320
e
n
G
l
I
S
h
S
u
M
M
A
R
Y
|
a g u s t u s 2 0 0 9
321
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Abstrak
Toxic shock syndrome (TSS) adalah suatu kumpulan gejala yang dapat mengancam jiwa, ditandai oleh demam tinggi, nyeri
tenggorok, eritema difus, hiperemia membrana mukosa, mual / muntah, diare dan gejala-gejala penyerta lainnya.
TSS disebabkan oleh strain Staphylococcus aureus yang normalnya ditemukan di hidung, mulut, tangan dan kadang-kadang
vagina. Dilaporkan terjadi setelah serangan influenza dengan angka mortalitas 43%; pemakaian tampon dapat mengakibatkan
TSS pada sekitar 20-40% populasi dewasa.
Kata kunci : Toxic shock syndrome, infeksi Staphylococcus aureus
Efficacy of stagnant
chlorhexidine gluconate
0.5% solution for hand
washing
Wening Sari
Faculty of Medicine YaRsI university,
Jakarta, Indonesia
Handwashing, the primer action to
prevent cross transmission and nosocomial
infection, should be done with optimal an-
tiseptic and running water; but it is difficult
under limited resources.
The aim of this study is to assess the ef-
ficacy of stagnant chlorhexidine glucona te
0.5% solution in reducing hand contamina-
tion during 5 hours observation. The speci-
mens were taken from fingertip of 25 health-
care workers placed in nutrient agar plate
before and after handwashing in stagnant
chlorhexidine gluconate 0.5% at the 1
st
, 2
nd
,
3
rd
, 4
th
and 5
th
hour of observation. As control,
0,5 ml solution was taken before and after 5
hours usage to observe bacteria growth.
There was significant reduction of
bacteria population in healthcare work-
ers' hand after handwashing (p=0.00) and
no significant difference between the 1
st
,
2
nd
, 3
rd
, 4
th
and 5
th
hours of handwashing
(p=0.67). Bacteria growth found at 2 out of
5 sample solution.
We conclude that handwashing can
reduce hand bacteria population and stag-
nant solution of chlorhexidine gluconate
0.5% can be used for handwashing in limit-
ed resources.
Keywords: chlorhexidine, hand hygiene,
nosocomial infection
CDK 2009; 36 (5) : 324-327
Susceptibility Patterns
of Salmonella typhi and
Salmonella paratyphi
A to Ciprofloxacin,
Levofloxacin,
Chloramphenicol,
Tetracycline, Ceftriaxone
and Trimethoprim-
Sulfamethoxazole in
Jakarta, 2002-2008
Lucky H Moehario, Enty*, Ariyani
Kiranasari
Department of Microbiology, Faculty of
Abstract
Antimicrobial drug resistance is a world-
wide problem that is exacerbated by the
diminishing number of new antimicrobial
drugs, especially in hospitals in Asia and the
Pacific. As the pattern of bacterial resistance
is constantly changing, monitoring of antimi-
crobial susceptibilities is important.
This is an analysis of antimicrobial resis-
tance patterns of bacteria isolated from 390
various specimens from hospitalized patients
and outpatients over a two-year period (Jan-
uary 2006 to December 2007). This report
identified high rates of resistance, especially
to Gram-Negative bacteria.
Keywords : antimicrobial, resistance,
Gram-Negative bacteria
CDK 2009; 36 (5) : 330-339
The Prospect of Nucleic-
Acid Based Immune
System RNAi as Potent
Antiviral Agents
Andreas Soejitno
1
, Prichilia Sarah
Permadi
1
, Desak Made Wihandani
2
1
undergraduate 4
th
semester Faculty of
Medicine udayana university,Denpasar,
Indonesia,
2
Department of Biochemistry and
Biomolecular Faculty of Medicine udayana
university, Denpasar, Indonesia
The invention of RNA interference
(RNAi) machinery as a gene expression
silencer may revolutionize the approach
to infectious diseases treatment. A long-
standing problem such as viral resistance
to chemotherapeutic agents due to the high
rate of mutation seen in HIV-1 may soon
be overcome by the application of RNAi as
a nucleic-acid based immune system. The
RNAi uses dsRNAs converted into mul-
tiple siRNAs which is designed to be highly
complement to the targeted RNA (i.e. viral
RNAs or mRNAs). Through the incorpo-
ration to RISC and unwinding of siRNAs,
it target and bind the viral RNAs or mR-
NAs of interest, and subsequently destroy
it before the viral RNAs are integrated into
host genome or mRNAs are translated to
become amino acids and later, the viral
products. This article discuss future thera-
peutic potential of RNAi in response to vi-
ral infections.
Keywords: RNAi, antiviral agent, gene
silencing, dsRNA, siRNA
CDK 2009; 36 (5) : 340-343
Medicine, university of Indonesia, Jakarta,
Indonesia , * Department of Microbiology,
Faculty of Medicine, Catholic university of
atmajaya, Indonesia
Enteric fever caused by Salmonella en-
terica subsp. enterica serovar Typhi (S.typhi)
and Salmonella enterica subsp. enterica
serovar Paratyphi A (S. paratyphi A), still
remain a global problem, especially in
countries with poor hygiene. The preva-
lence of Typhoid Fever in Indonesia was
358-810/100,000 population in 2007, 64%
was found in age 3-19 years. Mortality rate
varies from 3.1-10.4% among hospitalized
patients. Worldwide emergence of multi-
drug resistant strains of S. typhi to antimi-
crobials Chloramphenicol, Trimethoprim-
Sulfamethoxazole and Ampicillin has been
reported. S. typhi strains resistant to fluo-
roquinolone has also been found in India,
United States, United Kingdom, Vietnam,
Korea and many more.
This study described susceptibility pat-
terns of S. typhi and S. paratyphi A to several
antibiotics in the last six years in Jakarta.
S.
typhi isolated from blood specimens in Labo-
ratory of Clinical Microbiology, Faculty of
Medicine Univ. Indonesia during 2002-2008
were tested for their susceptibility patterns
to antibiotics: Ciprofloxacin, Levofloxacin,
Chloramphenicol, Ceftriaxone, Tetracy-
cline and Trimethoprim-Sulfamethoxazole.
Among 35 isolates of S. typhi, all were found
susceptible to Ciprofloxacin, Levofloxacin,
Tetracycline and Trimethoprim-Sulfame-
thoxazole, and more than 90% were also
susceptible to Chloramphenicol and Cef-
triaxone. While 6 isolates of S. paratyphi A
showed 100% sensitivity to those antibiotics
tested. The results showed good susceptibility
of all antibiotics against S. typhi and S. para-
typhi A in vitro. Nevertheless, clinicians must
pay attention in the interpretation of this
susceptibility patterns due to low number of
isolates tested.
Key word: S. typhi and S. paratyphi
A, Ciprofloxacin, Levofloxacin,
Chloramphenicol, Tetracycline,
Ceftriaxone and Trimethoprim-
Sulfamethoxazole.
CDK 2009; 36 (5) : 328
Pattern of Microbes and
Its Susceptilibity in Dr.Oen
Hospital
Rizal
Dr Oen Hospital, Central Java, Indonesia
PENDAHULUAN
Toxic shock syndrome (TSS) adalah
suatu kumpulan gejala yang dapat meng-
ancam jiwa, ditandai oleh demam tinggi,
nyeri tenggorok, eritema difus, hiperemia
membran mukosa, mual/muntah, diare,
dan gejala-gejala penyerta lainnya. TSS
dapat secara cepat berkembang menjadi
disfungsi multisistem disertai gangguan
elektrolit berat, gagal ginjal dan syok. TSS
pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Jim
Todd (1978), ahli epidemiologi di rumah
sakit anak-anak Denver.
(1,2,3)
TSS pertama kali mendapat perhatian
publik pada tahun 1970, tidak lama setelah
diperkenalkannya pembalut serap tinggi.
Epidemi serius dialami oleh wanita muda
Amerika, yang gejala-gejalanya tidak dapat
dijelaskan, mereka datang dengan demam
tinggi, tekanan darah rendah, diare dan
ruam kulit seperti tersengat matahari. Mes-
kipun TSS berhubungan dengan wanita
menstruasi, penyakit ini dapat menyerang
semua jenis kelamin, usia atau ras. Infeksi
dapat terjadi pada anak-anak, laki-laki dan
wanita, yang mengalami pembedahan, luka
atau sakit, dan yang tidak dapat melawan
infeksi Staphylococcus .
(4)
TSS telah dihubungkan dengan pem-
bedahan rinologi dan alat-alat medis, dan
dikaitkan dengan suatu eksotoksin berasal
dari Staphylococcus aureus yang bersirku-
lasi dalam darah dan bersifat toksogenik.
Sebanyak 30% pasien yang menjalani pem-
bedahan merupakan karier Staphylococcus
aureus. Pengguna kokain, dekongestan
topikal, dan spray steroid memiliki ting-
kat karier yang lebih tinggi secara statistik
dibandingkan mereka yang tidak meng-
gunakannya.
(5)
Thomas dkk yang pertama kali mela-
porkan kasus TSS yang menjalani bedah
nasal, Younis (1991) menggambarkan
TSS yang dihubungkan dengan FESS.
Insiden TSS pasca semua jenis bedah na-
sal baru-baru ini diperkirakan sebanyak
16,5/100.000 kasus. Sebagian besar kasus
yang dilaporkan tersebut berhubungan
dengan pemasangan tampon hidung dan
atau septal splint dan menunjukan gejala
klinik TSS dalam waktu 48 jam periope-
ratif.
(5,6)
TOXIC SHOCK SYNDROME
TOXIN-1 (TSST-1)
TSST-1 merupakan turunan dari
protein yang dikenal sebagai "pyrogenic
toxin superantigens" (PTSAs). Turunan
protein ini juga termasuk Staphylococ-
cus enteretoxins A-I, kecuali F dan Strep-
tococcal pyrogenic exotoxins (SPE) A-C
dan F.
(1,7
, melampaui aktivitas sejumlah
substansial T-sel. Namun demikian, ti-
dak seperti antibodi yang menstimulasi
sel-sel T sesuai dengan epitope spesifik
melalui berbagai macam regio TCR, su-
perantigen seperti TSST-1 berinteraksi
dengan TCR tergantung pada haplotipe
masing-masing. Aktivitas ini sangat ber-
peran penting dalam pelepasan beberapa
sitokin, yang nantinya dapat berperan
dalam patogenesis TSS.
PATOGENESIS
(1,2,4,6,8)
Hidung adalah tempat yang paling se-
ring terjadi kolonisasi Staphylococcus aure-
us. Rusaknya barier mukosa meningkatkan
risiko pada pasien yang rentan TSS. Pada
keadaan normal secara fisiologis silia dan
mukosa blanket yang intak melapisi jalan
nafas dan berperan dalam mekanisme mu-
cocillary clearance sebagai pertahanan ter-
hadap kontak dengan bakteri.
Aksi langsung yang memperlambat,
menghambat pergerakan silia dan mukosa
blanket akan menyebabkan organisme me-
netap di saluran nafas dan berkembang
biak pada mukosa yang stagnant. Kemung-
kinan keringnya mukosa blanket setelah
trauma operasi dan kerusakan mukosa
akan mengakibatkan tidak aktifnya mu-
cociliary clearance dan merupakan tempat
masuknya toksin bakteri.
Tindakan yang dapat meningkatkan
risiko meliputi penggunaan alat-alat medis
seperti tampon hidung dan septal splints.
Sebagian besar kasus TSS secara lang-
sung disebabkan oleh kolonisasi atau infek-
si Staphylococcus aureus yang mensekresi
eksotoksin dan dikenal sebagai toxic shock
syndrome toxin-1 (TSST-1). Sifat biologis
yang dimiliki oleh TSST-1 adalah sebagai
berikut:
Menimbulkan demam dengan cara
1.
menginduksi hipotalamus secara
langsung atau secara tidak lang-
sung melalui interleukin 1(IL-1) dan
memproduksi Tumor Necrosis Factor
(TNF)
Toxic Shock Syndrome
Sutji Pratiwi Rahardjo
Bagian Ilmu Kesehatan tHt-KL, Fakultas Kedokteran
universitas Hasanuddin, Makkasar, sulawesi selatan, Indonesia
322
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
323
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Menimbulkan superantigenisasi
2.
dan stimulasi berlebihan terhadap
limfosit T
Merangsang produksi interferon
3.
Meningkatkan hipersensitifitas tipe
4.
lambat
Menekan migrasi netrofil dan sekresi
5.
imunolgobulin
Meningkatkan kerentanan penjamu
6.
terhadap endotoksin
Sebanyak 90% kasus TSS akibat mens-
truasi (TSSAM) adalah disebabkan oleh
strain S. aureus yang menghasilkan TSST-1,
sedangkan pada kasus TSS non menstrua-
si (TSSANM), TSST-1 hanya ditemukan
pada kurang dari separuh kasus. Entero-
toksin B dan C telah berhasil diidentifikasi
dari bahan isolasi TSSANM dan memiliki
struktur biokimiawi yang hampir identik
dengan yang terdapat pada TSST-1. Hal ini
dapat menjelaskan kemiripan gambaran
klinis TSSAM dan TSSANM.
Aspek paling menarik dari patofisiolo-
gi adalah vasodilatasi masif dan perpinda-
han cepat protein serum dan cairan ruang
intravaskuler ke ekstravaskuler.
Hipotensi disebabkan oleh :
Menurunnya tonus vasomotor
1.
menimbulkan penimbunan darah di
perifer dan kemudian menyebabkan
turunnya tekanan vena sentral dan
tekanan kapiler paru.
Kebocoran cairan yang bersifat non
2.
hidrostatik ke dalam jaringan intersti-
tium, menyebabkan turunnya volume
intravaskuler dan udem secara me-
nyeluruh, terutama di daerah kepala
dan leher
Menurunnya fungsi jantung, termasuk
3.
berkurangnya pergerakan otot jantung
dan berkurangnya fraksi kontraksi
Berkurangnya cairan tubuh total aki-
4.
bat muntah, diare, dan demam.
Dibutuhkan beberapa faktor untuk
berkembang menjadi sindroma yaitu :
Individu harus terinfeksi dengan
1.
Staphylococcus aureus yang mem-
produksi TSST-1 atau implikasi toksin
lainnya.
Toksin kemudian menyebar pada kulit
2.
atau barier membran mukosa pada
daerah kolonisasi.
Pada pasien harus terdapat risiko in-
3.
feksi karena kekurangan antibodi anti-
toksin atau faktor protektif lainnya.
ETIOLOGI
(4,,8-11)
TSS disebabkan oleh strain Staphylo-
coccus aureus yang normalnya ditemukan
pada hidung , mulut, tangan dan kadang-
kadang vagina. Bakteri menghasilkan tok-
sin yang karasteristik. Dalam jumlah yang
cukup besar, toksin dapat masuk peredaran
darah dan menyebabkan infeksi yang ber-
potensial menjadi fatal.
Faktor Predisposisi :
Influenza
·
Stomatitis
·
Tracheitis
·
Penggunaan obat intravena
·
Infeksi HIV
·
Luka bakar
·
Dermatitis kontak alergi
·
Infeksi kandungan
·
Post partum
·
Infeksi pasca operasi
·
Tampon hidung
·
Diabetes mellitus
·
EPIDEMIOLOGI
(5,7,8)
Pada awal tahun 1980 dilaporkan ka-
sus TSS non menstrual yang dihubungkan
dengan berbagai macam prosedur operasi
misalnya pada rinoplasti, pemakaian tam-
pon hidung dan kondisi kesehatan misal-
nya pneumonia, influenza dan infeksi.
TSS dilaporkan terjadi menyusul
sete lah serangan influenza dan penyakit
menyerupai influenza dengan angka mor-
talitas yang signifikan (43%). Pemakaian
tampon juga dapat mengakibatkan TSS
(20%-40%) pada populasi dewasa
Pengguna kokain, dekongestan topikal,
steroid spray memiliki tingkat karier terha-
dap S. aureus lebih tinggi secara statistik
dibandingkan dengan mereka yang tidak
menggunakannya.
GAMBARAN KLINIK
(8,11,12,13)
Waktu rata-rata yang dibutuhkan
hingga timbulnya penyakit pada TSS pasca
bedah adalah 2 hari. Kasus TSS minor ri-
ngan umumnya ditandai dengan demam,
menggigil, mialgia, nyeri abdomen, sakit
tenggorokan, mual, muntah dan diare.
Kasus TSS major dapat terjadi secara akut
di sertai gangguan multisistem berbagai or-
gan dan kelainan laboratorium.
Pemeriksaan fisis
Demam lebih dari 102
o
F (38,9
o
C)
Hipotensi atau penurunan tekanan sis-
·
tol sebesar 15 mmHg. Stadium awal bi-
asanya berlangsung sekitar 24-48 jam,
pasien akan mengalami disorientasi
dan oligouri
Udem wajah dan ekstremitas akibat
·
kebocoran cairan intravaskuler ke da-
lam ruang interstitial
Kelemahan dan kaku otot
·
Distensi abdomen
·
½-3/4 penderita mengalami faringitis
·
dan lidah kemerahan
Konjungtiva hiperemis
·
Eritroderma difus akan terjadi selama
·
3 hari dan kemudian diikuti oleh des-
kuamasi yang tebal terutama di telapak
tangan dan telapak kaki selama masa
penyembuhan.
Penderita dengan gejala sangat berat
·
akan mengalami kerontokan rambut
dan kuku 2-3 bulan kemudian.
Radiologis :
Menunjukkan gambaran acute respira-
tory distress syndrome (ARDS) atau udem
paru, dengan tanda soft tissue swelling pada
lokasi infeksi.
Elektrokardiogram :
Aritmia ventrikuler
·
Bundle branch block
·
Blok jantung derajat 1
·
DIAGNOSIS
(6,7,8,13)
TSS didiagnosis jika ditemukan 4 geja-
la mayor dan paling sedikit 3 gejala minor
(tabel 1).
Perawatan ICU :
Resusitasi cairan dan pemberian oksigen
dilanjutkan.
Monitor denyut jantung , respirasi dan
tekanan darah :
Resusitasi cairan
·
24 jam pertama penderita memer-
1.
lukan 4-20 liter larutan kristaloid
dan fresh frozen plasma
Mungkin dapat diberikan infus
2.
dopamin dengan dosis awal 5-20
µg/kgbb bila restriksi cairan
gagal memulihkan tekanan
normal.
Terapi oksigen :
Untuk memaksimalkan oksigenisasi
·
jaringan
Untuk mengoreksi hipoksia dan atau
·
asidosis.
Terapi hiperbarik oksigen digunakan
·
pada infeksi jaringan nekrosis
Monitoring jantung, dengan
·
pengobat an aritmia grade tinggi
Monitoring gas darah
·
Pasang kateter untuk monitoring
·
urine
Tampon (jika ada) diangkat
·
Fokus infeksi cepat dicari dan diobati
·
segera. Biakan dari semua kemungkin-
an tempat infeksi sebaiknya dilakukan,
termasuk biakan darah sebelum terapi
antibiotik.
Terapi antibiotik :
Amoksisilin dengan laktamase sep-
·
erti: klavulanat atau sulbaktam 1-2 g.
tiap 4 jam; jika alergi terhadap penisi-
lin dapat diberi vankomisin atau klin-
damisin, 600-900 mg IV per 8 jam atau
eritromisin 1 g. tiap 6 jam selama 3 hari
dilanjutkan dengan dikloksasillin oral
atau klindamisin oral pada penderita
alergi penisilin selama 10-14 hari.
Metilprednisolon dan imunoglobulin
·
intravena.
PROGNOSIS
(4,6)
Prognosis sangat dipengaruhi oleh la-
manya syok, gangguan organ sekunder, ke-
cepatan pendeteksian dan intervensi medis
yang serius. n
Pemeriksaan laboratorium
Leukositosis
·
Limfositopenia
·
Anemia ringan ( anemia hemolitik
·
mikroangiopati )
Gangguan fungsi hati SGOT dan
·
SGPT meningkat, Hiperbilirubinemia
PTT meningkat, PT normal
·
Azotemia, mioglobinuria dan sedimen
·
urin abnormal (pyuria dan red cell
casts) setelah terjadi gagal ginjal akut.
Gangguan elektrolit
·
Gambaran deskuamasi pada telapak
tangan, eritroderma difus pada leher dan
ekstremitas
(2,4,7)
A. Gejala mayor:
Gastrointestinal
muntah atau diare pada saat onset penyakit
Muskuler
mialgia yang berat atau kadar phosphokinase kreatin paling
sedikit 2 kali di atas nilai normal.
Mukosa
membran
hiperemi vagina, orofaring atau konjungtiva
Renal
Blood Urea Nitrogen (BUN) atau kreatinin paling sedikit 2 kali
di atas batas normal atau sedimen urin dengan pyuria tanpa
adanya infeksi saluran kencing.
Hematologi
trombosit < 100.000
Sistem saraf
pusat
Disorentasi atau perubahan pada kesadaran tanpa tanda fokal
neurologi dengan tidak disertai adanya demam dan hipotensi.
Serologi
Tes serologi negatif untuk Rocky Mountain spotted fever, lep-
tospirosis dan measles.
B. Gejala minor:
Demam > 38,9
o
C disertai menggigil dan sakit tenggorok
Ruam dan deskuanasi
Myalgia, nyeri abdomen, mual / muntah dan diare
Tabel 1. Gejala Toxic Shock Syndrome
DIAGNOSIS BANDING
(7,8,11)
Sindrom virus akut
·
Leptospirosis
·
Sindrom lupus eritematous
·
Gastroenteritis
·
Penyakit Kawasaki
·
Demam scarlet staphylococcus
·
PENGOBATAN
(2,6,8,11,)
Pengobatan TSS tergantung derajatnya.
Aspek pengobatan awal yang paling pen-
ting adalah penatalaksanaan syok sirkulasi
segera. Pengawasan terus menerus atas de-
nyut jantung, pernafasan, tekanan darah,
saturasi oksigen, output urin, dan tekanan
vena sentral.
Perawatan sebelum masuk rumah sakit:
Mulai segera resusitasi cairan secara
·
agresif, terutama pada hipotensi
Pemberian oksigen
·
Chatila T. Toxic Shock Syndrome,
1.
www.emedicine.com/ent, April 2000 : 1-6
Levin RM. Toxic shock Syndrome,
2.
www.emedicine.com,inc. November 20,2001 : 1-10.
Lund VJ. the Complications of Sinusitis, In: Scott-Brown's Otolaryngology, 6th ed, vol. 4.
3.
London:Butterworth 1997: 4/13/9.
Turkington CA. Toxic Shock Syndrome.
4.
www.emedicine.com,inc. 2004 : 1-3
Gittelman PD, Jacobs JB. Staphylococcus aureus Nasal Carriage in Patients with Rhinosinusitis. Laryngo-
5.
scope 1991;101(7 Part 1): 733-736.
Abram AC, Bellian KT. Toxic Shock Syndrome After Functional Endonasal Sinus Surgery : An all or none
6.
phenomena. Laryngoscope 1994;104(8 Part 1): 927-931.
Issa NC, Thompson RL, Toxic Shock Syndrome,
7.
www.emedicine.com,inc. October 2001 :1-4.
Perry SJ, Harwood AL, Toxic Shock Syndrome and Streptococcal Toxic Shock Syndrome, In: Emergency
8.
Medicine A Comprehensive Study Guide, 5thed, McGraw-Hill, New York, 2000 : 946-950.
Cullen MM, Leopold DA, Nasal Emergencies, In: Emergencies of the Head and Neck. Philadelphia:Mosby
9.
Inc, 2000: 243-244.
Santos PM, Lepore ML. Epistaxis. In: Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Bailey BJ (ed.) Vol. IA ,2nd
10.
ed. Philadelphia: Lippincott-Raven Publ. 1998: 520.
Salandy D. Toxic Shock Syndrome,
11.
www.emedicine.com,inc. July 26, 2002 : 1-10.
Brenner B. Toxic Shock Syndrome,
12.
www.emedicine.com,inc. March 7, 2003 : 1-3.
Fisher CJ, Celi LA. Toxic Shock Syndome. In Critical Care, 3rd ed, Philadelphia:WB Saunders Co. 1995 :1305-
13.
1308.
DAFTAR PUSTAKA
322
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
323
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Menimbulkan superantigenisasi
2.
dan stimulasi berlebihan terhadap
limfosit T
Merangsang produksi interferon
3.
Meningkatkan hipersensitifitas tipe
4.
lambat
Menekan migrasi netrofil dan sekresi
5.
imunolgobulin
Meningkatkan kerentanan penjamu
6.
terhadap endotoksin
Sebanyak 90% kasus TSS akibat mens-
truasi (TSSAM) adalah disebabkan oleh
strain S. aureus yang menghasilkan TSST-1,
sedangkan pada kasus TSS non menstrua-
si (TSSANM), TSST-1 hanya ditemukan
pada kurang dari separuh kasus. Entero-
toksin B dan C telah berhasil diidentifikasi
dari bahan isolasi TSSANM dan memiliki
struktur biokimiawi yang hampir identik
dengan yang terdapat pada TSST-1. Hal ini
dapat menjelaskan kemiripan gambaran
klinis TSSAM dan TSSANM.
Aspek paling menarik dari patofisiolo-
gi adalah vasodilatasi masif dan perpinda-
han cepat protein serum dan cairan ruang
intravaskuler ke ekstravaskuler.
Hipotensi disebabkan oleh :
Menurunnya tonus vasomotor
1.
menimbulkan penimbunan darah di
perifer dan kemudian menyebabkan
turunnya tekanan vena sentral dan
tekanan kapiler paru.
Kebocoran cairan yang bersifat non
2.
hidrostatik ke dalam jaringan intersti-
tium, menyebabkan turunnya volume
intravaskuler dan udem secara me-
nyeluruh, terutama di daerah kepala
dan leher
Menurunnya fungsi jantung, termasuk
3.
berkurangnya pergerakan otot jantung
dan berkurangnya fraksi kontraksi
Berkurangnya cairan tubuh total aki-
4.
bat muntah, diare, dan demam.
Dibutuhkan beberapa faktor untuk
berkembang menjadi sindroma yaitu :
Individu harus terinfeksi dengan
1.
Staphylococcus aureus yang mem-
produksi TSST-1 atau implikasi toksin
lainnya.
Toksin kemudian menyebar pada kulit
2.
atau barier membran mukosa pada
daerah kolonisasi.
Pada pasien harus terdapat risiko in-
3.
feksi karena kekurangan antibodi anti-
toksin atau faktor protektif lainnya.
ETIOLOGI
(4,,8-11)
TSS disebabkan oleh strain Staphylo-
coccus aureus yang normalnya ditemukan
pada hidung , mulut, tangan dan kadang-
kadang vagina. Bakteri menghasilkan tok-
sin yang karasteristik. Dalam jumlah yang
cukup besar, toksin dapat masuk peredaran
darah dan menyebabkan infeksi yang ber-
potensial menjadi fatal.
Faktor Predisposisi :
Influenza
·
Stomatitis
·
Tracheitis
·
Penggunaan obat intravena
·
Infeksi HIV
·
Luka bakar
·
Dermatitis kontak alergi
·
Infeksi kandungan
·
Post partum
·
Infeksi pasca operasi
·
Tampon hidung
·
Diabetes mellitus
·
EPIDEMIOLOGI
(5,7,8)
Pada awal tahun 1980 dilaporkan ka-
sus TSS non menstrual yang dihubungkan
dengan berbagai macam prosedur operasi
misalnya pada rinoplasti, pemakaian tam-
pon hidung dan kondisi kesehatan misal-
nya pneumonia, influenza dan infeksi.
TSS dilaporkan terjadi menyusul
sete lah serangan influenza dan penyakit
menyerupai influenza dengan angka mor-
talitas yang signifikan (43%). Pemakaian
tampon juga dapat mengakibatkan TSS
(20%-40%) pada populasi dewasa
Pengguna kokain, dekongestan topikal,
steroid spray memiliki tingkat karier terha-
dap S. aureus lebih tinggi secara statistik
dibandingkan dengan mereka yang tidak
menggunakannya.
GAMBARAN KLINIK
(8,11,12,13)
Waktu rata-rata yang dibutuhkan
hingga timbulnya penyakit pada TSS pasca
bedah adalah 2 hari. Kasus TSS minor ri-
ngan umumnya ditandai dengan demam,
menggigil, mialgia, nyeri abdomen, sakit
tenggorokan, mual, muntah dan diare.
Kasus TSS major dapat terjadi secara akut
di sertai gangguan multisistem berbagai or-
gan dan kelainan laboratorium.
Pemeriksaan fisis
Demam lebih dari 102
o
F (38,9
o
C)
Hipotensi atau penurunan tekanan sis-
·
tol sebesar 15 mmHg. Stadium awal bi-
asanya berlangsung sekitar 24-48 jam,
pasien akan mengalami disorientasi
dan oligouri
Udem wajah dan ekstremitas akibat
·
kebocoran cairan intravaskuler ke da-
lam ruang interstitial
Kelemahan dan kaku otot
·
Distensi abdomen
·
½-3/4 penderita mengalami faringitis
·
dan lidah kemerahan
Konjungtiva hiperemis
·
Eritroderma difus akan terjadi selama
·
3 hari dan kemudian diikuti oleh des-
kuamasi yang tebal terutama di telapak
tangan dan telapak kaki selama masa
penyembuhan.
Penderita dengan gejala sangat berat
·
akan mengalami kerontokan rambut
dan kuku 2-3 bulan kemudian.
Radiologis :
Menunjukkan gambaran acute respira-
tory distress syndrome (ARDS) atau udem
paru, dengan tanda soft tissue swelling pada
lokasi infeksi.
Elektrokardiogram :
Aritmia ventrikuler
·
Bundle branch block
·
Blok jantung derajat 1
·
DIAGNOSIS
(6,7,8,13)
TSS didiagnosis jika ditemukan 4 geja-
la mayor dan paling sedikit 3 gejala minor
(tabel 1).
Perawatan ICU :
Resusitasi cairan dan pemberian oksigen
dilanjutkan.
Monitor denyut jantung , respirasi dan
tekanan darah :
Resusitasi cairan
·
24 jam pertama penderita memer-
1.
lukan 4-20 liter larutan kristaloid
dan fresh frozen plasma
Mungkin dapat diberikan infus
2.
dopamin dengan dosis awal 5-20
µg/kgbb bila restriksi cairan
gagal memulihkan tekanan
normal.
Terapi oksigen :
Untuk memaksimalkan oksigenisasi
·
jaringan
Untuk mengoreksi hipoksia dan atau
·
asidosis.
Terapi hiperbarik oksigen digunakan
·
pada infeksi jaringan nekrosis
Monitoring jantung, dengan
·
pengobat an aritmia grade tinggi
Monitoring gas darah
·
Pasang kateter untuk monitoring
·
urine
Tampon (jika ada) diangkat
·
Fokus infeksi cepat dicari dan diobati
·
segera. Biakan dari semua kemungkin-
an tempat infeksi sebaiknya dilakukan,
termasuk biakan darah sebelum terapi
antibiotik.
Terapi antibiotik :
Amoksisilin dengan laktamase sep-
·
erti: klavulanat atau sulbaktam 1-2 g.
tiap 4 jam; jika alergi terhadap penisi-
lin dapat diberi vankomisin atau klin-
damisin, 600-900 mg IV per 8 jam atau
eritromisin 1 g. tiap 6 jam selama 3 hari
dilanjutkan dengan dikloksasillin oral
atau klindamisin oral pada penderita
alergi penisilin selama 10-14 hari.
Metilprednisolon dan imunoglobulin
·
intravena.
PROGNOSIS
(4,6)
Prognosis sangat dipengaruhi oleh la-
manya syok, gangguan organ sekunder, ke-
cepatan pendeteksian dan intervensi medis
yang serius. n
Pemeriksaan laboratorium
Leukositosis
·
Limfositopenia
·
Anemia ringan ( anemia hemolitik
·
mikroangiopati )
Gangguan fungsi hati SGOT dan
·
SGPT meningkat, Hiperbilirubinemia
PTT meningkat, PT normal
·
Azotemia, mioglobinuria dan sedimen
·
urin abnormal (pyuria dan red cell
casts) setelah terjadi gagal ginjal akut.
Gangguan elektrolit
·
Gambaran deskuamasi pada telapak
tangan, eritroderma difus pada leher dan
ekstremitas
(2,4,7)
A. Gejala mayor:
Gastrointestinal
muntah atau diare pada saat onset penyakit
Muskuler
mialgia yang berat atau kadar phosphokinase kreatin paling
sedikit 2 kali di atas nilai normal.
Mukosa
membran
hiperemi vagina, orofaring atau konjungtiva
Renal
Blood Urea Nitrogen (BUN) atau kreatinin paling sedikit 2 kali
di atas batas normal atau sedimen urin dengan pyuria tanpa
adanya infeksi saluran kencing.
Hematologi
trombosit < 100.000
Sistem saraf
pusat
Disorentasi atau perubahan pada kesadaran tanpa tanda fokal
neurologi dengan tidak disertai adanya demam dan hipotensi.
Serologi
Tes serologi negatif untuk Rocky Mountain spotted fever, lep-
tospirosis dan measles.
B. Gejala minor:
Demam > 38,9
o
C disertai menggigil dan sakit tenggorok
Ruam dan deskuanasi
Myalgia, nyeri abdomen, mual / muntah dan diare
Tabel 1. Gejala Toxic Shock Syndrome
DIAGNOSIS BANDING
(7,8,11)
Sindrom virus akut
·
Leptospirosis
·
Sindrom lupus eritematous
·
Gastroenteritis
·
Penyakit Kawasaki
·
Demam scarlet staphylococcus
·
PENGOBATAN
(2,6,8,11,)
Pengobatan TSS tergantung derajatnya.
Aspek pengobatan awal yang paling pen-
ting adalah penatalaksanaan syok sirkulasi
segera. Pengawasan terus menerus atas de-
nyut jantung, pernafasan, tekanan darah,
saturasi oksigen, output urin, dan tekanan
vena sentral.
Perawatan sebelum masuk rumah sakit:
Mulai segera resusitasi cairan secara
·
agresif, terutama pada hipotensi
Pemberian oksigen
·
Chatila T. Toxic Shock Syndrome,
1.
www.emedicine.com/ent, April 2000 : 1-6
Levin RM. Toxic shock Syndrome,
2.
www.emedicine.com,inc. November 20,2001 : 1-10.
Lund VJ. the Complications of Sinusitis, In: Scott-Brown's Otolaryngology, 6th ed, vol. 4.
3.
London:Butterworth 1997: 4/13/9.
Turkington CA. Toxic Shock Syndrome.
4.
www.emedicine.com,inc. 2004 : 1-3
Gittelman PD, Jacobs JB. Staphylococcus aureus Nasal Carriage in Patients with Rhinosinusitis. Laryngo-
5.
scope 1991;101(7 Part 1): 733-736.
Abram AC, Bellian KT. Toxic Shock Syndrome After Functional Endonasal Sinus Surgery : An all or none
6.
phenomena. Laryngoscope 1994;104(8 Part 1): 927-931.
Issa NC, Thompson RL, Toxic Shock Syndrome,
7.
www.emedicine.com,inc. October 2001 :1-4.
Perry SJ, Harwood AL, Toxic Shock Syndrome and Streptococcal Toxic Shock Syndrome, In: Emergency
8.
Medicine A Comprehensive Study Guide, 5thed, McGraw-Hill, New York, 2000 : 946-950.
Cullen MM, Leopold DA, Nasal Emergencies, In: Emergencies of the Head and Neck. Philadelphia:Mosby
9.
Inc, 2000: 243-244.
Santos PM, Lepore ML. Epistaxis. In: Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Bailey BJ (ed.) Vol. IA ,2nd
10.
ed. Philadelphia: Lippincott-Raven Publ. 1998: 520.
Salandy D. Toxic Shock Syndrome,
11.
www.emedicine.com,inc. July 26, 2002 : 1-10.
Brenner B. Toxic Shock Syndrome,
12.
www.emedicine.com,inc. March 7, 2003 : 1-3.
Fisher CJ, Celi LA. Toxic Shock Syndome. In Critical Care, 3rd ed, Philadelphia:WB Saunders Co. 1995 :1305-
13.
1308.
DAFTAR PUSTAKA