background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
241
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
242
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Pada sistem reproduksi pria, androgen merupakan hormon yang
sangat penting baik untuk perkembangan maupun pemeli-
haraan jaringan khusus seperti testis, prostat, epididimis, vesika
seminalis dan penis.
1
Hormon androgen mempunyai pengaruh
psikotropik yaitu seksualitas, agresivitas, derajat aktivitas, perfor-
mance , kognisi, emosi, dan karakter.
2,3
Sebagian besar andro-
gen pada pria adalah testosteron yang diproduksi oleh sel Leydig
dengan potensi androgenik sangat tinggi. Lebih dari 95%
testosteron serum disekresi oleh testis, sekitar 7mg (3-10mg)
diproduksi setiap hari.
4,5
Pria sehat yang mengalami proses penuaan/usia lanjut secara
klinik mempunyai gejala yang sama dengan pria muda hipogo-
nadisme, yaitu menurunnya keinginan seksual, aktivitas, dan
kemampuan ereksinya. Demikian juga terjadi penurunan masa
tubuh, tulang dan otot, kehilangan kekuatan dan virilisasi.
6
Pada
pria muda hipogonadisme, juga berhubungan dengan menu-
runnya kewaspadaan, perubahan kejiwaan, kurang energik dan
virilitas, penurunan keinginan seksualitas, penurunan masa otot
dan kekuatan otot , penurunan libido dan keinginan seks, juga
ditandai dengan meningkatnya prevalensi impotensi.
7,8
SHBG (sex hormone binding globulin) berfungsi memperta-
hankan keseimbangan dan disosiasi pengikatan testosteron
antara sistem sirkulasi dengan organ target, sedangkan biosinte-
sis, regulasi dan bioavaibilitas SHBG diduga dikontrol oleh
banyak faktor. Ada dua teori mekanisme bagaimana testosteron
merangsang sel-sel organ target yang melibatkan SHBG. Pertama,
SHBG hanya bertindak sebagai alat transpot testosteron menuju
sel target, sedang testosteron sendiri masuk secara pasif ke
dalam sitoplasma selanjutnya berinteraksi dengan gen pada
kromosom. Kedua, SHBG bukan saja bertindak sebagai transport,
tetapi juga sebagai jembatan untuk menempel pada reseptor sel
sasaran. Dalam hal ini reseptor sel sasaran berada pada membran
luar sel sasaran, sedangkan caranya mengaktifkan gen sel sasaran
adalah melalui mekanisme second messenger Cyclic-AMP.
9,10
Kemampuan ikatan (binding capacity) SHBG terhadap hormon
seks pada hewan yang diberi makan rendah kalori lebih rendah
dibandingkan dengan hewan uji yang diberi makan tinggi
kalori.
11
Ada petunjuk bahwa biosintesis SHBG oleh sel hepa-
toma (HepG2) in vitro dihambat oleh hormon insulin dan dipacu
oleh tiroksin dan estradiol.
12,13
Hasil studi epidemiologi juga menjelaskan bahwa SHBG berkore-
lasi positif dengan umur, kadar testosteron total, dan hormon
tiroksin; tetapi berkorelasi negatif dengan insulin dan trigliserida,
sehingga diasumsikan bahwa regulasi SHBG berhubungan dengan
metabolisme lipid, protein, dan karbohidrat.
14
Aktivitas androgenik yang tinggi pada obesitas tampaknya
berhubungan dengan rendahnya kadar SHBG dan tingginya persen-
tase testosteron bebas. Di samping itu kadar SHBG dan testos-
teron bebas berkorelasi positif dengan meningkatnya insulin. Hal
ini karena aktivitas androgenetik yang tinggi menyebabkan
kelainan insulin.
15
Studi lain menunjukkan bahwa diet pada pria dapat mengubah
produksi dan metabolisme hormon seks (steroid) dan juga SHBG.
16
Sementara diet rendah lemak pada pria normal dapat menu-
runkan kadar SHBG dan meningkatkan konsentrasi testosteron
bebas
17
. Di samping itu diet barat (40% kalori berasal dari
lemak) yang diberikan pada pria vegetarian dapat meningkatkan
sekresi metabolit steroid melalui urin, sebaliknya menurun sekresinya
pada pria omnivora yang diberi diet pria vegetarian.
18
Dengan
demikian komposisi makanan (diet) merupakan faktor dalam
regulasi SHBG, sehingga SHBG tersebut sangat mungkin terlibat
dalam pengaturan fertilitas melalui keseimbangan hormon seks.
19,20
Secara klinis gangguan fungsi ereksi atau disfungsi ereksi (DE)
pada pria adalah ketidak mampuan pria untuk mencapai dan
mempertahankan ereksi, sehingga kepuasan seksual sulit dicapai.
Sebagian besar kasus DE terjadi secara alami akibat proses
menua, gangguan psikologi, neurologi, hormonal, dan arterial
pada batang cavernosa penis, atau kombinasi faktor-faktor tersebut.
Diperkirakan 20% pria berumur 60-80 tahun konsentrasi testos-
teronnya di bawah normal, padahal testosteron diperlukan untuk
mempertahankan libido, fungsi organ reproduksi, fungsi seksual
dan otot-otot badan.Telah dilaporkan bahwa penambahan
umur pada pria berhubungan dengan penurunan testosteron
serum.
21
Oleh karena kadar SHBG serum meningkat pada usia lanjut,
sedangkan testosteron total menurun sesuai dengan umur dan
dengan demikian mempengaruhi indeks testosteron bebas atau
FTI (Free Testosterone Index), maka pertanyaan yang timbul adalah
apakah ada hubungan antara gangguan fungsi ereksi dengan
SHBG serum.
Penelitian ini secara deskriptif analitik bertujuan mengumpulkan
informasi tentang kadar testosteron total dan SHBG dalam serum
pada pria usia lanjut dengan keluhan gangguan fungsi ereksi.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian
Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan pendekatan
cross sectional, dilakukan pada 135 pria usia 50-70 tahun
sebagai subyek. Subyek tersebut kemudian dibagi menjadi dua
kelompok berdasarkan status kesehatan/usia dan skor fungsi ereksi
(Sexual Health Inventory for Men/SHIM atau International Index
of Erectile Function/IIEF), masing-masing kelompok dengan tiga
faktorial dan tiap faktorial terdiri dari 15 orang subyek (Tabel 1).
Selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan hasil kuesioner
terbimbing, yaitu berdasarkan skor IIEF dari jawaban masing-
masing subyek (Tabel 2). Data yang diperoleh kemudian diuji
statistik ANOVA (analysis of variance) dan dilanjutkan dengan uji
perbandingan berganda Tukey-test menggunakan program
statistik MINITAB Release
14.10
Statistical software, pada selang
kepercayaan (CI, confidence intervals) 95% atau _ 5%
Subyek penelitian
Penderita diabetik usia 50-60 tahun sebanyak 45 pasien berasal
dari pasien rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Abdul
Moeloek Bandar Lampung, dan 90 relawan sehat usia 50-70
tahun penduduk Kota Bandar Lampung dan sekitarnya, yang
telah bersedia ikut serta dalam penelitian.
Variabel penelitian
Darah tidak puasa diambil pada pukul 08.00-12.00 WIB melalui
pembuluh vena dari masing-masing subyek sebanyak 8-10mL.
Serum diperoleh melalui cara sentrifugasi dengan kecepatan
2000 x g selama 20 menit, kemudian disimpan pada suhu -20
0
C
sampai saat pemeriksaan.
Pemeriksaan testosteron total dan SHBG dilakukan di Laborato-
rium Klinik Prodia PT Prodia Widyahusada, Jln. Kartini No. 16A
Bandar Lampung. Testosteron total diukur dengan teknik Coat-
A-Count
125
/fase padat sebagai bahan radioaktif. Pemeriksaan
kadar SHBG dengan cara tera immunoradiometrik (immuno-
radiometric, IRMA) menggunakan kit komersial buatan DPC
(Diagnostic Products Corp.), California USA.
Sedangkan penentuan indeks testosteron bebas FTI (free testos-
terone index) dilakukan dengan cara membagi kadar tesosteron
total (nmol/L) dengan kadar SHBG (nmol/L).
22-25
Tabel 1. Desain penelitian dan variabel pengamatan meliputi: Testosteron
total TT (nmol/L), SHBG (nmol/L), dan Indek testosteron bebas FTI (nmol/L).
Studi Cross-Sectional SHBG dan
Testosteron sebagai Penduga Gangguan
Fungsi Ereksi pada Pria Usia Lanjut
Sutyarso
Dosen Jurusan Biologi dan Program Studi Pendidikan Dokter FMIPA Universitas Lampung
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar SHBG (sex hormone binding globulin) dan testoteron dalam
serum dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan fungsi ereksi pada pria lanjut usia. Penelitian ini mensur-
vei 135 pria berusia 50-70 tahun yang dikelompokkan berdasarkan dua faktor masing-masing dengan tiga tingkatan
(faktorial 3x3) sehingga setiap kelompok terdiri dari 15 subjek. Faktor pertama adalah status kesehatan dan usia
terdiri dari: (1) pria penderita diabet berusia 50-60 tahun; (2) pria sehat berusia 50-60 tahun; dan (3) pria sehat beru-
sia 61-70 tahun. Faktor kedua adalah status fungsi ereksi terdiri dari: (1) normal (IIEF>21); (2) moderat (IIEF 15-21);
dan (3) rendah (IIEF<15). Variabel yang diamati terdiri dari kadar testosteron total, kadar SHBG, dan indeks testos-
teron bebas (free testosterone index, FTI). Kadar testosteron total (TT) ditentukan dengan Count-A-Count
125
/fase
padat, kadar SHBG ditentukan dengan teknik radioimmunometric (IRMA), sedangkan FTI ditentukan melalui pemba-
gian kadar testosteron total dengan kadar SHBG. Hasil penelitian, berdasarkan ANOVA, menunjukkan bahwa kadar
TT pada subjek sehat nyata menurun dengan bertambahnya usia dan dengan rendahnya fungsi ereksi (p<0,05)
tetapi tidak dipengaruhi oleh interaksi keduanya. Kadar SHBG nyata meningkat dengan bertambahnya usia (p<0,05)
tetapi tidak dipengaruhi oleh fungsi ereksi dan interaksinya dengan faktor usia. Selanjutnya, FTI juga nyata dipenga-
ruhi usia (p<0,05) tetapi tidak oleh fungsi ereksi dan status kesehatan subjek. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa: (1) testosteron merupakan faktor penting pengatur fungsi ereksi penis; (2) SHBG dan FTI secara parsial tidak
dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan fungsi ereksi.
Kata kunci: protein pengikat hormon seks, gangguan fungsi ereksi, usia lanjut
Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Duatahunan (PID) ke 2 Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) tanggal 24-26 Juli 2008 di Semarang, Jawa Tengah Indonesia
Status/Skor fungsi ereksi
(International Index of
Erectile Function/IIEF)
Normal (IIEF>21)
Moderat (IIEF15-21)
Rendah (IIEF<15)
Diabetik usia
50-60 tahun
(n=45)
15
15
15
Sehat usia
50-60 tahun
(n=45)
15
15
15
Sehat usia
61-70 tahun
(n=45)
15
15
15
Status kesehatan dan usia
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
241
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
242
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Pada sistem reproduksi pria, androgen merupakan hormon yang
sangat penting baik untuk perkembangan maupun pemeli-
haraan jaringan khusus seperti testis, prostat, epididimis, vesika
seminalis dan penis.
1
Hormon androgen mempunyai pengaruh
psikotropik yaitu seksualitas, agresivitas, derajat aktivitas, perfor-
mance , kognisi, emosi, dan karakter.
2,3
Sebagian besar andro-
gen pada pria adalah testosteron yang diproduksi oleh sel Leydig
dengan potensi androgenik sangat tinggi. Lebih dari 95%
testosteron serum disekresi oleh testis, sekitar 7mg (3-10mg)
diproduksi setiap hari.
4,5
Pria sehat yang mengalami proses penuaan/usia lanjut secara
klinik mempunyai gejala yang sama dengan pria muda hipogo-
nadisme, yaitu menurunnya keinginan seksual, aktivitas, dan
kemampuan ereksinya. Demikian juga terjadi penurunan masa
tubuh, tulang dan otot, kehilangan kekuatan dan virilisasi.
6
Pada
pria muda hipogonadisme, juga berhubungan dengan menu-
runnya kewaspadaan, perubahan kejiwaan, kurang energik dan
virilitas, penurunan keinginan seksualitas, penurunan masa otot
dan kekuatan otot , penurunan libido dan keinginan seks, juga
ditandai dengan meningkatnya prevalensi impotensi.
7,8
SHBG (sex hormone binding globulin) berfungsi memperta-
hankan keseimbangan dan disosiasi pengikatan testosteron
antara sistem sirkulasi dengan organ target, sedangkan biosinte-
sis, regulasi dan bioavaibilitas SHBG diduga dikontrol oleh
banyak faktor. Ada dua teori mekanisme bagaimana testosteron
merangsang sel-sel organ target yang melibatkan SHBG. Pertama,
SHBG hanya bertindak sebagai alat transpot testosteron menuju
sel target, sedang testosteron sendiri masuk secara pasif ke
dalam sitoplasma selanjutnya berinteraksi dengan gen pada
kromosom. Kedua, SHBG bukan saja bertindak sebagai transport,
tetapi juga sebagai jembatan untuk menempel pada reseptor sel
sasaran. Dalam hal ini reseptor sel sasaran berada pada membran
luar sel sasaran, sedangkan caranya mengaktifkan gen sel sasaran
adalah melalui mekanisme second messenger Cyclic-AMP.
9,10
Kemampuan ikatan (binding capacity) SHBG terhadap hormon
seks pada hewan yang diberi makan rendah kalori lebih rendah
dibandingkan dengan hewan uji yang diberi makan tinggi
kalori.
11
Ada petunjuk bahwa biosintesis SHBG oleh sel hepa-
toma (HepG2) in vitro dihambat oleh hormon insulin dan dipacu
oleh tiroksin dan estradiol.
12,13
Hasil studi epidemiologi juga menjelaskan bahwa SHBG berkore-
lasi positif dengan umur, kadar testosteron total, dan hormon
tiroksin; tetapi berkorelasi negatif dengan insulin dan trigliserida,
sehingga diasumsikan bahwa regulasi SHBG berhubungan dengan
metabolisme lipid, protein, dan karbohidrat.
14
Aktivitas androgenik yang tinggi pada obesitas tampaknya
berhubungan dengan rendahnya kadar SHBG dan tingginya persen-
tase testosteron bebas. Di samping itu kadar SHBG dan testos-
teron bebas berkorelasi positif dengan meningkatnya insulin. Hal
ini karena aktivitas androgenetik yang tinggi menyebabkan
kelainan insulin.
15
Studi lain menunjukkan bahwa diet pada pria dapat mengubah
produksi dan metabolisme hormon seks (steroid) dan juga SHBG.
16
Sementara diet rendah lemak pada pria normal dapat menu-
runkan kadar SHBG dan meningkatkan konsentrasi testosteron
bebas
17
. Di samping itu diet barat (40% kalori berasal dari
lemak) yang diberikan pada pria vegetarian dapat meningkatkan
sekresi metabolit steroid melalui urin, sebaliknya menurun sekresinya
pada pria omnivora yang diberi diet pria vegetarian.
18
Dengan
demikian komposisi makanan (diet) merupakan faktor dalam
regulasi SHBG, sehingga SHBG tersebut sangat mungkin terlibat
dalam pengaturan fertilitas melalui keseimbangan hormon seks.
19,20
Secara klinis gangguan fungsi ereksi atau disfungsi ereksi (DE)
pada pria adalah ketidak mampuan pria untuk mencapai dan
mempertahankan ereksi, sehingga kepuasan seksual sulit dicapai.
Sebagian besar kasus DE terjadi secara alami akibat proses
menua, gangguan psikologi, neurologi, hormonal, dan arterial
pada batang cavernosa penis, atau kombinasi faktor-faktor tersebut.
Diperkirakan 20% pria berumur 60-80 tahun konsentrasi testos-
teronnya di bawah normal, padahal testosteron diperlukan untuk
mempertahankan libido, fungsi organ reproduksi, fungsi seksual
dan otot-otot badan.Telah dilaporkan bahwa penambahan
umur pada pria berhubungan dengan penurunan testosteron
serum.
21
Oleh karena kadar SHBG serum meningkat pada usia lanjut,
sedangkan testosteron total menurun sesuai dengan umur dan
dengan demikian mempengaruhi indeks testosteron bebas atau
FTI (Free Testosterone Index), maka pertanyaan yang timbul adalah
apakah ada hubungan antara gangguan fungsi ereksi dengan
SHBG serum.
Penelitian ini secara deskriptif analitik bertujuan mengumpulkan
informasi tentang kadar testosteron total dan SHBG dalam serum
pada pria usia lanjut dengan keluhan gangguan fungsi ereksi.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian
Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan pendekatan
cross sectional, dilakukan pada 135 pria usia 50-70 tahun
sebagai subyek. Subyek tersebut kemudian dibagi menjadi dua
kelompok berdasarkan status kesehatan/usia dan skor fungsi ereksi
(Sexual Health Inventory for Men/SHIM atau International Index
of Erectile Function/IIEF), masing-masing kelompok dengan tiga
faktorial dan tiap faktorial terdiri dari 15 orang subyek (Tabel 1).
Selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan hasil kuesioner
terbimbing, yaitu berdasarkan skor IIEF dari jawaban masing-
masing subyek (Tabel 2). Data yang diperoleh kemudian diuji
statistik ANOVA (analysis of variance) dan dilanjutkan dengan uji
perbandingan berganda Tukey-test menggunakan program
statistik MINITAB Release
14.10
Statistical software, pada selang
kepercayaan (CI, confidence intervals) 95% atau _ 5%
Subyek penelitian
Penderita diabetik usia 50-60 tahun sebanyak 45 pasien berasal
dari pasien rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Abdul
Moeloek Bandar Lampung, dan 90 relawan sehat usia 50-70
tahun penduduk Kota Bandar Lampung dan sekitarnya, yang
telah bersedia ikut serta dalam penelitian.
Variabel penelitian
Darah tidak puasa diambil pada pukul 08.00-12.00 WIB melalui
pembuluh vena dari masing-masing subyek sebanyak 8-10mL.
Serum diperoleh melalui cara sentrifugasi dengan kecepatan
2000 x g selama 20 menit, kemudian disimpan pada suhu -20
0
C
sampai saat pemeriksaan.
Pemeriksaan testosteron total dan SHBG dilakukan di Laborato-
rium Klinik Prodia PT Prodia Widyahusada, Jln. Kartini No. 16A
Bandar Lampung. Testosteron total diukur dengan teknik Coat-
A-Count
125
/fase padat sebagai bahan radioaktif. Pemeriksaan
kadar SHBG dengan cara tera immunoradiometrik (immuno-
radiometric, IRMA) menggunakan kit komersial buatan DPC
(Diagnostic Products Corp.), California USA.
Sedangkan penentuan indeks testosteron bebas FTI (free testos-
terone index) dilakukan dengan cara membagi kadar tesosteron
total (nmol/L) dengan kadar SHBG (nmol/L).
22-25
Tabel 1. Desain penelitian dan variabel pengamatan meliputi: Testosteron
total TT (nmol/L), SHBG (nmol/L), dan Indek testosteron bebas FTI (nmol/L).
Studi Cross-Sectional SHBG dan
Testosteron sebagai Penduga Gangguan
Fungsi Ereksi pada Pria Usia Lanjut
Sutyarso
Dosen Jurusan Biologi dan Program Studi Pendidikan Dokter FMIPA Universitas Lampung
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar SHBG (sex hormone binding globulin) dan testoteron dalam
serum dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan fungsi ereksi pada pria lanjut usia. Penelitian ini mensur-
vei 135 pria berusia 50-70 tahun yang dikelompokkan berdasarkan dua faktor masing-masing dengan tiga tingkatan
(faktorial 3x3) sehingga setiap kelompok terdiri dari 15 subjek. Faktor pertama adalah status kesehatan dan usia
terdiri dari: (1) pria penderita diabet berusia 50-60 tahun; (2) pria sehat berusia 50-60 tahun; dan (3) pria sehat beru-
sia 61-70 tahun. Faktor kedua adalah status fungsi ereksi terdiri dari: (1) normal (IIEF>21); (2) moderat (IIEF 15-21);
dan (3) rendah (IIEF<15). Variabel yang diamati terdiri dari kadar testosteron total, kadar SHBG, dan indeks testos-
teron bebas (free testosterone index, FTI). Kadar testosteron total (TT) ditentukan dengan Count-A-Count
125
/fase
padat, kadar SHBG ditentukan dengan teknik radioimmunometric (IRMA), sedangkan FTI ditentukan melalui pemba-
gian kadar testosteron total dengan kadar SHBG. Hasil penelitian, berdasarkan ANOVA, menunjukkan bahwa kadar
TT pada subjek sehat nyata menurun dengan bertambahnya usia dan dengan rendahnya fungsi ereksi (p<0,05)
tetapi tidak dipengaruhi oleh interaksi keduanya. Kadar SHBG nyata meningkat dengan bertambahnya usia (p<0,05)
tetapi tidak dipengaruhi oleh fungsi ereksi dan interaksinya dengan faktor usia. Selanjutnya, FTI juga nyata dipenga-
ruhi usia (p<0,05) tetapi tidak oleh fungsi ereksi dan status kesehatan subjek. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa: (1) testosteron merupakan faktor penting pengatur fungsi ereksi penis; (2) SHBG dan FTI secara parsial tidak
dapat digunakan sebagai faktor penduga gangguan fungsi ereksi.
Kata kunci: protein pengikat hormon seks, gangguan fungsi ereksi, usia lanjut
Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Duatahunan (PID) ke 2 Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) tanggal 24-26 Juli 2008 di Semarang, Jawa Tengah Indonesia
Status/Skor fungsi ereksi
(International Index of
Erectile Function/IIEF)
Normal (IIEF>21)
Moderat (IIEF15-21)
Rendah (IIEF<15)
Diabetik usia
50-60 tahun
(n=45)
15
15
15
Sehat usia
50-60 tahun
(n=45)
15
15
15
Sehat usia
61-70 tahun
(n=45)
15
15
15
Status kesehatan dan usia
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
243
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
244
HASIL PENELITIAN
Tabel 2. Pertanyaan dalam kuesioner terbimbing untuk menetapkan
status fungsi ereksi.
24,25
HASIL
Hasil pengukuran kadar SHBG dan testosteron total disajikan
pada tabel 3.
Tabel 3. Kadar testosteron total TT, SHBG dan indek testosteron bebas
FTI, yang berhubungan dengan faktor status kesehatan/usia dan faktor
status/skor fungsi ereksi
Indek masa tubuh BMI (body mass index)
Hasil analisis varian (ANOVA) data tersebut (Tabel 3) menunjuk-
kan bahwa faktor usia dan faktor fungsi ereksi berbeda sangat
nyata (p<0,01), tetapi interaksi kedua faktor tersebut tidak
berbeda nyata (p>0,05). Hasil uji lanjut Tukey (Tukey test) mem-
peroleh hasil bahwa BMI penderita diabetik usia 50-60 tahun
berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap pria sehat kelompok
usia 50-60 tahun dan usia 61-70 tahun, tetapi tidak berbeda
nyata (p>0,05) antara pria sehat usia 50-60 tahun dengan usia
61-70 tahun (Gambar 1). Hasil uji selanjutnya memperoleh hasil
bahwa BMI faktor fungsi ereksi IIEF15-21 tidak berbeda nyata
(p>0,05) terhadap IIEF<15 dan IIEF>21, tetapi BMI terhadap
faktor IIEF<15 berbeda sangat nyata (p<0,01) dengan IIEF>21.
Testosteron total TT (total testosteron)
Hasil uji ANOVA terhadap testosteron total (Tabel 3) menunjuk-
kan bahwa faktor usia dan skor fungsi ereksi berbeda nyata
(p<0,05), tetapi interaksi kedua faktor tersebut tidak berbeda
nyata (p>0,05). Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa kadar testos-
teron total penderita diabet usia 50-60 tahun tidak berbeda
nyata (p>0,05) dibandingkan dengan pria sehat usia 50-60 tahun
dan usia 61-70 tahun, tetapi berbeda sangat nyata (p<0,01)
antara pria sehat usia 50-60 tahun dibandingkan dengan usia
61-70 tahun (Gambar 2).
Selanjutnya, hasil uji perbandingan (Tukey test) terhadap faktor
fungsi ereksi menunjukkan bahwa testosteron total pada status
fungsi ereksi moderat (skor IIEF 15-21) berbeda sangat nyata
(p<0,01) dibandingkan dengan (IIEF<15) dan (IIEF>21). Selain
itu, kadar testosteron total pada fungsi ereksi normal (IIEF>21)
lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi ereksi moderat (IIEF15-
21) dan fungsi ereksi rendah (IIEF<15) (Gambar 2)
SHBG (sex hormone binding globulin)
Hasil uji ANOVA terhadap SHBG (Tabel 3) menunjukkan bahwa
faktor usia berbeda sangat nyata (p<0,01), sebaliknya terhadap
faktor fungsi ereksi dan interaksi kedua faktor tersebut tidak ber-
beda nyata (p<0,05). Hasil uji perbandingan (Tukey test) terlihat
bahwa kadar SHBG pada pria penderita diabet usia 50-60 tahun
tidak berbeda nyata dengan pria sehat usia 50-60 tahun (p>0,05),
tetapi berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap pria sehat usia
61-70 tahun juga antara pria sehat usia 50-60 tahun dengan
usia 61-70 tahun (Gambar 3). Dengan demikian SHBG dalam
penelitian ini tidak dapat digunakan sebagai faktor penduga gang-
guan fungsi ereksi, tetapi perlu dibuktikan melalui kemampuan
daya ikat (binding capacity) SHBG tersebut terhadap androgen.
Indek testosteron bebas (free testosterone index)
Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa faktor usia sangat
berpengaruh terhadap indek testosteron bebas (p<0,01), tetapi
tidak berpengaruh pada fungsi ereksi (p>0,05). Hasil uji per-
bandingan rata-rata (Tukey test) diperoleh bahwa pria penderita
diabet usia 50-60 tahun tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan
pria sehat usia 50-60 tahun, tetapi ada perbedaan antara pria
sehat usia 50-60 tahun dengan usia 61-70 tahun (Gambar 4).
Gambar 1. Indek masa tubuh (kg/m2) berdasarkan status kesehatan/
usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat
usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)
Gambar 2. Kadar testosteron total TT (nmol/L) berdasarkan status
kesehatan/usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun,
pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15,
IIEF>21, IIEF15-21)
Gambar 3. Kadar SHBG (nmol/L) berdasarkan status kesehatan/usia
(pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat usia
61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)
Gambar 4. Indek testosteron bebas FTI (nmol/L) berdasarkan status
kesehatan/usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun,
pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15,
IIEF>21, IIEF15-21)
DISKUSI
Ereksi penis adalah sebuah kejadian yang dikendalikan oleh faktor
psikologi dan status hormonal. Pada saat terjadi rangsangan
seksual, impul saraf dapat menyebabkan dilepaskannya neuro-
transmiter dari ujung saraf cavernosa dan faktor-faktor pelepas
dari sel-sel endotel penis, menghasilkan relaksasi otot polos pembu-
luh arteri dan kapiler yang mensuplai darah ke jaringan erektil
(tiga batang corpora cavernosa) sehingga suplai darah/aliran
darah ke dalam penis terjadi berlipat ganda. Selanjutnya, darah
dalam jumlah besar terperangkap di dalam jaringan erektil corpora
cavernosa sehingga terjadil ereksi; dalam keadaan seperti ini
tekanan darah intrakavernosa mencapai 100 mHg.
21
Secara klinis, disfungsi ereksi pada pria dapat diartikan sebagai
ketidak mampuan pria untuk ereksi dengan sempurna, sehingga
kepuasan seksual sulit dicapai. Istilah impoten lebih dikenal di
masyarakat, karena kelainan ini tidak saja sering dialami oleh pria
yang sudah berumur, tetapi juga oleh yang masih relatif muda.
Di Amerika, sekitar 52% pria berusia antara 40-70 tahun me-
ngalami impotensi atau pernah mengalami gangguan fungsi
ereksi.
26
Di Indonesia mungkin terjadi hal serupa, tetapi belum
banyak diteliti.
Gangguan fungsi ereksi tersebut berhubungan dengan psikologi,
neurologi, hormonal, kelainan vaskularisasi penis, dan atau kombi-
nasi faktor-faktor tersebut.
21
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan fungsi ereksi
terjadi pada pria penderita diabetik usia 50-60 tahun, dan pria
sehat usia 50-70 tahun; tetapi masih diperlukan banyak infor-
masi faktor-faktor apa yang langsung mempengaruhinya. Kadar
testosteron pada pria diabetik usia 50-60 tahun dengan kategori
gangguan fungsi ereksi rendah (IIEF<15) adalah lebih rendah
yaitu 8,99 Ø 1,98 nmol/L dibandingkan dengan 16,98 Ø 8,03
nmol/L pada pria sehat usia 50-60 tahun dengan kategori fungsi
ereksi normal (IIEF>21).
Bagaimana anda yakin
bahwa selama 6 bulan ini,
anda dapat ereksi dan
mempertahankannya
selama persetubuhan
dengan isteri
Pada saat anda ereksi setelah
mengalami perangsangan
seksual, seberapa sering
penis anda cukup keras
untuk dimasukkan ke dalam
vagina isteri anda
Setelah penis anda
masuk ke dalam vagina,
seberapa sering anda
mampu mempertahankan
penis agar tetap tegang
dan keras
Ketika melakukan
persetubuhan, seberapa
sulitkah anda mempertahan-
kan ereksi sampai ejakulasi
(mengeluarkan air mani)
Ketika anda melakukan
persetubuhan, seberapa
sering anda merasa puas
Sangat
rendah
Hampir
tidak
pernah/
tidak
pernah
Hampir
tidak
pernah/
tidak
pernah
Sangat
sulit sekali
Hampir
tidak
pernah/
tidak
rendah
Kadang-
kadang
/kurang
dari
setengah
Kadang-
kadang /
kurang
dari
setengah
Sangat
sulit
Kadang-
kadang/
kurang
dari
setengah
Skor
1.
3.
4.
5.
2.
Pertanyaan
1.
2.
sedang
Kadang-
kadang/
sama
dengan
setengah
Kadang-
kadang/
sama
dengan
setengah
Sulit
Kadang-
kadang/
sama
dengan
setengah
3.
tinggi
Sering
lebih
dari
setengah
Sering
lebih
dari
setengah
Agak
sulit
Sering
lebih
dari
setengah
4.
Sangat
tinggi
Hampir
selalu/
selalu
Hampir
selalu/
selalu
Tidak
sulit
Hampir
selalu/
selalu
5.
Normal (>21 IIEF):
BMI (kg/m2)
Testosteron Total
(nmol/L)
SHBG (nmol/L)
Indek Testosteron
Bebas (nmol/L)
Moderat (15-21 IIEF)
BMI (kg/m2)
Testosteron Total
(nmol/L)
SHBG (nmol/L)
Indek Testosteron
Bebas (nmol/L)
Kurang (<15 IIEF)
BMI (kg/m2)
Testosteron Total
(nmol/L)
SHBG (nmol/L)
Indek Testosteron
Bebas (nmol/L)
25,35 Ø 3,04
17,56 Ø 7,41
47,16 Ø 8,60
0,38 Ø 0,16
23,42 Ø 1,46
13,15 Ø 5,27
36,98 Ø 12,99
0,39 Ø 0,24
22,66 Ø 1,33
8,99 Ø 1,98
35,58 Ø 13,02
0,28 Ø 0,12
23,26 Ø 1,41
16,98 Ø 8,03
50,78 Ø
16,15
0,39 Ø 0,31
22,35 Ø 1,44
15,37 Ø 7,55
47,24 Ø
15,67
0,37 Ø 0,26
22,37 Ø 1,22
12,53 Ø 6,07
41,61 Ø
15,97
0,35 Ø 0,25
Status kesehatan dan usia
22,88 Ø 1,95
15,31 Ø 7,79
57,50 Ø 18,11
0,27 Ø 0,12
23,01 Ø 1,87
10,51 Ø 4,29
52,80 Ø 17,03
0,22 Ø 0,11
22,08 Ø 1,71
8,41 Ø 1,99
60,15 Ø 27,78
0,19 Ø 0,13
Status/Skor fungsi
ereksi (IIEF)
Diabetik usia
50-60 tahun
Sehat usia
50-60 tahun
Sehat usia
61-70 tahun
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
243
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
244
HASIL PENELITIAN
Tabel 2. Pertanyaan dalam kuesioner terbimbing untuk menetapkan
status fungsi ereksi.
24,25
HASIL
Hasil pengukuran kadar SHBG dan testosteron total disajikan
pada tabel 3.
Tabel 3. Kadar testosteron total TT, SHBG dan indek testosteron bebas
FTI, yang berhubungan dengan faktor status kesehatan/usia dan faktor
status/skor fungsi ereksi
Indek masa tubuh BMI (body mass index)
Hasil analisis varian (ANOVA) data tersebut (Tabel 3) menunjuk-
kan bahwa faktor usia dan faktor fungsi ereksi berbeda sangat
nyata (p<0,01), tetapi interaksi kedua faktor tersebut tidak
berbeda nyata (p>0,05). Hasil uji lanjut Tukey (Tukey test) mem-
peroleh hasil bahwa BMI penderita diabetik usia 50-60 tahun
berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap pria sehat kelompok
usia 50-60 tahun dan usia 61-70 tahun, tetapi tidak berbeda
nyata (p>0,05) antara pria sehat usia 50-60 tahun dengan usia
61-70 tahun (Gambar 1). Hasil uji selanjutnya memperoleh hasil
bahwa BMI faktor fungsi ereksi IIEF15-21 tidak berbeda nyata
(p>0,05) terhadap IIEF<15 dan IIEF>21, tetapi BMI terhadap
faktor IIEF<15 berbeda sangat nyata (p<0,01) dengan IIEF>21.
Testosteron total TT (total testosteron)
Hasil uji ANOVA terhadap testosteron total (Tabel 3) menunjuk-
kan bahwa faktor usia dan skor fungsi ereksi berbeda nyata
(p<0,05), tetapi interaksi kedua faktor tersebut tidak berbeda
nyata (p>0,05). Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa kadar testos-
teron total penderita diabet usia 50-60 tahun tidak berbeda
nyata (p>0,05) dibandingkan dengan pria sehat usia 50-60 tahun
dan usia 61-70 tahun, tetapi berbeda sangat nyata (p<0,01)
antara pria sehat usia 50-60 tahun dibandingkan dengan usia
61-70 tahun (Gambar 2).
Selanjutnya, hasil uji perbandingan (Tukey test) terhadap faktor
fungsi ereksi menunjukkan bahwa testosteron total pada status
fungsi ereksi moderat (skor IIEF 15-21) berbeda sangat nyata
(p<0,01) dibandingkan dengan (IIEF<15) dan (IIEF>21). Selain
itu, kadar testosteron total pada fungsi ereksi normal (IIEF>21)
lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi ereksi moderat (IIEF15-
21) dan fungsi ereksi rendah (IIEF<15) (Gambar 2)
SHBG (sex hormone binding globulin)
Hasil uji ANOVA terhadap SHBG (Tabel 3) menunjukkan bahwa
faktor usia berbeda sangat nyata (p<0,01), sebaliknya terhadap
faktor fungsi ereksi dan interaksi kedua faktor tersebut tidak ber-
beda nyata (p<0,05). Hasil uji perbandingan (Tukey test) terlihat
bahwa kadar SHBG pada pria penderita diabet usia 50-60 tahun
tidak berbeda nyata dengan pria sehat usia 50-60 tahun (p>0,05),
tetapi berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap pria sehat usia
61-70 tahun juga antara pria sehat usia 50-60 tahun dengan
usia 61-70 tahun (Gambar 3). Dengan demikian SHBG dalam
penelitian ini tidak dapat digunakan sebagai faktor penduga gang-
guan fungsi ereksi, tetapi perlu dibuktikan melalui kemampuan
daya ikat (binding capacity) SHBG tersebut terhadap androgen.
Indek testosteron bebas (free testosterone index)
Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa faktor usia sangat
berpengaruh terhadap indek testosteron bebas (p<0,01), tetapi
tidak berpengaruh pada fungsi ereksi (p>0,05). Hasil uji per-
bandingan rata-rata (Tukey test) diperoleh bahwa pria penderita
diabet usia 50-60 tahun tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan
pria sehat usia 50-60 tahun, tetapi ada perbedaan antara pria
sehat usia 50-60 tahun dengan usia 61-70 tahun (Gambar 4).
Gambar 1. Indek masa tubuh (kg/m2) berdasarkan status kesehatan/
usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat
usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)
Gambar 2. Kadar testosteron total TT (nmol/L) berdasarkan status
kesehatan/usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun,
pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15,
IIEF>21, IIEF15-21)
Gambar 3. Kadar SHBG (nmol/L) berdasarkan status kesehatan/usia
(pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun, pria sehat usia
61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15, IIEF>21, IIEF15-21)
Gambar 4. Indek testosteron bebas FTI (nmol/L) berdasarkan status
kesehatan/usia (pria diabetik 50-60 tahun, pria sehat usia 50-60 tahun,
pria sehat usia 61-70 tahun) dan status/skor fungsi ereksi (IIEF<15,
IIEF>21, IIEF15-21)
DISKUSI
Ereksi penis adalah sebuah kejadian yang dikendalikan oleh faktor
psikologi dan status hormonal. Pada saat terjadi rangsangan
seksual, impul saraf dapat menyebabkan dilepaskannya neuro-
transmiter dari ujung saraf cavernosa dan faktor-faktor pelepas
dari sel-sel endotel penis, menghasilkan relaksasi otot polos pembu-
luh arteri dan kapiler yang mensuplai darah ke jaringan erektil
(tiga batang corpora cavernosa) sehingga suplai darah/aliran
darah ke dalam penis terjadi berlipat ganda. Selanjutnya, darah
dalam jumlah besar terperangkap di dalam jaringan erektil corpora
cavernosa sehingga terjadil ereksi; dalam keadaan seperti ini
tekanan darah intrakavernosa mencapai 100 mHg.
21
Secara klinis, disfungsi ereksi pada pria dapat diartikan sebagai
ketidak mampuan pria untuk ereksi dengan sempurna, sehingga
kepuasan seksual sulit dicapai. Istilah impoten lebih dikenal di
masyarakat, karena kelainan ini tidak saja sering dialami oleh pria
yang sudah berumur, tetapi juga oleh yang masih relatif muda.
Di Amerika, sekitar 52% pria berusia antara 40-70 tahun me-
ngalami impotensi atau pernah mengalami gangguan fungsi
ereksi.
26
Di Indonesia mungkin terjadi hal serupa, tetapi belum
banyak diteliti.
Gangguan fungsi ereksi tersebut berhubungan dengan psikologi,
neurologi, hormonal, kelainan vaskularisasi penis, dan atau kombi-
nasi faktor-faktor tersebut.
21
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan fungsi ereksi
terjadi pada pria penderita diabetik usia 50-60 tahun, dan pria
sehat usia 50-70 tahun; tetapi masih diperlukan banyak infor-
masi faktor-faktor apa yang langsung mempengaruhinya. Kadar
testosteron pada pria diabetik usia 50-60 tahun dengan kategori
gangguan fungsi ereksi rendah (IIEF<15) adalah lebih rendah
yaitu 8,99 Ø 1,98 nmol/L dibandingkan dengan 16,98 Ø 8,03
nmol/L pada pria sehat usia 50-60 tahun dengan kategori fungsi
ereksi normal (IIEF>21).
Bagaimana anda yakin
bahwa selama 6 bulan ini,
anda dapat ereksi dan
mempertahankannya
selama persetubuhan
dengan isteri
Pada saat anda ereksi setelah
mengalami perangsangan
seksual, seberapa sering
penis anda cukup keras
untuk dimasukkan ke dalam
vagina isteri anda
Setelah penis anda
masuk ke dalam vagina,
seberapa sering anda
mampu mempertahankan
penis agar tetap tegang
dan keras
Ketika melakukan
persetubuhan, seberapa
sulitkah anda mempertahan-
kan ereksi sampai ejakulasi
(mengeluarkan air mani)
Ketika anda melakukan
persetubuhan, seberapa
sering anda merasa puas
Sangat
rendah
Hampir
tidak
pernah/
tidak
pernah
Hampir
tidak
pernah/
tidak
pernah
Sangat
sulit sekali
Hampir
tidak
pernah/
tidak
rendah
Kadang-
kadang
/kurang
dari
setengah
Kadang-
kadang /
kurang
dari
setengah
Sangat
sulit
Kadang-
kadang/
kurang
dari
setengah
Skor
1.
3.
4.
5.
2.
Pertanyaan
1.
2.
sedang
Kadang-
kadang/
sama
dengan
setengah
Kadang-
kadang/
sama
dengan
setengah
Sulit
Kadang-
kadang/
sama
dengan
setengah
3.
tinggi
Sering
lebih
dari
setengah
Sering
lebih
dari
setengah
Agak
sulit
Sering
lebih
dari
setengah
4.
Sangat
tinggi
Hampir
selalu/
selalu
Hampir
selalu/
selalu
Tidak
sulit
Hampir
selalu/
selalu
5.
Normal (>21 IIEF):
BMI (kg/m2)
Testosteron Total
(nmol/L)
SHBG (nmol/L)
Indek Testosteron
Bebas (nmol/L)
Moderat (15-21 IIEF)
BMI (kg/m2)
Testosteron Total
(nmol/L)
SHBG (nmol/L)
Indek Testosteron
Bebas (nmol/L)
Kurang (<15 IIEF)
BMI (kg/m2)
Testosteron Total
(nmol/L)
SHBG (nmol/L)
Indek Testosteron
Bebas (nmol/L)
25,35 Ø 3,04
17,56 Ø 7,41
47,16 Ø 8,60
0,38 Ø 0,16
23,42 Ø 1,46
13,15 Ø 5,27
36,98 Ø 12,99
0,39 Ø 0,24
22,66 Ø 1,33
8,99 Ø 1,98
35,58 Ø 13,02
0,28 Ø 0,12
23,26 Ø 1,41
16,98 Ø 8,03
50,78 Ø
16,15
0,39 Ø 0,31
22,35 Ø 1,44
15,37 Ø 7,55
47,24 Ø
15,67
0,37 Ø 0,26
22,37 Ø 1,22
12,53 Ø 6,07
41,61 Ø
15,97
0,35 Ø 0,25
Status kesehatan dan usia
22,88 Ø 1,95
15,31 Ø 7,79
57,50 Ø 18,11
0,27 Ø 0,12
23,01 Ø 1,87
10,51 Ø 4,29
52,80 Ø 17,03
0,22 Ø 0,11
22,08 Ø 1,71
8,41 Ø 1,99
60,15 Ø 27,78
0,19 Ø 0,13
Status/Skor fungsi
ereksi (IIEF)
Diabetik usia
50-60 tahun
Sehat usia
50-60 tahun
Sehat usia
61-70 tahun
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
245
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian lain memberi indikasi bahwa testosteron pada
pria sehat dengan fungsi ereksi normal (IIEF>21) adalah 16,74 Ø
4,19 nmol/L
27
Penelitian lain menyimpulkan bahwa pria sehat
usia lanjut yang mengalami gangguan fungsi ereksi juga di-
sebabkan rendahnya testosteron.
22-27
Pada pria, penambahan usia berkorelasi negatif dengan produksi
testosteron dan bioavailabilitasnya, sebaliknya berkorelasi positif
terhadap produksi prorein SHBG.
28,29
Infertilitas dalam bentuk
oligospermia dan azoospermia diduga disebabkan oleh hambatan
biosintesis SHBG dan perbedaan efektivitas kerja testosteron.
30
Perbedaan efektivitas kerja testosteron pada sel germinal maupun
jaringan target lainnya adalah karena sangat tergantung pada
kadar SHBG, struktur molekul, dan kemampuan ikatan SHBG.
9
Dengan kata lain, juga akan mempengaruhi jaringan erektil
pada penis, sehingga fungsi ereksinya normal.
Kadar SHBG rata-rata pada pria normospermia (29,59 Ø 9,58
nmol/L) lebih tinggi dibandingkan pria azoospermia (19,76 Ø
9,43 nmol/L).
30
Apakah kadar SHBG juga berhubungan langsung
dengan fungsi ereksi masih harus dianalisis.
Dari hasil penelitian ini, tampaknya SHBG tidak berhubungan
langsung dengan fungsi ereksi, tetapi tergantung dari usia. Pada
pria sehat usia 50-60 tahun maka kadar SHBG dengan fungsi
ereksi normal (IIEF>21) lebih tinggi 50,78 Ø 16,15 nmol/L
dibandingkan dengan kategori fungsi ereksi rendah (IIEF<15)
dan fungsi ereksi moderat (IIEF15-21) yaitu masing-masing
41,61 Ø 15,97 dan 47,24 Ø 15,67 nmol/L.
Pada pria sehat usia 61-70 tahun terjadi sebaliknya bahwa pada
kategori fungsi ereksi rendah (IIEF<15) kadar SHBGnya lebih
tinggi (60,15 Ø 27,78 nmol/L) dibandingkan dengan penderita
diabetik usia 50-60 tahun untuk kategori fungsi ereksi yang
sama (35,58 Ø 13,02 nmol/L).
Dengan demikian kadar SHBG tidak berhubungan langsung
dengan gangguan fungsi ereksi, tetapi dapat diduga berhubu-
ngan dengan kemampuan ikatannya terhadap androgen. Untuk
itu telah dilakukan penetapan indek testosteron bebas (FTI, free
testosteron index), yaitu dengan cara membagi testosteron total
(nmol/L) dengan SHBG (nmol/L).
22,23
Oleh karena kadar SHBG
meningkat sebanding dengan bertambahnya usia, sebaliknya kadar
testosteron menurun sebanding dengan usia, maka FTI dalam
penelitian ini semakin rendah sebanding dengan bertambahnya
usia (Gambar 4). Analisis varian (ANOVA) terhadap Indek
testosteron bebas menunjukkan bahwa faktor usia sangat
berpengaruh terhadap FTI (p<0,01), tetapi tidak mempengaruhi
fungsi ereksi (p>0,05).
Testosteron total dan testosteron bebas tidak berhubungan
dengan keinginan seksual pada pria yang mengalami gangguan
fungsi ereksi, tetapi testosteron bebas berpengaruh terhadap
frekuensi dan kualitas ereksi pada malam hari (nocturnal erection),
dan ketika gangguan fungsi ereksi lebih berat (severe).
24
Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa gangguan fungsi
ereksi tidak langsung dipengaruhi oleh testosteron bebas, tetapi
mungkin berhubungan dengan penurunan kadar testosteron
plasma. Hal ini diperkuat oleh penelitian lain, bahwa testosteron
plasma merupakan faktor hormonal yang penting dalam me-
ngontrol fungsi ereksi penis.
21-25
Dengan demikian baik SHBG
maupun indek testosteron bebas (FTI) tidak dapat digunakan
sebagai faktor yang berpengaruh langsung terhadap fungsi ereksi.
Kelemahan penelitian ini adalah jumlah subyek yang sangat
terbatas yaitu hanya 15 orang pada masing-masing kategori
fungsi ereksi dan faktor usia, tetapi hasil penelitian ini diharap-
kan dapat digunakan sebagai data awal untuk penelitian lebih
lanjut. Kajian tentang SHBG belakangan ini dikaitkan dengan
berbagai penyakit di antaranya penyakit-penyakit metabolisme
dan penyakit degeneratif terutama yang berhubungan dengan
hormon seks termasuk fertilitas dan seksualitas.
SIMPULAN
Mekanisme fisiologi ereksi penis sangat rumit, dan dikontrol oleh
kombinasi banyak faktor. Dalam penelitian ini sangat mungkin
ada hambatan psikologi dari para responden, sehingga kurang
baik menjawab pertanyaan.
Namun demikian dapat disimpulkan bahwa: (1) testosteron
merupakan faktor hormonal yang sangat penting dalam me-
ngontrol fungsi ereksi penis, (2) SHBG dan indek testosteron
bebas (FTI) secara parsial tidak bisa digunakan sebagai faktor
penduga terhadap gangguan fungsi ereksi.
DAFTAR PUSTAKA
Rincian daftar pustaka ada pada redaksi.