background image
Artikel
OPINI
Kesehatan Jiwa(Mental Health) di
Kehidupan Modern
Kusumanto Setyonegoro
Ketua Yayasan Kesehatan Jiwa Dharmawangsa
Guru Besar Ilmu Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Dengan kemajuan zaman, problem-problem pribadi dan
sosial dalam kehidupan manusia bukannya berkurang, tetapi
sebaliknya, bahkan bertambah sehingga mengganggunya untuk
mencapai kebahagiaan hidup yang diidam-idamkan. Perang
(dalam maupun luar negeri), pergolakan ekonomi (inflasi,
dan sebagainya) perilaku anti sosial (perampokan,
penganiayaan, perkosaan, dan sebagainya), ketidak-
serasian penerapan hukum dan peraturan, hidup berkeluarga
yang bermasalah (percekcokan, perceraian, kekerasan dalam
keluarga, hidup bersama tanpa nikah, dan sejenisnya) semuanya
menambah disilusi (kekecewaan yang mendalam), kesulitan
atau ketidakmampuan untuk menegakkan nilai-nilai sosial
kultural dan melaksanakan program yang berorientasi filsafat
sosial, semuanya secara bertumpuk-tumpuk memicu konflik
dan stres ( ketegangan yang tidak pernah reda secara spontan).
Situasi seperti itu mengakibatkan kondisi maladjustment
(keadaan ketidaksesuaian diri dengan lingkungan), yang
dinyatakan secara jasmaniah (seperti kondisi sakit atau kurang
sehat hingga terpaksa tidak masuk bekerja atau bekerja tidak
efektif ) atau melahirkan perilaku menyimpang; kepribadian
yang "agak aneh" hingga kurang diterima oleh lingkungan
karena dinilai "kurang wajar".
Dapat disaksikan orang-orang yang "pusing","bingung"
dan "bengong" menghadapi situasi yang menegangkan. Banyak
di antara mereka jelas menyatakan dirinya tidak berbahagia,
terpaksa hidup terus walaupun tidak melihat masa depan yang
cerah; mereka kehilangan kekuatan mental emosionalnya
untuk hidup tenteram, damai dan sejahtera cukup banyak orang
yang mengalami dan memperlihatkan penyesuaian diri secara
pribadi maupun sosial yang "kurang pantas" dan "kurang
berkenan" terhadap orang lain. Mereka yang tergolong
berkelakuan tidak efisien atau "kurang wajar" tersebut,
mungkin tidak perlu dirawat, tetapi jelas memerlukan bim-
bingan mental sehingga dapat dikembalikan ke garis kehidupan
yang "lebih normal" dalam waktu yang sesingkat -singkatnya.
MASALAH-MASALAH YANG MENGHAMBAT PE-
NYESUAIAN DIRI
Perilaku tidak hanya tergantung pada dorongan motivasi
diri, banyak hambatan dan halangan di sekitar kita baik
yang eksternal (luar diri kita) maupun internal (dalam diri
kita). Jika suatu dorongan atau keinginan manusia dihambat
atau dihalangi, akan timbul stres. Stres dapat dianggap sebagai
suatu keharusan untuk menyesuaikan diri, yang dibebankan
pada individu. Keadaan, yang merupakan kekuatan atau
keharusan untuk menyesuaikan diri, dianggap sebagai stressor
yang dapat bersifat internal atau eksternal; biasanya tidak hanya
satu stressor saja yang membebani individu tetapi beberapa
stressor sekaligus.
JENIS ­ JENIS STRESSOR
Ada dua jenis stressor yang diketahui, yaitu stressor
biologik dan stressor psikologik, tetapi kebanyakan bersifat
psiko-biologik. Infeksi dapat dianggap stressor biologik yang
mengharuskan sistem pertahanan jasmani orang itu me-
nangkalnya. Sama halnya dengan rasa berdosa atau rasa bersalah,
yang merupakan stressor psikologik; stressor demikian meng-
haruskan sistem "Diri-Aku" ( Ego system ) melakukan per-
tahanan (defense) agar dapat berfungsi seimbang (normal)
lagi. Jika tidak berhasil, maka individu itu akan mengalami
kegoncangan mental. Stres dapat berpengaruh baik pada indi-
vidu secara tersendiri, maupun pada sejumlah individu secara
kelompok, umpamanya stres ekonomi atau stres bencana alam
(tsunami, gunung meletus, banjir dan sebagainya) membebani
baik individu maupun kelompok secara cukup berat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 5
background image
SUMBER-SUMBER STRESSOR
1. Frustrasi Eksternal (Frustrasi = kekecewaan yang
mendalam).
Hal ini terjadi bila alam bergolak sangat berat: badai,
kebakaran, gempa bumi, tsunami, kecelakaan beruntun, ter-
utama sekali bila disertai kematian mereka yang sangat dicintai
dan dekat dengan yang bersangkutan. Halangan atau stres
eksternal yang hebat di antaranya perang (atau perang
saudara), depresi ekonomi (inflasi, dan sebagainya) per-
saingan yang terlalu tajam atau ketat, perubahan zaman
(umpama dari situasi rural ke urban) yang terlalu cepat,
ketidakstabilan hukum dan keamanan, semuanya meng-
akibatkan frustrasi.
Juga dapat berupa perlakuan hukum tertentu karena
dianggap melanggar UU atau Peraturan Negara. Penyimpang-
an seperti pencurian, korupsi, agresi terhadap orang lain, dan
sebagainya, semuanya dapat rnengakibatkan hukuman (yang
lebih lanjut mengakibatkan kehilangan status sosial, kehilang-
an pekerjaan, masuk penjara, dan sebagainya), yang semuanya
mencetuskan frustrasi yang sangat mendalam. Juga ketidak
berhasilan memenuhi tugas pekerjaan, pendidikan dan lain-lain
dapat mengakibatkan frustrasi.
2. Frustrasi
Internal
Berbagai keterbatasan pribadi juga menimbulkan
frustrasi: kendala fisik (physical handicaps), kurangnya
inteligensi dan konsentrasi, persaingan daya tarik, dan
sebagainya dapat mengurangi keberhasilan dan mengakibatkan
frustrasi. Sejumlah frustrasi berasal dari hambatan psikologik
karena pertimbangan etika (atau susila kepantasan) dan
realitas, misalnya masalah perkawinan. Bila halangan atau
pertimbangan etika dikesampingkan, mungkin timbul rasa dosa
dan rasa salah diri yang berkepanjangan. Sering kali manusia
melakukan hal-hal yang ia sendiri mungkin tidak mem-
benarkan, sehingga menimbulkan rasa tidak senang dan
frustrasi.
POLA STRES SELALU MERUPAKAN MASALAH
PRIBADI
Tiap individu mempunyai pola tertentu penyesuaian
diri yang sangat unik (khas). Usia, jenis kelamin,
kedudukan atau jabatan, status ekonomi dan hal-hal lain yang
terikat pada pribadinya, semuanya turut menentukan. Seorang
anak akan menghadapi suatu stres dengan pola yang berlainan
dari seorang dewasa. Seorang pejabat memiliki pola penang-
gulangan stres yang berlainan dengan seorang tukang batu.
Ditambah pula, pola penyesuaian itu dapat berubah selama
perjalanan waktu. Peristiwa dalam kehidupan seperti kerugian
finansiil, kecelakaan besar, kematian dalam keluarga dekat,
semuanya mampu mengubah pola stres ditambah dengan
faktor usia, tujuan-tujuan jangka panjang manusia dapat
turut mengubah pola tersebut.
Tetapi, yang paling penting ialah bagaimana manusia
itu sendiri menilai pola stresnya dan evaluasinya. Perlu diper-
timbangkan, bahwa situasi eksternal yang dialami dan
dianggap penting oleh seseorang bagi yang lain mungkin tidak
ada pengaruhnya sama sekali.
BERAT STRES
Sama halnya dengan beban yang diletakkan di sebuah
jembatan, begitu pula dengan beban stres pada seseorang;
makin lama stres berlangsung, makin berat stres tersebut dirasakan.
Jumlah stres yang berurutan yang dialami seseorang, juga
menentukan beratnya stres. Bila seseorang sekaligus mengalami
peristiwa kehilangan pekerjaan, serangan jantung, dan ditinggal
istri, maka jelas stres yang dialaminya lebih berat, dibandingkan
dengan jika peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi bersamaan. Efek
kumulatif stres dapat menyebabkan seseorang sekonyong-konyong
dapat "meledak pecah" sesudah terjadinya suatu stres yang (secara
sepintas) mungkin ringan saja. Harus difahami bahwa individu
dalam memandang suatu situasi tidak hanya mengenai faktanya
saja, tetapi juga bagaimana dia menilai situasi vang baru itu
berdasarkan kemampuan diri untuk mengatasinva. Hal-hal
tersebut sangat penting untuk memahami kondisi sakit jiwa
(mental illness).
REAKSI HOLISTIK (=MENYELURUH) MANUSIA DI
BIDANG KESEHATAN JIWA
Pada dasarnya, reaksi manusia terhadap stres pada dasar-
nya bersifat menyerang (attack), menarik diri (withdrawal)
atau kesepakatan berdamai (compromise). Masing-masing
reaksi itu dapat terjadi secara terbuka (overt) atau tersamar
(covert). Individu dapat menurunkan taraf aspirasinya
(hasrat atau cita-cita) saat menghadapi kegagalan, atau
meningkatkan upayanya untuk mencapai tujuan. Segala reaksi
tersebut adalah upaya untuk mengimbangi problem se-
demikian rupa sehingga dapat mencapai atau memper-
tahankan suatu keseimbangan psikobiososial untuk me-
menuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya .
REAKSI PENYESUAIAN DIRI (ADAPTIF) SECARA
LANGSUNG
Sikap menyerang (attack), menarik diri (withdrawal)
dan sepakat berdamai (compromise) merupakan tindakan-
tindakan yang dapat dianggap langsung (direct) untuk
menghadapi stres, dengan berbuat sesuatu sehingga situasi
aslinya dapat di "lunak"kan (modify) atau di "ubah" (change).
Reaksi menyerang (attack), reaksi agresi (mendobrak atau
menyerang) atau reaksi bermusuhan (hostile) dimaksud untuk
menghapus atau mengatasi halangan mencapai kepuasan.
Banyak organisme bertindak agresif saat menjumpai halangan;
yang paling sering ialah tindakan memperkuat emosi yang
menjelma menjadi sikap permusuhan. Tetapi. hanya sejumlah
kecil situasi stres saja yang dapat diatasi dengan cara demikian.
Jika serangan langsung tidak berhasil, dan frustrasi tetap
berlangsung, maka frustrasi, rasa tidak senang dan rasa sakit
hati dapat dihubungkan dengan berbagai pribadi atau objek
tertentu. Mereka itu kemudian dapat dijadikan sasaran dan sebab
dari frustrasi dan blokade yang dialaminya.
Dengan demikian, maka reaksi agresif (yang semula hanya
bersifat aktivitas yang bertambah dan serangan langsung)
kemudian diperkuat menjadi rasa benci. Sikap yang semula
hanya berupa keinginan menyerang dapat ditambah dengan
kecenderungan merusak (destroy). Jika individu merasa
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
6
background image
diperlakukan tidak adil, tidak disukai, atau tidak diberi
kesempatan maju seperti orang lain (yang dianggap sama
dengan dia), maka ia dapat menaikkan tegangan permusuhan,
yang kemudian menjadi perilaku delinquent (melawan hukum).
Pencurian, perampokan, perusakan, pembakaran, perilaku
seksual yang melawan hukum, dan penyerangan fisik terhadap
orang-orang tertentu seringkali merupakan pola perilaku
pembangkang (defiant behavior).
REAKSI PENYESUAIAN DIRI SECARA TIDAK
LANGSUNG
Jika individu tidak melakukan reaksi penyesuaian secara
langsung, maka ia akan menempuh jalan tidak langsung. Ia
dapat melarikan diri (flight) atau menarik diri (withdrawal)
atau mengurung diri dalam kondisi ketakutan (fear atau
anxiety). Dalam kondisi itu, individu akan berkurang
efektivitas dan efisiensi hidupnya, banyak upaya dan
pekerjaannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, seolah-olah
sia-sia belaka. Individu tersebut makin lama makin hidup
dalam dunia fantasinya dan jika tidak ditangani secara
profesional dapat terjerumus dalam keadaan sakit jiwa (mental
illness).
Pada umumnya individu yang terganggu kesehatan
jiwanya terbagi dalam :
1. Pasien-pasien dengan jiwa yang relatif sehat (dapat
bekerja dan berusaha seperti biasa) tetapi mengalami
berbagai problem hidup yang kadang-kadang
memerlukan orang lain (suami, isteri atau orang
tua/saudara) untuk mencapai penyelesaian (solusi)
yang sebaik-baiknya. Mereka dapat meminta nasihat
(counseling) pada seorang profesional: psikiater,
psychologist, educator, social worker, certified nurse dan
profesional lain. Dianjurkan tidak menghubungi ahli
nujum, dukun magician, dan sejenis karena penge-
tahuannya tidak didasarkan atas asas-asas ilmiah modern.
2. Pasien neurosis khronis, psikosomatis khronis dan pasien
neuropsikiatrik perlu diobati oleh psikiater atau dokter
nonpsikiater yang berpengalaman.
3. Pasien dengan kondisi mendesak, atau tak terkendali.
Sering mengeluh konsentrasi menurun, fokus pikiran kabur,
mendengar bisikan suara (halusinasi) dan pikiran-pikiran curiga
dan bersifat mengejek atau menganggap dirinya "jahat"
(paranoid) dianjurkan segera berkonsultasi dengan psikiater.
BAGAIMANA SEBAIKNYA MENGHADAPI PASIEN DENGAN
KELUHAN KESEHATAN JIWA YANG TERGANGGU
( baik anak,remaja,dewasa,usia lanjut / lansia )
STRESS
REL
A
T
IF
RINGAN
Pasien (dengan kesehatan jiwa yang relatif sehat),
dapat bekerja dan berusaha seperti biasa, tetapi
mengalami problem hidup dan penghidupan (problems
of life and living). Mereka dapat menyelesaikan
problem itu sendiri atau dengan orang lain yang dekat
dengannya untuk mencapai solusi. Mereka dapat
meminta nasihat counsellor.
STRESS
SED
A
N
G
PSIKOS
OM
ATI
K
-
NEUROS
IS
Pasien-pasien dengan problem hidup dan
kehidupan mendesak, memerlukan segera konseling
pada ahli yang terlatih secara ilmiah: clinical
psychologist, professional mental health nurse,social
worker, dan ahli sosial lain. Sering mereka langsung
minta bantuan atau pertolongan psikiater (swasta atau
pemerintah) sesuai dengan keinginannya sendiri,
· counsellor non-psikiater tidak pernah memberi obat
· counsellor psikiater dapat meresepkan obat
STRESS
BERAT
(Psik
os
is)
Pasien dengan kondisi mendesak, atau "tak
terkendali" sering mengeluh konsentrasi menurun ,
fokus pikiran kabur, mendengar bisikan (halusinasi)
dan pikiran-pikiran kecurigaan atau menganggap
dirinya "jahat" (paranoid). Sering mereka sedang atau
sudah berobat ke dokter atau rumah sakit lain. Mereka
ini dianjurkan segera berkonsultasi dengan psikiater
dan dirawat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 7

Document Outline