CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
244
RESENSI BUKU
Dengan kekayaan kosa kata serta ilmu yang dimiliki oleh Ari
Wibowo (penyusun), banyak diselipkan istilah-istilah, kalimat
bahkan cerita yang kadangkala tidak terpikir oleh kita semua.
Tentu ini bisa membuat pembaca menjadi lebih penasaran
untuk menyelesaikan buku tersebut. Misalnya untuk me-
lukiskan bagaimana penuhnya perhatian serta cinta kasih
Pak Oei dalam membimbing murid-muridnya, Ari bercerita
mengenai perjalanan sang Kapak, Gergaji, Palu dan Nyala
Api bersama-sama. "Ada banyak hati yang
cukup keras untuk melawan kemur-
kaan dan amukan kemarahan demi
harga tinggi. Tapi jarang ada hati
yang tahan melawan nyala api cinta
kasih yang hangat. Betapa arif
bijak ada dalam sebuah kelembu-
tan dan kehangatan, seperti api men-
cairkan hati yang dingin", tulis
Ari di halaman 164.
Buku ini juga dilengkapi dengan pelbagai kesan dan pesan
dari para murid dan rekan sejawat seperti: Prof (Riset) Dr
Soefjan Tsauri, Debbie Sofie Retnoningrum Ph.D, Soetrisno
Ph.D, Dr Harjoto Djojosubroto, Dr Isnaini, Dr. Endang
Kumolowati, Prof. Dr. H. Abd. Rauf Patong, Prof. Dr. Ami
Soewandi.J.S., Dr. Darmadi Gunarso, Prof. Dr. Chandrawati
Cahyani, Ernawati Arifin Giri Rachman Ph.D., Dr. Sofyan
Yatim, Dr Florentina Maria Titin S, Dr. Tri Panji, Prof Hilda
Zulkifli, Ph.D., Ir. Yenny Ciawi Ph.D, Megawati Santoso
Ph.D., dan Prof. dr. Rully M.A. Roesli, SpPD PhD KGH,
sebagai dokter yang merawat Prof Oei saat ini yang telah
menjalani hemodialisis (sejak tahun 2002).
Kita semua berharap bahwa dengan terbitnya buku
biografi plus-plus ini semua pihak bisa terinspirasi dari
uletnya perjuangan Prof Oei serta sabarnya dalam
membimbing. Yang tertarik ingin memiliki buku
ini, bisa segera mengontak Medical Repre-
sentative Kalbe Farma terdekat. Buku ini
dicetak dalam jumlah terbatas. Sampai
ketemu pada penerbitan berikutnya...
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
185
PENDAHULUAN
Croup atau laringotrakeobronkitis akut (LTBA) merupakan
penyakit peradangan akut di daerah subglotis larings, trakea,
dan bronkus
1,2
Penyakit ini merupakan penyebab tersering
obstruksi saluran nafas atas pada anak-anak
3-6
dan biasanya
ditandai dengan suara serak, batuk kering seperti menggong-
gong, dan stridor inspirasi.
5,7,8
Croup sering diderita anak usia 6 bulan sampai 6 tahun. Puncak
insidensi croup kurang lebih 4,6 kasus per 100 anak usia 1
sampai 2 tahun; dan kurang lebih 1,3%-5% anak penderita
croup diharuskan rawat inap.
3
Ada beberapa peneliti yang
mengatakan bahwa di Amerika Serikat croup sering diderita
oleh anak usia 1-6 tahun dengan rata-rata usia 18 bulan.
9
Puncak insidensi kurang lebih 5 kasus per 100 anak pada
tahun kedua kehidupan anak.
7,8
Di Rumah Sakit Anak Westmead, New South Wales Australia
dalam satu tahun terdapat kurang lebih 1200 kunjungan croup,
dan 20 % di antaranya diharuskan rawat inap
10
Di luar negeri
penelitian-penelitian tentang croup juga sering dilakukan,
menunjukkan bahwa kasus croup sering dijumpai di klinik
ataupun di rumah sakit.
Tabel 1. Angka kejadian croup di beberapa rumah sakit di luar negeri.
Data di atas menunjukkan bahwa angka kejadian croup di luar
negeri masih cukup tinggi, sedangkan di Indonesia tidak didapat-
kan data yang jelas.
ETIOLOGI
Croup terutama disebabkan oleh parainfluenza virus tipe 1, 2,
dan 3
7,8,9
, yaitu pada kurang lebih 50 - 75% kasus
11
. Malhotra
dan Krilov mengisolasi parainfluenza virus pada kurang lebih
65% penderita croup.
9
Selain parainfluenza virus, virus influenza
tipe A, adenovirus, enterovirus, dan respiratory syncytial virus
juga ditemukan pada penderita croup.
7,8,9
Menurut Ewig, measles virus dapat menyebabkan croup berat
terutama pada anak kurang dari dua tahun. Gejala croup terjadi
paling sering dua hari setelah exanthem, tetapi dapat terjadi sebelum
erupsi kulit. Herpes simplex virus menyebabkan prolonged croup
khususnya jika dihubungkan dengan gingivostomatitis.
8
Bakteri juga dapat ditemukan pada penderita croup, jika ter-
jadi infeksi sekunder. Umumnya Streptococcus pyogenes, S.
pneumoniae, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae,
dan Moraxella catarrhalis.
9
Setelah infeksi virus berlangsung,
dapat terjadi infeksi bakteri sekunder oleh organisme yang
berasal dari hidung. Pada biakan bakteri yang paling sering
ditemukan yaitu Streptococcus hemolyticus, Streptococcus
viridans, Staphylococcus aureus, dan Pneumococcus.
1
PATOGENESIS
Infeksi virus pada croup dimulai dari nasofarings dan menyebar
ke epitel respiratorius larings dan trakea. Inflamasi difus, eritema,
dan udem berkembang di larings dan dinding trakea, sehingga
gerakan pita suara terganggu. Daerah subglotis merupakan bagian
yang paling sempit pada saluran nafas anak. Area subglotis ini
dikelilingi oleh kartilago, dan setiap pembengkakan di daerah
tersebut akan berpengaruh terhadap jalan nafas dan menyebab-
kan pengurangan aliran udara secara bermakna. Penyempitan
jalan nafas menyebabkan stridor inspirasi, dan pembengkakan
atau udem di daerah pita suara menyebabkan suara serak.
7,9
Dengan berlanjutnya penyakit, lumen trakea menjadi ter-
sumbat oleh sekret yang semula encer lalu kental, dan
menjadi krusta, sehingga penderita menjadi lebih sulit ber-
nafas. Usaha mengeluarkan krusta tersebut dengan cara
membatukkan, menghasilkan suara batuk yang khas seperti
menggonggong/bergema (croupy).
1,9
Croup (Laringotrakeobronkitis)
Anton B. Darmawan
Bagian THT Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman-RSUD Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah
1 Donaldson
et al. (2003)
RS William Beaumont, AS
1/1/1999 - 31/12/ 1999
397
2 Chin
et al. (2002)
RS Anak Westmead, Australia
1/2/2000 31/7/2000
267
3 Neto
GM
et al. (2002)
RS Anak Eastern Ontario, Kanada
1/10/1998 31/12/2000
648
4 Luria
JW
et al. (2001)
RS Anak Medical Center, Cincinnatti, AS 1/9/1995 31/12/1997
264
5 Weber
JE
et al. (2001)
Hurley Medical Center, Michigan, AS
1/9/1997 1/3/1998
58
6
Rittchier dan Ledwith (2000) RS Anak Denver, Colorado, AS
1/10/1996 30/6/1999
1298
No Peneliti
Tempat Penelitian
Periode
Jumlah
pasien
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
186
DIAGNOSIS
Croup biasanya diawali dengan gejala infeksi saluran nafas atas
ringan, seperti demam, pilek, dan batuk ringan.
4,7,9
Selanjutnya
dapat terjadi obstruksi saluran nafas akibat inflamasi daerah
subglotis, dengan gejala suara serak, batuk kering seperti meng-
gonggong (croupy/barky cough), dan stridor inspirasi dengan
atau tanpa demam, bahkan respiratory distress.
8,9,10
Pemeriksaan klinik dapat menemukan adanya nasofaringitis.
Meskipun croup merupakan self-limiting disease, tetapi jika udem
subglotis berlanjut akan terjadi kesulitan bernafas, yang ditandai
adanya stridor inspirasi. Retraksi supraklavikula, suprasternal,
dan interkostal dapat juga terjadi tergantung dari derajat distres
respirasinya.
7,11
Gambar 1. Perbandingan gambaran larings normal dengan penderita croup
8
.
Pemeriksaan foto polos leher menunjukkan adanya steeple
sign, yaitu penyempitan jalan nafas di area subglotis yang
terlihat pada penampakan anteroposterior. Daerah hipofarings
terlihat lebih lebar pada penampakan lateral.
7,8,9
tetapi gamba-
ran radiologis tersebut hanya ditemukan pada 50% kasus;
banyak kasus croup yang gambaran radiologisnya dalam
batas normal.
Gambar 2. Kiri : Gambaran daerah subglotis normal pada foto polos leher
anteroposterior. Kanan: Penyempitan subglotis (steeple sign) akibat udem pada
foto polos leher anteroposterior. (Krilov & Malhotra, 2001)
9
Inspiratory stridor
- None
0
- At rest, with stethoscope
1
- At rest, no stethoscope
2
Level of consciousness
- Normal
0
- Altered
5
Air entry
- Normal
0
- Decreased
1
- Severely limited
2
Cyanosis
- None
0
- Agitated
4
- At rest
5
Retractions
- None
0
- Mild
1
- Moderate
2
- Severe
3
Pada pemeriksaan analisis gas darah didapatkan tekanan parsial
CO
2
meningkat, tekanan parsial O
2
menurun dan pH darah
bergeser ke arah asam.
Laringoskopi langsung harus dipertimbangkan pada croup yang
tidak membaik dan untuk menyingkirkan penyebab obstruksi
lainnya.
1,7
Pada laringoskopi langsung tampak daerah subglotis
berwarna kemerahan difus, licin, dan udem serta adanya sekret
kental.
1,9
Daerah glotis dan supraglotis dapat berwarna kemera-
han tetapi umumnya dalam batas normal. Pipa endotrakea dan
alat trakeostomi harus tersedia sebelum laringoskopi dilakukan.
1
Ledwith & Rittichier (2000), mengklasifikasikan croup menjadi
tiga yaitu: (1) Ringan, jika terdapat batuk menggonggong, tanpa
adanya atau riwayat stridor atau retraksi, (2) Sedang, jika ditemu-
kan adanya serak, batuk menggonggong dan riwayat atau adanya
stridor inspirasi saat istirahat dan atau retraksi, (3) Berat, jika
terdapat gangguan status mental, retraksi berat dan sianosis.
4
Westley (1978), mendesain skor croup yang sampai saat ini
masih digunakan untuk mengklasifikasikan croup menjadi croup
ringan, sedang, dan berat. Croup ringan jika skor croup < 2,
sedang jika skor croup 2-7, dan berat jika skor croup 8-17.
15
(Tabel 3)
Tabel 3. Skor croup dari Westley
15
Diagnosis Banding
Untuk menegakkan diagnosis croup perlu dipikirkan penyakit-
penyakit lain sebagai diagnosis banding, seperti, epiglotitis akut,
dan benda asing larings.
9
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
243
RESENSI BUKU
Buku biografi plus
"Oei Ban Liang : Pelopor Bioteknologi,
Begawan Kimia dan
Sosok Guru yang Humanis",
terbitan CDK 2008
Siapa yang tidak mengenal Prof. Oei Ban Liang, Guru Besar Kimia dari
Institut Teknologi Bandung (ITB)? Pak Oei dikenal sebagai dosen yang ulet,
pantang menyerah sekalipun banyak rintangan yang menghadang.
(kutipan dari Kata Pengantar Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso M.Sc, Rektor ITB)
P
engakuan ini tidak hanya datang dari lingkungan ITB
saja. Prof. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, PhD, Direktur
Jendral Pendidikan Tinggi pun mengakui Pak Oei sebagai
sosok yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan
ilmu kimia di Indonesia. Konsistensi Prof. Oei dalam meng-
geluti ilmu kimia perlu dijadikan contoh bagi generasi
berikut atau penerusnya, jelas Prof Soemantri.
Kesemua hal di atas itulah yang menggerakkan hati dr
Boenjamin Setiawan, Chairman dan Founder Grup Kalbe
Farma untuk memprakarsai penulisan biografi Prof. Oei Ban
Liang Ph.D. Dalam sambutannya, Dr Boen menjelaskan
tujuan peluncuran buku biografi Oei Ban Liang adalah
memberikan penghargaan kepada para akademisi yang
telah banyak mencurahkan tenaga dan pikiran untuk
memajukan dunia akademis yang saat ini jauh tertinggal
dibandingkan dengan negara-negara tetangga: Singapura,
Malaysia, Filipina, Thailand dan sebagainya.
Dalam buku setebal 175 halaman ini, bisa dibaca riwayat
hidup Begawan Kimia Indonesia. Dimulai dari masa kecil
hingga dewasa (Bagian I), kemudian masuk ke bagian II.
Masa Pengabdian, bagian III. Menjadi Pelopor di Pusat
Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. PAU adalah suatu
badan bentukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia guna mendukung pendidikan pasca
sarjana di sepuluh universitas terkemuka dengan peralatan
modern dan canggih di semua bidang studi (hal. 65). Selan-
jutnya di Bagian IV, dijelaskan mengenai Menyongsong
Masa Depan. Pada bab ini, bisa dibaca pandangan dan
pikiran Prof Oei (78 tahun) tentang masa depan Kimia
Indonesia, Bioteknologi Indonesia dan pelbagai penelitian
dipandang dari sudut kualitas dan kreatifitas.
Meskipun buku ini cukup tebal, namun dengan gaya
penulisan yang cukup kreatif dan inovatif, membaca buku
biografi ini tidak hanya seperti membaca riwayat hidup
seseorang yang memberi banyak inspirasi saja.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
188
1. Epiglotitis akut
Epiglottitis akut biasanya terjadi pada anak yang lebih tua
daripada penderita croup yaitu antara 3-6 tahun biasanya
disebabkan oleh H.influenzae. Gejala klinis epiglottitis akut
berupa nyeri tenggorok (sore throat), nyeri menelan (odino-
fagia) yang mengakibatkan sulit menelan (disfagia), suara
berubah (muffled voice atau hot potato voice), demam sampai
menggigil, dan sesak nafas karena sumbatan jalan nafas. Anak
lebih suka posisi duduk, dagu lebih maju dan leher hiperekstensi
untuk menjaga agar jalan nafas tetap terbuka.
8,15
Kesulitan menelan yang berlebihan mengakibatkan hipersa-
livasi atau drooling. Sumbatan jalan nafas yang berat menga-
kibatkan stridor inspirasi. Pada epiglottitis akut tidak dijumpai
batuk seperti menggongong.
9
Dari pemeriksaan klinis didapatkan suhu tubuh meningkat,
takikardi (>100x/mnt), nyeri leher (neck tenderness), dan pem-
besaran kelenjar limfe leher (cervical lymphadenopathy). Pada
pemeriksaan laringoskopi tampak epiglottis bengkak dan ber-
warna merah terang (cherry-red epiglottis). Pemeriksaan radio-
logi foto polos soft tissue leher dengan posisi lateral biasanya
menunjukkan pembengkakan epiglottis (thumb sign).
9,14,15
2. Laringitis difteri
Laringitis difteri mempunyai masa inkubasi 1-7 hari. Penderita
mengeluh badan lemas, panas subfebris, batuk menggonggong
yang timbul mendadak diikuti suara serak dan terasa seperti
luka di tenggorok. Pada pemeriksaan dijumpai keadaan umum
penderita tampak lemah, suara serak, sesak dengan gejala sum-
batan jalan nafas yang progresif berupa stridor inspirasi.
1,11
Pada pemeriksaan orofarings tampak selaput putih keabuan
pada tonsil, dan dinding farings. Larings tampak kemerahan,
dan ditutupi selaput putih keabuan seperti pada farings. Mem-
bran melekat erat dan bila dilepaskan mudah berdarah. Pada
beberapa kasus, didapatkan limfadenitis dan menyerupai gam-
baran leher banteng (bull neck).
1
3. Benda asing larings
Aspirasi benda asing biasanya terjadi pada anak umur 6 bulan - 2
tahun. Jika terdapat riwayat tersedak, batuk paroksismal dan
tidak ada tanda infeksi kemungkinan benda asing di laring perlu
dipikirkan. Pemeriksaan rontgen serta endoskopi akan mem-
perjelas diagnosis.
8,9
4. Udem angioneurotik
Udem larings karena proses alergi, mungkin disebabkan
karena alergi obat, reaksi transfusi, gigitan serangga, makanan
atau bahan yang diinhalasi. Gejala udem larings karena alergi
bersifat progresif, dimulai dengan suara serak, berlanjut dengan
tanda-tanda peningkatan sumbatan jalan nafas seperti stridor,
retraksi, takipneu, dan sianosis.
1
Udem larings oleh karena
alergi biasanya akut, dengan riwayat baru saja kontak dengan
alergen. Biasanya ditemukan juga urtikaria atau angioudem di
daerah lain seperti wajah, bibir, tangan dan kaki.
1
PENGOBATAN
Pengobatan croup tergantung dari stadiumnya; bertujuan
untuk mengurangi udem, melunakkan sekret, dan melancarkan
jalan nafas.
11,14
Prinsip utama pengobatan croup adalah
manajemen jalan nafas.
7,9
Saat ini standar pengobatan croup
meliputi: (1) humidifikasi, meskipun sedikit bukti bahwa peng-
obatan ini efektif, (2) epinefrin rasemik, dan (3) steroid.
16
1. Humidifikasi (mist therapy)
Humidifikasi mempunyai efek melunakkan sekret atau me-
ngurangi viskositas sekret sehingga lebih mudah dikeluarkan,
selain itu juga mempunyai efek mengurangi inflamasi.
3,7,9
Terdapat beberapa jenis terapi humidifikasi yaitu hot mist dan
cool mist. Pada hot mist therapy dulu digunakan ketel croup
(croup kettles) atau tenda croup (croup tents). Tetapi karena efek
pemanasan tersebut dapat membakar wajah, anak menjadi
gelisah sehingga mengakibatkan hiperventilasi dan pada akhirnya
memperburuk sumbatan jalan nafas maka saat ini hot mist
ditinggalkan dan beralih ke cool mist therapy.
3
2. Epinefrin rasemik
Epinefrin rasemik merupakan campuran 1:1 d-isomer dan l-isomer
epinefrin. Mekanisme aksi epinefrin adalah pada reseptor a
adrenergik; terbukti menyebabkan vasokonstriksi dan mengu-
rangi udem. Pengurangan udem mukosa larings akan mening-
katkan diameter jalan nafas sehingga stridor inspirasi dan
retraksi akan berkurang. Mula kerja epinefrin dalam 10-30
menit, dan durasi maksimal aksi kurang lebih 2 jam.
7,8,9,11
Dosis 0,5 ml larutan epinefrin rasemik 2,25% dilarutkan dalam
4,5 ml larutan salin.
8
Pendapat lain menganjurkan dosis 0,25-
0,75 ml larutan 2,25% epinefrin rasemik dalam 2,5 ml larutan
salin yang diberikan secara nebuliser selama kurang lebih 20
menit.
7,9
Jika larutan epinefrin rasemik tidak tersedia dapat diguna-
kan campuran 5 ml l-isomer epinefrin dan larutan salin (1:100).
9
Epinefrin rasemik baik untuk mengobati croup derajat sedang
dan berat. Penderita yang telah diterapi dengan epinefrin
rasemik aman untuk dipulangkan jika dalam 3 jam, tidak
terdapat stridor saat istirahat, udara yang masuk normal,
kesadaran baik atau jika skor croup <2.
8,9
Jika terdapat stridor
persisten atau skor croup > 2, penderita harus dirawat.
8
H A S I L P E N E L I T I A N
KEGIATAN ILMIAH
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
241
HUT IV IKCC: Hidup Mandiri dengan Ginjal
Transplantasi, RS PGI Cikini, 31 Mei 2008
Sekitar 150 orang memadati
Aula RS PGI Cikini di Hari Sabtu
31 Mei 2008. Tak heran, karena
acara HUT ke-4 IKCC ini di-
peringati dengan meriah. Acara
dimulai dengan kata sambu-
tan dari RS PGI Cikini, Dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH
yang dilanjutkan dengan Ibu Indah, selaku Ketua Umum IKCC.
Acara cukup meriah karena dipandu oleh MC kondang Mr. Kris
Biantoro. Setelah acara sulap bersama pesulap IKCC, Bung
Cahaya, tampil dengan memukau, Mr. Kris Biantoro yang ber-
cerita mengenai suka dan duka dalam 'menjadi' ginjal di negeri
orang. Setelah itu muncullah bintang acara kali ini yang Dr
Tunggul Situmorang yang membawakan presentasi mengenai
"Hidup Mandiri dengan Ginjal Tranplantasi". Setelah presentasi Dr
Tunggul, tampil berturut-turut memberi kesaksian, penerima/resipien
dan pemberi/donatur ginjal yang operasinya dilakukan di RS
PGI Cikini sekitar 4 tahun yang lalu. Akhir acara ditutup dengan
perayaan sederhana berupa bernyanyi disertai pemotongan kue
ulang tahun. Selamat Ulang IKCC, lanjutkan misimu untuk terus men-
dampingi mereka yang kurang beruntung dengan organ ginjal.
Grand Opening Mochtar Riady Institute for
Nanotechnology, Universitas Pelita Harapan
Karawaci, 12 Mei 2008
Berbeda dengan kedokteran
konvensional (yang sering di-
sebut dengan istilah Kedok-
teran Reaktif) saat ini telah
diperkenalkan Kedokteran
P4 (4P Medicine) yang meliputi: Prediktif, Personalisasi,
Preventif dan Partisipatif. Demikian disampaikan pembi-
cara tamu, Dr Leroy Hood MD, Ph.D., President and co-
founder, Institute for System Biology, USA, saat berbicara
pada acara Grand Opening Mochtar Riady Institute for
Nanotechnology (MRIN) di Gedung MRIN Lippo Karawaci.
Acara yang berlangsung semarak & meriah ini dihadiri
oleh DR Mochtar Riady (Founder MRIN), James T. Riady
(Founder Yayasan Pelita Harapan), Prof Susan Tai (President
MRIN), Prof. DR. Ing. BJ Habibie (Honorary Chairman of
The Scientific Advisory Board of MRIN), Kusmayanto
Kadiman Ph.D (Menristek), Bahctiar Chamsah (Mensos),
Scientific Advisory Board Member MRIN (Prof. Lauren-
tius A. Lesmana, SpPD-KGEH, Prof Ali Sulaiman, SpPD-
KGEH, dll.), Gumilar Somantri (Rektor UI), Usman Chatib
Warsa (mantan Rektor UI), Fauzi Bowo (Gubernur DKI),
Rano Karno (wakil Bupati Tangerang), Prof. Amin Soebandrio,
Surya Paloh, dan lain-lain.
3rd Seminar of Obesity, Hotel Aryaduta Jakarta,
19-20 April 2008
Kegiatan tahunan yang dilaksa-
nakan oleh Departemen Nutrisi
FKUI merupakan yang ke-3, ber-
langsung di Hotel Aryaduta Jakarta.
Tema yang diangkat kali ini adalah
"Managing Plateau Phase in Obesity". Seminar ini dihadiri oleh
kurang lebih 250-300 peserta dokter gizi medik dan dokter
umum. Acara dibuka oleh Dr. Sri Sukmaniah, MSc, SpGK
sebagai kepala departemen Nutrisi FKUI.
Seminar Awam IKCC "Kontroversi Minum
pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK)",
RS Haji Jakarta, 19 April 2008
Pada penderita penyakit
ginjal kronik (PGK), air minum
yang di konsumsi dibatasi
jumlahnya. Oleh karena itu
seringkali muncul pertenta-
ngan pendapat mengenai
minum pada pasien PGK.
Hal ini disebabkan karena pada pasien PGK ginjal sudah
tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Berkaitan
dengan hal ini, IKCC bekerjasama dengan RS. Haji Jakarta
pada hari Sabtu 19 April 2008 menyelenggarakan seminar
bertemakan "Kontroversi Minum pada Pasien Penyakit
Ginjal Kronik (PGK)" dengan pembicara DR. Dr. H.
Bimanesh Sutardjo, SpPD-KGH.
Lokakarya HLUN 2008 "Menuju Lanjut Usia
Sehat", Gedung Depsos RI, Rabu 28 Mei 2008
Jumlah penduduk Lansia di
Indonesia secara relatif memang
sedikit namun secara absolut
sudah termasuk banyak. Demi-
kian penjelasan Prof Tri Budi
Rahardjo, salah satu anggota
Komnas Lansia pada Loka-
karya Sehari dalam rangka Hari
Lanjut Usia Nasional (HLUN)
2008. Tema acara yang dise-
lenggarakan di Gedung Depsos tersebut adalah "Menuju
Lanjut Usia Sehat". Sekitar 150 peserta yang memenuhi
ruangan Aneka Bhakti di jalan Salemba Jakarta, ter-
kesima dengan presentasi menarik dari para nara sumber
seperti: Prof Tri Budi W Rahardjo, Drs. Titus Kurniadi, DR
Dr C Heriawan Soejono, Dr Handrawan Nadesul, Prof Iwan
Darmansjah, dll.
LAPORAN KHUSUS
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
240
SESI 2 Hari ke 1
Dampak NSAID pada ginjal (Dr.Rubin Surachno)
NSAID menganggu fungsi ginjal melalui efek pengham-
batan terhadap prostaglandin ginjal. Prostaglandin
diproduksi di berbagai tempat di ginjal dan berfungsi
untuk mempertahankan homeostasi dan perfusi ginjal.
Efek gangguan NSAID terhadap ginjal dapat mengaki-
batkan gangguan ginjal vasomotor, sindroma nefrotik
dengan nefritis tubulo intersitialis, retensi garam dan air,
hiperkalemia, hipernatremia. Masih menjadi pertanyaan
apakah pemakaian jangka panjang NSAID akan menimbul-
kan gagal ginjal kronik yang progresif serta ireversibel.
Antibiotika nefrotoksik: penggunaan pada gangguan
fungsi ginjal (Dr.Shofa Chasani)
Beberapa antibiotika yang sering menyebabkan gang-
guan ginjal antara lain golongan aminoglikosida, golo-
ngan beta laktam, vancomisin, sulfonamide, kotrimok-
sazol, aciclovir, amphotericin B, rifampicin. Obat antibiotika
dapat menginduksi kerusakan ginjal melalui berbagai
cara antara lain berkurangnya natrium dan air, peruba-
han aliran darah dan obstruksi ginjal. Pada penderita
PGK yang telah menjalani dialisis maka perlu perubahan
dosis dikarenakan adanya kehilangan obat melalui darah
yang dapat mempengaruhi efikasi dari obat tersebut.
Penggunaan antiplatelet pada pasien dengan penyakit
ginjal kronik (DR.Dr.Suhardjono)
Aspirin sebagai pencegahan trombosit vaskular, infark
jantung maupun stroke telah banyak digunakan di
banyak klinik ginjal, akan tetapi belum banyak studi
mengenai efektivitas, keuntungan dan kerugiannya. Dari
suatu studi pada pasien HD, pemberian aspirin meng-
akibatkan 14,7% dengan kejadian perdarahan sebanyak
36 kali (10,3 episode/100 pasien-tahun). Oleh karena
risiko ini maka pertimbangan yang baik pada pasien
PGK dengan HD pemebrian aspirin tidak hanya didasar-
kan pada manfaatnya akan tetapi juga mempertimbang-
kan kemungkinan risiko atau komplikasi perdarahannya.
SESI 1 Hari ke 2
Keseimbangan air (Dr.Parlindungan Siregar)
Keseimbangan cairan tubuh adalah tercapainya osmo-
lalitas plasma yang tetap (mencapai set point). Osmolali-
tas plasma yang tercapai berkat pengaturan yang dilakukan
oleh regulasi osmotik an regulasi volume yang berlangsung
secara simultan, pengaturan ini melibatkan berbagai
hormon seperti hormon antidiuretik (ADH) dan hormon
Natriuretik (ANP, BNP).
Poliuria pada gangguan hormonal (Dr.Pranawa)
Oliguria pada gagal ginjal akut (DR.Dr.Bimanesh Sutarjo)
Fase poliuria pada GGA mengindikasikan permulaan
perbaikan ginjal dan kembali ke fungsi normal atau me-
nandakan adanya kerusakan ginjal yang berat. Penyebab
terjadinya poliuria adalah terganggunya resorbsi natrium,
diuresis osmotik oleh ureum, ganguan respon sel tubulus
terhadap ADH (anti diuretic hormone), hidrasi berlebihan
saat fase oliguria dan pembilasan solut dalam tubulus di
medula. Oleh karena fase poliuria dapat masif dan ber-
kepanjangan maka diperlukan pemantauan produksi
urin ketat dan pemeriksaan elektrolit darah.
SESI 2 Hari ke 2
Poliuria pasca kraniotomi (Dr. Julius July)
Poliuria pasca prosedur kraniotomi merupakan kondisi
yang sering diketemukan pada kasus bedah saraf, pe-
nyebab tersering adalah karena Cerebral Salt Wasting
Syndrome (CSWS) dan neurogenik Diabetes Incipidus (DI).
Poliuria, Hiponatremia dan hipokalemia
(Prof.DR.dr.Ketut Suwitra)
Pada PGK poliuria bisa terjadi dalam bentuk water di-
uresis yaitu pada keadaan diabetes incipidus neurogenik
atau solute diuresis yaitu pada keadaan post obstruk-
tive diuresis atau pada Sodium Wasting Nephropathy.
Hiponatremia pada PGK bisa terjadi akibata kehilangan
Na berlebih (misal pada sodium wasting nephropathy)
dan pada sindroma nefrotik. Hipokalemia pada pasien
PGK bisa terjadi lewat renal atau ekstrarenal, lewat renal
biasanya akibat pemakaian diuretika berlebih atau
akibat sekresi mineralkortikoid. Kehilangan ekstrarenal
paling sering terjadi melalui GIT.
Poliuria pada penggunaan obat-obatan
(Dr.Ginova Nainggolan)
Obat tranqulizer yang mengandung lithium sering me-
ngakibatkan poliuria dan dapat mengaggu kerja ginjal
sehingga penggunaannnya khususnya pada pasien
psikiatri yang sering mendapat obat jenis ini harus
berhati-hati dan bijaksana.
(DHS)
1.
2.
3.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
189
3. Kortikosteroid
Sebelum steroid digunakan secara luas untuk pengobatan
croup, lebih dari 15% penderita croup harus dirawat di rumah
sakit.
4
Sejak adanya penelitian meta analisis tentang penggu-
naan steroid pada penanganan croup, saat ini penggunaan
steroid merupakan terapi standar.
8
Steroid mempunyai efektifi-
tas yang baik untuk pengobatan croup derajat ringan, sedang
maupun berat.
4
Mekanisme aksi kortikosteroid masih belum jelas; diduga se-
bagai antiinflamasi, sehingga menurunkan udem subglotis dan
memperbaiki gejala klinik.
7,8
Penelitian meta-analisis Ausejo
dkk. menyebutkan bahwa steroid efektif memperbaiki gejala
croup dalam 6 - 12 jam setelah pengobatan. Dari penelitian
tersebut juga didapatkan perbaikan skor croup secara ber-
makna, penurunan penggunaan adrenalin sebagai terapi tam-
bahan, dan penurunan angka perawatan di rumah sakit.
5
Preparat yang sering dipakai untuk pengobatan croup yaitu
deksametason dan budesonid. Deksametason merupakan
steroid dengan efek antiinflamasi yang poten dan efek terapi
jangka panjang karena mempunyai waktu paruh 36 sampai 54
jam.
4
Dosis deksametason 0,6 mg/kg bb. (maksimal 10 mg);
tetapi penelitian Geelhoed membuktikan bahwa dosis
deksametason 0,15 mg/ kg bb sama efektifnya.
17
Deksametason dapat diberikan secara oral, parenteral atau-
pun secara nebuliser.
17-20
Pemberian oral sama efektifnya
dengan pemberian intramuskular dalam mengobati croup
sedang sampai berat. Keuntungan pemberian secara oral yaitu
lebih mudah didapat dan diberikan, selain itu nyeri dan risiko
yang berhubungan dengan penyuntikan dapat dihindari.
4,17
Budesonid diberikan secara nebuliser, mempunyai efek yang
lebih cepat daripada deksametason peroral yaitu kurang lebih
2 sampai 4 jam. Keuntungan lain nebuliser budesonid yaitu
efek sistemik minimal, penderita lebih cepat keluar dari unit
rawat darurat, dan mengurangi lamanya perawatan di rumah
sakit. Dosis budesonid 2 mg dilarutkan dalam 4 ml larutan
salin; dapat diulang dengan dosis 1 mg budesonid dilarutkan
dalam 2 ml larutan salin tiap 12 jam.
21,22
Kombinasi budesonid
nebuliser dengan deksametason peroral mempunyai efek yang
lebih cepat daripada budesonid saja.
23
4. Heliox
Merupakan campuran helium dan oksigen. Helium merupa-
kan gas dengan densitas dan viskositas rendah; dapat menu-
runkan tahanan aliran udara, meningkatkan aliran udara dan
menurunkan kerja otot pernafasan.
6,7,9
Kombinasi helium
dengan oksigen akan meningkatkan oksigenasi darah. Pasien
croup berat yang menghirup campuran gas helium dan oksigen
akan menjadi nyaman dan tidak memerlukan intubasi.
9
5. Intubasi endotrakeal atau Trakeostomi
Intubasi atau trakeostomi jarang dilakukan sejak penggunaan
steroid secara luas. Intubasi endotrakeal atau trakeostomi
dilakukan pada pasien croup berat yang tidak responsif ter-
hadap pengobatan sebelumnya.
Keputusan melakukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi
berdasar pada kriteria klinik adanya hiperkarbia dan gagal nafas
mengancam termasuk peningkatan stridor inspirasi, frekuensi
respirasi, denyut jantung, adanya retraksi, tanda-tanda sianosis
atau terjadi perubahan status mental.
1,7,9
Karena udem larings,
maka pipa endotrakeal yang digunakan sebaiknya dua ukuran
lebih kecil daripada yang digunakan untuk anak sehat untuk
mencegah penekanan berlebihan pada trakea yang dapat ber-
akibat nekrosis dan stenosis subglotis.
7
KEPUSTAKAAN
Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher edisi 13. Jakarta:
Binarupa Aksara 1994.
Cherry JD, Fugin RD. Textbook of Pediatric Infectious Diseases 2
nd
ed. Philadelphia:WB
Saunders Co, 1987: 237-247.
Neto GM, Kentab O, Klassen TP, Osmond MH. A Randomized controlled trial of mist in the
acute treatment of moderate croup. Acad Emerg Med 2002; 9: 873-879.
Rittichier KK, Ledwith CA. Outpatient treatment of moderate croup with dexamethasone
intramuscular versus oral dosing. Pediatrics 2000; 106: 1344-1348.
Ausejo M, Saenz A, Kellner JD, Johnson W, Moher D, Klassen TP, et al. The effectiveness
of glucocorticoids in treating croup: meta-analysis. BMJ 1999; 319: 595-600.
Weber JO, Chudnofsky CR, Younger JG, Lakin GL, Boczar M, Wilkerson MD, et al. A
randomized comparison of helium-oxygen mixture (Heliox) and racemic epinephrine for
the treatment of moderate to severe croup. Pediatrics 2001; 107: 1-4.
Rosekrans JA. Viral croup: Current diagnosis and treatment. Mayo Clin Proc 1998; 73:
1102-1107.
Ewig JM. Croup. Pediatric Annals 2002; 31: 125-130.
Krilov LR, Malhotra A. Viral croup. Pediatric Rev 2001; 22: 5-12.
Chin R, Browne GJ, Lam LT, McCaskill ME, Fasher B, Hort J. Effectiveness of a croup
clinical pathway in the management of children with croup presenting to an emergency
department. J Paediatr Child Health 2002; 38: 382-387.
Bailey BJ. Head and Neck Surgery-Otolaryngolgy 2
nd
ed. Lippincott-Raven, Philadelphia,
New York, 1998.
Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear, Nose, and Throat Diseases: a pocket reference
2nd rev. ed. Thieme Medical Publ. Inc, New York, 1994.
Rudolph, AM, Kamli RK. Rudolph's Fundamentals of Pediatrics 2
nd
ed. Appleton and
Lange USA 1998.
Hodge KM, Ganzal TM. Diagnostic and therapeutic efficiency in croup and epiglottitis.
Laryngoscope 1987; 97: 621-625.
Westley CR, Cotton EK, Brook JG. Nebulized racemic epinephrine by IPPB for the
treatment of croup: a double blind study. Am J Dis Child 1978; 132: 484-487.
Frantz TD, Rasgon BM, Querenberry CP Jr. Acute epiglottitis in adults: analysis of 129
cases. JAMA 1994; 272: 1358-1360.
Nakamura H, Tanaka H, Matsuda A, Fukushima E, Hasegawa M. Acute epiglottitis: a
review of 80 patients. J Laryngol Otol 2001; 115: 31-34
Donaldson D, Poleski D, Kripple E, Filips K, Reetz L, Pascual RG, et al. Intramuscular
versus oral dexamethasone for the treatment of moderate to severe croup: a randomized
double blind trial. Acad Emerg Med 2003; 10: 16-21.
MacDonald WBG, Geelhoed GC. Management of childhood croup. Thorax 1997; 52:
757-759.
Luria JW, DiGuilio GA, Gonzales JA. Oral dexamethasone led to fewer treatment failures
than did nebulized dexamethasone or placebo in children with mild croup. ACP Journal
Club 2002.
Luria JW, Gonzales JA, DiGuilio GA, McAneney CM, Olson JJ, Ruddy RM. Effectiveness of
oral or nebulized dexamethasone for children with mild croup. Arch Pediatr Adolesc Med
2001; 155: 1340-1345.
Godden CW, Campbell MJ, Hussey M, Cogwell JJ. Double blind placebo controlled trial of
nebulized budesonide for croup. Arch Dis Child 1997; 76: 155-158.
Johnson DW, Jacobson S, Edney PC, Hedfield P, Mundy ME, Schuk S. A comparison of
nebulized budesonide, intramuscular dexamethasone, and placebo for moderately severe
croup. N Engl J Med 1998; 339: 498-503.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
H A S I L P E N E L I T I A N