Artikel
HASIL PENELITIAN
Karakteristik Balita
Kurang Energi Protein (KEP)
yang Dirawat Inap
di RSU Dr. Pirngadi Medan
Tahun 1999 2000
Anton Kristijono
Balai Penelitian Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, D.I. Nangroe Darusalam Aceh
ABSTRAK
Latar belakang. Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi
utama di negara berkembang seperti di Indonesia, kejadian ini terutama pada anak-anak
di bawah usia 5 tahun (balita).
Tujuan. Mengetahui karakteristik balita penderita Kurang Energi Protein (KEP)
yang di rawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan.
Lokasi penelitian: RSU Dr. Pirngadi Medan.
Waktu penelitian: bulan Juni s/d Juli 2001.
Bahan dan cara: penelitian ini adalah penelitian deskriptif; data yang dikumpul-
kan bersifat sekunder, bersumber dari kartu status pasien balita penderita KEP di
bagian Medical Record RSU Dr. Pirngadi Medan yang dirawat inap selama tahun 1999
s/d 2000 sebanyak 98 penderita.
Hasil: dari 98 balita penderita KEP sebagian besar adalah perempuan (60,20%),
berasal dari golongan umur 12-23 bulan (50,00%), dengan pekerjaan ayah penderita
yang terbanyak adalah wiraswasta (55,10%), dan sebagian besar ibu penderita tidak
bekerja (71,42%). Pendidikan ayah penderita 52,04% tamat SLTP, dan 29,59% ibu
penderita juga tamat SLTP; hampir seluruh penderita (98,97%) berasal dari Kota
Medan. Dari 98 balita penderita KEP,32,65% menderita mencret, muntah dan demam
sewaktu masuk. 46,90% menderita KEP tingkat berat, terutama marasmus (58,70%).
Sebagian besar (73,47%) penderita masih menderita KEP tingkat ringan, sedang atau
berat setelah dirawat. Sebanyak 77,55% penderita dirawat selama kurang dari 7 hari,
dengan penyakit penyerta terbanyak adalah gastroenteritis (62,24%). Dehidrasi berat
adalah penyebab utama kematian (83,33%). Dari 98 penderita, 79,59% lahir dengan
berat badan normal. Dari 68 penderita berusia di atas 12 bulan 48,53% tidak lengkap
imunisasinya dan 42,64% tidak pernah diimunisasi. Jumlah saudara kandung penderita
umumnya adalah 3 orang (28,57%).
LATAR BELAKANG
Perbaikan keadaan gizi penting untuk meningkatkan ke-
sehatan ibu hamil, menurunkan angka kematian bayi dan balita,
meningkatkan kemampuan tumbuh kembang fisik, mental dan
sosial anak, dan untuk meningkatkan produktifitas kerja serta
prestasi akademik. Oleh karena itu keadaan gizi merupakan
salah satu ukuran penting dari kualitas sumber daya manusia.
1
Upaya perbaikan gizi telah lama dilaksanakan oleh pe-
merintah Indonesia, melalui Departemen Kesehatan, sejak
Pelita I sampai dengan Pelita VI. Upaya ini terutama diarahkan
untuk menanggulangi 4 (empat) masalah gizi utama di Indo-
nesia, yaitu : Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 5
(KVA), Anemia Gizi Besi dan Gangguan Akibat Kurang
Iodium (GAKI). Khusus mengenai KEP, pada Repelita VI pe-
merintah bersama masyarakat berupaya menurunkan prevalensi
KEP dari 40 % menjadi 30 %. Sasaran ini merupakan bukti
komitmen nyata bangsa Indonesia terhadap Konvensi mengenai
Hak-hak Anak tahun 1989, yang pada tahun 1997 diratifikasi
oleh 191 negara anggota WHO. Dalam konvensi ini hak anak
untuk mendapatkan kecukupan gizi memperoleh pengakuan
penuh, dan kecukupan ini harus diperhatikan sejak dini, bahkan
sejak pembuahan agar bayi bisa berkembang secara sehat dan
optimal.
2
Penyakit Kurang Energi Protein (KEP) merupakan bentuk
malnutrisi yang terdapat terutama pada anak-anak di bawah
umur 5 tahun dan kebanyakan di negara-negara sedang ber-
kembang. Bentuk KEP berat memberi gambaran klinis yang
khas, misalnya bentuk kwashiorkor, bentuk marasmus atau
bentuk campuran kwashiorkor marasmus. Pada kenyataannya
sebagian besar penyakit KEP terdapat dalam bentuk ringan.
Gejala penyakit KEP ringan ini tidak jelas, hanya terlihat
bahwa berat badan anak lebih rendah jika dibandingkan dengan
anak seumurnya. Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di
seluruh Indonesia, Tarwotjo, dkk (1978), memperkirakan bah-
wa 30 % atau 9 juta diantara anak-anak balita menderita gizi
kurang, sedangkan 3 % atau 0,9 juta anak-anak balita men-
derita gizi buruk.
3
Berbagai upaya perbaikan gizi yang selama ini dilakukan
telah mampu menurunkan prevalensi KEP. Data Susenas tahun
1989, 1992, 1995 dan 1998 menunjukkan penurunan prevalensi
KEP total dari 47,8% pada tahun 1989 menjadi 41,7% (1992),
35,0% (1995) dan 33,4% pada tahun 1998. Distribusi frekuensi
KEP menurut wilayah sangat bervariasi. Beberapa propinsi
mempunyai angka KEP relatif rendah yaitu di bawah 30% (tar-
get Repelita VI), sementara di beberapa propinsi lain masih
tinggi.
Namun krisis ekonomi berkepanjangan yang dimulai sejak
pertengahan tahun 1997 menimbulkan berbagai dampak, ter-
masuk terhadap derajat kesehatan dan keadaan gizi masyarakat
berupa antara lain peningkatan jumlah penderita KEP yang
ditandai dengan ditemukannya penderita gizi buruk yang se-
lama 10 tahun terakhir sudah jarang ditemui.
2
Di Sumatera Utara sendiri angka prevalensi KEP nyata
(gizi kurang dan buruk)nya masih di atas prevalensi nasional.
Berdasarkan data susenas 1998, prevalensi untuk Sumatera
Utara sebesar 40,4% sedangkan angka nasional adalah 30,4%.
6
Khusus untuk Kota Medan, pada Safari Busung Lapar
yang diadakan bulan Juli 2000, ditemukan sebanyak 761 pen-
derita gizi buruk dan 17.435 penderita gizi kurang dari 74.858
anak yang didata. Penderita ditemukan menyebar di hampir
semua kecamatan yang ada di Kotamadya Medan. Sedangkan
dari laporan Bagian SMF Penyakit Anak RSU Dr. Pirngadi
Medan tahun 1999 dan 2000, tercatat sebanyak 98 balita pen-
derita KEP dirawat di rumah sakit tersebut.
7
TUJUAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteris-
tik balita penderita KEP yang dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi
Medan tahun 1999-2000.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, data sekunder
bersumber dari kartu status pasien balita penderita KEP yang
dirawat inap yang disimpan di bagian Medical Record RSU Dr.
Pirngadi Medan selama tahun 1999 s/d 2000. Data yang di-
ambil dari kartu status pasien meliputi: jenis kelamin, golongan
umur, pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, asal daerah,
keadaan umum sewaktu masuk, tingkat KEP sewaktu masuk,
KEP tingkat berat menurut tipenya, tingkat KEP sewaktu
keluar, lama rawat, keadaan saat pulang, penyebab penderita
meninggal, penyakit penyerta, berat badan lahir, kelengkapan
imunisasi dasar dan jumlah saudara kandung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam kurun waktu 2 tahun (1999-2000) terdapat se-
banyak 98 balita penderita KEP yang dirawat inap di RS U Dr.
Pirngadi Medan. Jumlah per tahun adalah sama, yaitu masing-
masing 49 balita penderita KEP. Namun proporsi terhadap
seluruh penderita rawat inap di Bagian Anak berbeda, karena
pada tahun 2000 terjadi penurunan jumlah pasien sebesar
8,95% dibandingkan dari tahun 1999.
Proporsi rata-rata dalam 2 tahun adalah 1,29%, artinya
diantara 100 penderita yang dirawat inap di Bagian Anak ter-
dapat 1 penderita KEP.
Selama 2 tahun ini, lebih banyak ditemukan balita pen-
derita KEP berjenis kelamin perempuan daripada laki-laki
(60,20% vs. 39,80%) (Gambar 1). Dengan perbandingan 1,5:1
Hasil ini sesuai dengan penelitian Nazir HZ.M, dkk di RSUP
Palembang.
14
Sedangkan Agustina Lubis dkk. (1997) menemu-
kan prevalensi laki-laki : perempuan adalah 1 : 4.; menurutnya
hal ini disebabkan karena perbedaan nilai anak, anak laki-laki
dianggap lebih berharga daripada anak perempuan sehingga
anak laki-laki akan mendapatkan perawatan kesehatan dan
pemberian makanan yang lebih baik.
23
PEREMPUAN
6 0 %
LAKI-LAKI
4 0 %
Gambar 1. Distribusi penderita kurang energi protein yang
dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun
1999-2000 menurut jenis kelamin.
Dari segi golongan umur, balita penderita KEP lebih
banyak ditemukan pada usia 12 s/d 23 bulan (Gambar 2), yaitu
sebesar 50,00%. Balita pada usia ini, baru memasuki suatu
tahapan baru dalam proses tumbuh kembangnya. Di antaranya
tahapan untuk mulai beralih dari ketergantungan yang besar
pada ASI atau susu formula ke makanan semi padat. Sebagian
balita mengalami masa ini tanpa kesulitan, namun sebagian lagi
menderita kesulitan makan yang berat. Barlet (1928) menduga
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
6
25% dari jumlah anak menderita kesulitan makan. Sementara
GUAPCD (Georgetown University Affiliated Program for
Child Development) memperoleh angka 33% dari penyelidikan
pada tahun 1971-1975. Jumlahnya di Indonesia diduga lebih
banyak lagi. Akibat kesulitan makan ini menyebabkan masukan
makanan yang kurang sehingga anak jatuh pada keadaan gizi
yang kurang hingga buruk.
15
30
49
11
7
1
0
10
20
30
40
50
jumlah
(orang)
< 12 12 -
23
24 -
35
36 -
47
48 -
59
golongan umur (bulan)
Gambar 2. Distribusi penderita kurang energi protein yang dirawat inap
di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 1999-2000 menurut
golongan umur.
Pada usia ini balita juga sudah mulai lebih banyak ber-
sosialisasi dengan lingkungannya. Segera setelah anak dapat
bergerak sendiri tanpa bantuan orang lain, mereka akan lebih
sering kontak dengan orang-orang di sekitarnya sehingga me-
mudahkan untuk terkena penyakit infeksi terutama bagi anak-
anak yang daya tahan tubuhnya lemah.
16
Jika dilihat dari tingkat pendidikannya, ayah penderita
KEP sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan Tamat
SLTP (52,04%). Sedangkan ibu penderita, yang terbanyak ada-
lah juga Tamat SLTP (29,59%). Namun tingkat pendidikan
ayah dan ibu penderita ada yang cukup tinggi yaitu Tamat
SLTA sebanyak 31,63%, untuk ayah dan 27,55% untuk ibu.
Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa balita penderita KEP
tingkat berat atau gizi buruk selama 2 tahun sebanyak 46 pen-
derita. Dari jumlah ini sebanyak 3 penderita (6,5%) mempunyai
ibu dengan tingkat pendidikan Tamat SLTA.
Tabel 1. Distribusi penderita Kurang Energi Protein yang dirawat inap di
RS Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 1999-2000 menurut
tingkat pendidikan ibu dan tingkat KEP penderita
No
Tk. KEP
Tk. Pend.
Ringan Sedang Berat Total
1
2
3
4
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SLTP
Tamat SLTA
-
1
3
19
1
3
20
5
22
15
6
3
23
19
29
27
Jumlah
23 29 46 98
Hasil analisa data Susenas 1986 menunjukkan bahwa pen-
didikan orang tua ternyata berhubungan negatif dengan pre-
valensi kurang gizi.
17
Jadi mungkin ada faktor lain yang me-
nyebabkan anak dari orang tua dengan tingkat pendidikan
Tamat SLTA menderita KEP bahkan sampai tingkat berat.
Faktor tersebut mungkin tingkat pengetahuan gizi orang tua
penderita terutama ibu. Beberapa pakar pendidikan gizi seperti
Green, Mantra dan Rogers berpendapat bahwa di samping pen-
didikan, tingkat pengetahuan ibu tentang gizi sangat ber-
pengaruh terhadap praktek gizi ibu di dalam rumah tangga.
Sebab sekalipun kurangnya daya beli merupakan halangan
utama, sebagian kekurangan gizi akan bisa diatasi jika orang
tahu bagaimana seharusnya memanfaatkan segala sumber yang
dimiliki.
13
Dari 46 balita penderita KEP tingkat berat atau gizi buruk
(Gambar 3), sebagian besar menderita KEP berat tipe maras-
mus (58,70%), lebih banyak dari tipe kwashiorkor (28,30%)
dan gabungan keduanya (13,00%). Hal ini mendekati angka hasil
pengamatan Mc Larven (1966) sebesar 85% untuk Marasmus
sedangkan Kwashiorkor dan Marasmus-Kwashiorkor adalah
10%-15%.
18
marasmus
59%
marasmus -
kwasiorkor
13%
kwasiorkor
28%
Gambar 3. Distribusi penderita kurang energi protein yang dirawat inap
di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 1999-2000 tingkat berat
menurut tipenya.
Gambar 4 memperlihatkan keadaan 23 balita penderita
KEP tingkat ringan sewaktu keluar dari RS. Dari jumlah ter-
sebut setelah menjalani perawatan, 14 balita (60,87%) menjadi
gizi baik atau sembuh. Sisanya 9 balita (39,13%) tetap men-
derita KEP tingkat ringan pada saat keluar dari RS.
gizi baik
61%
ringan
39%
Gambar 4. Distribusi penderita kurang energi protein yang dirawat inap
di RSU Dr. Pirngadi tahun 1999 2000 tingkat ringan
sewaktu keluar.
Gambar 5 memperlihatkan keadaan 29 balita penderita
KEP tingkat sedang sewaktu keluar dari RS. Sebanyak 41,38%
meningkat menjadi KEP tingkat ringan. Sebesar 41,38% tetap
pada tingkatan KEP sedang dan 2 balita (6,90%) turun menjadi
KEP tingkat berat serta 3 penderita (10,34%) meninggal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 7
sedang
41%
meninggal
10%
berat
7%
ringan
42%
Gambar 5. Distribusi penderita kurang energi protein yang dirawat inap
di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 1999 2000 tingkat sedang
sewaktu keluar.
Gambar 6 memperlihatkan keadaan 46 balita penderita
KEP tingkat berat sewaktu keluar dari RS. Hanya 1 penderita
(2,17%) yang meningkat menjadi KEP tingkat ringan, dan
sebanyak 47,47% meningkat statusnya menjadi KEP tingkat
sedang, 34,78% tetap pada KEP tingkat berat serta 19,60%
meninggal.
ringan
2%
sedang
43%
berat
35%
meninggal
20%
Gambar 6. Distribusi penderita kurang energi protein yang dirawatinap
di RSU Dr. Pirngadi tahun 1999- 2000 tingkat berat sewaktu
keluar.
Dari data di atas terlihat bahwa risiko gagal dalam peng-
obatan bahkan kematian terutama pada KEP tingkat berat;
sebab seperti yang dikemukakan oleh Chandra (1980), infeksi
akan memperburuk status gizi. Dan sebaliknya gangguan gizi
memperburuk kemampuan anak untuk mengatasi penyakit in-
feksi, karena gizi kurang menghambat reaksi pembentukan
kekebalan tubuh.
16
Hasil ini juga sesuai dengan penelitian Alisjahbana, dkk
(1984) di 20 Rumah Sakit di Jawa Barat dari tahun 1981-1983,
yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan gizi buruk angka ke-
matiannya tertinggi, yaitu hampir empat kali lebih besar dibanding
dengan angka kematian pada kelompok anak-anak dengan gizi
baik.
16
Sebagian besar (77,55%) dari 98 balita penderita KEP di-
rawat inap di RSU Dr. Pirngadi selama kurang dari 7 hari
rawatan. Sedangkan yang lebih dari 14 hari rawatan hanya
3,05%. Namun selama perawatan tidak semua balita penderita
KEP sembuh. Hanya 14 balita (14,28%) yang sembuh, dalam
arti status gizinya sudah meningkat ke gizi baik. Dan yang
paling banyak adalah tidak sembuh (73,47%), serta sisanya
(12,25%) meninggal (Gambar 7).
meninggal
12%
tidak
sembuh
74%
sembuh
14%
Gambar 7. Distribusi penderita kurang energi protein yang dirawat inap
di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 1999 2000 menurut
keadaan sewaktu pulang.
Balita yang dinyatakan tidak sembuh ini karena masih
dalam tingkat KEP ringan, sedang atau berat. Dari 73,47% bali-
ta yang pulang dalam keadaan tidak sembuh tersebut, sebagian
besar (69,45%) Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS). Se-
bagian kecil (30,55%) Pulang Berobat Jalan (PBJ). Seluruh
balita yang pulang dengan alasan Pulang Berobat Jalan (PBJ)
ini berada pada KEP tingkat ringan. Hal ini sesuai dengan
Pedoman Tata Laksana KEP di RS oleh Depkes bahwa pasien
KEP ringan dianjurkan untuk berobat jalan.
Dari 98 balita penderita KEP, sebanyak 12 balita me-
ninggal; angka Case Fatality Rate (CFR) dari KEP ini adalah
12,25%. Angka ini lebih rendah bila dibandingkan dengan CFR
KEP di RSUP Palembang yang mencapai 30%-40% pada tahun
1993, atau dibandingkan dengan CFR KEP di RS secara nasio-
nal yang berkisar antara 15%-40%. Adanya penurunan ini
mungkin karena perhatian pemerintah saat ini atas kasus KEP
sangat besar. Ini ditunjukkan melalui keluarnya Instruksi Men-
teri Kesehatan No. 1290/ Menkes/X/1998, tanggal 19 Oktober
1998 bahwa KEP sudah dianggap sebagai Kejadian Luar Biasa
(KLB) bila ada 1 kasus saja ditemukan, dan harus segera di-
laporkan 1 x 24 jam serta dirawat di RS atau Puskesmas
dengan gratis bagi keluarga miskin.
Pada Gambar 8 dapat dilihat bahwa 20,41% balita pen-
derita KEP mempunyai riwayat kelahiran dengan BBLR, yaitu
BB lahir kurang dari 2500 gr. Hal ini dapat dipahami karena
bayi dengan BBLR yang bertahan hidup mempunyai risiko
lebih mudah mengalami berbagai kelemahan fisik dan mental
(intelegensia), serta akan meningkatkan risiko morbiditas dan
mortalitas karena rentan terhadap infeksi.
19
< 2500
gram
20%
> 2500
gram
80%
Gambar 8. Distribusi penderita kurang energi protein yang dirawat inap
di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 1999 2000 menurut berat
badan waktu lahir.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
8
Dari tabel 2 terlihat angka kejadian KEP meninggi pada
balita yang mempunyai saudara kandung berjumlah 3 orang s/d
5 orang. Persentase terbanyak pada balita dengan jumlah
saudara 3 orang mencapai 28,57%, jumlah saudara 4 orang
18,36% dan jumlah saudara 5 orang 17,34%. Tetapi menurun
pada jumlah saudara 6 orang yaitu hanya 5,10%.
Tabel 2. Distribusi penderita Kurang Energi Protein yang dirawat inap di
RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 1999 2000 menurut jumlah
saudara kandung
No
Jumlah Saudara Kandung
(orang)
Jumlah penderita
(orang)
Persentase
(%)
1
2
3
4
5
6
7
Anak tunggal
1
2
3
4
5
6
9
11
10
28
18
17
5
9,18
11,22
10,20
28,57
18,36
17,34
5,10
Jumlah 98
100,00
Hasil ini berbeda dengan penelitian Morley (1968), dalam
studinya di Nigeria ia menemukan bahwa insidensi kwashior-
kor meninggi pada keluarga dengan 7 anak atau lebih, namun
sesuai dengan penelitian Gopalan (1964) yang menemukan
anak-anak yang dilahirkan sebagai anak keempat dan berikut-
nya memperlihatkan tanda-tanda KEP yang jelas.
3
KESIMPULAN DAN SARAN
Telah dilakukan penelitian terhadap 98 balita penderita
KEP yang dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan selama
kurun waktu 2 tahun (1999-2000). Dari jumlah ini sebagian
besar adalah perempuan (60,20%), berasal dari golongan umur
12-23 bulan (50,00%). Sebagian besar menderita KEP tingkat
berat (46,90%), dengan Marasmus sebagai tipe yang terbanyak
(58,70%); sebagian besar penderita tidak sembuh setelah di-
rawat (73,47%), artinya masih menderita KEP tingkat ringan,
sedang atau berat. Dari jumlah tersebut 30,55% Pulang Berobat
Jalan (PBJ) dan 69,45% Pulang Atas Permintaan Sendiri
(PAPS). Hal ini perlu mendapat perhatian pemerintah khusus-
nya bagi penderita KEP tingkat berat yang dirawat inap dan
berasal dari keluarga miskin, mengingat masih banyak pen-
derita KEP tingkat berat yang belum sembuh tetapi pulang
karena tidak adanya biaya untuk berobat (Pulang Atas Per-
mintaan Sendiri).
Disarankan juga untuk membuat rekomendasi bagi pasien
penderita KEP yang belum sembuh tetapi Pulang Atas Per-
mintaan Sendiri (PAPS) agar Pihak Dinas Kesehatan Kota/
Kabupaten melalui Puskesmas dan Posyandu dapat mem-
berikan bantuan perawatan lebih lanjut di tempat tinggal pen-
derita KEP masing-masing.
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan Gizi Kurang di Rumah
Sakit. Jakarta. 1999
2.
Departemen Kesehatan RI.. Pedoman Tata Laksana Kurang Energi
Protein pada Anak di Rumah Sakit Kabupaten/Kodya. Jakarta. 1999
3.
Pudjiadi S. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
1990
4.
5.
6.
7.
Dinas Kesehatan Kotamadya Medan. Laporan Safari Busung Lapar.
Medan. Juli 2000
8.
Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penanggulangan Kurang Energi
Protein (KEP) dan Petunjuk Pelaksanaan PMT pada Balita. Jakarta, 1997.
9.
Azwar A. Program JPS dan Penanggulangan Krisis Pangan dan Gizi
Sektor Kesehatan. Dirjen Binkesmas, Depkes R.I., Jakarta. 1998
10.
Departemen Kesehatan RI. Kurang Energi Protein (KEP), Makanan
Formula untuk Mengatasi Masalah KEP. Jakarta. 1994
11.
Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Fakultas Kedokteran U.I.,
1985.
12.
Moehji. S. Ilmu Gizi. Bhratara. Jakarta. 1992.
13.
Ngadiarti I. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Praktek Gizi Ibu dan
Status Gizi Anak. Studi Kasus di desa Pondok Karya Jakarta, Prosiding
KPIG VII, Jakarta, 1985.
14.
HZ.M, Nazir, Kemaknaan Manifestasi Klinis KKP Berat sebagai Faktor
Resiko Kematian di Unit Penyakit Anak RSUP Palembang. Jurnal JEN,
2-; 1993.
15.
Agusman S. Gizi dan Tumbuh Kembang. Fakultas Kedokteran UI.
Jakarta. 1985
16.
Beck E, M. Ilmu Gizi dan Diet. Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta.
17.
Jalal F, Soekirman. Pemanfaatan Antropometri sebagai Indikator Sosek.
Gizi Indon. 1990; XV(2).
18.
Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
2001
19.
Enoch M. Penyebaran BBLR di Empat Dati II Jabar. Prosiding Kursus
Penyegar Ilmu Gizi dan Konggres VII Persagi. 1990. 1998.
20.
Pusat PKM Depkes. Kumpulan Hasil Penelitian PSP Ibu Anak Balita
terhadap Kesehatan (1985 1991). Jakarta, 1992.
21.
Friedman G. Prinsip-Prinsip Epidemiologi. Yayasan Essentica Medica.
Yogyakarta, 1993.
22.
Sutrisna, B, Pengantar Metoda Epidemiologi. Dian Rakyat. 1986.
23.
Lubis, A, Kristanti, Jaya S. Status Gizi Batita. Media Litbangkes 1997;
VII(02).
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 9