background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 13
Diagnosis Tuberkulosis Paru
Arifin Nawas
UPF Paru Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis, khas ditandai dengan terjadinya
pembentukan granuloma dan nekrosis. Infeksi ini paling sering
mengenai paru, akan tetapi dapat juga meluas mengenai organ-
organ tertentu.
1
Cara penularan TB paru dapat terjadi secara langsung melalui
percikan dahak yang mengandung kuman TB, terisap oleh orang
sehat melalui jalan napas dan kemudian berkembang biak di
paru. Dapat juga terjadi secara tidak langsung bila dahak yang
dibatukkan penderita ke lantai atau tanah kemudian mengering
dan menyatu dengan debu, lalu beterbangan di udara; bila
terisap orang sehat akan dapat menjadi sakit. Berdasarkan cara-
cara penularan ini, TB paru juga dimasukkan dalam golongan
airbone disease.
1 2
TB paru masih merupakan masalah kesehatan utama di
negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, di mana se-
bagian besar penduduknya hidup di pedesaan dengan derajat
kesehatan yang masih rendah. Untuk Indonesia keadaan ini ter-
cermin pada prevalensi TB paru dengan BTA (+) yang masih
cukup tinggi yaitu 0,3 persen, berarti di antara 1000 orang pen-
duduk Indonesia dapat dijumpai 3 orang penderita TB paru
yang masih potensial menular. Di Indonesia TB paru merupakan
penyebab kematian nomor empat setelah penyakit infeksi salur-
an napas bawah, diare dan penyakit jantung koroner.
3
Pada masa sebelum ditemukannya kemoterapi dan anti-
biotika TB paru merupakan salah satu penyakit yang ditakuti,
karena pada masa itu dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat
disembuhkan dan dapat menyebabkan kecacatan seumur hidup.
Saat ini dengan ditemukannya obat-obatan yang ampuh ter-
hadap kuman TB dan kemajuan di bidang ilmu kedokteran,
TB paru dapat disembuhkan.
Berbagai upaya perlu dilakukan untuk menurunkan pre-
valensi TB paru ini, salah satu adalah usaha menemukan pen-
derita yaitu dengan meningkatkan kemampuan menegakkan
diagnosis, agar dapat diberikan obat anti tuberkulosis (OAT)
yang tepat.
Dalam makalah ini akan dibicarakan usaha untuk menegak-
kan diagnosis TB paru dan sedikit dijelaskn tentang klasifikasi
TB paru di Unit Pam RS Persahabatan Jakarta.
PERKEMBANGAN ALAMIAH TB PARU
1) Tuberkulosis primer
Infeksi primer terjadi sebagian besar pada anak-anak
umur di atas 5 tahun. Sumber penularan berasal dari penderita
yang mengeluarkan kuman, biasanya dengan kontak erat terus
menerus.
Empat minggu setelah kuman TB masuk melalui saluran
napas, akan terjadi fokus primer di paw, diikuti dengan pem-
besaran kelenjar getah bening hilus/regional. Fokus primer yang
disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional
dikenal dengan kompleks primer.
1 3
Pada sebagian kecil anak akan menunjukkan gejala-gejala,
akan tetapi kebanyakan tanpa gejala, uji tuberkulin menjadi
positip. Kadang-kadang dapat terjadi pembesaran kelenjar getah
bening yang hebat, sehingga menyebabkan paru kolaps disertai
dengan penekanan pada bronkus dan hilus; fenomena ini disebut
epituberkulosis; keadaan ini akan menimbulkan reaksi hiper-
sensitif dari parenkim paru sehingga dapat terjadi kavitas atau
efusi pleura.
Penyebaran infeksi TB dapat melalui
1
:
·
Percabangan bronkus, menyebar ke paru yang lain, taring, dan
juga dapat ke saluran cerna.
·
Sistem limfe, menyebabkan limfadenopati regional atau se-
cara tak langsung melalui duktus limfatikus masuk ke dalam
darah, menimbulkan penyebaran miller.
·
Aliran darah, pembuluh balik pulmoner dapat membawa
bahan-bahan yang infektif, menyebar jauh terutama ke tulang,
ginjal, kelenjar adrenal, otak dan selaput otak.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
14
2) Infeksi post primer
Infeksi post primer diartikan terjadinya TB paru setelah
beberapa saat mendapatkan infeksi primer dan telah timbul
reaksi hipersensitivitas. Dalam hal ini termasuk kasus-kasus re-
infeksi atau reaktivasi dari infeksi yang terjadi beberapa tahun
kemudian.
Reaktivasi cenderung terjadi pada usia produktif, biasanya
berkisar di antara 15 ­ 40 tahun. Salah satu faktor yang me-
nyebabkan terjadinya reaktivasi ini adalah gangguan pada sistem
imunologik tubuh.
Tuberkulosis post primer biasanya paling sering terletak
pada segmen apikal lobus atas maupun lobus bawah.
DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis TB paru, perlu diketahui ten-
tang : gambaran klinik, pemeriksaan jasmani, gambatan foto
toraks, pemeriksaan basil tahan asam, pemeriksaan uji tuber-
kulin dan pemeriksaan laboratorium penunjang.
1 2 5
Gambaran klinik
Path TB paru gambaran klinik dapat dibagi atas : gejala
sistemik (umum) dan gejala respiratorik (paru).
1 2 5
1) Gejala sistemik (umum), berupa :
a) Demam
Salah satu keluhan pertama penderita TB paru adalah demam
seperti gejala influenza. Biasanya demam dirasakan pada malam
hari disertai dengan keringat malam, kadang-kadang suhu badan
dapat mencapai 40° ­ 41° C. Serangan seperti influenza ini ber-
sifat hilang timbul, dimana ada masa pulih diikuti dengan se rang-
an berikutnya setelah 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan (dikatakan se-
bagai multiplikasi 3 bulan). Rasmin mengatakannya sebagai se-
rangan influenza yang melompat-lompat dengan masa tidak
sakit semakin pendek dan masa serangan semakin panjang.
5
b) Gejala yang tidak spesifik
TB paru adalah peradangan yang bersifat kronik, dapat di-
temukan rasa tidak enak badan (malaise), nafsu makan ber-
kurang yang menyebabkan penurunan berat badan, sakit kepala
dan badan pegal-pegal. Pada wanita kadang-kadang dapat di-
jumpai gangguan siklus haid.
2) Gejala respiratorik (paru)
a)
Batuk
Pada awal teljadinya penyakit, kuman akan berkembang
biak di jaringan paru; batuk baru akan terjadi bila bronkus
telah terlibat. Batuk merupakan akibat dari terangsangnya bron-
kus, bersifat iritatif. Kemudian akibat terjadinya peradangan,
batuk berubah menjadi produktifkarena diperlukan untuk
.
mem-
buang produk-produk ekskresi dari peradangan. Sputum dapat
bersifat mukoid atau purulen.
b)
Batuk darah
Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah; berat atau ringan-
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 15
nya batuk darah tergantung dari besarnya pembuluh darah yang
pecah.
Gejala batuk darah ini tidak selalu terjadi pada setiap TB
paru, kadang-kadang merupakan suatu tanda perluasan proses
TB paru. Batuk darah tidak selalu ada sangkut pautnya dengan
terdapatnya kavitas pada paru.
c)
Sesak napas
Sesak napas akan terjadi akibat luasnya kerusakan jaringan
paru, didapatkan pada penyakit paru yang sudah lanjut. Sedang-
kan pada penyakit yang baru tidak akan dijumpai gejala ini.
d)
Nyeri dada
Biasanya terjadi bila sistem saraf terkena, dapat bersifat lokal
atau pleuritik.
Pemeriksaan jasmani
Secara umum pemeriksaan jasmani paru menggambarkan ke-
adaan struktural jaringan paru, pemeriksaan ini tidak memberi-
kan keterangan apa penyebab penyakit paru tersebut. Namun
demikian mungkin ada beberapa hal yang dapat dipakai sebagai
pegangan pada TB paru yaitu lokasi dan kelainan struktural
yang terjadi. Pada penyakit yang lanjut mungkin dapat dijumpai
berbagai kombinasi kelainan seperti konsolidasi, fibrosis, kolaps
atau efusi.
5
Gambaran foto toraks
Pemeriksaan foto toraks standar untuk menilai kelainan pada
paru ialah foto toraks PA dan lateral, sedangkan foto top lordotik,
oblik, tomogram dan floroskopi dikerjakan atas indikasi.
Crofton mengemukakan beberapa karakteristik radiologik
pada TB paru
2
:
·
Bayangan lesi terutama pada lapangan atas paru
·
Bayangan berawan atau berbercak
·
Terdapat kavitas tunggal atau banyak
·
Terdapat kalsifikasi
·
Lesi bilateral terutama bila terdapt pada lapangan alas paru
·
Bayangan abnormal menetap pada foto toraks ulang setelah
beberapa minggu.
Letak lesi pada orang dewasa biasanya pada segmen apikal
dan posterior lobus atas, segmen posterior lobus bawah, meski-
pun dapat juga mengenai semua segmen.
4
Rasmin menyatakan bahwa gambaran radiologik TB paru
tidak memperlihatkan hanya satu bentuk sarang saja, akan tetapi
dapat terlihat berbagai bentuk sarang secara bersamaan sekali
gus yang merupakan bentuk khas TB paru. Adapun bentuk
sarang yang dijumpai pada kelainan radiologik adalah : sarang
dini/sarang minimal, kavitas non sklerotik, kavitas sklerotik, ke-
adaan penyebaran penyakit yang sudah lanjut.
5
Kelainan radiologik foto toraks hendaklah dinilai secara teliti,
karena TB paru dapat memberikan semua bentuk abnormal pada
pemeriksaan radiologik dan dikenal dengan istilah
"
great imita-
tor".
6
Pemeriksaan basil tahan asam
Penemuan basil tahan asam (BTA) dalam sputum, mem-
punyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis TB
paru, namun kadang-kadang tidak mudah untuk menemukan
BTA tersebut. BTA barn dapat ditemukan dalam sputum, bila
bronkus sudah terlibat, sehingga sekret yang dikeluarkan melalui
bronkus akan mengandung BTA.
1 2 5
Pemeriksaan mikroskopik langsung dengan BTA (--), bukan
berarti tidak ditemukan Mycobacterium tuberculosis sebagai pe-
nyebab, dalam hal penting sekali peranan hasil biakan kuman.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan basil bakteriologik
negatip adalah :
·
belum terlibatnya bronkus dalam proses penyakit, terutama
pada awal sakit,
·
terlalu sedikitnya kuman di dalam sputum akibat dari cara
pengambilan bahan yang tidak adekuat,
·
cara pemeriksaan bahan yang tidak adekuat,
·
pengaruh pengobatan dengan OAT, terutama rifampisin.
Bila diagnosis TB paru semata-mata berdasarkan pada di-
temukannya BTA dalam sputum, maka sangat banyak TB paru
yang terlewat tanpa pengobatan. Sedangkan justru pada TB
paru yang baru dengan sputum BTA (--) dan belum menular
pada orang lain, paling mudah diobati dan disembuhkan sem-
purna.
5
Pemeriksaan uji tuberkulin
Pemeriksaan uji tuberkulin merupakan prosedur diagnostik
paling penting pada TB paru anak, kadang-kadang merupakan
satu-satunya bukti adanya infeksi Mycobacterium tuberculosis.
Sedangkan pada orang dewasa, terutama di daerah dengan pre-
valensi TB paru masih tinggi seperti Indonesia sensitivitasnya
rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian Handoko dkk terhadap
penderita TB paru dewasa yang menyimpulkan bahwa reaksi
uji tuberkulin tidak mempunyai arti diagnostik, hanya sebagai
alat bantu
.
diagnostik saja, sehingga uji tuberkulin ini jarang di-
pakai untuk diagnosis kecuali pada keadaan tertentu, di mana
sukar untuk menegakkan diagnosis.
6
Pemeriksaan laboratorium penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dapat menunjang untuk
mendiagnosis TB paru dan kadang-kadang juga dapat untuk
mengikuti perjalanan penyakit yaitu
5
:
--
laju endap darah (LED)
--
jumlah leukosit
--
hitung jenis leukosit.
Dalam keadaan aktif/eksaserbasi, leukosit agak meninggi
dengan geseran ke kiri dan limfosit di bawah nilai normal,
laju endap darah meningkat.
Dalam keadaan regresi/menyembuh, leukosit kembali
normal dengan limfosit nilainya lebih tinggi dari nilai normal,
laju endap darah akan menurun kembali.
KLASIFIKASI TB PARU
Sudah sejak beberapa tahun belakangan ini Unit Pam RS
Persahabatan Jakarta telah menerapkan klasifikasi TB paru.
Tujuan membuat klasifikasi ini untuk mendapatkan keseeragam-
an dalam diagnosis, pengobatan maupun catatan medik, se-
hingga dapat diikuti oleh tim pelayanan kesehatan manapun.
5
Ciri-ciri klasifikasi ini adalah :
·
Menekankan diagnosis yang tepat.
·
Memberikan informasi yang lebih tepat dalam menilai prog-
nosis.
·
Memberikan informasi yang diperlukan untuk suatu tindakan
pengobatan.
·
Dapat dipergunakan sebagai pegangan bagi tim pelayanan
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
16
kesehatan masyarakat dalam tindakan pencegahan, usaha
mengobati penderita, maupun penentuan seorang penderita
tidak perlu diberi pengobatan lagi.
·
Memberikan laporan yang praktis dan seragam.
Klasifikasi ini berdasarkan atas hubungan manusia dengan
kuman TB yang dinyatakan dalam
4 5
1) Hasil pemeriksaan bakteriologik
·
pemeriksaan mikroskopik langsung (M).
·
basil biakan (B).
2) Gambaran radiologik
·
radiologik (R) + : yang dianggap relevan untuk TB paru.
·
radiologik (R) - : yang dianggap tidak relevan untuk TB
paru.
Juga dicatat : - stabil/membaik/memburuk (seri foto)
- kavitas (+ )/(--).
3) Keadaan klinis penderita
·
klinis (+ ) : tanda-tanda yang dianggap relevan untuk TB paru
·
klinis (--) : tanda-tanda yang dianggap tidak relevan untuk
TB paru
4) Riwayat pengobatan
·
sejak kapan mendapat pengobatan.
·
sejak kapan selesai pengobatan.
·
pengobatan adekuat/tidak.
·
belum pernah mendapat pengobatan.
Berdasarkan pada faktor-faktor yang telah disebutkan di atas,
maka TB pam digolongkan dalam 3 kelas, yaitu
5
:
1)
TB paru
2)
Bekas TB paru
3)
TB paru tersangka.
TB paru
Mencakup semua kasus TB paru aktif, prosedur diagnostik
sudah lengkap; semua kasus yang sedang dalam penyelesaian
pengobatan, walaupun M/B (--) dan penderita-penderita dengan
M/B (--), setelah pengobatan OAT jelas ada perbaikan klinis
maupun radiologik.
Bekas TB paru
Mencakup penderita dengan -- M/B (--), -- R (--) atau Rd (+),
stabil pada seri foto, -- Klinis (--), mungkin ada riwayat TB yang
lampau dan -- pengobatan (--), adekuat, tidak adekuat, atau tidak
teratur.
TB paru tersangka
Mencakup penderita yang : -- M (--)/B belum ada basil
atau belum diperiksa, -- R (+) dengan kavitas (+) atau (--),
- klinis (+) dan -- pengobatan (--) atau (+).
Penderita yang masuk dalam kelas ini, semua pemeriksaan
diagnostik hams dilaksanakan, paling lambat dalam 3 bulan
harus sudah dapat ditentukan sebagai TB paru/bekas TB paru.
Selama dalam upaya diagnostik penderita TB paru tersangka,
dibagi 2 golongan :
a) diobati :
--
R dan klinis sangat berat menjurus pada TB paru.
--
penderita dengan tanda-tanda komplikasi seperti : batuk
darah, efusi pleura, DM yang tak terkontrol, dsb.
b) tidak diobati :
Penderita dengan R dan klinis tidak kuat menjurus pada TB
paru.
KESIMPULAN
I) Dalam rangka menemukan penderita TB paru, sangat diperlu-
kan cara menegakkan diagnosis.
2) Klasifikasi TB paru merupakan suatu upaya untuk menegak-
kan diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang lebih baik
pada penderita TB paru.
KEPUSTAKAAN
1.
Brewis RAL. Lecture notes on respiratory diseases, 2nd ed,Oxford : Blackwell
Scientific Publication, 1983; 100 - 12.
2.
Crofton Y, Douglas A. Respiratory diseases 2nd ed. Oxford : Blackwell
Scientific Publication, 1975; 232.
3.
Handoko T. Gambaran uji tuberkulin pads penduduk yang berdomisili
di sekitar pabrik semen, Skripsi, Jakarta : Bagian Pulmonologi FKUI, 1984.
4.
American Thoracic Society. Diagnostics standards and classification of tuber-
culosis and other mycobactenial diseases (14th edition). Am Rev Resp Dis
1981; 123 : 343 - 58.
5.
Rasmin R. Diagnostik dan klasifikasi Tuberkulosis para. Dalam Simpo-
sium pengobatan mutakhir tuberkulosis paru. Editor : Farid M, Menaldi
R, Jakarta : IDPI cabang Jakarta 1987; 1 - 9.
6.
Fraser RG, Pare YAP. Diagnosis of diseases of the chest 2nd ed. Philadelphia :
WB Saunders, 1978; 731.
Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat :
Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran
P.O. Box 3105, Jakarta 10002
dan
cantumkan kodepos pada alamat lengkap anda