background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
479
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
480
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Secara alamiah mahluk hidup telah dibekali dengan berbagai
macam kemampuan untuk mempertahankan diri. Hal ini ter-
masuk pula kemampuan dalam meregenerasikan bagian tubuh
yang secara terus-menerus perlu diperbaharui, misalnya pada
saat kulit terkelupas, sel-sel darah merah yang rusak. Tugas pem-
baharuan sel-sel ini diemban oleh sel punca; oleh karena itu sel
punca memiliki peran vital dalam perkembangan, pertumbuhan,
kelangsungan, dan perbaikan semua jaringan yang hidup termasuk
otak, tulang, otot, saraf, darah, kulit, dan organ lainnya.
Akhir-akhir ini sering disinggung pengembangan sel punca
dalam berbagai aspek terapi penyakit, baik penyakit keganasan,
hematologi maupun penyakit degeneratif. Dalam laboratorium
telah banyak dilakukan berbagai cara untuk memodifikasi sel ini
sehingga dapat disimpan, diperbanyak, didiferensiasikan, bahkan
dibuat agar menjadi suatu organ yang spesifik. Begitu pesat
kemajuan di bidang pengembangan sel punca, sehingga sering-
kali kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan menggelitik
mengenai apa sebetulnya sel punca itu.
Apakah yang disebut dengan sel punca (stem cell)?
Sel punca (stem cell) adalah suatu jenis sel yang terdapat di
dalam tubuh mahluk hidup, termasuk juga manusia. Sel punca
tidak mempunyai fungsi spesifik seperti sel pada umumnya, tetapi
pada saat dibutuhkan, sel punca dapat mengalami perubahan
menjadi sel yang terspesialisasi. Faktor-faktor yang dapat mem-
pengaruhi proses ini adalah berbagai mediator (termasuk juga
sitokin dan faktor pertumbuhan) yang dilepaskan oleh sel pada
saat mengalami kerusakan atau pada saat jaringan mengalami
iskemi. Sel punca dapat bermigrasi menuju ke jaringan tertentu
antara lain melalui dilepaskannya molekul SDF-1 oleh jaringan
yang mengalami iskemi. Molekul SDF-1 merupakan homing
factor yang merupakan ligan molekul CXCR4 yang terdapat
pada permukaan sel punca.
Untuk dapat disebut sebagai sel punca, ada beberapa kriteria
yang harus terpenuhi yaitu: sel tersebut belum mempunyai
fungsi, belum terdiferensiasi, memiliki kemampuan untuk terus
membelah dan memperbanyak diri (berproliferasi) menjadi sel
yang identik dengan sel asalnya atau dalam suasana yang sesuai
dapat berubah (berdiferensiasi) menjadi sel tipe lain dengan
fungsi yang spesifik.
Sumber: NIH online library for stem cell
Sebetulnya, sel punca dapat dibedakan menjadi 2 kelompok
utama, yaitu sel punca embrionik dan sel punca dewasa.
1. SEL PUNCA EMBRIONIK
Sel punca embrionik merupakan sel hasil kultur Inner Cell Mass
(ICM) yang berasal dari embrio stadium blastosit (Gambar 1).
Untuk mengisolasi ICM dari dalam kantung blastocoel, lapisan
tropoblast perlu terlebih dahulu dilisiskan.
Gambar 1. Inner cell mass dari embrio stadium blastosit yang dapat diisolasi
untuk kemudian dikultur menjadi sel punca embrionik (Kursad 2002)
Sel punca embrionik mulai banyak digunakan dalam berbagai
penelitian pada tahun 1980an, diawali dengan keberhasilan
mengisolasi inner cell mass dari blastosit mencit pada tahun
1981 oleh Evans, Kaufman dan Martin.
Mereka berhasil menemukan kondisi kultur in vitro yang dapat
menumbuhkan sel embrionik mencit hingga menghasilkan cell
lines (sel yang telah diisolasi dan dikultur secara in vitro dengan
tetap mempertahankan sifat-sifat yang dimilikinya). Keberhasilan
tersebut kemudian menjadi acuan untuk mengembangkan kultur
sel punca embrionik yang berasal dari embrio manusia. Hal ini
terealisasi dengan keberhasilan James Thomson mendapatkan 5
cell lines dari sel punca embrionik manusia untuk pertama
kalinya pada tahun 1998.
Embrio yang utuh memiliki sifat totipoten yaitu dapat berkem-
bang menjadi suatu individu baru, sedangkan sel punca embri-
onik disebut memiliki sifat pluripoten yaitu dapat berkembang
menjadi sel yang berasal dari 3 galur (ektoderm, mesoderm, dan
endo derm). Hal ini hingga saat ini masih membatasi penggunaan
sel punca embrionik dalam transplantasi, yaitu kekhawatiran akan
terbentuknya teratoma (keganasan yang terdiri dari berbagai
tipe jaringan berasal dari galur ekto, meso dan endoderm).
2. SEL PUNCA DEWASA
Sel punca yang berada di dalam organ setelah individu dilahirkan,
disebut sel punca dewasa. Sel punca tipe ini memiliki kemam-
puan untuk berdiferensiasi menjadi sel tipe lain tergantung pada
daerah tempatnya berada. Selain terdapat di dalam sumsum tulang
dan dalam darah tepi, sel punca terdapat pada setiap bagian
tubuh termasuk di dalam organ jantung, liver, ginjal, paru-paru,
pulpa gigi, usus, lapisan lemak subkutis, bahkan otak. Namun
untuk memperoleh sel punca dalam jumlah banyak, saat ini
pengambilan sel punca masih tergantung pada sumber-sumber
di bawah ini.
1. sumsum tulang (pada umumnya dilakukan aspirasi sumsum
tulang pada bagian crista iliaca)
2. darah tepi (baik dengan pengambilan darah seperti pada
proses donor darah, maupun dengan menggunakan alat
apheresis; Gambar 2)
3. darah tali pusat (diambil melalui v.umbilicalis di bagian tali
pusat yang melekat pada plasenta setelah bayi dilahirkan;
Gambar 3(a),(b))
4. lipoaspirat (limbah sisa liposuction)
Gambar 2. Pengambilan sel punca dari darah tepi dengan alat apheresis.
Bila diperlukan sel dalam jumlah banyak perlu mobilisasi menggunakan GCSF
(Granulocyte Colony Stimulating Factor) sebelum dilakukan apheresis.
Gambar 3. (a) Prosedur pengambilan darah talipusat dengan menusukkan
jarum steril pada v.umbilicalis, kemudian darah ditampung pada blood bag
yang telah berisi antikoagulan; (b) penampang arteri dan vena umbilikalis; perlu
diperhatikan bahwa pada matriks tali pusat terdapat 2 arteri umbilikalis yang
membawa darah dari janin ke plasenta, dan 1 vena umbilikalis yang membawa
darah dari plasenta menuju ke janin. Sel punca diperoleh dengan metode
pengambilan darah tali pusat dari v. umbilikalis
Di luar sumber-sumber di atas, telah banyak dilaporkan berbagai
penelitian ilmiah menggunakan sel punca yang berasal dari
sumber-sumber lain. Namun hingga kini, sumber-sumber lain
tersebut hanya dapat memberikan sel punca dalam jumlah yang
sangat terbatas.
Sumber-sumber tersebut antara lain adalah:
1. darah menstruasi
2. pulpa gigi
3. jaringan tulang rawan (cartilage)
4. jaringan tulang keras (osseous)
5. parenkim hepar
6. jaringan ventrikel jantung
7. dll.
Dibandingkan sel punca dari sumber lainnya, sel punca darah tali
pusat memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut antara
lain adalah pengambilannya yang tidak invasif (bahkan apabila
tidak dimanfaatkan, darah tali pusat ini seringkali ikut terbuang
bersama plasenta), pada penggunaan secara alogenik (donor
dan resipien yang berbeda) risiko rejeksi sel punca darah tali
pusat lebih rendah dibandingkan dengan sel punca sumsum
tulang maupun darah tepi. Lebih lanjut, sel punca darah tali
pusat juga dapat disimpan dengan teknik cryopreservation
dalam bank darah tali pusat.
Berdasarkan tipe sel yang dihasilkan, sel punca dapat dikelompokan
menjadi:
1. sel punca hematopoetic
2. sel punca mesenchymal
3. sel punca progenitor (endotel, epitel, dll)
Sel Punca (Stem Cell) - Sel Unik Anugerah Alam
Caroline T. Sardjono
Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung
Stem Cell and Cancer Institute, Jakarta
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
479
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
480
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Secara alamiah mahluk hidup telah dibekali dengan berbagai
macam kemampuan untuk mempertahankan diri. Hal ini ter-
masuk pula kemampuan dalam meregenerasikan bagian tubuh
yang secara terus-menerus perlu diperbaharui, misalnya pada
saat kulit terkelupas, sel-sel darah merah yang rusak. Tugas pem-
baharuan sel-sel ini diemban oleh sel punca; oleh karena itu sel
punca memiliki peran vital dalam perkembangan, pertumbuhan,
kelangsungan, dan perbaikan semua jaringan yang hidup termasuk
otak, tulang, otot, saraf, darah, kulit, dan organ lainnya.
Akhir-akhir ini sering disinggung pengembangan sel punca
dalam berbagai aspek terapi penyakit, baik penyakit keganasan,
hematologi maupun penyakit degeneratif. Dalam laboratorium
telah banyak dilakukan berbagai cara untuk memodifikasi sel ini
sehingga dapat disimpan, diperbanyak, didiferensiasikan, bahkan
dibuat agar menjadi suatu organ yang spesifik. Begitu pesat
kemajuan di bidang pengembangan sel punca, sehingga sering-
kali kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan menggelitik
mengenai apa sebetulnya sel punca itu.
Apakah yang disebut dengan sel punca (stem cell)?
Sel punca (stem cell) adalah suatu jenis sel yang terdapat di
dalam tubuh mahluk hidup, termasuk juga manusia. Sel punca
tidak mempunyai fungsi spesifik seperti sel pada umumnya, tetapi
pada saat dibutuhkan, sel punca dapat mengalami perubahan
menjadi sel yang terspesialisasi. Faktor-faktor yang dapat mem-
pengaruhi proses ini adalah berbagai mediator (termasuk juga
sitokin dan faktor pertumbuhan) yang dilepaskan oleh sel pada
saat mengalami kerusakan atau pada saat jaringan mengalami
iskemi. Sel punca dapat bermigrasi menuju ke jaringan tertentu
antara lain melalui dilepaskannya molekul SDF-1 oleh jaringan
yang mengalami iskemi. Molekul SDF-1 merupakan homing
factor yang merupakan ligan molekul CXCR4 yang terdapat
pada permukaan sel punca.
Untuk dapat disebut sebagai sel punca, ada beberapa kriteria
yang harus terpenuhi yaitu: sel tersebut belum mempunyai
fungsi, belum terdiferensiasi, memiliki kemampuan untuk terus
membelah dan memperbanyak diri (berproliferasi) menjadi sel
yang identik dengan sel asalnya atau dalam suasana yang sesuai
dapat berubah (berdiferensiasi) menjadi sel tipe lain dengan
fungsi yang spesifik.
Sumber: NIH online library for stem cell
Sebetulnya, sel punca dapat dibedakan menjadi 2 kelompok
utama, yaitu sel punca embrionik dan sel punca dewasa.
1. SEL PUNCA EMBRIONIK
Sel punca embrionik merupakan sel hasil kultur Inner Cell Mass
(ICM) yang berasal dari embrio stadium blastosit (Gambar 1).
Untuk mengisolasi ICM dari dalam kantung blastocoel, lapisan
tropoblast perlu terlebih dahulu dilisiskan.
Gambar 1. Inner cell mass dari embrio stadium blastosit yang dapat diisolasi
untuk kemudian dikultur menjadi sel punca embrionik (Kursad 2002)
Sel punca embrionik mulai banyak digunakan dalam berbagai
penelitian pada tahun 1980an, diawali dengan keberhasilan
mengisolasi inner cell mass dari blastosit mencit pada tahun
1981 oleh Evans, Kaufman dan Martin.
Mereka berhasil menemukan kondisi kultur in vitro yang dapat
menumbuhkan sel embrionik mencit hingga menghasilkan cell
lines (sel yang telah diisolasi dan dikultur secara in vitro dengan
tetap mempertahankan sifat-sifat yang dimilikinya). Keberhasilan
tersebut kemudian menjadi acuan untuk mengembangkan kultur
sel punca embrionik yang berasal dari embrio manusia. Hal ini
terealisasi dengan keberhasilan James Thomson mendapatkan 5
cell lines dari sel punca embrionik manusia untuk pertama
kalinya pada tahun 1998.
Embrio yang utuh memiliki sifat totipoten yaitu dapat berkem-
bang menjadi suatu individu baru, sedangkan sel punca embri-
onik disebut memiliki sifat pluripoten yaitu dapat berkembang
menjadi sel yang berasal dari 3 galur (ektoderm, mesoderm, dan
endo derm). Hal ini hingga saat ini masih membatasi penggunaan
sel punca embrionik dalam transplantasi, yaitu kekhawatiran akan
terbentuknya teratoma (keganasan yang terdiri dari berbagai
tipe jaringan berasal dari galur ekto, meso dan endoderm).
2. SEL PUNCA DEWASA
Sel punca yang berada di dalam organ setelah individu dilahirkan,
disebut sel punca dewasa. Sel punca tipe ini memiliki kemam-
puan untuk berdiferensiasi menjadi sel tipe lain tergantung pada
daerah tempatnya berada. Selain terdapat di dalam sumsum tulang
dan dalam darah tepi, sel punca terdapat pada setiap bagian
tubuh termasuk di dalam organ jantung, liver, ginjal, paru-paru,
pulpa gigi, usus, lapisan lemak subkutis, bahkan otak. Namun
untuk memperoleh sel punca dalam jumlah banyak, saat ini
pengambilan sel punca masih tergantung pada sumber-sumber
di bawah ini.
1. sumsum tulang (pada umumnya dilakukan aspirasi sumsum
tulang pada bagian crista iliaca)
2. darah tepi (baik dengan pengambilan darah seperti pada
proses donor darah, maupun dengan menggunakan alat
apheresis; Gambar 2)
3. darah tali pusat (diambil melalui v.umbilicalis di bagian tali
pusat yang melekat pada plasenta setelah bayi dilahirkan;
Gambar 3(a),(b))
4. lipoaspirat (limbah sisa liposuction)
Gambar 2. Pengambilan sel punca dari darah tepi dengan alat apheresis.
Bila diperlukan sel dalam jumlah banyak perlu mobilisasi menggunakan GCSF
(Granulocyte Colony Stimulating Factor) sebelum dilakukan apheresis.
Gambar 3. (a) Prosedur pengambilan darah talipusat dengan menusukkan
jarum steril pada v.umbilicalis, kemudian darah ditampung pada blood bag
yang telah berisi antikoagulan; (b) penampang arteri dan vena umbilikalis; perlu
diperhatikan bahwa pada matriks tali pusat terdapat 2 arteri umbilikalis yang
membawa darah dari janin ke plasenta, dan 1 vena umbilikalis yang membawa
darah dari plasenta menuju ke janin. Sel punca diperoleh dengan metode
pengambilan darah tali pusat dari v. umbilikalis
Di luar sumber-sumber di atas, telah banyak dilaporkan berbagai
penelitian ilmiah menggunakan sel punca yang berasal dari
sumber-sumber lain. Namun hingga kini, sumber-sumber lain
tersebut hanya dapat memberikan sel punca dalam jumlah yang
sangat terbatas.
Sumber-sumber tersebut antara lain adalah:
1. darah menstruasi
2. pulpa gigi
3. jaringan tulang rawan (cartilage)
4. jaringan tulang keras (osseous)
5. parenkim hepar
6. jaringan ventrikel jantung
7. dll.
Dibandingkan sel punca dari sumber lainnya, sel punca darah tali
pusat memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut antara
lain adalah pengambilannya yang tidak invasif (bahkan apabila
tidak dimanfaatkan, darah tali pusat ini seringkali ikut terbuang
bersama plasenta), pada penggunaan secara alogenik (donor
dan resipien yang berbeda) risiko rejeksi sel punca darah tali
pusat lebih rendah dibandingkan dengan sel punca sumsum
tulang maupun darah tepi. Lebih lanjut, sel punca darah tali
pusat juga dapat disimpan dengan teknik cryopreservation
dalam bank darah tali pusat.
Berdasarkan tipe sel yang dihasilkan, sel punca dapat dikelompokan
menjadi:
1. sel punca hematopoetic
2. sel punca mesenchymal
3. sel punca progenitor (endotel, epitel, dll)
Sel Punca (Stem Cell) - Sel Unik Anugerah Alam
Caroline T. Sardjono
Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung
Stem Cell and Cancer Institute, Jakarta
background image
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
482
Sel punca hematopoetik
Sel punca hematopoetik dalam perkembangannya dapat meng-
hasilkan sel pembentuk darah. Sel tipe hematopoetik merupakan
tipe sel punca yang sejak lama telah digunakan dalam terapi
keganasan darah (leukemia). Strategi terapi ini memungkinkan
dilakukannya kemoterapi dosis tinggi yang dapat mengeliminasi
sel abnormal (ablasi) pada penderita keganasan.
Populasi sel yang `tereliminasi' oleh kemoterapi akan digantikan
oleh sel punca hematopoetik yang ditransplantasikan. Namun
perlu diperhatikan bahwa selama populasi sel belum ter'gantikan',
pasien berada dalam kondisi yang sangat rentan untuk terkena
infeksi sehingga diperlukan perawatan di fasilitas "isolasi terbalik"
yang dapat menjamin kondisi yang aseptik. Saat ini fasilitas
ruang "isolasi terbalik" masih jarang dimiliki oleh rumah sakit di
Indonesia dan hal ini seringkali membuat biaya transplantasi sel
punca menjadi sangat tinggi.
Sel punca hematopoetik memiliki molekul yang khas pada per-
mukaan selnya, yaitu molekul glikoprotein CD34. Molekul
penanda ini dapat digunakan sebagai sarana untuk menghitung
jumlah sel punca hematopoetik yang berhasil diisolasi dari ber-
bagai sumber di atas. Bahkan dalam penggunaannya dalam terapi
keganasan, telah ditentukan jumlah CD34 yang direkomendasikan
oleh ASBMT (American Society for Blood and Marrow Transplan-
tation) dan ISCT (International Society for Cellular Therapy)
bahwa untuk meningkatkan angka keberhasilan engraftment
dari sel yang ditransplantasikan diperlukan setidaknya 5 x 10
6
CD34+ cells/kg berat badan. Oleh karena itu, fasilitas laborato-
rium terpercaya yang dapat menghitung jumlah sel CD34+
(CD34 enumeration) menjadi mutlak diperlukan untuk trans-
plantasi jenis ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, dilaporkan bahwa + 80% dari
sel punca CD34+ juga mengekspresikan penanda CD133.
Sel dalam populasi CD34+/CD133+ dikenal dengan sebutan
hemangioblast yang dalam perkembangannya dapat berdi-
ferensiasi menjadi turunan sel hematopoetik (heme) dan sel
pembangun pembuluh darah (angio).
Hal ini dipertegas dengan temuan Asahara et al yang melapor-
kan bahwa populasi sel tersebut merupakan sel tipe Endothelial
Progenitor Cell/EPC (Gambar 4a). Lebih lanjut, EPC merupakan
sel progenitor yang bertugas meregenerasikan sel endotel dalam
pembuluh darah (Gambar 4b). Oleh karena itu, jumlah EPC
dalam sirkulasi peredaran darah dilaporkan mengindikasikan
besarnya risiko terjadinya artherosklerosis maupun kejadian
kardiovaskular mayor.
Gambar 4. (a) Tampilan Endothelial Progenitor Cells (EPC) dalam kultur
secara in vitro membentuk koloni dengan morfologi yang khas dengan
sebutan colony Hill's
Gambar 4.(b) Pembuluh darah dilapisi oleh selapis sel endotel. Endothelial
Progenitor Cells (EPC) merupakan populasi sel yang melakukan regenerasi sel
endotel pembuluh darah.
Sel punca mesenchymal
Sel punca mesenchymal merupakan tipe sel punca yang dalam
perkembangannya dapat menghasilkan tendon, stroma
sumsum tulang, tulang rawan, tulang keras, dan sel adiposa. Sel
tipe ini memiliki sifat khas yaitu tidak memiliki molekul HLA kelas
II, sedangkan HLA kelas I hanya diekspresikan dalam tingkat
sangat rendah. Hal ini memungkinkan penggunaan sel punca
mesenchymal secara alogenik tanpa perlu pencocokan HLA
terlebih dahulu. Lebih lanjut, sel punca mesenchymal ini justru
memiliki kemampuan untuk meningkatkan populasi sel T
regulatory, yang bersifat mensupresi imunitas yang berlebih.
Dalam beberapa tahun terakhir telah dilaporkan penggunaan sel
punca mesenchymal pada pasien dengan GVHD (Graft versus
Host Disease) dan pasien autoimunitas.
background image
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
484
PENDAHULUAN
Pada tatalaksana berbagai penyakit ginjal proteinurik seperti
glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS), sindrom nefrotik
resisten steroid, dan lain-lain telah digunakan kortiko-steroid,
siklofosfamid, klorambusil, dan siklosforin yang diberikan per oral
dalam jangka lama dengan hasil yang bervariasi. Meskipun telah
banyak laporan keberhasilan, tetapi ada yang kurang memuaskan
karena berbagai hal misalnya ketidakteraturan minum obat, minum
obat yang tidak berkesinambungan, atau tingginya paparan infeksi,
sehingga para peneliti mencari metode pengobatan dengan hasil
yang lebih baik dan efek samping yang lebih jarang. Terapi puls
(pulse therapy) merupakan salah satu pilihan pengobatan ter-
hadap penyakit ginjal proteinurik ini. Terapi puls yang biasa pada
anak adalah metilprednisolon dan siklofosfamid. Untuk mening-
katkan angka keberhasilannya, maka terapi puls biasanya dikom-
binasi dengan kortikosteroid atau obat alkilating oral.
(1)
Terapi puls adalah pemberian obat dosis tinggi sekaligus dengan
cara bolus intravena. Kepustakaan menunjukkan bahwa terapi
puls telah digunakan terhadap berbagai penyakit seperti vaskulitis
reumatoid, artritis reumatoid, sklerosis multipel, granulomatosis
Wagener, penyakit paru eosinofilik, hemosi-derosis paru idiopa-
tik, leukemia, dan beberapa penyakit ginjal. Beberapa penyakit
ginjal anak tidak responsif terhadap kortikosteroid dan imunosu-
presan oral sehingga terindikasi untuk terapi puls.
(2-,5)
Pada
beberapa penelitian terbukti bahwa siklofosfamid puls dan
metilprednisolon puls lebih efektif dibandingkan dengan siklofos-
famid oral dan steroid oral dosis tinggi dalam menginduksi remisi
dan mencegah gagal ginjal terminal (GGT) dengan efek samping
yang lebih ringan.
(6,7)
TERAPI PULS
Indikasi
Beberapa penyakit ginjal proteinurik anak yang ditatalaksana
dengan terapi puls antara lain: nefritis lupus kelas IV atau nefritis
lupus proliferatif difus
,(7-10)
lupus eritematosus sis-temik infantil,
(6)
glomerulosklerosis fokal segmental (GS-FS),
(4,11,12)
glomerulone-
fritis membranoprolifetarif tipe I,
(13)
nefritis purpura Henoch-
Schonlein berat,
(5,14)
glomerulonefritis berat,
(2)
dan sindrom nefrotik
resisten steroid.
(3)
Terapi Puls pada
Penyakit Ginjal Proteinurik Anak
Sudung O. Pardede
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Terapi metilprednisolon dan siklofosfamid puls telah digunakan dalam tatalaksana berbagai penyakit ginjal
baik pada dewasa maupun anak. Beberapa penyakit ginjal yang telah ditatalaksana dengan terapi puls ini
antara lain nefritis lupus, glomerulo-sklerosis fokal segmental, glomerulonefritis membranoproliferatif tipe I,
glomerulo-nefritis berat, nefritis purpura Henoch-Schonlein, dan sindrom nefrotik resisten steroid. Berbagai
regimen telah digunakan tetapi biasanya diberikan metilprednisolon 30 mg/kgbb 3 hari seminggu dan siklofos-
famid 500-1000 mg/m
2
luas permukaan badan satu kali sebulan selama 6 bulan. Dibandingkan dengan pem-
berian steroid dan siklofosfamid oral jangka lama, terapi puls dengan metilprednisolon dan siklofosfamid ini
umumnya memberikan hasil yang lebih baik dengan efek samping yang lebih rendah. Beberapa efek samping
steroid yang dapat terjadi antara lain katarak, osteoporosis, retardasi pertumbuhan, hipertensi, meningkatnya
risiko infeksi, dan nekrosis avaskular; sedangkan efek samping siklofosfamid yang ditemukan antara lain alope-
sia, pucat, kuku kebiruan, leukopeni, steril, nekrosis avaskular, fraktur osteoporosis, sistitis hemoragik, dan
infeksi seperti sepsis, Herpes zoster, dan infeksi jamur.
Kata kunci : terapi puls, metilprednisolon, siklofosfamid, glomerulonefritis
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
483
TINJAUAN PUSTAKA
Mekanisme imunosupresi sel punca mesenchymal masih terus
dipelajari, namun hingga saat ini diperkirakan bahwa sel punca
ini mampu menghasilkan beberapa mediator antara lain
indoleamine 2,3,-dioxygenase dan Galectin-1 yang memiliki efek
imunosupresi.
Dalam rekomedasi ISCT, sel punca dikatakan memenuhi kriteria
untuk disebut sel punca mesenchymal bila memiliki karakteristik
yang ditampilkan pada Tabel 1 (Dominici et al 2006).
Gambar 5. Sel punca mesenchymal dalam kondisi yang sesuai dapat
menghasilkan sel tulang rawan (chondrocyte), sel pembangun tulang keras
(osteoblast), dan sel lemak (adipocyte).
Saat ini sel punca telah dikembangkan sebagai terapi berbagai
peyakit termasuk kelainan hematologi (leukemia, anemia,
thalasemia, dst), penyakit degeneratif (gangguan pembuluh
darah, infark jantung, penyembuhan luka), terapi kerusakan
cartilage pada cedera sendi, Sel punca mesenchymal digunakan
dalam metode pencegahan terjadinya graft vs host reaction
pada transplantasi allogenic, serta pemanfaatan sifat imunosu-
presi pada penderita penyakit autoimun.
Saat ini penelitian sel punca terus berkembang dan begitu
banyak penemuan baru yang dilaporkan setiap harinya. Oleh
karena itu untuk memperoleh informasi terkini masyarakat
khususnya para dokter perlu terus memantau setiap publikasi
ilmiah yang dihasilkan dari pengembangan sel punca ini.
DAFTAR PUSTAKA
Kolf CM, Cho E, Tuan RS. Mesenchymal stromal cells.Biology of adult mesenchymal
stem cells: regulation of niche, self-renewal and differentiation. Arthritis Res.
Ther. 2007. 9:204.
Deans RJ, Moseley AB. Mesenchymal stem cells:biology and potential clinical
uses. Exp Hematol. 2000. 28:875-884.
Hill J, Zalos G, Halcox JPJ, dkk. Circulating Endothelial Progenitor Cells, Vascular
Function, and Cardiovascular Risk. N Engl J Med. 2003;348;593-600
Atkinson K, Champlin R, Ritz J,. Fibbe WE, Ljungman P, Brenner MK. Clinical
Bone Marrow and Blood Stem Cell Transplanatation. 3rd ed. Cambridge
University Press. 2004. Hlm 38-90
Turksen K. Methods in Molecular Biology. Embryonic stem cells methods and
protocols. 2002. vol. 185. Humana Press New Jersey. Hlm 5
Miura M, Gronthos S, Zhao M, Lu B, Fisher LW, Robey PG, Shi S. SHED: Stem cells
from human exfoliated deciduous teeth. PNAS 2003. 100(10): 5807 5812
Nakagawa M, Koyanagi M, Tanabe K, Takahashi K, Ichisaka T, Aoi T, Okita K,
Mochiduki Y, Takizawa N , Yamanaka S. Generation of induced pluripotent stem
cells without Myc from mouse and human fibroblasts. Nature Biotechnol. 2008.
26(1):101-106
Nicola MD, Carlo-Stella C, Magni M, Milanesi M, Longoni PD, Matteucci P,
Grisanti S,. Gianni AM. Human bone marrow stromal cells suppress T-lymphocyte
proliferation induced by cellular or nonspecific mitogenic stimuli. Blood. 2002.
99:3838-3843
Habib N, Levicar N, Gordon M, Jiao L, Fisk N. Stem Cell Repair and Regeneration.
Volume 2. Imperial College Press. 2007. Hlm 85-169
Sardjono CT, Setiawan M, Frisca, Saputra V, Aniko G, Sandra F. Application of a
modified method for stem cell isolation from lipoaspirates in a basic lab. Med. J.
Indon. 2009 :91-95
Patel SA, Sherman L, Munoz J, Rameshwar P. Immunological properties of
mesenchymal stem cells and clinical implications Arch. Immunol. Ther. Exp. 2008.
56, 1 8
Meng X, Ichim TE, Zhong J, Rogers A, Yin Z, Jackson J, Wang H, Ge W, Bogin V,
Chan KW, Thébaud B, Riordan NH.. Endometrial regenerative cells: A novel stem
cell population. J. Translational Med. 2007. 5:57.
Hill J, Zalos G, Halcox JPJ, dkk. Circulating Endothelial Progenitor Cells, Vascular
Function, and Cardiovascular Risk. N Engl J Med. 2003;348;593-600
Catatan:
Di Indonesia telah dibentuk suatu asosiasi peneliti sel punca yaitu Asosiasi
Sel Punca Indonesia (ASPI) yang terbuka bagi seluruh warga yang
memiliki minat dalam penelitian sel punca. Bagi yang berminat untuk
mendaftar (keanggotaan gratis), dapat menghubungi redaksi CDK.