background image
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
61
Hasil Penelitian
Bmufsfe!Ovdmfbs!Usbotgfs
;!Qfohfncbohbo!Uflojl!
Tpnbujd!Dfmm!Ovdmfbs!Usbotgfs
!vouvl
Nfohbubtj!Nbtbmbi!Fujlb
!
Ibssz!Nvsuj
2-3
-!!Nplibnbe!Gbisvejo
3
-!!Dbspmjof!Ubo!Tbsekpop
2
-!!Cpfokbnjo!Tfujbxbo
2
-!!Gfssz!Tboesb
2
2
!Tufn!Dfmm!Ejwjtjpo-!!Tufn!Dfmm!boe!Dbodfs!Jotujuvuf-!!Lbmcf!Qibsnbdfvujdbm!Dpnqboz!Kblbsub-!!Joepoftjb
3
Mbcpsbupsz!pg!Fncszpmphz-!!Gbdvmuz!pg!Wfufsjobsz!Nfejdjof-!!Cphps!Bhsjdvmuvsbm!Vojwfstjuz-!!Cphps-!!Joepoftjb/
BCTUSBL
Embrio hasil SCNT dapat dijadikan sebagai sumber
Embryonic Stem Cell
(ESC) yang bersifat pluripoten dan meru-
pakan
patient-specific stem cells
. Penerapan teknik SCNT bertujuan untuk aplikasi konsep
therapeutic cloning
dan
regenerative medicine
melalui teknik transplantasi autologous, sehingga tidak menimbulkan reaksi penolakan ja-
ringan pada tubuh pasien. Terobosan baru dalam teknik ini adalah menghambat pembentukan trofektoderm pada
embrio hasil SCNT, sehingga embrio hanya akan membentuk
Inner Cell Mass
(ICM) dan tidak dapat berimplantasi
ke dalam jaringan endometrium. Pengembangan teknik yang dikenal dengan
Altered Nuclear Transfer
(ANT) di-
harapkan mampu menjadi solusi bagi permasalahan etika penggunaan embrio sebagai sumber ESC. Metode ANT
dengan menggunakan
RNA interference
(RN Ai) untuk mencegah ekspresi gen Cd x2 pada embrio hasil SCNT
akan dibahas dalam artikel ini.
Kata Kunci: ANT, SCNT, Trofektoderm, RN Ai, Cd x2
QFOEBIVMVBO
Perkembangan teknik
Somatic Cell Nuclear Transfer
(SCNT) telah menjadi alternatif baru dalam kemajuan
riset biomedis
1
. Aplikasi teknik SCNT dapat digunakan
untuk untuk memproduksi
Embryonic Stem Cell
(ESC)
2
.
Secara garis besar teknik transfer inti sel somatik
(SCNT) meliputi 3 langkah utama (Gambar 1), yakni:
(1) enukleasi atau pembuangan inti oosit yang akan digu-
nakan sebagai resipien sitoplasma (oosit resipien),
(2) transfer inti atau pemasukan inti sel somatik ke
dalam oosit resipien,
(3) aktivasi atau induksi oosit hasil rekonstruksi agar dapat
berkembang menjadi embrio yang kemudian dikenal se-
bagai embrio SCNT yang dapat dijadikan sebagai sum-
ber sel punca
3
.
Sel lestari (
cell line
) ESC yang
dihasilkan melalui teknik
SCNT sering disebut dengan
istilah ntESC (
nuclear trans-
fer Embryonic Stem Cell
)
4
.
Sel lestari ntESC diperoleh
dari kultur sel embrio hasil
aplikasi SCNT hingga men-
capai tahap blastosis, lalu
bagian
Inner Cell Mass
(ICM)
diisolasi dan dikultur dengan
medium spesifik
5
. Teknik
isolasi ICM dapat dilakukan
baik secara mekanik de-
Gambar 1. Skema teknik SCNT pada mencit. 1: enukleasi atau
pembuangan inti oosit yang akan digunakan sebagai oosit resipien; 2:
transfer inti atau pemasukan inti sel somatik ke dalam oosit resipien;
3: aktivasi atau induksi oosit hasil rekonstruksi agar dapat berkem-
bang menjadi embrio.
ngan menggunakan mikromanipulator ataupun secara
enzimatik dengan menggunakan reaksi antigen-antibodi
yang secara spesifik melisis sel-sel trofoblas
6
.
Medium spesifik untuk kultur ICM agar dapat berprolife-
rasi dan juga mempertahankan sifat pluripotensi serta
karakter sel punca yang dimiliki
7
. Pada ntESC mencit,
penambahan
Leukemia Inhibitory Factor
(LIF) berfungsi
untuk mempertahankan keadaan tidak berdiferensiasi
(
undifferentiated stage
)
8
. Sedangkan pada manusia, peng-
gunaan
Mouse Embryonic Fibroblast
(MEF) sebagai feeder
layer dapat mencegah proses differensiasi
9
. Hasil kultur
ntESC dapat dimanfaatkan sebagai sumber ESC yang apa-
bila diperlukan dapat diinduksi
untuk berdiferensiasi menjadi
tipe-tipe sel tertentu
10,11
. Sel-
sel hasil diferensiasi tersebut
dapat digunakan untuk tujuan
terapi berbasis sel pada ber-
bagai jenis penyakit degenera-
tif
12
. Beberapa penelitian ter-
dahulu menunjukkan bahwa
ESC dapat diarahkan menjadi
sel-sel neuron
13,14
, ginjal
15
,
otot jantung
16,17
, pankreas
18
.
Secara teoritis, ntESC memi-
liki kelebihan dibandingkan
dengan sumber ESC lainnya,
background image
62
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
endometrium
23
. Dilapor-
kan bahwa, pada embrio
mencit gen yang bertang-
gung jawab terhadap pem-
bentukan trofektoderm
adalah Cdx2, yang apabila
ekspresinya dihambat akan
menyebabkan trofektoderm
tidak terbentuk sehingga
embrio tidak dapat melaku-
kan proses implantasi
24
.
Informasi ini juga didukung
dengan hasil penelitian bah-
wa gen Cdx2 secara
in vitro
dapat menginduksi diferen-
siasi ESC mencit menjadi
sel-sel trofoblas
25
. Diferensiasi
menjadi sel-sel trofoblas juga
dapat dipengaruhi oleh interak-
si antara Oct
4
dengan Cdx2
26
.
Telah dilaporkan bahwa pada
embrio mencit ekspresi gen
Cdx2 dapat dihambat dengan
menggunakan RNAi sehingga
tidak dapat membentuk trofek-
toderm (Gambar 2). Namun
demikian dari embrio ini ma-
sih dapat diperoleh sel-sel ICM
yang dapat diturunkan menjadi
sel punca pluripoten yang mam-
pu berintegrasi pada hewan chimera
27
. Walaupun teknik
ANT telah berhasil diaplikasikan pada embrio mencit, na-
mun masih harus dibuktikan pada embrio manusia
28
.
UFLOJL! EBO! NFLBOJTNF! QFOHIBNCBUBO!
FLTQSFTJ!Dey3!QBEB!FNCSJP!IBTJM!TDOU
Secara teoritis, penghambatan ekspresi Cdx2 dapat
dilakukan dengan berbagai macam cara di antaranya
adalah dengan menggunakan
antisense
DNA
, Ribozymes
,
dan RNAi. Prinsip kerja
antisense
DNA adalah berikatan
dengan mRNA yang merupakan komplemennya, sehing-
ga proses translasi tidak terjadi. Sedangkan enzim Ribo-
zymes dapat digunakan untuk memotong mRNA spe-
sifik menjadi potongan kecil-kecil sehingga mRNA tidak
dapat berfungsi normal
29
. Cara lain untuk menghambat
ekspresi gen adalah dengan menggunakan sistem RNA
interference
(RNAi)
30
. RNAi merupakan potongan kecil
RNA yang dapat menginduksi penghancuran mRNA ter-
tentu sebelum dapat mengkode pembentukan protein di
dalam sitoplasma
31
(Gambar 3).
Sintesis protein merupakan ekspresi gen yang me-
liputi proses transkripsi dan translasi. Pada sel eu-
Gambar 2. Skema ANT untuk menghasilkan blastosis tanpa trofoblas.
Gambar 3. Mekanisme penghambatan ekpresi gen oleh RNAi.
Virus pembawa digunakan untuk memasukkan RNAi ke dalam sitoplasma
sel. RNAi dan mRNA akan saling menempel dan membentuk RNA-
In-
duced Silencing Complex (RISC). Mekanisme penghambatan ekspresi gen
tergantung pada kemiripan urutan basa dari RNAi dan mRNA. Penggu-
naan RNAi sangat efektif untuk menghambat ekspresi gen.
terutama karena pada ntESC
sel punca yang diperoleh dan
dikembangkan berasal dari tu-
buh pasien itu sendiri (
patient-
specific stem cells
). Peman-
faatan ntESC diharapkan
dapat mengatasi masalah
penolakan sistem imunitas
(
immune rejection
)
19
. Namun
aplikasi terapi berbasis sel
dengan menggunakan ntESC
masih harus diteliti lebih lan-
jut untuk mencegah potensi
timbulnya dampak negatif, se-
belum ditransplantasikan ke
tubuh pasien
20
.
Pemanfaatan teknologi
SCNT untuk menghasil-
kan ntESC sebagai alter-
natif terapi pada manusia
merupakan hal yang masih
diperdebatkan di berbagai
kalangan. Salah satunya
karena masalah etika peng-
gunaan oosit dan peru-
sakan embrio pada tahap
blastosis
21
. Permasala-
han etika lainnya adalah
adanya kekhawatiran di-
lakukannya proses kloning
dengan tujuan menciptakan suatu 'manusia baru' (
re-
productive cloning
). Hal ini menyebabkan William B. Hurl-
but mengemukakan gagasannya untuk memodifikasi sel
embrio agar tidak mampu berkembang menjadi embrio
normal yang mampu berimplantasi, yang disebut dengan
Altered Nuclear Transfer
(ANT)
22
sehingga diharapkan
dapat mengatasi permasalahan etika tersebut.
BQMJLBTJ!!BOU!!VOUVL!!NFOHIBTJMLBO!!ouFTD!
VOUVL!NFOHBUBTJ!NBTBMBI!FUJLB
Teknik ANT merupakan pengembangan teknik SCNT
untuk mengatasi permasalahan etika. Modifikasi teknik
SCNT meliputi pemanfaatan retrovirus untuk menyi-
sipkan RNAi pada sel donor inti sebelum ditransfer ke
sel oosit resipien. Keberadaan RNAi diharapkan dapat
menghambat ekspresi gen yang bertanggung jawab
terhadap proses pembentukan trofoblas, sehingga
diharapkan embrio berkembang menjadi cacat dan
tidak dapat berimplantasi.
Pada tahap blastosis, embrio akan membentuk trofek-
toderm dan ICM. Trofektoderm yang mengelilingi ICM
berperan dalam proses implantasi embrio pada jaringan
background image
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
63
kariot umumnya ekspresi gen diawali dengan induksi
promoter terhadap proses transkripsi DNA menjadi
messenger
RNA (mRNA). DNA pada tahap ini dapat
dibedakan menjadi dua yaitu bagian
coding strand
(
sense strand atau nontemplate strand
) dan
template
strand
(
antisense strand
). Selanjutnya enzim RNA
polymerase akan membuat mRNA berdasarkan DNA
template strand
. Setelah mRNA terbentuk, akan ke-
luar dari inti sel dan menuju ke ribosom di sitoplasma.
Urutan basa nitrogen pada mRNA merupakan kodon
yang akan diterjemahkan oleh
transfer RNA
(tRNA)
menjadi asam amino yang sesuai. Proses ini disebut
dengan proses translasi
32
.
Penghambatan ekspresi gen Cdx2 pada teknik ANT di-
awali dengan penempelan RNAi pada mRNA memben-
tuk komplek RISC (
RNA-Induced Silencing Complex
)
33
.
RNAi dimasukkan ke dalam sitoplasma sel dengan ban-
tuan vektor lentivirus
27
. RNAi hanya dapat berikatan
dengan mRNA yang memiliki urutan basa yang meru-
pakan komplemennya. Dua mekanisme yang dapat ter-
jadi pada proses selanjutnya adalah: (1) apabila kom-
pleks RNAi dan mRNA (RISC) merupakan komplemen
(memiliki urutan basa yang cocok) dan dapat menem-
pel menjadi rantai RNA ganda maka enzim
slicer
dapat
memotong mRNA hingga terdegradasi, (2) apabila kom-
pleks RNAi dan mRNA bukan merupakan komplemen
(ada sedikit basa yang tidak bisa berpasangan) maka
mRNA tetap eksis tapi tRNA yang berada di ribosom
tidak mampu menerjemahkan urutan kodon menjadi
asam amino, sehingga proses translasi tidak dapat ter-
jadi
34
. Kedua mekanisme di atas menyebabkan proses
sintesis protein tidak berjalan sebagaimana mestinya
karena sehingga gen tidak terekspresikan
35
.
LFTJNQVMBO
ANT merupakan alternatif pengembangan teknik
SCNT untuk mengatasi permasalahan etika peng-
gunaan embrio sebagai sumber ESC. Pembentukan
trofoblas dapat dihambat dengan menggunakan RNAi
melalui inhibisi ekspresi gen Cdx2. Blastosis yang tidak
mengekspresikan gen Cdx2 tidak dapat implantasi, na-
mun sel-sel ICM masih dapat dikembangkan menjadi
sel punca yang bersifat pluripoten dan memiliki karak-
ter sama dengan ntESC.
EBGUBS!QVTUBLB
1. McLaren A. Cloning: pathway to a pluripotent future. Science 2000;
288: 1775-80.
2. Colman A. Somatic cell nuclear transfer in mammals: progress and
applications. Cloning 2000; 1: 185-200.
3. Wilmut I, Beaujean N, de Sousa PA, et al. Somatic cell nuclear transfer.
Nature 2002; 419: 583-6.
4. Tong WF, Ng YF, Ng SC. Somatic cell nuclear transfer (cloning): Implica-
tions for the medical practitioner. Singapore Med J. 2002; 43: 369-76.
5. Wakayama S, Ohta H, Kishigami S. Establishment of male and female
nuclear transfer embryonic stem cell line from different mouse and
tissues. Biol Reprod. 2005; 72: 932-6.
6. Hogan B, Costantini F, Lacy E. Manipulating the mouse embryo. A laborato-
ry manual. New York: Cold Spring Harbor Laboratory, 1986; Hal 113-4.
7. Moon SY, Park YB, Kim DS, Oh SK, Kim DW. Generation, culture, and
differentiation of human embryonic stem cells for therapeutic applica-
tions. Molecular Therapy 2006; 13: 5-14.
8. Freshney RI. Culture of animal cells. A manual of basic technique. 4th
ed. New York: Wiley-Liss, 2000; hal. 393.
9. Hochedlinger K, Jaenisch R. Nuclear reprogramming and pluripotency.
Nature 2006; 441: 1061-7.
10. Dinnyes A, Szmolenszky A. Animal cloning by nuclear transfer: state-of-the-
art and future perspectives. Acta Biochimica Polonica 2005; 52: 585-8.
11. Wobus AM, Boheler KR. Embryonic stem cells: prospects for develop-
mental biology and cell therapy. Physiol Rev. 2005; 85: 635-78.
12. Mombaerts P. Therapeutic cloning in the mouse. Proc Natl Acad Sci
USA. 2003; 100: 11924-5.
13. Wakayama T, Tabar V, Rodriguez I, Perry ACF, Studer L, Mombaerts
P. Differentiation of embryonic stem cell lines generated from adult
somatic cells by nuclear transfer. Science 2001; 292: 740-3.
14. Zhang P, Chebath J, Lonai P, Revel M. Enhancement of oligodendro-
cyte differentiation from murine embryonic stem cells by an activator
of gp 130 signaling. Stem Cells 2004; 22: 344-54.
15. Hipp J, Atala A. Tissue engineering, stem cells, cloning, and partheno-
genesis: new paradigms for therapy. Exp Clin Assist Reprod. 2004; I:3.
16. Lanza R, Moore MAS, Wakayama T, et al. Regeneration of the infract-
ed heart by nuclear transplantation.. Cir Res. 2004; 94: 820-7.
17. Kodifis T, de Bruin JL, Yamane T, et al. Insulin-like growth factor pro-
motes engraftment, differentiation, and functional improvement after
transfer of embryonic stem cells for myocardial restoration. Stem
Cells 2004; 22: 1239-45.
18. Paek HJ, Moise LJ, Morgan JR, Lysaght MJ. Origin of insulin secreted
from islet-like cell clusters derived from murine embryonic stem cells.
Cloning Stem Cells 2005; 7: 226-31.
19. Cibelli JB, Kiessling AA, Cunniff K, Richards C, Lanza RP, West MD. So-
matic cell nuclear transfer in humans: pronuclear and early embryonic
development. Regenerative Med. 2001; 2: 25-31.
20. Gardner RL. Stem cells and regenerative medicine: principles,
prospects and problems. C R Biologies 2006; doi:10.1016/
j.crvi.2007.01.005.
21. Whittaker PA. Therapeutic cloning: The ethical limits. J Taap. 2005;
270: S689-91.
22. Hurlbut WB. Altered nuclear transfer. N Engl J Med. 2005; 352: 1153-4.
23. Red-Horse K, Zhou Y, Genbacev O, et al. Trophoblast differentiation
during embryo implantation and formation of the maternal-fetal inter-
face. J Clin Invest. 2004; 114: 744-54.
24. Strumpf D, Mao CA, Yamanaka Y et al. Cdx2 is required for correct cell
fate specification and differentiation of trophectoderm in the mouse
blastocyst. Development 2005; 132: 2093-102.
25. Tolkunova E, Cavaleri F, Eckardt S, et al. The caudal-related protein
Cdx2 promotes trophoblast differentiation of mouse embryonic stem
cells. Stem Cells 2006; 24: 139-44.
26. Niwa H, Toyooka Y, Shimosato D, et al. Interaction between Oct3/4 and
Cdx2 determines trophectoderm differentiation. Cell 2005; 123: 917-29.
27. Meissner A, Jaenisch R. Generation of nuclear transfer-derived plurip-
otent ES cells from cloned Cdx2-deficient blastocysts. Nature 2006;
439: 212-5.
28. Findlay JK, Gear ML, Illingworth PJ, et al. Human embryo: a biological
definition. Human Reproduction 2007; 22: 905-11.
29. Robinson R. RNAi therapeutics: how likely, how soon?. P Bio. 2004; 2:
0018-20. DOI:10.1371/journal.pbio.0020028.
30. Alberts B, Johnson A, Lewis J, Raff M, Roberts K, Walter P. Molecular bi-
ology of the cell. 4th ed. New York: Garland Science, 2002; Hal 451-2.
31. Kalthoff K. Analysis of biological development. 2nd ed. New York: Mc-
Graw-Hill Co. Inc., 2001; Hal 395.
32. Campbell MK, Farrell SO. Biochemistry. 4th.ed. USA: Thomson Learn-
ing Inc., 2003; hal 281-2;320-1.
33. Gong W, Ren Y, Xu Q, et al. Integrated siRNA design based on survey-
ing of fetus features associated with high RNAi effectiveness. BMC
Bioinformatics 2006; doi:10.1186/1471-2105-7-516
34. Milhavet O, Gary DS, Mattson MP. RNA interference in biology and
medicine. Pharmacol Rev. 2003; 55: 629-48.
35. Yu J, Thomson JA. Embryonic Stem Cells. In Stem Cell Information [World
Wide Web site]. Bethesda, MD: National Institutes of Health, U.S. Depart-
ment of Health and Human Services, 2006 [cited Friday, January 26,
2007] Available at http://stemcells.nih.gov/info/scireport/2006report.