background image
409
| AGUSTUS 2010
LATAR BELAKANG
Rinosinusitis adalah peradangan
mukosa nasal dan sinus paranasal,
dikatakan kronis apabila berlangsung
paling sedikit 12 minggu. Penegakan
diagnosis rinosinusitis merupakan ma-
salah di fasilitas pelayanan kesehatan
yang tidak memiliki CT-Scan, atau bi-
aya CT-Scan yang mahal; sehingga ma-
sih menggunakan foto polos. Masalah
saat ini adalah validitas foto polos di
RS Sardjito, bahkan di Indonesia be-
lum pernah diteliti.
Tujuan: Menentukan validitas foto po-
los sinus paranasal 3 posisi untuk men-
egakkan diagnosis rinosinusitis kronik.
Desain dan metode: Penelitian ini
menggunakan desain uji diagnostik.
Sampel diambil mulai bulan Januari
sampai Maret 2007 di poliklinik RSUP
DR.Sardjito secara consecutive sam-
pling. Kritera inklusi adalah penderita
tersangka rinosinusitis kronik (kriteria
task force), memiliki foto polos sinus
paranasal 3 posisi, memiliki CT scan
potongan koronal. Kriteria eksklusi
adalah pernah menjalani operasi sinus
sebelumnya, terdiagnosis tumor sino-
nasal, catatan medis tidak lengkap.
Analisis statistik menggunakan diag-
nostic test.
Hasil: Sensitivitas = 85,7% Spesifi si-
tas = 33,3% Nilai duga positif = 75%
Nilai duga negatif = 50% Rasio kecen-
derungan positif = 1,28 Rasio kecen-
derungan negatif = 0,42
Simpulan: Foto polos SPN 3 posisi
valid untuk mendiagnosis rinosinusitis
kronis.
Kata kunci: rinosinusitis kronik, foto
polos sinus paranasal 3 posisi, CT-
Scan, diagnosis
PENDAHULUAN
Rinosinusitis (RSK) merupakan istilah
yang lebih tepat karena sinusitis ja-
rang tanpa didahului rinitis dan tanpa
melibatkan infl amasi mukosa hidung.
Rinosinusitis menjadi penyakit ber-
spektrum infl amasi dan infeksi mukosa
hidung dan sinus paranasal
(1)
. Rino-
sinusitis didefi nisikan sebagai gang-
guan akibat infl amasi mukosa hidung
dan sinus paranasal; dikatakan kronik
apabila telah berlangsung sekurang-
nya 12 minggu
(1)
.
Sinus paranasalis seperti bagian alat
pernafasan lain, dilapisi oleh epitel
pseudostratifi ed kolumner berlapis
semu bersilia
(2)
. Mukosa sinus parana-
sal merupakan kelanjutan mukosa ka-
vum nasi meskipun lebih tipis
(3)
. Mem-
bran basal tampak lebih tipis, jaringan
subepitel memiliki jaringan ikat tipis
yang melekat kuat pada periosteum,
dan kelenjar seromusin relatif lebih
sedikit. Sinus paranasalis mempunyai
sistem mukosilia, terdiri dari gabung-
an epitel bersilia dan lapisan mukus,
berfungsi proteksi dan melembapkan
udara inspirasi. Lapisan mukus dido-
rong oleh silia menuju ke ostium sinus.
Transportasi mukus sinus diawali dari
dasar sinus dengan gerakan menyeru-
pai bintang, sepanjang dinding de-
pan, medial, posterior dan lateral, ser-
ta atap sinus bertemu di ostium
(3,4,5)
.
PATOFISIOLOGI
Penyakit sinus terkait 3 faktor: pa-
tensi ostium, fungsi silia dan kualitas
sekret. Gangguan salah satu faktor
atau kombinasi faktor-faktor tersebut
mengubah fi siologi dan menimbulkan
rinosinusitis. Obstruksi ostium menim-
bulkan drainase tidak adekuat, beraki-
bat penumpukan cairan dalam sinus;
pada sinus maksilaris menjadi penting
karena mukus dibersihkan melawan
pengaruh gravitasi
(3)
. Obstruksi me-
nyebabkan hipoksi lokal dalam sinus,
menimbulkan perubahan pH, keru-
sakan epitel dan fungsi silia. Cairan
dalam sinus menjadi media yang baik
bagi pertumbuhan bakteri, menimbul-
kan infl amasi jaringan dan penebalan
mukosa sehingga menambah obstruk-
si ostium.
KLASIFIKASI
RSK ditandai penebalan mukosa, hi-
perplasi sel goblet, fi brosis subepitel
dan infl amasi permanen. Remodelling
mukosa sinus mengarah pada gang-
guan keseimbangan antara deposit
dan degradasi kolagen dan matriks
protein lain. Peningkatan sintesis fi -
broblas merupakan respon adanya
aktivasi eosinofi l beserta produknya,
termasuk
profi brotic
transforming
growth factor-
(TGF-). Sel infl amasi
yang banyak terdapat di sinus an-
Validasi Foto Polos Sinus Paranasal 3 Posisi untuk
Diagnosis Rinosinusitis Kronik
Vimala Acala, Kartono Sudarman, Anton Christanto, Slamet Widodo
Bagian Telinga Hidung dan Tenggorok
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RS DR. Sardjito, Yogyakarta, Indonesia
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 409
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 409
7/23/2010 10:32:59 PM
7/23/2010 10:32:59 PM
background image
411
| AGUSTUS 2010
tara lain : sel T, eosinofi l, basofi l, dan
neutrofi l memiliki jumlah menonjol di
mukosa sinus.
Pinheiro et al. (1998) membagi rinosi-
nusitis ditinjau dari lima aksis : 1)
gambaran klinis (akut, subakut, dan
kronik), 2) lokasi sinus yang terkena
(maksilaris, frontalis, ethmoidalis, dan
sphenoidalis), 3) organisme yang ter-
libat (virus, bakteri, atau jamur), 4) ket-
erlibatan ekstrasinus (komplikasi atau
tanpa komplikasi), dan 5) modifi kasi
penyebab spesifi
k (atopi, obstruksi
komplek osteomeatal). Klasifi kasi lain
didasarkan ditemukan tidaknya alergi,
membagi rinosinusitis menjadi alergi
dan nonalergi atau berdasarkan ada
tidaknya infeksi dibagi dalam rinosi-
nusitis infeksi dan noninfeksi. Sedang-
kan untuk derajat sinusitis digunakan
gambaran radiologis untuk menunjuk-
kan berat ringannya penyakit.
Pembagian secara radiologis telah
banyak dilakukan di antaranya menu-
rut Lund MacKay. Pembagian menu-
rut sistem Lund MacKay didasarkan
pada pengukuran obyektif kelainan
masing-masing sinus, dengan skor 0
bila tidak ditemukan kelainan, skor 1
bila ditemukan opasitas parsial, skor
2 bila ditemukan opasitas total sinus,
dan penilaian patensi osteomeatal
komplek. Sistem ini banyak dipakai
karena mampu mengukur kelainan
masing-masing sinus secara obyektif,
dapat dipakai untuk kasus individual,
dan mempertimbangkan kondisi kom-
plek osteomeatal
(7)
.
GEJALA DAN TANDA
Gejala RSK berbeda-beda, dari sangat
ringan hingga berat. Gejala bisa dikel-
ompokkan menjadi gejala subyektif
dan obyektif. Gejala subyektif meliputi
gejala nasal dan nasofaringeal, faring
dan nyeri wajah. Gejala nasal menca-
kup obstruksi hidung, sekresi hidung
dan post nasal drip. Sering disertai
epistaksis dan gangguan olfaktorius.
Gejala faring berupa rasa ke-ring di
tenggorokan dan gejala nyeri wajah
akibat keadaan vakum di sinus. Nye-
ri pada sinusitis maksilaris timbul di
daerah pipi atau zigomatik, sedang-
kan sinusitis etmoidalis menimbulkan
nyeri daerah sela mata. Untuk sinus-
itis frontalis nyeri terasa di daerah
dahi, sedangkan sinusitis sphenoidalis
menimbulkan nyeri di daerah puncak
kepala atau di oksipital
(5)
.
Tanda obyektif ditentukan melalui pe-
meriksaan rinoskopi anterior, rinosko-
pi posterior dan pemeriksaan faring.
Pemeriksaan rinoskopi anterior dapat
menemukan tanda infl amasi yaitu mu-
kosa hiperemis, edema, discharge mu-
kopurulen yang terlihat di meatus me-
dia. Pemeriksaan rinoskopi posterior
menemukan kumpulan pus di permu-
kaan palatum, dapat berasal dari tiap
sinus tetapi paling sering dari sinus
maksilaris. Pus dapat tampak menetes
melalui ujung posterior konka inferior
dari meatus media. Pada pemeriksaan
farings dapat terlihat pus mengalir
sampai ke bawah melalui sela dinding
lateral faring dan umumnya berasal
dari sinus maksilaris, frontalis atau
ethmoidalis
(5,8)
. Pada pemeriksaan en-
doskopi dapat dilihat edema dan hi-
peremi di meatus media atau bulla
ethmoid dan dan jaringan granulasi
(9)
.
DIAGNOSIS
Diagnosis RSK dapat ditegakkan mela-
lui anamnesis, pemeriksaan fi sik dan
penunjang. Anamnesis didasarkan
pada gejala seperti obstruksi hidung,
kongesti, rasa nyeri di wajah, nyeri
kepala, gangguan discharge hidung,
post nasal drip, nafas bau, batuk,
gangguan penghidu dengan atau tan-
pa telinga terasa penuh, faringitis, fa-
tigue, malaise atau demam yang telah
berlangsung selama 12 minggu
(1)
.
Pemeriksaan fi sik harus menemukan
salah satu tanda infl amasi yaitu 1)
discharge berwarna di saluran nafas,
polip atau pembengkakan konka po-
lipoid menggunakan rinoskopi ante-
rior atau endoskopi setelah aplikasi
dekongestan; 2) edema dan hiperemi
di meatus media atau bulla ethmoid
yang diidentifi kasi menggunakan en-
doskopi nasal; 3) eritema lokal atau
keseluruhan, edema dan jaringan
granulasi
(1)
.
RADIOLOGI SINUS PARANASAL
Penyakit infl amasi sinus membutuhkan
diagnosis yang akurat sebagai kunci
manajemen terapi termasuk untuk
menetapkan etiologi dan faktor pre-
disposisi. Para ahli menyepakati bah-
wa rinosinusitis disebabkan oleh ob-
struksi clearance mukosilia dari sinus
paranasal, khususnya daerah KOM.
Pemeriksaan radiologi diharapkan
dapat menggambarkan secara akurat
morfologi regional dan menunjukkan
obstruksi osteomeatal.
Foto polos atau radiografi standar
Foto polos sinus paranasal merupakan
metode mudah dan cepat untuk eva-
luasi struktur maksilofasial. Ada empat
posisi yang sering adalah posisi Wa-
ters', Towne's, lateral, dan submento-
verteks. Paparan radiasi berkisar 40-60
mSv. Pemeriksaan tersebut memua-
skan untuk sepertiga bawah kavum
nasi dan sinus maksila. Gambaran si-
nus ethmoid anterior et posterior, sinus
frontal, dan sphenoid sering kurang
baik akibat penumpukan bayangan
(7)
.
Penebalan mukosa lebih dari 4 mm,
opasitas komplit sinus maksilaris, dan
gambaran air fl uid level merupakan
gambaran radiologis utama yang di-
gunakan untuk diagnosis sinusitis
pada foto polos. Gambaran opasitas
sinus maksilaris tersebut dapat akibat
penebalan dinding anterior sinus atau
jaringan lunak yang tebal. Polip sinus
juga dapat memberi gambaran seper-
ti air fl uid level
(7)
.
Beberapa peneliti membandingkan
roentgen polos dan CT scan koronal
pada bayi dan anak dengan sinusitis
rekuren. Hasilnya dari 70 pasien terda-
pat 80% mempunyai CT scan abnor-
mal dan 75% roentgen tidak berko-
relasi terhadap CT scan. Berdasarkan
evaluasi pada 21 pasien didapatkan
kesesuaian korelasi roentgen polos
dengan CT scan pada penderita sinus-
itis akut sebesar 87%.
CT scan
CT scan menyediakan gambaran hi-
dung dan sinus paranasal yang lebih
detail dibandingkan roentgen. Ahli
THT sangat membutuhkan gambaran
KOM dan kelainan yang mungkin ter-
dapat di sinus paranasal untuk menda-
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 411
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 411
7/23/2010 10:33:00 PM
7/23/2010 10:33:00 PM
background image
412
| AGUSTUS 2010
patkan diagnosis akurat dan rencana
terapi selanjutnya. Potongan koronal
CT scan memberikan gambaran aku-
rat sinus ethmoid anterior, 2/3 kavum
nasi bagian atas, recessus frontalis.
Potongan lintang CT scan dapat me-
nilai kondisi soft tissue di kavum nasi,
sinus paranasal, orbita, dan intrakra-
nial. Perbedaan yang teridentifi kasi
antara komponen kavum nasi yaitu
udara - tulang, lemak - orbita, dan
soft tissue ­ udara. Perbedaan den-
sitas juga mempermudah identifi kasi
sinus frontal, recessus frontal, proces-
sus uncinatus, infundibulum ethmoid,
bulla ethmoid, sinus maksila, ostia
sinus maksilaris, meatus media, sinus
ethmoid, sinus sphenoid, dan reces-
sus sphenoid. Gambaran yang jelas
sangat mempermudah diagnosis dan
rencana terapi
(7)
.
Potongan koronal merupakan poton-
gan terbaik karena mampu menunjuk-
kan hubungan antara otak dan sinus
ethmoid, orbita dan sinus paranasal,
juga KOM. Endoskopi hanya member-
ikan gambaran anatomi yang terletak
di depan endoskopi, sedangkan CT
scan mampu mendefi nisikan daerah
yang tidak tampak pada endoskopi.
Pasien diposisikan prone dengan hi-
perekstensi di meja scanner. Kondisi
KOM ideal diperoleh dengan CT scan
difokuskan pada kavum nasi dan si-
nus paranasal. Bila pasien tidak dapat
posisi prone maka dibuat potongan
aksial dari palatum hingga melalui si-
nus frontalis
(7)
.
Pelaksanaan CT scan sering kali terk-
endala biaya, maka dikerjakan CT
scan terbatas untuk mengatasi per-
masalahan dan meningkatkan nilai
diagnosis foto polos sinus paranasal.
Jika perkiraan jarak sinus sphenoid
hingga nares sekitar 7,5 cm maka CT
scan standar dengan jarak antara 3
mm akan menghasilkan 25 gambar. CT
scan terbatas dikerjakan dengan jarak
antar potongan beragam mulai 3, 4,
5 hingga 10 mm. sentrasi kavum nasi
dan sinus paranasal
(7)
.
Penilaian CT scan meliputi 6 tahap, yai-
tu: 1) melihat gambaran dari anterior
ke posterior (identifi kasi sinus frontalis,
sinus ethmoidalis, bulla ethmoidalis,
sinus maksilaris, sinus sphenoidalis,
kavum nasi, orbita, fossa kranii media,
dan septum deviasi), 2) melihat lami-
na papiracea, processus uncinatus,
dan konka media, 3) melihat recessus
frontalis, 4) perhatikan asimetri kanan-
kiri dengan melihat basis kranii, 5) in-
dentifi kasi sinus sphenoidalis, melihat
septum intersphenoidalis, 6) melihat
perluasan penyakit
(7)
.
Perbandingan CT scan koronal
terbatas dan foto polos sinus
paranasal
CT scan potongan koronal terbatas
telah diteliti sensitivitas dan spesi-
fi sitasnya dibandingkan dengan foto
polos sinus paranasal. CT scan 4 slice
dibandingkan CT scan standar memi-
liki sensitivitas 81,25%, spesifi sitas
89,47%, nilai duga positif 92,86, dan
nilai duga negatif 73,91.
13
Penelitian
Goodman et al. (1995) mendapatkan
bahwa foto polos sinus paranasal
memiliki sensitivitas dan spesifi sitas
secara keseluruhan 54% dan 64%.
14
Penelitian serupa oleh Garcia et al.
(1994) mendapatkan kesesuaian foto
polos mendeteksi sinusitis adalah 20%
untuk sinus frontal, 0% sinus sphenoid,
dan 54% sinus ethmoid; sinus maksila
75%. Sensitivitas dan spesifi sitas posisi
Waters adalah 76% and 81%. Sinus CT
scan mempunyai kesesuaian diband-
ingkan CT standar masing-masing
100% untuk sinus frontal, 82% untuk
sinus sphenoid, 73% untuk sinus eth-
moid, dan 97% untuk sinus maksila.
Kesesuaian secara keseluruhan bila
dibandingkan CT scan standar adalah
88%
(14)
.
Pemeriksaan radiologi dibutuhkan
untuk konfi rmasi klinis. Pada rontgen
sinus paranasalis didapatkan air fl uid
level, pengkabutan atau penebalan
mukosa pada satu atau lebih sinus
(2,4)
. CT scan dapat menggambar-
kan penebalan mukosa, perubahan
struktur tulang maupun kondisi os-
teomeatal komplek
(1)
. Sensitifi
tas
dan spesifi sitas radiologi sinus para-
nasal 85% dan 80% untuk posisi Wa-
ters, untuk tiga posisi 90% dan 60%
sedangkan CT scan lebih dari 95%
dan 61%
(15)
.
METODA PENELITIAN
A. Rancangan
Penelitian
Penelitian ini merupakan uji diagnos-
tik untuk menentukan validitas foto
polos sinus paranasal 3 posisi dan CT
scan potongan koronal sebagai alat
diagnosis pada pasien dengan gejala
klinis/persangkaan rinosinusitis kronis
menurut kriteria task force.
B. Populasi Penelitian
Populasi target pada penelitian ini
adalah pasien yang memenuhi krite-
ria klinis task force untuk persangkaan
rinosinusitis kronis (RSK). Populasi ter-
jangkau penelitian ini adalah pasien
yang memenuhi kriteria klinis task
force untuk persangkaan rinosinusitis
kronis di RS Dr. Sardjito.
C. Sampel
Penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi
terjangkau yang dipilih dengan cara
tertentu. Teknik pengambilan sampel
dengan cara berurutan (consecutive
sampling), yaitu setiap pasien RSK di
RS Dr. Sardjito Yogyakarta dan me-
menuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Cara pemilihan sampel seperti ini ada-
lah satu cara yang terbaik dalam pene-
litian klinik
(16)
.
D. Kriteria Inklusi
Penderita dengan persangkaan RSK
(task force positif), memiliki foto polos
sinus paranasal 3 posisi, memiliki CT
scan potongan koronal
E. Kriteria Eksklusi
Pernah menjalani operasi sinus, ter-
diagnosis tumor sinonasal, memiliki
catatan medis tidak lengkap. tidak
bersedia ikut dalam penelitian.
F. Cara Pengukuran
1). Semua penderita tersangka RSK
memenuhi kriteria inklusi dan ek-
sklusi dicatat identitasnya pada
formulir penelitian,
2). Dilakukan foto polos sinus parana-
sal 3 posisi dan CT Scan potongan
koronal.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 412
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 412
7/23/2010 10:33:02 PM
7/23/2010 10:33:02 PM
background image
413
| AGUSTUS 2010
H. Analisis Statistik
Analisis data dalam penelitian ini
adalah sensitivitas, spesifi sitas, nilai
duga positif, nilai duga negatif, rasio
kecenderungan positif, dan rasio ke-
cenderungan negatif dari CT Scan dan
foto polos SPN 3 posisi.
HASIL PENELITIAN
Karakteristik subyek penelitian
Jumlah sampel penelitian seluruhnya
20 pasien, wanita 11 orang (55%) dan
laki-laki 9 orang (45%), paling banyak
pada umur dekade ke 3 (30%). (tabel
2).
Keluhan utama pasien dengan per-
sangkaan RSK terdistribusi dalam ta-
bel 3.
Uji Diagnostik/Validasi Foto polos SPN
3 posisi (Tabel 4)
Sensitivitas = 12/14 x 100 % = 85,7%
Spesifi sitas = 2/6 x 100 % = 33,3%
Nilai duga positif = 12/16 x 100 % =
75%
Nilai duga negatif = 2/4 x 100 % =
50%
Rasio kecenderungan positif = 85,7%/
(4/(4 + 2)) = 1,28
Rasio kecenderungan negatif = (2/(12
+ 2))/33,3% = 0,14/0,33 = 0,42
PEMBAHASAN
Jumlah sampel penelitian seluruhnya
ada 20 pasien, wanita 11 orang (55%)
dan laki-laki 9 orang (45%). Umur teru-
tama pada dekade ke 3 (30%) (tabel 2).
Keluhan utama pada sampel penelitian
(kriteria task force) adalah discharge
purulen (40%), hidung tersumbat (30%)
dan gangguan penghidu (20%) (tabel
3). Hasil penelitian ini berbeda dengan
penelitian Evans (1994) yang menda-
patkan gejala subyektif meliputi gejala
nasal dan nasofaringeal, faring dan
nyeri wajah. Gejala nasal mencakup
obstruksi hidung, sekresi hidung dan
post nasal drip. Sering gejala terse-
but disertai epistaksis dan gangguan
olfaktorius. Gejala faring berupa rasa
kering di tenggorokan dan gejala nye-
ri wajah disebabkan oleh keadaan va-
kum pada sinus. Proyeksi nyeri pada
Informed consent
Foto polos SPN 3 posisi
Penderita rinosinusitis kronis
Sensitivitas
1.
Spesifi sitas
2.
Nilai duga positif
3.
Nilai duga negatif
4.
Rasio kecenderungan positif
5.
Rasio kecenderungan negatif
6.
Kriteria inklusi dan eksklusi
CT scan SPN potongan coronal
Sampel Penelitian
Uji Diagnostik
G. Kerangka Penelitian
Gambar 1. Bagan alur penelitian dan analisis pada penelitian
Tabel 2. Distribusi umur sampel penelitian
Umur (dalam tahun)
Jumlah (%)
< 9
0 (0)
10-19
4 (20)
20-29
6 (30)
30-39
4 (20)
40-49
2 (10)
50-59
4 (20)
>60
0 (0)
Tabel 3. Distribusi gejala sampel penelitian
No.
Gejala rinosinusitis
Jumlah (%)
1
Discharge purulen
8 (40)
2
Hidung tersumbat
6 (30)
3
Gangguan penghidu
4 (20)
4
Rasa tertekan atau nyeri di sinus
1 (5)
5
Nyeri kepala
1 (5)
6
Fatigue
0 (0)
7
Gangguan tidur
0 (0)
Tabel 4. Tabel penghitungan sensitivitas, spesifi sitas, nilai duga positif, nilai duga negatif, akurasi, rasio
kecenderungan positif, dan rasio kecenderungan negatif foto polos SPN 3 posisi
(17)
Foto polos SPN 3 posisi
+
-
Total
+
12
4
16
-
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 413
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 413
7/23/2010 10:33:02 PM
7/23/2010 10:33:02 PM
background image
414
| AGUSTUS 2010
sinusitis maksilaris di daerah pipi atau
zigomatik, sedangkan sinusitis etmoi-
dalis menimbulkan nyeri di daerah
sela mata. Untuk sinusitis frontalis nye-
ri terasa di daerah dahi, sedangkan
sinusitis sphenoidalis menimbulkan
nyeri di daerah puncak kepala atau di
oksipital.
Hal tersebut di atas menandakan bah-
wa keluhan utama discharge purulen
hidung pada umur sekitar dekade 3
harus dicurigai sebagai gejala RSK.
Masalahnya adalah untuk membuk-
tikan kecurigaan tersebut. Mahalnya
CT Scan dan tidak adanya fasilitas CT
Scan di beberapa daerah menyebab-
kan masih perlunya foto polos SPN 3
posisi untuk menegakkan diagnosis
RSK, tetapi validitas foto polos di RS
Sardjito belum pernah diteliti, bahkan
di Indonesia.
Hal tersebut membuat kalangan klinisi
ragu dan cenderung merujuk ke pusat
pelayanan medis dengan fasilitas CT
Scan. Hal ini menjadi beban tersendiri,
karena pengobatan bisa dilakukan di
daerah yang tidak memiliki fasilitas CT
Scan. Masalah ini menjadi dasar bagi
peneliti untuk mencari validitas foto
polos SPN 3 posisi dalam menegak-
kan diagnosis RSK.
Penelitian dengan 20 sampel men-
dapatkan sensitivitas sebesar 85,7%
dan spesifi sitas sebesar 33,3%. Hal ini
berarti 85,7% kemungkinan seseorang
benar benar positif RSK jika ditemu-
kan foto polos SPN 3 posisi positif.
Dan 33.3% kemungkinan subyek bu-
kan RSK apabila hasil foto polos SPN
3 posisi ditemukan negatif. Foto polos
SPN 3 posisi bisa dilakukan untuk me-
negakkan diagnosis RSK.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian
Dolor(2001) yang mendapatkan sensitifi -
tas dan spesifi sitas radiologi sinus para-
nasal untuk tiga posisi 90% dan 60%.
Dari 16 sampel pasien dengan CT Scan
positif didapatkan 12 sampel foto po-
los SPN 3 posisi yang juga positif, ini
menandakan bahwa hasil foto polos
SPN 3 posisi mempunyai nilai duga
positif yang tinggi (75%), sehingga
tidak diperlukan foto CT Scan untuk
mendiagnosis RSK. Foto polos SPN 3
posisi layak untuk mendiagnosis RSK
di daerah yang tidak memiliki fasilitas
CT Scan.
SIMPULAN
Foto polos SPN 3 posisi valid untuk
mendiagnosis rinosinusitis kronis den-
gan sensitivitas 85,7% dan spesifi sitas
33,3%.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Benninger MS, Poole M, Ponikau J. Adult chronic rhinosinusitis: defi nitions, diagnosis, epidemiology, and pathophysiology. Otolaryngol Head Neck Surg (suppl)
2003;129S: S1-S32.
2. Hilger PA. Penyakit sinus paranasalis. Dalam: Boies: Buku Ajar penyakit THT. Effendi H (terj.ed.) 6th ed. EGC, Jakarta. 1997.
3. Miller AJ, Amedee RG. Sinus anatomy and function. In: Bailey BJ. Head & Neck Surgery - Otolaryngology. 2nd ed. 1998.Lippincott-Raven, New York ; p: 413-
21.
4. Rohr AS. Sinusitis: pathophysiology, diagnosis, and management. J Immunol Allergy Clin North Am 1987;7:383-91
5. Evans KL. Fortnightly review: diagnosis and management of sinusitis. BMJ 1994;309:1415-22.
6. Pinheiro AD, Facer GW, Kern EB. Sinusitis: Current concepts and management. In Bailey BJ. Head & Neck Surgery - Otolaryngology. 2
nd
ed. Lippincott-Raven,
New York, 1998. p: 441-55.
7. Zeinreich SJ. Imaging for staging of rhinosinusitis. Ann Otol. Rhinol. Laryngol 2004.; 133: 19-23.
8. Sucipto D. Temuan sinuskopi pada pasien sinusitis maksilaris kronis. Kongres Nasional Perhati XI. Jogjakarta: 1995.. 179-189.
9. Khun FA. Role of endoscopy in the management of chronic rhinosinusitis. Ann Otol Rhinol Laryngol 2004.; 113: 10-14.
10. Kurt R, Lange S, Grumme T, Wolfgang K. Cerebral and spinal computerized tomography. Schering AG, West Germany. 1989.
11. Toshiba's Medical Electronic. The statement of ROI. In Manual of Toshiba's CT scan. Serial number 27345-Tosh-201. 1995.
12. Awaida JPS, Woods SE, Doerzbacher M, Gonzales Y, Miller TJ. Four cut sinus computed tomographic scanning in screening for sinus disease. Southern Medical
J 2004; 97: 18-20.
13. Goodman GM, Martin DS, Klein J. Comparison of a screening coronal CT versus a contagious coronal CT for evaluation of patients with presumptive sinusitis.
Am Allerg. Asthma Immunol 1995.; 74: 178-182.
14. Garcia GP, Corbett ML, Elbery SM, Joyce MR, Le HT, Karibo JM et al. Radiographic imaging studies in pediatric chronic sinusitis. J Allerg Clin Immunol 1994; 94:
1-11.
15. Dolor RJ, Williams JW. Management of Rhinosinusitis in Adults: Clinical Applications of Recent Evidence and Treatment Recommendations. JCOM 2001.; 9:
463-477.
16. Hulley SB, Cummings SR. Designing Clinical Research. Williams and Wilkins, Baltimore. 1998.
17. Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical Epidemiology : The Essential, 2
nd
ed. Williams & Wilkins, Baltimore, USA 1988:58-04.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 414
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 414
7/23/2010 10:33:02 PM
7/23/2010 10:33:02 PM