background image
Kecelakaan di Bidang Pertanian
Umar Fahmi Achmadi
Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkunjan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Bidang pertanian memiliki angkatan kerja yang terbesar di
Indonesia. Sekitar 25,5 juta Kepala Keluarga bertumpu dan
berrnata
.
pencaharian di Wang pertanian (Soeharto, 1983) atau
dengan gambaran lain, pada tahun 1971, 1980, 1982, per-
sentase penduduk yang bekerja di bidang pertanian adalah
66,3%, 56,3%, dan ' 54,7% (BPS, 1985) . Jumlah angkatan
kerja di Indonsia pada tahun 1985 diperkirakan 67 juta orang.
Dari angka-angka beberapa tahun yang lalu dapat diperkirakan
bahwa jumlah orang yang bekerja pada bidang pertanian
ternyata amat besar. Dengan demikian pemi ciran ten-tang
kesehatan petani khususnya mengenai penyakit-penyakit yang
diderita mereka menjadi relevan. Apalagi petani dituntut untuk
terus bekerja dan mengupayakan swaeembada di bidang
pangan. Untuk keperluan itu mereka harus sehat.
Apalcah masalah kecelakaan dan penyakit pada petani
yang dapat ditinbu can akibat lingkungan pelcerjaan amat
spesifik sehingga memerlukan kajian dan penyusunan program
secara khuaus? Apakah program pelayanan Puskesmas daerah
pertanian salami it'd kuraag ntemadai?
BATASAN KECELAKAAN
Sebelum uraian labih lanjut terlebih dahulu perlu ditinjau
bebirapa pengertian tenting kecelakaan.
Dajatn undang-undang kene'lakaan (1947­1957)
disebutkan kec,kaan dipandang sebagai penyakit yang timbul
karena huburgan karja (Suma'mur, 1986)
Kecelakaan kerja juga sebenarnya merupakan rudapaksa
(injsd'ies) dalam hubungan dengan pekerjaan, ysrtg terjadi se-
.cara tak diaangka-sangka, sulit dihindari dan tak terencana
(Thygerson, 1977)
Secara gtris boar kecelakaan ditentukan oleh dua faktor
yaitu faktor yang berasal dari lingkungan pekeijaan dan faktor
dari dalam manusia itu sendiri. Di samping faktor manusia dan
faktor lingkungan pertanian yang dapat menyebabkan tim=
bulnya kecelakaan adalah faktor-faktor yang termasuk golong-
an fisik seperti cuaca, suhu, sinar ultra-violet, mesin, perkakas,
dan lain-lain. Juga dikenal faktor-faktor golongan kimia misal-
nya: agrokimia seperti insektisida, herbisida, hormon perang-
sang tumbuhan, dan antibiotik. Istilah kecelakaan amat jarang
digunakan untuk unexpected injuries yang disebabkan oleh
karena penyebab biologis seperti virus dan bakteri. Umumnya
hanya untuk jenis bahan kimia dan fisik. (Thygerson, 1977)
Nampaknya di Indonesia faktor manusia merupakan kunci
penting yang. mempengaruhi timbulnya berbagai kecelakaan.
Juga di bidang pertanian. Namun kecelakaan bidang pertanian
tidak atau belum dilaporkan secara sistematis dan terencana,
sehingga sulit ditetapkan prioritas program pelayanan.
BEBAN KERJA PETANI
Agar petani tetap sehat dan bekerja produktif, sekurang-
kurangnya ada 3 faktor yang mempengaruhi performance kerja
seorang petani di sawah ladangnya (lihat Gambar 1). Hal-hal
ini sedikitnya banyak dapat mempengruhi timbulnya
kecelakaan dan akibat kerja.
1)
Beban kerja. Jenis pekerjaan tertentu pada dasarnya me-
rupakan beban bagi seseorang. Umumnya beban kerja petani
adalah beban kerja fisik. Beban kerja mental, seperti memikir
bisa dikatakan relatif lebih sedikit dibanding beban fisik.
2)
Kapasitas kerja. Untuk mendukung kemampuan kerja
petani harus memiliki kapasitas kerja yang memadai, yang di-
pengaruhi faktor-faktor seperti gizi untuk energi penunjang
kerja, tingkat kesehatan, serta postur tubuh yang serasi dengan
peralatan yang digunakan.
3)
Beban ker~a tambahan. Ini berasal dari lingkungan pekerja-
an, seperti cuaca, berbagai bahan kimia pertanian seperti in-
background image
Gambar 1. Hubungan beban kerja, beban tambahan dan kapasitas
kerja
sektisida, herbisida, hormon perangsang tumbuhan, keadaan
tanah yang liat, dan lain-lain.
Dalam melakukan pekerjaannya petani tergantung kepada
keserasian ketiga faktor tadi. Yang jelas beban tambahan yang
berasal dari lingkungan pekerjaannya dapat merupakan faktor
pemberat yang mengganggu performa kerja seorang petani.
Demikian pula dengan kapasitas kerja yang amat ditentukan
oleh keadaan gizi dan tingkat kesehatan secara umum.
Untuk memberikan gambaran kondisi atau tingkat kesehat-
an petani yang ditemui sedang aktif bekerja di sawah dapat
terlihat pada Tabel 1 (Achmadi, 1985) .
Tabel 1. Tingkat Kesehatan Petani Aktif Banyumas, 1985
Janis penyakit
n
%
Hipertensi
Dental caries
Pharingitis
T. Versicolor
Anemia
Gizi kurang
(dengan timbangan)
38
297
222
119
54
148
4,33%
33,83%
25,28%
13,55%
6,15%
16,86%
Total 878
100,0
%
Sumber : Intersectoral collaboration for minimizing behavioural exposure
to pesticide. Rationale from the Central Javanes Agriculture,
Disertasi,
1985,
UFAchmadi
4
.
Dari survei tingkat kesehatan di daerah Banyumas didapat
bahwa, petani yang aktif bekerja di sawah ladang umumnya
tidak menderita penyakit berat. Secara alamiah bila mereka
meslderita diabetes melitus atau Koch pulmonum (KP) ter-
seleksi oleh alam dan tidak mungkin bekerja di sawah. Hal ini
berbeda dengan pekeija kantor yang sifat pekerjaannya lebih ke
arah mental. Walapun sakit, mungkin mereka masih mampu
bekerja. Namun demikian mereka umumnya tidak bisa
dikatakan optimum tingkat kesehatannya. Tingkat kesehatan
hatus mendukung kapasitas kerja. Bagaimana dengan kondisi
anemia dalam menghadapi beban kerja dan beban tambahan?
Dalam tabel tersebut dijumpai adanya petani-petani yang
anemis.
Performance kerja ditentukan oleh beban kerja dan kapasi-
tas kerja. Kadang-kadang beban kerja tambahan lebih berat
dirasakan, sehingga beban kerja secara keseluruhan menjadi
tambah besar. Misalnya petani yang mencangkul pada cuaca
terik matahari memerlukan energi tambahan untuk melawan
cuaca panas dan untuk ini diperlukan dukungan gizi tambahan.
Bila tidak, maka performance kerja akan menurun dan/atau dia
menderita gangguan kesehatan. Faktor umur petani juga perlu
diperhatikan; karena umur lanjut dapat mengganggu kapasitas
kerja. Data tentang gambaran umur dapat pula diambil dari
sebuah survei di Banyumas (1985).
Tabel 2. Gambaran umur petani aktif Banyumas, 1985
Umur n
%
Dibawah 20 tahun
20 ­ 39 tahun
40 ­ 49 tahun
Lebih 50 tahun
33
383
102
46
5,85%
67,91%
18,08%
8,16%
Total 564
100,0
%
KASUS KECELAKAAN AGROKIMIA
Kasus-kasus kecelakaan bidang pertanian akibat bahan
kimia pertanian (agrokimia) di samping amat menonjol, ber-
bagai penelitian telah pula beberapa kali dilakukan. Jenis ke-
celakaan akibat lingkungan kerja fisik bidang pertanian, seperti
luka sayat, sengatan ultraviolet, akibat mesin pertanian atau
pun disambar halilintar amat sulit ditemui. Kalaupun ada angka
kejadiannya tentu tidak sebesar kecelakaan akibat agrokimia.
Untuk menunjukkan betapa seriusnya masalah kecelakaan
dan penyakit akibat agrokimia, analisa epidemiologis berikut
yang berasal dari berbagai penelitian yang berhasil dikumpul-
kan dapat mengungkapkannya.
Distribusi kecelakaan akibat agrokimia
Meskipun angka-angka laporan resmi yang sistematis dan
teratur belum ada, namun banyak peneliti secara sporadis
menurut tujuan masing-masing telah melakukan dan mengum-
pulkan berbagai kasus kecelakaan akibat agrokimia.
Secara epidemiologis penyakit/kecelakaan akibat bahan
kimia pertanian (khususnya pestisida), dapat digambarkan
sebagai sebuah piramid.
(1) Golongan akut. Kelompok
ini menonjol dalam analisa,
laporan dan pemberitaan.
Jumlahnya relatif sedikit di
bandingkan golongan/segment
ke 2 atau ke 3. Namun mudah
diketahui.
Penelitian-penelitian yang pernah tercatat antara lain dilaku-
kan oleh Widodo, (1973) dari Litbangkes. Dari 632
kasus yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia selama 1 tahun
didapat case fatality rate yang berkisar antara 0-100%. Namun
diduga kasus-kasus yang terkumpul ini terlalu sedikit,
karena kasus-kasus dari daerah terpencil mungkin tak ter-
jangkau.
Team Supervisi Subdit P2 Pestisida (Dit PLP) Departemen
Kesehatan, pada tahun 1983 melakukan serangkaian kunjungan
ke daerah-daerah dan berhasil mengumpulkan kasus-kasus
yang "tidak dilaporkan
"
(Mustamin & Achmadi, 1985) .
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
10
background image
Kasus kecelakaan akut tersebut antara lain : Lampung (20
orang) pada tahun 1980; Kikim, Tebing Tinggi (44 orang)
1983; Tiyuban, Jawa Timur (58 orang) 1983.
Kasus Kikim, Tebing Tinggi menggambarkan kecelakaan
dari 44 korban meninggal, di antaranya bayi berumur 1 tahun.
Bayi tersebut meninggal karena disusui sewaktu, si ibu sedang
istirahat bekerja, tangan ibunya yang terkontaminasi herbisida
sebelumnya memegang puting susu, untuk melancarkan air
susu. Bayi dan ibunya meninggal. Kasus Desa Tiyuban, Jawa
Timur belum-terpecahkan hingga kini jenis pestisida apa yang
menyebabkan korban berjatuhan. Namun yang jelas akibat
agrokimia (pestisida).
Pada kasus-kasus akut case fatality rate (CFR) berkisar
antara rata-rata 0% ­ 50%. (Achmadi, 1985)'
Yogyakarta merupakan daerah yang sering mencatat ada-
nya keracunan kecelakaan bahan kimia pertanian. Bukan ka-
rena memang lebih sering terjadi kasus kecelakaan, namun
karena adanya beberapa ahli yang tertarik pada masalah ini
yang ditambah dengan dukungan sarana laboratorium yang ada,
catatan yang dimilikinya amat menonjol. Para ahli di sana
sering melakukan pemeriksaan dan pencatatan. Antara lain,
kasus-kasus yang tercatat adalah (Soekarmo dan Eram, 1978) :
Pada tahun 1977 paling tidak ada 32 orang korban kecelakaan
bahan kimia dengan CFR berkisar antara 0% ­ 20%. Secara
rinci dilaporkan kasus-kasus di desa Wijirejo Pandak, 187
orang. Di antaranya korban adalah bayi umur 1 tahun disusul
kemudian kasus-kasus Sentolo,-Sleman, -dan lain-lain. Kecela-
kaan yang menimbulkan korban masal sering terjadi setelah
kenduri atau selamatan. Umumnya akibat penyimpanan agro-
kimia yang kurang baik. Di Kabupaten Banyumas juga terdapat
catatan kecelakaan akut, yang hampir te
.
rjadi tiap tahun
(Achmadi, 1985)
Terakhir adalah catatan outbreak ketika terjadi wabah
wereng tahun 1986. Di Kabupaten Banyumas sendiri, ada 82
kasus, 3 di antaranya 'dirawat dan 1 meninggal (personal
interview, 1986).
(2) Segment yang ke 2 adalah kasus-kasus keracunan tingkat
sedang. Biasanya korban kecelakaan ini tidak sampai dibawa
kerumah sakit karena gejala umumnya hanya sub klinis, yakni
timbul pusing-pusing dan mual-mual atau keringat berlebihan.
Secara proposi jumlahnya lebih besar dari jumlah korban ke-
celakaan akut. Penelitian-penelitian yang telah dan pernah di-
lakukan menunjukkan 20 ,- 50% dari populasi yang diteliti
menunjukkan keracunan tingkat sedang. Dengan demikian
dapat diperkirakan pada musim tanam, jutaan petani akan
menderita keracunan tingkat sedang, mengingat jumlah petani
yang begitu besar. Eram dan Soekarmo (1977) mengemukakan
40,51% dari 175 petani yang diperiksa adalah di Yogyakarta
dan didapatkan menderita keracunan sedang. Tabun 1983 di
Bali pemah dilakukan penelitian yang sama dengan mengguna-
kan Unto meter. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 3.
Dari 336 pekerja petani dan penyuluh pertanian yang di-
periksa, tiap kabupaten memberikan gambaran antara 8,5% ­
25,5% keracunan tingkat sedang.
Umar Fahmi (1985) memberikan gambaran yang sama. Dui
penelitian di daerah Banyumas, antara 10 ­ 20% dari 456 pe-
tani menderita keracunan sedang.
(3) Golongan ke 3 adalah subtle effect.
Subtle effect adalah effect yang samar-samar dan sulit di-
Tabel 3. The prevalence of pesticide chronic poisoning among farmers
and pesticide handlers in various regencies, Bali, Indonesia,
1983*
Number of poisoning
Regency Number
Obs. Exp (0­E)
2
% poisoned
Karangasem
Bangli
Bathing
Tabanan
Klungkung
Gianyar
Jembrana
Buleleng
42
43
26
35
31
59
60
33
4
7
5
3
6
15
13
5
7.2
7.4
4.4
6.0
5.3
10.2
10.3
5.7
10.2
0.16
0.36
9.0
0.49
23.0
7.3
0.49
10 %
16 %
19.2 To
8.5 %
20 %
25.5 %
21.6 %
15.1 %
Total 336
58
56.5
51
17
%
* multiple exposure
Source : Ministry of Health (Subdit P2 Pesticidal
deteksi. Golongan yang terkena termasuk penduduk yang
menelan agrokimia dalam "dosis rendah , berkepanjangan"
dari residu dalam makanan ataupun pencemaran dalam air.
Limbah pertanian dapat masuk dan mencemari bahan air.
Jumlahnya tentu meliputi puluhan juta penduduk, mengingat
70 ­ 80% penduduk desa belum menikmati air bersih. Air
tidak saja terkontaminasi bakteri E. coli, namun juga oleh
limbah pertanian yang mengandung agrokimia. Namun kasus
mungkin masih sulit untuk dimasukkan ke dalam jenis
kecelakaan.
PROBLEMATIK DI MASA MENDATANG
Kecelakaan baik yang menyebabkan "rudapaksa" fatal
maupun tidak, dapat dicegah. Salah satu faktor penyebab ke-
celakaan utama adalah faktor manusia. Oleh sebab itu untuk
mendapatkan tindakan atau program pencegahan, periu di-
selenggarakan studi faktor-faktor yang dapat menimbulkan
kecelakaan pada manusia. Masalah yang berkaitan dengan pe-
nyakit akibat kerja dan kecelakaan di bidang pertanian cukup
banyak. Yang paling menonjol umumnya akibat bahan kimia
pertanian mulai dari insektisida, herbisida, hormon perangsang
tumbuh tanaman hingga antibiotik.
Berbagai bahan kimia (yang umumnya senyawa temuan
baru) dapat menyebabkan timbulnya kecelakaan baik secara
akut maupun "dosis rendah berkepanjangan" terhadap para
petani. Hal-hal yang menanik untuk memperoleh kajian adalah:
Hubungan antara tingkat gizi, tingkat kesehatan, sistem
imunologi, hemoglobin, dan lain-lain dengan efek jangka
pendek dan panjang. Apakah penduduk dengan tingkat gizi
atau hemoglobin yang baik dapat berperan memperingan akibat
yang ditimbulkan oleh bahan kimia? Apakah ada perbedaan
golongan jenis kelamin dan umur? Sebagai contoh, wanita akan
memiliki risiko lebih tinggi. keracunan "dosis rendah
berkepanjangan" jenis insektisida organo fosfat. Demikian pula
orang-orang dalam kondisi anemia.
Hal-hal yang berkaitan dengan behavioral-exposure atau
tingkah laku pemaparan. Di sini berbagai Socio-variables amat
berperan, khususnya untuk negara berkembang di pedesaan di
Indonsia. Kebudayaan, pendidikan, umur, dan lain-lain dapat
mempengaruhi behavioral-exposure ini. Dan ini merupakan
kajian yang menarik dan. penting untuk mendapatkan landasan
penyusunan program pencegahan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988 11
background image
Segment masyarakat tertentu dapat menjadi kelompok berisiko
tinggi" terhadap bahan kimia, sementara yang lain tidak.
Contoh masyarakat Jawa Barat yang gemar lalapan segar
memiliki risiko tinggi keracunan pestisida, dibanding yang lain,
bila kebiasaan menyemprot pestisida sayur-mayur sebelum
dipanen terus berlangsung.
Demikian pula hal-hal yang berkaitan dengan kecelakaan
akut bahan kimia, erat kaitannya pula dengan pola, perilaku
pemaparan seseorang. Misalnya hal-hal yang berkaitan dengan
karakteristik sifat kecerobohan atau accident-proneness pada
sekelompok pekerja atau petani. Semua ini perlu dipelajari.
(c) Hal-hal yang berkaitan dengan mekanisasi pertanian.
Penggunaan teknologi fisik juga perlu diperhatikan, misalnya
traktor, mesin-mesin pemanas atau pengolah hasil pertanian
dan lain-lain. Masalah ergonomis atau keserasian alat/perkakas
manusia diketahui erat kaitannya dengan kecelakaan dan pe-
nyakit aldbat kerja sektor pertanian. Beberapa contoh antara
lain, masalah penggantian penggunaan penyabit di waktu panen
terhadap alat lama yaitu ani-ani. Penggantian ini akan
memerlukan adaptasi alat-manusia. Apakah penggunaan alat
sabit cukup ergonomis, tapi bagaimana dengan masalah efisien-
si pasta panen? Petani Bali biasa menggunakan cangkul ber-
tangkai panjang, lalu harus bertransmigrasi ke Lampung yang
kondisi tanahnya berbeda. Cangkul panjang hanya baik untuk
kondisi tanah vulkanis, namun di Lampung dengan kondisi
tanah liat, harus digunakan cangkul pendek. Perubahan tangkai
panjang ke tangkai pendek akan melibatkan masalah keserasian
antara manusia dan alat (ergonomis).
Penyakit lain yang juga ada sedikit kaitannya dengan ke-
celakaan bidang pertanian, dapat disebutkan beberapa di
antaranya, penyakit karena cuaca, sinar ultraviolet akibat terik
matahari, ataupun kaitan gizi dan performa kerja.
Faktor aging atau proses menua pada fisik petani misalnya,
barangkali dapat dicegah dengan melakukan studi yang men-
dalam, seperti perlindungan terhadap sengatan ultraviolet dari
matahari. Benarkah ada perbedaan tekanan darah akibat ada-
nya perbedaan musim? Bagaimana reaksi fisiologis petani di
pegunungan dengan daerah dataran rendah? Apa ada perbeda-
an?
(e) Di atas itu semua, masalah pokok yang perlu dipikirkan
adalah :
Selagi sistem pencatatan dan pelaporan masalah
kecelakaan dan penyakit akibat kerja bidang pertanian belum
baik, perlu suatu upaya : sintesis hasil-hasil penelitian tentang
kesehatan petani. Caranya dengan mengadakan workshop
masalah kesehatan sektor pertanian, untuk mengembangkan
program kesehatan petani. Sudah disebutkan di depan bahwa
masalah kesehatan petani perlu program spesifik. Petani
merupakan angkatan kerja terbesar. Lingkungan kerja petani
diketahui dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Dari petani
kita mengharapkan produksi pangan yang terus meningkat.
Sudahkah Puskesmas melaksanakan program kesehatan
petani yang lebih spesifik dan memadai? Dengan program yang
ada, tentu masih kurang memadai.
'
Padahal Indonesia adalah
negara pertanian, industrialisasi yang akan di'lcembangkan
akan tetap bertumpu pada sektor pertanian. Para petani
merupakan underserved working population.
KEPUSTAKAAN
1.
Biro Pusat Statistik. Indicator Kesejahteraan Rakyat; Jakarta, Indonesia;
1984.
2.
Suma'mur PK. Higene Perusahaan dan -Kesehatan Kerja; Gunung Agung;
Jakarta 5th ed; 1986.
3.
Thygerson AL. Accident and Disaster; Causes and counter measures;
Prentice Hall Inc., Englewood CIF F New Jersey: 1977.
4.
Achmadi, Umar Fahmi. Intersectoral collaboration for minimizing
behavioural exposure to pesticide: Rationale from the grass root study in
the central javanese agriculture. Disertai, Australian Env. Studies. Friffit
Univ.: 1985 (copy di FKMUI).
5.
Mustamin, Achmadi UF. Laporan Kunjungan Supervisi Subdit P2
Pestisida Dok Dep Kes RI., 1984.
6.
Widodo K. Peranan Laboratorium Dalam Rangka Pengambilan,
Pengiriman dan Pemenicsaan Sample Pestisida Dok. Subdit P2 Pestisida,
Dep Kes Unpublished 1981.
7.
Umar Fahmi. Strategi Pengamanan Penggunaan Pestisida di sektor
Pertanian di Indonesia: Laporan Penelitian Litbangkes Jakarta 1984.
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
12