CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
81
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
82
TINJAUAN PUSTAKA
Sumber Vitamin D dan Alur Metabolisme
Tanpa vitamin D, hanya 10 hingga 15% kalsium dan 60% fosfat
dietari yang dapat diserap, dibandingkan dengan penyerapan
melalui bantuan vitamin D yang meningkatkan absorbsi kalsium
menjadi 30-40% dan fosfat sebesar 80%.
1
Kebutuhan tubuh
terhadap vitamin D dipenuhi melalui tiga sumber, yaitu: sinar
matahari, makanan, dan suplemen tambahan.
2
Paparan radiasi
ultraviolet B (gelombang rendah; 290-315 nm) pada kulit
menyebabkan konversi 7-dehidrokolesterol menjadi previtamin
D
3
dan diubah menjadi vitamin D
3
melalui reaksi panas.
3
Vitamin D
2
dan D
3
yang berasal dari makanan dan suplementasi,
bersama dengan vitamin D
3
hasil fotosintesis bergabung dengan
kilomikron dan memasuki sirkulasi vena.
2,3
Kelompok ini kemudian berikatan dengan vitamin D-binding
protein (DBP) dan dibawa ke hepar.
4
Di sana, vitamin D (D
2
& D
3
)
diubah menjadi [25-(OH)D] oleh vitamin D-25-hidroksilase dan
hasil konversi merupakan bentuk sirkulasi vitamin D terbanyak
karena waktu paruh sirkulasi mencapai 2 minggu.
5,6
Namun
25-(OH)D belum aktif dan perlu diubah di ginjal oleh vitamin D-1_-
hidroksilase (1-OHase / CYP27B1) dengan bantuan PTH menjadi
1,25-dihidroksivitamin D [1,25-(OH)
2
D].
2
1,25-(OH)
2
D bentuk
aktif vitamin D meningkatkan absorbsi kalsium di duodenum
melalui interaksi dengan kompleks reseptor vitamin D-retinoic
acid (VDR-RXR).
4,7
Kompleks ini kemudian berikatan dengan vitamin
D-elemen responsif (VDRE) pada kanal kalsium epitel usus untuk
meningkatkan penyerapan dan memfasilitasi transpor kalsium
melalui stimulasi protein pengikat kalsium: calbindin 9K (CaBP).
2,4,7
Selain penyerapan kalsium, 1,25-(OH)
2
D juga meningkatkan
penyerapan fosfat.
3,4
Mekanisme Homeostasis vitamin D.
Sintesis 1,25-(OH)
2
D dikontrol sangat ketat oleh PTH, konsentrasi
serum kalsium dan fosfat, serta fibroblast growth factor 23
(FGF-23).
8
Ketika kosentrasi ion kalsium melebihi 100 ng/mL,
sekresi PTH menurun sehingga menghambat proses konversi
25-(OH)D menjadi 1,25-(OH)
2
D yang akhirnya menurunkan proses
absorbsi kalsium di duodenum.
9,10
Konsentrasi PTH yang rendah
serta adanya 1,25-(OH)
2
D memicu enzim 25-hidroksivitamin D-
24-hidroksilase (CYP24) untuk mengancurkan 25-(OH)D dan 1,25-
(OH)
2
D menjadi asam kalsitroik, bentuk vitamin D yang inaktif
dan larut dalam air.
1-3
Sebaliknya, apabila terjadi defisiensi vitamin D [ditandai dengan
konsentrasi serum 25-(OH)D < 20 ng/mL] maka absorbsi kalsium
dan fosfat dalam duodenum akan menurun sehingga memicu
sekresi PTH.
9,11
Selanjutnya, PTH akan meningkatkan konversi
25-(OH)D menjadi 1,25-(OH)
2
D yang semakin memperparah
defisiensi namun mempertahankan konsentrasi 1,25-(OH)
2
D
dalam darah tetap normal. Sekresi PTH berkelanjutan menyebabkan
kelenjar paratiroid bekerja maksimal dan menyebabkan hiperpara-
tiroidisme sekunder.
3,9
Konsentrasi PTH yang tinggi juga memicu aktivasi osteoblas,
sedangkan osteoblas akan merangsang perubahan preosteoklas
menjadi osteoklas yang akan melarutkan matriks kolagen dalam
tulang.
2
Hasil demineralisasi berupa ion kalsium dilepas ke sirkulasi
untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh, sedangkan fosfat
dieksresikan dalam jumlah besar melalui urin dan menimbulkan
fosfaturia.
3,5,13
Proses ini bila berlanjut dan tidak diterapi, akan
menyebabkan osteoporosis dan meningkatkan risiko fraktur.
5,12
Perubahan Metabolisme Vitamin D seiring Proses Penuaan.
Walaupun dengan paparan sinar matahari tinggi, produksi vitamin
D via radiasi UVB belum dapat dikatakan mencukupi (25-[OH]
D<30 ng/mL; insufisiensi vitamin D).
14,15
Kapasitas penyerapan
semakin berkurang pada lansia seiring dengan proses degenerasi
kulit. Konsentrasi 25-(OH)D hasil fotosintesis menurun sebesar
75% dibandingkan kapasitas produksi individu muda.
9
Sintesis
vitamin D
3
melalui jalur fotosintesis menurun makin signifikan pada
lansia wanita berjilbab (juga burka)
3,5,9
dan lansia yang tidak dapat
berada pada ruangan terbuka (housebound)
9,16
karena sintesis via
radiasi UVB mensyaratkan paparan pada kepala dan lengan
(tanpa proteksi) selama 10 menit sebanyak 3 kali/minggu.
9
Absorbsi vitamin D melalui jalur pencernaan tidak mengalami
masalah sehingga dietari vitamin D perlu diberikan sebagai
kompensasi.
9
Namun demikian, efisiensi hidroksilasi 25-(OH)D
menjadi 1,25-(OH)
2
D di ginjal akan menurun seiring pertambahan
usia karena aktivitas 1-OHase dan gen CYP27B1 menurun secara
linear sesuai penurunan fungsi ginjal.
17
Akibatnya, dibutuhkan
lebih banyak 25-(OH)D untuk memproduksi 1,25-(OH)
2
D yang
jumlahnya setara dengan milik orang dewasa.
Respon sintesis 1,25-(OH)
2
D akibat rangsangan PTH juga ditemukan
menurun sehingga berkaitan langsung dengan penurunan
absorbsi kalsium dan fosfat.
9
Serum DBP sebagai transporter
vitamin D menuju organ hati menurun yang secara otomatis
memperlambat konversi vitamin D menjadi 25-(OH)D.
18
Gambar 1. Alur metabolisme vitamin D via jalur fotosintesis dan absorbsi dietari
serta ragam efek biologis 1,25-(OH)
2
D terhadap metabolisme kalsium, fosfat,
dan tulang. Pengaturan homeostatis dilakukan melalui prinsip umpan balik
(Sumber: Holick MF. Resurrection of vitamin D deficiency and rickets. J Clin Invest
2006; 116[8]: 2062-72).
Implikasi Defisiensi Vitamin D pada Lansia.
Osteoporosis dan fraktur.
Sebanyak 33% wanita usia 60-70 tahun dan 66% usia 80 tahun
keatas menderita osteoporosis. Diperkirakan 47% wanita dan
22% pria berusia 50 tahun atau lebih akan menderita osteporosis
dan fraktur sepanjang sisa hidupnya.
2,19
Seperti telah dijelaskan
sebelumnya, defisiensi vitamin D memicu osteoporosis pada lansia
melalui proses demineralisasi matriks kolagen tanpa adanya proses
re-mineralisasi yang seimbang.
2,3,5,12,13
Disamping itu, kekurangan
vitamin D berdampak negatif pada kekuatan otot karena mem-
pengaruhi maturasi sel dan adanya reseptor vitamin D pada sel otot
yang membutuhkan vitamin D untuk aksi optimal.
5,12,16
Beberapa
studi mendukung hipotesis bahwa defisiensi vitamin D menyebab-
kan gangguan neuromuskuler, mempengaruhi keseimbangan dan
fungsi kontrol postur pada lansia.
12,20
Kedua faktor ini (osteoporosis
dan gangguan neuromuskuler) meningkatkan risiko jatuh dan
fraktur terkait jatuh, meliputi fraktur tulang pinggul dan fraktur
nonvertebral.
2,9,16,20,21
Kanker, penyakit infeksius, autoimun, dan kardiovaskuler.
Berbagai studi epidemiologi mengindikasikan konsentrasi 25-(OH)D
<20ng/mL meningkatkan risiko kanker kolon, prostat, dan payudara
antara 30 hingga 50%.
2,22-24
Sebuah studi prospektif menunjuk-
kan efek protektif vitamin D terhadap risiko kanker kolon dengan
Rasio Prevalens (RP) 1,0 pada subjek dengan konsentrasi serum
25-(OH)D sekitar 16.2 ng/mL (40.4 nmol/L) dan RP 0,53 saat
konsentrasi 25-(OH)D 39.9 ng/mL (99.6 nmol/L).
25
Hal ini dapat
terjadi karena kolon, prostat, payudara, dan jaringan lain mampu
memproduksi 1,25-(OH)
2
D untuk mengontrol gen penghambat
kanker. Jika terjadi malignansi, 1,25-(OH)
2
D dapat memicu apopto-
sis dan menghambat angiogenesis, sebelum melakukan proses
destruksi diri melalui stimulasi gen CYP24 dan mengonversinya
menjadi asam kalsitroik.
1,5
Mekanisme peningkatan sistem imunitas dilakukan melalui stimulasi
ekspresi cathelicidin (peptida yang berfungsi meningkatkan imuni-
tas innate dan memicu destruksi antigen) serta membantu sintesis
sitokin pada limfosit T dan sintesis imunoglobulin pada limfosit
B.
2
Sedangkan peningkatan serum 25-(OH)D sebesar 20 ng/mL
menurunkan risiko sklerosis multipel sebesar 41%.
26
Efek protektif
vitamin D juga dijumpai pada penyakit degeneratif, seperti pe-
nurunan risiko DM tipe 2 hingga 33% (RR 0,67; 95% CI, 0.49-
0.90) pada kombinasi konsumsi 800 IU vitamin D dan 1200 mg
kalsium.
27
Pasien hipertensi yang terekspos radiasi UVB 3 kali/
minggu selama 3 bulan meningkatkan 25-(OH)D sampai 180%
dan menormalkan tekanan darah sitolik-diastolik (penurunan
keduanya 6 mmHg).
28
Defisiensi vitamin D diasosisikan dengan
gagal jantung kongestif dan peningkatan faktor inflamasi, meliputi:
CRP dan IL-10.
29
Terapi Defisiensi dan Insufisiensi Vitamin D pada Lansia.
Rekomendasi asupan vitamin D per hari oleh Institute of Medicine
adalah 400 IU untuk usia 51-70 tahun dan 600 IU untuk 71
tahun keatas.
30
Namun dengan jumlah tersebut diperkirakan
Defisiensi Vitamin D:
Mekanisme, Implikasi & Terapi pada Lansia
Andreas Soejitno, RA Tuty Kuswardhani
Sub-divisi Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah Denpasar, Bali, Indonesia
ABSTRAK
Vitamin D memiliki peran penting dalam metabolisme kalsium-fosfat dan regulasi hormon paratiroid (PTH) sehingga
mempertahankan integritas tulang melalui mineralisasi dan menghambat proses degenerasi (osteoporosis serta
fraktur). Berbagai penelitian juga menunjukkan manfaat vitamin D dalam menurunkan risiko kanker, penyakit infeksi dan
autoimun, serta kardiovaskuler. Namun defisiensi vitamin D sangat umum dijumpai hingga prevalensi diperkirakan
mencapai 1 miliar penduduk dunia. Pada lansia, defisiensi sering ditemukan pada pasien rawat jalan maupun mobilitas
terbatas (housebound) yang meningkatkan insiden jatuh dan fraktur. Defisiensi vitamin D didefinisikan sebagai
konsentrasi serum 25-hidroksivitamin D [25-(OH)D] < 20 ng/mL (50 nmol/L) dan 21-29 ng/mL (52-72 nmol/L)
dinyatakan sebagai insufisiensi vitamin D. Terapi defisiensi dan insufisiensi vitamin D pada lansia sedikit berbeda
dengan terapi pada anak-anak dan dewasa sehingga dipandang perlu untuk dibahas lebih lanjut pada artikel ini.
Kata kunci: Defisiensi, vitamin D, mekanisme, implikasi, terapi, lansia.
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
81
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
82
TINJAUAN PUSTAKA
Sumber Vitamin D dan Alur Metabolisme
Tanpa vitamin D, hanya 10 hingga 15% kalsium dan 60% fosfat
dietari yang dapat diserap, dibandingkan dengan penyerapan
melalui bantuan vitamin D yang meningkatkan absorbsi kalsium
menjadi 30-40% dan fosfat sebesar 80%.
1
Kebutuhan tubuh
terhadap vitamin D dipenuhi melalui tiga sumber, yaitu: sinar
matahari, makanan, dan suplemen tambahan.
2
Paparan radiasi
ultraviolet B (gelombang rendah; 290-315 nm) pada kulit
menyebabkan konversi 7-dehidrokolesterol menjadi previtamin
D
3
dan diubah menjadi vitamin D
3
melalui reaksi panas.
3
Vitamin D
2
dan D
3
yang berasal dari makanan dan suplementasi,
bersama dengan vitamin D
3
hasil fotosintesis bergabung dengan
kilomikron dan memasuki sirkulasi vena.
2,3
Kelompok ini kemudian berikatan dengan vitamin D-binding
protein (DBP) dan dibawa ke hepar.
4
Di sana, vitamin D (D
2
& D
3
)
diubah menjadi [25-(OH)D] oleh vitamin D-25-hidroksilase dan
hasil konversi merupakan bentuk sirkulasi vitamin D terbanyak
karena waktu paruh sirkulasi mencapai 2 minggu.
5,6
Namun
25-(OH)D belum aktif dan perlu diubah di ginjal oleh vitamin D-1_-
hidroksilase (1-OHase / CYP27B1) dengan bantuan PTH menjadi
1,25-dihidroksivitamin D [1,25-(OH)
2
D].
2
1,25-(OH)
2
D bentuk
aktif vitamin D meningkatkan absorbsi kalsium di duodenum
melalui interaksi dengan kompleks reseptor vitamin D-retinoic
acid (VDR-RXR).
4,7
Kompleks ini kemudian berikatan dengan vitamin
D-elemen responsif (VDRE) pada kanal kalsium epitel usus untuk
meningkatkan penyerapan dan memfasilitasi transpor kalsium
melalui stimulasi protein pengikat kalsium: calbindin 9K (CaBP).
2,4,7
Selain penyerapan kalsium, 1,25-(OH)
2
D juga meningkatkan
penyerapan fosfat.
3,4
Mekanisme Homeostasis vitamin D.
Sintesis 1,25-(OH)
2
D dikontrol sangat ketat oleh PTH, konsentrasi
serum kalsium dan fosfat, serta fibroblast growth factor 23
(FGF-23).
8
Ketika kosentrasi ion kalsium melebihi 100 ng/mL,
sekresi PTH menurun sehingga menghambat proses konversi
25-(OH)D menjadi 1,25-(OH)
2
D yang akhirnya menurunkan proses
absorbsi kalsium di duodenum.
9,10
Konsentrasi PTH yang rendah
serta adanya 1,25-(OH)
2
D memicu enzim 25-hidroksivitamin D-
24-hidroksilase (CYP24) untuk mengancurkan 25-(OH)D dan 1,25-
(OH)
2
D menjadi asam kalsitroik, bentuk vitamin D yang inaktif
dan larut dalam air.
1-3
Sebaliknya, apabila terjadi defisiensi vitamin D [ditandai dengan
konsentrasi serum 25-(OH)D < 20 ng/mL] maka absorbsi kalsium
dan fosfat dalam duodenum akan menurun sehingga memicu
sekresi PTH.
9,11
Selanjutnya, PTH akan meningkatkan konversi
25-(OH)D menjadi 1,25-(OH)
2
D yang semakin memperparah
defisiensi namun mempertahankan konsentrasi 1,25-(OH)
2
D
dalam darah tetap normal. Sekresi PTH berkelanjutan menyebabkan
kelenjar paratiroid bekerja maksimal dan menyebabkan hiperpara-
tiroidisme sekunder.
3,9
Konsentrasi PTH yang tinggi juga memicu aktivasi osteoblas,
sedangkan osteoblas akan merangsang perubahan preosteoklas
menjadi osteoklas yang akan melarutkan matriks kolagen dalam
tulang.
2
Hasil demineralisasi berupa ion kalsium dilepas ke sirkulasi
untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh, sedangkan fosfat
dieksresikan dalam jumlah besar melalui urin dan menimbulkan
fosfaturia.
3,5,13
Proses ini bila berlanjut dan tidak diterapi, akan
menyebabkan osteoporosis dan meningkatkan risiko fraktur.
5,12
Perubahan Metabolisme Vitamin D seiring Proses Penuaan.
Walaupun dengan paparan sinar matahari tinggi, produksi vitamin
D via radiasi UVB belum dapat dikatakan mencukupi (25-[OH]
D<30 ng/mL; insufisiensi vitamin D).
14,15
Kapasitas penyerapan
semakin berkurang pada lansia seiring dengan proses degenerasi
kulit. Konsentrasi 25-(OH)D hasil fotosintesis menurun sebesar
75% dibandingkan kapasitas produksi individu muda.
9
Sintesis
vitamin D
3
melalui jalur fotosintesis menurun makin signifikan pada
lansia wanita berjilbab (juga burka)
3,5,9
dan lansia yang tidak dapat
berada pada ruangan terbuka (housebound)
9,16
karena sintesis via
radiasi UVB mensyaratkan paparan pada kepala dan lengan
(tanpa proteksi) selama 10 menit sebanyak 3 kali/minggu.
9
Absorbsi vitamin D melalui jalur pencernaan tidak mengalami
masalah sehingga dietari vitamin D perlu diberikan sebagai
kompensasi.
9
Namun demikian, efisiensi hidroksilasi 25-(OH)D
menjadi 1,25-(OH)
2
D di ginjal akan menurun seiring pertambahan
usia karena aktivitas 1-OHase dan gen CYP27B1 menurun secara
linear sesuai penurunan fungsi ginjal.
17
Akibatnya, dibutuhkan
lebih banyak 25-(OH)D untuk memproduksi 1,25-(OH)
2
D yang
jumlahnya setara dengan milik orang dewasa.
Respon sintesis 1,25-(OH)
2
D akibat rangsangan PTH juga ditemukan
menurun sehingga berkaitan langsung dengan penurunan
absorbsi kalsium dan fosfat.
9
Serum DBP sebagai transporter
vitamin D menuju organ hati menurun yang secara otomatis
memperlambat konversi vitamin D menjadi 25-(OH)D.
18
Gambar 1. Alur metabolisme vitamin D via jalur fotosintesis dan absorbsi dietari
serta ragam efek biologis 1,25-(OH)
2
D terhadap metabolisme kalsium, fosfat,
dan tulang. Pengaturan homeostatis dilakukan melalui prinsip umpan balik
(Sumber: Holick MF. Resurrection of vitamin D deficiency and rickets. J Clin Invest
2006; 116[8]: 2062-72).
Implikasi Defisiensi Vitamin D pada Lansia.
Osteoporosis dan fraktur.
Sebanyak 33% wanita usia 60-70 tahun dan 66% usia 80 tahun
keatas menderita osteoporosis. Diperkirakan 47% wanita dan
22% pria berusia 50 tahun atau lebih akan menderita osteporosis
dan fraktur sepanjang sisa hidupnya.
2,19
Seperti telah dijelaskan
sebelumnya, defisiensi vitamin D memicu osteoporosis pada lansia
melalui proses demineralisasi matriks kolagen tanpa adanya proses
re-mineralisasi yang seimbang.
2,3,5,12,13
Disamping itu, kekurangan
vitamin D berdampak negatif pada kekuatan otot karena mem-
pengaruhi maturasi sel dan adanya reseptor vitamin D pada sel otot
yang membutuhkan vitamin D untuk aksi optimal.
5,12,16
Beberapa
studi mendukung hipotesis bahwa defisiensi vitamin D menyebab-
kan gangguan neuromuskuler, mempengaruhi keseimbangan dan
fungsi kontrol postur pada lansia.
12,20
Kedua faktor ini (osteoporosis
dan gangguan neuromuskuler) meningkatkan risiko jatuh dan
fraktur terkait jatuh, meliputi fraktur tulang pinggul dan fraktur
nonvertebral.
2,9,16,20,21
Kanker, penyakit infeksius, autoimun, dan kardiovaskuler.
Berbagai studi epidemiologi mengindikasikan konsentrasi 25-(OH)D
<20ng/mL meningkatkan risiko kanker kolon, prostat, dan payudara
antara 30 hingga 50%.
2,22-24
Sebuah studi prospektif menunjuk-
kan efek protektif vitamin D terhadap risiko kanker kolon dengan
Rasio Prevalens (RP) 1,0 pada subjek dengan konsentrasi serum
25-(OH)D sekitar 16.2 ng/mL (40.4 nmol/L) dan RP 0,53 saat
konsentrasi 25-(OH)D 39.9 ng/mL (99.6 nmol/L).
25
Hal ini dapat
terjadi karena kolon, prostat, payudara, dan jaringan lain mampu
memproduksi 1,25-(OH)
2
D untuk mengontrol gen penghambat
kanker. Jika terjadi malignansi, 1,25-(OH)
2
D dapat memicu apopto-
sis dan menghambat angiogenesis, sebelum melakukan proses
destruksi diri melalui stimulasi gen CYP24 dan mengonversinya
menjadi asam kalsitroik.
1,5
Mekanisme peningkatan sistem imunitas dilakukan melalui stimulasi
ekspresi cathelicidin (peptida yang berfungsi meningkatkan imuni-
tas innate dan memicu destruksi antigen) serta membantu sintesis
sitokin pada limfosit T dan sintesis imunoglobulin pada limfosit
B.
2
Sedangkan peningkatan serum 25-(OH)D sebesar 20 ng/mL
menurunkan risiko sklerosis multipel sebesar 41%.
26
Efek protektif
vitamin D juga dijumpai pada penyakit degeneratif, seperti pe-
nurunan risiko DM tipe 2 hingga 33% (RR 0,67; 95% CI, 0.49-
0.90) pada kombinasi konsumsi 800 IU vitamin D dan 1200 mg
kalsium.
27
Pasien hipertensi yang terekspos radiasi UVB 3 kali/
minggu selama 3 bulan meningkatkan 25-(OH)D sampai 180%
dan menormalkan tekanan darah sitolik-diastolik (penurunan
keduanya 6 mmHg).
28
Defisiensi vitamin D diasosisikan dengan
gagal jantung kongestif dan peningkatan faktor inflamasi, meliputi:
CRP dan IL-10.
29
Terapi Defisiensi dan Insufisiensi Vitamin D pada Lansia.
Rekomendasi asupan vitamin D per hari oleh Institute of Medicine
adalah 400 IU untuk usia 51-70 tahun dan 600 IU untuk 71
tahun keatas.
30
Namun dengan jumlah tersebut diperkirakan
Defisiensi Vitamin D:
Mekanisme, Implikasi & Terapi pada Lansia
Andreas Soejitno, RA Tuty Kuswardhani
Sub-divisi Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah Denpasar, Bali, Indonesia
ABSTRAK
Vitamin D memiliki peran penting dalam metabolisme kalsium-fosfat dan regulasi hormon paratiroid (PTH) sehingga
mempertahankan integritas tulang melalui mineralisasi dan menghambat proses degenerasi (osteoporosis serta
fraktur). Berbagai penelitian juga menunjukkan manfaat vitamin D dalam menurunkan risiko kanker, penyakit infeksi dan
autoimun, serta kardiovaskuler. Namun defisiensi vitamin D sangat umum dijumpai hingga prevalensi diperkirakan
mencapai 1 miliar penduduk dunia. Pada lansia, defisiensi sering ditemukan pada pasien rawat jalan maupun mobilitas
terbatas (housebound) yang meningkatkan insiden jatuh dan fraktur. Defisiensi vitamin D didefinisikan sebagai
konsentrasi serum 25-hidroksivitamin D [25-(OH)D] < 20 ng/mL (50 nmol/L) dan 21-29 ng/mL (52-72 nmol/L)
dinyatakan sebagai insufisiensi vitamin D. Terapi defisiensi dan insufisiensi vitamin D pada lansia sedikit berbeda
dengan terapi pada anak-anak dan dewasa sehingga dipandang perlu untuk dibahas lebih lanjut pada artikel ini.
Kata kunci: Defisiensi, vitamin D, mekanisme, implikasi, terapi, lansia.
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
83
TINJAUAN PUSTAKA
kenaikan 25-(OH)D kurang dari 30 ng/mL, karena penelitian
terhadap populasi orang dewasa yang mengonsumsi segelas
susu dan multivitamin setiap hari ditambah dengan ikan salmon
minimal sekali per minggu menunjukkan 32% defisiensi vitamin
D.
31
Rekomendasi di atas semakin diperlemah dengan sedikitnya
jumlah makanan yang diperkuat dengan vitamin D serta fakta
bahwa 40-100% lansia di Eropa dan AS menderita defisiensi
atau insufisiensi vitamin D.
5,12
Berkurangnya efisiensi sintesis vitamin D
3
melalui radiasi UVB
mengharuskan adanya kompensasi setara lewat makanan dan
suplemen adisional.
2,9
Tabel 1 memuat daftar sumber vitamin D
2
dan D
3
pada makanan alami, makanan yang diperkuat vitamin
D, dan suplementasi farmakologi bila diperlukan. Penelitian
Chapuy dkk. membuktikan penurunan risiko fraktur tulang
pinggul sebesar 43% dan fraktur nonvertebral sebesar 32%
pada kelompok lansia wanita yang mengonsumsi 800 IU vitamin
D
3
dan 1200 mg kalsium selama tiga tahun.
32
Penelitian lain
menyebutkan dosis vitamin D
3
sebesar 700 IU ditambah 500 mg
kalsium per hari dapat menurunkan risiko fraktur nonvertebral
hingga 58% pada populasi berusia 65 ke atas.
33
Studi populasi lain dengan 9605 peserta usia 66 tahun keatas
menemukan penurunan risiko fraktur 16% pada kelompok
yang mengonsumsi 400 IU vitamin D dan 1000 mg kalsium.
34
Sebaliknya, meta-analisis 7 studi RCT yang mengevaluasi penga-
ruh asupan vitamin D
3
sebanyak 400 IU per hari pada lansia tidak
mengurangi insiden kedua jenis fraktur.
2
Pada studi Women»s
Health Initiative yang memberi asupan 400 IU vitamin D
3
serta
1000 mg kalsium per hari dan plasebo pada 36.000 wanita pos-
menopause melaporkan tidak adanya pengurangan risiko
fraktur namun justru meningkatkan insiden batu ginjal.
35
Berbagai hasil penelitian di atas mengindikasikan pentingnya
kombinasi dan ketepatan dosis asupan vitamin D dan kalsium.
Perlindungan dari kedua jenis risiko fraktur akan optimal pada
pemberian 700 sampai 800 IU vitamin D
3
per hari pada subjek
dengan peningkatan konsentrasi 25-(OH)D hingga 40 ng/mL.
2,12
Namun pemberian vitamin D
3
tanpa disertai kalsium tidak dapat
mencegah insiden fraktur, walaupun tetap dapat meningkatkan
konsentrasi 25-(OH)D.
5,9
Hal ini terbukti melalui penelitian Broe
dkk. yang memberikan 800 IU vitamin D per hari disertai kalsium
dan menurunkan risiko jatuh sebesar 72% dibanding plasebo
(RR 0,28; 95% CI, 0,11 0,75).
21
Pemberian suplemen vitamin D
3
800 hingga 1000 IU/hari atau
50.000 IU vitamin D
2
setiap 2-4 minggu dibutuhkan bagi lansia
(usia 50 tahun keatas) atau orang dewasa dengan paparan sinar
matahari rendah.
5,12,19,32,33
Apabila terjadi defisiensi, maka
vitamin D
2
perlu diberikan sebanyak 50.000 IU/minggu selama 8
minggu dan dilanjutkan dengan dosis yang sama per 2-4
minggu.
5,36
Pemberian tersebut ekivalen dengan terapi vitamin
D
2
3000 IU/ hari atau vitamin D
3
1000 IU/hari.
5,37,38
Terjadi
perbedaan dosis antara vitamin D
2
dan D
3
karena efektivitas
vitamin D
2
hanya sebesar 30% vitamin D
3
.
39
Bagi lansia penderita penyakit ginjal kronis derajat 2 dan 3 dapat
diberikan vitamin D
3
1000 IU/hari atau 50.000 IU vitamin D
2
per
2-4 minggu dan mungkin membutuhkan analog vitamin D
setelah serum 25-(OH)D mencapai 30 ng/mL.
40,41
Bagi pasien
derajat 4 dan 5, 50.000 IU vitamin D
2
dapat diberikan per 2
minggu disertai dengan 1,25-(OH)
2
D3 atau analognya, mengingat
ketidakmampuan ginjal memproduksi 1-OHase.
40-42
Tabel 1. Sumber Dietari, Suplementasi, dan Farmakoterapi Vitamin D
2
dan D
3
.
2,3
DAFTAR PUSTAKA
DeLuca HF. Overview of general physiologic features and functions of vitamin D. Am J Clin Nutr 2004;80:Suppl:1689S-1696S.
Holick MF. Vitamin D Defficiency. N Engl J Med 2007; 357: 266-81.
Holick MF. Resurrection of vitamin D deficiency and rickets. J Clin Invest 2006; 116(8): 2062-72.
Bouillon R. Vitamin D: from photosynthesis, metabolism, and action to clinical applications. In: DeGroot LJ, Jameson JL, eds. Endocrinology.
Philadelphia: W.B. Saunders, 2001: 1009-28.
Holick MF. High prevalence of vitamin D inadequacy and implications for health. Mayo Clin Proc 2006; 81(3): 353-73.
Markestad T, Halvorsen S, Halvorsen KS, Aksnes L, Aarskog D. Plasma concentrations of vitamin D metabolites before and during treatment of
vitamin D deficiency rickets in children. Acta Paediatr. Scand. 1984; 73: 225-31.
Christakos S, Dhawan P, Liu Y, Peng X, Porta A. New insights into the mechanisms of vitamin D action. J Cell Biochem 2003; 88: 695-705.
Hruska KA. Hyperphosphatemia and hypophosphatemia. In: Favus, MJ, ed. Primer on the metabolic bone diseases and disorders of mineral
metabolism. 6thed. Washington DC: American Society for Bone and Mineral Research, 2006: 233-42.
Lips P. Vitamin D deficiency and secondary hyperparathyroidism in the elderly: consequences for bone loss and fractures and therapeutic
implications. Endocr Rev 2001; 22(4): 477-501.
Reichel H, Koeffler HP, Norman AW. The role of vitamin D endocrine system in health and disease. N Engl J Med 1989; 320: 980-91.
Heaney RP. Long-latency deficiency disease: insights from calcium and vitamin D. Am J Clin Nutr 2003; 78: 9129.
Bischoff-Ferrari HA, Giovannucci E, Willett WC, Dietrich T, Dawson-Hughes B. Estimation of optimal serum concentrations of 25-
hydroxyvitamin D for multiple health outcomes. Am J Clin Nutr 2006;84: 18-28. [Erratum, Am J Clin Nutr 2006; 84: 1253.]
Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 11th ed. Jakarta (INA): EGC Medical Publisher; 2007: 1035-39.
Binkley N, Novotny R, Krueger D, Kawahara T, Daida YG, Lensmeyer G, et al. Low vitamin D status despite abundant sun exposure. J Clin
Endocrinol Metab 2007; 92(6): 2130-35.
Dawson-Hughes B, Heaney RP, Holick Mf, Lips P, Meunier PJ, Vieth R. Estimates of optimal vitamin D status. Osteoporos Int 2005; 16: 713-6.
Venning G. Recent developments in vitamin D deficiency and muscle weakness among elderly people. BMJ 2005; 330: 524-26.
Gallagher JC, Riggs BL, Eisman J, Hamstra A, Arnaud SB, DeLuca HF. Intestinal calcium absorption and serum vitamin D metabolites in normal
subjects and osteoporotic patients: effect of age and dietary calcium. J Clin Invest 1979; 64: 729-36.
Cooke NE, Haddad JG. Vitamin D binding protein (Gc-Globulin). Endocr Rev 1989; 10: 294-307.
Boonen S, Bischoff-Ferrari HA, Cooper C, et al. Addressing the musculoskeletal components of fracture risk with calcium and vitamin D: a
review of the evidence. Calcif Tissue Int 2006; 78: 257-70.
Janssen HCJP, Samson MM, Verhaar HJJ. Vitamin D deficiency, muscle function, and falls in elderly people. Am J Clin Nutr 2002; 75: 6115.
Broe KE, Chen TC, Weinberg J, Bischoff-Ferrari HA, Holick MF, Kiel DP. A higher dose of vitamin D reduces the risk of falls in nursing home
residents: a randomized, multiple-dose study. J Am Geriatr Soc 2007; 55: 234-9.
Gorham ED, Garland CF, Garland FC, et al. Vitamin D and prevention of colorectal cancer. J Steroid Biochem Mol Biol 2005; 97: 179-94.
Giovannucci E, Liu Y, Rimm EB, et al. Prospective study of predictors of vitamin D status and cancer incidence and mortality in men. J Natl Cancer
Inst 2006; 98: 451-9.
Garland CF, Garland FC, Gorham ED, et al. The role of vitamin D in cancer prevention. Am J Public Health 2006; 96: 252-61.
Feskanich D, Ma J, Fuchs CS, et al. Plasma vitamin D metabolites and risk of colorectal cancer in women. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev
2004; 13: 1502-8.
Munger KL, Levin LI, Hollis BW, Howard NS, Ascherio A. Serum 25-hydroxyvitamin D levels and risk of multiple sclerosis. JAMA 2006; 296:
2832-8.
Pittas AG, Dawson-Hughes B, Li T, et al. Vitamin D and calcium intake in relation to type 2 diabetes in women. Diabetes Care 2006; 29: 650-6.
Krause R, Buhring M, Hopfenmuller W, Holick MF, Sharma AM. Ultraviolet B and blood pressure. Lancet 1998; 352: 709-10.
Zitterman A. Vitamin D and disease prevention with special reference to cardiovascular disease. Prog Biophys Mol Biol 2006; 92: 39-48.
Standing Committee on the Scientific Evaluation of Dietary Reference Intakes Food and Nutrition Board, Institute of Medicine. Vitamin D. In:
Dietary reference intakes for calcium, phosphorus, magnesium, vitamin D, and fluoride. Washington, DC: National Academy Press, 1999:
250-87.
Tangpricha V, Pearce EN, Chen TC, Holick MF. Vitamin D insufficiency among free-living healthy young adults. Am J Med 2002; 112: 659-62.
Chapuy MC, Arlot ME, Duboeuf F, et al. Vitamin D3 and calcium to prevent hip fractures in elderly women. N Engl J Med 1992; 327: 1637-42.
Dawson-Hughes B, Harris SS, Krall EA, Dallal GE. Effect of calcium and vitamin D supplementation on bone density in men and women 65
years of age or older. N Engl J Med 1997; 337: 670-6.
Larsen ER, Mosekilde L, Foldspang A. Vitamin D and calcium supplementation prevents osteoporotic fractures in elderly community dwelling
residents: a pragmatic population-based 3-year intervention study. J Bone Miner Res. 2004; 19: 370-78.
Jackson RD, LaCroix AZ, Gass M, et al. Calcium plus vitamin D supplementation and the risk of fracture N Engl J Med 2006; 354: 669-83.
[Erratum, N Engl J Med 2006; 354: 1102.]
Malabanan A, Veronikis IE, Holick MF. Redifining vitamin D insufficiency. Lancet 1998; 351: 805-6.
Tangpricha V, Koutkia P, Rieke SM, Chen TC, Perez AA, Holick MF. Fortification of orange juice with vitamin D: a novel approach for enhancing
vitamin D nutritional health. Am J Clin Nutr 2003; 77: 1478-83.
Heaney RP, Davies KM, Chen TC, Holick MF, Barger-Lux MJ. Human serum 25-hydroxycalciferol response to extended oral dosing with
cholecalciferol. Am J Clin Nutr 2003; 77: 204-10. [Erratum, Am J Clin Nutr 2003; 78: 1047.]
Armas LAG, Hollis BW, Heaney RP. Vitamin D2 is much less effective than vitamin D3 in humans. J Clin Endocrinol Metab 2004; 89: 5387-91.
K/DOQI clinical practice guidelines for bone metabolism and disease in chronic kidney disease. Am J Kidney Dis 2003; 42: Suppl 3: S1-S201.
Holick MF. Vitamin D for health and in chronic kidney disease. Semin Dial 2005; 18: 266-75.
Brown AJ. Therapeutic uses of vitamin D analogues. Am J Kidney Dis 2001; 38: Suppl 5: S3-S19.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
Sumber alami
Kandungan Vitamin D
Salmon segar (99 g)
600-1000 IU vitamin D
3
Salmon segar budidaya (99 g)
100-250 IU vitamin D
2
atau D
3
Salmon kaleng (99 g)
300-600 IU vitamin D
3
Sarden kaleng (99 g)
300 IU vitamin D
3
Makarel (99 g)
250 vitamin D
3
Tuna kaleng (99 g)
230 IU vitamin D
3
Minyak liver cod (1 sdk teh)
400-1000 IU vitamin D
3
Jamur shitake
Segar (99 g)
100 IU vitamin D
2
Kering (99 g)
1600 IU vitamin D
2
Kuning telur
20 IU vitamin D
2
dan D
3
Makanan diperkuat vitamin D
Susu
100 IU/236 mL vitamin D
3
Jus jeruk
100 IU/236 mL vitamin D
3
Yoghurts
100 IU/236 mL vitamin D
3
Margarin
430 IU/99 mL vitamin D
3
Suplemen
Peresepan
Vitamin D
2
(ergokalsiferol)
50.000 IU/ kapsul
Drisdol (vitamin D
2
cair)
8000 IU/mL
Over the counter
Multivitamin
400 IU vitamin D, D
2
, D
3
Vitamin D
3
400, 800, 1000, 2000 IU