CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
399
HASIL PENELITIAN
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
400
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang
sudah lama dikenal. Broadbent pada tahun 1877 pertama kali
melaporkan gangguan tidur tersebut yang ditandai rasa kantuk
berlebih saat siang hari. Prevalensi OSA sekitar 0,3-7,5% pada
populasi
(1)
, namun di Amerika kasus yang tidak terdiagnosis
mencapai 82-93% pada kelompok usia dewasa muda. Sekitar
26% populasi mempunyai risiko OSA, terutama pada kelompok
umur 30-49 tahun (25%) dan 50-64 tahun (33%).
(2)
Pria lebih
sering mengalami OSA dibandingkan wanita (25% : 10%). Sefalgia
merupakan manifestasi klinis yang sering dijumpai pada penderita
gangguan tidur. Beberapa penelitian melaporkan keterkaitan
antara sefalgia, OSA dan mendengkur.
(3)
Sefalgia banyak di-
temukan pada populasi umum dengan tidur mendengkur.
(4)
Sedangkan pada OSA, 18-41% kasus mengalami sefalgia.
(3)
Namun demikian kaitan antara derajat OSA dengan sefalgia
tidak selalu bermakna.
(5)
Penelitian ini bertujuan mengetahui sefalgia pada pasien yang
menjalani polisomnografi untuk penentuan OSA. Selain itu,
dicoba mencari faktor yang mungkin menjadi penyebab seperti
kadar saturasi oksigen dan derajat OSA.
METODOLOGI
Penelitian dilakukan di Laboratorium Tidur RS Mitra Kemayoran
Jakarta sejak Januari hingga Desember 2007 menggunakan
disain potong lintang. Populasi penelitian adalah penderita
gangguan tidur yang datang ke Laboratorium Tidur RS Mitra
Kemayoran Jakarta. Pasien diberi kuesioner berupa beberapa
pertanyaan tertutup mengenai manifestasi klinis yang dialami,
kemudian dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan
tekanan darah. Setelah itu dilakukan pemeriksaan menggunakan
overnight Polisomnografi merk Embla tipe S-10.
Body Mass Index (BMI) merupakan perbandingan berat badan
dengan tinggi badan, nilai normal 18.5-24.9 kg/m2. Obesitas di-
tentukan berdasarkan BMI. Derajat OSA ditentukan berdasarkan
Indeks Apnea-Hipopnea (AHI) yang merupakan jumlah apnea
dan hipopnea setiap satu jam tidur (>30 berat, 16-30 sedang,
6-15 ringan dan <5 normal).
Hipopnea ditandai dengan penurunan >50% aliran udara respirasi.
Penurunan kadar saturasi oksigen terbagi menjadi ringan (85-89%),
sedang (80-84%) dan berat (<80%).
Pengolahan data dengan program SPSS versi 10.0. Hubungan
faktor risiko antar kelompok dinilai dengan uji Chi Square atau uji
mutlak Fisher dan batas kemaknaan 5%. Perbedaan nilai rerata
dan deviasi standar (SD) antar kelompok menggunakan Student
t test. Data ditampilkan dalam bentuk teks, grafik dan tabel.
HASIL
A. Karakteristik subyek penelitian
Dari 65 orang hanya 4 orang yang tidak mengalami OSA pada
pemeriksaan PSG. Laki-laki mendominasi sampel (98.4%); lebih
dari separuh berada pada kelompok umur > 45 tahun (58%).
(Grafik. 1) Rerata usia 43.86 tahun (SD 13.87) dengan rerata
Body Mass Index (BMI) 26.53 kg/m2 (SD 5.14) dan rerata lingkar
leher 44.84 cm (SD 7.99). Pada pemeriksaan PSG didapatkan
rerata Apnea-Hypopnea Index (AHI) 38.90 (SD 25.52) dan rerata
saturasi oksigen terendah 72.40% (SD 11.17). (Tabel.1)
Tabel 2. Perbedaan nilai rerata variabel pada OSA dengan sefalgia
Tabel 3. Sebaran karakteristik medik OSA dengan sefalgia
Ket : *) Uji Fisher Exact
Sefalgia pada Penderita Obstructive
Sleep Apnea di Laboratorium Tidur
RS Mitra Kemayoran, Jakarta
Maula Gaharu*, Andreas Prasadja**
*Dokter Spesialis Saraf WIN Pain Clinic, Kelapa Gading, Jakarta
** Dokter Sleep Technologist, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta
ABSTRAK
Latar Belakang: Sefalgia dan gangguan tidur diyakini terdapat keterkaitan antara keduanya, bahkan gangguan
tidur Obstructive Sleep Apnea (OSA) lebih sering disertai sefalgia dibandingkan gangguan tidur lain. Tujuan:
Mengetahui sefalgia pada gangguan tidur Obstructive Sleep Apnea. Metode: Penelitian potong lintang pada
populasi penderita gangguan tidur yang diperiksa di Laboratorium Tidur RS Mitra Kemayoran Jakarta. Periode
penelitian Januari hingga Desember 2007. Sebelum dilakukan pemeriksaan polisomnografi (PSG), pasien diberi
kuesioner mengenai manifestasi kilnis gangguan tidur. Hasil: Dari 65 orang, hanya 4 orang tidak mengalami
OSA berdasarkan pemeriksaan PSG. Derajat OSA pada sampel terdiri dari ringan 21.3%, sedang 23.0% dan
berat 55.7%. Proporsi laki-laki 98.4%. Rerata usia 43.86 tahun (SD 13.87). Kelompok usia terbanyak pada
kelompok usia >45 tahun (57.4%). Rerata Body Mass Index (BMI) 26.53 (SD 5.14). Rerata lingkar leher 44.84 cm
(SD 7.99). Rerata Apnea Hypopnea Index (AHI) 38.90 (SD 25.55) sedangkan rerata saturasi oksigen terendah
72.40% (SD 11.17). Manifestasi sefalgia pada OSA didapatkan pada 42 orang (68.9%) dengan rerata AHI 43.25
(SD 25.28), BMI 26.99 (SD 5.52), lingkar leher 45.92 (SD 8.18) dan saturasi oksigen terendah 71.69 (SD 11.50).
Didapatkan kemaknaan pada kejadian sefalgia dengan AHI dan derajat OSA. Kesimpulan: Sefalgia sering meny-
ertai OSA, sehingga perlu dicermati pada tatalaksana sefalgia.
Kata kunci: Sefalgia, Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Variabel
%
95% CI
Low
High
p
Jumlah
Derajat OSA
Berat
Sedang
Ringan
BMI*
Obesitas
Non-Obesitas
Gasping
Ya
Tidak
EDS
Ya
Tidak
Hipertensi
Ya
Tidak
Mendengkur*
Ya
Tidak
Unfreshed
Ya
Tidak
Insomnia
Ya
Tidak
Nokturia
Ya
Tidak
28
8
6
38
4
25
17
36
6
26
16
42
36
6
19
23
29
13
66.7
19.0
14.30
90.5
9.5
59.5
40.5
85.7
14.3
61.9
38.1
100
85.70
14.30
45.20
54.80
69.0
31.0
0.040
0.018
0.569
0.409
0.270
0.294
0.403
0.681
0.220
1.000
0.948
0.045
0.141
0.560
0.673
0.562
0.604
0.204
0.757
0.380
0.237
0.747
2.938
11.459
6.072
8.165
5.397
0.442
10.133
3.395
2.679
Rerata
p
Sefalgia
0.930
0.303
0.116
0.047
0.460
Usia
BMI
Lingkar leher
AHI
Saturasi oksigen
Ya
Rerata Ø SD
43.76 Ø 13.88
26.99 Ø 5.52
45.92 Ø 8.18
43.25 Ø 25.28
71.69 Ø 11.50
Tidak
Rerata Ø SD
43.76 Ø 13.88
26.99 Ø 5.52
45.92 Ø 8.18
43.25 Ø 25.28
74.00 Ø 10.53
Variabel
%
Jumlah
53
8
46
4
11
34
14
13
86.9
13.1
75.4
6.6
18
55.7
23.0
21.3
BMI
Obesitas
Non
Obesitas
Desaturasi Oksigen
Berat
Sedang
Ringan
Derajat OSA
Berat
Sedang
Ringan
Tabel 1. Sebaran medis (n=61)
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
399
HASIL PENELITIAN
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
400
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang
sudah lama dikenal. Broadbent pada tahun 1877 pertama kali
melaporkan gangguan tidur tersebut yang ditandai rasa kantuk
berlebih saat siang hari. Prevalensi OSA sekitar 0,3-7,5% pada
populasi
(1)
, namun di Amerika kasus yang tidak terdiagnosis
mencapai 82-93% pada kelompok usia dewasa muda. Sekitar
26% populasi mempunyai risiko OSA, terutama pada kelompok
umur 30-49 tahun (25%) dan 50-64 tahun (33%).
(2)
Pria lebih
sering mengalami OSA dibandingkan wanita (25% : 10%). Sefalgia
merupakan manifestasi klinis yang sering dijumpai pada penderita
gangguan tidur. Beberapa penelitian melaporkan keterkaitan
antara sefalgia, OSA dan mendengkur.
(3)
Sefalgia banyak di-
temukan pada populasi umum dengan tidur mendengkur.
(4)
Sedangkan pada OSA, 18-41% kasus mengalami sefalgia.
(3)
Namun demikian kaitan antara derajat OSA dengan sefalgia
tidak selalu bermakna.
(5)
Penelitian ini bertujuan mengetahui sefalgia pada pasien yang
menjalani polisomnografi untuk penentuan OSA. Selain itu,
dicoba mencari faktor yang mungkin menjadi penyebab seperti
kadar saturasi oksigen dan derajat OSA.
METODOLOGI
Penelitian dilakukan di Laboratorium Tidur RS Mitra Kemayoran
Jakarta sejak Januari hingga Desember 2007 menggunakan
disain potong lintang. Populasi penelitian adalah penderita
gangguan tidur yang datang ke Laboratorium Tidur RS Mitra
Kemayoran Jakarta. Pasien diberi kuesioner berupa beberapa
pertanyaan tertutup mengenai manifestasi klinis yang dialami,
kemudian dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan
tekanan darah. Setelah itu dilakukan pemeriksaan menggunakan
overnight Polisomnografi merk Embla tipe S-10.
Body Mass Index (BMI) merupakan perbandingan berat badan
dengan tinggi badan, nilai normal 18.5-24.9 kg/m2. Obesitas di-
tentukan berdasarkan BMI. Derajat OSA ditentukan berdasarkan
Indeks Apnea-Hipopnea (AHI) yang merupakan jumlah apnea
dan hipopnea setiap satu jam tidur (>30 berat, 16-30 sedang,
6-15 ringan dan <5 normal).
Hipopnea ditandai dengan penurunan >50% aliran udara respirasi.
Penurunan kadar saturasi oksigen terbagi menjadi ringan (85-89%),
sedang (80-84%) dan berat (<80%).
Pengolahan data dengan program SPSS versi 10.0. Hubungan
faktor risiko antar kelompok dinilai dengan uji Chi Square atau uji
mutlak Fisher dan batas kemaknaan 5%. Perbedaan nilai rerata
dan deviasi standar (SD) antar kelompok menggunakan Student
t test. Data ditampilkan dalam bentuk teks, grafik dan tabel.
HASIL
A. Karakteristik subyek penelitian
Dari 65 orang hanya 4 orang yang tidak mengalami OSA pada
pemeriksaan PSG. Laki-laki mendominasi sampel (98.4%); lebih
dari separuh berada pada kelompok umur > 45 tahun (58%).
(Grafik. 1) Rerata usia 43.86 tahun (SD 13.87) dengan rerata
Body Mass Index (BMI) 26.53 kg/m2 (SD 5.14) dan rerata lingkar
leher 44.84 cm (SD 7.99). Pada pemeriksaan PSG didapatkan
rerata Apnea-Hypopnea Index (AHI) 38.90 (SD 25.52) dan rerata
saturasi oksigen terendah 72.40% (SD 11.17). (Tabel.1)
Tabel 2. Perbedaan nilai rerata variabel pada OSA dengan sefalgia
Tabel 3. Sebaran karakteristik medik OSA dengan sefalgia
Ket : *) Uji Fisher Exact
Sefalgia pada Penderita Obstructive
Sleep Apnea di Laboratorium Tidur
RS Mitra Kemayoran, Jakarta
Maula Gaharu*, Andreas Prasadja**
*Dokter Spesialis Saraf WIN Pain Clinic, Kelapa Gading, Jakarta
** Dokter Sleep Technologist, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta
ABSTRAK
Latar Belakang: Sefalgia dan gangguan tidur diyakini terdapat keterkaitan antara keduanya, bahkan gangguan
tidur Obstructive Sleep Apnea (OSA) lebih sering disertai sefalgia dibandingkan gangguan tidur lain. Tujuan:
Mengetahui sefalgia pada gangguan tidur Obstructive Sleep Apnea. Metode: Penelitian potong lintang pada
populasi penderita gangguan tidur yang diperiksa di Laboratorium Tidur RS Mitra Kemayoran Jakarta. Periode
penelitian Januari hingga Desember 2007. Sebelum dilakukan pemeriksaan polisomnografi (PSG), pasien diberi
kuesioner mengenai manifestasi kilnis gangguan tidur. Hasil: Dari 65 orang, hanya 4 orang tidak mengalami
OSA berdasarkan pemeriksaan PSG. Derajat OSA pada sampel terdiri dari ringan 21.3%, sedang 23.0% dan
berat 55.7%. Proporsi laki-laki 98.4%. Rerata usia 43.86 tahun (SD 13.87). Kelompok usia terbanyak pada
kelompok usia >45 tahun (57.4%). Rerata Body Mass Index (BMI) 26.53 (SD 5.14). Rerata lingkar leher 44.84 cm
(SD 7.99). Rerata Apnea Hypopnea Index (AHI) 38.90 (SD 25.55) sedangkan rerata saturasi oksigen terendah
72.40% (SD 11.17). Manifestasi sefalgia pada OSA didapatkan pada 42 orang (68.9%) dengan rerata AHI 43.25
(SD 25.28), BMI 26.99 (SD 5.52), lingkar leher 45.92 (SD 8.18) dan saturasi oksigen terendah 71.69 (SD 11.50).
Didapatkan kemaknaan pada kejadian sefalgia dengan AHI dan derajat OSA. Kesimpulan: Sefalgia sering meny-
ertai OSA, sehingga perlu dicermati pada tatalaksana sefalgia.
Kata kunci: Sefalgia, Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Variabel
%
95% CI
Low
High
p
Jumlah
Derajat OSA
Berat
Sedang
Ringan
BMI*
Obesitas
Non-Obesitas
Gasping
Ya
Tidak
EDS
Ya
Tidak
Hipertensi
Ya
Tidak
Mendengkur*
Ya
Tidak
Unfreshed
Ya
Tidak
Insomnia
Ya
Tidak
Nokturia
Ya
Tidak
28
8
6
38
4
25
17
36
6
26
16
42
36
6
19
23
29
13
66.7
19.0
14.30
90.5
9.5
59.5
40.5
85.7
14.3
61.9
38.1
100
85.70
14.30
45.20
54.80
69.0
31.0
0.040
0.018
0.569
0.409
0.270
0.294
0.403
0.681
0.220
1.000
0.948
0.045
0.141
0.560
0.673
0.562
0.604
0.204
0.757
0.380
0.237
0.747
2.938
11.459
6.072
8.165
5.397
0.442
10.133
3.395
2.679
Rerata
p
Sefalgia
0.930
0.303
0.116
0.047
0.460
Usia
BMI
Lingkar leher
AHI
Saturasi oksigen
Ya
Rerata Ø SD
43.76 Ø 13.88
26.99 Ø 5.52
45.92 Ø 8.18
43.25 Ø 25.28
71.69 Ø 11.50
Tidak
Rerata Ø SD
43.76 Ø 13.88
26.99 Ø 5.52
45.92 Ø 8.18
43.25 Ø 25.28
74.00 Ø 10.53
Variabel
%
Jumlah
53
8
46
4
11
34
14
13
86.9
13.1
75.4
6.6
18
55.7
23.0
21.3
BMI
Obesitas
Non
Obesitas
Desaturasi Oksigen
Berat
Sedang
Ringan
Derajat OSA
Berat
Sedang
Ringan
Tabel 1. Sebaran medis (n=61)
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
401
HASIL PENELITIAN
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
402
HASIL PENELITIAN
DISKUSI
OSA merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai selain
insomnia; ditandai dengan periode henti nafas berulang, kadang
disertai mendengkur dan kantuk berlebih pada siang hari.
OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara
periodik saat tidur. Penyempitan ini disebabkan oleh kelainan
struktur anatomis atau gangguan neuromuskular.
(2)
Faktor risiko OSA meningkat seiring bertambahnya usia serta
berkorelasi dengan obesitas dan jenis kelamin. Prevalensi menin-
gkat pada dekade 5-6.
(1)
Pada penelitian ini, 58% kasus OSA
banyak terjadi pada kelompok usia > 45 tahun dan didominasi
pria (98.4%).
Sefalgia sering menyertai OSA; dibandingkan gangguan tidur
lain, sefalgia lebih sering terjadi pada gangguan tidur OSA.(5)
Literatur melaporkan prevalensi sefalgia pada OSA antara 30%
hingga >50%.
(7)
Pada penelitian ini, 68.9% OSA disertai
keluhan sefalgia. Pada penelitian Neau JP dkk
(7)
, sekitar 32.31%
penderita OSA mengalami sefalgia yang lebih dari separuh
(58.5%) berupa sefalgia pagi hari. Sedangkan Radford SBG dkk
(8)
melaporkan OSA pada 80.64% penderita sefalgia tipe klaster.
Kelman L dkk
(9)
melaporkan sekitar separuh penderita migren
mengalami gangguan tidur. Pada penelitian ini kami tidak melakukan
klasifikasi sefalgia.
Kendati keterkaitan antara OSA dan sefalgia masih kontroversial,
hipoksia intermiten diyakini berperan pada abnormalitas vasku-
lar pada OSA.
(2,10,11)
Bahkan hiperkoagulasi dapat terjadi akibat
hipoksia intermiten tersebut.
(12)
Pada penelitian ini rerata saturasi oksigen terendah 71.69%,
sedangkan pada penelitian lain rerata saturasi oksigen 88.4%.
(8)
Sama dengan penelitian Sand T dkk
(13)
dan Idiman F dkk
(6)
, pada
penelitian ini tidak didapatkan kemaknaan sefalgia dengan saturasi
oksigen terendah.
Kendati demikian hipoksia diyakini menjadi penyebab pada
sefalgia pada ketinggian (altitude headache), bahkan Kudrow L
dkk
(14)
melaporkan sefalgia pada OSA terjadi pada kadar saturasi
oksigen terendah 65%.
Berdasarkan derajat OSA, kami menemukan kemaknaan pada
AHI>30; serupa dengan Radford SBG dkk
(8)
yang melaporkan
80% OSA dengan sefalgia mulai terjadi pada derajat OSA
ringan-sedang (Respiratory Disturbance Index (RDI)>5).
Pada penelitian lain yang menghubungkan durasi tidur dengan
sefalgia, kelompok durasi tidur pendek (Ø 6 jam) lebih banyak
mengalami sefalgia dibandingkan kelompok durasi tidur normal.
(9)
Fragmentasi tidur pada OSA akan mengurangi durasi tidur
secara bermakna. Berbeda dengan Dodick DW dkk
(16)
yang
menyatakan bahwa pemicu sefalgia pada penderita gangguan
tidur adalah disfungsi sistim regulasi tidur.
Penelitian ini tidak melakukan intervensi terapi. Neau JP dkk
(7)
melakukan uvulopalatopharyngoplasti dan pemasangan
continuous positive air pressure (CPAP) pada OSA dengan
sefalgia; setelah setahun pemantauan didapatkan perbaikan pada
70.6% kasus meski tidak didapat perbedaan bermakna antara
kedua modalitas tersebut.
SIMPULAN
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang
sudah lama dikenal. Keterkaitan antara sefalgia dan OSA masih
kontroversial, namun dengan memperhatikan komorbiditas
sefalgia pada OSA diharapkan tatalaksana sefalgia dapat bersifat
holistik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sharma KS, Kumpawat S, Banga A, Goel A. Prevalence and risk factors of obstructive
sleep apnea syndrome in a population of Delhi,India. Chest 2006;130:149-156
2 Guilleminault C, Abad VC. Obstructive sleep apnea syndromes. Med Clin N Am
2004;88:611-630
3. Ohayon MM. Prevalence and risk factors of morning headaches in the general population.
Arch
Intern
Med
2004;164:97-102
4. Ulfberg J, Carter N, Talback M, Edling C. Headache, snoring and sleep apnoea. J neurol
1996;243:621-5
5. Aldrich MS, Chauncey JB. Are morning headache part of obstructive sleep apnea
syndrome? Arch Intern Med 1990;150:1265-7
6. Idiman F, Oztura I, Baklan B, Ozturk V, Kursad F, Pakoz B. Headache in sleep apnea
syndrome.
Headache
2004;44:603-606
7. Neau JP, Paquereau J, Bailbe M, Maurice JC, Ingrand P,Gil R. Relationship between sleep
apnoea syndrome, snoring and headache. Cephalalgia 2002;22:333-39
8. Radford SBG, Newman A. Obstructive sleep apnea and cluster headache. Headache
2004;44:607-10
9. Kelman L, Rains JC. Headache and sleep: examination of sleep patterns and complaints in
a large clinical sample of migraineurs. Headache 2005;45:904-10
10. Foster GE, Poulin MJ, Hanly PJ. Sleep apnoea & hypertension: Physiological bases for a
causal relation: Intermittent hypoxia and vascular function: implications for obstructive
sleep apnoea. Exp Physiol 2007;92:51-65
11. Kanel R, Dimsdale JE. Hemostatic alteration in patients with obstructive sleep apnea and
the implications for Cardiovascular Disease. Chest 2003;124:1956-67
12. Mc Nicholas WT, Bonsignore MR. Sleep apnoea as an independent risk factor for
cardiovas cular disease: current evidence, basic mechanism and research priorities.
Eur Respir J 2007;29:156-178
13. Sand T, Hagen K, Schrader H. Sleep apnoea and chronic headache. Cephalalgia 2003;23:90-95
14. Kudrow L, MacGinty DJ, Phillips ER, Stevenson M. Sleep apnea in cluster headache.
Cephalalgia
1984;4:33-8
15. Dodick DW, Eros EJ, Parish JM. Clinical, anatomical and physiologic relation- ship
between sleep and headache. Headache 2004;43:282-92
Pada CDK-171, vol. 36 (5) th. 2009 terdapat kesalahan penulisan dan cetak :
1. Daftar isi halaman 317 : Halaman 355 dan 358 dicetak dua kali, seharusnya satu kali.
2. Artikel Diare pada HIV oleh dr. Yuly : Halaman 344-6 terdapat kekurangan
keterangan pada diagram 2. Enteropatogen penyebab diare pada 100 sampel
tinja anak dengan AIDS.
ERATA
Diagram 2. Enteropatogen penyebab diare pada 100 sampel tinja anak dengan AIDS
Mohon maaf atas kesalahan/kekurangan ini.
Berikut kami muat kembali diagram tersebut dengan keterangannya yang benar.
3. Profil Prof. Dr. Djoko Widodo, DTM&H, SpPD-KPTI halaman 378, terdapat kesalahan tulis/cetak :
- Kolom 1, paragraf 4, kalimat 1 : Beliau telah mengumpulkan 9 artikel karya ilmiah hasil penelitian, 6 artikel karya ilmiah hasil
penelitian dan banyak lagi tulisan ilmiah sebagai penulis utama dan pembantu.
Seharusnya
:
Beliau telah membuat 9 karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan sebagai penulis utama, 6 karya ilmiah hasil
penelitian yang dipublikasikan sebagai penulis pembantu dan banyak lagi tulisan ilmiah sebagai penulis utama dan pembantu.
- Kolom 3, paragraf 4, kalimat 1: ......Apec......., seharusnya : APEC
- Kolom 3, paragraf 4, kalimat 2 : ......Sudjono Djuned Pusponegiri......, seharusnya Sudjono Djuned Pusponegoro.
Redaksi
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
401
HASIL PENELITIAN
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
402
HASIL PENELITIAN
DISKUSI
OSA merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai selain
insomnia; ditandai dengan periode henti nafas berulang, kadang
disertai mendengkur dan kantuk berlebih pada siang hari.
OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara
periodik saat tidur. Penyempitan ini disebabkan oleh kelainan
struktur anatomis atau gangguan neuromuskular.
(2)
Faktor risiko OSA meningkat seiring bertambahnya usia serta
berkorelasi dengan obesitas dan jenis kelamin. Prevalensi menin-
gkat pada dekade 5-6.
(1)
Pada penelitian ini, 58% kasus OSA
banyak terjadi pada kelompok usia > 45 tahun dan didominasi
pria (98.4%).
Sefalgia sering menyertai OSA; dibandingkan gangguan tidur
lain, sefalgia lebih sering terjadi pada gangguan tidur OSA.(5)
Literatur melaporkan prevalensi sefalgia pada OSA antara 30%
hingga >50%.
(7)
Pada penelitian ini, 68.9% OSA disertai
keluhan sefalgia. Pada penelitian Neau JP dkk
(7)
, sekitar 32.31%
penderita OSA mengalami sefalgia yang lebih dari separuh
(58.5%) berupa sefalgia pagi hari. Sedangkan Radford SBG dkk
(8)
melaporkan OSA pada 80.64% penderita sefalgia tipe klaster.
Kelman L dkk
(9)
melaporkan sekitar separuh penderita migren
mengalami gangguan tidur. Pada penelitian ini kami tidak melakukan
klasifikasi sefalgia.
Kendati keterkaitan antara OSA dan sefalgia masih kontroversial,
hipoksia intermiten diyakini berperan pada abnormalitas vasku-
lar pada OSA.
(2,10,11)
Bahkan hiperkoagulasi dapat terjadi akibat
hipoksia intermiten tersebut.
(12)
Pada penelitian ini rerata saturasi oksigen terendah 71.69%,
sedangkan pada penelitian lain rerata saturasi oksigen 88.4%.
(8)
Sama dengan penelitian Sand T dkk
(13)
dan Idiman F dkk
(6)
, pada
penelitian ini tidak didapatkan kemaknaan sefalgia dengan saturasi
oksigen terendah.
Kendati demikian hipoksia diyakini menjadi penyebab pada
sefalgia pada ketinggian (altitude headache), bahkan Kudrow L
dkk
(14)
melaporkan sefalgia pada OSA terjadi pada kadar saturasi
oksigen terendah 65%.
Berdasarkan derajat OSA, kami menemukan kemaknaan pada
AHI>30; serupa dengan Radford SBG dkk
(8)
yang melaporkan
80% OSA dengan sefalgia mulai terjadi pada derajat OSA
ringan-sedang (Respiratory Disturbance Index (RDI)>5).
Pada penelitian lain yang menghubungkan durasi tidur dengan
sefalgia, kelompok durasi tidur pendek (Ø 6 jam) lebih banyak
mengalami sefalgia dibandingkan kelompok durasi tidur normal.
(9)
Fragmentasi tidur pada OSA akan mengurangi durasi tidur
secara bermakna. Berbeda dengan Dodick DW dkk
(16)
yang
menyatakan bahwa pemicu sefalgia pada penderita gangguan
tidur adalah disfungsi sistim regulasi tidur.
Penelitian ini tidak melakukan intervensi terapi. Neau JP dkk
(7)
melakukan uvulopalatopharyngoplasti dan pemasangan
continuous positive air pressure (CPAP) pada OSA dengan
sefalgia; setelah setahun pemantauan didapatkan perbaikan pada
70.6% kasus meski tidak didapat perbedaan bermakna antara
kedua modalitas tersebut.
SIMPULAN
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang
sudah lama dikenal. Keterkaitan antara sefalgia dan OSA masih
kontroversial, namun dengan memperhatikan komorbiditas
sefalgia pada OSA diharapkan tatalaksana sefalgia dapat bersifat
holistik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sharma KS, Kumpawat S, Banga A, Goel A. Prevalence and risk factors of obstructive
sleep apnea syndrome in a population of Delhi,India. Chest 2006;130:149-156
2 Guilleminault C, Abad VC. Obstructive sleep apnea syndromes. Med Clin N Am
2004;88:611-630
3. Ohayon MM. Prevalence and risk factors of morning headaches in the general population.
Arch
Intern
Med
2004;164:97-102
4. Ulfberg J, Carter N, Talback M, Edling C. Headache, snoring and sleep apnoea. J neurol
1996;243:621-5
5. Aldrich MS, Chauncey JB. Are morning headache part of obstructive sleep apnea
syndrome? Arch Intern Med 1990;150:1265-7
6. Idiman F, Oztura I, Baklan B, Ozturk V, Kursad F, Pakoz B. Headache in sleep apnea
syndrome.
Headache
2004;44:603-606
7. Neau JP, Paquereau J, Bailbe M, Maurice JC, Ingrand P,Gil R. Relationship between sleep
apnoea syndrome, snoring and headache. Cephalalgia 2002;22:333-39
8. Radford SBG, Newman A. Obstructive sleep apnea and cluster headache. Headache
2004;44:607-10
9. Kelman L, Rains JC. Headache and sleep: examination of sleep patterns and complaints in
a large clinical sample of migraineurs. Headache 2005;45:904-10
10. Foster GE, Poulin MJ, Hanly PJ. Sleep apnoea & hypertension: Physiological bases for a
causal relation: Intermittent hypoxia and vascular function: implications for obstructive
sleep apnoea. Exp Physiol 2007;92:51-65
11. Kanel R, Dimsdale JE. Hemostatic alteration in patients with obstructive sleep apnea and
the implications for Cardiovascular Disease. Chest 2003;124:1956-67
12. Mc Nicholas WT, Bonsignore MR. Sleep apnoea as an independent risk factor for
cardiovas cular disease: current evidence, basic mechanism and research priorities.
Eur Respir J 2007;29:156-178
13. Sand T, Hagen K, Schrader H. Sleep apnoea and chronic headache. Cephalalgia 2003;23:90-95
14. Kudrow L, MacGinty DJ, Phillips ER, Stevenson M. Sleep apnea in cluster headache.
Cephalalgia
1984;4:33-8
15. Dodick DW, Eros EJ, Parish JM. Clinical, anatomical and physiologic relation- ship
between sleep and headache. Headache 2004;43:282-92
Pada CDK-171, vol. 36 (5) th. 2009 terdapat kesalahan penulisan dan cetak :
1. Daftar isi halaman 317 : Halaman 355 dan 358 dicetak dua kali, seharusnya satu kali.
2. Artikel Diare pada HIV oleh dr. Yuly : Halaman 344-6 terdapat kekurangan
keterangan pada diagram 2. Enteropatogen penyebab diare pada 100 sampel
tinja anak dengan AIDS.
ERATA
Diagram 2. Enteropatogen penyebab diare pada 100 sampel tinja anak dengan AIDS
Mohon maaf atas kesalahan/kekurangan ini.
Berikut kami muat kembali diagram tersebut dengan keterangannya yang benar.
3. Profil Prof. Dr. Djoko Widodo, DTM&H, SpPD-KPTI halaman 378, terdapat kesalahan tulis/cetak :
- Kolom 1, paragraf 4, kalimat 1 : Beliau telah mengumpulkan 9 artikel karya ilmiah hasil penelitian, 6 artikel karya ilmiah hasil
penelitian dan banyak lagi tulisan ilmiah sebagai penulis utama dan pembantu.
Seharusnya
:
Beliau telah membuat 9 karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan sebagai penulis utama, 6 karya ilmiah hasil
penelitian yang dipublikasikan sebagai penulis pembantu dan banyak lagi tulisan ilmiah sebagai penulis utama dan pembantu.
- Kolom 3, paragraf 4, kalimat 1: ......Apec......., seharusnya : APEC
- Kolom 3, paragraf 4, kalimat 2 : ......Sudjono Djuned Pusponegiri......, seharusnya Sudjono Djuned Pusponegoro.
Redaksi