ENGLISH SUMMARY
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
320
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
321
Management of
Stroke Intracerebral
Hemorrhage
Ismail Setyopranoto
Dept. of Neurology, Gadjah Mada University,
Yogyakarta, Indonesia
Abstract
Intracerebral hemorrhage (ICH) is a com-
mon cause of stroke, accounting for bet-
ween 5 and 10% of all strokes. Currently,
intracerebral hemorrhage (ICH) has the
highest mortality rate among all stroke
subtypes. Hematoma growth is a main
cause of early neurological deterioration.
Primary ICH develops in the absence of
any underlying vascular malformation or
coagulopathy; and more common than
secondary intracerebral hemorrhage.
Hypertensive arteriosclerosis and cere-
bral amyloid angiopathy are responsible
for 80% of primary hemorrhages.
Initial management should first be direc-
ted toward the basics of airway, breathing,
circulation, and detection of focal neuo-
logical deficits. Particular attention should
be given to detecting signs of external
trauma. A complete examination should
also include looking for complications such
as pressure sores, compartment syn-
dromes, and rhabdomyolysis in patients
with a prolonged depressed level of cons-
ciousness.
Cermin Dunia Kedokt, 2008; 35(6): 321-327
anesthesia because of intractable general
seizure, all mapping were negative, and
no morbidity after surgery.
Conclusion: Awake craniotomy is a safe
procedure for intra-axial brain tumor.
Key words: Awake craniotomy. Intra-axial
tumor. Supratentorial. Eloquent area. Safe
procedure.
Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 345-346
Complement activation
in mechanical skin
injury in kerokan
therapy.
Didik Tamtomo
Anatomy Laboratory, Faculty of Medicine,
Sebelas Maret University, Solo, Indonesia
Background: Javanese people have
traditional therapy called kerokan.This
therapy is applied by rubbing a blunt
object repeatedly on the skin of back,
neck, and chest lubricated with oil. This
action injured skin and caused inflam-
mation. Complement is major chemical
mediator in inflammation reaction. There
are two complement activation pathways,
classic pathway is C1q binding with anti-
body and alternative pathway is C3 binding
with polysaccharide bacteria. The aim of
this research is to determine complement
activation pathway in mechanical skin injury
in kerokan therapy; the special aim is to
measure C1 q and C3 level.
Method: This is an experimental research
with randomized pre test-post test control
group design. The research was done at
Padma Clinic, Solo. Samples consists of
38 patients and were divided into two
groups: 19 patients were in the treatment
group and the rest (19 patients) were in
the control group. This research used
Kolmogorov-Smirnov test, t parametric
test and Mann Whitney nonparametric
test, at the significance level of 5%.
Result: There is no significant difference
on C1q and C3 level between treatment
group and control group.
Key words: Kerokan, complement acti-
vation, C1q, C3.
Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 347-349
Kurang lebih 80% pasien perdarahan intraserebral mempunyai
faktor risiko hipertensi
(3)
. Pemeriksaan CT Scan otak/kepala
merupakan gold standard untuk membedakan apakah stroke
perdarahan intraserebral atau stroke infark
(4)
. Pada orang tua
perdarahan sering terjadi akibat angiopati amiloid
(1)
.
Stroke perdarahan intraserebral menyebabkan kerusakan
melalui dua cara yaitu; (1) Kerusakan otak yang terjadi pada
saat perdarahan, terutama pada kasus dengan perdarahan
yang meluas ke medial dan talamus serta ganglia basalis, dan
(2) Hematoma yang membelah korona radiata menyebabkan
penekanan serta gangguan fungsi neurologis yang mungkin
reversibel
(5,6)
.
Prognosis stroke perdarahan intraserebral tergantung pada
kondisi klinis saat masuk, lokasi perdarahan serta volume
perdarahan; volume perdarahan lebih dari 50 ml mempunyai
prognosis lebih buruk
(7)
.
Pada pasien perdarahan intraserebral yang terlihat dari peme-
riksaan CT Scan kepala, terdapat berbagai permasalahan.
Salah satu masalah yang timbul sebelum melakukan penata-
laksanaan adalah sangat sedikitnya pengetahuan para klinisi
terhadap mekanisme dan perjalanan penyakit saat pasien
datang, apakah sudah mulai terjadi perburukan atau timbul
komplikasi yang tidak terkendali. Masalah lain adalah tindakan
yang harus pertama kali diberikan kepada pasien stroke perda-
rahan intraserebral.
Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan mekanisme, etiologi
dan berbagai penanganan dalam rangka penatalaksanaan
menyeluruh terhadap pasien stroke perdarahan intraserebral
berdasarkan evidence based medicine.
ETIOLOGI
Stroke perdarahan intraserebral disebabkan oleh perdarahan
arterial langsung ke parenkim jaringan otak. Perdarahan intra-
serebral dapat juga disebabkan oleh aneurisma, malformasi arteri-
vena, malformasi kavernosa, amiloid serebral, atau tumor
(6,8,9)
.
Pendekatan Evidence-Based Medicine
pada Manajemen Stroke Perdarahan
Intraserebral
Ismail Setyopranoto
Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Local data was used to describe the mag-
nitude of the problem. Hypertension was
observed in at least 50% of stroke sur-
vivors. There is some evidence that specific
classes of antihypertensive drugs have
different effects and/or their pharmacolo-
gical actions differ in patient sub-groups.
This review also evaluates the cost of anti-
hypertensive drugs in secondary stroke
prevention.
Key words: hypertension - stroke -
secondary prevention
Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 328-330
Awake Craniotomy,
Alternative for Intraaxial
Tumor Surgery
Eka J. Wahyoepramono
Department of Neurosurgery Medical
Faculty of Universitas Pelita Harapan,
Siloam Hospital, Lippo Karawaci, Indonesia
Abstract
Awake craniotomy has been reserved for
epilepsy surgery and for removal of mass
lesions from areas of eloquent cortex.
This procedure is safe, quite easy, com-
fortable for patients, and more widely
applied; it has been used for any supra-
tentorial intra-axial brain tumor. Recent
evidence showed that it can be applied
for out-patient surgery (one-day surgery),
and proved that it is a safe procedure,
more convenient and psychologically much
better for patient. So far, we have started
awake craniotomy for 3 cases with intra-
axial tumor in our hospital. All patients
fared well, one need conversion to general
Situation Analysis
on Blood Pressure
Management in
Secondary Stroke
Prevention
Rizaldy Pinzon
Dept. of Neurology, Bethesda Hospital,
Yogyakarta, Indonesia
Abstract
High blood pressure (BP) is the most
important modifiable risk factor for stroke
and other vascular diseases. Evidence
from randomized controlled trials supports
the use of antihypertensive drugs to lower
blood pressure for stroke prevention.
PENDAHULUAN
Gambaran klasik stroke perdarahan intraserebral adalah
munculnya (onset) secara tiba-tiba defisit neurologik yang
progresif dari beberapa menit sampai beberapa jam yang
disertai dengan nyeri kepala yang hebat, mual, muntah, penu-
runan kesadaran dan peningkatan tekanan darah
(1)
.
Tabel 1. Penyebab Stroke Perdarahan Intraserebral
(2)
1. Primer
1.1.
Hipertensi
1.2.
Amyloid Angiopathy
2. Sekunder
2.1.
Aneurisma
2.1.1. Saccular
2.1.2.
Fusiform
2.1.3.
Mycotic
2.2.
Malformasi
Vaskuler
2.2.1. Malformasi arteri-venosa
2.2.2.
Malformasi
kavernosus
2.2.3.
Angioma
venosa
2.2.4. Fistula Arteriovenosa dural
2.3.
Neoplasma
2.3.1.
Primer
2.3.2.
Metastatik
2.4.
Koagulopati
2.4.1.
Didapat
2.4.1.1. Antikoagulan (Coumadin, Heparin)
2.4.1.2. Trombolitik (tPA, Urokinase)
2.4.1.3. Diskrasia darah (DIC, Leukemia, Trombositopenia)
2.4.1.4.
Gagal
hepar
2.4.1.5.
Disfungsi
Platelet (gagal ginjal, karena pengobatan)
2.4.2.
Kongenital
2.4.2.1.
Hemofilia
2.4.2.2.
Gangguan
Platelet
2.5. Obat-obatan terlarang atau konsumsi alkohol
2.5.1. Simpatomimetik (Efedrin, Fenilpropanolamin, Pseudoefedrin)
2.5.2.
Kokain,
Amfetamin,
Ecstasy
2.6. Hemorrhagic Ischemic Stroke
2.7. Trombosis Sinus Dural
2.8.
Vaskulitis/Vaskulopati
2.9.
Penyakit
Moya
moya
2.10. Arterial Dissection
2.11.
Kehamilan
2.12.
Eklampsia,
Venous Sinus Thrombosis
2.13.
Tidak
diketahui
* DIC = disseminated intravascular coagulation.
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
322
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
323
Etiologi stroke perdarahan intraserebral adalah sebagai berikut:
1. Hipertensi Arterial
Hipertensi merupakan penyebab terbanyak perdarahan intra-
serebral yaitu antara 70-90%
(8)
. Pada arteri tampak degenerasi
tunika media dinding arteri yang diinduksi oleh hipertensi,
nekrosis fibrinoid yang mengakibatkan kelemahan progresif
dan/atau terbentuknya mikroaneurisma. Predileksi perubahan
patologis tersebut di arteria subkortikal dan perforating kecil,
yang dapat menjelaskan lokasi anatomik perdarahan intrase-
rebral yang spesifik.
Penyebab utama perburukan pada penderita stroke perdarahan
intraserebral adalah terjadinya edema serebri dan nekrosis akibat
iskemi global jaringan otak dan terjadinya hidrosefalus
(7)
.
2. Aneurisma Intrakranial
Perdarahan intraserebral akibat ruptur aneurisma biasanya
menuju ke ruang subarakhnoid; jarang ke ventrikel atau
parenkim otak. Kurang lebih 16-23% perdarahan intrasere-
bral disebabkan karena aneurisma pecah
(8)
.
Mekanisme pembentukan aneurisma dan terjadinya perdara-
han pada aneurisma masih kontroversial. Lesi ini diperkirakan
akibat kelemahan kongenital tunika muskularis arteri serebral
yang menyebabkan tunika intima membonjol dan akhirnya
merobek membrana elastik
(6)
.
3. Angiopati Amiloid Serebral
Penyebab tersering ketiga perdarahan intraserebral adalah
angiopati amiloid, yaitu sekitar 10% dari seluruh perdarahan
intraserebral spontan. Kelainan angiopati amiloid ini khas
yaitu terbentuknya deposit fibril amiloid pada tunika media
dan tunika intima arteria kecil dan sedang. Perdarahan terjadi
akibat robeknya dinding pembuluh yang lemah atau mikro-
aneurisma
(6,10)
.
4. Malformasi Arteri-venosa (MAV)
Menurut The Arteriovenous Malformation Study Group (1999),
malformasi pembuluh darah intrakranial berdasarkan jenis
kelainan patologisnya dibagi menjadi empat, yaitu; (1) Malfor-
masi arteria-venosa, (2) Telangiektasia kapiler, (3) Malformasi
kavernosa, dan (4) Malformasi venosa.
Malformasi arteri-venosa merupakan penyebab terbanyak (6-13%)
perdarahan intraserebral spontan. Kelainan ini merupakan
suatu kelainan kongenital yang terjadi pada minggu ke-4
hingga ke-8 kehidupan embrional, menyebabkan hubungan
persisten antara sistema arterial dan vena.
PENATALAKSANAAN
Pendekatan manajemen stroke perdarahan intraserebral masih
kontroversial antara non pembedahan dengan pembedahan
(1)
.
Dibutuhkan penelitian yang lebih baik sebagai dasar penyusunan
guideline terkini. Terdapat beberapa pendekatan terapi yang
bersifat emergensi.
1) Penanganan Awal di Ruang Gawat Darurat
Berupa tindakan basic life support yang meliputi tindakan air-
way, breathing, dan circulation, serta mengidentifikasi adanya
defisit neurologik fokal. Pemeriksaan lengkap harus dilakukan
terutama pada pasien dengan penurunan kesadaran yang
diduga akibat stroke perdarahan intraserebral.
Airway dan oksigenasi :
Walaupun tidak selalu perlu intubasi, persiapan airway dan
ventilasi yang adekuat sangat penting. Pada pasien stroke
perdarahan intraserebral dengan kesadaran menurun atau
tanda-tanda disfungsi batang otak harus segera dilakukan
tindakan airway. Intubasi harus dilakukan secara hati-hati dan
mengikuti prosedur yang berlaku jika didapatkan insufisiensi
respirasi/ventilasi yang menyebabkan hipoksi (pO
2
< 60 mmHg
atau pCO
2
>50 mmHg) atau secara nyata didapatkan risiko
aspirasi dengan atau tanpa gangguan oksigenasi arterial.
Sebelum intubasi dilakukan preoksigenasi maksimal dan pem-
berian obat-obatan misalnya atropin, thiopental, midazolam,
propofol, dan suksinilkholin untuk menghindari terjadinya
refleks aritmia dan/atau ketidakstabilan tekanan darah
(11)
.
Tingkat kesadaran dimonitor dengan Glasgow Coma Scale (GCS).
Pencegahan aspirasi harus selalu dilakukan dengan tuba
endotrakheal, tuba nasogastrik atau orogastrik dan dipantau
dengan manset tekanan (cuff pressure) setiap 6 jam. Tuba
endotrakheal dengan manset lunak umumnya dipakai kurang
dari 2 minggu. Jika setelah 2 minggu penurunan kesadaran
masih berlanjut atau terjadi komplikasi pulmonal, maka harus
dilakukan trakheostomi elektif. Oksigen harus diberikan pada
semua pasien perdarahan intraserebral dengan penurunan
kesadaran
(12)
.
2) Penanganan Medikamentosa
Ada beberapa penelitian pemberian medikamentosa pada
stroke perdarahan intraserebral, seperti penggunaan steroid
vs. plasebo
(13)
, hemodilusi vs. terapi medis standar
(14)
, dan
gliserol vs. plasebo
(15)
. Tidak satupun yang hasilnya bermakna
secara statistik. Bahkan pasien yang mendapatkan terapi
steroid lebih banyak mengalami komplikasi infeksi dibanding-
kan pasien dengan plasebo
(13)
.
a) Manajemen hipertensi
Tekanan darah optimal pada pasien stroke perdarahan intrase-
rebral bersifat individual dan berhubungan dengan apakah pasien
sebelumnya menderita hipertensi kronik, tekanan intrakranial,
umur, etiologi perdarahan, dan jendela terapi. Secara umum di-
rekomendasikan agar tekanan darah yang meningkat diturunkan
secara lebih progresif dengan terapi antihipertensi yang ber-
efek cepat dibandingkan dengan pada stroke iskemik
(12,16,17).
Secara teoritis tekanan darah yang lebih rendah menurunkan
risiko ruptur arteri kecil dan arteriola. Suatu penelitian observa-
sional prospektif tentang bertambahnya volume perdarahan
intraserebral memperlihatkan tidak ada hubungan antara tekanan
darah sebelum serangan stroke dengan bertambahnya volume
darah setelah serangan, tetapi berhubungan dengan saat pem-
berian antihipertensi
(18)
. Sebaliknya pemberian antihipertensi
yang sangat cepat menurunkan tekanan darah dapat menurunkan
perfusi serebral dan secara teoritis akan memperparah cedera
otak, terutama dalam keadaan tekanan intrakranial tinggi
(1)
.
Untuk menengahi kedua teori tersebut, Broderick et al., (1999)
merekomendasikan bahwa tekanan darah harus diturunkan jika
mean arterial blood pressure (MAP) >130 mmHg
(1)
, walaupun
bukti klinik yang mendukungnya sangat lemah (level of evidence V,
grade C recommendation). Pada pasien dengan peningkatan
tekanan intrakranial yang terpantau dengan monitor tekanan
intrakranial, tekanan perfusi serebral (MAPICP) harus dipertahan-
kan sebesar >70 mmHg (LoE V, grade C). Obat-obat antihiper-
tensi yang direkomendasikan untuk terapi hipertensi pada stroke
perdarahan intraserebral dapat dilihat pada tabel 2.
Nitroprusid secara umum sering digunakan untuk hipertensi
maligna, obat tersebut merupakan vasodilator; teoritis dapat
meningkatkan aliran darah otak sehingga dapat meningkatkan
tekanan intrakranial. Hal tersebut mungkin tidak menguntungkan,
tetapi belum ada laporan penelitian yang mendukung teori tersebut.
Algoritma pemberian antihipertensi pada pasien dengan stroke
perdarahan intraserebral yang sudah dimodifikasi (LoE V, grade C) :
1. Jika tekanan darah sistolik >230 mmHg atau diastolik >140
mmHg dalam dua kali pemeriksaan selama selang waktu 5
menit maka diberi terapi nitroprusid.
2. Jika tekanan darah sistolik antara 180-230 mmHg dan diastolik
antara 105-140 mmHg, atau MAP >130 mmHg dalam dua kali
pemeriksaan selama selang waktu 20 menit, maka diberi terapi
labetalol intravena, esmolol, enalapril, atau diltiazem intravena,
lisinopril,
atau
verapamil.
3. Jika tekanan darah sistolik <180 mmHg dan diastolik <105
mmHg, pemberian obat antihipertensi harus ditunda. Pilihan
obat antihipertensi tergantung kondisi pasien, misalnya hindari
pemberian labetalol pada pasien asma bronkial.
4. Jika monitor tekanan intrakranial tersedia, maka tekanan perfusi
serebral harus dipertahankan pada >70 mmHg.
Penurunan Tekanan Darah :
Pendekatan pertama pada pasien dengan penurunan tekanan
darah adalah penambahan cairan, yaitu cairan salin isotonik
atau koloid; dilakukan monitoring tekanan vena sentral atau
tekanan arteri pulmonal. Jika setelah koreksi penambahan
cairan, tekanan darah tetap tidak berubah, pemberian infus
kontinu harus dilakukan terutama jika tekanan darah sistolik
<90 mmHg dengan penambahan:
Fenilefrin
210
µg. kg
-1
. min
-1
Dopamin
220
µg. kg
-1
. min
-1
Norepinefrin
titrasi
dari
0.050.2
µg. kg
-1
. min
-1
b) Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
Peningkatan tekanan intrakranial merupakan penyebab utama
tingginya mortalitas pada stroke perdarahan intraserebral,
sehingga pemantauan dan penanganan yang tepat terhadap
peningkatan tekanan intrakranial dapat menurunkan mortalitas,
berupa osmoterapi, hiperventilasi, dan pemberian barbiturat.
Peningkatan tekanan intrakranial terjadi jika tekanan intrakra-
nial > 20 mmHg selama > 5 menit. Tekanan intrakranial hendaknya
dipertahankan < 20 mmHg dan tekanan perfusi serebral >70
mmHg
(19)
. Pasien yang diduga mengalami peningkatan tekanan
intrakranial dan penurunan kesadaran harus diawasi dengan
alat monitor (invasive ICP monitoring); dilakukan jika nilai GCS
< 9 (LoE V, grade C). Monitoring nilai GCS juga harus dilakukan.
Pemeriksaan CT Scan kepala juga harus dilakukan untuk me-
lihat adanya efek massa dan hidrosefalus akibat perdarahan.
Tabel 2. Manajemen Tekanan Darah pada Stroke Perdarahan Intraserebral
Jika pasien hipertensi:
Labetalol
5100 mg/jam secara intermiten dengan bolus dosis 1040 mg
atau drip (28 mg/menit)
Esmolol 500
µg/kg sebagai awal, dosis maintenan 50200 µg. kg
-1
. min
-1
Nitroprusid 0.510
µg. kg
-1
. min
-1
Hidralazin
1020 mg diberikan 46 jam
Enalapril
0.6251.2 mg diberikan tiap 6 jam jika diperlukan.
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
322
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
323
Etiologi stroke perdarahan intraserebral adalah sebagai berikut:
1. Hipertensi Arterial
Hipertensi merupakan penyebab terbanyak perdarahan intra-
serebral yaitu antara 70-90%
(8)
. Pada arteri tampak degenerasi
tunika media dinding arteri yang diinduksi oleh hipertensi,
nekrosis fibrinoid yang mengakibatkan kelemahan progresif
dan/atau terbentuknya mikroaneurisma. Predileksi perubahan
patologis tersebut di arteria subkortikal dan perforating kecil,
yang dapat menjelaskan lokasi anatomik perdarahan intrase-
rebral yang spesifik.
Penyebab utama perburukan pada penderita stroke perdarahan
intraserebral adalah terjadinya edema serebri dan nekrosis akibat
iskemi global jaringan otak dan terjadinya hidrosefalus
(7)
.
2. Aneurisma Intrakranial
Perdarahan intraserebral akibat ruptur aneurisma biasanya
menuju ke ruang subarakhnoid; jarang ke ventrikel atau
parenkim otak. Kurang lebih 16-23% perdarahan intrasere-
bral disebabkan karena aneurisma pecah
(8)
.
Mekanisme pembentukan aneurisma dan terjadinya perdara-
han pada aneurisma masih kontroversial. Lesi ini diperkirakan
akibat kelemahan kongenital tunika muskularis arteri serebral
yang menyebabkan tunika intima membonjol dan akhirnya
merobek membrana elastik
(6)
.
3. Angiopati Amiloid Serebral
Penyebab tersering ketiga perdarahan intraserebral adalah
angiopati amiloid, yaitu sekitar 10% dari seluruh perdarahan
intraserebral spontan. Kelainan angiopati amiloid ini khas
yaitu terbentuknya deposit fibril amiloid pada tunika media
dan tunika intima arteria kecil dan sedang. Perdarahan terjadi
akibat robeknya dinding pembuluh yang lemah atau mikro-
aneurisma
(6,10)
.
4. Malformasi Arteri-venosa (MAV)
Menurut The Arteriovenous Malformation Study Group (1999),
malformasi pembuluh darah intrakranial berdasarkan jenis
kelainan patologisnya dibagi menjadi empat, yaitu; (1) Malfor-
masi arteria-venosa, (2) Telangiektasia kapiler, (3) Malformasi
kavernosa, dan (4) Malformasi venosa.
Malformasi arteri-venosa merupakan penyebab terbanyak (6-13%)
perdarahan intraserebral spontan. Kelainan ini merupakan
suatu kelainan kongenital yang terjadi pada minggu ke-4
hingga ke-8 kehidupan embrional, menyebabkan hubungan
persisten antara sistema arterial dan vena.
PENATALAKSANAAN
Pendekatan manajemen stroke perdarahan intraserebral masih
kontroversial antara non pembedahan dengan pembedahan
(1)
.
Dibutuhkan penelitian yang lebih baik sebagai dasar penyusunan
guideline terkini. Terdapat beberapa pendekatan terapi yang
bersifat emergensi.
1) Penanganan Awal di Ruang Gawat Darurat
Berupa tindakan basic life support yang meliputi tindakan air-
way, breathing, dan circulation, serta mengidentifikasi adanya
defisit neurologik fokal. Pemeriksaan lengkap harus dilakukan
terutama pada pasien dengan penurunan kesadaran yang
diduga akibat stroke perdarahan intraserebral.
Airway dan oksigenasi :
Walaupun tidak selalu perlu intubasi, persiapan airway dan
ventilasi yang adekuat sangat penting. Pada pasien stroke
perdarahan intraserebral dengan kesadaran menurun atau
tanda-tanda disfungsi batang otak harus segera dilakukan
tindakan airway. Intubasi harus dilakukan secara hati-hati dan
mengikuti prosedur yang berlaku jika didapatkan insufisiensi
respirasi/ventilasi yang menyebabkan hipoksi (pO
2
< 60 mmHg
atau pCO
2
>50 mmHg) atau secara nyata didapatkan risiko
aspirasi dengan atau tanpa gangguan oksigenasi arterial.
Sebelum intubasi dilakukan preoksigenasi maksimal dan pem-
berian obat-obatan misalnya atropin, thiopental, midazolam,
propofol, dan suksinilkholin untuk menghindari terjadinya
refleks aritmia dan/atau ketidakstabilan tekanan darah
(11)
.
Tingkat kesadaran dimonitor dengan Glasgow Coma Scale (GCS).
Pencegahan aspirasi harus selalu dilakukan dengan tuba
endotrakheal, tuba nasogastrik atau orogastrik dan dipantau
dengan manset tekanan (cuff pressure) setiap 6 jam. Tuba
endotrakheal dengan manset lunak umumnya dipakai kurang
dari 2 minggu. Jika setelah 2 minggu penurunan kesadaran
masih berlanjut atau terjadi komplikasi pulmonal, maka harus
dilakukan trakheostomi elektif. Oksigen harus diberikan pada
semua pasien perdarahan intraserebral dengan penurunan
kesadaran
(12)
.
2) Penanganan Medikamentosa
Ada beberapa penelitian pemberian medikamentosa pada
stroke perdarahan intraserebral, seperti penggunaan steroid
vs. plasebo
(13)
, hemodilusi vs. terapi medis standar
(14)
, dan
gliserol vs. plasebo
(15)
. Tidak satupun yang hasilnya bermakna
secara statistik. Bahkan pasien yang mendapatkan terapi
steroid lebih banyak mengalami komplikasi infeksi dibanding-
kan pasien dengan plasebo
(13)
.
a) Manajemen hipertensi
Tekanan darah optimal pada pasien stroke perdarahan intrase-
rebral bersifat individual dan berhubungan dengan apakah pasien
sebelumnya menderita hipertensi kronik, tekanan intrakranial,
umur, etiologi perdarahan, dan jendela terapi. Secara umum di-
rekomendasikan agar tekanan darah yang meningkat diturunkan
secara lebih progresif dengan terapi antihipertensi yang ber-
efek cepat dibandingkan dengan pada stroke iskemik
(12,16,17).
Secara teoritis tekanan darah yang lebih rendah menurunkan
risiko ruptur arteri kecil dan arteriola. Suatu penelitian observa-
sional prospektif tentang bertambahnya volume perdarahan
intraserebral memperlihatkan tidak ada hubungan antara tekanan
darah sebelum serangan stroke dengan bertambahnya volume
darah setelah serangan, tetapi berhubungan dengan saat pem-
berian antihipertensi
(18)
. Sebaliknya pemberian antihipertensi
yang sangat cepat menurunkan tekanan darah dapat menurunkan
perfusi serebral dan secara teoritis akan memperparah cedera
otak, terutama dalam keadaan tekanan intrakranial tinggi
(1)
.
Untuk menengahi kedua teori tersebut, Broderick et al., (1999)
merekomendasikan bahwa tekanan darah harus diturunkan jika
mean arterial blood pressure (MAP) >130 mmHg
(1)
, walaupun
bukti klinik yang mendukungnya sangat lemah (level of evidence V,
grade C recommendation). Pada pasien dengan peningkatan
tekanan intrakranial yang terpantau dengan monitor tekanan
intrakranial, tekanan perfusi serebral (MAPICP) harus dipertahan-
kan sebesar >70 mmHg (LoE V, grade C). Obat-obat antihiper-
tensi yang direkomendasikan untuk terapi hipertensi pada stroke
perdarahan intraserebral dapat dilihat pada tabel 2.
Nitroprusid secara umum sering digunakan untuk hipertensi
maligna, obat tersebut merupakan vasodilator; teoritis dapat
meningkatkan aliran darah otak sehingga dapat meningkatkan
tekanan intrakranial. Hal tersebut mungkin tidak menguntungkan,
tetapi belum ada laporan penelitian yang mendukung teori tersebut.
Algoritma pemberian antihipertensi pada pasien dengan stroke
perdarahan intraserebral yang sudah dimodifikasi (LoE V, grade C) :
1. Jika tekanan darah sistolik >230 mmHg atau diastolik >140
mmHg dalam dua kali pemeriksaan selama selang waktu 5
menit maka diberi terapi nitroprusid.
2. Jika tekanan darah sistolik antara 180-230 mmHg dan diastolik
antara 105-140 mmHg, atau MAP >130 mmHg dalam dua kali
pemeriksaan selama selang waktu 20 menit, maka diberi terapi
labetalol intravena, esmolol, enalapril, atau diltiazem intravena,
lisinopril,
atau
verapamil.
3. Jika tekanan darah sistolik <180 mmHg dan diastolik <105
mmHg, pemberian obat antihipertensi harus ditunda. Pilihan
obat antihipertensi tergantung kondisi pasien, misalnya hindari
pemberian labetalol pada pasien asma bronkial.
4. Jika monitor tekanan intrakranial tersedia, maka tekanan perfusi
serebral harus dipertahankan pada >70 mmHg.
Penurunan Tekanan Darah :
Pendekatan pertama pada pasien dengan penurunan tekanan
darah adalah penambahan cairan, yaitu cairan salin isotonik
atau koloid; dilakukan monitoring tekanan vena sentral atau
tekanan arteri pulmonal. Jika setelah koreksi penambahan
cairan, tekanan darah tetap tidak berubah, pemberian infus
kontinu harus dilakukan terutama jika tekanan darah sistolik
<90 mmHg dengan penambahan:
Fenilefrin
210
µg. kg
-1
. min
-1
Dopamin
220
µg. kg
-1
. min
-1
Norepinefrin
titrasi
dari
0.050.2
µg. kg
-1
. min
-1
b) Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
Peningkatan tekanan intrakranial merupakan penyebab utama
tingginya mortalitas pada stroke perdarahan intraserebral,
sehingga pemantauan dan penanganan yang tepat terhadap
peningkatan tekanan intrakranial dapat menurunkan mortalitas,
berupa osmoterapi, hiperventilasi, dan pemberian barbiturat.
Peningkatan tekanan intrakranial terjadi jika tekanan intrakra-
nial > 20 mmHg selama > 5 menit. Tekanan intrakranial hendaknya
dipertahankan < 20 mmHg dan tekanan perfusi serebral >70
mmHg
(19)
. Pasien yang diduga mengalami peningkatan tekanan
intrakranial dan penurunan kesadaran harus diawasi dengan
alat monitor (invasive ICP monitoring); dilakukan jika nilai GCS
< 9 (LoE V, grade C). Monitoring nilai GCS juga harus dilakukan.
Pemeriksaan CT Scan kepala juga harus dilakukan untuk me-
lihat adanya efek massa dan hidrosefalus akibat perdarahan.
Tabel 2. Manajemen Tekanan Darah pada Stroke Perdarahan Intraserebral
Jika pasien hipertensi:
Labetalol
5100 mg/jam secara intermiten dengan bolus dosis 1040 mg
atau drip (28 mg/menit)
Esmolol 500
µg/kg sebagai awal, dosis maintenan 50200 µg. kg
-1
. min
-1
Nitroprusid 0.510
µg. kg
-1
. min
-1
Hidralazin
1020 mg diberikan 46 jam
Enalapril
0.6251.2 mg diberikan tiap 6 jam jika diperlukan.
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
325
Walaupun penggunaan standar protokol manajemen pening-
katan tekanan intrakranial sangat bervariasi, tetapi langkah-
langkah seperti dalam tabel 3, dapat sebagai pedoman.
Secara teori penurunan tekanan intrakranial melalui koreksi
hiperventilasi dapat dilihat jika pH cairan serebrospinal se-
imbang. Pendapat lain menyatakan bahwa hiperventilasi yang
memanjang mempunyai efek menguntungkan terhadap volume
jaringan otak.
Efek rebound osmoterapi dapat terjadi walaupun ventilasi
normal. Tanpa hiperventilasi penurunan gradual pCO
2
bisa
terjadi dalam waktu 24-48 jam. Umumnya hiperventilasi terjadi
jika tekanan intrakranial meningkat. pCO
2
harus dipertahankan
antara 30 - 35 mmHg sampai tekanan intrakranial terkontrol.
Kebanyakan pasien membutuhkan sedasi, misalnya dengan
propofol, benzodiazepin atau morfin dan paralitik muskuler
secara intermiten.
Jika peningkatan tekanan intrakranial tidak bisa terkontrol dengan
pemberian terapi seperti di atas, dapat diberi barbiturat; walaupun
demikian barbiturat dosis tinggi bukan terapi standar untuk
peningkatan tekanan intrakranial akibat stroke perdarahan intra-
serebral. Pemberian barbiturat aksi pendek seperti thiopental
sudah banyak diketahui efektif menurunkan tekanan intrakra-
nial; cara kerjanya mungkin melalui penurunan volume aliran
darah otak. Barbiturat dapat menurunkan pembengkakan otak,
mungkin akibat hipotensi sistemik derajat sedang, dan melalui
aksi penghambatan radikal bebas. Komplikasi pemberian bar-
biturat dosis tinggi (dosis normal 10 mg/kg per hari) adalah
hipotensi, terutama saat dilakukan bolus barbiturat; juga mungkin
merupakan predisposisi terjadinya infeksi.
Hipotensi sistemik sebagian besar merupakan akibat dari
penurunan tegangan vena, tegangan barorefleks, dan aktivitas
simpatik. Efek samping kardiovaskular mungkin karena efek
penyerta dehidrasi akibat osmoterapi dan berkurangnya tekanan
pengisian jantung. Penurunan maksimal metabolisme serebral
dapat dilihat dengan continuous EEG. Pemberian bolus barbi-
turat dapat dimulai dengan dosis rendah yaitu 0.3-0.6 mg/kg.
c) Pencegahan kejang
Kejang merupakan akibat cedera neuronal dan penurunan
stabilitas pada pasien yang memburuk karena kondisi sistemik.
Kejadian kejang non konvulsif < 10% pada pasien koma yang
dirawat di ruang neurointensif. Pada pasien stroke perdarahan
intraserebral, profilaksis antiepilepsi misalnya fenitoin dengan
dosis titrasi 14-23 mg/mL dapat diberikan selama 1 bulan, jika tidak
ada kejang diturunkan kemudian dihentikan. ( LoE V, grade C )
(1)
.
Efek massa karena penambahan volume intrakranial akibat
perdarahan dan terjadinya hidrosefalus sekunder merupakan
penyebab utama peningkatan tekanan intrakranial. Drainase
ventrikel harus dilakukan pada pasien yang mempunyai risiko
hidrosefalus. Drainase ventrikel ini diberikan dan dihentikan
tergantung gambaran klinik dan nilai tekanan intrakranial;
karena risiko infeksi tinggi maka pengawasan harus terus
menerus dan tidak boleh melebihi 7 hari (LoE V, grade C).
Tabel 3. Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
Osmoterapi
Yang pertama kali harus diberikan; walaupun tindakan profilaksis tidak
dianjurkan. Manitol 20% (0.25-0.5 g/kg tiap 4 jam) harus diberikan jika
didapatkan peningkatan tekanan intrakranial yang progresif dan
terjadi penurunan kesadaran akibat efek massa (LoE V, grade C). Untuk
mencegah rebound phenomenon, pemberian manitol direkomendasi-
kan tidak boleh lebih dari 5 hari. Untuk menurunkan tekanan osmotik
dapat diberikan furo- semid (10 mg injeksi selama 28 jam), dapat
bersama-sama dengan manitol. Osmolalitas darah harus diperiksa
dua kali setiap hari dengan target < 310 mOsm/L.
Jangan diberi Steroid
Pemberian kortikosteroid pada stroke perdarahan intraserebral harus
dihindari, karena dapat menyebabkan berbagai efek samping yang tidak
menguntungkan (LoE II, grade B).
Hiperventilasi
Hipokarbia akan menyebabkan vasokonstriksi serebral. Penurunan aliran
darah otak dapat terjadi secara cepat; puncak penurunan tekanan intrakra-
nial mungkin terjadi kurang dari 30 menit setelah perubahan pCO
2
.
Kondisi pasien membaik jika penurunan pCO
2
sampai 2530 mmHg,
tidal volume 1214 mL/kg, tekanan intrakranial turun 25-30% (LoE III
through V, grade C). Pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial
mempunyai prognosis buruk jika manajemen hiperventilasi gagal.
Relaksasi Otot
Pemberian obat-obat berefek paralisis neuromuskular dikombinasi-
kan dengan sedasi yang adekuat dapat mengurangi peningkatan
tekanan intrakranial karena dapat mencegah peningkatan tekanan
intratorakal dan tekanan vena akibat batuk, ketegangan, penyedotan
(suctioning) pada ventilator (LoE III through V, grade C). Obat-obat non
depolarisasi misalnya venkuronium atau pankuronium, pembebas
histamin dan obat yang berefek blokade ganglion lebih baik diberikan
pada situasi peningkatan tekanan intrakranial (LoE III through V, grade C).
Pasien dengan kegawatan akibat peningkatan tekanan intrakranial
harus diberi premedikasi dengan bolus obat-obat relaksasi otot
sebelum airway suctioning; dalam kondisi emergensi pemberian lidokain
perlu dipertimbangkan.
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
327
DAFTAR PUSTAKA
Broderick JP, Adams HP, Barsan W, Feinberg W, Feldmann E, Grotta J, Kase C,
Krieger D, Mayberg M, Tilley B, Zabramski JM, Zuccarello M. Guidelines for the
Management of Spontaneous Intracerebral Hemorrhage. A Statement for Healthcare
Professionals From a Special Writing Group of the Stroke Council, American Heart
Association. Stroke 1999;30: 905-15.
Fewell ME, Thompson BG, Hoff JT. Spontaneous intracerebral hemorrhage: a review.
Neurosurg Focus 2003;15(4): 1-16.
The IMS Study Investigators. Hemorrhage in the Interventional Management of Stroke
Study. Stroke 2006;37: 847-51.
Broderick J, Brott T, Tomsick T, Leach A. Lobar hemorrhage in the elderly: the
undiminishing importance of hypertension. Stroke 1993; 24: 4951.
MacKenzie JM. Intracerebral haemorrhage. J Clin. Pathol.1996; 49: 360-64.
Qureshi AI, Tuhrim S, Broderick JP, Batjer H, Hondo H, Hanley DF. Spontaneous
Intracerebral Hemorrhage. N.Engl. J. Med. 2001; 344 (19): 1450-60.
Lin SZ. Hypertensive Intracerebral Hemorrhage and Brain Edema. Chinese Med. J.
(Taipei) 2002;65 (6): 239-40.
Ariesen MJ, Claus SP, Rinkel GJE, Algra A.. Risk Factors for Intracerebral Hemorrhage
in the General Population: A Systematic Review. Stroke 2003;34: 2060-65.
Swanson RA. Intracerebral Hematoma Beyond the Mass Lesion. Stroke 2006;. 37: 2445.
Kazui S, Minematsu K, Yamamoto H, Sawada T, Yamaguchi T. Predisposing factors to
enlargement of spontaneous intracerebral hematoma. Stroke 1997; 28: 2370-5.
Thompson WR. Acute cerebrovascular complications. In: Oh TE. Intensive Care
Manual. Butterworth Heinemann, Oxford, Boston, Johannesburg 1997.
Pouratian N, Kassell NF, Dumont AS. Update on management of intracerebral
hemorrhage. Neurosurg Focus 2003; 15 (4): 1 6.
Poungvarin N, Bhoopat W, Viriyavejakul A, Rodprasert P, Buranasiri P, Sukondhabhant
S, Hensley MJ, Strom BL. Effects of dexamethasone in primary supratentorial
intracerebral hemorrhage. N Engl J Med. 1987;316: 1229 1233
Italian Acute Stroke Study Group. Haemodilution in acute stroke: results of the Italian
haemodilution trial. Lancet 1988;1: 318 321.
Yu YL, Kumana CR, Lauder IJ, Cheung YK, Chan FL, Kou M, Chang CM, Cheung RT.
Fong KY. Treatment of acute cerebral hemorrhage with intravenous glycerol: a
double-blind, placebo-controlled, randomized trial. Stroke 1992;23: 967971.
Adams HP, Brott TG, Furlan, AJ, Gomez CR, Grotta J, Helgason CM, Kwiatkowski T,
Lyden PD, Marler JR, Torner J, Feinberg W, Mayberg M, Thies W. Guidelines for
thrombolytic therapy for acute stroke: a supplement to the guidelines for the manage-
ment of patients with acute ischemic stroke: a statement for healthcare professionals
from a special writing group of the Stroke Council, American Heart Association.
Circulation 1996;94: 11671174.
The Seventh Report Of The Joint National Committee. Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. National Institute of Health,
National Heart, Lung, and Blood Institute, National Blood Pressure Education
Program. US. Department of Health and Human Services. 2003.
Brott T, Broderick J, Kothari R, Barsan W, Tomsick T, Sauerbeck L, Spilker J, Duldner
J, Khouri J. Early hemorrhage growth in patients with intracerebral hemorrhage.
Stroke 1997;28: 15.
Diringer MN. Intracerebral hemorrhage: pathophysiology and management. Crit Care
Med. 1993;21: 5911603.
Collins R, Peto R, MacMahon S. Blood pressure, stroke, and coronary heart disease,
part 2: short-term reductions in blood pressure: overview of randomized drug trials in
their epidemiological context. Lancet 1993;335: 827-38.
Juvela S, Hillbom M, Palomaki. Risk factors spontaneous intracerebral hemorrhage.
Stroke 1995;26: 1558-64.
SHEP Cooperative Research Group. Prevention of stroke by antihypertensive drug
treatment in older persons with isolated systolic hypertension: final results of the
Systolic Hypertension in the Elderly Program (SHEP). JAMA 1991;265: 32553264.
Elkind M. Stroke in the Elderly. The Mount Sinai J. Med 2003;70 (1): 27-37.
Kuller LH, Dorman JS, Wolf PA. Cerebrovascular diseases and diabetes. In: National
Diabetes Data Group Department of Health and Human Services, National Istitutes of
Health, ed. Diabetes in America: Diabetes Data Compiled for 1984; Bethesda, Md,
Conn: Appleton & Lange. 1996.
United Kingdom Prospective Diabetes Study Group. Intensive blood-glucose control
with sulphonylurea or insulin compared with conventional treatment and risk of
macrovascular and microvascular complications in type 2 diabetes: UKPDS 33.
Lancet 1998;352: 837-853.
Gillman MW, Cupples LA, Gagnon D, Posner BM, Ellison RC, Castelli WP, Wolf PA.
Protective effect of fruits and vegetables on development of stroke in men. JAMA
1995. 273:11131117
Donahue RP, Abbott RD, Reed DM, Yano K. Alcohol and hemorrhagic stroke: the
Honolulu Heart Program. JAMA 1986.; 255: 23112314.
Royal College of Physicians. National clinical guidelines for stroke, Prepared by the
Intercollegiate Stroke Working Party June 2004, 2nd ed., London 2004.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
Tabel 6. Level of evidence (LoE) dan derajad rekomendasi
Level of
Tipe evidence
Derajat
evidence
rekomendasi
Ia
Meta-analisis
atau
randomised controlled trials (RCT)
A
Ib
Randomised controlled trials (RCT)
A
IIa
Mempunyai desain yang baik, terdapat kontrol
walaupun tanpa randomisasi
B
IIb
Mempunyai desain yang baik, quasi-experimental study
B
III
Mempunyai desain yang baik, non-experimental
descriptive study (comparative studies, correlation studies,
case
studies)
B
IV
Laporan, opini atau pengalaman para ahli.
C
Consensus Rekomendasi dari organisasi profesi berdasarkan
of working pengalaman klinik atau pengembangan dari Guideline
party
Development Group
D
1.
2.
3.
4.
3. Kendalikan Faktor Risiko lain
Laporan Framingham Study menyatakan bahwa konsumsi
buah dan sayuran setiap hari dapat menurunkan risiko stroke
termasuk stroke perdarahan intraserebral
(26)
. Merokok, walaupun
merupakan faktor risiko utama beberapa penyakit termasuk
stroke infark dan perdarahan subarakhnoid, berdasarkan pene-
litian kohort berhenti merokok tidak secara signifikan menurun-
kan risiko perdarahan intraserebral, tetapi peminum alkohol
berisiko tinggi menderita stroke perdarahan intraserebral, sehingga
pengendalian konsumsi alkohol lebih beralasan
(27)
, juga penu-
runan penggunaan kokain dan obat-obat simpatomimetik dapat
menurunkan risiko perdarahan intraserebral.
Risiko stroke perdarahan intraserebral pada penggunaan anti-
koagulan akan meningkat jika INR > 3
(28)
. Menurut The National
Institute of Neurological Disorders and Stroke rt-PA Stroke
Study Group (1995), tindakan hati-hati saat pemilihan tromboli-
sis terhadap infark miokard dan stroke iskhemik dapat menu-
runkan risiko stroke perdarahan intraserebral
(29)
.
Tabel 5. Rekomendasi pencegahan stroke perdarahan intraserebral
Secara teratur mengkonsumsi obat antihipertensi adalah reko-
mendasi utama, yang secara efektif akan menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas stroke perdarahan intraserebral (LoE I
through II, grade A).
Monitoring ketat pemberian obat-obat antikoagulan, misalnya, warfarin
(LoE I, grade A).
Pemberian secara selektif obat-obat trombolitik untuk infark miokard
dan stroke iskhemik akut (LoE I, grade A).
Peningkatan konsumsi buah dan sayuran serta menghindari alkohol
dan penggunaan obat-obat simpatomimetik akan menurunkan
risiko stroke perdarahan intraserebral (LoE III through V, grade C).
LAMPIRAN 1. penilaian kualitas hasil penelitian
Cara penilaian kualitas bukti-bukti penelitian direkomendasikan
mengikuti suatu aturan, yaitu A,B, C atau D; selanjutnya untuk
melihat tingkat evidence digunakan nomor I, II, III atau IV, dan
tingkatan ini menunjukkan sumber-sumber yang dapat dipercaya.
Tabel 6 memperlihatkan masing-masing tingkat evidence beserta
penjelasannya. Kriteria ini diambil dari National Institute for Clinical
Excellence (NICE)
(28)
.
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
326
Kraniotomi merupakan pendekatan standar, terutama untuk
pengambilan bekuan darah. Tindakan tersebut dapat menu-
runkan tekanan intrakranial dan tekanan lokal akibat efek
massa di sekitarnya. Efek samping yang merugikan adalah
kerusakan jaringan otak di sekitarnya terutama jika letak bekuan
darah terlalu dalam.
PENCEGAHAN
Karena stroke perdarahan intraserebral mempunyai morbiditas
dan mortalitas yang tinggi dan belum ada jaminan perbaikan dengan
pendekatan terapi apapun, pencegahan merupakan tindakan utama.
Pencegahan berupa mengendalikan faktor risiko, antara lain:
1. Kontrol tekanan darah
Hipertensi adalah faktor risiko stroke utama; pengobatan serta
pengendaliannya dapat menurunkan risiko stroke. Suatu over-
view sistematis dari 14 prospective randomized controlled trials
menunjukkan bahwa penurunan tekanan diastolis 5 - 6 mmHg
dapat menurunkan risiko stroke sebanyak 42%
(20)
.
Hipertensi erat hubungannya dengan kejadian stroke
(21)
. Penderita
hipertensi kurang terkontrol adalah penderita dengan riwayat
hipertensi, tidak diobati atau diobati tetapi tidak terkendali.
Terapi rutin pasien hipertensi derajat ringan sampai sedang secara
signifikan dapat menurunkan risiko stroke perdarahan pada usia
pertengahan dan lansia antara 36-48%
(22)
Hipertensi yang ter-
kontrol dapat menurunkan risiko perdarahan sampai 50%
(23)
.
Untuk menurunkan risiko stroke sebaiknya dilakukan 3 pen-
dekatan untuk menurunkan tekanan darah, yaitu; (1) tekanan darah
harus dikendalikan pada penderita hipertensi yang cenderung
akan terserang stroke, (2) para dokter hendaklah memeriksa tekanan
darah semua penderita setiap datang berobat, dan (3) penderita
hipertensi hendaklah memantau tekanan darahnya di rumah.
2. Kendalikan Diabetes Mellitus
Hiperglikemi adalah problem endokrinologi yang menonjol sebagai
faktor risiko stroke perdarahan intraserebral
(24).
Walaupun ada
bukti hubungan erat antara diabetes melitus dengan stroke baik
dari studi epidemiologis dan studi patofisiologis, pengendalian
dan penurunan kadar serum gula darah tidak menurunkan risiko
stroke. Dua penelitian besar, multisenter, uji klinis acak pengenda-
lian kadar gula darah dengan terapi insulin pada penderita dia-
betes melitus tipe 1, dan pemberian intensif sulfonilurea dan atau
dengan terapi insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2
(25)
,
menunjukkan penurunan bermakna komplikasi mikrovaskuler
(retinopati, nefropati, dan neuropati), tetapi tidak menurunkan
risiko stroke perdarahan (komplikasi makrovaskuler).
d) Manajemen demam
Suhu tubuh harus dipertahankan normal, parasetamol 650 mg
atau kompres dingin harus diberikan jika suhu >38.5° C. Pada
pasien demam atau infeksi, dapat dilakukan kultur darah, trakhea,
dan urin, selanjutnya dapat diberikan antibiotik yang sesuai.
Pada pasien dengan kateter intraventrikuler, harus dilakukan ana-
lisis cairan serebrospinal untuk deteksi dini infeksi intrakranial.
e) Terapi lain
Banyak pasien yang kesadarannya menurun mengalami kege-
lisahan; harus dijaga agar tidak terjadi cedera. Dapat diguna-
kan tranquilizer minor atau mayor, yaitu benzodiazepin aksi
pendek atau propofol. Obat lain yang dapat diberikan adalah
analgesik dan neuroleptik sesuai dengan tanda dan gejala klinis.
Jenis obat dan dosis harus dititrasi sesuai dengan perkembangan
klinik pasien. Emboli pulmonum sering merupakan ancaman
selama fase perbaikan, terutama pada pasien yang berbaring
lama karena hemiplegi. Fisioterapi selama pasien inaktif sangat
penting.
3) Pembedahan
Tujuan utama tindakan pembedahan pada perdarahan intrase-
rebral adalah mengambil bekuan darah. Jika mungkin juga untuk
mengidentifikasi penyebab perdarahan, misalnya malformasi
arteri-vena. Selain itu juga untuk mencegah komplikasi, misal-
nya hidrosefalus dan efek massa akibat bertambahnya volume
intrakranial.
Tabel 4. Rekomendasi tindakan pembedahan pada perdarahan
intreaserebral
Tindakan tanpa pembedahan
1. Pasien dengan perdarahan kecil (< 10 cm
3
) atau defisit neurologik yang
minimal
(LoE II through V, grade B).
2. Pasien dengan skor GCS < 4 (LoE II through V, grade B). Pada perda-
rahan serebelum dengan penekanan pada batang otak, pembedahan
merupakan
tindakan
lifesaving karena kegawatannya.
Tindakan Pembedahan
1. Pada pasien stroke perdarahan serebelum > 3 cm dengan deteri
orasi neurologik karena kompresi batang otak dan hidrosefalus
karena obstruksi ventrikel harus dilakukan tindakan pembersi-
han bekuan darah dengan segera (LoE III through V, grade C).
2. Pada perdarahan intraserebral karena lesi struktural misalnya aneu-
risma, malformasi arterivena, atau angioma kavernosa, pembedahan
mungkin dapat dilakukan jika mempunyai kemungkinan outcome
yang baik dan lesi struktural vaskuler tersebut dapat dijangkau
dengan
tindakan
pembedahan
(LoE III through V, grade C).
3. Pada pasien usia muda dengan perdarahan sedang atau perdarahan
luas di daerah lobus yang secara klinik mengalami perburukan
(LoE II through V, grade B).
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
327
DAFTAR PUSTAKA
Broderick JP, Adams HP, Barsan W, Feinberg W, Feldmann E, Grotta J, Kase C,
Krieger D, Mayberg M, Tilley B, Zabramski JM, Zuccarello M. Guidelines for the
Management of Spontaneous Intracerebral Hemorrhage. A Statement for Healthcare
Professionals From a Special Writing Group of the Stroke Council, American Heart
Association. Stroke 1999;30: 905-15.
Fewell ME, Thompson BG, Hoff JT. Spontaneous intracerebral hemorrhage: a review.
Neurosurg Focus 2003;15(4): 1-16.
The IMS Study Investigators. Hemorrhage in the Interventional Management of Stroke
Study. Stroke 2006;37: 847-51.
Broderick J, Brott T, Tomsick T, Leach A. Lobar hemorrhage in the elderly: the
undiminishing importance of hypertension. Stroke 1993; 24: 4951.
MacKenzie JM. Intracerebral haemorrhage. J Clin. Pathol.1996; 49: 360-64.
Qureshi AI, Tuhrim S, Broderick JP, Batjer H, Hondo H, Hanley DF. Spontaneous
Intracerebral Hemorrhage. N.Engl. J. Med. 2001; 344 (19): 1450-60.
Lin SZ. Hypertensive Intracerebral Hemorrhage and Brain Edema. Chinese Med. J.
(Taipei) 2002;65 (6): 239-40.
Ariesen MJ, Claus SP, Rinkel GJE, Algra A.. Risk Factors for Intracerebral Hemorrhage
in the General Population: A Systematic Review. Stroke 2003;34: 2060-65.
Swanson RA. Intracerebral Hematoma Beyond the Mass Lesion. Stroke 2006;. 37: 2445.
Kazui S, Minematsu K, Yamamoto H, Sawada T, Yamaguchi T. Predisposing factors to
enlargement of spontaneous intracerebral hematoma. Stroke 1997; 28: 2370-5.
Thompson WR. Acute cerebrovascular complications. In: Oh TE. Intensive Care
Manual. Butterworth Heinemann, Oxford, Boston, Johannesburg 1997.
Pouratian N, Kassell NF, Dumont AS. Update on management of intracerebral
hemorrhage. Neurosurg Focus 2003; 15 (4): 1 6.
Poungvarin N, Bhoopat W, Viriyavejakul A, Rodprasert P, Buranasiri P, Sukondhabhant
S, Hensley MJ, Strom BL. Effects of dexamethasone in primary supratentorial
intracerebral hemorrhage. N Engl J Med. 1987;316: 1229 1233
Italian Acute Stroke Study Group. Haemodilution in acute stroke: results of the Italian
haemodilution trial. Lancet 1988;1: 318 321.
Yu YL, Kumana CR, Lauder IJ, Cheung YK, Chan FL, Kou M, Chang CM, Cheung RT.
Fong KY. Treatment of acute cerebral hemorrhage with intravenous glycerol: a
double-blind, placebo-controlled, randomized trial. Stroke 1992;23: 967971.
Adams HP, Brott TG, Furlan, AJ, Gomez CR, Grotta J, Helgason CM, Kwiatkowski T,
Lyden PD, Marler JR, Torner J, Feinberg W, Mayberg M, Thies W. Guidelines for
thrombolytic therapy for acute stroke: a supplement to the guidelines for the manage-
ment of patients with acute ischemic stroke: a statement for healthcare professionals
from a special writing group of the Stroke Council, American Heart Association.
Circulation 1996;94: 11671174.
The Seventh Report Of The Joint National Committee. Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. National Institute of Health,
National Heart, Lung, and Blood Institute, National Blood Pressure Education
Program. US. Department of Health and Human Services. 2003.
Brott T, Broderick J, Kothari R, Barsan W, Tomsick T, Sauerbeck L, Spilker J, Duldner
J, Khouri J. Early hemorrhage growth in patients with intracerebral hemorrhage.
Stroke 1997;28: 15.
Diringer MN. Intracerebral hemorrhage: pathophysiology and management. Crit Care
Med. 1993;21: 5911603.
Collins R, Peto R, MacMahon S. Blood pressure, stroke, and coronary heart disease,
part 2: short-term reductions in blood pressure: overview of randomized drug trials in
their epidemiological context. Lancet 1993;335: 827-38.
Juvela S, Hillbom M, Palomaki. Risk factors spontaneous intracerebral hemorrhage.
Stroke 1995;26: 1558-64.
SHEP Cooperative Research Group. Prevention of stroke by antihypertensive drug
treatment in older persons with isolated systolic hypertension: final results of the
Systolic Hypertension in the Elderly Program (SHEP). JAMA 1991;265: 32553264.
Elkind M. Stroke in the Elderly. The Mount Sinai J. Med 2003;70 (1): 27-37.
Kuller LH, Dorman JS, Wolf PA. Cerebrovascular diseases and diabetes. In: National
Diabetes Data Group Department of Health and Human Services, National Istitutes of
Health, ed. Diabetes in America: Diabetes Data Compiled for 1984; Bethesda, Md,
Conn: Appleton & Lange. 1996.
United Kingdom Prospective Diabetes Study Group. Intensive blood-glucose control
with sulphonylurea or insulin compared with conventional treatment and risk of
macrovascular and microvascular complications in type 2 diabetes: UKPDS 33.
Lancet 1998;352: 837-853.
Gillman MW, Cupples LA, Gagnon D, Posner BM, Ellison RC, Castelli WP, Wolf PA.
Protective effect of fruits and vegetables on development of stroke in men. JAMA
1995. 273:11131117
Donahue RP, Abbott RD, Reed DM, Yano K. Alcohol and hemorrhagic stroke: the
Honolulu Heart Program. JAMA 1986.; 255: 23112314.
Royal College of Physicians. National clinical guidelines for stroke, Prepared by the
Intercollegiate Stroke Working Party June 2004, 2nd ed., London 2004.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
Tabel 6. Level of evidence (LoE) dan derajad rekomendasi
Level of
Tipe evidence
Derajat
evidence
rekomendasi
Ia
Meta-analisis
atau
randomised controlled trials (RCT)
A
Ib
Randomised controlled trials (RCT)
A
IIa
Mempunyai desain yang baik, terdapat kontrol
walaupun tanpa randomisasi
B
IIb
Mempunyai desain yang baik, quasi-experimental study
B
III
Mempunyai desain yang baik, non-experimental
descriptive study (comparative studies, correlation studies,
case
studies)
B
IV
Laporan, opini atau pengalaman para ahli.
C
Consensus Rekomendasi dari organisasi profesi berdasarkan
of working pengalaman klinik atau pengembangan dari Guideline
party
Development Group
D
1.
2.
3.
4.
3. Kendalikan Faktor Risiko lain
Laporan Framingham Study menyatakan bahwa konsumsi
buah dan sayuran setiap hari dapat menurunkan risiko stroke
termasuk stroke perdarahan intraserebral
(26)
. Merokok, walaupun
merupakan faktor risiko utama beberapa penyakit termasuk
stroke infark dan perdarahan subarakhnoid, berdasarkan pene-
litian kohort berhenti merokok tidak secara signifikan menurun-
kan risiko perdarahan intraserebral, tetapi peminum alkohol
berisiko tinggi menderita stroke perdarahan intraserebral, sehingga
pengendalian konsumsi alkohol lebih beralasan
(27)
, juga penu-
runan penggunaan kokain dan obat-obat simpatomimetik dapat
menurunkan risiko perdarahan intraserebral.
Risiko stroke perdarahan intraserebral pada penggunaan anti-
koagulan akan meningkat jika INR > 3
(28)
. Menurut The National
Institute of Neurological Disorders and Stroke rt-PA Stroke
Study Group (1995), tindakan hati-hati saat pemilihan tromboli-
sis terhadap infark miokard dan stroke iskhemik dapat menu-
runkan risiko stroke perdarahan intraserebral
(29)
.
Tabel 5. Rekomendasi pencegahan stroke perdarahan intraserebral
Secara teratur mengkonsumsi obat antihipertensi adalah reko-
mendasi utama, yang secara efektif akan menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas stroke perdarahan intraserebral (LoE I
through II, grade A).
Monitoring ketat pemberian obat-obat antikoagulan, misalnya, warfarin
(LoE I, grade A).
Pemberian secara selektif obat-obat trombolitik untuk infark miokard
dan stroke iskhemik akut (LoE I, grade A).
Peningkatan konsumsi buah dan sayuran serta menghindari alkohol
dan penggunaan obat-obat simpatomimetik akan menurunkan
risiko stroke perdarahan intraserebral (LoE III through V, grade C).
LAMPIRAN 1. penilaian kualitas hasil penelitian
Cara penilaian kualitas bukti-bukti penelitian direkomendasikan
mengikuti suatu aturan, yaitu A,B, C atau D; selanjutnya untuk
melihat tingkat evidence digunakan nomor I, II, III atau IV, dan
tingkatan ini menunjukkan sumber-sumber yang dapat dipercaya.
Tabel 6 memperlihatkan masing-masing tingkat evidence beserta
penjelasannya. Kriteria ini diambil dari National Institute for Clinical
Excellence (NICE)
(28)
.
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
326
Kraniotomi merupakan pendekatan standar, terutama untuk
pengambilan bekuan darah. Tindakan tersebut dapat menu-
runkan tekanan intrakranial dan tekanan lokal akibat efek
massa di sekitarnya. Efek samping yang merugikan adalah
kerusakan jaringan otak di sekitarnya terutama jika letak bekuan
darah terlalu dalam.
PENCEGAHAN
Karena stroke perdarahan intraserebral mempunyai morbiditas
dan mortalitas yang tinggi dan belum ada jaminan perbaikan dengan
pendekatan terapi apapun, pencegahan merupakan tindakan utama.
Pencegahan berupa mengendalikan faktor risiko, antara lain:
1. Kontrol tekanan darah
Hipertensi adalah faktor risiko stroke utama; pengobatan serta
pengendaliannya dapat menurunkan risiko stroke. Suatu over-
view sistematis dari 14 prospective randomized controlled trials
menunjukkan bahwa penurunan tekanan diastolis 5 - 6 mmHg
dapat menurunkan risiko stroke sebanyak 42%
(20)
.
Hipertensi erat hubungannya dengan kejadian stroke
(21)
. Penderita
hipertensi kurang terkontrol adalah penderita dengan riwayat
hipertensi, tidak diobati atau diobati tetapi tidak terkendali.
Terapi rutin pasien hipertensi derajat ringan sampai sedang secara
signifikan dapat menurunkan risiko stroke perdarahan pada usia
pertengahan dan lansia antara 36-48%
(22)
Hipertensi yang ter-
kontrol dapat menurunkan risiko perdarahan sampai 50%
(23)
.
Untuk menurunkan risiko stroke sebaiknya dilakukan 3 pen-
dekatan untuk menurunkan tekanan darah, yaitu; (1) tekanan darah
harus dikendalikan pada penderita hipertensi yang cenderung
akan terserang stroke, (2) para dokter hendaklah memeriksa tekanan
darah semua penderita setiap datang berobat, dan (3) penderita
hipertensi hendaklah memantau tekanan darahnya di rumah.
2. Kendalikan Diabetes Mellitus
Hiperglikemi adalah problem endokrinologi yang menonjol sebagai
faktor risiko stroke perdarahan intraserebral
(24).
Walaupun ada
bukti hubungan erat antara diabetes melitus dengan stroke baik
dari studi epidemiologis dan studi patofisiologis, pengendalian
dan penurunan kadar serum gula darah tidak menurunkan risiko
stroke. Dua penelitian besar, multisenter, uji klinis acak pengenda-
lian kadar gula darah dengan terapi insulin pada penderita dia-
betes melitus tipe 1, dan pemberian intensif sulfonilurea dan atau
dengan terapi insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2
(25)
,
menunjukkan penurunan bermakna komplikasi mikrovaskuler
(retinopati, nefropati, dan neuropati), tetapi tidak menurunkan
risiko stroke perdarahan (komplikasi makrovaskuler).
d) Manajemen demam
Suhu tubuh harus dipertahankan normal, parasetamol 650 mg
atau kompres dingin harus diberikan jika suhu >38.5° C. Pada
pasien demam atau infeksi, dapat dilakukan kultur darah, trakhea,
dan urin, selanjutnya dapat diberikan antibiotik yang sesuai.
Pada pasien dengan kateter intraventrikuler, harus dilakukan ana-
lisis cairan serebrospinal untuk deteksi dini infeksi intrakranial.
e) Terapi lain
Banyak pasien yang kesadarannya menurun mengalami kege-
lisahan; harus dijaga agar tidak terjadi cedera. Dapat diguna-
kan tranquilizer minor atau mayor, yaitu benzodiazepin aksi
pendek atau propofol. Obat lain yang dapat diberikan adalah
analgesik dan neuroleptik sesuai dengan tanda dan gejala klinis.
Jenis obat dan dosis harus dititrasi sesuai dengan perkembangan
klinik pasien. Emboli pulmonum sering merupakan ancaman
selama fase perbaikan, terutama pada pasien yang berbaring
lama karena hemiplegi. Fisioterapi selama pasien inaktif sangat
penting.
3) Pembedahan
Tujuan utama tindakan pembedahan pada perdarahan intrase-
rebral adalah mengambil bekuan darah. Jika mungkin juga untuk
mengidentifikasi penyebab perdarahan, misalnya malformasi
arteri-vena. Selain itu juga untuk mencegah komplikasi, misal-
nya hidrosefalus dan efek massa akibat bertambahnya volume
intrakranial.
Tabel 4. Rekomendasi tindakan pembedahan pada perdarahan
intreaserebral
Tindakan tanpa pembedahan
1. Pasien dengan perdarahan kecil (< 10 cm
3
) atau defisit neurologik yang
minimal
(LoE II through V, grade B).
2. Pasien dengan skor GCS < 4 (LoE II through V, grade B). Pada perda-
rahan serebelum dengan penekanan pada batang otak, pembedahan
merupakan
tindakan
lifesaving karena kegawatannya.
Tindakan Pembedahan
1. Pada pasien stroke perdarahan serebelum > 3 cm dengan deteri
orasi neurologik karena kompresi batang otak dan hidrosefalus
karena obstruksi ventrikel harus dilakukan tindakan pembersi-
han bekuan darah dengan segera (LoE III through V, grade C).
2. Pada perdarahan intraserebral karena lesi struktural misalnya aneu-
risma, malformasi arterivena, atau angioma kavernosa, pembedahan
mungkin dapat dilakukan jika mempunyai kemungkinan outcome
yang baik dan lesi struktural vaskuler tersebut dapat dijangkau
dengan
tindakan
pembedahan
(LoE III through V, grade C).
3. Pada pasien usia muda dengan perdarahan sedang atau perdarahan
luas di daerah lobus yang secara klinik mengalami perburukan
(LoE II through V, grade B).