone -Lorphan
-Dilaudid -Vicodin
- 2 hari
Opiate
Seratec-MOR
Instant view
Home test
Huma drug
Acon
First sign
300 ng/ml
Analgesik-
Narkotik
Methadone -Amidone
-Fizzles
-Dolophine
-Methadone
-L-Polamidon
-Physeptone
- 3 hari
Methadone
Acon
Seratec ­MDT
Instant view
Home test
Huma drug
300 ng/ml
Barbiturate -Barbs
-Downers
-Tranqs
-Amytal -Tuinal
-Butisol -Fiorinal
-Nembutal -Neoderm
-Luminal -Immenocial
-Seconal -Stadodorm
-Phenobarbital
-Short acting :
1 hari
-Long acting :
2-3 minggu
Barbiturate Seratec
-BAR
Instant view
Home test
Huma drug
Acon
First sign
Genix
300 ng/ml
Depresan,
Sedatif,
Hipnotik
Benzodiazepine -Bennies
-Rophies (Rohypnol)
Pil Koplo
-Ativan -Rohypnol
-Halcion -Tranxene
-Librium -Valium
-Novopoxide -Vivol
-Remestan -Xanax
-Restoril
-Dosis terapi :
3 hari
-Overdosis atau
pengguna kronis (1 th
atau lebih :
4-6 minggu
Benzodiazepines Seratec
-BZO
Instant view
Home test
Huma drug
Acon
First sign
Genix
300 ng/ml
menjenuhi IgG anti-narkoba-substrat, sehingga waktu didifusikan
ke zone T tidak bisa mengikat (bercelah) narkoba-enzimnya
(KNE), tidak terjadi reaksi enzim-substrat dan karenanya tidak
muncul reaksi warna. Sebaliknya di zone C tetap terjadi reaksi
warna (pita pink) sebab narkoba urin tidak spesifik untuk dapat
berikatan dengan IgG goat.
c. Bila Sampel Urin Ragu-Ragu
Di zone S narkoba urin yang berkadar tepat di batas ambang
pemeriksaan akan menjenuhi IgG anti-narkoba-substrat tidak
secara penuh. Penjenuhan berikutnya akan dipenuhi oleh
Narkoba-ensim di zone T, sehingga terjadi reaksi ensim-substrat
yang tidak penuh, yang akan memberikan warna lamat-lamat
(ragu-ragu) di zone T.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
8
background image
Tabel 5: Obat/bahan yang diketahui tidak menimbulkan reaksi silang pada test skrining 1000 ug/ml Aphetamine.
Acetaminophen Creatinine
Hydromorphone Naltrexone
Phenytoin
Acetylsalicylate Deoxycorticosterone
O-Hydroxyhippuric acid
Naproxen
L-Phenylethylamine
Aminopyrine Dextromethorphan
Ibuprofen Niacinamide
L-Phenylpropanilamine
Amitryptyline
Diazepam
Imipramine
Nifedipine
Prednisolone
Amobarbital Diethylpropion
Iproniazid
Norcodein
Prednisone
Amoxapine Diflunisal (-)
Isoproteranol Norethindrone
Procaine
Amoxicillin Digoxine
Isoxsuprine Noroxymorphone
Promazine
L-Amphetamine Diphenhydramine
Ketamine D-Norpropoxyphene
Promethazine
Apomorphine Doxylamine Ketoprofen (-)Norpseudoephedrine D,L-Propanolol
Ascorbic acid
Ecgonine
Labetalol
Noscapine
Propiomazine
Aspartame Ecgonine
methyleste
Levorphanol Nylidrin
D-Propoxyphene
Atropin
(+) Ephedrine
Lidocaine
D,L-Octopamine
D-Pseudoephedrine
Benzocaine (±)
Ephedrine
Loperamide Oxalic
acid Quinidine
Benzoylecgonine
(-) Ephedrine
Loxapine succinate
Gentisic acid
Quinine
Benzphetamine (-)
w
Ephedrine Maprotiline
Oxazepam
Ranitidine
Butabarbital Erythromycin
Meperidine
Oxolinic acid
Salicylic acid
Cannabidiol
-Estradiol
Mephentermine Oxycodone
Secobarbital
Chloralhydrate Estrone-3-sulfate
Meprobamate Oxymetazoline Serotonin
Chloramphenicol
Ethyl-p-aminobenzoat Methadone
Oxymorphone
Sulfamethazine
Chlordiazepoxide Fenoprofen
Methaqualone pHydroxymethamphetamine
Sulindac
Chlorothiazide
Furoxamide
Methoxyphenamine Pavaperine
Temazepam
Chlorpromazine
Glucuronide
(±)3,4-Methylenedioxy
Penicillin-G
Tetracycline
Chloroquine
Glutethimide
methamphetamine
Pentazocine
Tetrahydrocortisone
Cholesterol Guaifenesin Methylphenidate
Pentobarbital Tetrahydrozoline
Clomipramine Hipuric
acid Methyprilon Perphenazine t9-THC
Clonidine
Hydralazine
Morphine-3
Dglucuronide
Phencyclidine
11nor
ty-carboxy-THC
Cocaine Hydrochlorothiazide
Nalidixic acid
Phenelzine
Thebaine
Cortisone Hydrocodone
Nalorphine
Phendimetrazine
Thiamine
(-) Cortinine
Hydrocortisone
Naloxone
Phenobarbital
Thioridazine
DL-Thyroxine
Triamterene
Trimipramine
DL-Tyrosine
Verapamil
Tolbutamide Trifluoperazine
DL-Tryptophan Uric
acid
Zomepirac
Tranylcypromine Trimethoprim
Intensitas
Hasil kromatografi selama
Ion (m/z)
pengamatan 45 menit
Narkoba
Standar
(1,5
ug/ml)
Narkoba Sampel
(Dengan rumus
didapat = 3,4 ug/ml)
Obat/Bahan lain
Hambatan Waktu (Menit)
Gambar 1. Deteksi, konfirmasi narkoba sampel urin dengan cara gas
chromatography dan mass spectrometry (GC/MS): Diduga
NKs memiliki NKst dengan HW = 21,6 menit & m/z = 184
d. Bila Test Valid atau Tidak Valid
Zone C adalah zone kontrol validitas yakni zone untuk
menilai apakah test valid atau tidak. Reaksi hanya membutuhkan
H2O urin, karenanya tidak tergantung pada ada tidaknya narkoba,
hasil reaksi pada zone C ini akan selalu muncul warna. Jika warna
ini muncul berarti test dikatakan valid dan dengan demikian hasil
test dapat dipercaya dan siap diberikan ke yang berkepentingan.
Sebaliknya jika warna tidak muncul ini berarti test tidak valid,
dan harus diulang dengan test-kit yang baru, atau dengan kit dari
pabrik lain (Gambar 2).
A. SAMPEL URIN NEGATIP.
B. SAMPEL URIN POSITIF.
Berikatan (Tidak bercelah)
Tidak berikatan (bercelah)
Muncul reaksi ensim (Warna)
Tidak muncul reaksi warna.
Gambar
2.
Skema reaksi imunokromatografi kompetitif dalam
mendeteksi narkoba dan metabolitnya dalam urin.
Keterangan:
Zone.S=Sample. Zone.T=Test. Zone.C=Control. Sub=Substrat Nar(-)/(+) =
Narkoba negatif/positif <> = Narkoba. KNE = Konjugat narkoba-ensim.
KAGE = Konjugat IgG anti-IgG "goat"-ensim.
2) Sampel Test dan Penyimpanannya
Urin merupakan sampel yang representatif untuk pendeteksi-
an narkoba dan metabolitnya, cara ini tidak menyakiti, urin me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 9
background image
miliki kadar narkoba dan metabolitnya tinggi sebaliknya hanya
dalam waktu singkat dalam darah. Urin harus jernih (sentrifus jika
keruh), tanpa pengawet. Penyimpanan dalam cawan, tabung
plastik/gelas yang kering dan bersih. Pada 2-80C stabil 48 jam, -
20
0
C stabil >48 jam.
3) Cara Kerja & Interpretasi Hasil
3.1. Deteksi Tunggal Narkoba dan Metabolitnya (Gambar 3).
- Biarkan sampel dan reagennya mencapai temperatur ruang.
Jangan membuka kemasan reagen dan sampel sebelum siap
dikerjakan, tidak menggunakan reagen yang telah melebihi
tanggal kadaluarsa.
- Teteskan 5 tetes (200ul) urin pada zone sampel (sample well).
Pada cara stick, celupkan stick kedalam urin sampel dan tidak
melebihi tanda batas bantalan (pad) spreading layer.
- Biarkan dalam temperatur kamar, hasil dibaca pada 3-5 menit
pertama, kemudian 3-5 menit kedua:
- Hasil dikatakan positif, jika muncul hanya 1 garis pink di
zone C.
- Hasil dikatakan negatif, jika muncul 2 garis pink, satu di
zone C dan lainnya di zone T.
- Hasil dikatakan invalid (rusak), jika tidak muncul garis pink
di "C" dengan atau tanpa di "T".
Untuk ini test diulang dengan card yang baru, dengan card
pabrik lain atau konsul ke dokter spesialis patologi klinik.
-
Hasil ragu-ragu (warna lamat-lamat atau tidak cocok dengan
klinis), dikonfirmasi dengan test konfirmasi seperti telah dibahas
di atas.
A. CARD
Test Area Sample well
POSITIF
NEGATIF
B. STICK.
STICK
SUPPORT LAYER ZONE
DIPEGANG
DETECTOR/REGIS ZONE BACA
TRATION LAYER HASIL C
/
T
SEMIPERMEABLE ZONE PENA
MEMBRANE
PIS REAKSI
REAGENT LAYER ZONE REAGEN
SPREADING LAYER ZONE KONTAK
URIN
KONTAK
Gambar 3: Deteksi narkoba tunggal dan metabolitnya dengan cara card
atau stick.
3.2. Deteksi 3-6 Narkoba dan Metabolitnya (Gambar 4).
- Ambil urin sampel secukupnya atau seukuran cawan obat
(pot plastik obat).
- Buka penutup bagian bawah dari alat test lalu celupkan ke
enam bagian kertas (strip) ke dalam urin sampel jangan melebihi
batas (kotak plastik) selama 10-20 detik.
- Kemudian angkat dan tunggu, hasilnya akan terbaca dalam
waktu paling lambat 5-10 menit. Pembacaan hasil sesuai dengan
cara deteksi tunggal narkoba tersebut di atas.
Gambar 4. Deteksi 3-6 Narkoba dan metabolitnya dengan cara card atau
stick.
B) SKRINING, DIAGNOSIS, DAN MONITORING
KOMPLIKASI
Meliputi penyakit-penyakit kronis infeksius yang secara
epidemiologi terbukti merupakan komplikasi yang sering ditemu-
kan pada IVDA, yakni infeksi HBV, HCV, Non-B,non-C, HIV,
hepatitis tifosa dan endokarditis bakterialis.
1. HEPATITIS VIRUS-B & -DELTA (HDV), KARIER
HBsAg & SUBYEK NON-IMUN
Tanpa mempedulikan ada tidaknya manifestasi klinis, hepa-
titis ditentukan dengan meningkatnya SGPT
1,5 batas atas
normal; dikatakan hepatitis dengan hepatolisis jika disertai
kenaikan SGOT dan HBDH sebagai konfirmasinya, dikatakan
dengan kolangitis intra dan posthepatik jika GGT dan AP serta
5'NT sebagai konfirmasinya juga meningkat. Sebaliknya hanya
kolangitis atau kolestasis jika hanya hanya GGT atau AP dan
5'NT saja yang meningkat tanpa disertai peningkatan SGPT dan
SGOT. Dikatakan akut jika peningkatan SGPT ini <6-9 bulan,
dan kronis jika >6-9 bulan
8-12
Dikatakan hepatitis virus-B, jika pada SGPT yang meningkat
ini ditemukan HBsAg, dan hepatitis non-B jika HBsAg negatif.
Dikatakan karier HBsAg jika kepositifan HBsAg ini ditemukan
pada subyek dengan SGPT, SGOT normal, dan dikatakan karier
HBsAg infeksius jika HBeAg atau DNA HBV positif dan anti-
HBeAgnya negatif; sebaliknya untuk karier HBsAg non-
infeksius
5
.
Subyek dikatakan non-imun dan perlu vaksinasi hepatitis
virus-B, jika kadar anti-HbsAg 0-
10 mIU/ml, dikatakan rendah
dan perlu booster jika kadarnya
100mIU/ml. Praktisnya peme-
riksaan status hepatitis (SGOT, SGPT), status HBsAg dan status
imun HBV (anti-HBsAg) dilakukan dalam satu kesatuan peme-
riksaan skrining infeksi HBV. Keputusan medis dari pemeriksaan
ini selanjutnya digunakan untuk pemeriksaan berikutnya, seperti
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
10
background image
yang diorganisir pada skema (Gambar 5).
Memonitor anti HDV tiap tahun dilakukan hanya pada
subyek-subyek yang HBsAg positif. Hal ini disebabkan karena
HDV merupakan virus hepatotropisme yang telanjang (tidak
memiliki sAg, surface-Ag), sehingga akan menggunakan
HBsAg untuk masuk ke dalam sel hati. Prevalensi sebesar
12,5-27,3% terdapat di kalangan individu dengan hepatitis B
kronis aktif
13,14
, 70-90% koinfeksi ini akan berjalan kronis, dan
bertanggung jawab pada kasus-kasus sirosis hati yang terjadi
pada usia muda (dekade 3-4)
15
.
Gambar 5. Skema skrining, diagnosis dan monitoring infeksi hepatitis
virus-B (HBV) dan ­D (HDV)
2. HEPATITIS VIRUS-C DAN KARIER HCV
Seperti pada virus hepatitis-B, dikatakan hepatitis virus C,
jika pada subyek dengan hepatitis (SGPT, SGOT meningkat)
tersebut ditemukan anti-HCV positif. Dan dikatakan karier anti-
HCV, jika petanda laboratoris SGOT, SGPT normal. Kepositifan
anti-HCV harus dinilai infeksius, sebab >90% anti-HCV men-
deteksi antibodi-antibodi non-struktural (NS1-NS5) yang me-
rupakan petanda replikasi aktif HCV, juga >90% anti-HCV
positif terbukti secara klinis dan epidemiologis ditemukan pada
kasus-kasus hepatitis C akut, kronis aktif. Pendeteksian IgM anti-
HCV dan aviditas IgG anti-HCV (masa mendatang ?) dapat
membedakan anti-HCV yang baru (akut) atau telah lama (pernah,
non-akut) terbentuk setelah infeksi HCV. Mengingat >90% anti-
HCV mendeteksi protein non-struktural virus, maka hasil positif
anti-HCV (jika tidak ditunjang data lain, klinis misalnya) harus
dikonfirmasi dengan Western-blot (WB) anti-HCV.
Detail protokol seperti pada skema (Gambar 6).
Gambar 6. Skema skrining, diagnosis dan monitoring infeksi hepatitis
virus-C (HCV)
3. HEPATITIS NON-B, NON-C
Ditegakkan jika meningkatnya SGOT, SGPT tanpa disertai
kepositifan HBsAg dan anti-HCV.
4. HEPATITIS TIFOSA
Memenuhi kriteria hepatitis non-B,non-C, dengan bukti
serologi Widal/kultur positif. Untuk daerah endemis seperti Indo-
nesia titer Widal yang signifikan demam tifoid (DT) dan para-
tifoid (PT) salah satu atau kedua titer anti-O/-H
1/160
3
. Titer
setinggi ini telah dikonfirmasi pada 7/7 (100%) IgM spesifik
DT/PT untuk anti-O
1/160, dan pada 8/9 (88,9%) untuk anti-
H
1/160
4
.
5. INFEKSI HIV1/2 DAN AIDS
Adanya infeksi HIV1/2 ditegakkan dengan anti-HIV1/2
seropositif baik dengan cara Dot EIA anti-core (p24) atau Dot
EIA anti-HIV1/2. Kepositifan dot harus dikonfirmasi dengan
EIA anti-HIV1/2 standar (reaksi EIA basah), dan hasil-hasil
positif EIA anti-HIV1/2 standar harus dikonfirmasi dengan
Western-blot (WB) anti-HIV1/2. Konfirmasi dengan 4-5 macam
EIA anti-HIV1/2 standar dari pabrik lain tidak perlu lagi
(kecuali jika fasilitas WB dan tenaga medis yang berwenang
meng-interpretasi hasil WB tidak ada),karena kebanyakan
menggunakan sistim dan antigen yang sama, sehingga selain
tidak memenuhi kriteria test konfirmasi juga akan memberikan
hasil yang sama. Infeksi HIV1/2 terkonfirmasi jika pada WB
minimun ada satu anti core (anti-p24, anti-p17) positif dan satu
antienvelope (anti-gp120, ant-gp41, anti-gp160).
Pemantauan CD4, CD8 dan penyakit-penyakit oportunistik
tiap tahun pada subyek WB positif digunakan untuk
menetapkan status kekebalan dan AIDS, sementara viral load
digunakan untuk memantau dan menetapkan kapan terapi
antiviral diberikan (antiviral sebaiknya dimulai pada CD4 300-
400/ml, dan diper-tahankan jangan turun sampai <300/ml)
17
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 11
background image
Berikut ini merupakan skema protokol manajemen labora-
toris untuk infeksi HIV1/2 dan AIDS (Gambar 7).
Gambar 7. Skema skrining, diagnosis dan monitoring infeksi human
immunodeficiency virus.
8. ENDOKARDITIS
BAKTERIALIS
2
Ditegakkan jika memenuhi 2 kriteria mayor, atau 1 kriteria
mayor + 3 kriteria minor, atau memenuhi semua 5 kriteria minor.
·
Kriteria Mayor:
a) Bukti Mikroorganisme Spesifik Endokarditis:
- Tanpa bukti adanya fokus primer, dua kali kultur darah
selang waktu 12 jam, konsisten menemukan mikroorganisme spe-
sifik endokarditis: Streptokok viridan, -bovis, HACEK, Stafilo-
kok aureus, dan enterokokus.
- 3 dari 4 kultur darah selang 1 jam, konsisten menemukan
mikroorganisme spesifik endokarditis.
b) Bukti Organik Endokarditis:
- Ekokardiogram menemukan regurgitasi, abses, massa di
katup lama/buatan tanpa bukti patologis lain.
- Bising regugitasi
·
Kriteria Minor:
a. Adanya faktor predisposisi: ada penyakit jantung yang
mendasarinya, IVDA (Intravenous drug addict).
b. Febris
c. Fenomena vaskuler: emboli arteria besar, infark paru septik,
aneurisma mikotik, perdarahan intrakranial atau konjunktiva,
lesi Janeway.
d.
Fenomena imunologi: glomerulonefritis, faktor
rheumatoid, nodus Osler, Roth spot.
e. Kultur darah positif tetapi tidak memenuhi kriteria mayor
di atas.
KESIMPULAN
Manajemen laboratoris penyalahgunaan obat pada tingkat
skrining meliputi 1). deteksi obat atau metabolitnya dalam sampel
(urin) subyek. 2. monitor komplikasi pada organ hati meliputi
pemeriksaan SGOT, SGPT, GGT dan AP. 3. monitor infeksi
HBV, HCV dan HIV1/2: HBsAg, anti-HBsAg, anti-HCV, anti-
HIV1/2.
Hasil yang diperoleh pada tingkat skrining digunakan untuk
mengambil langkah-langkah lanjutan yang akurat dan efektif.
KEPUSTAKAAN
1. Asikin N, Setiadji VS, Nanang S. Konsensus FKUI tentang Opiat,
Masalah Medis dan Penatalaksanaannya. FKUI Jakarta, 2000: 7-26.
2. Asikin N, Setiadji VS, Nanang S. Konsensus FKUI tentang Opiat,
Masalah Medis dan Penatalaksanaannya. FKUI, Jakarta, 2000: 52-5.
3. Wiwiek, Suwarso. Respon Imun Seluler Pada Individu Widal Positip
Demam Tifoid/Paratifoid: Frekuensi, Patogenitas strain, Arti klinis anti-O
dan anti-H. Skripsi Sarjana I FK-UGM Yogyakarta, 2001.
4. Sitimuchayat P, Suwarso, Sukarmo. Hubungan DOT-EIA terhadap
Biakan Empedu dan Uji Widal pada Penderita Tersangka Demam Tifoid.
Tesis. Prog. PPDS-I.Pat. Klin. FK-UGM, Yogyakarta, 1999.
5. Suwarso. Seroprevalence of HBV infection among randomized "healthy"
peoples living in Yogyakarta, Indonesia: Correlation beetween
seromarkers and HBV infection state. Tropical Disease Center (TDC)
Airlangga University. Proc. Seminar on Hepatitis and Diarrhea in The
Tropic 2000. Surabaya, February 15
th
2000: 27-8.
6. Suwarso. Seroepidemiologische Unterschungen zur Antikoerper
Praevalenz des Hepatitis C-Virus in der Bevoelkerung Indonesiens.
Disertasi,1992.
7. Bishop ML, Engelkirk D,JL, Fody EP. Drugs of abuse testing. In:
Toxicology. in Clinical Chemistry: Principles, Procedures, Correlations.
3th.ed. Philadelphia, NewYork Lippincott.: 1996: 573-9.
8. Suwarso. Seroprevalence of antibody to hepatitis-C virus in hemodialized
patient: Anti HBcore as surrogate marker. The 3
rd
Asian Conference of
Clinical Pathology. Taipei,. June 23-25,
th
1993
9. Hetlaand G, Skaug K, Larsen J, Meland A, Strome JH, Storvold G.
Prevalence of anti-HCV in Norwegian blood donors with anti-HBc or
increased ALT level.Transfusion 1990; 30: 776-9.
10. Tabor E, Drucker JA, Hoofnagle JH et al. Transmission of non-A,non-B
hepatitis from man to chimpanzee. Lancet 1978; 1: 463-6.
11. Yoshizaw H, Akahane Y, Itoh Y et al. Viruslike particles in
plasmafraction (fibrinogen) and in the circulation of apparently healthy
blood donors capable of inducing non-A,non-B hepatitis in human and
chimpanzees. Gastroenterol. 1980;79:512-20.
12. Takeuchi K, Kubo Y, Boonmar S et al. Nucleotide sequence of core and
envelope genes of the hepatitis C virus genome derived directly from
human healthy carriers. Nucleic Acid Res 1990;18: 4626-36.
13. Hadziyannis SJ, Hatzakis A, Papaioannou C, Anastassakos C, Vassiliadis
E. Endemic HDV infection in a Greek community. In Rizzetto M, Gerin
JL, Purcell RH: The hepatitis delta virus and its infection. Alan R, Liss
Inc.; 1987:181-202.
14. Fattovich G, Boscaro S, Pornaro E, Stenico D, Doris R, Alberti A, Realdi G.
HDV infection in chronic hepatitis B. In Rizzetto M, Gerin JL, Purcell RH:
The hepatitis delta virus and its infection. Alan R. Liss Inc., 1987;219-220.
15. Brunetto MR, Baldi M, Bonino F et al. Chronic HDV infection: An
important cause of HbsAg positive cirrhosis of young adults. In Rizzetto
M, Gerin JL, Purcell RH. The hepatitis delta virus and its infection. Alan
R. Liss Inc., 1987; 207-8.
16. Blanke RV, DeckerWJ. Analysis of toxic substance. In Tietz NW: Textbook
of Clinical Chemistry. Philadelphia: WB Saunders Co.,.1986:1670-744.
17.
Stewart GJ. The chronology of HIV induced disease. In: Could it be
HIV? 2
nd
ed. Akhkfustral. Med. Publ. Co. 1994;1-3.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
12
background image
KALENDER KEGIATAN ILMIAH
PERIODE APRIL - JUNI 2002
No
Waktu
Kegiatan Ilmiah
Tempat dan Sekretariat
APRIL
5-7
Pertemuan Neurogeriatri Perhimpunan Dokter
Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI)
Hotel Horison, Jakarta
Telp. 021-391 7349, Facs. : 314 9424
E-mail :
neurona@centrin.net.id
11
12-14
One Day Post Graduate Course FKUI
TIA - KPPIK 50 Tahun FKUI
( Temu Ilmiah Akbar & Kursus Penyegar dan
Penambah Ilmu Kedokteran 2002 )
Assembly Hall JICC Jakarta
Jakarta International Covention
Center ( JICC )
E-mail : globalmedica@link.net.id
15
16
Kursus Pembelaan Hukum Tersangka Malpraktek
Kursus Pemberdayaan Komite Medik
Ruang Senat FKUI
Telp. : 021-3106976, Facs.: 3154626
e-mail : sampurna@cbn.net.id
agus_purwadianto@hotmail.com
20-21
3
rd
Jakarta Antimicrobial Update (JADE 2002 )
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp. 021-390 8157, 021-392 9106
E-mail :
tropik@indosat.net.id
23
-24
Continuing Ophthalmology Education 2002
Hotel Borobudur Jakarta
E-mail: matacoe@yahoo.com
Telp/facs. 021-334878, 3929106
25 - 27
1
st
Int'l Scientific Meeting On Immuno and Tropical
Dermatology
Hotel Grand Bali Beach, Denpasar
E-mail :
perdoski@bdg.centrin.net.id
sudigdo@bdg.centrin.net.id
MEI
17 ­ 18
19
The 2
nd
Jakarta Nephrology and Hypertension Course
(JNHC II)
Symposium on Management of Hypertension in Special
Condition
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp. : 021-314 9208, 021-314 1203
Facs. : 021-315 5551, 021-315 2278
E-mail : inasn@link.net.id
yagina@commerce.net.id
25 - 26
Temu Ilmiah Geriatri Perhimpunan Geriatri Medik
Indonesia
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
PERGEMI JAYA
Telp./facs. : 021-3190 0275
E-mail :
geriatri.fkui@mailcity.com
JUNI
07 - 09
Liver Update 2002
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp. : 021-310 6968
Facs. : 021-3102927
8
Simposium Awam : Gagal Ginjal, Dialisis dan
Transplantasi
Perpustakaan Nasional - Salemba
E-mail:
yagina@commerce.net.id
12 - 14
Course on Travel Medicine
Simposium Kedokteran Wisata III
Hotel Acacia Jakarta
E-mail : globalmedica@link.net.id
30 - 05
KONIKA XII
Sheraton Nusa Dua Bali
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 13