background image
167
| APRIL 2010
PENDAHULUAN
Tempe merupakan makanan tradis-
ional Indonesia yang dijuluki "super-
food". Predikat tersebut diberikan
oleh karena pengaruh manfaat dan
nilai gizi tempe terhadap kesehatan.
Meskipun demikian popularitasnya
menurun seiring citra buruk tempe
(dibuat dengan cara dan teknologi
tidak higienis) yang masih melekat
1
.
Tempe telah hampir 7 tahun digu-
nakan oleh tenaga medis dan gizi di
Kutai Timur sebagai menu utama un-
tuk mengatasi luka yang sukar sem-
buh pada penderita kaki diabetik.
Dalam menu tersebut semua lauk
hewani diganti dengan lauk tempe.
Tempe diduga berperan dalam pen-
geringan luka dan penurunan jumlah
nanah pada luka melalui efek hipog-
likemiknya.
Secara turun-temurun tempe telah
dipercaya masyarakat sebagai salah
satu alternatif pengendalian gula
darah meskipun masih sedikit pub-
likasi ilmiah mekanisme tempe seba-
gai antihiperglikemik. Kandungan iso-
flavon dalam tempe diduga berperan
penting dalam proses pengendalian
gula darah; beberapa penelitian telah
menghubungkan konsumsi isoflavon
dengan rendahnya risiko diabetes dan
pencegahan komplikasinya
2-3
.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui efek hipoglikemik tempe,
menggunakan tikus sebagai model
hewan percobaan. Data efek hipo-
glikemik tersebut digunakan untuk
mengetahui apakah kesembuhan luka
pada tikus diabetes dipengaruhi oleh
aktivitas pengendalian gula darah dari
tempe.
PROSEDUR PENELITIAN
Pembuatan Tempe
Pembuatan tempe dilakukan di indus-
tri tempe tradisional di Bogor den-
gan metode yang umum digunakan
masyarakat
4
. Kedelai (Glycine max) va-
rietas Americana diperoleh dari Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan
Bioteknologi dan Sumberdaya Gene-
tik Pertanian, Departemen Pertanian,
Cimanggu, Bogor dan R. oligosporus
strain-ITBCC L-46 diperoleh dari Lab-
oratorium Mikro dan Teknologi Bio-
proses, Fakultas Teknik Kimia, Institut
Teknologi Bandung.
Prosedur pembuatan tempe diawali
dengan pencucian kedelai kemudian
direbus selama ½ jam pada suhu
99,5
0
C. Setelah masak kedelai lang-
sung direndam dengan bekas cucian
kedelai selama 28 jam. Kemudian di-
lakukan dua kali pembersihan kedelai
dari kulit. Pencucian pertama meng-
gunakan air bekas rendaman dan yang
kedua menggunakan air bersih. Set-
elah bersih kemudian ditiriskan dan
selanjutnya kedelai diberi inokulum
Rhizopus oligosporus (strain ITBCC
L-46) 0,3g / 100g berat kedelai yang
telah direbus
1
. Setelah kedelai dibung-
kus (packing) kemudian dilakukan fer-
mentasi selama 48 jam (Gambar 1).
Pengaruh Tempe terhadap Kadar Gula Darah
dan Kesembuhan Luka pada Tikus Diabetik
Dian S. Ghozali
1
, Ekowati Handharyani
2
, Rimbawan
3
1
Instalasi Gizi, RSU Daerah Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur
2
Dept. Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
3
Dept. Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor
Kedelai
Dicuci dan direbus (½ jam, 99,5
0
C)
Direndam 28 jam
Pembersihan kedelai dari kulit (pen-
cucian 2 kali)
Ditiriskan
Pemberian inokulum Rhizopus oli-
gosporus (strain- ITBCC L-46)
0,3g / 100g berat kedelai godok
Fermentasi (48 jam)
Tempe
Gambar 1. Prosedur pembuatan tempe
HASIL
PENELITIAN
CDK Edisi 176 ok.indd 167
3/22/2010 4:44:00 PM
background image
168
| APRIL 2010
Pembuatan Diabetes pada Hewan
Percobaan (Tikus)
Tikus Sprague Dawley (jumlah 50
ekor, berusia 8 minggu, jantan, berat
200±10g, berasal dari BPOM-RI) di-
adaptasikan terlebih dahulu selama 10
hari di kandang metabolik dan diberi-
kan diet standar (kasein) dengan kom-
posisi sesuai dengan AIN-93M
5
.
Diabetes diinduksi pada tikus dengan
cara diinjeksi i.p. (intraperitoneal) den-
gan 40mg/kg bb STZ (Streptozotocin,
Sigma Chemical Co., St. Louis, MO),
sedangkan sebagai kontrol (non dia-
betes) tikus diinjeksi i.p. menggunakan
Phosphate Buffer Saline (PBS) pH 7,4.
Dosis PBS disesuaikan dengan volume
STZ yang diberikan pada kelompok
diabetes. Selama periode pembuatan
diabetes (7 hari), semua tikus menda-
patkan diet standar (kasein).
Pada hari ke-7 pasca induksi STZ kadar
gula darah diukur. Tikus dinyatakan
diabetes apabila konsentrasi glukosa
plasma yang berasal dari pembu-
luh darah vena ekor tikus >250mg/
dL
6
. Pengukuran menggunakan
strip glukosa-oksidasi (OneTouch®
Ultra TM, Lifescan). Tikus yang telah
diabetes, diacak dan dikelompok-
kan menjadi kelompok perlakuan
Kontrol+Diabetes, Tempe1+Diabetes,
dan Tempe2+Diabetes. Pengelompo-
kan yang sama juga dilakukan pada
perlakuan non diabetes yang meliputi
kelompok Kontrol, Tempe1 dan Tem-
pe2. Jumlah ulangan untuk masing-
masing kelompok adalah 3 ekor tikus
dengan simpangan berdasarkan berat
badan awal ± 10g.
Pembuatan Luka pada Hewan Per-
cobaan (Tikus)
Setelah tikus memenuhi kriteria diabe-
tes dan non diabetes, dilakukan pro-
sedur pembuatan luka. Tikus terlebih
dahulu dianestesi intraperitoneal den-
gan ketamin (15mg/100g.bb tikus) dan
xylazin (1mg/100g.bb tikus), kemudian
kulit di daerah punggung dicukur dan
dibersihkan. Kulit tikus pada daerah
punggung dilukai dengan menggu-
nakan skalpel dan gunting dengan
ukuran 0.8 x 0.8cm.
Prosedur Pembuatan Diet
Tempe hasil fermentasi kedelai diker-
ing-bekukan (freeze dried) selama 48
hingga 50 jam. Selanjutnya dianalisis
kandungan gizinya meliputi protein,
lemak, asam lemak, mineral, asam
amino dan isoflavon. Hasil analisis
tersebut diperlukan untuk menentu-
kan jumlah tempe yang akan diguna-
kan sebagai diet percobaan hewan
(tikus).
Selama perlakuan (dimulai 7 hari pas-
ca induksi STZ hingga akhir penelitian)
tikus mendapat diet masing-masing
sesuai dengan kelompok perlakuan.
Diet kasein diberikan pada kelompok
Kontrol dan Kontrol+Diabetes. Tempe
dengan jumlah yang sesuai dengan
kandungan asam amino arginin 1,4%
diberikan pada kelompok Tempe1
dan Tempe1+Diabetes, sedangkan
jumlah tempe yang sesuai dengan
kandungan asam amino arginin 1,6 %
diberikan pada kelompok Tempe2 dan
Tempe2+Diabetes. Dosis asam amino
arginin sebesar 1,4 %, mengacu pada
literatur bahwa dosis tersebut ber-
peran dalam proses kesembuhan luka
diabetik pada tikus
7-8
. Dosis arginin 1,6
% ditentukan untuk memberi kompo-
sisi diet yang cukup berbeda dengan
kelompok Kontrol, Kontrol+Diabetes,
Tempe1 dan Tempe1+Diabetes baik
sumbangan energi, protein, dan le-
maknya. Sumbangan asam amino
arginin yang berasal dari diet kasein
sebesar 0,5 % digunakan sebagai kon-
trol.
Diet didasarkan pada American In-
stitute of Nutrition / AIN-93M
5
(Ta-
bel 1). Diet dibuat mendekati isoka-
lori dengan kasein sebagai sumber
protein pada kelompok Kontrol dan
Kontrol+Diabetes, sedangkan tempe
digunakan sebagai pengganti kasein
(sumber protein) pada kelompok Tem-
pe1, Tempe2, Tempe1+Diabetes, dan
Tempe2+Diabetes. Kasein dan tempe
yang telah dikering-bekukan (freeze
dried) dianalisis kandungan gizi pro-
tein, lemak, dan asam aminonya untuk
perhitungan komposisi diet. Tidak
ada penambahan minyak jagung pada
kelompok tempe karena sumbangan
lemak dari tempe sudah berlebih (me-
lebihi formulasi komposisi diet sebe-
sar 100 %).
Gambar 2. Pembuatan luka pada tikus
HASIL
PENELITIAN
CDK Edisi 176 ok.indd 168
3/22/2010 4:44:01 PM
background image
169
| APRIL 2010
Kandungan gizi kasein dalam 100 g
sampel (%w/w) : lemak : 0,04, protein :
89,50, karbohidrat : 0,20, asam amino
arginin : 3,69, isoleusin : 5,47, valin :
6,57, dan leusin : 9,08.
Kandungan gizi tempe dalam 100 g.
sampel (%w/w) : lemak : 24,80, protein
: 46,77, karbohidrat : 20,99, asam ami-
no arginin : 4,96, isoleusin : 2,41, valin
: 2,43, dan leusin : 3,59.
Tempe hasil freeze drying yang te-
lah kering, diayak dalam saringan 100
mesh agar tempe mudah bercampur
dengan bahan lain dalam formulasi
diet. Akses air minum (merk Aqua)
diberikan ad libitum. Diet diberikan
setiap pk. 17.00-18.00 dan diambil se-
tiap pk. 10.00-11.00, sedangkan air mi-
num diganti tiap hari setiap pk. 09.00.
Berat badan ditimbang 2 hari sekali
sedangkan intake makanan ditimbang
tiap hari.
Pengambilan Sampel dan Pelaksan-
aan Nekropsi
Pada akhir penelitian (hari ke-21 pasca
Tabel 1. Komposisi diet berdasarkan AIN-93M
No.
Bahan
Kontrol
Tempe 1 &
Tempe1+Diabetes
(Arginin 1,4 %)
Tempe 1 &
Tempe1+Diabetes
(Arginin 1,6 %)
1
Tempe Freeze
-
28,81
33,43
2
Kasein
14,0
0,00
0,00
3
Minyak Jagung
6,00
0,00
0,00
4
Mineral-AIN 93M-MX
1
3,50
2,71
2,58
5
Vitamin-AIN 93M-V
2
1,00
1,00
1,00
6
Selulosa (Alphacel Nutrive Bulk)
3
5,00
5,00
5,00
7
Pati Jagung
43,67
35,65
31,16
8
Dyetros
4
(dextrin cornstarch)
15,50
15,50
15,50
9
Sukrosa
10,90
10,90
10,90
10
L-Cystin
5
0,18
0,18
0,18
11
Choline Bitartrat
6
0,25
0,25
0,25
12
TBHQ
7
0,0008
0,0008
0,0008
Jumlah
100
100
100
Energi (Kal)
371,35
372,00
377,27
Protein
12,53
13,47
15,63
Lemak
6,01
7,14
8,29
Keterangan : AIN-93M: American Institute of Nutrition,
7
TBHQ : Tetra butyl hydroquinone,
1,2,3
(MP-Bio, OHIO-USA),
4
Dy-
etrose (Dyets, Bethlehem, PA, USA),
5
Merck,
6
Sigma Chemical,
Gambar 3. Desain penelitian, dari tahap pembuatan tempe hingga pem-
bedahan tikus
Pembuatan
Tempe
Analisis
kandungan
gizi kedelai &
tempe
Penentuan
jumlah
tempe yang
digunakan
untuk diet
tikus
Hari ke-0
14 hari
Hari ke-21
10 hari adaptasi
Hari ke-7
Kelompok non
diabetes
i.p. Phosphate
Buffer Saline
Kontrol+Diabetes (n=3)
Kontrol (n=3)
Tempe1+Diabetes (n=3)
Tempe1 (n=3)
Tempe2+Diabetes (n=3)
Tempe2 (n=3)
Pembuatan luka
10 hari sebelum
induksi diabetes
Kelompok
diabetes
i.p. 40 mg/kg bb
HASIL
PENELITIAN
CDK Edisi 176 ok.indd 169
3/22/2010 4:44:01 PM
background image
170
| APRIL 2010
induksi STZ) tikus dianestesi dengan
15 mg ketamin - 1mg xylazin /100gbb
tikus; gula darah diukur secara lang-
sung. Darah (sekitar 3 ml) diambil
langsung dari jantung dan dimasuk-
kan ke dalam conical tube yang berisi
100L heparin (6g/L) dan didinginkan
dalam es . Sampel darah disentrifuse
pada 1800 G selama 15 menit pada
suhu 4
0
C untuk memperoleh serum
darah, yang selanjutnya digunakan
untuk analisis asam amino mengguna-
kan metode HPLC (High Performance
Liquid Chromatography). Setelah ti-
kus mati segera dinekropsi. Pankreas
diambil dan segera disimpan dalam
larutan Buffered Neutral Forma-
lin (BNF) 10 persen, yang selanjutnya
diproses menjadi preparat histologi
dengan pewarnaan hematoxylin-eosin
(H&E)
Pengolahan dan Analisis Data
Semua data ditampilkan dalam ben-
tuk rata-rata ± standar deviasi. Data
persentase perubahan berat badan
tikus diperoleh dengan rumus:
Persen BB =
Berat badan akhir-
berat awal
X 100%
Berat awal
Food Conversion Efficiency (FCE)
diperoleh dengan rumus:
FCE =
Berat badan akhir-berat awal
X 100%
Total Intake
Total intake makanan diperoleh den-
gan menjumlahkan intake makanan
tikus setiap hari selama perlakuan
luka. Data dianalisis dengan General
Linear Model (GLM) dan perbedaan di
antara nilai rata-rata dianalisis dengan
uji Duncan. Data histopatologi dianali-
sis dengan uji nonparametrik Kruskal-
Wallis. Pada semua uji, perbedaan
signifikan dinyatakan dalam p<0,05.
HASIL DAN DISKUSI
Efek Tempe terhadap Perubahan
Berat Badan dan Makanan Tikus
Perubahan berat badan tikus dan
intake makanan disajikan pada Ta-
bel 2. Diet tempe pada kelompok
Tempe1+Diabetes secara signifikan
(p<0,05) memberikan perubahan be-
rat badan yang lebih besar dibanding
kelompok lainnya, meskipun intake
makanan tikus kelompok kontrol (Kon-
trol dan Kontrol+Diabetes) secara sig-
nifikan lebih besar. Perubahan berat
badan terkecil terlihat pada kelompok
yang mendapat diet tempe 2 (kelom-
pok Tempe2 dan Tempe2+Diabetes)
meskipun tidak berbeda nyata (p<0,05)
dengan kelompok Kontrol+Diabetes.
Efek Streptozotocin terhadap Kadar
Gula Darah Tikus
Induksi 24-100mg/kgbb Streptozo-
tocin atau STZ (2-deoksi-2-(3-metil-
(nitrosoureido)-D-glukopiranosa) da-
pat menimbulkan efek diabetogenik
9
.
Tikus diabetes induksi STZ sering
Tabel 2. Efek tempe terhadap perubahan berat badan dan intake makanan
tikus
Kelompok
Perubahan berat badan tikus
Intake makanan
gram
gram
Kontrol
20,43±1,57
ab
463,94±15,96
a
Kontrol +Diabetes
18,04±3,58
bc
440.74±21,77
a
Tempe1
22,09±1,50
ab
383.60±17,69
b
Tempe1+Diabetes
24,82±2,67
a
402.81±5,78
b
Tempe2
14,71±0,13
c
379.63±22,16
b
Tempe2+Diabetes
14,43±1,70
c
379.10±26,28
b
Rata-rata dengan huruf sama dalam kolom tidak berbeda secara signifikan pada
p<0,05
dikarakteristikkan dengan peningka-
tan stres oksidatif yang sangat ber-
hubungan dengan kejadian komplika-
si diabetes
3
. Keadaan diabetes pada
penelitian ini, terlihat pada tikus yang
diinduksi 40mg/kg bb STZ pada hari
ke-7 pasca induksi (Tabel 3). Pada tikus
yang diinduksi 40mg/kgBB STZ kadar
gula darahnya >281,50±43.13 mg/dL,
sedangkan yang diinduksi dengan PBS
kadar gula darahnya <194,67±35,44
mg/dL.
Efek Tempe terhadap Kadar Gula
Darah Tikus
Konsumsi tempe pada tikus induksi
STZ secara signifikan (p<0,001) mem-
pengaruhi penurunan gula darah pada
tikus kelompok Tempe1+Diabetes
dan Tempe2+Diabetes dibanding
kelompok Kontrol+Diabetes (Tabel
2). Demikian juga kelompok Tempe1
Tabel 3. Kadar gula darah tikus induksi STZ dan PBS pada hari ke-7 dan hari ke-
21 pasca induksi
Kelompok
7 hari pasca induksi STZ
(mg/dL)
21 hari pasca induksi
STZ (mg/dL)
Kontrol
126,50±31,81
c
143,35±25,10
c
Kontrol+Diabetes
557,66±64,03
a
489,33±148,28
a
Tempe1
194,67±35,44
bc
147,33±41,63
c
Tempe1+Diabetes
281,50±43,13
b
187,66±46,30
cb
Tempe2
191,00±43,84
cb
127,67±8,96
c
Tempe2+Diabetes
496,50±38,89
a
149,00±46,67
c
Rata-rata dengan huruf sama dalam kolom tidak berbeda signifikan pada
p<0,001
HASIL
PENELITIAN
CDK Edisi 176 ok.indd 170
3/22/2010 4:44:01 PM
background image
171
| APRIL 2010
dan Tempe2 memiliki kadar gula
darah yang lebih rendah diband-
ing kadar gula darah awalnya. Hal ini
memperlihatkan bahwa tempe secara
signifikan memiliki efek hipoglikemik.
Efek penurunan gula darah tersebut
mungkin karena tempe merupakan
sumber isoflavon. Komponen bioaktif
isoflavon yang berupa genistein dan
daidzein telah dihubungkan dengan
aktivitas penurunan gula darah
9
.
Genistein dilaporkan dapat meng-
hambat -glukosida yang berperan
dalam beberapa kelainan metabolik
seperti diabetes mellitus
10
. M.-P. Lu et
al.
9
menyatakan pemberian isoflavon
kedelai (genistein ekuivalen 0,22g/kg
diet) secara signifikan meningkatkan
serum insulin dan menurunkan glukosa
serum pada tikus diabetes. Diet tinggi
isoflavon meningkatkan serum insulin,
serum gluthatione (GSH), menurunkan
glukosa darah dan serum methylg-
lyoxal (MG) melalui mekanisme per-
lindungan sisa-sisa sel beta pankreas
dari efek toksik STZ dan meningkatkan
fungsi sel beta pankreas
3
. Genistein di-
laporkan juga dapat mencegah apop-
tosis sel akibat peningkatan MG
11
. MG
sering ditemukan tinggi kadarnya da-
lam darah pasien diabetik
12
, bisa 3-6
kali lebih tinggi dibanding keadaan
normal
13
.
Secara in vitro genistein menghambat
aldose reductase
14
yang merupakan
enzim kunci dalam jalur polyol (jalur
sorbitol-aldose reductase). Enzim
tersebut mengkatalisis kelebihan glu-
kosa menjadi sorbitol yang berimp-
likasi terhadap komplikasi diabetes,
terutama kerusakan mikrovaskuler
seperti retina diabetik dan kaki diabe-
tik. Genistein dan daidzein berperan
sebagai antihiperglikemik melalui
mekanisme aktivasi glukokinase (GK),
penghambatan
glukosa-6-fosfatase
(G6pase), phosphoenol pyruvate car-
boxykinase (PEPCK), fatty acid syn-
thase (FAS), ß-oxidation dan carnitine
palmitoyltransferase (CPT) di hati
15
.
Isoflavon dalam kedelai memproteksi
sel dari prainflamasi sitokinin, keru-
sakan induksi lemak dan apoptosis
16
.
Isoflavon juga diduga dapat menstim-
uli daya tahan sel beta pankreas
17
dan
menurunkan gula darah dengan cara
mengaktifkan reseptor PPAR (perox-
isome-proliferator activated receptor),
suatu reseptor inti yang berpartisipasi
dalam pengaturan gula darah dan ker-
ja insulin
18
.
Pemberian diet genistein dan iso-
lat protein kedelai masing-masing
0,06g/100g diet dan 20g/100g diet
pada tikus diabetes diinduksi STZ,
menunjukkan adanya substansi insuli-
notropik di dalam fraksi
2
, yang meng-
indikasikan bahwa fungsi sel beta
pulau Langerhans secara utuh mem-
produksi insulin atau melindungi sel
beta yang masih berfungsi dari keru-
sakan lebih lanjut. Selain itu, aktivitas
enzim glukokinase meningkat disertai
penurunan aktivitas enzim glukosa-
6-fosfatase dalam hati. Mekanisme
tersebut memberi dampak penurunan
gula darah pada tikus yang diinduksi
diabetes.
Analisis pendahuluan atas isoflavon
tempe yang digunakan pada eks-
perimen ini, menunjukkan kandungan
genistein dan daidzein dalam tempe
berkisar 0,44 - 1,5 mg/100 g sampel
(berat kering); meningkat dibanding-
kan sebelum fermentasi dengan kand-
ungan genistein dan daidzein berkisar
0,0011 dan 0,093mg/100g sampel (be-
rat kering). Peningkatan setelah fer-
mentasi tersebut akibat aktivitas enzim
kapang yang menghidrolisis isoflavon
glukosida pada kedelai menjadi isofla-
von aglycon; walaupun proses peren-
daman dan perebusan pada tahapan
pembuatan tempe secara signifikan
(p<0.05) telah menghilangkan kand-
ungan isoflavon total sebesar 49 pers-
en
19
. Ikeda et al,
20
juga menyatakan
adanya perubahan isoflavon glukosida
(daidzin, genistin dan glycitin) menjadi
isoflavon aglycon (daidzein, genistein
dan glycitein) pada saat fermentasi
tempe.
Efek antihiperglikemik tempe bukan
hanya oleh aktivitas isoflavon yang
terkandung dalam tempe. Komponen
lain dalam tempe diduga turut mem-
berikan andil dalam penurunan gula
darah. Hal tersebut senada dengan
penelitian J.-S. Lee
2
, yang menyatakan
bahwa baik diet genestein maupun
isolat protein kedelai, secara signifikan
telah meningkatkan aktivitas enzim
glukokinase dan menurunkan aktivitas
enzim glukosa-6-fosfatase. Meskipun
demikian isolat protein kedelai lebih
potensial dibanding genistein dalam
menurunkan gula darah diduga kare-
na isolat protein kedelai mengandung
komponen aktif lain yang dapat men-
ingkatkan bioavailabilitas genistein.
Efek glikemik tempe mungkin berbe-
da, mengingat jumlah isoflavon dalam
tempe berbeda tergantung dari jenis
varietas kedelai, preparasi pembuatan
tempe
21
dan jenis kapang yang digu-
nakan
19
.
Pengaruh tempe terhadap kesem-
buhan luka diabetik jangka panjang
terlihat pada dosis 1,4 persen arginin
tempe; ditunjukkan dengan jumlah
kolagen, folikel rambut dan kelenjar
keringat yang terbentuk lebih banyak
dibanding kelompok Kontrol+Diabetes
ataupun Tempe2+Diabetes (data tidak
ditunjukkan)
25
. Meskipun demikian
efek hipoglikemik tempe terlihat tidak
berperan dalam proses kesembuhan
luka diabetik, sebab pada kelompok
Tempe2+Diabetes meskipun gula
darahnya turun tetapi secara histopa-
tologi (jumlah kolagen, folikel rambut
dan kelenjar keringat) luka diabetiknya
terlihat sukar sembuh.
Hingga saat ini, belum ada laporan
ilmiah adanya efek merugikan setelah
mengkonsumsi tempe. Peningkatan
berat badan tikus yang lebih kecil
dibanding kelompok lain pada pene-
litian ini terjadi hanya pada perlakuan
Tempe2 dan Tempe2+Diabetes. Hal
ini bertolak belakang dengan kenaikan
berat badan pada perlakuan Tempe1
dan Tempe1+Diabetes yang bahkan
lebih besar dibandingkan dengan kel-
ompok Kontrol dan Kontrol+Diabetes;
diduga akibat pemberian komposisi
diet tempe yang berbeda (Tabel 1).
Dampak perubahan berat badan set-
elah mengkonsumsi tempe pada ma-
nusia belum banyak dipublikasikan
secara ilmiah. Penelitian pada wanita
HASIL
PENELITIAN
CDK Edisi 176 ok.indd 171
3/22/2010 4:44:02 PM
background image
172
| APRIL 2010
yang mendapat suplemen protein
kedelai 18 g/hari tidak menunjukkan
dampak penurunan berat badan yang
berlebihan
22
. Selain itu tempe meru-
pakan sumber protein berkualitas
tinggi
23
yang dibuktikan pada nilai PER
(Protein Efficiency Ratio) tempe sebe-
sar 2,79 yang seimbang dengan nilai
PER kasein yang sebesar 2,81 dan leb-
ih besar dibanding kedelai (sebelum
difermentasi) dengan nilai PER 2,41
24
.
SIMPULAN
Pemberian tempe berpengaruh positif
terhadap penurunan gula darah dan
kecepatan kesembuhan luka pada ti-
kus diabetes.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami berterima kasih kepada Dr Tan
Chuan Cheng, Dr. Ir Endang S Su-
naryo, MSc., Mashudi (Laboratorium
Gizi Masyarakat-IPB), Drh. Adi Winar-
to PhD.(Dosen Fakultas Kedokteran
Hewan-IPB), Drh. IGN Sudisma MSi.,
(Dosen Fakultas Kedokteran Hewan
­ Universitas Udayana Bali), Widawati
Suherman (Mahasiswa S2 Psikologi
Kaunseling- Universitas Kebangsaan
Malaysia)
DAFTAR PUSTAKA
1. Karyadi D. Prospek Pengembangan Tempe
dalam Upaya Peningkatan Status Gizi dan Kes-
ehatan Masyarakat. Simposium Pemanfaatan
Tempe dalam Peningkatan Upaya Kesehatan
dan Gizi. Puslitbang Gizi. 1985.
2. Lee J-S. Effects of soy protein and genistein on
blood glucose, antioxidant enzyme activities,
and lipid profile in streptozotocin-induced dia-
betic rats. Life Sciences 2006;79:1578-84.
3. Lu.M-P, Wang Rui, Song X et al. Dietray soy
isoflavones increase insulin secretion and pre-
vent the development of diabetic cataracts in
streptozotocin-induced diabetic rats . Nutri-
tion Res. 2008; 28:464-71
4. Saono S, Hull RR, Dhamcharee B. A Concise
Handbook of Indigenous Fermented Foods in
The Asia Countries. In: The Complete Hand-
book of Tempe, J. Agranoff. (ed.), pp.14. His-
tory of The Development of Tempe, American
Soybean Association. 1986.
5. Reeves PG, Nielsen FH, Fahey GC Jr. AIN-93
Purified diets for laboratory Rodents: final re-
port of the American Institute of Nutrition ad
hoc writing committee on the reformulation of
the AIN-76A rodent diet, Committee Report.
J. Nutrition 1993;123: 1939- 51.
6. Gutierrez RM, Perez R, Vargas S. Evaluation of
the wound healing properties of Acalyphalangi-
ana in diabetic rats. Fitoterapia 2006;77: 286­ 9.
7. Kohli R, Meininger CJ, Haynes TE, Wene Y, Self
JT, Wu G. Dietary l-arginine supplementation
enhances endothelial nitric oxide synthesis in
streptozotocin-induced diabetic rats. J. Nutri-
tion 2004;134: 600­8.
8. Witte MB, Thornton FJ, Udaya Tantry, Adrian
Barbul. L-arginine supplementation enhances
diabetic wound healing: involvement of the
nitric oxide synthase and arginase pathways.
Metabolism 2002; 51(10): 1269- 73
9. Lu M-P, Wang R, Song X., Wang X, Qing H, Wu
ML. Modulation of methylglyoxal and gluta-
thione by soybean isoflavones in mild strep-
tozotocin-induced diabetic rats. J. Numecd.
2007:1-7.
10. Lee DS, Lee SH. Genistein, a soy isoflavone,
is a potent
-glucosidase. FEBS Letters
2001;501:84-6.
11. Wu H.-J,Chan W­H. Genistein protects meth-
ylglyoxal-induced oxidative DNA damage and
cell injury in human mononuclear cells. Toxi-
cology in Vitro 2007;21:335-42.
12. Atkins TW, Thornally PJ. Erythrocyte glyox-
alase activity in genetically obese (ob/ob)
and streptozotocin diabetic mice. Diabetes
Res.1989;11:125­9.
13. McLellan AC, Thornalley PJ, Benn J, Sonksen
PH. Glyoxalase system in clinical diabetes mel-
litus and correlation with diabetic complica-
tions. Clinical Sci. 1994;87:21­9.
14. Kim Y-S, Kim N-H, Jung D-H et al. Genistein
inhibits aldose reductase activity and high
glucose-induced TGF-ß2 expression in hu-
man lens epithelial cells. Europ. J. Pharmacol.
2008;594:18­25.
15. Park SA,. Choi M.-S,.Cho S-Y et al. Genistein
and daidzein modulate hepatic glucose and
lipid regulating enzyme activities in C57BL/
KsJ-db/db mice. Life Sciences 2006;79:1207­
13.
16. Kwon G, Pappan KL, Marshall CA, Schaffer JE,
McDaniel ML. CAMP dose-dependently pre-
vents palmitate-induced apoptosis by both
protein kinase A- and CAMP ­ guanine nucle-
otide exchange factor-dependent pathways in
beta-cells. J. Biol. Chem.2004;279: 8938e45.
17. Jhala US, Canettieri G, Screaton RA, Kulkarni
RN, Krajewski S, Reed J. CAMP promotes
pancreatic beta-cell survival via CREB-mediate
dinduction of IRS2. Genes 2003;17:1575.
18. Mezei O, Banz WJ, Steger RW, Peluso MR,
Winters TA, Shay N. Soy isoflavones ex-
ert antidiabetic and hypolipidemic effect
through the PPAR pathways in obese zucker
rats and murine raw 264.7 cells. J. Nutrition
2003;133:1238-43.
19. Wang H-J, Murphy PA. Mass balance study
of isoflavones during soybean processing.
J.Agric. Food Chem. 1994;44:2377-88.
20. Ikeda R, Ohta N, Watanabe T. Changes of iso-
flavones at various stages of fermentation in
deffated soybeans. J. Jap. Soc. Food Sci. Tech.
1995;42(3):322-27.
21. Coward L, Barnes NC, Setchell KDR, Barnes
S. Genistein, daidzein, and their
-glycoside
conjugates: antitumor isoflavones in soybean
foods from American and Asian diets. J.Agric.
Food Chem.1993;41:1961-67.
22. St-Onge M-P, Nancy C, Carlawolper, Steven-
BH. Supplementation with soy-protein rich
foods does not enhance weight loss. J Am
Diet Assoc. 2007;107:500-505.
23. Zamora RG, Veum TL. The nutritive value of
dehulled soybeans fermented with aspergillus
oryzae or rhizopus oligosporus as evaluated
by rats. J. Nutr.1994;109:1333-39.
24. Wang HL, Ruttle DI, Hesseltine CW. Protein
quality of wheat and soybeans after Rhizopus
oligosporus fermentation. J. Nutr. 1969;96:109-
114.
25. Ghozali DS. Pengaruh Tempe terhadap Kes-
embuhan Luka pada Tikus Diabetes yang
Diinduksi Streptozotocin (STZ). Skripsi tidak
dipublikasikan. Departemen Gizi Masyarakat
dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian
IPB. 2008.
HASIL
PENELITIAN
CDK Edisi 176 ok.indd 172
3/22/2010 4:44:02 PM