background image
ENGLISH SUMMARY
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
5
The Food and Drug Administration and Swiss
Medical Control Agency approved cetuximab
for the irinotecan-refractory colorectal cancer.
Bevacizumab is humanized antibody that inhibit
VEGF action. The Food and Drug Administra-
tion approved the use of bevacizumab in com-
bination with any intravenous fluorouracil-
containing regimen as initial therapy for patients
with advanced colorectal cancer. There is small
gefitinib trial for colorectal cancer treatment.
CDK. 2009; 36(1) : 5-12
Epidermal Growth Factor
Receptor (EGFR) as
Therapeutic Target in
Colorectal Cancer
Santosa, C. Suharti*
Specialist Program, *Head of Hematology-Oncology
Subdept., Dept. of Internal Medicine, Faculty of
Medicine, Diponegoro University, Dr.Kariadi Hospital,
Semarang, Indonesia
Colorectal cancer is the fourth most frequent
malignant disease in the world. Estimation
of new cases and mortality are 1.023.000 and
529.000 annually. There is an increase of
colorectal cancer incidence in Indonesia, but
no exact number available.
The problems in management of colorectal
cancer are patients came in advanced stage,
refractory cytostatics regiment, adverse
reaction to cytostatics. Alternative strategy
uses an agent that act at specific site; for
instance Epidermal Growth Factor Receptor
(EGFR) inhibitor.
EGFR have specific ligand including EGF
(epidermal growth factor), bFGF (basic fibro-
blast gorwth factor), VEGF(vascular endothe-
lial growth factor) and TGF-_ (transforming
growth factor-_). They have important role in
growth dan survival of colorectal cancer.
EGFR expression in colorectal cancer is associ-
ated with aggressive disease and poor prog-
nosis. EGFR stimulates tumor growth and
progression through several mechanism i.e.
proliferation, angiogenesis, invasion, metas-
tasis, apoptosis inhibition, adhesion and
differentiation.
EGFR is specific rational target. Monoclonal
antibody (mAbs) directed against EGFR
through several mechanism: (1) extracellu-
lar binding; (2) internalization of receptor-
anti-body complexes; (3) inhibition of EGFR
signalling pathways; and (4) potential stimu-
lation of an immunological response.
Tyrosine kinase inhibitors (TKIs) directed
against EGFR through several mechanisms:
(1) intracellular binding; (2) prevention of
tyrosine kinase activation; and (3) inhibition
of EGFR signalling pathways.
There are many trials of cetuximab as EGFR
inhibitor. Cetuximab is known as IMC-25 or
C255, monoclonal antibody chimeric that
is specifically directed against EGFR.
ABSTRAK
Karsinoma kolorektal merupakan keganasan keempat di seluruh
dunia dengan perkiraan kasus baru 1.023.000 dan kematian
529.000 tiap tahun. Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat
kenaikan jumlah kasus tetapi belum ada angka yang pasti
berapa insiden karsinoma kolorektal.
Masalah-masalah dalam pengelolaan adalah karena pasien sering
datang pada stadium lanjut, refrakter terhadap regimen sitostatika,
dan efek samping sitostatika; sehingga dikembangkan pilihan terapi
yang ditujukan pada sasaran spesifik pada Epidermal Growth Factor
Receptor (EGFR).
EGFR bersama ligand spesifiknya seperti EGF (epidermal growth
factor), bFGF (basic fibroblast growth factor), VEGF (vascular endo-
thelial growth factor), dan TGF-_(transforming growth factor-_) ber-
peran penting dalam pertumbuhan dan survival kanker kolorektal.
Ekspresi EGFR pada kanker kolorektal berhubungan dengan
agresivitas penyakit dan prognosis yang buruk. Aktivasi EGFR
menstimulasi pertumbuhan dan progresi tumor melalui beberapa
mekanisme yaitu memacu proliferasi, angiogenesis, invasi, meta-
stasis dan menghambat apoptosis, adesi dan differensiasi. Terdapat
variabilitas ekspresi atau disregulasi EGFR pada keganasan.
EGFR merupakan target rasional pada strategi antitumor. Pengem-
bangan sasaran terapi ditujukan terhadap interaksi ikatan domain
ligand ekstraseluler seperti antibodi monoklonal (mAbs) dan yang
berikatan intraseluler seperti tirosin kinase inhibitor. Antibodi
monoklonal (mAbs) bereaksi terhadap EGFR melalui mekanisme
sebagai berikut :
1. Ikatan ekstraseluler
2. Internalisasi kompleks reseptor antibodi
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR
4. Meningkatkan stimulasi respon imunologis.
Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) langsung bereaksi terhadap EGFR
melalui mekanisme aksi :
1. Ikatan intraseluler
2. mencegah aktivasi tirosin kinase
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR.
Penelitian paling luas mengenai mAbs anti EGFR adalah cetuximab,
yang dikenal sebagai IMC-25 atau C225, suatu mAb chimeric
yang dirancang khusus menghambat EGFR. Cetuximab telah
disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration
dan Swiss Medical Control Agency untuk pengobatan kanker
kolorektal yang tidak respon terhadap irinotecan. Bevacizumab
merupakan antibodi manusia yang berperan menghambat
VEGF. FDA mengakui penggunaan bevacizumab dalam kombi-
nasi dengan regimen flurouracil intravena sebagai terapi awal
kanker kolorektal lanjut. Uji klinis gefitinip untuk kanker kolorek-
tal masih terbatas.
PENDAHULUAN
Karsinoma kolorektal merupakan keganasan ke empat di seluruh
dunia dengan perkiraan kasus baru 1.023.000 dan kematian
529.000 tiap tahun.
1
Di Amerika Serikat menduduki urutan kega-
nasan ke tiga dan menjadi penyebab kematian ke dua terbanyak.
Pada tahun 2005 diperkirakan akan ditemukan 145.290 kasus
baru dengan kematian 56.290.
2
Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat kenaikan jumlah
kasus tetapi belum ada angka pasti insiden karsinoma kolorektal.
Sjamsuhidajat (1986) dari evaluasi data di Departemen Kesehatan
mendapatkan 1,8 per 100.000 penduduk. Tirtosugondo (1986) untuk
Kodya Semarang, melaporkan peningkatan karsinoma kolorektal
dengan Age Standardized Rate (ASR) per 100.000 penduduk
untuk laki-laki tahun 1970-1974: 2,5; tahun 1980-1981: 3,2;
sementara untuk wanita tahun 1970-1974: 2,2 tahun 1982: 3,4
dan menduduki urutan ke lima di antara keganasan lain.
3
Modalitas terapi kanker kolorektal adalah pembedahan,
radioterapi dan kemoterapi sesuai stadium penyakitnya. Terapi
kanker kolorektal stadium dini dilakukan dengan pembedahan,
tetapi keadaan lanjut dan tidak dapat dibedah merupakan
masalah dan sering fatal. Deteksi dini merupakan suatu upaya
untuk menemukan kanker kolorektal stadium awal. Radioterapi
dan kemoterapi merupakan pilihan pada stadium lanjut.
4-10
Terapi sitostatika untuk kanker kolorektal di beberapa pusat
kanker menggunakan fluorourasil (FU), irinotecan dan obat baru
oxaliplatin. Masalah dalam pengelolaan karsinoma kolorektal
adalah refrakter terhadap regimen sitostatika dan adanya efek
samping sehingga diperlukan pilihan terapi lain.
11-15
Age Related Macular Degeneration (ARMD)
affects the central area of the retina (macula).
ARMD is the leading cause of severe irrever-
sible central vision loss. The aim of this study is
to determine the clinical characteristics of
ARMD at Cicendo Eye Hospital.
This prospective descriptive study was con-
ducted on newly diagnosed ARMD on July -
November 2005 in Cicendo Eye Hospital.
Ninety nine patients (196 eyes) consists of
45,5% males and 54,5% females, ages from
diagnoses were: early - 63 (32,1%) eyes;
intermediate - 43 (21,9%) eyes; advanced
- 90 (45,9%) eyes. Advanced cases was sub-
divided into two categories: non neovascular
(dry) - 12 (6,1%) eyes and neovascular (wet)-
78 (39,8%) eyes. 24 (26,7%) eyes with cicatrix
disciformis complication and 45 (40%) had
FFA alone. 34,9% patients with low vision
and 27,8% with blindness. A higher rate of
neovascular ARMD was noted in Cicendo
Eye Hospital.
Key words: ARMD, neovascular, visual acuity.
CDK. 2009; 36(1) : 28-32
Benzo (
) pyrene (BP) is a carcinogenic com-
pound that is supposed to be able to induce
chromosomal damage. The mutagenic effect
of BP has been studied using MN test on poly-
chromatic erythrocyte (PCE) cells of albino
mice femur bone marrow. Mice were injected
with 0.1 ml of 0.3% (b/v) BP subcutaneously
at the shoulder, every day at the same time
for ten days. After 120 days, treated and non-
treated mice were killed by cervical dislocation.
Their femur bone marrow cells were prepared
on object glass by smear technique followed
by Giemsa»s staining. The appearance of micro-
nucleus (MN) in PCE cells were examined
microscopically by the magnificfication of 2000.
The amount of MN in PCE (MNPCE) were
evaluated in 1000 PCE cells and called MNPCE
frequency. BP treatment could increase MNPCE
frequency up to 38.82 Ø 8.70 (n=10) per 1000
PCE cells compared to MNPCE frequency of
2.19 Ø 0.99 per 1000 PCE cells in control group
(n=10). The significant increase of MNPCE
frequency indicated the relatively high muta-
genic effect of BP.
Key words: benzo (
) pyrene, micronucleus, carcinogenic.
CDK. 2009; 36(1) : 33-36
Mutagenicity Test of
Benzo(
)pyrene
by Microneucleus
Method on Albino Mice
(Mus musculus) Bone
Marrow
Yana Sumpena*, Rochestri Sofyan*,
Rusi Rusilawati**
*Nuclear Technology Research and Development
Center - BATAN, Indonesia
**Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia
Clinical Characteristics
of ARMD Patients at
Cicendo Eye Hospital
Bandung
Erry
Health System and Policy Research
Development Center, Department of Health,
Republic of Indonesia, Jakarta, Indonesia
4
Epidermal Growth Factor
Receptor (EGFR) Sebagai Sasaran
Terapi Kanker Kolorektal
Santosa*, C. Suharti **
Perserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I, ** Kepala Sub Bagian
Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam FK UNDIP/RS. Dr. Kariadi Semarang
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
6
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
Gambar 1. Obat-obat yang diakui FDA dalam pengelolaan kanker kolorektal
lanjut dan median survival keseluruhan pada percobaan fase III.
17
Keterangan: 5-FU: 5-fluorouracil, Ctx:kemoterapi
Protokol kombinasi menggunakan 5-FU/LV, per infus (bukan bolus)
ditambah irinotecan (FOLFIRI) dan oxaliplatin (FOLFOX) lebih baik
dibandingkan 5-FU/LV dengan IFL (bolus 5-FU/LV ditambah irinote-
can), standar yang dipakai mulai tahun 2000. Pada tabel 2 dapat
dilihat ringkasan percobaan klinis penggunaan irinotecan dan
oxaliplatin sebagai terapi lini pertama kanker kolorektal.
Tabel 1. Sistem Stadium TNM untuk Kanker Kolorektal
17
Tabel 2. Perbandingan Percobaan-percobaan Irinotecan dan Oxaliplatin
sebagai Terapi Lini Pertama untuk Kanker Kolorektal
17
EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR SEBAGAI SASARAN
TERAPI PADA KANKER KOLOREKTAL
Struktur dan Fungsi EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor)
Growth factor dan reseptor kinase transmembran berperan penting
dalam proliferasi, survival, adesi, migrasi dan differensiasi. EGFR
terdiri dari empat reseptor transmembran, yaitu: EGFR (HER1/erbB-1),
HER2 (erbB-2/neu), HER3 (erbB-3) dan HER4 (erbB-4). EGFR
(HER1/erbB-1) merupakan glikoprotein 170 kDa yang terdiri dari 3
domain fungsional utama yaitu domain ligan ikatan ekstraseluler,
domain transmembran hidrofilik dan domain tirosin kinase
sitoplasmik (Gb.1).
16,18,19,20,21
Gb 1. Diagram skema empat famili ErB beserta ligand-ligand spesifiknya.
Angka (sebagai prosentase) menunjukkan tingkat homologi relatif ter-
hadap ErB1/EGFR. Dengan perkecualian kinase-deficient ErbB3 karena
terdapat tingkat homologi yang tinggi dalam domain tirosin kinase.
21
Terdapat tujuh ligand yang berbeda secara genetik seperti EGF,
TGF-_ , heparin-binding EGF, amphiregulin, betacllulin, epiregulin,
neuregulin G2_ yang mampu berikatan dengan EGFR. EGFR mem-
berikan jalur sinyal transduksi intraseluler seperti Ras/mitogen-
activated protein kinase (MAPK). Ikatan growth factor dan resep-
tornya merupakan awal organisasi dan proses biokimia sel. Proses
tersebut adalah aktivasi reseptor, kaskade fosforilasi dengan iden-
tifikasi protein kinase dan pada tingkat nukleus terjadi aktivasi
faktor transkripsi. Gambar 2 merupakan ilustrasi sederhana interaksi
sistem EGFR dan kaskade Ras/kaskade MAPK yang merupakan
salah satu jalur sinyal seluler utama. Respon biologi terhadap sinyal
EGFR adalah pleiotropik, yaitu: mitogenesis, penurunan apoptosis,
mempercepat motilitas sel, sekresi protein dan differensiasi atau
dedifferensiasi.
21,22
Gb 2. Ilustrasi skematik jalur EGFR pengaruh terhadap sel dan jaringan.
Lokasi inhibitor EGFR dapat ditempati monoklonal antibodi (Abs) dan
tyrosine kinase inhibitor (TKIs).
21
Peran EGFR dalam Onkologi
Efek aktivasi EGFR pada sel tumor adalah beragam dan konvergen
sehingga terjadi pertumbuhan sel yang tidak terkontrol, peningkatan
mobilitas, proliferasi sel, invasi, metastasis, penurunan kemampuan
apoptosis serta stimulasi angiogenesis (Gambar 3).
16
Secara normal
EGFR terekspresi oleh banyak jenis sel seperti epitel dan jaringan
mesenkim. Tetapi terdapat variabilitas rekspresi atau disregulasi EGFR
pada keganasan. Telah diketahui sebagian besar kanker epitel banyak
mengekspresikan EGFR.
21,23
Overekspresi EGFR terjadi pada kanker
kandung kemih, otak, payudara, servik, uterus, kolon, esofagus,
glioma, ovarium, ginjal dan paru non-small-cell.
21
Tumor dengan
ekspresi EGFR cenderung lebih agresif dan invasif. Ekspresi EGFR
kanker kolorektal kurang lebih 70-75 %, sehingga keganasan ini
dapat diidentifikasi dalam pengembangan klinis inhibitor EGFR.
Ekspresi EGFR pada kanker kolorektal berhubungan dengan penya-
kit yang lebih agresif dan prognosis yang buruk
14,15
7
I
T1-2,N0,M0
>90
IIA
T3,N0,M0
IIB
T4,N0,M0
60-85
IIIA
T1-2,N1,M0
IIIB
T3-4,N1,M0
25-65
IIIC
Semua
T,
N2,M0
IV
Semua, semua N, M1
5-7
Stadium Klasifikasi TNM
Five-Year survival (%)
Percobaan
dan
regimen
Goldber dkk
IFL
FOLFOX
IROX
Tournigand
dkk.
FOLFIRI
FOLFOX
Grothey dkk.
Irinitecan +
capecitabine
Oxaliplatin +
capecitabine
Jumlah
pasien
264
267
264
109
111
79
82
Rerata
respon
31
45
35
56
54
43
51
p
<0,001
0,3
TB
0,3
p
<0.001
0,04
0,99
TB
p
0,002
0,5
0,3
0,3
Median
waktu
progresi
7,0
9,3
6,5
8,5
8,0
7,9
7,9
Median
survival
keseluruhan
15,0
19,5
17,4
21,5
20,6
>16
>16
Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) bersama ligand spesifik-
nya seperti EGF (epidermal growth factor), bFGF (basic fibroblast
gorwth factor), VEGF (vascular endothelial growth factor), dan TGF-_
(transforming growth factor-_) berperan penting dalam pertumbuhan
dan survival kanker kolorektal. Ekspresi EGFR pada kanker kolo-
rektal berhubungan dengan agresivitas penyakit dan prognosis
yang buruk.
13,16
Sasaran terapi terhadap EGFR merupakan strategi
baru untuk pengobatan kanker kolorektal. Pada makalah ini akan
dibahas terapi biologi dengan inhibitor EGFR yang merupakan
pilihan terapi baru dalam pengelolaan kanker kolorektal.
PENGELOLAAN KANKER KOLOREKTAL
Modalitas terapi untuk kanker kolon adalah pembedahan, radio-
terapi dan kemoterapi menggunakan obat sitotoksik. Terapi yang
baru adalah terapi biologis yang ditujukan pada sasaran molekul
spesifik yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor. Stadium pato-
logi masih merupakan indikator prognostik penting. American
Joint Committee on Cancer memperkenalkan sistem TNM dalam
menentukan stadium kanker kolorektal dan memprediksi five-year
survival rate (Tabel 1).
3,17
Terapi pembedahan tetap merupakan pilihan utama pada penata-
laksanaan kolorektal yang masih terlokalisir. Terapi adjuvan dengan
radiasi digunakan untuk memperbaiki hasil terapi dan mengurangi
kekambuhan lokal. Radiasi dapat dilakukan pra dan pasca bedah
dikombinasi dengan kemoterapi. Radiasi dapat berupa radiasi
eksternal atau brakiterapi.
3
Kemoterapi telah dikenal lama untuk kanker kolorektal lanjut.
Pilihan pengobatan untuk kanker kolorektal lanjut telah meluas
untuk beberapa tahun terakhir termasuk sitotoksik baru dan terapi
biologi (Gambar 1). Obat-obat sitotoksik lama adalah 5-fluouracil
(5-FU), capecitabine, sedangkan yang baru adalah irinotecan dan
oxaliplatin. 5-fluouracil (5-FU) masih merupakan tulang punggung
pengobatan kanker kolorektal. Antibodi monoklonal cetuximab
dan bevacizumab merupakan agen biologi yang telah digunakan
untuk kanker kolorektal yang metastasis.
17,18
Pasien karsinoma kolorektal stadium II-II berisiko tinggi mengalami
kekambuhan lokal maupun sistemik. Rekomendasi tingkat A oleh
Kelompok Kerja Adenokarsinoma Kolorektal (2004) adalah kemo-
terapi pada stadium III/Dukes C dengan 5-FU/FA atau capecitabine
hingga 6 bulan dan pada stadium IV/metastasis dengan 5FU/FA
atau capecitabine hingga 6 bulan ditambah oxaliplatin atau irino-
tecan selama 6 bulan. Rekomendasi tingkat B: dipertimbangkan
pemberian kemoterapi pada stadium IIA/Dukes B1. Rekomendasi
tingkat D pada stadium IIB/Dukes B2: kemoterapi 5-FU/FA atau
capecitabine, hingga 6 bulan.
3
Tumor primer (T)
TX : Tumor primer tak dapat ditentukan
N0 : Tidak ditemukan tumor primer
Tis : Carcinoma in situ
T1 : Tumor menyebuk sub mukosa
T2 : Tumor menyebuk muskularis propia
T3 : Tumor menembus muskularis propia ke sub serosa atau ke
peritoneum
atau
jaringan
perirektal
T4 : Tumor menginfiltrasi organ atau struktur atau ke peritoneum visceral
Kelenjar limfe regional(N)
NX : KGB regional tidak dapat ditentukan
N0 : Tak terdapat keterlibatan KGB regional
N1 : Metastasis ke 1-3 KGB regional
N2 : Metastasis ke 4 atau lebih KGB regional
Metastasis jauh (M)
MX : Tidak dapat ditentukan adanya metastasis jauh
M0 : Tidak ditemukan metastasis jauh
M1
: Ditemukan
metastasis
jauh
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
6
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
Gambar 1. Obat-obat yang diakui FDA dalam pengelolaan kanker kolorektal
lanjut dan median survival keseluruhan pada percobaan fase III.
17
Keterangan: 5-FU: 5-fluorouracil, Ctx:kemoterapi
Protokol kombinasi menggunakan 5-FU/LV, per infus (bukan bolus)
ditambah irinotecan (FOLFIRI) dan oxaliplatin (FOLFOX) lebih baik
dibandingkan 5-FU/LV dengan IFL (bolus 5-FU/LV ditambah irinote-
can), standar yang dipakai mulai tahun 2000. Pada tabel 2 dapat
dilihat ringkasan percobaan klinis penggunaan irinotecan dan
oxaliplatin sebagai terapi lini pertama kanker kolorektal.
Tabel 1. Sistem Stadium TNM untuk Kanker Kolorektal
17
Tabel 2. Perbandingan Percobaan-percobaan Irinotecan dan Oxaliplatin
sebagai Terapi Lini Pertama untuk Kanker Kolorektal
17
EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR SEBAGAI SASARAN
TERAPI PADA KANKER KOLOREKTAL
Struktur dan Fungsi EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor)
Growth factor dan reseptor kinase transmembran berperan penting
dalam proliferasi, survival, adesi, migrasi dan differensiasi. EGFR
terdiri dari empat reseptor transmembran, yaitu: EGFR (HER1/erbB-1),
HER2 (erbB-2/neu), HER3 (erbB-3) dan HER4 (erbB-4). EGFR
(HER1/erbB-1) merupakan glikoprotein 170 kDa yang terdiri dari 3
domain fungsional utama yaitu domain ligan ikatan ekstraseluler,
domain transmembran hidrofilik dan domain tirosin kinase
sitoplasmik (Gb.1).
16,18,19,20,21
Gb 1. Diagram skema empat famili ErB beserta ligand-ligand spesifiknya.
Angka (sebagai prosentase) menunjukkan tingkat homologi relatif ter-
hadap ErB1/EGFR. Dengan perkecualian kinase-deficient ErbB3 karena
terdapat tingkat homologi yang tinggi dalam domain tirosin kinase.
21
Terdapat tujuh ligand yang berbeda secara genetik seperti EGF,
TGF-_ , heparin-binding EGF, amphiregulin, betacllulin, epiregulin,
neuregulin G2_ yang mampu berikatan dengan EGFR. EGFR mem-
berikan jalur sinyal transduksi intraseluler seperti Ras/mitogen-
activated protein kinase (MAPK). Ikatan growth factor dan resep-
tornya merupakan awal organisasi dan proses biokimia sel. Proses
tersebut adalah aktivasi reseptor, kaskade fosforilasi dengan iden-
tifikasi protein kinase dan pada tingkat nukleus terjadi aktivasi
faktor transkripsi. Gambar 2 merupakan ilustrasi sederhana interaksi
sistem EGFR dan kaskade Ras/kaskade MAPK yang merupakan
salah satu jalur sinyal seluler utama. Respon biologi terhadap sinyal
EGFR adalah pleiotropik, yaitu: mitogenesis, penurunan apoptosis,
mempercepat motilitas sel, sekresi protein dan differensiasi atau
dedifferensiasi.
21,22
Gb 2. Ilustrasi skematik jalur EGFR pengaruh terhadap sel dan jaringan.
Lokasi inhibitor EGFR dapat ditempati monoklonal antibodi (Abs) dan
tyrosine kinase inhibitor (TKIs).
21
Peran EGFR dalam Onkologi
Efek aktivasi EGFR pada sel tumor adalah beragam dan konvergen
sehingga terjadi pertumbuhan sel yang tidak terkontrol, peningkatan
mobilitas, proliferasi sel, invasi, metastasis, penurunan kemampuan
apoptosis serta stimulasi angiogenesis (Gambar 3).
16
Secara normal
EGFR terekspresi oleh banyak jenis sel seperti epitel dan jaringan
mesenkim. Tetapi terdapat variabilitas rekspresi atau disregulasi EGFR
pada keganasan. Telah diketahui sebagian besar kanker epitel banyak
mengekspresikan EGFR.
21,23
Overekspresi EGFR terjadi pada kanker
kandung kemih, otak, payudara, servik, uterus, kolon, esofagus,
glioma, ovarium, ginjal dan paru non-small-cell.
21
Tumor dengan
ekspresi EGFR cenderung lebih agresif dan invasif. Ekspresi EGFR
kanker kolorektal kurang lebih 70-75 %, sehingga keganasan ini
dapat diidentifikasi dalam pengembangan klinis inhibitor EGFR.
Ekspresi EGFR pada kanker kolorektal berhubungan dengan penya-
kit yang lebih agresif dan prognosis yang buruk
14,15
7
I
T1-2,N0,M0
>90
IIA
T3,N0,M0
IIB
T4,N0,M0
60-85
IIIA
T1-2,N1,M0
IIIB
T3-4,N1,M0
25-65
IIIC
Semua
T,
N2,M0
IV
Semua, semua N, M1
5-7
Stadium Klasifikasi TNM
Five-Year survival (%)
Percobaan
dan
regimen
Goldber dkk
IFL
FOLFOX
IROX
Tournigand
dkk.
FOLFIRI
FOLFOX
Grothey dkk.
Irinitecan +
capecitabine
Oxaliplatin +
capecitabine
Jumlah
pasien
264
267
264
109
111
79
82
Rerata
respon
31
45
35
56
54
43
51
p
<0,001
0,3
TB
0,3
p
<0.001
0,04
0,99
TB
p
0,002
0,5
0,3
0,3
Median
waktu
progresi
7,0
9,3
6,5
8,5
8,0
7,9
7,9
Median
survival
keseluruhan
15,0
19,5
17,4
21,5
20,6
>16
>16
Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) bersama ligand spesifik-
nya seperti EGF (epidermal growth factor), bFGF (basic fibroblast
gorwth factor), VEGF (vascular endothelial growth factor), dan TGF-_
(transforming growth factor-_) berperan penting dalam pertumbuhan
dan survival kanker kolorektal. Ekspresi EGFR pada kanker kolo-
rektal berhubungan dengan agresivitas penyakit dan prognosis
yang buruk.
13,16
Sasaran terapi terhadap EGFR merupakan strategi
baru untuk pengobatan kanker kolorektal. Pada makalah ini akan
dibahas terapi biologi dengan inhibitor EGFR yang merupakan
pilihan terapi baru dalam pengelolaan kanker kolorektal.
PENGELOLAAN KANKER KOLOREKTAL
Modalitas terapi untuk kanker kolon adalah pembedahan, radio-
terapi dan kemoterapi menggunakan obat sitotoksik. Terapi yang
baru adalah terapi biologis yang ditujukan pada sasaran molekul
spesifik yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor. Stadium pato-
logi masih merupakan indikator prognostik penting. American
Joint Committee on Cancer memperkenalkan sistem TNM dalam
menentukan stadium kanker kolorektal dan memprediksi five-year
survival rate (Tabel 1).
3,17
Terapi pembedahan tetap merupakan pilihan utama pada penata-
laksanaan kolorektal yang masih terlokalisir. Terapi adjuvan dengan
radiasi digunakan untuk memperbaiki hasil terapi dan mengurangi
kekambuhan lokal. Radiasi dapat dilakukan pra dan pasca bedah
dikombinasi dengan kemoterapi. Radiasi dapat berupa radiasi
eksternal atau brakiterapi.
3
Kemoterapi telah dikenal lama untuk kanker kolorektal lanjut.
Pilihan pengobatan untuk kanker kolorektal lanjut telah meluas
untuk beberapa tahun terakhir termasuk sitotoksik baru dan terapi
biologi (Gambar 1). Obat-obat sitotoksik lama adalah 5-fluouracil
(5-FU), capecitabine, sedangkan yang baru adalah irinotecan dan
oxaliplatin. 5-fluouracil (5-FU) masih merupakan tulang punggung
pengobatan kanker kolorektal. Antibodi monoklonal cetuximab
dan bevacizumab merupakan agen biologi yang telah digunakan
untuk kanker kolorektal yang metastasis.
17,18
Pasien karsinoma kolorektal stadium II-II berisiko tinggi mengalami
kekambuhan lokal maupun sistemik. Rekomendasi tingkat A oleh
Kelompok Kerja Adenokarsinoma Kolorektal (2004) adalah kemo-
terapi pada stadium III/Dukes C dengan 5-FU/FA atau capecitabine
hingga 6 bulan dan pada stadium IV/metastasis dengan 5FU/FA
atau capecitabine hingga 6 bulan ditambah oxaliplatin atau irino-
tecan selama 6 bulan. Rekomendasi tingkat B: dipertimbangkan
pemberian kemoterapi pada stadium IIA/Dukes B1. Rekomendasi
tingkat D pada stadium IIB/Dukes B2: kemoterapi 5-FU/FA atau
capecitabine, hingga 6 bulan.
3
Tumor primer (T)
TX : Tumor primer tak dapat ditentukan
N0 : Tidak ditemukan tumor primer
Tis : Carcinoma in situ
T1 : Tumor menyebuk sub mukosa
T2 : Tumor menyebuk muskularis propia
T3 : Tumor menembus muskularis propia ke sub serosa atau ke
peritoneum
atau
jaringan
perirektal
T4 : Tumor menginfiltrasi organ atau struktur atau ke peritoneum visceral
Kelenjar limfe regional(N)
NX : KGB regional tidak dapat ditentukan
N0 : Tak terdapat keterlibatan KGB regional
N1 : Metastasis ke 1-3 KGB regional
N2 : Metastasis ke 4 atau lebih KGB regional
Metastasis jauh (M)
MX : Tidak dapat ditentukan adanya metastasis jauh
M0 : Tidak ditemukan metastasis jauh
M1
: Ditemukan
metastasis
jauh
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
8
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
INHIBITOR EGFR PADA KANKER
EGFR merupakan target rasional dalam strategi antitumor.
Terdapat 2 jenis inhibitor EGFR yang dikembangkan yaitu :
1. Monoklonal antibodi (mAbs) yang ditujukan terhadap domain
ekstraseluler
reseptor
2. Tirosin kinase inhibitor.
19,24
Monoklonal antibodi (mAbs) bereaksi terhadap EGFR melalui mekanisme :
1. Ikatan ekstraseluler
2. Internalisasi kompleks reseptor antibodi
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR
4. Meningkatkan stimulasi respon imunologis.
21
Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) langsung bereaksi terhadap EGFR
melalui mekanisme sebagai berikut:
1. Ikatan intraseluler
2. Mencegah aktivasi tirosin kinase
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR.
Masing-masing tempat aksi mAbs dan TKIs dapat dilihat pada
ilustrasi Gambar 1.
21
Inhibitor monoklonal antibodi terhadap EGFR
Beberapa mAbs langsung menghambat EGFR dalam berbagai
stadium perkembangan klinik (Tabel 3).
Tabel 3. Monoklonal antibodi EGFR dalam percobaan klinik
21
* Telah diakui penggunaannya.
Cetuximab
Penelitian paling luas mengenai mAbs anti EGFR adalah untuk
cetuximab, yang dikenal sebagai IMC-25 atau C225, suatu mAb
chimeric yang dirancang khusus menghambat EGFR. Cetuximab
telah disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration
dan Swiss Medical Control Agency untuk pengobatan kanker
kolorektal yang tidak respon terhadap irinotecan.
21,25
Antibodi chimeric ini dikembangkan dengan mengkombinasi
berbagai regio prekursor antibodi tikus (mAb 225) dengan regio
konstan imunoglobulin G1 manusia untuk mengurangi reaksi
imunologi pasien. Cetuximab sangat spesifik untuk EGFR dan
menyebabkan internalisasi reseptor dan down regulation. Efek
menghambat proliferasi sel tumor tergantung dosis. Inhibisi
proliferasi sel ini menyebabkan siklus sel terhenti pada fase G1
dan/atau meningkatkan apoptosis.
21,25,26
Mekanisme lain inhibisi pertumbuhan tumor adalah antiangio-
genesis. Cetuximab menghambat produksi VEGF (vascular epithelial
growth factor) sel karsinoma epidermoid, sehingga mengurangi
jumlah pembuluh darah tumor; down regulation VEGF, interleukin
8 dan ekspresi bEGF (basic fibroblast growth factor) pada xenograft
tumor. Cetuximab juga menghambat pertumbuhan serta metas-
tasis tumor 253J B-V dan tumor prostat manusia.
21
Bevacizumab
Pemahaman bahwa tumor dapat menginduksi pembentukan
pembuluh darah baru, membuat peneliti berusaha mengontrol
pertumbuhan dan penyebaran kanker melalui penghambatan
angiogenesis. Usaha yang paling berhasil adalah menetralisasi
vascular endothelial growth factor (VEGF), suatu protein terlarut
yang berperan dalam angiogenesis. Bevacizumab merupakan
antibodi manusia yang berperan menghambat VEGF. Bahan ini
telah dicoba sebagai terapi kombinasi pada beberapa percobaan
klinik pada pasien dengan kanker kolorektal.
17
Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs)
TKIs merupakan sintesis derivat quinazoline, berat molekul
rendah yang berinteraksi dengan beberapa reseptor domain
tirosin kinase intraseluler termasuk EGFR, dan menghambat
fosforilasi reseptor yang diinduksi ligan melalui kompetisi pada
tempat ikatan Mg-ATP. Lebih dari 20 tahun lalu telah dikem-
bangkan beberapa ratus TKIs. Telah cukup banyak mengenai
penelitian TKIs (Tabel 4).
21
Tabel 4. Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) dalam percobaan klinik
21
Gefitinib yang dikenal sebagai ZD1839 telah mendapat pengakuan
dari 18 negara, termasuk USA, Kanada, Jepang, Australia.
Gefitinib merupakan bahan aktif oral dengan berat molekul
rendah, aniloquiazoline sintetik yang menghambat beberapa
reseptor tirosine kinase terutama EGFR. Pada konsentrasi yang
lebih tinggi memungkinkan menghentikan aktivitas tyrosine
kinase in vivo. Proses ini terjadi sebagai akibat konsentrasi ATP
intraseluler yang tinggi. Pada dosis 100 kali lipat dosis yang
diperlukan untuk mem-blok EGFR, Gefitinib mengikat resptor
tirosine kinase lain termasuk HER2. Aktivitas reseptor tambahan
ini mungkin memiliki makna klinis tetapi efeknya masih dalam
proses penelitian.
21
Gefitinib menunjukkan efek antiproliferatif pada kultur sel tumor
dan xenograf tumor manusia, baik sebagai obat tunggal ataupun
dalam kombinasi dengan obat sitotoksik atau radioterapi.
Penambahan gefitinib akan memberikan efek aditif atau kadang
sinergis. Efek aditif atau sinergis yang dicapai dalam kombinasi
terapi membuat ekspresi EGFR dari model tumor tidak terlalu tinggi.
Temuan preklinik ini memberikan arti bahwa ekpsresi EGFR tumor
bukan merupakan kriteria yang diperlukan dalam penelitian.
Chung dkk. menyatakan bahwa tumor dengan ekspresi EGFR
negatif mungkin berespon baik terhadap Gefitinib.
15,21
Penelitian preklinik menunjukkan bahwa gefitinib memiliki efek
jalur sinyal intraseluler yang sama seperti mAbs. Gefitinib meng-
hambat pertumbuhan sel kanker manusia in vitro dan in vivo. Efek
gefitinib terjadi melalui penghentian siklus sel dan/atau apoptosis.
TKIs memiliki beberapa mekanisme antitumor, seperti dapat secara
langsung menghambat angiogenesis pada pertumbuhan kanker
kolon, payudara, ovarium dan kanker manusia secara in vitro,
hambatan produksi VEGF, bFGF dan TGF-_. Akibat penghambatan
ini adalah penurunan densitas pembuluh darah mikro tumor.
21,22,28
PENELITIAN KLINIK INHIBITOR EGFR PADA KANKER
KOLOREKTAL
Monoklonal antibodi (mAbs) dan Tirosin Kinase Inhibitors (TKIs)
memiliki profil farmakokinetik yang berbeda dalam cara dan fre-
kuensi pemberian. Cetuximab merupakan protein yang dapat di-
degradasi di saluran cerna sehingga diberikan secara intravena.
Sebaliknya gefinitib dapat diberikan secara oral sehingga memungkin-
kan pemakaian jangka panjang.
21
Cetuximab, ABX-EGF, gefinitib dan erlotinib telah dievaluasi secara
klinis sebagai obat tunggal dan dalam kombinasi bersama kemo-
terapi dan radioterapi konvensional. EGFR dan terapi antikanker
konvensional bekerja melalui cara yang berbeda, sehingga terapi
kombinasi akan memberikan efek potensiasi atau sinergi.
Beberapa penelitian preklinik telah menunjukkan aktivitas antitumor
yang sinergis atau tambahan baik secara in vitro maupun in vivo.
21
CETUXIMAB
Cetuximab diberikan secara intravena dengan dosis 200-400/m2
dan memiliki waktu paruh 114 (75-188) jam, sehingga memung-
kinkan diberikan setiap minggu. Kinetik cetuximab belum dipahami
secara jelas dan bersihan sistemik terjadi secara lengkap.
21
Untuk menilai efikasi dilakukan percobaan fase 2 cetuximab+
irinotecan pada pasien kanker kolorektal yang refrakter terhadap
irinotecan (n=121), hasilnya menunjukkan respon sebagian pada
23% pasien dan sedikit respon atau stabil pada 31 pasien. Dari
total 138 pasien yang dilaporkan rata-rata respon lengkap adalah
15% dan median durasi respon 6,5 bulan.
17,21
Percobaan fase II
yang lebih besar di Eropa (the BOND study) dilakukan untuk mem-
bandingkan kombinasi cetuximab dan irinotecan (218 pasien)
dengan cetuximab sebagai obat tunggal (111 pasien) pada pasien
kanker kolorektal metastasis yang positif EGFR dan refrakter
terhadap irinotecan.
9
Nama
IMC- C225
ABX-EGF
EMD 72000
MDX-447
h-R3
Mab 806
Jenis
Chimeric IgG1
Fully human IgG2
Humanized IgG1
Humanized, bispecific:
EGFR/FcR 1
Humanized
Anti-EGFR VIII
Nama generik
*Cetuximab/Erbitux
Panitumumab
HuMab-Mouse
TheraCIM
Nama
ZD1839
OSI-774
CI-1033
EKB-569
GW2016
PKI-166
Jenis
erbB1
erbB1
pan erbB
erbB1/2
erbB1/2
erbB1/2
Nama generik
*Gefitinib/Iressa
Erlotinib HC1/Tarceva
Canertinib
-
-
-
Terdapat mekanisme lain dalam meningkatkan sinyal ekspresi
EGFR yaitu:
1. Peningkatan jumlah reseptor
2. Peningkatan jumlah ligan
3. Heterodimerisasi reseptor
4. Mutasi reseptor.
Mekanisme multipel aktivasi EGFR secara skematis dapat dilihat
pada gambar 4.
22
Gambar 3. Peranan EGFR pada kanker kolon. Lapisan A adalah tempat interaksi ligan
dengan EGFR. Lapisan C adalah proses kaskade sinyal intraseluler yang kompleks.
Pada lapisan C diperlihatkan efek akhir aktivasi EGFR tersebut seperti hambatan
apoptosis, proliferasi, angiogenesis, maturasi, migrasi, adesi, invasi dan differensiasi.
Growth factor mengatur perkembangan kanker melalui beberapa mekanisme:
1. Pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali akibat produksi
growth factor autokrin oleh sel kanker
2. Stimulasi neovaskularisasi sebagai akibat rangsang parakrin sel epitel
normal
oleh
angiogenic growth factor yang disekresi sel kanker.
13
Angiogenesis tumor merupakan proses dalam pembentukan pem-
buluh darah baru dalam masa tumor yang berperan dalam survival
sel kanker, pertumbuhan tumor dan perkembangan metastasis
jauh. Pembentukan pembuluh darah baru penting dalam menye-
diakan asupan oksigen dan nutrien bagi perkembangan masa
tumor dan metastasis. Perkembangan pembuluh darah diatur oleh
produksi beberapa growth factor dan growth inhibitor. Telah
diidentifikasi growth factor yang berbeda seperti: bFGF, VEGF,
dan TGF-_ sebagai regulator angiogenesis. Zat ini disekresi oleh
sel kanker untuk merangsang pertumbuhan sel endotel normal
melalui mekanisme parakrin. VGEF merupakan mitogen yang poten
dan spesifik untuk sel endotel yang mengaktifkan perubahan
agiogenesis in vivo dan meningkatkan permeabilitas vaskuler.
Peningkatan ekspresi VGEF telah diamati pada kanker manusia
seperti kanker kolorektal, payudara, ovarium dan berhubungan
langsung dengan peningkatan neovaskularisasi.
13
Gambar 4. Berbagai mekanisme yang meningkatkan aktivasi EGFR (EGF; epidermal
growth factor, TGF-_ (transforming growth factor-_), R: receptor, S;substrate, K:
tyrosine, Py:phosphorilated tyrosine residue.
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
8
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
INHIBITOR EGFR PADA KANKER
EGFR merupakan target rasional dalam strategi antitumor.
Terdapat 2 jenis inhibitor EGFR yang dikembangkan yaitu :
1. Monoklonal antibodi (mAbs) yang ditujukan terhadap domain
ekstraseluler
reseptor
2. Tirosin kinase inhibitor.
19,24
Monoklonal antibodi (mAbs) bereaksi terhadap EGFR melalui mekanisme :
1. Ikatan ekstraseluler
2. Internalisasi kompleks reseptor antibodi
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR
4. Meningkatkan stimulasi respon imunologis.
21
Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) langsung bereaksi terhadap EGFR
melalui mekanisme sebagai berikut:
1. Ikatan intraseluler
2. Mencegah aktivasi tirosin kinase
3. Inhibisi jalur sinyal EGFR.
Masing-masing tempat aksi mAbs dan TKIs dapat dilihat pada
ilustrasi Gambar 1.
21
Inhibitor monoklonal antibodi terhadap EGFR
Beberapa mAbs langsung menghambat EGFR dalam berbagai
stadium perkembangan klinik (Tabel 3).
Tabel 3. Monoklonal antibodi EGFR dalam percobaan klinik
21
* Telah diakui penggunaannya.
Cetuximab
Penelitian paling luas mengenai mAbs anti EGFR adalah untuk
cetuximab, yang dikenal sebagai IMC-25 atau C225, suatu mAb
chimeric yang dirancang khusus menghambat EGFR. Cetuximab
telah disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration
dan Swiss Medical Control Agency untuk pengobatan kanker
kolorektal yang tidak respon terhadap irinotecan.
21,25
Antibodi chimeric ini dikembangkan dengan mengkombinasi
berbagai regio prekursor antibodi tikus (mAb 225) dengan regio
konstan imunoglobulin G1 manusia untuk mengurangi reaksi
imunologi pasien. Cetuximab sangat spesifik untuk EGFR dan
menyebabkan internalisasi reseptor dan down regulation. Efek
menghambat proliferasi sel tumor tergantung dosis. Inhibisi
proliferasi sel ini menyebabkan siklus sel terhenti pada fase G1
dan/atau meningkatkan apoptosis.
21,25,26
Mekanisme lain inhibisi pertumbuhan tumor adalah antiangio-
genesis. Cetuximab menghambat produksi VEGF (vascular epithelial
growth factor) sel karsinoma epidermoid, sehingga mengurangi
jumlah pembuluh darah tumor; down regulation VEGF, interleukin
8 dan ekspresi bEGF (basic fibroblast growth factor) pada xenograft
tumor. Cetuximab juga menghambat pertumbuhan serta metas-
tasis tumor 253J B-V dan tumor prostat manusia.
21
Bevacizumab
Pemahaman bahwa tumor dapat menginduksi pembentukan
pembuluh darah baru, membuat peneliti berusaha mengontrol
pertumbuhan dan penyebaran kanker melalui penghambatan
angiogenesis. Usaha yang paling berhasil adalah menetralisasi
vascular endothelial growth factor (VEGF), suatu protein terlarut
yang berperan dalam angiogenesis. Bevacizumab merupakan
antibodi manusia yang berperan menghambat VEGF. Bahan ini
telah dicoba sebagai terapi kombinasi pada beberapa percobaan
klinik pada pasien dengan kanker kolorektal.
17
Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs)
TKIs merupakan sintesis derivat quinazoline, berat molekul
rendah yang berinteraksi dengan beberapa reseptor domain
tirosin kinase intraseluler termasuk EGFR, dan menghambat
fosforilasi reseptor yang diinduksi ligan melalui kompetisi pada
tempat ikatan Mg-ATP. Lebih dari 20 tahun lalu telah dikem-
bangkan beberapa ratus TKIs. Telah cukup banyak mengenai
penelitian TKIs (Tabel 4).
21
Tabel 4. Tyrosine Kinase Inhibitor (TKIs) dalam percobaan klinik
21
Gefitinib yang dikenal sebagai ZD1839 telah mendapat pengakuan
dari 18 negara, termasuk USA, Kanada, Jepang, Australia.
Gefitinib merupakan bahan aktif oral dengan berat molekul
rendah, aniloquiazoline sintetik yang menghambat beberapa
reseptor tirosine kinase terutama EGFR. Pada konsentrasi yang
lebih tinggi memungkinkan menghentikan aktivitas tyrosine
kinase in vivo. Proses ini terjadi sebagai akibat konsentrasi ATP
intraseluler yang tinggi. Pada dosis 100 kali lipat dosis yang
diperlukan untuk mem-blok EGFR, Gefitinib mengikat resptor
tirosine kinase lain termasuk HER2. Aktivitas reseptor tambahan
ini mungkin memiliki makna klinis tetapi efeknya masih dalam
proses penelitian.
21
Gefitinib menunjukkan efek antiproliferatif pada kultur sel tumor
dan xenograf tumor manusia, baik sebagai obat tunggal ataupun
dalam kombinasi dengan obat sitotoksik atau radioterapi.
Penambahan gefitinib akan memberikan efek aditif atau kadang
sinergis. Efek aditif atau sinergis yang dicapai dalam kombinasi
terapi membuat ekspresi EGFR dari model tumor tidak terlalu tinggi.
Temuan preklinik ini memberikan arti bahwa ekpsresi EGFR tumor
bukan merupakan kriteria yang diperlukan dalam penelitian.
Chung dkk. menyatakan bahwa tumor dengan ekspresi EGFR
negatif mungkin berespon baik terhadap Gefitinib.
15,21
Penelitian preklinik menunjukkan bahwa gefitinib memiliki efek
jalur sinyal intraseluler yang sama seperti mAbs. Gefitinib meng-
hambat pertumbuhan sel kanker manusia in vitro dan in vivo. Efek
gefitinib terjadi melalui penghentian siklus sel dan/atau apoptosis.
TKIs memiliki beberapa mekanisme antitumor, seperti dapat secara
langsung menghambat angiogenesis pada pertumbuhan kanker
kolon, payudara, ovarium dan kanker manusia secara in vitro,
hambatan produksi VEGF, bFGF dan TGF-_. Akibat penghambatan
ini adalah penurunan densitas pembuluh darah mikro tumor.
21,22,28
PENELITIAN KLINIK INHIBITOR EGFR PADA KANKER
KOLOREKTAL
Monoklonal antibodi (mAbs) dan Tirosin Kinase Inhibitors (TKIs)
memiliki profil farmakokinetik yang berbeda dalam cara dan fre-
kuensi pemberian. Cetuximab merupakan protein yang dapat di-
degradasi di saluran cerna sehingga diberikan secara intravena.
Sebaliknya gefinitib dapat diberikan secara oral sehingga memungkin-
kan pemakaian jangka panjang.
21
Cetuximab, ABX-EGF, gefinitib dan erlotinib telah dievaluasi secara
klinis sebagai obat tunggal dan dalam kombinasi bersama kemo-
terapi dan radioterapi konvensional. EGFR dan terapi antikanker
konvensional bekerja melalui cara yang berbeda, sehingga terapi
kombinasi akan memberikan efek potensiasi atau sinergi.
Beberapa penelitian preklinik telah menunjukkan aktivitas antitumor
yang sinergis atau tambahan baik secara in vitro maupun in vivo.
21
CETUXIMAB
Cetuximab diberikan secara intravena dengan dosis 200-400/m2
dan memiliki waktu paruh 114 (75-188) jam, sehingga memung-
kinkan diberikan setiap minggu. Kinetik cetuximab belum dipahami
secara jelas dan bersihan sistemik terjadi secara lengkap.
21
Untuk menilai efikasi dilakukan percobaan fase 2 cetuximab+
irinotecan pada pasien kanker kolorektal yang refrakter terhadap
irinotecan (n=121), hasilnya menunjukkan respon sebagian pada
23% pasien dan sedikit respon atau stabil pada 31 pasien. Dari
total 138 pasien yang dilaporkan rata-rata respon lengkap adalah
15% dan median durasi respon 6,5 bulan.
17,21
Percobaan fase II
yang lebih besar di Eropa (the BOND study) dilakukan untuk mem-
bandingkan kombinasi cetuximab dan irinotecan (218 pasien)
dengan cetuximab sebagai obat tunggal (111 pasien) pada pasien
kanker kolorektal metastasis yang positif EGFR dan refrakter
terhadap irinotecan.
9
Nama
IMC- C225
ABX-EGF
EMD 72000
MDX-447
h-R3
Mab 806
Jenis
Chimeric IgG1
Fully human IgG2
Humanized IgG1
Humanized, bispecific:
EGFR/FcR 1
Humanized
Anti-EGFR VIII
Nama generik
*Cetuximab/Erbitux
Panitumumab
HuMab-Mouse
TheraCIM
Nama
ZD1839
OSI-774
CI-1033
EKB-569
GW2016
PKI-166
Jenis
erbB1
erbB1
pan erbB
erbB1/2
erbB1/2
erbB1/2
Nama generik
*Gefitinib/Iressa
Erlotinib HC1/Tarceva
Canertinib
-
-
-
Terdapat mekanisme lain dalam meningkatkan sinyal ekspresi
EGFR yaitu:
1. Peningkatan jumlah reseptor
2. Peningkatan jumlah ligan
3. Heterodimerisasi reseptor
4. Mutasi reseptor.
Mekanisme multipel aktivasi EGFR secara skematis dapat dilihat
pada gambar 4.
22
Gambar 3. Peranan EGFR pada kanker kolon. Lapisan A adalah tempat interaksi ligan
dengan EGFR. Lapisan C adalah proses kaskade sinyal intraseluler yang kompleks.
Pada lapisan C diperlihatkan efek akhir aktivasi EGFR tersebut seperti hambatan
apoptosis, proliferasi, angiogenesis, maturasi, migrasi, adesi, invasi dan differensiasi.
Growth factor mengatur perkembangan kanker melalui beberapa mekanisme:
1. Pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali akibat produksi
growth factor autokrin oleh sel kanker
2. Stimulasi neovaskularisasi sebagai akibat rangsang parakrin sel epitel
normal
oleh
angiogenic growth factor yang disekresi sel kanker.
13
Angiogenesis tumor merupakan proses dalam pembentukan pem-
buluh darah baru dalam masa tumor yang berperan dalam survival
sel kanker, pertumbuhan tumor dan perkembangan metastasis
jauh. Pembentukan pembuluh darah baru penting dalam menye-
diakan asupan oksigen dan nutrien bagi perkembangan masa
tumor dan metastasis. Perkembangan pembuluh darah diatur oleh
produksi beberapa growth factor dan growth inhibitor. Telah
diidentifikasi growth factor yang berbeda seperti: bFGF, VEGF,
dan TGF-_ sebagai regulator angiogenesis. Zat ini disekresi oleh
sel kanker untuk merangsang pertumbuhan sel endotel normal
melalui mekanisme parakrin. VGEF merupakan mitogen yang poten
dan spesifik untuk sel endotel yang mengaktifkan perubahan
agiogenesis in vivo dan meningkatkan permeabilitas vaskuler.
Peningkatan ekspresi VGEF telah diamati pada kanker manusia
seperti kanker kolorektal, payudara, ovarium dan berhubungan
langsung dengan peningkatan neovaskularisasi.
13
Gambar 4. Berbagai mekanisme yang meningkatkan aktivasi EGFR (EGF; epidermal
growth factor, TGF-_ (transforming growth factor-_), R: receptor, S;substrate, K:
tyrosine, Py:phosphorilated tyrosine residue.
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
11
BEVACIZUMAB
Percobaan fase 2 yang membandingkan Bevacizumab dengan
fluorouracil dan leukovorin menunjukkan bahwa Bevacizumab
meningkatkan repon tumor. Huwitz dkk. melakukan percobaan
pada 815 pasien yang diberi IFL bersama bevacizumab dibanding
IFL ditambah plasebo. Penambahan bevacizumab meningkatkan
rerata respon dan memperpanjang median survival 4,7 bulan secara
bermakna. Pada penelitian melibatkan pasien yang dipertimbang-
kan tidak dapat mentolerir irinotecan, Kabbivanavar dkk menunjuk-
kan bahwa bevacizumab yang ditambahkan pada fluorouracil
dan leucovorin meningkatkan rerata respon dan memperlambat
progresi tumor, tetapi tidak memperpanjang median survival.
Pada dua penelitian tersebut bevacizumab berhubungan dengan
hipertensi dan proteinuria yang reversibel dan relatif ditolerir dengan
baik. Peningkatan median survival secara bermakna dilaporkan pada
penambahan bevacizumab pada FOLFOX, yang dibandingkan
dengan pemberian FOLFOX saja. Penelitian terakhir ini dilakukan
pada kanker kolorektal yang telah diberi terapi irinotecan.
17
Tabel 5. Percobaan Terapi pada Kanker Kolorektal
17
* TD tidak dilaporkan dan IFL : irinotectan, fluouracil dan leucovorin.
Pada kelompok cetuximab dilakukan pertukaran dengan kelompok cetuximab
dan irinotecan. Empat puluh empat pasien secara acak kemudian ditukar men-
dapat cetuximab sebagai obat tunggal, hasilnya 3,6 terjadi respon pasrsial
dan 35,7 % penyakit menjadi stabil.
Pada percobaan ini, dua kelompok mendapat bevacizumab:satu kelompok
mendapat 10 mg per kg BB dengan hasil median survival 16,1 bulan dan pada
kelompok lain yang mendapat 5 mg per kgBB memiliki median survival secara
keseluruhan.
21,5.
Percobaan
dan regimen
Cetuximab
Saltz dkk.
- cetuximab dan
irinotectan
Saltz dkk.
- hanya cetuximab
Cunningham dkk
- Cetuxmab saja
- Cetuximab dan
irinotectan
Bevacizumab
Kabbinavar dkk.
- Fluorouracil dan
leukovorin
- Flourouracil,
leukovorin dan
bevacizumab
Kabbinavar dkk.
- Fluorouracil dan
leukovorin
- Flourouracil,
leukovorin dan
bevacizumab
Hurwitz dkk.
- IFL
- IFL dan
bevacizumab
Jenis
penelitian
Fase 2
Fase 2
Randomized,
fase 2
Randomized,
fase 2
Fase 3
Fase 3
Jumlah
pasien
121
57
111
218
36
68
105
104
412
403
Rerata
respon
19
11
11
23
17
32
15
26
(p=0,06)
35
45
(p=0,004)
Median
waktu
progresi
TD *
1,4
1,5
4,1
5,2
7,4
5,5
9,2
(p<0,001)
6,2
10,6
(p<0,001)
Median
survival
TD
6,4
6,9
8,6
13,8
16,1 dan 21,5
12,9
16,6 (p=0,16)
15,6
20,3 (p<0,001)
Hasil analisis menunjukkan rerata respon 22,9% (cetuximab+
irinotecan) dan 10,8% (cetuximab sebagai monoterapi). Median
survival rate lebih lama pada pasien yang mendapat terapi kombi-
nasi (8,6 bulan) daripada cetuximab saja (6,9 bulan), tetapi perbe-
daan ini secara statistik tidak bermakna. Kemaknaan ini dapat
dipengaruhi protokol penelitian. Penelitian ini juga menunjukkan
bahwa Oxaliplatin gagal pada 63% pasien.
19,21
Di Amerika Serikat telah dilakukan percobaan fase II (the EPIC
study) menggunakan cetuximab+irinotecan vs irinotecan, sebagai
pengobatan lini kedua pada pasien kanker kolorektal metastasis
dengan EGFR positif. Juga telah dilakukan penelitian fase III (the
EXPLORE study) yang melibatkan pasien kanker kolorektal meta-
stasis dengan ekspresi EGFR positif. Pada penelitian ini dilakukan
evaluasi cetuximab sebagai kombinasi dengan 5FU/leukovorin (LV)
dan oxaliplatin(FOLVOX) yang dibandingkan dengan pemberian
oxaliplatin (FOLVOX).
19,21
Saltz dkk. memberikan kombinasi cetuximab dan irinotecan pada
pasien kanker kolorektal lanjut yang tidak respon terhadap irino-
tecan. Hasilnya 19% pasien mengalami perbaikan ukuran tumor
secara radiologis. Untuk menentukan apakah efek anti tumor ini
akibat efek sinergis kedua obat atau aktivitas independen cetuximab,
60 pasien yang sama hanya diterapi dengan cetuximab; dari evaluasi
radiografi 10% terdapat regresi tumor yang bermakna.
17
Pengalaman tersebut dikaji ulang oleh Cunningham dkk. yang
secara acak melakukan percobaan pada 329 pasien dengan kanker
kolorektal lanjut yang refrakter terhadap irinotecan. (Tabel 5).
Hasil penelitian ini hampir identik, regresi terjadi pada 23% pasien
yang mendapat terapi kombinasi dan 11% pada yang mendapat
cetuximab tunggal.
17
Cetuximab telah diakui dalam pengobatan kanker kolorektal yang
refrakter terhadap irinotecan. Efek samping pemberian cetuximab
biasanya ringan seperti rash seperti jerawat, kulit kering dan fisura.
Jarang terjadi reaksi infus (3% pasien); 90% berhubungan dengan
infus pertama. Keadaan ini jarang fatal (kematian kurang dari 1
dalam 1000). Penggunaan gefitinib bersamaan dengan terapi
kanker konvensional, berisiko menyebabkan penyakit paru interstitial.
Kejadian ini dilaporkan 3 dari 633 pasien (<3%) dengan kanker
kolorektal lanjut yang diberikan cetuximab. Efek samping lain
yang serius adalah demam (5%), sepsis (3%), gagal ginjal (2%),
emboli paru (1%), dehidrasi (5% pada cetuximab+irinotecan;
2% pada cetuximab), dan diare (6% pada cetuximab + irinotecan,
0% pada cetuximab saja).
17,19,21
Data tersebut mendukung bahwa cetuximab efektif pada subgrup
pasien kanker kolorektal lanjut. Percobaan ini hanya melibatkan
pasien dengan bukti ekspresi EGFR melalui pemeriksaan histokimia.
Tetapi tampaknya tingkat ekspresi tidak berhubungan dengan
regresi penyakit. Ini menimbulkan pertanyaan apakah dalam me-
lakukan terapi harus ditentukan ada tidaknya ekspresi EGFR dan
apakah obat bertinteraksi dengan target molekular lain.
13,17,21
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
DAFTAR PUSTAKA
1. Ferlay J, Bray F, Pisani P, Parkin DM.GLOBOCAN 2002: cancer incidence, mortality
and prevalence worldwide. IARC Cancer Base no. 5, version 2.0. Lyon, France: IARC
Press,
2004.
2. Jemal A, Murray T, Ward E, et al. Cancer statistics, 2005. CA Cancer J Clin 2005;55: 10-30.
3. Kelompok Kerja Adenokolorektal Indonesia. Pengelolaan Karsinoma Kolorektal. 2004.
4. Jeekel J. Tumor usus halus dan usus besar. Dalam: van de Velde, CJH, Bosman FT,
Wagener DJTh. Onkologi. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press. 1999:393-407.
5. Hadi S. Tumor di kolon dan rectum. dalam: Gastroenterologi. Bandung, PT. Alumni
Bandung.
2002:386-401.
6. Schein PS. Kanker kolon. Dalam: Seri Skema Diagnosis dalam Penatalaksanaan
Onkologi. Jakarta; Binurapa Aksara. 1997: 82-83
7. Schein PS. Kanker rektal. Dalam: Seri Skema Diagnosis dalam Penatalaksanaan
Onkologi. Jakarta; Binurapa Aksara. 1997: 84-85.
8. Hadi S. Tumor Kolorektal. Dalam: Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta; Balai Penerbit
FKUI.
2001:
205-11.
9. Simadibrata R. Dianosis dini kanker kolon-rektum dan hati serta penanggulangannya,
dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya.
Jakarta; Balai Penerbit FKUI.1983:1-5.
10. Kartoleksono. Diagnosis dini kanker kolon-rektum dan hati serta penanggulangannya,
dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya.
Jakarta; Balai Penerbit FK UI.1983:7-11.
11. Kartowisastro H. Terapi Pembedahan karsinoma kolon dan perawatan stoma kolon,
dalam: Karsinoma Kolon-rektum dan hati, diagnosis dini dan penanggulangannya.
Jakarta; Balai Penerbit FK UI.1983:15-25.
12. Mayer RJ. Gastrointestinal tract cancer. In: Harrison»s Principal Internal Medicine 14
th
ed. New York; McGraw-Hill 1998: 569-83.
13. Cunningham D, Humblet Y, Siena S et al. Cetuximab monotherapy and cetuximab
plus Irinotecan in Irinotecan-refractory metastatic colorectal cancer. N Engl J Med
2004;351:337-45.
14. Prewett MC, Hooper AT, Bassi R et al. Enhanced antitumor activity of anti-Epidermal
Growth Factor Receptor monoclonal antibody IMC-C225 in combination with
Irinotecan (CPT-11) against human colorectal tumor xenografts. Clin.l Cancer Res.
2002;8:
9941003.
15. Meropol NJ. Epidermal Growth Factor Receptor Inhibitors in colorectal cancer:
It»s time to get back on target. J.Clin.Oncol. 2005;23: 1791-93.
16. Castillo L, Grimaldi E, Fischel L, et al. Pharmacological background of EGFR targeting.
Ann. 2004;15: 100712,
17. Meyerhardt JA, Mayer R. Systemic therapy for colorectal cancer. N Engl J Med
2005;352:476-67.
18. Grothey A, Goldber RM. A review of oxaliplatin and its clinical use in colorectal
cancer. Reprinted from: Expert Opinion on Pharmacother. 2004;5(10):2159-70.
19. Monoclonal antibody blockade of EGFR for the treatment of solid tumor. Cetuximab
(Erbirux TM) International product monograph.
20. Ennis BW, Lippman ME, Dickson RB.The EGF receptor system as a target for
antitumor therapy. Cancer Invest. 1991;9(5):553-62.[Medline]
21. Harari M. Epidermal growth factor receptor inhibition strategies in oncology.
Endocrine-Related Cancer 2004; 11:689-708. http://erc.endocrinology-journal.org
22. Watanabe T, Shintani A, Nakata M, Shing Y, Folkman J, Igarashi K, Sasada R.
Recombinant human betacellulin. Molecular structure, biological activities, and
receptor interaction. J. Biol. Chem. 1994;269; 9966-73.
23. Arteaga CL.. Epidermal Growth Factor Receptor Dependence in Human Tumors:
More Than Just Expression?. Oncologist 2002; 7(Suppl 4): 31-39.
24. Arteaga CL, Baselga J. Clinical trial design end point for epidermal growth factor
receptor-targeted therapies: implication for drug development and practice. Clin.l
Cancer Res. 2003; 9: 1579-89
25. Erlichman C, Sargent DJ. New Treatment Options for Colorectal Cancer. N Engl J Med
2004;
351:391-92.
26. Saltz LB, Meropol NJ, Loehrer PJ et al. Phase II trial of cetuximab in patients with
refractory colorectal cancer that expresses the epidermal Growth Factor Receptor. J.
Clin. Oncol. 2004; 23:1791-89.
27. Ciardiello F, Caputo R, Bianco R et al. Inhibition of growth factor production and
angiogenesis in human cancer cells by ZD1839 (Iressa), a Selective Epidermal Growth
Factor Receptor Tyrosine Kinase Inhibitor. Clin. Cancer Res. 2001; 14591465.
28. Hirata A, Ogawa S, Kometani T, Kuwano T, Naito S, Kuwano M and Ono M.
ZD1839
(Iressa) Induces Antiangiogenic Effects through Inhibition of Epidermal
Growth Factor Receptor Tyrosine Kinase. Cancer Res. 2002; 62: 2554-2560.
29. Daneshmand M, Parolin DAE, Hirte HW, et al. Pharmacodynamic Study of the
Epidermal Growth Factor Receptor Tyrosine Kinase Inhibitor ZD1839 in Metastatic
Colorectal Cancer Patients. http://clincancerres.aarcjournals.org.
30. Arteaga CL, Johnson DH. Tyrosine kinase inhibitors-ZD1839 (Iressa). Curr Opin Oncol.
2001
Nov;13(6):491-8.[Medline]
12
Food and Drug Administration mengakui penggunaan bevaci-
zumab dalam kombinasi dengan regimen flurouracil IV sebagai
terapi awal pada kanker kolorektal lanjut. Belum jelas apakah
aktivitasnya terutama melalui mekanisme antiangiogensis saja atau
apakah pengaruhnya terhadap vaskularisasi tumor, sehingga me-
ningkatkan masuknya bahan kemoterapi ke dalam sel kanker.
17
GEFITINIB
Pemberian dosis tunggal hingga 700 mg pada relawan sehat dan
pasien dengan keganasan lanjut menghasilkan konsentrasi puncak
plasma dicapai pada 3-7 jam, dengan waktu paruh eliminasi
kurang lebih 48 jam. Pemberian oral pada pasien kanker mem-
berikan akumulasi 2 kali lipat dibandingkan dengan dosis tunggal,
konsentrasi plasma keadaan steady state dicapai dalam 10 hari.
Pemberian Gefitinib jangka panjang umumnya ditolerir pada
dosis hingga 600 mg/hari. Toksisitas gastrointestinal tampaknya
sebagai akibat paparan langsung sel epitel intestinal.
21
Efek samping yang perlu diwaspadai adalah penyakit paru inter-
stitial.; insidensinya mencapai 1%, kurang lebih 2/3 kasus fatal.
Toksisitas pada hepar perlu diwaspadai, ditandai peningkatan
transaminase serum. Efek lain adalah diare, rash, kulit kering,
mual, muntah, pruritus, anoreksia, astenia dan penurunan berat
badan. Efek samping ini tergantung dosis yang diberikan.
21
Penelitian klinis fase I/II gefitinib telah dilakukan pada pasien dengan
kanker kolorektal. Pada percobaan ini dilakukan biopsi sebelum dan
sesudah pengobatan sebagai kriteria evaluasi. Penilaian keberhasilan
dinilai dari adanya proliferasi, apoptosis dengan pemeriksaan histo-
kimia. Hasil penelitian disimpulkan bahwa ZD1839 menghambat
sinyal EGFR dan proliferasi sel kanker pada pasien dengan kanker
kolorektal metastasis. ZD1839 juga menginduksi apoptosis sel
kanker.
28,29,30
Gefitinib telah dicoba sebagai terapi tumor padat, tetapi uji klinis
untuk kanker kolorektal masih terbatas. Banyak penelitian atas
penggunaannya sebagai terapi kankel paru non small cell lanjut.
(IDEAL,INTACT).
21
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
13
PENDAHULUAN
Anemia adalah kelainan hematologi yang biasa dan tersering
ditemui pada pasien kanker. Penyebab anemia pada pasien kanker
multifaktor. Banyak pasien telah didiagnosis anemia akibat penyakit
kronik, sebelum diagnosis kankernya ditegakkan. Di lain pihak
anemia pada pasien kanker juga disebabkan oleh radioterapi dan
atau kemoterapi yang didapatnya. Pada pasien kanker yang telah
mengalami metastasis, atau keganasan darah, maka anemianya
bisa disebabkan oleh keterlibatan sumsum tulang
(1)
. Anemia juga
dikaitkan dengan penurunan produksi eritropoietin tubuh, atau
tumpulnya respon sumsum tulang terhadap eritropoietin
(2)
. Eratnya
hubungan kadar hemoglobin dengan kelelahan (fatigue) akibat
penyakit dan kualitas hidup telah lama diketahui. Akan tetapi hubu-
ngan antara anemia dengan patofisiologi kanker adalah rumit,
banyak sisi relasi ini yang masih perlu diteliti
(3)
. Walaupun demikian
telah banyak pendapat yang menduga anemia bisa mempengaruhi
respon terapi kanker pada pasien, bahkan yang lebih penting lagi
adalah perjalanan penyakitnya. Sejak dekade terakhir telah banyak
bukti yang menunjukkan anemia berkaitan dengan kegagalan
pengobatan kanker
(4)
. Pada penelitian in vitro dan binatang per-
cobaan, didapat hasil bahwa anemia menaikkan mutasi, pertum-
buhan, potensi metastasis, dan resistensi terhadap terapi pada sel
tumor; di lain sisi menurunkan potensi apoptosis. Bahkan anemia
sendiri bisa merangsang angiogenesis dari sel tumor
(5,6)
. Keberhasilan
mengatasi anemia pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi
bisa memperbaiki hasil pengobatan dan harapan hidup
(7)
.
Tabel 1 mencantumkan 2 kriteria anemia yang sering digunakan,
yaitu dari World Health Organization (WHO), dan National Cancer
Institute ( NCI )
(8)
Tabel 1. WHO and NCI grading system for Anemia
(8)
.
PATOGENESIS dan PATOFISIOLOGI ANEMIA pada KANKER
Kausa anemia pada kanker multifaktor, sebagian berkaitan dengan
proses keganasannya, sedangkan lainnya berkaitan dengan
pengobatan
(9)
. Faktor-faktor yang menaikkan risiko anemia antara
lain: tipe, stadium, dan lama kanker diderita, serta rejimen dan
intensitas terapi yang diterima, ada tidaknya infeksi, juga tindakan
operasi yang dialami
(1)
.
Anemia akibat proses keganasan bisa disebabkan oleh aktifasi
sistim imun/ inflamasi yang menyebabkan pelepasan sitokin, a.l,
TNF (Tumor Necrotizing Factor)-alpha, IFN ( Interferon )-gamma,
dan IL (Interleukin)-1
(10,11)
. Hal tersebut menyebabkan gangguan
eritropoiesis, berupa gangguan utilisasi besi, supresi diferensiasi
sel progenitor eritroid, dan gangguan produksi eritropoietin
(10)
.
Pasien kanker mempunyai kadar eritropoietin yang lebih rendah
dibandingkan dengan derajat anemianya, yang berarti adanya
gangguan mekanisme homeostasis antara proses peradangan/
inflamasi yang diikuti proses keganasan
(12)
. Sementara itu lama
hidup sel darah merah memendek, sedangkan produksi sel darah
merah yang baru, tak dapat mengatasi lama hidup sel darah
merah yang berkurang. Dilain pihak adanya perdarahan di lokasi
tumor, atau perdarahan akibat gangguan pembekuan darah juga
berakibat anemia pada pasien kanker
(10,13)
. Prevalensi anemia pada
pasien kanker bervariasi tergantung jenis kanker. Beberapa studi
telah melaporkan prevalensi anemia pada pasien kanker berkisar
antara 5% pada pasien kanker prostat, sampai 90% pada pasien
mieloma multipel. Pada pasien kanker serviks, mieloma multipel
stadium lanjut dan pasien kanker yang mengalami gangguan
ginjal, prevalensi anemia semakin mencolok
(14,15
).
Anemia pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi dan atau
radioterapi kebanyakan akibat mielosupresi, serta juga akibat peng-
hancuran sel darah merah selama pengobatan
(16)
. Pasien kanker
yang mendapat kemoterapi cisplatinum, akan mengalami gangguan
produksi eritropoietin, sehingga semakin memperlama masa anemia-
nya. Kombinasi kemoterapi cisplatinum dan etoposide pada pasien
kanker paru, berakibat anemia sekitar 16-55 % pasien
(17)
. Radio-
terapi juga menaikkan kejadian anemia pada pasien kanker sekitar
41-54% pasca radiasi
(14,17)
.
Eritropoietin
Rekombinan pada Penderita Kanker
Syafrizal Syafei
Divisi Hematologi-Onkologi Medik RS Cipto Mangunkusumo-RS Kanker Dharmais/
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Inodnesia, Jakarta, Indonesia
Severity
WHO ( g/dl )
NCI ( g/dl )
Grade 0 ( Normal )
> 11
Normal
Grade 1 ( Mild )
9,5 10,9
10,0 Normal
Grade 2 ( Moderate )
8,0 9,4
8,0 10,0
Grade 3 ( Severe )
6,5 7,9
6,5 -7,9
Grade 4 ( Life-threatening )
< 6,5
< 6,5