Artikel
HASIL PENELITIAN
Infeksi TORCH pada Ibu Hamil
di RSUP Sanglah Denpasar
Kornia Karkata, TGA Suwardewa
Lab/SMF Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah
Denpasar, Bali, Indonesia
ABSTRAK
Telah dilakukan pemeriksaan serologis TORCH dengan metode Enzyme Immuno Assay pada
ibu hamil dengan usia kehamilan di bawah 20 minggu, yang datang untuk perawatan antenatal di
Poliklinik Kebidanan RSUP Sanglah Denpasar. Dari 100 sampel yang diambil secara acak pada
bulan Maret s/d Juli 1997 umur ibu termuda 18 tahun dan tertua 40 tahun dengan rata rata 27.07
tahun. Ibu yang hamil pertama 32 orang (32%), kehamilan kedua 47 orang (47%), kehamilan ke
tiga 18 orang (18%) dan sisanya kehamilan ke empat 3 orang (3%). Seluruhnya (100%) pernah
mengalami infeksi salah satu unsur TORCH dan seluruhnya (100%) tanpa gejala. Untuk
toxoplasma IgG positif 21% dan IgM positif 5%. Untuk rubella IgG positif 73% dan IgM positif
1%.Untuk cytomegalovirus IgG positif 95% dan tak ada IgM positif. Untuk HSV II IgG positif
56% dan IgM positif 21%.
Didapatkan 2% ibu pernah melahirkan anak cacat, 15% pernah mengalami abortus dan 8%
pernah mengalami anak mati dalam kandungan. Seluruh ibu hamil tidak termasuk kategori
kelompok ekonomi lemah dan 75% mengaku berhubungan langsung atau tidak langsung dengan
kucing, 22% mengaku suka makan sayur mentah dan sangat sedikit (1%) yang suka makan daging
mentah atau setengah matang. Data ini menunjukkan perlunya perhatian lebih serius pada infeksi
TORCH tanpa gejala pada ibu hamil. Pada penelitian ini belum dapat ditarik kesimpulan tentang
hubungan TORCH dengan faktor perilaku sosial.
Kata kunci : kehamilan; infeksi TORCH
PENDAHULUAN
Ibu hamil dengan janin yang dikandungnya sangat peka
terhadap infeksi dan penyakit menular. Beberapa di antaranya
meskipun tidak mengancam nyawa ibu, tetapi dapat
menimbulkan dampak pada janin dengan akibat antara lain
abortus, pertumbuhan janin terhambat, bayi mati dalam
kandungan, serta cacat bawaan. Infeksi TORCH (Toxoplasma,
Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes Simplex) sudah lama
dikenal dan sering dikaitkan dengan hal-hal di atas.
(1,2)
Besarnya pengaruh infeksi tersebut tergantung dari virulensi
agennya, umur kehamilan serta imunitas ibu bersangkutan saat
infeksi berlangsung.
Infeksi Toxoplasma pada trimester pertama kehamilan
dapat mengenai 17% janin dengan akibat abortus, cacat bawaan
dan kematian janin dalam kandungan, risiko gangguan
perkembangan susunan saraf, serta retardasi mental.
(1-4)
Infeksi
saat kehamilan trimester berikutnya bisa menyebabkan
hidrosefalus dan retinitis.
(5)
Infeksi rubella erat kaitannya
dengan kejadian pertumbuhan bayi terhambat, patent ductus
Botalli, stenosis pulmonalis, katarak, retinopati, mikrophthalmi,
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 5
tuli dan retardasi mental.
(6)
Infeksi cytomegalovirus dapat
menimbulkan sindrom berat badan lahir rendah, kepala kecil,
pengapuran intrakranial, khorioretinitis dan retardasi mental,
hepatosplenomegali dan ikterus.
(7,8)
Oleh karena itu sangat
penting untuk mengetahui adanya infeksi ini pada ibu hamil.
Diagnosis infeksi TORCH dapat dilakukan dengan
berbagai cara: pemeriksaan cairan amnion, menemukan kista di
plasenta, isolasi dan inokulasi, polymerase-chain reaction
sampai kultur jaringan.
(2,8-13)
Cara yang lazim dan mudah
adalah pemerikasaan serologis. Infeksi TORCH sering
subklinis dan diagnosisnya hanya dapat dilakukan secara
serologis mengukur kadar antibodi IgM dan IgG. Adanya IgM
menyatakan bahwa infeksi masih baru atau masih aktif
sedangkan adanya IgG menyatakan bahwa ibu hamil sudah
mempunyai kekebalan terhadap infeksi tersebut.
(1,2,8,12)
Sampai
saat penelitian ini dibuat belum ada data prevalensi infeksi
TORCH pada ibu-ibu hamil di Indonesia.
Sampai saat ini di RSU Sanglah pemeriksaan TORCH
pada ibu hamil belum dilakukan secara rutin karena biayanya
relatif mahal.
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui prevalensi infeksi TORCH pada ibu
hamil di RSUP Sanglah Denpasar.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan secara potong lintang atas ibu-ibu
hamil yang datang kontrol ke Poliklinik Hamil RSUP Sanglah
pada bulan Maret sampai dengan Juli 1997. Penderita diambil
secara consecutive sampling, mencari 100 ibu hamil pertama
yang datang secara berurutan yang memenuhi kriteria :
- sedang hamil dengan umur kehamilan 20 minggu atau di
bawahnya
- setelah mendapat penjelasan tertulis bersedia ikut dalam
penelitian.
Ibu hamil yang terpilih diwawancarai untuk pengisian data dan
setelah pemeriksaan prenatal rutin, diambil darahnya sebanyak
10ml. Sampel darah beku selanjutnya di sentrifuse dan
dipisahkan serumnya.
Pemeriksaan toxoplasma dilakukan di Prodia Denpasar
sedangkan sisanya dikirim ke Prodia Kramat di Jakarta. Bahan
serum diperiksa dengan metoda Enzyme Immuno Assay
memakai reagen Roche/Zeus dengan alat Cobas Core/Reader
210. Dicari antibodi IgM dan IgG untuk semua unsur TORCH.
Data deskriptif diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan
narasi.
HASIL DAN DISKUSI
Dari 100 ibu hamil terpilih yang menjalani pemeriksaan
darah dan mengisi kuesioner didapatkan hal-hal sebagai
berikut: Umur ibu hamil termuda adalah 18 tahun, tertua 40
tahun dengan rata rata 27.07 tahun. Yang hamil pertama 32%,
hamil ke dua 47%, hamil ke tiga 18% dan 3% merupakan
kehamilan yang ke empat. Ternyata tak satupun di antara 100
ibu hamil yang diperiksa bebas dari salah satu infeksi TORCH
meskipun tidak ada yang menunjukkan gejala klinis infeksi.
Ibu hamil yang pernah mengalami infeksi CMV sangat tinggi
(95%) dan infeksi terendah oleh Toxoplasma (21%). Sebagian
infeksi itu masih aktif yang ditunjukkan oleh IgM yang masih
positif.
Soesbandoro di RSU Mataram
(14)
menemukan IgG
Toxoplasma positif pada 38.3% dari 225 ibu hamil yang
diperiksanya. Lazuardi di RS Dr Sutomo Surabaya
(15)
menemukan hasil IgG positif 52% untuk Toxoplasma, 73%
untuk Rubella, 99% untuk CMV dan hanya 17% untuk HSV II.
Kebanyakan (87%) peserta penelitian ini dalam kelompok
umur reproduksi sehat (20-35 tahun), sisanya 4% di bawah 20
tahun dan 9% berumur 35 tahun lebih. Penyebaran infeksi
TORCH terjadi di semua kelompok umur meskipun tidak
diketahui usia saat infeksi itu mulai terjadi. Yang jelas masih
ditemukan 5 kasus infeksi Toxoplasma, 1 kasus infeksi Rubella
dan 21 kasus infeksi HSV-II yang masih aktif.
Tabel 1 . Distribusi hasil serologi TORCH pada 100 ibu hamil
Jenis Infeksi
IgG (%)
IgM (%)
Toxoplasma 21
5
Rubella 73
1
CMV 95
0
HSV II
56
21
Catatan : terdapat 9 pemeriksaan yang hasilnya "gray zone" ( 4 IgG
Toxoplasma,,2 IgM Toxoplasma, 2 IgG Rubella , 1 IgG CMV), dan dicatat
sebagai hasil negatif karena tidak ada pemeriksaan ulang.
Tabel 2. Hubungan kelompok umur dan frekuensi TORCH
Toxoplasma Rubella
CMV
HSV
II
Usia n
IgG IgM IgG IgM IgG IgM IgG IgM
15-19
4
1
1
4
0
4
0
2
1
20-24
25
7
1
17
1
24
0
13
8
25-29 39 10 3 32 0 36 0 21 8
30-34
23
3
0
14
0
23
0
14
4
35-39
8
0
0
5
0
7
0
5
0
40-44
1
0
0
1
0
1
0
1
0
Total 100 21 5 73 1 95 0 56 21
Catatan : hasil lab grayzone pada 9 kasus dinyatakan negatif.
Tabel 3. Kejadian kehamilan dulu dan frekuensi TORCH
Toxoplasma Rubella
CMV
HSV
II
Paritas n
IgG IgM IgG IgM IgG IgM IgG IgM
Primigravida
32 9 3 23 1 31 0 14 8
Eks
abortus 15 2 0 13 0 14 0 12 3
Eks
cacat 2 0 0 2 0 2 0 0 1
IUFD
8 2 0 4 0 7 0 3 2
Normal
63 7 1 44 0 59 0 38 17
Primigravida
32 9 3 23 1 31 0 14 8
Hubungan infeksi TORCH dengan keluaran kehamilan
tidak dapat dianalisis (Tabel 3). Baik yang mempunyai riwayat
persalinan bayi normal dan yang mengalami abortus,bayi lahir
cacat dan kejadian bayi mati dalam kandungan secara tersebar
pernah mengalami salah satu atau lebih infeksi TORCH.
Analisis makin sulit karena pengaruh terhadap akhir
kehamilan adalah multifaktorial. Soesbandoro
(14)
menemukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
6
IgG Toxoplasma didapatkan lebih banyak pada ibu yang
mengalami abortus, lahir mati dan cacat bawaan meskipun
perbedaannya tidak bermakna.
FAKTOR RISIKO INFEKSI TORCH
Berdasarkan kepustakaan, risiko infeksi Toxoplasma akan
meningkat pada mereka yang higiene/sanitasinya jelek
terutama keadaan rumah, penghasilan keluarga, kontak dengan
kucing, dan cara menyiapkan makanan sehari-hari. Adi
Priyana
(16)
menemukan adanya IgG Toxoplasma positif pada
52.5% dari 80 ekor ayam kampung yang ditelitinya.
Pada penelitian ini 100% ibu hamil yang diperiksa bukan
golongan ekonomi lemah, 75% berhubungan langsung atau tak
langsung dengan kucing, 22% suka sayur mentah dan hanya
1% suka makan daging mentah atau setengah matang. Tidak
dapat diambil kesimpulan yang dapat menerangkan hubungan
sanitasi dengan kejadian infeksi TORCH.
KESIMPULAN
1.
Dari 100 ibu hamil yang diteliti, tak satupun terbebas dari
salah satu infeksi TORCH.
2.
Besaran infeksi TORCH pada ibu hamil: 95% oleh
Cytomegalovirus, 73% oleh Rubella, 56% oleh HSV II
dan 21% oleh Toxoplasma.
3.
Infeksi masih aktif didapatkan : 21% oleh HSV II, 5% oleh
Toxoplasma, 1% oleh Rubella
KEPUSTAKAAN
1.
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth JC,
Wenstrom KD (eds). Williams Obstetrics. Ch. 56: Infections.: 1461-80.
2.
Chandra G. Toxoplasma gondii: Aspek Biologi, Epidemiologi, Diagnosis
dan Penatalaksanaannya. Medika 2001; XXVII(5 ): 297-304.
3.
Chiodo-F, Venucchi-G, Mori-F, Attard-L, Ricchi-E. Infective diseases
during pregnancy and their teratogenic effects. Ann-Ist-Super-Sanita.
1993;29(1):57-67
4.
Isada NB, Paar DP, Gossman JH, Staus SE. Torch infections diagnosis in
the molecular age. J.Reprod.Med. 1992;37(6):499-507.
5.
Daffos F, Forestier F, Capella Pavlovky M, Thulliez P, Aifrant C, Valenti
D, Cox WL. Prenatal management of 746 pregnancies at risk for congenital
toxoplasmosis. N Engl J Med 1988; 318 (5) : 271-5.
6.
Suzumori K, Iida,T, Adachi R, Okada S, Yagami Y. Prenatal diagnosis of
rubella infection by fetal blood sampling. Asia-Oceania J.Obstet.Gynaecol.
1991;17(2): 113-7
7.
LamyME, Mulongo KN, Gadisseux JF. et al. Prenatal diagnosis of fetal
cytomegalovirus infection. Am.J.Obstet.Gynecol.1992;166 No.1(Part 1):.
91-4.
8.
Hohlfeld P, Vial Y, Maillard-Brignon C, Vaudaux B, Fawer CL.
Cytomegalovirus fetal infection: Prenatal Diagnosis. Obstet Gynecol 1991;
78 : 615 ,.
9.
Hohlfeld P, Daffos F, Costa JM, Thulliez P, Forestier F, Vidaud M.
Prenatal diagnosis of congenital toxoplasmosis with a polymerase chain-
chain reaction test on amniotic fluid. N Engl J Med 1994; 331:695
10.
Lisawati S, Srisasi G, Taniawati S. Berbagai aspek diagnosis
toksoplasmosis dengan menggunakan polymerase chain reaction. Maj
Kedokt Indon 1998;:48(7):270-5.
11.
Gumilar E. Toksoplasmosis kongenital : kontribusi kultur inokulasi cairan
ketuban dalam diagnostik prenatal. MOGI Supl. Juli 1999:25.
12.
Srisasi Gandahusada.Diagnosis prenatal toksoplasmosis kongenital dan
pencegahannya. Maj Kedokt Indon 1999;49(1):15-8.
13.
Srisasi Gandahusada. Diagnosis laboratoris toxoplasma. Maj Kedokt Indon
1999;:49 (6 ).
14.
Soesbandoro SDA, Soewignyo S, Gerudug E et al. Infeksi toksoplasma
pada ibu ibu hamil di RSU Mataram. MOGI , Supp. I , Juli 1996 , 15.
15.
Lazuardi T, Joewono HT, Abadi A. Gambaran serologi IgM dan IgG anti
TORCH pada ibu hamil <20 minggu dan bayinya. MOGI Suppl. Juli
1999: 35.
16.
Priyana A. Antibodi anti Toxoplasma pada ayam kampung (Gallus
domesticus) di Jakarta. Maj Kedokt Indon 2000; (11): 504-7.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terima kasih pada PERINASIA Pusat yang telah
memberi kesempatan ikut dalam penelitian multi-senter ini dan khusus kepada
Laboratorium Klinik PRODIA Denpasar, diucapkan terima kasih atas bantuan
pemeriksaan serologis dan kerjasamanya.
Every age has its pleasures, its style of wit,
and its peculiar manners (Boileau)
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 7
Document Outline