dr. R. Karnen Baratawidjaja - Divisi Penyakit Alergi dan lmunologi FKUI/RSTM -- Jakarta,
TINJAUAN
PENYAKIT
ALERGI DAN
PENGOB
Penyakit alergi yang kita kenal dalam praktek sehari-hari
antara lain ialah, reaksi atopi (rhinitis alergika, asthma bron-
ehiale, urticaria, eezema atopik) alergi obat, dermatitis kontak,
dan serum sickness yang sudah jarang dilihat lagi.
Dari kepustakaan dikatakan bahwa 30% dari penduduk itu
mempunyai kemungkinan selama dalam hidupnya untuk
menunjukkan suatu reaksi alergi, tapi hanya 10% yang
membutuhkan pertolongan medik.
Rhinitis alergika adalah penyakit alergi yang paling banyak
ditemukan, lalu disusul oleh asthma bronchiale dan urticaria.
Meskipun rhinitis alergika kelihatannya tidak seberapa payah,
tapi dalam praktek kita, banyak sekali yang mendapat cukup
gangguan-gangguan hidungnya antara lain berair terus sehingga
memakai lebih dari 10 saputangan sehari, matanya berair dan
gatal-gatal yang hilang timbul, berbangkis-bangkis yang tak
henti-henti, terutama dipagi hari atau kalau penderita banyak
kena debu. Kalau hal ini dibiarkan terus, kelak akan timbul
berbagai komplikasi yang menyangkut kesulitan-kesulitan di-
daerah hidung (sinusitis dsb).
Asthma bronchiale, meskipun hanya menduduki tempat
kedua dalam frekwensi penyakit alergi, tapi penyakit ini
kalau tak segera ditanggulangi dengan baik, dapat berjalan
kronis, dan malahan dapat menyebabkan kematian. Pada
anak-anak kalau tidak ditanggulangi dengan baik mungkin per-
tumbuhan rongga dadanya akan mengalami gangguan.
Pada tahun 1974 dari 1526 penderita yang dirawat di
Bagian Penyakit Dalam FKUI/RSTM Jakarta, 97 adalah pen-
derita asthma bronchiale dan dari jumlah tersebut 7 orang
meninggal. Serangan asthma bronchiale yang sering timbul,
menyebabkan angka absensi sekolah dan kantor yang
cukup
tinggi, disamping mungkin timbulnya gangguan psikis yang
biasa terjadi pada perjalanan suatu penyakit yang kronis.
Urticaria sangat sering dijumpai dalam praktek sehari-hari,
dan umumnya ada hubungan dengan jenis makanan.
Tetapi
banyak pula jenis urticaria yang sebabnya tak diketahui
dengan pasti oleh penderita sendiri, misalnya masih juga
timbul-timbul meskipun diit sudah sangat ketat; sering dijum-
pai seseorang yang takut makan itu ini, sehingga mungkin
pula akan timbul suatu defisiensi makanan.
Alergi obat
sering dijumpai dalam praktek sehari-hari,
dalam berbagai bentuk dan corak, seperti :
q
serum sickness
q
shock anafilaksis
q
manifestasi kulit : -
pruritus
- urticaria dan angioedema
- exanthema
- dermatitis cksfoliatif
- erythema multiformc dan erupsi bulosa
- erupsi tertentu/fixed drug eruption
- erupsi purpura
- eczcma dan fotosensitisasi
q manifestasi hematologik :
thrombositopenia
agranulositosis
anemia aplastik
anemia hemolitik
q
vaskulitis dan kerusakan jaringan
q kerusakan hati
q demam
q
nefropati
q
limfadenopati
q
manifestasi paru-paru : asthma bronchiale
q
cardiopati
Sering seseorang penderita hanya tahu ada obat yang
tidak tahan dari pengalamannya, tapi kalau ditanyakan mereka
sering pula tak dapat mengatakan dengan pasti jenis obat apa.
Dokter yang memberikan obat tersebut, seringkali kurang ter-
buka untuk menerangkannya kepada sipenderita, bahwa re-
aksi itu dapat terjadi pada semua orang, dan bahwa selanjut-
nya jenis obat itu perlu dicatat penderita, agar obat itu tak
diberikan lagi oleh dokter lain, sehingga reaksi yang kedua
yang mungkin lebih hebat terjadi sesudah pemakaian ulangan
obat yang sama itu (mungkin anafilaksis) dapat dielakkan.
Alergi obat ditemukan dalam 2% dari masyarakat yang men -
dapatkan pengobatan.
Dermatitis kontak yang terjadi sesudah pemakaian obat
yang ditempelkan pada kulit, pada waktu ini lebih jarang
terjadi, semenjak beberapa obat-obatan yang berupa salep, ter-
utama salep penicillin dan sulfa, banyak dihentikan dari
peredaran seperti di Amerika. Di Indonesia banyak orang
orang medis memakai salep-salep tsb, bahkan kalau salep
tidak ditemukan, maka dipakainya pula kristal penicillin yang
ditaburkan diatas luka penderita, atau dicarinya pula puyer
sulfa untuk maksud yang sama. Kontak dengan kulit adalah
cara yang paling cepat untuk mensensitisasi seseorang, sehing-
ga pemakaian salep berikutnya akan lebih mudah menimbul-
kan suatu dermatitis kontak.
Perlu diperhatikan peranan-
peranan dari logam-logam perhiasan, bahan kosmetik, bahan
tekstil yang dapat menjadi sebab jenis penyakit tersebut.
10
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
ATANNYA
Pemakaian oral mempunyai daya sensitisasi paling lemah, dan
pemakaian parenteral ada diamtaranya. Maka obat-obatan
paten yang sering dipakai, sebaiknya tidak diberikan secara
lokal. Penicillin dikenal sebagai obat yang paling sering
menimbulkan alergi obat, kemudian disusul dengan aspirin dan
sulfa.
Serum sickness, dengan jarangnya pemakaian serum dalam
pengobatan, dengan sendirinya sudah sangat jarang terjadi.
Penyakit alergi yang disebut dengan serum sickness ini tidak
selalu disebabkan oleh karena pemakaian serum yang anti-
genik; tapi mungkin pula terjadi sebagai salah satu manifestasi
dari alergi obat, misalnya limfadenopati yang telah disebutkan
lebih dulu.
Biasanya penderita datang pada seorang dokter kalau ada
manifestasi penyakit alergi yang sangat mengganggu: misalnya
kalau seluruh tubuh merasa gatal-gatal dan timbul kemerahan,
atau muka bengkak dengan sebab yang jelas seperti sesudah
makan udang, aspirin dsb, dan mungkin pula dengan sebab
yang tidak diketahui penderita sendiri: dengan serangan asth-
ma bronchiale yang biasanya masih dapat ditanggulangi
dengan suntikan adrenalin, tapi kadang-kadang terpaksa harus
dirawat dirumah sakit; dengan keluhan hidung berair terus,
bersin-bersin tidak henti-henti, atau mata berair dan gatal-
gatal terus meskipun telah beberapa kali mendapat pengobat-
an, yang biasanya sudah berlangsung berbulan-bulan. Mula-
mula penderita dengan keluhan rhinitis alergika ini tidak
segera berobat kedokter oleh karena dirasakannya sebagai
pilek biasa. Maka dalam keadaan demikian, untuk seorang
dokter tidak ada jalan lain kecuali menanggulanginya secepat
mungkin dengan berbagai obat, dimana preparat coiticoid dan
antihistamin banyak memegang peranan dengan hasil yang
baik. Penderita akan baik dengan pengobatan tersebut, teta-
pi hendaknya seorang dokter itu seterusnya mencari sebab
dari penyakit yang telah diderita itu, karena kalau sebab-
sebabnya tidak diketahui dan masih ada disekeliling penderita
atau masih diberikan kepadanya, manifestasi alergi tadi akan
timbul berulang kali. Mencari penyebab yang dinamakan aler-
gen itu, membutuhkan pengetahuan tentang alergi, kesabaran
dan taktik. Dasar suatu penyakit alergi itu adalah adanya
reaksi antara antigen/alergen yang datang dari luar
badan
disatu fihak, dengan zat-anti yang timbul dalam badan akibat
masuknya alergen tadi dilain fihak. Jadi jelas, bahwa badan
tidak akan menunjukkan reaksi apa-apa pada waktu alergen
itu masuk untuk pertama kali; badan masih membutuhkan
waktu yang disebut masa sensitisasi.
Alergen dapat masuk badan dengan berbagai jalan antaralain
1. sebagai inhalan, yang masuk lewat alat pernafasan, seperti
debu rumah, bulu-bulu binatang, oral
jamur, bau-bauan
dan sebagainya.
2. sebagai ingestan, yang masuk melalui alat pencernaan, se-
perti susu, telor, udang, obat-obatan yang diberikan oral
dan sebagainya.
3. sebagai injectan, yang masuk lewat suntikan.
4. sebagai kontactan, yang masuk lewat sentuhan kulit, misal-
nya obat-obatan, logam-logam perhiasan, zat warna yang
ada dalam tekstil, bahan kosmetik dan sebagainya.
Pada rhinitis alergika yang menjadi alergen biasanya berbentuk
inhalan ; pada asthma bronehiale umumnya juga inhalan, mes
-
kipun seperti pada urticaria semua bentuk alergen dapat
menimbulkannya . Perlu diketahui bahwa pada penyakit aler
gi ada pula faktor-faktor lain yang non-antigenik yang dapat
menimbulkan manifestasi yang sama misalnya kecapaian,
kurang tidur, udara yang lembab , emosi, yang dapat menim-
bulkan serangan asthma bronchiale dan urticaria. Dalam usaha
mencari alergem, pertama dibutuhkan suatu anamnesa yang
teliti, antara lain menanyakan kepada penderita tentang ke-
mungkiman yang menjadi sebab timbulnya
keluhan yang
mungkin diketahui dan mungkin tidak, keadaan rumah pende-
rita (ada atau tidaknya binatang piaraan seperti kucing,
anjing, burung, ayam, dsb., keadaan kamar tidur seperti
jenis kasur dan bantal, apa dibuat dari karet busa atau kapuk)
tempat bekerja penderita, apa alat-alat tulis, buku-buku disim-
pan rapi dalam lemari atau tidak, dan apa ada permadani
atau tidak, disckeliling penderita bekerja atau tidur, dll.
Selanjutnya perlu ditanyakan kepada penderita kapan keluh-
annya lebih sering timbul, diluar atau didalam rumah. Kalau
dirumah harus ditanyakan kapan dan dimana keluhan timbul.
Selanjutnya usaha untuk mencari alergen dapat dibantu de-
ngan berbagai cara yang dikerjakan baik in-vivo maupun
in-vitro, antara lain : Tes kulit (suntikan intrakutan, prick
test, scratch test, patch test). Tes dari Prausnitz Kustner,
tes provokasi, tes sensitisasi pasip dari paru-paru manusia,
sensitisasi pasip dari lekosit, tes yang mengukur pengeluaran
kinin, tes dari Rast, tes degranulasi basofil, tes tranformasi
limfosit dan lain-lainnya.
Perlu dicari adanya hubungan-hubungan antara hasil yang di-
dapat dari anamnesa, tes-tes tadi dan timbulnya manifestasi
alergi. Bila jenis alergen tadi bisa ditetapkan, maka tindakan
pertama untuk mencegah timbulnya kembali penyakit itu ia-
lah menjauhkan diri dari alergen tadi, misalnya tidak memeli-
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
11
hara bina tang-binatang dirumah, tidak memasang permadani
dikamar tidur, mengganti bantal dan kasur dari kapuk dengan
karet busa,
menyimpan buku-buku dalam lemari, pantang
jenis jenis makanan yang sudah jelas pernah menimbulkan ke-
luhan, tidak memakai obat-obatan yang pernah menimbulkan
reaksi, dan waspada terhadap derivat-derivatnya. Dalam hal
rhinitis alergika dan asthma bronchiale penyebab utama ada-
lah inhalan seperti debu rumah, animal dander, dan spora
jamur. Demikian pula halnya pada banyak penderita urticaria.
Dalam praktek, tidak mungkin untuk menghindarkan diri
100% dari kontak dengan debu rumah dan spora jamur yang
terus menerus ada diudara kita. Maka untuk penanggulangan
penyakit alergi jenis tersebut diatas, diperlukan selain men-
jauhkan diri (avoidance) dari alergen tadi yang hiasanya
belum meringankan penyakitnya, juga pengobatan imunisasi/
desensitisasi. Pengobatan tersebut diatas adalah tindakan
yang spesifik. Cara ini ialah menyuntikkan kedalam badan
penderita ekstrak alergen untuk menimbulkan zat-anti yang
termasuk dalam golongan IgG yang merintangi terjadinya reak-
si antara alergen dan zat-anti yang dibentuknya dalam masa
sensitisasi yang termasuk golongan IgE, yang karenanya dina-
makan Blocking Antibody.
Pengobatan dengan cara imunisasi tadi membutuhkan waktu
yang lama sekali dan pada asthma bronchiale hanya diberikan
kalau penderita ada diluar serangan. Perlu diketahui bahwa
pengobatan imunisasi itu akan berhasil bila alergen yang
disuntikkan itu betul-betul mempunyai hubungan dengan
penyakit, yang diketahui dari anamnesa, berbagai tes yang
telah disebutkan lebih dulu dan bila tindakan avoidance itu
dilakukan dengan sebaik-baiknya. Disamping pengobatan spe-
sifik tadi, pada asthma bronchiale sering diperlukan juga
pengobatan dengan obat-obatan dan tindakan-tindakan yang
tidak spesifik
yang dilakukan terhadap semua penderita.
Dengan singkat dijelaskan pengobatan asthma bronchiale sbb :
I. PENGOBATAN DENGAN OBAT--OBATAN
I. Bronchodilator yang Simpatomimetik
Bronchus pada umumnya mengandung beta reseptor, yang
menyebabkan dilatasi bronchus, maka hanya obat-obatan
dengan khasiat yang dapat merangsang beta reseptor saja yang
mempunyai hasil pada pengobatan asthma bronehiale.
a.
Epinephrine
epinephrine atau adrenalin karena khasiatnya untuk broncho-
dilatasi, dan cepat cara kerjanya, merupakan drug of choice
pada asthma yang akut.
Dosis untuk orang dewasa adalah 0,3 sampai 0,5 cc dari
larutan 1 : 1000 yang diberikan subkutan. Pada anak-anak
dan bayi dosis adalah 0,01 cc/kg berat badan dengan maksi-
mum 0,25 cc. Dosis tadi dapat diulang dalam jangka waktu
15--30 menit kalau perlu.
Sus-phrine
adalah larutan 1: 200
dari epinephrine, dapat dipakai kalau waktu kerjanya diperlu-
kan lebih lama (6--8 jam). Dosisnya 0,20--0,30 cc subkutan
untuk dewasa dan 0,005 cc/kg (maksimum 0,15 cc) berat
badan untuk anak dan bayi. Sebagian dari epinephrine (29%)
dalam preparat ini ada dalam bentuk larutan, jadi dapat kerja
cepat dan sebagian lagi ada dalam bentuk kristal yang dapat
untuk jangka waktu yang lebih lama. Gejala sampingan dari
epinephrine adalah agitasi, hipertensi, berdebar-debar, geme -
tar, taehycardi, palpitasi, arrhythmia, pusing, muntah dan
enek-enek. Perdarahan subarachnoid dan hemiplegia pernah
terjadi pada pemberian 0,50 cc dari 1: I000 subkutan.
Epinephrine harus diberikan
dengan hati-hati sekali pada
orang-orang dengan penyakit kardiovaskuler dan hipertensi.
b.
Ethylnorepinephrine hydrochloride ( Bronkephrine
®
)
lni adalah bahan yang merangsang beta reseptor. Dosis adalah
0,5-1.0
cc untuk orang dewasa subkutan atau intramuskuler,
dan kalau perlu dapat diulang sesudah 20 menit. Untuk
anak-anak dan bayi dosis adalah 0,01-0,2 cc/kg berat badan.
Juga aktip kalau diberikan secara oral atau aerosol.
c.
Isoproterenol
Isoproterenol atau lsuprel
®
atau Aludrin
®
atau Norisodrine
®
terutama urerangsang beta reseptor. Kalau diberikan dengan
aerosol, kerja dengan cepat dan pendek, oleh karena cepat
dipecah oleh enzyme
catecholomethyl transferase. Untuk
pengobatan aerosol , dipakai larutan 1: 200. Dosis aerosol
ialah 1-2 kali inhalasi sebanyak 4-6 kali sehari. Pada status
asthuraticus, dapat dipakai tiap 2-4 jam, dengan pengawasan
yang ketat terhadap gejala sampingannya. Obat ini aktip juga
kalau diberikan sublingual, dan kurang aktip kalau diberikan
oral. lni mungkin oleh karena diinaktipkan dalam gastrointes-
tinal. Gejala sampingannya sama dengan epinephrine, tetapi
oleh karena daya vasodilatasi, hypertensi jarang terjadi.
d. Bronkosol ®
Ini adalah campuran dari 3 macam obat : isoetharin HCI
(beta adrenergic stimulator), phenylephrine HC1 (alpha adre-
nergic stimulator) dan thenyldiamine HCl (antihistamin).
Obat ini terutama merangsang beta reseptor dari bronchus,
dan tidak begitu merangsang jantung. Dapat dipakai sebagai
nebulizer.
e
. Ephedrin
Meskipun lebih lunak khasiatnya dari pada isoproterenol dan
epinephrine, tapi mempunyai keuntungan oleh karena aktip
dengan pemakaian oral, dan mempunyai khasiat untuk waktu
yang lebih lama (3 6 jam). Dosis orang dewasa ialah 25 mg
tiap 4 6 jam.
2. Bronehodilator lain
a.
Theopylin
Ini obat mempunyai khasiat bronchodilatasi dan diuretik, dan
menstimulasi baik susunan saraf pusat maupun sistim pernafa-
san. Daya bronchodilatasinya ialah melalui sistim adenyl-cy-
clase ATP. Theophylin kurang larut dan diabsorbsi dari tr.
gastrointestinal. Pemakaian rectal juga mungkin, dan cara ini
mengurangi gejala sampingan
sebagai rangsangan pada tr.
gastrointestinal, tapi pemakaian suppositoria yang berlehihan
dapat menyebabkan proctitis.
Gejala sampingannya adalah : nausea, muntah, sakit epigas-
trium, palpitasi, agitasi dan konvulsi. Kalau diberikan IV
harus pelan-pelan selama 10-0,15 menit supaya tidak terjadi
hipotensi dan cardiae-arrest. Urticaria dan pruritis dapat juga
terjadi sesudah pemberian IV., meskipun jarang.
h.
Aminophylin
lni adalah campuran dari ethylenediamine dengan theophylin,
yang lebih dapat larut dari theophylin, dapat dipergunakan
12
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
secara oral, dan lebih baik diabsorbsi dari tr.gastrointestinal
dari pada theophylin. Campuran ini mempunyai khasiat bron-
chodilatasi yang besar, dapat dipakai untuk pengobatan IV
yang kerjanya lebih cepat. Untuk pengobatan IV dosis untuk
orang dewasa ialah 250 -500 mg, yang diberikan dengan
pelan-pelan. Dosis dapat diulang tiap 6--8 jam.
Anak-anak lebih sensitip terhadap obat ini, dan dosisnya tidak
boleh meiebihi 3--5 mg/kg berat badan untuk tiap 8 jam.
Aminophylin telah dilaporkan sebagai sebab kematian pada
asthma anak-anak. Karena itu untuk mencegah hal ini perlu
diketahui jumlah dari aminophylin yang diberikan secara oral
dan rectal disamping IV.
3. Ekspektoran
Mukus bronchial dikeluarkan oleh glandula bronchus dan sel
goblet dalam epithelium bronchus. Keduanya dirangsang oleh
rangsangan-rangsangan, tapi glandula bronchus juga dapat
dirangsang melalui sistim vagal dan humoral (atropin). Fungsi
dari mukus tersebut ialah menahan dan mengeluarkan bahan-
bahan dan membasahi mukosa bronehus. Pada asthma bron-
chiale ditemukan produksi mukus yang berlebihan dengan kon-
sistensi yang lebih kental, yang dapat menyebabkan obstruksi
jalan napas, atelektasis dan mempercepat terjadinya bakteri-
bakteri tumbuh. Kalau terjadi peradangan, keadaan akan lebih
buruk lagi oleh karena akan terbentuk mukus yang lebih kental
lagi. Karena itu haruslah diusahakan agar mukus tidak jadi
kental dan lagi dapat dengan mudah dikeluarkan oleh cilia,
yang kemudian dikeluarkan dengan batuk. Maka adalah tidak
baik kalau rangsangan
batuk ditekan dengan obat-obatan,
kecuali kalau hal ini sangat merangsang, menjemukan penderita
dan tidak produktip.
Minum yang banyak sudah mempunyai khasiat mengencerkan
mukus, karena itu semua orang dengan serangan asthma bron-
dianjurkan supaya banyak minum.
a. Jodium
Bahan ini adalah yang sering dipakai sebagai ekspektoran,
mungkin oleh karena bronehus akan mengeluarkan mukus
yang lebih cair. Juga jodium dapat merubah substrat protein
dari mukus supaya dapat dihidrolisa dengan lebih mudah oleh
protease dari lekosit. Larutan jodium yang jenuh adalah
bentuk yang paling murah dan mungkin juga yang paling
efektip dalam pengobatan. Dosis orang dewasa ialah 10--15
tetes 4 kali sehari dan harus diminum dengan pengenceran
dalam air. Untuk anak-anak dosis adalah 1 tetes/1tahun
umur, 4 kali sehari. Jodium telah pula dimasukkan dalam
banyak obat-obatan asthma. Bahan-bahan campuran tadi rupa-
nya kurang merangsang tr.gastrointestinal dari pada jodium
sendiri, tapi khasiatnya akan berkurang. Pada orang dengan
status asthmatieus, dimana penderita tak dapat makan obat,
ada preparat jodium yang dapat diberikan dengan jalan IV
yang dimasukkan dalam eairan
yang
sedang diberikan per-
infus. Gejala sampingannya ialah perasaan bau logam, nausea,
muntah, pyrosis, erupsi kulit bentuk acniform, parotitis, ko-
ngesti nasal, erythema nodosum, urticaria, panas-panas, dan
angiitis. Pada anak-anak yang mendapat jodium untuk jangka
waktu yang panjang pernah ditemukan goiter. Meskipun jarang,
hypothyroidism dapat terjadi karena pemakaian jodium un-
tuk waktu yang lama.
SANGAT
MENGESANKAN ! !
Tensimeter (sphygmanometer) elektronik OMRON, buatan Jamanouchi Pharma-
ceutical Co ., Ltd.
Tak memerlukan stethoskop.
Setiap orang dapat mempergunakannya dengan mudah.
Mengukur tekanan darah lebib teliti dan lebih tepat oleh karena
mempergunakan transistor2 dan integrated circuit, sehingga tak terdapat faktor individu lagi.
Sangat mengesankan didalam kamar praktek dokter.
Dapat pula dipergunakan untuk mengukur sendiri tekanan darah di rumah sebagai
penunjuk kesehatan.
Data teknis :
Model
:
HEP 1
Ukuran luar kotak
:
tinggi 47.0 X lebar 70.0 X panjang 150.0 mm
Pengukur berdasar
: aneroid meter system
Batas-batas pengukuran :20 hingga 300 m Hg
Sumber kekuatan
: batu battere, DC, 9 volt , 006 P
yang mudah diperoleh
Tersunpan didalam kotak dengan bahan nilai-nilai tekanan darah normal sesuai
dengan usia.
OMRON
ELECTRONIC
SPHYGMOMANOMETER
Sole Distributor: P.T. Kalbe Fanna
Dapat dibeli pada: Cabang2 P.T. Kalbe Fanna seluruh lndonesia.
MODEL HEP -1
Cermin
Dunia Kedokteran No.
6,
1976.
1 3
b. Glyceryl guaiacolate
Ini disebut juga Robitusin , 100--200 mg 4 x sehari, dapat
dipakai pada orang sakit yang tak tahan jodium tapi daya
ekspektoransianya lebih kecil dibandingkan dengan jodium.
Bahan ini telah banyak ditemukan dalam banyak obat-obatan
asthma. Gejala sampingannya belum banyak diketahui kecuali
mengurangnya adhessiveness dari thrombosit karena itu tidak
dianjurkan dipakai pada orang sakit dengan diathesis perdarah-
an dan tukak lambung yang aktip.
c. Bromhexin
Ini adalah obat ekspektoransia yang baru. Cara kerjanya diduga
oleh karena depolimerisasi dari mukopolysacharide protein
dengan berat molekul yang tinggi.
d. N.acetylcysteine atau mucomyst ®
Bahan ini aktip baik pada sputum yang purulen, maupun yang
tak purulen. Larutan 10--20% sudah cukup untuk khasiat
mukolitiknya. Satu sifat yang kurang baik dari obat ini ialah
sifatnya yang kadang-kadang menyebabkan bronchospasme.
e.
Pancreatic-dornase
atau disebut dengan Dornavac
®
, adalah bahan mukolitik yang
lain. Pemakaiannya terbatas oleh karena hanya mencairkan
sputum yang purulen saja. Cara kerjanya ialah depolimerisasi
dari D
NA.
Bahan ini dapat dimasukkan melalui nebulizer.
Obat-obat sejenis didapat dipasaran dengan nama Danzen
®
,
Papase
®
, Proctase-P
®
.
4. Antibiotika
Pada asthma bronchiale dengan peradangan, pemakaian anti-
biotika adalah penting sekali. Kadang-kadang tanda peradang-
an seperti panas dan malaise tidak jelas. Untuk mengenal ada-
nya peradangan
kadang-kadang hanya dengan sputum yang
lebih kental dari biasa. Tanda lain ialah perubahan warna
sputum dari putih-abu-abu kekuning atau kehijauan. Dalam ke-
adaan demikian lebih baik lagi kalau dibuat kultur dari sputum,
tapi dalam praktek sehari-hari hal
ini sukar untuk selalu
dilakukan. Tetapi kalau sesudah pemakaian antibiotika masih
belum ada perbaikan, kultur dan resistensi dari sputum harus
dikerjakan. Bakteri-bakteri yang paling sering memegang pera -
nan disini ialah pneumococcus, streptococcus, dan Hemophi-
lus influenza. Biasanya preparat penieillin dan tetracyclin me-
rupakan obat-obat yang cukup baik.
5. Cortieosteroid
Obat ini merupakan obat yang mempunyai khasiat baik sekali
pada asthma bronchiale. Tetapi oleh karena ada gejala samping-
an, sebaiknya hanya dipakai bila jalan-jalan lain untuk me-
ngontrol penyakit yang akut atau kronik tidak berhasil, dan
dalam hal-hal dimana keadaan asthma bronchiale itu sangat
mengkhawatirkan hidupnya sipenderita. Bagaimana corticoste-
roid itu bekerja, belum diketahui dengan pasti, tapi diduga
oleh karena khasiat anti-inflamasi, dapat mengurangi edema
mukosa bronchus, dan menstabilisasi permeabilitas membrane
vaskuler. Dalam jumlah besar dapat pula menolong obat-obat
lain untuk melemaskan otot bronchus. Juga diduga dapat
memperbaiki keadaan
bronchus untuk lebih mudah dirang-
HEAD OFFICE :
Jl. Jend. A Yani (Pulo Mas) , Ph. 40549 Jkt.
BOOKSHOPS :
Jl. Cikini Raya 63, Jakarta
Jl. Salemba Raya 21, Jakarta
Jl. Braga 64, Bandung.
BUKU
2
KEDOKTERAN DAN FARMASI :
Gottlieb
: Pediatric Specialty
Board Review
1973 Rp. 8.400,-
Reece
: Manual Of Emergency
Pediatrics
1974 Rp. 7.000,-
Smith
: Zinsser Microbiology
1972 Rp. 19.900,-
Jawetz
: Review Of Medical
Microbiology
1974 Rp. 4.300,-
Dubos
: Bacterial Mycotic
lnfections Of Man
Rp. 6.600,-
Horsfall
: Viral Ricketsial
lnfections Of Man
Rp.
7.000,-
Platt
: Food In Hospitals
Rp. 2.000,-
Goodhart : Modern Nutrition ln
Health Disease
1973 Rp. 24.500,-
Ehlers
: Municipal Rural
Sanitation
Rp. 13.650,-
Wisch
: lnternal Medicine Spe-
cialty Board Review
Rp. 8.400,-
Jellinek
: Formulation Function
Of Cosmetic
Rp. 29.950,-
Balsam
: Cosmetics : Science
Technology Vol. 1 2 @
Rp. 24.000,-
Vol. 3
Rp.27.000,-
AMA Drug Evaluation
Rp.
16.000,-
Emboden : Narcotic Plants
Rp. 8.425,-
Willard
: Occupational Therapy
Rp. 10.475,-
Scott
: The Medical Annual
1973 Rp. 12.800,-
Gilbert
: Medicat State Board
Exam. Review 1 11
Rp. 14.000,-
Conn
: Current Therapy
1975 Rp. 14.700,-
Tracht
: Pathology Review
1972 Rp. 4.900,-
Anderson : Pathology Vol. ! 2
1971
Rp. 20.700,-
Ham
: Histology
1974 Rp. 17.350,-
Grant
: Grant s Atlas Of
Anatomy
Rp. 12.700,-
Donald
: General Urology
Rp. 4.080,-
Pillsbury
: Manual Of Dermatology
Rp. 11.550,-
Faust
: Clinical Parasitology
Rp. 17.850,-
Conn
: Current Diagnosis
1974 Rp. 19.500,-
Shubin
: Diagnosis Treatment
Of Shock
Rp. 6.150,-
Goodman/
Gilman
: Pharmacological Basis Of
Therapeutics
Rp. 9.000,-
Swidler
: Handbook Of Drug
lnteractions
Rp. 13.875,-
Gerraugty
Pharmacy Exam.
Review Book
1973 Rp. 5.250,-
Evaluation Of Drug
Interactions
Rp. 7.850,-
Burger
: Medicinal Chemistry
Vol. 1 2
Rp. 37.125,-
Frieden
: Ecg Case Studies
1974 Rp. 5.250,-
Julian
: Cardiology
1973 Rp. 4.000,-
Mountcastle: Medical Physiology
Vol. 1 2
Rp. 21.000,-
Woodbury : Pharmacology Review 1972 Rp. 4.900,-
Klemer
: Counseling ln Marital
Sexual Problems
Rp. 7.700,-
Toko Cikini buka nonstop dari jam 08
00
s/d jam 20
.00
.
Pesanan luar kota harap ditujukan kepada KALMAN
BOOK SERVlCE, Jln. Cikini Raya 63, Jkt. Disertai
ongkos kirim 5% (Min. Rp. 250,-)
Daftar harga gratis.
1 4
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
sang oleh beta stimulator. Kecuali untuk pengobatan, preparat
ini dapat juga dipakai untuk menentukan apakah keadaan itu
hanya asthma biasa atau keadaan yang sudah irreversible
Pemakaian obat yang cukup untuk 3--7 hari akan memper-
baiki keadaan asthma biasa, tetapi tidak dalam keadaan yang
irreversible seperti pada bronehitis, emphysema. Dosis untuk
maksud ini (suppressive) pada anak-anak ialah 2 mg/kg/hari
dan pada orang dewasa 40--80 mg sehari.
Kontraindikasi yang absolut untuk pemakaian eorticoid ialah
adanya varicella atau herpes simplex pada mata. Gejala sam-
pingan yang timbul biasanya adalah akibat pemakaian untuk
jangka waktu yang lama dan dosis yang terlalu besar. Untuk
mengurangi hal ini telah dianjurkan untuk memakai preparat
hanya selama 3--4 hari dalam seminggu, atau selang sehari
dan diberikan sekaligus dipagi hari. Dalam hal ini sebaiknya
dipakai preparat yang short acting. Gejala sampingan antara
lain ialah bertambahnya berat badan dan nafsu makan, edema,
euphoria, striae, perubahan badan yang Cushingoid, diabetes,
hipertensi, gastritis, osteoporosis, glaucoma, psikosis, hipoka-
lemia yang menyebabkan kelemasan, timbulnya lagi peradang-
an yang laten.
6. Obat-obat baru pada asthma bronehiale
a. Disodium
chromogl
Obat ini tidak diabsorbsi dari gastrointestinal, tapi bila diinha-
lasi, 10% diabsorbsi, dan obat dikeluarkan dalam bentuk asli.
Obat ini tidak mempunyai khasiat untuk bronchodilatasi atau
sebagai antihistamin. Dalam vitro, telah dibuktikan bahwa obat
ini dapat menghalangi keluarnya histamin dan SRS-A sesudah
adanya reaksi antara alergen dengan IgE. Peranannya mungkin
enzimatik, menghalangi reaksi yang terjadi dalam pengeluar-
an bahan-bahan mediator tersebut. Dari mekanisme ini, disang-
ka hanya asthma bentuk ekstrinsik saja yang akan dapat
ditolong, tapi dari praktek, bentuk intrinsik juga sering dapat
ditolong dengan obat ini. Dipasaran obat ini dikenal dengan
nama
INTAL®
dan belum didapat di Indonesia.
b. Diethylcarbamazine (Hetrazan
®
)
Obat ini sebetulnya adalah anthelmintik yang pada pengobat-
an tropical eosinophilia ternyata mempunyai khasiat menghi-
langkan bronchospasme. Tetapi penyelidikan lebih lanjut ter-
nyata merupakan tanda tanya. Juga ternyata obat tersebut
dapat menghalangi pengeluaran SRS-A tanpa merintangi reaksi
antara antigen dan zat anti.
c. Fenspiride
Dibuat di Peraneis, dinyatakan baik sebagai bronchodilator dan
nonsteroid, baik pada asthma akut maupun pada asthma
kronik. Cara kerjanya belum diketahui.
II. TlNDAKAN--TlNDAKAN YANG TlDAK KHAS
a. Melindungi dari faktor-faktor meteorologik
Makin meningkatnya polusi udara dianggap sebagai faktor
yang penting dalam banyak keadaan seperti bronchitis, em-
physema, asthma bronchiale yang mempunyai bronchus hi-
persensitip. Bagian meteorologi dapat meramalkan kapan -
kapan terjadinya udara yang berlebihan. Dalam hal ini orang-
orang yang sangat rentan seperti penderita asthma kronik,
kalau perlu dianjurkan untuk tinggal banyak dirumah, dengan
menutup jendela, dan menambah pengobatan bronchodilator,
banyak minum, istirahat dan mengurangi kerja fisik.
Faktor meteorologik lain seperti perubahan hawa yang men-
dadak, kelembaban udara yang meninggi, juga menambah be-
ratnya asthma. Mungkin ionisasi udara yang terjadi disini
yang menyebabkan beban berat bagi asthma. Nafas hawa
yang dingin, bagi banyak penderita asthma adalah suatu
rangsangan. Diduga hal ini merangsang melalui sistim vagal.
Hal ini dapat ditolong dengan memakai masker. Ada pula
bentuk masker yang mempunyai alat pemanas untuk maksud
tersebut. Pada penderita-penderita dimana faktor meteorolo-
gik tadi mempunyai peranan yang besar dalam timbulnya
serangan, maka sebaiknya mereka dianjurkan untuk pindah ke-
tempat yang lebih panas, kurang lembab dan tidak didaerah
industri.
b. Memperbaiki lingkungan rumah
Terutama keadaan kamar tidur harus diperhatikan. Ini tidak
boleh lembab. Kelembaban yang optimal ialah 40--50%. Kalau
kelembabannya rendah akan mengeringkan mukosa dari bron-
chus yang menjadi lebih mudah untuk dirangsang. Suhu yang
optimal ialah 20--22° C. Harus diperhatikan jangan ada peru-
bahan hawa yang mendadak. Kebanyakan penderita asthma
merasa lebih baik dengan AC, tapi ada beberapa yang justru
akan mendapat lebih banyak serangan. Bila mungkin dipakai
suatu air cleaner.
c. Kebiasaan merokok
Pada semua penderita asthma, sebaiknya dianjurkan untuk ti-
dak merokok, oleh karena hal ini merangsang bronchus dan
pula mengurangi daya tahan terhadap radang kuman. Telah
dibuktikan bahwa rokok merusak mekanisme mukosilier,
dan menghalangi phagocytosis alveoler. Juga tembakau sendiri
dapat bertindak sebagai perangsang pada asthma.
d. Latihan-latihan
Latihan-latihan ini terutama baik dalam pengobatan asthma
yang kronik. Latihan itu dapat berbentuk sebagai latihan
bernafas atau latihan biasa yang dimaksudkan untuk kesehat-
an umum. Latihan pernapasan, ialah untuk memperbaiki ven-
tilasi. Penderita dilatih untuk mempergunakan otot-otot abdo-
men yang dapat meninggikan tekanan intraabdominal, dengan
akibat dapat memindahkan diafragma dengan pasip keatas.
Sebaiknya latihan-latihan ini dilakukan pada waktu bangun pa-
gi hari, sebelum tidur dan pada permulaan serangan asthma.
Pada beberapa penderita hal ini dapat mengurangi beratnya
asthma, tapi pada banyak penderita .juga mempunyai faktor
psikologik. Latihan untuk kesehatan umum antara lain ialah
orhiba, berenang dll. Tapi hasil dari latihan-latihan macam
ini pada asthma belum banyak hasilnya.
e. Obat-obat yang dapat mempengaruhi timbulnya serangan
asthma
Antihistamin dan anticholinergie sebaiknya tidak diberikan
selama serangan asthma, oleh karena khasiatnya yang menge-
ringkan sekresi bronchus. Atropin meskipun mempunyai
khasiat sebagai bronchodilator, juga sebaiknya tidak diberi-
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
15
kan. Obat-obat antidepressi golongan monoamine oxidase
inhibitor, jangan diberikan oleh karena bila diberikan bersama-
an dengan simpatomimetik, yang biasa dipakai pada pengoba-
tan asthma akan menyebabkan timbulnya hipertensi.
Narkotik seperti morphine dan ureperidine mempunyai kha -
siat menekan pusal pernatasan, jangan diberikan pada waktu
ada serangan. Apalagi oleh karena morphine terkenal sebagai
histamin-releaser. Juga sedativa dan tranquilizer harus diawa-
si oleh karena dapat menekan pusat pernafasan. Asthma
janganlah dianggap sebagai ekspresi dari emosi, dan diberikan
tranquilizer begitu saja.
Banyak ahli berpendapat bahwa status asthmaticus adalah sua-
tu kontraindikasi untuk pemakaian sedativa dan tranquilizer
Obat-obat dengan khasiat anticholinesterase dapat menimbul-
kan wheezing oleh karena akan merintangi katabolisme dari
acetylcholine. Obat-obat ini dipakai pada pengobatan myas-
thenia gravis. Reserpin juga dapat menambah bronchospasme.
Mekanismenya belum jelas, mungkin sebagai histamin-relcaser.
Propanolol (Inderal
®
), suatu beta adrenergic blocking agent,
akan menambah timbulnya suatu serangan asthma.
III. TlNDAKAN YANG KHAS
Asthma yang alergik
Managememt allergi yang khas haruslah diikut sertakan dalam
pengobatan suatu asthma yang ekstrinsik dan yang campuran.
Kalau suatu alergen dapat dihindarkan seperti bahan yang
datang dari binatang (animal dander) maka dengan nenghin-
darkan binatang itu dari lingkungan, suatu perbaikan sudah
dapat dicapai. Tapi kebanyakan penderita adalah rcntan ter-
hadap berbagai macam alergen sehingga susah untuk mcnghin-
darkan seluruhnya.
Pada orang dewasa, inhalan adalah alergen terbanyak. Makan-
an jarang merupakan sebab dari asthma kecuali pada anak-
anak.
Keadaan rumah perlu diperhatikan, misalnya member-
sihkan
perabotan rumah dengan lap yang sedikit basah,
perabotan dikamar tidur sebaiknya hanya seperlunya saja, dan
bantal-bantal dibungkus dengan sarung plastik, demikian juga
kasur-kasur oleh karena akan menampung banyak debu.
Demikian pula halnya dengan selimut dll yang berbulu.
Bila jalan yang telah ditempuh tadi belumlah dapat mengon-
trol keadaan, maka tidak ada jalan lain kecuali memberikan
pengobatan khas yang disebut dengan hiposensitisasi atau dc-
sensitisasi atau imunisasi.
Asthma yang intrinsik (nonalergik)
Pengobatan jenis ini terutama dengan pemakaian obat-obatan,
tetapi juga semua tindakan-tindakan umum dan yang tidak
khas harus diperhatikan. Kadang-kadang imunisasi dengan
ekstrak dari bakteri membcrikan hasil yang baik.
Tetapi bukti-bukti yang lengkap tentang kemungkinan meka-
nisme imunologik disini belum dapat diberikan.
PENGOBATAN STATUS ASTHMATlCUS
Status asthmaticus ialah keadaan asthma yang berat dan tak
dapat ditolong lagi dengan epinephrine atau aminophylin. Ba-
nyak faktor yang mempengaruhi terjadinya status asthmati-
cus. Lebih kurang 50% dari para penderita ini disertai dengan
peradangan tractus respiratorius. Pemakaian aminophylin yang
berlebihan pada anak-anak telah menyebabkan terjadinya
kematian. Meskipun seorang penderita status asthmaticus
ada dalam ketakutan, ketidak-tenangan dan anxiety, pemberi-
an sedativa dan tranquilizer tidak dibenarkan, oleh karena
meskipun dosis kecil dalam keadaan demikian sudah cukup
untuk menyebabkan penderita masuk dalam keadaan respira -
tory failure.
Hiperventilasi telah menyebabkan banyaknya air yang
hilang lewat paru-paru. Pula oleh karena distress, sipenderita
tidak banyak minum. Dehidrasi menyebabkan cepat tebal dan
kentalnya sekresi bronchus. Hidrasi sebaiknya ditanggulangi
dengan infus. Pada orang dewasa 1000 cc diberikan dalam
2 jam pertama, seterusnya diberikan 3000 sampai 4000 cc
dalam 24 jam.
Aminophylin sebaiknya diberikan IV. sebanyak 250-500 mg
tiap 6 jam. Oleh karena penderita ada dalam keadaan hypo-
xemic, pemberian 02 diperlukan. 02 harus lembab untuk
menjaga iritasi mukosa bronchus.
Sebaiknya ditentukan
pH, pCO
2
, dan p0
2
darah sebagai pedoman dari pengobatan.
Bila tanda-tanda
peradangan nyata, antibiotika sebaiknya
diberikan. Ekspektoran harus diberikan dan kalau tak dapat
per oral, secara
IV.
Isoproterenol dalam bentuk nebulizer kadang-kadang dapat
memperingan keadaan. Corticoid dalam jumlah yang besar
sangat perlu dalam keadaan status asthmaticus.
Hydrocortison (Solu-cortef
®
) dapat diberikan IV. sebanyak
4 mg/kg dan diulang setiap 2--4 jam, dan kemudian dengan
pelan-pelan dihentikan dalam jangka waktu 7--I0 hari.
Kebanyakan penderita dapat ditolong dengan cara-cara
yang diberikan tadi. Tapi pada beberapa penderita, keadaan
terus memburuk dan terjadi respiratory failure. Yang perlu
diperhatikan sekarang ialah ventilasi yang adekwat dan men-
jaga jamgan sampai terjadi gangguan dalam keseimbangan asam-
basa darah.
Pada saat ini maka diperlukan kerja sama antara ahli-ahli
alergi, anestesi dan paru.
Bila pCO2 mencapai 65 mm Hg atau lebih, diperlukan ventilasi
buatan. Pemakaian intubasi trachea lebih baik dari pada
tracheostomi, oleh karena lebih mudah dan dapat menghindar-
kan semua kemungkinan komplikasi yang mungkin terjadi pa-
da tracheostomi.
Pula diperlukan monitoring electrocardiographic untuk menge-
tahui bila ada arrhythmia yang mungkin terjadi pada waktu
atau sesudah intubasi, dan hal ini diperlukan selama dipakai
pernafasan buatan. Selama ventilasi buatan, perlu ditentukan
berulang kali keadaan gas darah. Pula penyedotan sekresi
tracheobronchial harus dikerjakan. Kalau hal ini tidak dapat
berhasil untuk memperbaiki hypoxia dan hypercarbia, harus
difikirkan untuk melakukan bronchial lavage.
Meskipun respiratory failure mengutamakan koreksi ventilasi,
keadaan asidosis terutama kalau pH adalah 7,25 atau lebih
rendah memerlukan pemberian bahan alkalis untuk menghin-
dari segala akibat dari darah yang terlalu asam. Pada orang
dewasa 44-88 mEq Natrium-bikarbonat dapat diberikan IV.
Kematian pada asthma sering terjadi akibat status asthmaticus
yang irrevcrsible atau mendadak akibat bronchospasme dan
anoxia yang hebat.
16
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.