background image
Artikel
ANALISIS
Deskripsi Penyakit Sistim Sirkulasi:
Penyebab Utama Kematian
di Indonesia
Sarjaini Jamal
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI
Jakarta
PENDAHULUAN
Kematian merupakan terminal akhir dari perjalanan hidup
yang terdiri dari tiga tahap yaitu tahap mati klinis, mati otak,
mati secara biologis dan selular
(1)
. Mati dapat terjadi karena
berbagai sebab.
Penyebab kematian utama menurut SKRT 2001 adalah
penyakit sistim sirkulasi di samping sistim pernafasan dan
tuberkulosis
(2)
. Secara garis besar penyakit yang termasuk
dalam kelompok penyakit sistim sirkulasi adalah penyakit
jantung dan peredaran darah. Menurut ICD X terdapat lebih
dari sepuluh penyakit yang termasuk dalam sistim sirkulasi,
(klasifikasi 3 digit) di antaranya chronic rheumatic heart
disease, hipertensi, ischemic heart disease dan cerebrovascular
disease. Masing-masing dikelompokkan lagi atas beberapa
sub-klasifikasi 4 digit
(3)
.
Penyakit sistim sirkulasi memiliki faktor risiko yang cukup
banyak seperti kebiasaan merokok, diabetes melitus, kholes-
terol darah tinggi, hipertensi dan kegemukan (obesitas).
Dalam beberapa dekade terakhir penyakit ini menjadi
urutan utama pola penyakit di Indonesia sebanding dengan
meningkatnya prevalensi faktor risiko. Dalam kurun waktu
1988 dan 1993 survei MONICA menunjukkan bahwa prevalen-
si hiperkholesterolemi telah meningkat dari 13.6% menjadi
16.5% pada laki-laki dan dari 16% menjadi 17% pada per-
empuan. Obesitas telah meningkat dari 2.3% menjadi 3.7%
pada laki-laki dan dari 7.3% menjadi 10% pada wanita. Hiper-
tensi meningkat dari 13.6% menjadi 16.5% pada laki-laki dan
16% menjadi 17% pada wanita. Demikian juga kebiasaan
merokok telah meningkat dari 5.9% menjadi 6.2% pada wanita
dan sedikit menurun dari 59.9% menjadi 56.9% pada laki-
laki
(4,5)
.
Kemunduran fungsi organ yang terkait dalam sistim sir-
kulasi menyebabkan penyakit ini dimasukkan dalarn penyakit
degeneratif yang upaya pencegahannya sebenarnya dapat lebih
mudah dilakukan ketimbang pengobatan dan penatalaksanaan
yang lebih sulit dan memerlukan waktu lama serta biaya yang
lebih besar.
Dalam tulisan ini akan dibahas penyakit sistim sirkulasi
dalam kaitan dengan perbedaan kelompok umur, kawasan dan
lokasi tempat tinggal serta jenis kelamin rnenggunakan data
sekunder dari SKRT 2001, hasil berbagai penelitian serta
literatur lain yang relevan.
TUJUAN
Mengetahui apakah penyakit sistim sirkulasi sebagai pe-
nyebab utama kematian mempunyai prevalensi yang berbeda
menurut : Kawasan Barat Indonesia (Sumatera dan Jawa-Bali)
dengan Kawasan Timur Indonesia (Katimin), lokasi tempat
tinggal (perkotaan dengan pedesaan), kelompok umur tua
dengan muda serta jenis kelamin (laki-laki dengan perempuan).
METODA
Analisis dilakukan atas data kematian dari laporan studi
mortalitas 2001 Surkesnas, kemudian dikelompokkan lagi
menjadi tabel-tabel distribusi frekuensi. Analisis analitik
dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square untuk melihat
hubungan antar variabel. Bahasan dilakukan dengan me-
manfaatkan informasi lain untuk melihat berbagai kemung-
kinan yang ada kaitannya dengan tiap pokok bahasan berdasar-
kan pendekatan diagram berikut:
KELAMIN : - Laki
- Perempuan
KEJADIAN KEMATIAN
KARENA PENYAKIT
SIRKULASI
UMUR :
- di atas 55 tahun
- 55 tahun dan di bawahnya
KAWASAN/
WILAYAH: - Barat Indonesia
-
Timur
Indonesia
LOKASI
TEMPAT TINGGAL:
-
desa
-
kota
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 5
background image
HASIL DAN ANALISIS
1. Deskripsi
kematian
umum
SKRT 2001 mendapatkan angka kematian kasar tahun
2000 adalah sebesar 7.6 per 1000 penduduk, 8.3 pada laki-laki
dan 6.8 pada wanita. Informasi ini menunjukkan bahwa
laki-laki lebih berisiko meninggal dibandingkan perempuan.
Mungkin ini yang menyebabkan lebih banyak wanita dalam
struktur penduduk Indonesia. Ditilik dari segi gender, pada
umumnya laki-laki merupakan kepala keluarga dan berfungsi
sebagai pencari nafkah sehingga lebih banyak keluar rumah,
sebaliknya wanita lebih banyak tinggal di rumah untuk
melakukan pekerjaan rumah tangga. Kondisi ini menyebabkan
laki-laki lebih banyak terpapar pada keadaan yang dapat
merugikan kesehatannya, sehingga lebih berisiko sakit, meng-
alami kecelakaan dan terancam jiwanya. Di samping itu bila
dilihat dari segi pola hidup, laki-laki cenderung memiliki lebih
banyak faktor risiko (khususnya terhadap penyakit degeneratif)
seperti merokok, makanan tinggi kholesterol atau berlemak dan
lebih sering mengalami stress.
Di samping itu kejadian kematian sangat berbeda di antara
kelompok usia tua dan muda; proporsi kematian di kelompok
usia tua jauh lebih tinggi (tabel 1). Makin tua usia makin
berisiko menderita penyakit-penyakit degeneratif akibat
menurunnya fungsi berbagai organ tubuh dan melemahnya
daya tahan terhadap infeksi. Pengobatan yang kurang memadai
menyebabkan penyakit-penyakit tertentu menjadi kronis seperti
tuberkulosis dan neoplasma. Masalah penyakit kronis ini makin
meningkat karena banyaknya populasi penduduk tua akibat
meningkatnya umur harapan hidup dari 61,11 tahun pada 1997
menjadi 68,23 pada 2002 (proyeksi BPS).
Tabel 1. Distribusi kematian menurut kelompok umur*
Kelompok umur
th
Jumlah kasus
kematian
Proporsi per 100
kasus kematian
Angka kematian spesifik
menurut umur (ASDR)
< 1
466
14
30
1-4
137
4.1
2
5-14
123
3.7
1.5
15-24
87
5.7
2.5
25-34
161
4.9
2.5
35-44
231
6.9
4.1
45-54
319
9.6
8.6
55-64
500
15
21.5
65 +
1.200
36.1
64.7
Jumlah 3.325
100
7.6
* Sumber data: Laporan Studi Mortalitas, SKRT 2001
Penyebab utama kematian adalah penyakit-penyakit sistim
sirkulasi (jantung dan sistim peredaran darah) sebanyak
26.39%. Kemudian berturut-turut diikuti oleh penyakit-
penyakit infeksi (22.9%) seperti pernafasan (12.7%) dan pen-
cernaan (7%), kemudian neoplasma (6%). Kecelakaan luar
rumah (5.6%) merupakan yang perlu mendapat perhatian
khusus pula (tabel 2).
Khusus kematian bayi (usia di bawah satu tahun), jika
dibandingkan dengan tahun 1998 (51 perseribu kematian),
maka angka kematian bayi tahun 2000 sudah menurun (30
perseribu kematian).
Tabel 2. Distribusi penyakit penyebab utama kematian di Indonesia*
No. Nama
penyakit
#
%
1. Sistim
sirkulasi
876
26.39
2. Sistim
pernafasan
422
12.71
3. TBC
313
9.43
4.
Sistim pencernaan
233
7.02
5. Neoplasma
198
5.96
6.
Kecelakaan & sebab luar
187
5.63
7. Perinatal
162
4.88
8. Tifus
143
4.31
9. Diare
125
3.76
10. Lain-lain
661
19.91
Jumlah
3.320
100
* Sumber data: Laporan Studi Mortalitas 2001, Surkesnas 2001
2. Penyakit sistim sirkulasi sebagai penyebab utama ke-
matian berdasarkan kelompok usia.
Penyakit sistim sirkulasi dapat diderita oleh semua kelom-
pok usia termasuk anak-anak. Walaupun demikian penyakit
sistim sirkulasi lebih banyak membawa kematian pada kelom-
pok usia lebih tua. Kemunduran fungsi organ sirkulasi darah
seperti disfungsi jantung, gagal ginjal, pengerasan pembuluh
darah akibat kholesterol dan kalsium pada orang tua merupakan
penyebab timbulnya masalah yang berkaitan dengan sistim
sirkulasi darah. Hipertensi yang tak terkontrol sering me-
nyebabkan gangguan peredaran darah otak (stroke), baik akibat
penyumbatan atau pecahnya dinding pembuluh darah. Angina
pectoris yang ditandai dengan rasa sakit dada kiri merupakan
manifestasi iskemi akibat penyempitan pembuluh darah
jantung; kejadian tersebut dapat berulang, memberat dan ber-
kembang menjadi infark miokard.
Rokok merupakan salah satu faktor risiko infark miokard.
Patogenesis peningkatan risiko infark miokard akut (IMA) pada
perokok tidak diketahui pasti, teoritis terkait dengan carbon
monoxide haemoglobin (COHb) yang dapat menimbulkan
iskemi dan menyebabkan aritmi, gagal jantung dan kematian.
Percobaan binatang menunjukkan penurunan ambang fibrilasi
ventrikel akibat terpapar gas CO. Selain itu rokok mengandung
lebih dari 4000 jenis bahan kimia yang di antaranya bersifat
karsinogenik atau mempengaruhi sistim vaskular
(6)
.
Pada tahun 1986 tercatat 151 penderita IMA dirawat di RS
Jantung Harapan Kita Jakarta; angka tersebut pada tahun 1996
meningkat menjadi 486 orang
(7)
. Sebagian besar mempunyai
faktor risiko perokok dengan perincian golongan tua sebanyak
60% dan golongan muda 71%.
Tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal kematian
akibat penyakit sistim sirkulasi di kelompok usia 55 tahun atau
lebih dengan di kelompok usia di bawah 55 tahun (tabel 3).
Tabel 3. Distribusi dua kelompok penyakit berdasarkan kelompok umur
(cut of point 55 tahun)*
Kelompok umur
No.
Kelompok
penyakit
55 tahun
atau lebih
di bawah
55 tahun
Jumlah
1. Sistim
sirkulasi
679
197
876
2.
Bukan sistim sirkulasi
1.021
1.428
2.449
Jumlah
1.700 1.625
3.325
* Dikompilasi dari data Pola Penyakit Penyebab Kematian di Indonesia, SKRT
2001
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
6
background image
Perhitungan statistik dengan uji Chi square menghasilkan:
X2 hitung = 0.33; lebih kecil dari X2 tabel = 0.455 (df=1, p = 0.5)
Penyakit sistim sirkulasi juga banyak membawa kematian
pada penduduk usia di bawah 55 tahun yaitu pada kelompok
45-54 tahun (5.25 %).Jika digunakan cut off point usia 45
tahun, maka perbedaan tersebut jadi sangat bermakna.
Tabel 3a. Distribusi dua kelompok penyakit berdasarkan kelompok usia
(cut of point 45 tahun)*
Kelompok usia
No.
Kelompok
penyakit
45 tahun
atau lebih
di bawah
45 tahun
Jumlah
1. Sistim
sirkulasi
794
82
876
2.
Bukan sistim sirkulasi
1.224
1.225
2.449
Jumlah
2.018 1.307
3.325
* Dikompilasi dari data Pola Penyakit Penyebab Kematian di Indonesia, SKRT
2001
Perhitungan statistik dengan uji Chi square menghasilkan:
X2 hitung = 446.811; jauh lebih besar dari X2 tabel = 0.445 (df=1, p=0.5)
Oleh karena itu pada usia 45 tahun sudah perlu
pengawasan terhadap risiko penyakit sistim sirkulasi tersebut.
3. Berdasarkan lokasi tempat tinggal: perkotaan/pedesaan
Pada tabel 4 dapat dilihat distribusi kelompok penyakit
penyebab kematian dibedakan menurut pedesaan dan perkotaan
Tabel 4. Distribusi dua kelompok penyakit berdasarkan Lokasi*
Lokasi
No. Kelompok
penyakit
penyebab kematian
Perkotaan Pedesaan
Jumlah
1. Sistim
sirkulasi
407
476
883
2.
Bukan sistim sirkulasi
910
1531
2.441
Jumlah
1317
2007 3.325
* Dikompilasi dari data pola penyakit penyebab kematian di Indonesia, SKRT
2001
Dari uji statistik Chi-square diperoleh :
X2 hitung =21.09; jauh lebih besar dari nilai X2 tabel = 0.455 (df=1, p=0.5
).
Berarti ada perbedaan sangat bermakna antara kejadian
kematian akibat penyakit sistim sirkulasi di daerah perkotaan
dan pedesaan; lebih tinggi di daerah perkotaan. Walaupun lebih
banyak penduduk yang meninggal di pedesaan namun proporsi
kematian akibat penyakit sistim sirkulasi di daerah perkotaan
lebih besar; mungkin karena faktor risikonya seperti polusi dan
stres lebih banyak terdapat di perkotaan.
4. Berdasarkan jenis kelamin
Pada tabel 5 dapat dilihat perbandingan distribusi
frekuensi kematian akibat kelompok penyakit sistim sirkulasi
dengan penyakit bukan sistim sirkulasi, dibedakan menurut
jenis kelamin.
Tabel 5. Distribusi kelompok penyakit sistim sirkulasi dan penyakit
bukan sistim sirkulasi sebagai penyebab kematian berdasarkan
jenis kelamin*
Jenis kelamin
No.
Kelompok
penyakit
Laki-laki Perempuan
Jumlah
1. Sistim
sirkulasi
496
381
877
2.
Bukan sistim sirkulasi
1411
1037
2.448
Jumlah
1907
1418 3.325
* Dikompilasi dari data Pola Penyakit Penyebab Kematian di Indonesia, SKRT
2001
Uji statistik Chi-square memperoleh nilai:
X2 hitung =121.30; jauh lebih besar dari nilai X2 tabel=0.455 (df=1, p=0.5).
Berarti terdapat perbedaan bermakna lebih banyak ke-
matian oleh penyakit sistim sirkulasi di antara laki-laki; mung-
kin karena laki-laki lebih banyak memiliki faktor risiko,
misalnya prevalensi merokok pada laki-laki hampir 10 kali
perempuan
(4,5)
.
5. Berdasarkan kawasan / wilayah
Perbedaan frekuensi kematian karena penyakit sistim
sirkulasi terlihat antara kawasan Barat Indonesia (Sumatera,
Jawa-Bali) dan Kawasan Timur Indonesia (Katimin) (tabel 6).
Tabel 6. Distribusi dua kelompok penyakit penyebab kematian berdasar-
kan wilayah.*
Wilayah
No.
Kelompok
penyakit
Sumatera,
Jawa & Bali
Katimin
Jumlah
1. Sistim sirkulasi
777
97
874
2. Bukan sistim sirkulasi
1939
487
2.426
Jumlah
2.716
584 3.305
* Dikompilasi dari data pola penyakit penyebab kematian di Indonesia, SKRT
2001
Dari uji statistik Chi-square diperoleh:
X2 hitung = 35.60; lebih besar dari nilai X2 tabel=0.455 (df=1, p=0.5).
Berarti terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara
kawasan Barat Indonesia (Sumatra, Jawa & Bali) dengan
Katimin.
Tingginya tingkat kematian karena penyakit sistim sirku-
lasi di Kawasan Sumatra, Jawa dan Bali mungkin disebabkan
oleh pola hidup yang berbeda. Dalam hal makanan, penduduk
di kawasan Katimin lebih banyak memanfaatkan ikan, sedang-
kan penduduk di Sumatra lebih suka makanan tinggi kholes-
terol seperti daging berlemak, makanan bersantan dan ber-
minyak.
Di Jawa dan Bali penyakit degeneratif menduduki urutan
utama di samping proporsi penduduk berumur tua jauh lebih
banyak sehingga jumlah yang beresiko lebih banyak pula di-
bandingkan kawasan lain.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 7
background image
PEMBAHASAN
Mendapatkan pelayanan pengobatan saat sakit merupakan
salah satu dari hak azasi manusia. Untuk memenuhi ketentuan
tersebut pemerintah telah membangun berbagai bentuk pusat
pelayanan kesehatan sampai ke tingkat kecamatan. Walaupun
demikian kenyataannya tidak semua warga dapat mencapai pe-
layanan kesehatan yang sudah disediakan karena di samping
jarak juga kemampuan membayar sangat menentukan.
Khusus bagi penyakit infeksi sebenarnya jika mendapatkan
pertolongan yang memadai dari pusat pelayanan kesehatan ter-
masuk rujukan, mungkin kematian dapat dicegah karena tekno-
loginya sudah tersedia (imunisasi, obat dan peralatan serta pe-
doman penatalaksanaannya). Faktor penghambatnya perlu
dicari; apakah masyarakat masih sulit mencapai pertolongan,
obat tak cukup ataukah ada sebab-sebab lain yang belum
terungkap (misalnya perilaku provider dan masyarakat). Untuk
masa datang sistim pelayanan kesehatan yang ada mungkin
harus dievaluasi kembali sehingga pemberantasan dan
pengobatan penyakit dapat lebih efektif dan efisien dan
kematian akibat penyakit infeksi dapat lebih ditekan .
Khusus untuk penyakit sistim sirkulasi darah, perlu diper-
hitungkan faktor risiko yang berperan; misalnya platelet yang
berperan penting dalam terjadinya cerebrovascular disease
(CVD). Platelet GPlbk genotype adalah faktor risiko genetik
CVD. Pemakain epoprastenol meningkatkan survival selama 3
tahun hingga 89% pada penderita hipertensi
(8)
. Bagi lansia yang
memiliki kholesterol tinggi pemberian pravastatin 40 rng/hari
dapat menurunkan LDL kholesterol hingga 34%
(9)
. Pada
penderita acute ischemic stroke (AIS) pemberian intravena
tissue plasminogen activator (tPA) pada penderita muda cukup
berhasil namun pada lansia tidak efektif
(10)
. IMA merupakan
penyebab utama kematian pada lansia. Dari catatan rumah sakit
penggunaan thrombolytic therapy dinilai sangat bermanfaat dan
cost effective pada lansia
(11)
.
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit khronis dan
faktor risiko aterosklerosis di samping faktor- faktor lain yang
mempengaruhi terjadinya disfungsi endotel seperti hiper-
kholesterolemi, perokok, obesitas, LVH. Pengobatan yang tidak
teratur mengakibatkan kadar gula darah tidak terkontrol baik.
Walaupun di puskesmas tersedia obat anti diabetes namun
jumlahnya mungkin kurang memadai. Ketidakpatuhan pasien
untuk diet dan berobat menjadikan penyakit ini makin khronis
sehingga dapat menimbulkan berbagai komplikasi kelainan
fungsi organ tertentu (ginjal dan jantung).
Penyakit jantung koroner mempunyai spektrum klinis yang
sangat luas, mulai dari angina pektoris stabil sampai sindrom
koroner akut (SKA). Dasar terjadinya SKA adalah pembentuk-
an trombus hasil aktivitas kaskade koagulasi dan aktivitas
platelet (adesi dan agregasi).
Salah satu penyebab kematian pada infark miokard adalah
takhiaritmi ventrikel. Untuk pencegahannya dapat digunakan
obat antiaritmi, memasang automatic implantable cardioverter
defibrillator (AICD) atau bedah pintas koroner dengan reseksi
jaringan fibrotik
(12)
. Revaskularisasi dengan tindakan angio-
plasti koroner diharapkan mengurangi daerah iskemik.
Pengobatan sindrom koroner akut (angina pektoris tak
stabil dan IMA non Q) menggunakan heparin disertai asetosal/
aspirin dan antiiskemik sudah lama menjadi pengobatan baku.
Pengobatan tersebut menurunkan kejadian iskemik secara ber-
makna pada awal pengobatan, namun setelah lebih dari sebulan
angka kematian infark miokard dan iskemi berulang masih
cukup tinggi yaitu berkisar antara 15-25%
(13)
.
Di masa datang prevalensi penyakit jantung dan sistim
pembuluh darah ini akan terus meningkat sebanding dengan
meningkatnya faktor risiko.
KESIMPULAN
1. Sebagai penyebab utama kematian, penyakit sistim sirku-
lasi berbeda bermakna; lebih tinggi di kelompok usia tua.
2. Perbedaan bermakna juga terlihat di antara Kawasan Barat
Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia (Katimin); di
Kawasan Barat Indonesia proporsinya lebih tinggi.
3. Perbedaan bermakna juga terlihat di antara penduduk
perkotaan dengan di pedesaan, di perkotaan lebih tinggi pro-
porsinya.
4. Perbedaan bermakna juga terlihat di antara laki-laki dan
perempuan, laki-laki lebih tinggi proporsinya.
SARAN
1. Masyarakat kelompok berisiko perlu lebih disadarkan
melalui berbagai bentuk penyuluhan terpadu tentang bahaya
perilaku hidup tidak sehat (mengkonsumsi tembakau/rokok,
makanan berlemak atau tinggi kholesterol, tinggi gula dan
garam serta stres).
Khusus untuk rokok di samping cukai yang cukup tinggi juga
law enforcement terhadap peraturan yang berkaitan dengan
rokok perlu lebih direalisasikan.
2. Untuk menurunkan tingkat kematian akibat penyakit sistim
sirkulasi diperlukan upaya pelayanan yang lebih mudah ter-
jangkau dengan fasilitas yang adekuat (keahlian, peralatan, obat
dan pedoman pengobatan serta penatalaksanaan yang selalu
diperbaharui).
KEPUSTAKAAN
1. Giordano DA et al. Experiencing Health. Prentice Hall Internat. Inc.
London, l985. hal. 51.
2.
Studi Mortalitas SKRT 2001. Laporan Pola Penyakit Penyebab Kematian
di Indonesia, Seminar sehari Laporan Sementara Surkesnas 2001, Jakarta,
30 September 2001.
3.
The International Classification of Diseases (ICD) Ed. X, Jilid 1 dan 3.
4.
Darmojo RB et al. Monica I, 1988. Seminar sehari penyajian hasil dan
tindakan lanjut Monica I, Jakarta, 22 Juli 1989.
5.
Darmojo RB et al. Monica II. Seminar sehari penyajian hasil dan tndakan
lanjut Monica II, Jakarta, 20 Desember 1994.
6.
Deanfield JE. Direct effect of smoking on the heart. Am J Cardiol 1966;
57: 1005-7.
7. Hanafiah A. Perkembangan Ilmu Kardiologi di Indonesia, Pidato
Pengukuhan Guru Besar Kardiologi FKUI. Jakarta, Universitas Indonesia,
1993.
8.
Lauchlin MC et al. Circulation 2002;106: 1477-889.
9.
Shepard J et al. Prevention of coronary diseases with pravastatin in men
with hypercholesterolemia. N Engl J Med 1995; 333: 1301-70.
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
8
background image
10. Tanne D et al. Stroke. J Am Heart Ass 2000;.31(2).
11. Mark DB et al. Cost effectiveness of thrombolytic therapy with tissue
plasminogen activator versus streptokinase for acute myocardial in-
farction, result from the GUSTO randomized trial. NEngl J Med 1995 ;
332: 1418-24.
12. Pudjo Rahasto et al. Pengaruh angioplasti koroner terhadap perubahan
dispersi QT pasca infark miokard, J Kardiol Indon. Januari-Maret 2002.
XXVI(l): 9.
13. Theroux PF. Acute coronary syndromes: unstable angina and non Q wave
myocardial Infarction. Circulation 1998; 97: 1195-206.
KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE MEI - JULI 2004
Bulan
Tanggal
Kegiatan Ilmiah
Tempat dan Sekretariat
6-9
The Fourth Congress of Asian Pacific Society of
Atherosclerosis and Vascular Diseases
Bali International Convention Centre
Telp : 021-570 5800 ext. 423/421
Fax : 021-570 5798
Email :
secretariat@apsavd2004.org
Website :
http://www.apsavd2004.org
8-9
5th Jakarta Antimicrobial Update (JADE) 2004
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp : 021-3908157, 3925491; Fax : 021-3929106
E-mail: tropik@indosat.net.id
18-20
WNPG VIII : Ketahanan Pangan dan Gizi di Era
Otonomi Daerah dan Globalisasi
Kompleks Bidakara, Jakarta
Telp : 021-522 5711 ext. 531, 476, 239
Fax : 021-526 5457/525 1834
Email : wnpg@bkpi.lipi.go.id
22-23
Temu Ilmiah Geriartri 2004 : Continuum of Care
of Healthy Elderly and Geriatric Patient
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp : 021-31900275; Fax : 021-31900275
Email : geriatri_fkui@yahoo.com
28-29
4rd Jakarta Nephrology Hypertension Course
(JNHC) : Kidney, Obstruction and Infection
'Pathogenesis and Management'
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp : 021-314 9208, 390 3873
Fax : 021-315 5551
Email : pernefri@cbn.net.id, jnhc@cbn.net.id
Mei
30
Symposium of Hypertension : Recent Clinical
Trial Evidences 'Do They Influence the Daily
Practice?'
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp : 021-314 9208, 390 3873
Fax : 021-315 5551
Email : pernefri@cbn.net.id, jnhc@cbn.net.id
4-5
First Annual PERDICI Meeting
Hotel Gran Melia Jakarta
Telp : 021-392 3443 ; Fax : 021-392 3443
Email: pp-idsai@centrin.net.id
4-6
Liver Up-Date: New Direction in the Management
of Liver Disease
Hotel Borobudur, Jakarta
Telp : 021-3106968, 3100924
Fax : 021-3102927
Email: hepafkui@pacific.net.id
Juni
12-15
The Latest Trends in Cataract and Refractive
Surgery
Bali International Convention Centre
Telp : 021-3926705 ; Fax : 021-3927516
Email : perdami@indo.net.id
Website : www.perdami.or.id
11-13
24rd Continuing Urological Education of the
Indonesian Urological Association
Hotel Novotel, Bukit Tinggi, Padang
Telp : 021-3152892, 392363 - 2
Fax : 021-31906838
12-14
Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran
Anak IDAI
Hotel Planet Holiday, Batam
Telp : (021)-3148610 ; Fax : (021)-3913982
Website : www.idai.or.id
13-15
14th ASM-ISOG
Hotel Horison, Bandung
Telp : 022-2039086 / 2035042; Fax : 022-2035042
website : www.obgyn-bandung.org
e-mail : pitpogi14@obgyn-bandung.org
Juli
30-1
Agustus
PIT IX Ilmu Penyakit Dalam
Hotel Sahid Jaya, Jakarta
Telp : 021-31930956 ; Fax : 021-3914830
Informasi terkini, detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.kalbe.co.id/calendar>>Complete
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 9