background image
Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Diagnosis dan Manajemen
Hepatitis B Kronis
JB Suharjo, B Cahyono
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Charitas, Palembang
PENDAHULUAN
Apabila seseorang terinfeksi virus hepatitis B akut maka
tubuh akan memberikan tanggapan kekebalan (immune
response). Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang
diberikan oleh tubuh terhadap virus hepatitis B pasca periode
akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh
adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh.
Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien
tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ke tiga, jika tanggapan
tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka
penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis
(1)
.
Pada kemungkinan pertama, tubuh mampu memberikan
tanggapan adekuat terhadap virus hepatitis B (VHB), akan
terjadi 4 stadium siklus VHB, yaitu fase replikasi (stadium 1
dan 2) dan fase integratif (stadium 3 dan 4). Pada fase replikasi
kadar HBsAg (hepatitis B surface antigen), HBV DNA,
HBeAg (hepatitis Be antigen), AST (aspartate
aminotransferase) dan ALT (alanine aminotransferase) serum
akan meningkat, sedangkan kadar anti-HBs dan anti HBe
masih negatif. Pada fase integratif (khususnya stadium4)
keadaan sebaliknya terjadi, HBsAg, HBV DNA, HBeAg dan
ALT/AST menjadi negatif/normal, sedangkan antibodi
terhadap antigen yaitu : anti HBs dan anti HBe menjadi positif
(serokonversi). Keadaan demikian banyak ditemukan pada
penderita hepatitis B yang terinfeksi pada usia dewasa di mana
sekitar 95-97% infeksi hepatitis B akut akan sembuh karena
imunitas tubuh dapat memberikan tanggapan adekuat
(2)
.
Sebaliknya 3-5% penderita dewasa dan 95% neonatus
dengan sistem imunitas imatur serta 30% anak usia kurang
dari 6 tahun masuk ke kemungkinan ke dua dan ke tiga; akan
gagal memberikan tanggapan imun yang adekuat sehingga
terjadi infeksi hepatitis B persisten, dapat bersifat carrier
inaktif atau menjadi hepatitis B kronis
(1,2)
. Tabel 1
menunjukkan makin dini terinfeksi VHB risiko menetapnya
infeksi hepatitis B makin besar.
Tanggapan imun yang tidak atau kurang adekuat
mengakibatkan terjadinya proses inflamasi jejas (injury),
fibrotik akibat peningkatan turnover sel dan stres oksidatf.
Efek virus secara langsung, seperti mutagenesis dan insersi
suatu protein x dari virus hepatitis B menyebabkan hilangnya
kendali pertumbuhan sel hati dan memicu transformasi
malignitas, sehingga berakhir sebagai karsinoma hepa-
toseluler
(1)
.
Tabel 1. Hubungan umur saat terjadi infeksi HBV dengan menetapnya
infeksi tersebut
(3)
.
Umur (tahun)
Jumlah individu
diteliti
Jumlah individu dengan
infeksi HBV menetap
> 1
1 ­ 10
20 ­ 30
170
175
324
131 ( 77 % )
75 ( 43 % )
23 ( 7 % )
Keterangan : HBV (hepatitis B virus)
DIAGNOSIS DAN EVALUASI PASIEN HEPATITIS B
KRONIS
Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi
kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B
persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif
(> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan
berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati (Tabel 2).
Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten
hati tanpa nekroinflamasi. Sedangkan hepatitis B kronis
eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan
peningkatan intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal
(BANN).
Diagnosis infeksi hepatitis B kronis didasarkan pada
pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan
histologi. Secara serologi pemeriksaan yang dianjurkan untuk
diagnosis dan evaluasi infeksi hepatitis B kronis adalah :
HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA
(4,5)
.
Adanya HBsAg dalam serum merupakan petanda serologis
infeksi hepatitis B. Titer HBsAg yang masih positif lebih dari
6 bulan menunjukkan infeksi hepatitis kronis. Munculnya
antibodi terhadap HBsAg (anti HBs) menunjukkan imunitas
dan atau penyembuhan proses infeksi.
Adanya HBeAg dalam serum mengindikasikan adanya
replikasi aktif virus di dalam hepatosit. Titer HBeAg
berkorelasi dengan kadar HBV DNA
(6)
. Namun tidak adanya
HBeAg (negatif) bukan berarti tidak adanya replikasi virus,
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
5
background image
keadaan ini dapat dijumpai pada penderita terinfeksi HBV
yang mengalami mutasi (precore atau core mutant).
Penelitian menunjukkan bahwa pada seseorang HBeAg
negatif ternyata memiliki HBV DNA > 10
5
copies/ml. Pasien
hepatitis kronis B dengan HBeAg negatif yang banyak terjadi
di Asia dan Mediteranea umumnya mempunyai kadar HBV
DNA lebih rendah (berkisar 10
4
-10
8
copies/ml) dibandingkan
dengan tipe HBeAg positif. Pada jenis ini meskipun HBeAg
negatif, remisi dan prognosis relatif jelek, sehingga perlu
diterapi
(4-8)
.
Tabel.2 Definisi dan kriteria diagnostik pasien dengan infeksi hepatitisB
(4)
.
Keadaan Definisi Kriteria
diagnostik
Hepatitis B
kronis
Proses nekro-inflamasi
kronis hati disebabkan oleh
infeksi persisten virus
hepatitis B.
Dapat dibagi menjadi
hepatitis B kronis dengan
HBeAg + dan HBeAg -
1.
HBsAg + > 6 bulan
2.
HBV DNA serum >
10
5
copies/ml
3.
Peningkatan kadar
ALT/AST secara
berkala/persisten
4.
Biopsi hati menun-
jukkan hepatitis kro-
nis (skor nekro-
inflamasi > 4)
Carrier
HBsAg
inaktif
Infeksi virus hepatitis B
persisten tanpa disertai
proses nekro-inflamasi
yang signifikan
1.
HBsAg + > 6 bulan
2.
HBeAg - , anti HBe +
3.
HBV DNA serum <
10
5
copies/ml
4.
Kadar ALT/AST
normal
5.
Biopsi hati menun-
jukkan tidak adanya
hepatitis yang signi-
fikan (skor nekro-
inflamasi < 4)
Setelah penyesuaian terhadap usia, sex, keberadaan
antibodi terhadap virus hepatitis C, status merokok dan
penggunaan alkohol, risiko relatif karsinoma hepatoselular
sebesar 9,6 ( 95%CI: 6,0-15,2) pada kelompok HBsAg positif
saja, dan sebesar 60,2 (95% CI: 35,5-102,1) pada kelompok
dengan HBsAg dan HBeAg positif
(9)
.
Secara serologi infeksi hepatitis persisten dibagi menjadi
hepatitis B kronis dan keadaan carrier HBsAg inaktif (Tabel
2). Yang membedakan keduanya adalah titer HBV DNA,
derajat nekroinflamasi dan adanya serokonversi HBeAg.
Sedangkan hepatitis kronis B sendiri dibedakan berdasarkan
HBeAg, yaitu hepatitis B kronis dengan HBeAg positif dan
hepatitis B kronis dengan HBeAg negatif
(4)
.
Pemeriksaan virologi untuk mengukur jumlah HBV DNA
serum sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat
replikasi virus. Ada beberapa persoalan berkaitan dengan
pemeriksaan kadar HBV DNA. Pertama, metode yang
digunakan untuk mengukur kadar HBV DNA. Saat ini ada
beberapa jenis pemeriksaan HBV DNA, yaitu : branched DNA,
hybrid capture, liquid hybridization dan PCR. Dalam
penelitian, umumnya titer HBV DNA diukur menggunakan
amplifikasi, seperti misalnya PCR, karena dapat mengukur
sampai 100-1000 copies/ml. Ke dua, beberapa pasien dengan
hepatitis B kronis memiliki kadar HBV DNA fluktuatif. Ke
tiga, penentuan ambang batas kadar HBV DNA yang
mencerminkan tingkat progresifitas penyakit hati.
Salah satu kepentingan lain penentuan kadar HBV DNA
adalah untuk membedakan antara carrier hepatitis inaktif
dengan hepatitis B kronis dengan HBeAg negatif : kadar<10
5
copies/ml lebih menunjukkan carrier hepatitis inaktif. Saat ini
telah disepakati bahwa kadar HBV DNA>10
5
copies/ml
merupakan batas penentuan untuk hepatitis B kronis
(4,5,10)
.
Tabel 3 Evaluasi pasien hepatitis B kronis
(4)
Parameter Keterangan
Evaluasi awal
1.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
2.
Pemeriksaan laboratorium untuk menilai
penyakit hati : darah rutin dan fungsi hati
3.
Pemeriksaan replikasi virus : HBeAg, anti
HBe dan HBV DNA
4.
Pemeriksaan untuk menyisihkan penyakit hati
lainnya : anti HCV, anti HDV (khususnya
pengguna narkoba injeksi, atau daerah
endemis)
5.
Skrining karsinoma hepatoselular :
kadar alfa feto protein dan ultrasonografi
6.
Biopsi hati pada pasien yang memenuhi
kriteria hepatitis B kronis
Follow up pasien yang
belum diterapi
Pasien HBeAg positif dan HBV DNA > 10
5
copies/ml dan kadar ALT normal :
1.
Pemeriksaan ALT setiap 3 ­ 6 bulan
2.
Bila ALT > 1-2 x BANN, periksa ulang
setiap 1-3 bulan
3.
Bila ALT > 2 x BANN selama 3-6 bulan,
pertimbangkan biopsi dan terapi
4.
Pertimbangkan untuk skrining karsinoma
hepatoselular
Pasien carrier HBsAg inaktif :
1.
Pemeriksaan ALT setiap 6 ­ 12 bulan
2.
Bila ALT > 1-2 x BANN, periksa HBV
DNA dan singkirkan penyebab penyakit hati
lainnya
3.
Pertimbangkan untuk skrining karsinoma
hepatoselular
Keterangan: BANN (Batas Atas Nilai Normal)
Salah satu pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk
menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan
kadar ALT menggambarkan adanya aktifitas nekroinflamasi.
Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai
prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang
meningkat menunjukkan proses nekroinflamasi lebih berat
dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar
ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada
terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT
normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil
pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi
aktif
(4,5,10)
.
Tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat
kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain,
prognosis dan menentukan manajemen anti viral. Ukuran
spesimen biopsi yang representatif adalah 1-3 cm (ukuran
panjang) dan 1,2-2 mm (ukuran diameter) baik menggunakan
jarum Menghini atau Tru-cut. Salah satu metode penilaian
biopsi yang sering digunakan adalah dengan Histologic Activity
Index score
(11)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
6
background image
Pada setiap pasien dengan infeksi HBV perlu dilakukan
evaluasi awal ( Tabel 3). Pada pasien dengan HBeAg positif
dan HBV DNA > 10
5
copies/ml dan kadar ALT normal yang
belum mendapatkan terapi antiviral perlu dilakukan
pemeriksaan ALT berkala dan skrining terhadap risiko KHS,
jika perlu dilakukan biopsi hati. Sedangkan bagi pasien dengan
keadaan carrier HBsAg inaktif perlu dilakukan pemantauan
kadar ALT dan HBV DNA.
PENGOBATAN HEPATITIS B KRONIS
Tujuan terapi hepatitis B kronis adalah untuk
mengeliminasi secara bermakna replikasi VHB dan mencegah
progresi penyakit hati menjadi sirosis yang berpotensial
menuju gagal hati, dan mencegah karsinoma hepatoselular.
Sasaran pengobatan adalah menurunkan kadar HBV DNA
serendah mungkin, serokonversi HBeAg dan normalisasi kadar
ALT.
Sasaran sebenarnya adalah menghilangnya HBsAg, namun
sampai saat ini keberhasilannya hanya berkisar 1-5%, sehingga
sasaran tersebut tidak digunakan
(4,5,12,13)
.
Tabel . 4 Penilaian respon terapi hepatits B kronis
(4)
.
Respon terapi
Keterangan
1.
Biokimiawi
2.
Virologi
3.
Histologi
4.
Respon komplit
Penurunan kadar ALT menjadi normal
Kadar HBV DNA menurun / tidak terdeteksi
(<10
5
copies/ml)
HbeAg + menjadi HbeAg ­
Pada pemeriksaan biopsi hati, indeks aktifitas
histologi menurun paling tidak 2 angka
dibandingkan sebelum terapi
Terpenuhinya kriteria : biokimiawi, virologi dan
menghilangnya HbsAg
Tabel 5. Rekomendasi terapi hepatitis B kronis
(14)
.
HBeAg
HBV DNA
(>10
5
copies/ml)
ALT Strategi
pengobatan
+
+
-
-
±
±
+
+
+
-
+
-
2 x BANN
> 2 x BANN
> 2 x BANN
2 x BANN
Sirosis hati
Sirosis hati
Efikasi terhadap terapi rendah
Observasi, terapi bila ALT meningkat
Mulai terapi dengan : interferon alfa, lamivudin atau adefovir
End point terapi : serokonversi HBeAg dan timbulnya anti HBe
Durasi terapi :
·
Interferon selama 16 minggu
·
Lamivudin minimal 1 tahun, lanjutkan 3-6 bulan setelah terjadi serokonversi
HBeAg
·
Adefovir minimal 1 tahun
Bila tidak memberikan respon/ada kontraindikasi, interferon diganti lamivudin / adefovir
Bila resisten terhadap lamivudin, berikan adefovir
Mulai terapi dengan : interferon alfa, lamivudin atau adefovir. Interferon atau adefovir
dipilih mengingat kebutuhan perlunya terapi jangka panjang
End point terapi : normalisasi kadar ALT dan HBV DNA (pemeriksaan PCR) tidak
terdeteksi
Durasi terapi :
·
Interferon selama satu tahun
·
Lamivudin selama > 1 tahun
·
Adefovir selama > 1 tahun
Bila tidak memberikan respon/ ada kontraindikasi interferon diganti lamivudin / adefovir
Bila resisten terhadap lamivudin, berikan adefovir
Tidak perlu terapi
Terkompensasi : lamivudin atau adefovir
Dekompensasi : lamivudin (atau adefovir), interferon kontraindikasi, transplantasi hati
Terkompensasi : observasi
Dekompensasi : rujuk ke pusat transplantasi hati
Sesuai dengan rekomendasi the American Association for
the Study of Liver Disease terapi diberikan pada penderita
hepatitis B kronis, dengan syarat : (1). HBeAg positif dan HBV
DNA>10
5
copies/ml dan kadar ALT>2 batas atas angka
normal. (2). HBeAg positif dan HBV DNA>10
5
copies/ml dan
kadar ALT< 2 batas atas angka normal tidak perlu terapi, hanya
perlu dievaluasi setiap 6-12 bulan, kecuali bila pemeriksaan
histologi menunjukkan adanya nekroinflamasi tingkat sedang
sampai berat (3). HBeAg negatif dan HBV DNA>10
5
copies/ml dan kadar ALT>2 batas atas angka normal. (4).
Penderita sirosis hati dengan HBV DNA >10
5
copies/ml
(Tabel 5).
Saat ini, ada 5 jenis obat yang direkomendasikan untuk
terapi hepatitis B kronis di Amerika Serikat, yaitu : interferon
alfa-2b, lamivudin, adefovir dipivoxil, entecavir dan
peginterferon alfa-2a (Tabel 6). Hal yang harus
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 7
background image
dipertimbangkan sebelum memutuskan pilihan obat adalah;
keamanan jangka panjang, efikasi dan biaya. Walaupun saat ini
pilihan terapi hepatitis B kronis menjadi lebih banyak, namun
persoalan yang masih belum terpecahkan adalah problem
resistensi obat dan tingginya angka relaps saat terapi
dihentikan
(13,15,16)
.
Tabel 6. Perbandingan interferon, lamivudin dan adefovir, entecavir dan peginterferon pada penderita hepatitis B kronis dengan HBeAg positif dan
HBeAg negatif
(15)
.
Interferon alfa 2b
VS tanpa terapi
12 ­ 24 minggu
Lamivudin VS
plasebo
52 minggu
Adefovir VS
plasebo
48 minggu
Entecavir VS
lamivudin
48 minggu
Peginterferon VS
lamivudin
48 minggu
Hepatitis B kronis dengan HBeAg positif
HBV DNA serum tak terdeteksi (%)
Serokonversi HBeAg
HBsAg serum tak terdeteksi (%)
Normalisasi ALT( % )
Perbaikan histologis (%)
Durability response (% )
Hepatitis B kronis dengan HBeAg negatif
HBV DNA serum tak terdeteksi (%)
Normalisasi ALT (% )
Perbaikan histologis (%)
Durability response (% )
37 ( 17 )
18
8 ( 2 )
23
Tidak ada data
80-90
60-70 (10-20)
60-70 ( 10-20 )
Tak ada data
20-25 (tak ada data)
44 ( 16 )
16-18(4-6)
< 1 ( 0 )
41 - 72 (7-24)
49 - 56 (23-25)
50 - 80 (tak ada
data)
50-70 (tak ada
data)
60-70 (tak ada
data)
60 ( tak ada data)
<10 (tak ada data)
21 (0)
12 ( 6 )
0 ( 0 )
48 ( 16 )
53 ( 25 )
Tidak ada data
51 ( 0 )
72 ( 29 )
64 ( 33 )
< 10 (tak ada data)
67 (36)
21 (18)
Tidak ada data
68 ( 60 )
72 ( 26 )
Tidak ada data
90 ( 72 )
78 ( 71 )
70 ( 61 )
Tak ada data
25 (40)
27 (20)
Tidak ada data
39 ( 62 )
38 ( 34 )
Tidak ada data
63 ( 73 )
38 ( 73 )
48 ( 40 )
30 ( 10 )
Durability response = titer masih tetap negatif setelah terapi dihentikan
INTERFERON
Interferon tidak memiliki khasiat antivirus langsung tetapi
merangsang terbentuknya berbagai macam protein efektor yang
mempunyai khasiat antivirus. Berdasarkan studi meta analisis
yang melibatkan 875 pasien hepatitis B kronis dengan HBeAg
positif: serokonversi HBeAg terjadi pada 18%, penurunan
HBV DNA terjadi pada 37% dan normalisasi ALT terjadi pada
23% (Tabel 6). Salah satu kekurangan interferon adalah efek
samping dan pemberian secara injeksi. Dosis interferon 5-10
juta MU 3 kali / minggu selama 16 minggu
(4,15)
.
LAMIVUDIN
Lamivudin merupakan antivirus melalui efek peng-
hambatan transkripsi selama siklus replikasi virus hepatitis B.
Pemberian lamivudin 100 mg/hari selama 1 tahun dapat
menekan HBV DNA, normalisasi ALT, serokonversi HBeAg
dan mengurangi progresi fibrosis secara bermakna
dibandingkan plasebo
(17)
. Namun lamivudin memicu resistensi.
Dilaporkan bahwa resistensi terhadap lamivudin sebesar
lebih dari 32% setelah terapi selama satu tahun dan menjadi
57% setelah terapi selama 3 tahun
(18)
.
Risiko resistensi terhadap lamivudin meningkat dengan
makin lamanya pemberian. Dalam suatu studi di Asia,
resistensi genotip meningkat dari 14% pada tahun pertama
pemberian lamivudin, menjadi 38%, 49%, 66% dan 69%
masing masing pada tahun ke 2,3,4 dan 5 terapi
(19)
.
ADEFOVIR
Adefovir merupakan analog asiklik dari deoxyadenosine
monophosphate (dAMP), yang sudah disetujui oleh FDA untuk
digunakan sebagai anti virus terhadap hepatitis B kronis. Cara
kerjanya adalah dengan menghambat amplifikasi dari cccDNA
virus. Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa adalah 10
mg/hari oral paling tidak selama satu tahun
(13)
.
Marcellin et al (2003) melakukan penelitian pada 515
pasien hepatitis B kronis dengan HBeAg positif yang diterapi
dengan adefovir 10mg dan 30mg selama 48 minggu
dibandingkan plasebo.
Disimpulkan bahwa adefovir memberikan hasil lebih baik
secara signifikan (p<0,001) dalam hal : respon histologi,
normalisasi ALT, serokonversi HBeAg dan penurunan kadar
HBV DNA. Keamanan adefovir 10 mg sama dengan
plasebo
(20)
.
Hadziyanmis et al memberikan adefovir pada penderita
hepatitis B kronis dengan HBeAg negatif. Pada pasien yang
mendapatkan 10 mg adefovir terjadi penurunan HBV DNA
secara bermakna dibandingkan plasebo, namun efikasinya
menghilang pada evaluasi minggu ke 48.
Pada kelompok yang medapatkan adefovir selama 144
minggu efikasinya dapat dipertahankan dengan resistensi
sebesar 5,9%
(21)
. Kelebihan adefovir dibandingkan lamivudin,
di samping risiko resistennya lebih kecil juga adefovir dapat
menekan YMDD mutant yang resisten terhadap lamivudin.
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
8
background image
PEGINTERFERON
Lau et al
(22)
melakukan penelitian terapi peginterferon
tunggal dibandingkan kombinasi pada 841 penderita hepatitis B
kronis. Kelompok pertama mendapatkan peginterferon alfa 2a
(Pegasys) 180 ug/minggu + plasebo tiap hari, kelompok ke dua
mendapatkan peginterferon alfa 2a (Pegasys) 180 ug/minggu +
lamivudin 100 mg/hari dan kelompok ke tiga memperoleh
lamivudin 100 mg/hari, selama 48 minggu. Hasilnya pada
akhir minggu ke 48, yaitu: (1). Serokonversi HBeAg tertinggi
pada peginterferon tanpa kombinasi, yaitu 27%, dibandingkan
kombinasi (24%) dan lamivudin tunggal (20%). (2). Respon
virologi tertinggi pada peginterferon + lamivudin (86%). (3).
Normalisasi ALT tertinggi pada lamivudin (62%). (4). Respon
HBsAg pada minggu ke 72 : peginterferon tunggal 8 pasien,
terapi kombinasi 8 pasien dan lamivudin tidak ada
serokonversi. (5). Resistensi (mutasi YMDD) pada minggu ke
48 didapatlan pada: 69 (27%) pasien dengan lamivudin, 9
pasien (4%) pada kelompok kombinasi, dan (6). Efek samping
relatif minimal pada ketiga kelompok. Disimpulkan bahwa
berdasarkan hasil kombinasi (serokonversi HBeAg, normalisasi
ALT, penurunan HBV DNA dan supresi HBsAg),
peginterferon memberikan hasil lebih baik dibandingkan
lamivudin.
ANALOG NUCLEOTIDE LAINNYA
Di samping entecavir, saat ini beberapa obat antivirus
sedang dalam tahap penelitian, seperti : telbivudine,
emtricitabine, clevudine dan LB 80380 (ANA 380).
Berdasarkan studi acak buta, telbivudine 400-800 mg selama
52 minggu dapat menurunkan HBV DNA sampai 6 logs, dan
risiko timbulnya mutasi YMDD turun sebesar 4,9%.
Emtricitabine yang merupakan derivat lamivudin, mempunyai
potensi dan peluang yang hampir sama dengan lamivudin
dalam memicu terjadinya mutasi YMDD. Clevudine yang
merupakan analog pirimidin, sedang dalam studi fase II.
Pemberian clevudine 100-200 mg/hari selama 28 hari dapat
menurunkan 3 logs HBV DNA
(23)
.
KESIMPULAN
1.
Makin dini terinfeksi VHB risiko menetapnya infeksi
hepatitis B makin besar.
2.
Diagnosis, evaluasi dan keputusan pemberian terapi anti
virus didasarkan pada pemeriksaan serologi, virologi,
kadar ALT dan pemeriksaan biopsi hati.
3.
Pasien hepatitis B kronis yang belum mendapatkan terapi
(HBeAg positif dan HBV DNA > 10
5
copies/ml dan kadar
ALT normal) dan pasien carrier HBsAg inaktif perlu di
evaluasi secara berkala.
4.
Saat ini ada 5 jenis obat yang direkomendasikan untuk
terapi hepatitis B kronis, yaitu : interferon alfa-2b,
lamivudin, adefovir dipivoxil, entecavir dan peginterferon
alfa-2a. Hal yang harus dipertimbangkan sebelum
memutuskan pilihan obat adalah keamanan jangka
panjang, efikasi dan biaya.
KEPUSTAKAAN
1.
Tanabe. Case : a 57-year old man with a mass in the liver. N Engl J Med
2005 : 353: 4 : 401
2.
Lee WM. Hepatitis B virus infection. N Engl J Med 1997; 337: 24:
1733-45.
3.
Koff R.S. Management of the hepatitis B surface antigen carriers.
Seminars in Liver Disease 1991: 33-43
4.
Lok ASF, McMohan BJ. AASLD Practical Guideline Chronic hepatitis
B : Update of recommendations. Hepatology 2001; 1225-41
5.
Keeffe EB, Dieterich DT, Steve, Han HB, Jacobson IM, Martin P, Schiff
ER, Tobias H, Wright TL. A treatment algorithm for the management of
chronic hepatitis B virus infection in the United States. Clin
Gastroenterol and Hepatol. 2004. 2:2:
6.
Dufour DR, Lott JA, Nolte FS, Gretch DR, Koff RS, Seeff LB. Diagnosis
and monitoring of hepatic injury. II. Recommendations for use of
laboratory test in screening, diagnosis, and monitoring. Clin Chemistry
2000: 46: 2050-68.
7.
Hadziyannis SJ. Treatment options for chronic hepatitis B not responding
to interferon. J Hepatol. 2003: 38: 853-55.
8.
Hadziyannis SJ., Vassilopoulos D. Hepatitis Be antigen-negative chronic
hepatitis B. Hepatology 2001; 34(4): 617- 21
9.
Yang HI, Nan LS, Fan LY, Lin YS, An SC, Yu WL, Hsiao CK., Jer CP,
Shinn CD, Jen CC. Hepatitis Be antigen and the risk of hepatocellular
carcinoma. New Engl J Med 2002: 347 : 3: 168-74
10.
Seo YA, Yoon S, Bui Xuan., Hirotaka, Hamano K, Kato M, Yano Y,
Katayama M, Ninomiya T, Hayashi Y, Kasuga M. Serum hepatitis B
virus DNA levels differentiating inactive carriers from patients with
chronic hepatitis B. Eur J Gastroenterol & Hepatol 2005 ; 17 (7) : 753-57
11.
Bravo AA, Sheth SG, Chopra S. Liver biopsy. New Engl J Med 2001 :
344: 7 : 495-500
12.
Don Ganem., Prince AM. Hepatitis B virus infection ­ natural history and
clinical consequences. New Engl J Med 2004: 350; 1118-29
13.
Fung YM., Lai CL. Current and future antiviral agents for chronic
hepatitis B. J. Antimicrob Chemotherapy 2003 : 51 : 481-85
14.
Lok ASF, McMohan BJ. AASLD Practical Guideline Chronic hepatitis
B : Update of recommendations. Hepatology 2004; 39 , 3 :
15.
Lok ASF. The maze of treatment for hepatitis B. New Engl J Med 2005;
26 : 2743-46
16.
Owens DK. Assesing the benefits and cost of new therapies for hepatitis
B virus infection. Ann Intern Med 2005 : 142; 10 : 863-64
17.
Lai CL, Chien RN, Leung NWY. A one year trial of lamivudine for
chronic hepatitis B. New Engl J Med 1998; 339 : 61-8
18.
Leung NW, Lai CL, Guan R, Chang TT, Lee CM, Yeen Ng K., Lim SG,
Dent JC, Edmundson S, Condrea LD, Chien RN. Extended lamivudin
treatment in patients with chronic hepatitis B enhances hepatitis Be
antigen seroconversion rates : results after 3 years of therapy. Hepatology
2001; 33: 1527-32
19.
Guan R, Lai CL, Liaw YF, Lim SG, Lee CM. Efficacy and safety of 5
years lamivudin treatment of Chinese patients with chronic hepatitis B (
abstract). J Gastroenterol Hepatol 2001; 16 (suppl): A60
20.
Marcellin P, Chang TT, Lim SG, Tong MJ, Sievert W, Shiffman ML,
Jefferes L. et.al. Adefovir dipovoxil for treatment of hepatitis Be antigen-
positive chronic hepatitis B. New Engl J Med 2003; 348 : 806-16
21.
Hadziyannis SJ, Tassopoulos NC, Heathcote EJ, Chang TT, Kitis G,
Rizzeto EJ, Marcellin P, Lim SG, Goodman Z, Jia Ma MS, Arterbun S,
Xiong S, Currie G, Brosgart CL. Long term therapy with adefovir
dipivoxil for HBVeAg-negative chronic hepatitis B. New Engl J Med
2005; 352 : 26: 2673-81
22.
Lau GK, Piratvisuth ., Lou XL, Marcellin P, Thongsawat S, Cooksley G,
Gane E, Fried MW, Chow WC, Paik SW, Chang WY, Berg T, Flisiak R,
McLoud P, Pluck N. Peginterferon alfa-2a, lamivudin, and the
combination for HBeAg_positive chronic hepatitis B. New Engl J Med
2005; 352 : 26 : 2682
23.
Yuen MF, Lai CL. Treatment of chronic hepatitis B. Med. Progr. 2005 :
32 : 7; 349-56.
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 9

Document Outline