329
| JULI - AGUSTUS 2010
TINJAUAN
PUSTAKA
Penggunaan ventilator mekanik untuk
menangani henti nafas telah men-
gubah rangkaian perjalanan gang-
guan neurologis terminal. Saat ini
fungsi vital dapat dipertahankan se-
cara "buatan", meskipun fungsi otak
telah berhenti. Hal tersebut pada akh-
irnya berimplikasi terhadap definisi ke-
matian secara medis, yang kemudian
memunculkan suatu konsep kematian
batang otak sebagai penanda kema-
tian
(1)
.
Seorang dokter harus memahami
benar konsep kematian batang otak,
karena hal ini di antaranya dapat ber-
makna tidak perlunya lagi life support
(penyokong kehidupan) atau sebagai
suatu syarat mutlak diperkenankan-
nya donor organ untuk transplantasi.
Konsep kematian batang otak akan
menimbulkan implikasi yang sangat
kompleks, baik dari aspek bioetik, for-
mulasi sosial, filosofi kultural dan re-
ligius, maupun aspek hukum
(2)
.
DEFINISI
Kematian batang otak didefinisikan
sebagai hilangnya seluruh fungsi otak,
termasuk fungsi batang otak, secara
ireversibel. Tiga tanda utama mani-
festasi kematian batang otak adalah
koma dalam, hilangnya seluruh refleks
batang otak, dan apnea
(3,4)
.
Seorang pasien yang telah ditetap-
kan mengalami kematian batang otak
berarti secara klinis dan legal-formal
telah meninggal dunia. Hal ini ditu-
angkan dalam pernyataan IDI ten-
tang Mati dalam SK PB IDI No.336/PB
IDI/a.4 tertanggal 15 Maret 1988 yang
disusul dengan SK PB IDI No.231/
PB.A.4/07/90. Dalam fatwa tersebut
dinyatakan bahwa seorang dikatakan
mati, bila fungsi pernafasan dan jan-
tung telah berhenti secara pasti atau
irreversible, atau terbukti telah terjadi
kematian batang otak
(5,6)
.
Diagnosis kematian batang otak
merupakan diagnosis klinis. Tidak
diperlukan pemeriksaan lain apabila
pemeriksaan klinis (termasuk pemer-
iksaan refleks batang otak dan tes
apnea) dapat dilaksanakan secara ad-
ekuat. Apabila temuan klinis yang ses-
uai dengan kriteria kematian batang
otak atau pemeriksaan konfirmatif
yang mendukung diagnosis kematian
batang otak tidak dapat diperoleh,
diagnosis kematian batang otak tidak
dapat ditegakkan
(3)
.
LANGKAH PENETAPAN KEMATIAN
BATANG OTAK
Langkah-langkah penetapan kematian
batang otak meliputi hal-hal berikut:
(1,3)
1. Evaluasi kasus koma
2. Memberikan penjelasan kepada
keluarga mengenai kondisi terkini
pasien
3. Penilaian klinis awal refleks batang
otak
4. Periode interval observasi
a. sampai dengan usia 2 bulan,
periode interval observasi 48
jam
b. usia lebih dari 2 bulan sampai
dengan 1 tahun, periode in-
terval observasi 24 jam
c. usia lebih dari 1 tahun sampai
dengan kurang dari 18 tahun,
periode interval observasi 12
jam
d. usia 18 tahun ke atas, periode
interval observasi berkisar 6
jam
5. Penilaian klinis ulang refleks
batang otak
6. Tes apnea
7. Pemeriksaan konfirmatif apabila
terdapat indikasi
8. Persiapan akomodasi yang sesuai
9. Sertifikasi kematian batang otak
10. Penghentian penyokong kardiore-
spirasi
EvALUASI KASUS KOMA
Penentuan kematian batang otak
memerlukan identifikasi kasus koma
ireversibel beserta penyebab koma
yang paling mungkin. Cedera kepala
berat, perdarahan intraserebral hiper-
tensif, perdarahan subarachnoid, jejas
otak hipoksik-iskemik, dan kegagalan
hepatik fulminan adalah merupakan
penyebab potensial hilangnya fungsi
otak yang bersifat ireversibel
(3)
.
Dokter perlu menilai tingkat dan re-
versibilitas koma, serta potensi ber-
bagai kerusakan organ. Dokter juga
harus menyingkirkan berbagai fak-
tor perancu, seperti intoksikasi obat,
blokade neuromuskular, hipotermia,
atau kelainan metabolik lain yang
dapat menyebabkan koma namun
masih berpotensi reversible.
Koma dalam: tidak adanya respon
motorik serebral terhadap rangsang
nyeri di seluruh ekstremitas (nail-bed
pressure) dan penekanan di supraor-
bital
(1,3)
.
Kematian Batang Otak
Gea Pandhita S
SMF Saraf, Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi, Jakarta Timur
CDK ed_178_a.indd 329
20/06/2010 21:46:54
330
| JULI - AGUSTUS 2010
TINJAUAN
PUSTAKA
PENILAIAN KLINIS REFLEKS
BATANG OTAK
Penentuan kematian batang otak me-
merlukan penilaian fungsi otak oleh
minimal dua orang klinisi dengan inter-
val waktu pemeriksaan beberapa jam.
Tiga temuan penting pada kematian
batang otak adalah koma dalam, hilan-
gnya seluruh refleks batang otak, dan
apnea. Pemeriksaan apnea (tes apnea)
secara khas dilakukan setelah evaluasi
refleks batang otak yang kedua
(3)
.
HILANGNYA REFLEKS BATANG
OTAK:
(1,3)
Pupil:
a. Tidak terdapat respon terhadap
cahaya / refleks cahaya negatif
b. Ukuran: midposisi (4 mm) sampai
dilatasi (9 mm)
Gerakan bola mata /gerakan okular:
a. Refleks okulosefalik negatif (pen-
gujian dilakukan hanya apabila
secara nyata tidak terdapat retak
atau ketidakstabilan vertebrae
cervical atau basis kranii)
b. Tidak terdapat penyimpangan /
deviasi gerakan bola mata terha-
dap irigasi 50 ml air dingin di setiap
telinga (membrana timpani harus
tetap utuh; pengamatan 1 menit
setelah suntikan, dengan interval
tiap telinga minimal 5 menit)
Respon motorik facial dan sensorik fa-
cial:
a. Refleks kornea negatif
b. Jaw reflex negatif (optional)
c. Tidak terdapat respon menyerin-
gai terhadap rangsang tekanan
dalam pada kuku, supraorbita,
atau temporomandibular joint
Refleks trakea dan faring:
a. Tidak terdapat respon terhadap
rangsangan di faring bagian pos-
terior
b. Tidak terdapat respon terhadap
pengisapan trakeobronkial /
tra-
cheobronchial suctioning
TES APNEA
Secara umum, tes apnea dilakukan
setelah pemeriksaan refleks batang
otak yang kedua dilakukan. Tes apnea
dapat dilakukan apabila kondisi pra-
syarat terpenuhi, yaitu:
(1,3)
a. Suhu tubuh 36,5 °C atau 97,7 °F
b. Euvolemia (balans cairan positif
dalam 6 jam sebelumnya)
c. PaCO
2
normal (PaCO
2
arterial 40
mmHg)
d. PaO
2
normal (pre-oksigenasi arte-
rial PaO
2
arterial 200 mmHg)
Setelah syarat-syarat tersebut terpe-
nuhi, dokter melakukan tes apnea den-
gan langkah-langkah sebagai berikut:
(1,3)
a. Pasang pulse-oxymeter dan pu-
tuskan hubungan ventilator
b. Berikan oksigen 100%, 6 L/menit
ke dalam trakea (tempatkan kanul
setinggi carina)
c. Amati dengan seksama adanya
gerakan pernafasan (gerakan
dinding dada atau abdomen yang
menghasilkan volume tidal ad-
ekuat)
d. Ukur PaO
2
, PaCO
2
, dan pH setelah
kira-kira 8 menit, kemudian venti-
lator disambungkan kembali
e. Apabila tidak terdapat gera-
kan pernafasan, dan PaCO
2
60
mmHg (atau peningkatan PaCO
2
lebih atau sama dengan nilai dasar
normal), hasil tes apnea dinyatakan
positif (mendukung kemungkinan
klinis kematian batang otak)
f. Apabila terdapat gerakan pernafa-
san, tes apnea dinyatakan negatif
(tidak mendukung kemungkinan
klinis kematian batang otak)
g. Hubungkan ventilator selama tes
apnea apabila tekanan darah sis-
tolik turun sampai < 90 mmHg
(atau lebih rendah dari batas nilai
normal sesuai usia pada pasien
< 18 tahun), atau pulse-oxymeter
mengindikasikan adanya desatu-
rasi oksigen yang bermakna, atau
terjadi aritmia kardial.
i. Segera ambil sampel darah arte-
rial dan periksa analisis gas darah.
ii. Apabila PaCO
2
60 mmHg atau
peningkatan PaCO
2
20 mmHg di
atas nilai dasar normal, tes apnea
dinyatakan positif.
iii. Apabila PaCO
2
< 60 mmHg atau
peningkatan PaCO2 < 20 mHg
Gambar 1. Rangsang nyeri
Dokter memastikan bahwa tidak terdapat respon motorik dan mata tidak membuka, ketika stimulus nyeri
diberikan pada kuku jari atau saraf supraorbital.
Gambar 2. Pemeriksaan refleks batang otak
Penilaian klinis terhadap refleks batang otak dikerjakan secara menyeluruh. Nervus cranialis yang diperik-
sa ditunjukkan dengan angka romawi; garis panah utuh menunjukkan jaras aferen; garis panah terputus
menunjukkan jaras eferen. Hilangnya respon menyeringai atau mata tidak membuka terhadap rangsang
tekanan dalam pada kedua condyles setinggi temporomandibular joint (aferen n. V dan eferen n. VII), hilan-
gnya refleks kornea terhadap rangsang sentuhan tepi kornea mata (n. V dan n. VII), hilangnya refleks cahaya
(n. II dan n. III), hilangnya respon oculovestibular ke arah sisi stimulus dingin oleh air es (n. VIII dan n. III dan
n. VI), hilangnya refleks batuk terhadap rangsangan pengisapan yang dalam pada trachea (n. IX dan n. X).
CDK ed_178_a.indd 330
20/06/2010 21:46:55
331
| JULI - AGUSTUS 2010
TINJAUAN
PUSTAKA
di atas nilai dasar normal, hasil
pemeriksaan belum dapat dipas-
tikan dan perlu dilakukan tes kon-
firmasi
FAKTOR PERANCU
Kondisi-kondisi berikut dapat mem-
pengaruhi diagnosis klinis mati batang
otak, sehingga hasil diagnosis tidak di-
pastikan hanya berdasarkan pada ala-
san klinis. Pada keadaan ini pemerik-
saan konfirmatif direkomendasikan:
(3,4)
a. Trauma spinal servikal berat atau
trauma fasial berat
b. Kelainan pupil sebelumnya
c. Level toksis beberapa obat seda-
tif, aminoglikosida, antidepresan
trisiklik, antikolinergik, obat anti-
epilepsi, agen kemoterapi, atau
agen blokade neuromuskular
d. Sleep apnea atau penyakit paru
berat yang mengakibatkan retensi
kronis CO
2
Manifestasi berikut terkadang tampak
dan tidak boleh diinterpretasikan se-
bagai bukti fungsi batang otak
(3,4)
:
a. Gerakan spontan ekstremitas se-
lain dari respon fleksi atau eksten-
si patologis
b. Gerakan mirip bernafas (elevasi dan
aduksi bahu, lengkungan pung-
gung, ekspansi interkosta tanpa vo-
lume tidal yang bermakna)
c. Berkeringat, kemerahan, takikardi
d. Tekanan darah normal tanpa du-
kungan farmakologis, atau pe-
ningkatan mendadak tekanan
darah
e. Tidak adanya diabetes insipidus
f. Refleks tendon dalam, refleks ab-
dominal superfisial, respon fleksi
tripel
g. Refleks Babinski
PEMERIKSAAN KONFIRMATIF APA-
BILA TERDAPAT INDIKASI
Diagnosis mati batang otak merupa-
kan diagnosis klinis. Tidak diperlukan
pemeriksaan lain apabila pemeriksaan
klinis (termasuk pemeriksaan refleks
batang otak dan tes apnea) dapat
dilaksanakan secara adekuat. Pada
beberapa pasien dengan kondisi
tertentu seperti cedera servikal atau
kranium, instabilitas kardiovaskular,
atau faktor lain yang menyulitkan pe-
meriksaan klinis untuk menegakkan
diagnosis mati batang otak, perlu di-
lakukan tes konfirmatif
(1,3,4)
.
Pemilihan tes konfirmatif sangat ter-
gantung pada pertimbangan praktis,
mencakup ketersediaan, kemanfaa-
tan, dan kerugian yang mungkin ter-
jadi. Beberapa tes konfirmatif yang
biasa dilakukan antara lain:
(1,3,4)
a. Angiography (conventional, com-
puterized tomographic, magne-
tic resonance, dan radionuclide):
kematian batang otak ditegakkan
apabila tidak terdapat pengisian
intraserebral (intracerebral filling)
setinggi bifurkasio karotis atau sir-
kulus Willis
b. Elektroensefalografi:
kematian
batang otak ditegakkan apabila
tidak terdapat aktivitas elektrik
setidaknya selama 30 menit
c. Nuclear brain scanning: kematian
batang otak ditegakkan apabila
tidak terdapat ambilan (uptake)
isotop pada parenkim otak dan/
atau jaringan vaskular, bergan-
tung teknik isotop (hollow skull
phenomenon)
d. Somatosensory
evoked
po-
tentials: kematian batang otak
ditegakkan apabila tidak terdapat
respon N20-P22 bilateral pada
stimulasi nervus medianus
e. Transcranial doppler ultrasonog-
raphy: kematian batang otak
ditegakkan oleh adanya puncak
sistolik kecil (small systolic peaks)
pada awal sistolik tanpa aliran
diastolik (diastolic flow) atau re-
verberating flow, mengindikasi-
kan adanya resistensi yang sangat
tinggi (very high vascular resis-
tance) terkait peningkatan tekan-
an intrakranial yang besar
DAFTAR PUSTAKA
1. Wijdicks. Current Concepts, The Diagnosis of
Brain Death, N Engl J Med. 2001; 344 (16).
2. Brock DW. The role of the public in public
policy on the definition of death, in: Youngner
SJ, Arnold RM, Schapiro R, eds. The definition
of death: contemporary controversies, Johns
Hopkins University Press, Baltimore, 1999
3. New York State Department of Health. Guide-
lines for Determining Brain Death, Depart-
ment of Health, New York, 2005
4. Quality Standards Subcommittee of the
American Academy of Neurology,. Practice
parameters for determining brain death
in adults (summary statement). Neurology
1995;45(5):1012-4
5. Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia tentang
Mati. SK PB IDI No.336/PB IDI/a.4, 15 Maret
1988
6. Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia tentang
Mati. SK PB IDI No.231/PB.A.4/07/90
Gambar 3. Tes apnea
Diskoneksi ventilator dan penggunaan oksigenasi apneik difusi (apneic diffusion oxygenation) memerlukan
syarat tertentu. Suhu tubuh harus 36.5 °C, tekanan darah sistolik harus 90 mmHg, dan balans cairan harus
positif selama enam jam. Setelah pre-oksigenasi (fraksi oksigen insprasi harus 1.0 selama 10 menit), tingkat
ventilasi harus dikurangi. Ventilator harus diputus apabila PaO
2
arterial mencapai 200 mmHg, atau apabila
PaCO
2
arterial mencapai 40 mmHg. Pipa oksigen harus berada pada carina (menghantarkan oksigen 6
liter per menit). Dokter harus mengamati dinding dada dan abdomen untuk mengamati adanya gerakan
pernafasan selama 8-10 menit, dan harus mengawasi pasien terhadap adanya perubahan fungsi vital. Apa-
bila PaO
2
arterial 60 mmHg, atau terdapat peningkatan > 20 mmHg dari nilai dasar yang normal, maka tes
apnea dinyatakan positif.
CDK ed_178_a.indd 331
20/06/2010 21:46:55