background image
Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Struktur Rawan Sendi
dan Perubahannya
pada Osteoartritis
Harry Isbagio
Sub Bagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang karak-
teristik dengan menipisnya rawan sendi secara progresif,
disertai dengan pembentukan tulang baru pada trabekula
subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru pada
tepi sendi (osteofit). Secara histopatologik proses OA ditandai
dengan menipisnya rawan sendi disertai pertumbuhan dan
remodelling tulang di sekitarnya (bony overgrowth) diikuti
dengan atrofi dan destruksi tulang di sekitarnya.
PATOGENESIS
Walaupun insidens OA meningkat dengan bertambahnya
usia, ternyata proses OA bukan sekedar sautu proses wear and
tear yang terjadi pada sendi di sepanjang kehidupan. Dikata-
kan demikian karena beberapa hal
(2)
.
1) Perubahan biokimiawi rawan sendi pada tingkat mole-
kuler yang terjadi akibat proses menua berbeda dengan yang
terjadi pada rawan sendi akibat OA.
2) Perubahan menyerupai OA dapat terjadi pada rawan sendi
percobaan berusia muda yang dirangsang dengan berbagai
trauma
seperti tekanan mekanik dan zat kimia.
Penyebab OA bukan tunggal, OA merupakan gangguan
yang disebabkan oleh multifaktor, antara lain usia, mekanik,
genetik, humoral dan faktor kebudayaan. Menipisnya rawan
sendi diawali dengan retak dan terbelahnya permukaan sendi
di beberapa tempat yang kemudian menyatu dan disebut
sebagai fibrilasi.
Di lain pihak pada tulang akan terjadi pula perubahan
sebagai reaksi tubuh untuk memperbaiki kerusakan. Perubahan
itu adalah penebalan tulang subkondral dan pembentukan
osteofit marginal, disusul kemudian dengan perubahan kompo-
sisi molekular dan struktur tulang
(3)
. (Gambar 1)
Gangguan
kondrosit
Perubahan komposisi
molekul & struktur
matriks rawan sendi
ETIOPATOGENESIS
Etiopatogenesis osteoartritis sampai saat ini belum dapat
dijelaskan melalui satu teori yang pasti. Telah diketahui bahwa
tidak ada satupun pemeriksaan tunggal yang dapat menjelas-
kan proses kerusakan rawan sendi pada OA
(5)
. Etiopatogenesis
OA diduga merupakan interaksi antara faktor intrinsik dan
ekstrinsik dan OA merupakan keseimbangan di antara faktor
etiologik dan proses jaringan. (Gambar 2)
(6)
.
FAKTOR RISIKO
Faktor risiko yang berperan pada osteoartritis dapat di-
bedakan atas dua golongan besar, yaitu
(7)
:
Gangguan fungsi
rawan sendi
Terjadinya fibrilasi
rawan sendi
Penipisan rawan sendi
Penyempitan celah
sendi pada rontgen
Stimulasi fungsi
osteofit
Perubahan komposisi
molekul & struktur
matriks tulang
Dibacakan pada : Temu Ilmiah Reumatologi 1998, Hotel Millennium,
Jakarta 12 Desember 1998
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 5
background image
Proses OA
Stabilisasi atau Perbaikan
Gambar 2. OA merupakan keseimbangan antara Faktor Etiologik dan
Proses Jaringan
1) Faktor predisposisi umum : antara lain umur, jenis kela-
min, kegemukan, hereditas; hipermobilitas, merokok, densitas
tulang, hormonal dam penyakit reumatik kronik lainnya.
2) Faktor mekanik : antara lain trauma, bentuk sendi, peng-
gunaan sendi yang berlebihan karena pekerjaan/aktivitas.
Beberapa faktor risiko tersebut mungkin saja ditemukan
pada satu individu dan saling menguatkan.
Dua mekanisme utama OA ialah gangguan biomekanik
serta gangguan biokimia
(8,9)
. Pada mekanisme pertama faktor
beban tubuh serta friksi dan kemampuan rawan sendi sebagai
bantalan tekanan mekanik yang memegang peranan utama.
Mekanisme kedua adalah terjadinya perubahan biokimiawi,
hal ini mungkin dapat menjelaskan terjadinya OA pada per-
sendian yang bukan tergolong sendi penopang berat badan.
Agaknya kedua mekanisme tersebut saling berinteraksi
(Gambar 3)
(10)
.
Umur
Jenis kelamin
Genetik
Faktor sistemik
Gambar 3. Faktor Etiopatogenesis OA
RAWAN SENDI NORMAL
Rawan sendi normal merupakan jaringan ikat khusus
avaskuler dam tidak memiliki jaringan saraf yang melapisi
permukaan tulang dari sendi diartrodial. Rawan sendi berperan
sebagai bantalan yang menerima (meredam) beban benturan
yang terjadi selama gerakan sendi normal dam meneruskannya
ke tulang di bawah sendi. Keunikan rawan sendi terletak pada
komposisi dan struktur matriks ekstraseluler yang terutama
mengandung agregat proteoglikan dalam konsentrasi tinggi
dalam sebuah ikatan yang erat dengan serabut kolagen
(collagen fiber) dan sejumlah besar air
(12)
.
omposisi rawan sendi normal mengandung hanya satu
jenis sel yang sangat spesifik yaitu kondrosit yang berperan
dalam mensintesis dan memelihara matriks ekstraseluler.
Matriks rawan sendi terutama mengandung kolagen, proteogli-
kan dan air. Kolagen merupakan molekul protein yang sangat
kuat; ada beberapa tipe kolagen pada matriks ekstraseluler
tetapi sebagian besar ialah kolagen tipe B. Kolagen berfungsi
sebagai kerangka bagi rawan sendi yang akan membatasi pe-
ngembangan berlebihan agregat proteoglikan. Proteoglikan
merupakan molekul kompleks yang tersusun atas inti protein
dan molekul glikosaminoglikan. Bersama-sama dengan asam
hialuronat, proteoglikan membentuk agregat yang dapat
mengisap air dari sekitarnya sehingga mengembang sedemi-
kian rupa membentuk bantalan yang baik sesuai dengan fungsi
rawan sendi. Bagian proteoglikan yang melekat pada asam
hialuronat adalah terminal-N dari inti proteinnya, pada
terminal ini juga melekat protein link. Terminal karboksi dari
inti protein proteoglikan merupakan ujung bebas yang mung-
kin berperan dalam interaksinya dengan matriks ekstraseluler
lainnya
(13)
. Proteoglikan merupakan susunan 3 globular utama
(G1, G2, G3) yang dipisahkan oleh perpanjangan segmen (E1
dan E2) yang membawa kondroitin sulfat (CS, pada domain
kaya CS) dan keratan sulfat (KS, pada domain yang kaya
keratan sulfat, pada segmen El dam sebagian pada domain
kaya CS). Pada domain G1 dam G2 serta LP (link protein)
terdapat struktur loop ganda yang disebut proteglycan tandem
repeat (RPT), selain itu pada domain Gl dam LP terdapat pula
bentuk loop lainnya yang disebut Immunoglabulin fold (Ig
fold) yang secara selektif berinteraksi dengan asam hialuronat
membentuk agregat (Gambar 4 dam 5)
(14)
.
Beban abnormal pada
jaringan normal
atau
Beban normal pada
jaringan abnormal
Kemampuan jaringan
untuk beradaptasi atau
berespons terhadap
gangguan atau
Kemampuan perbaikan
Faktor
Biomekanik
Predisposisi
Umum
Lokasi dan beratnya
Osteoartritis
Gambar 4. Struktur biokimia proteoglikan.
Di dalam rawan sendi normal, komponen matriks ekstra-
seluler walaupun lambat secara terus menerus mengalami
pergantian (turn-over), molekul tua akan diganti yang baru.
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
6
background image
Gambar 5. Ikatan antara proteoglikan dengan asam hialuronat dan link
protein.
Proteoglikan mengalami turn-over yang lebih cepat diban-
dingkan kolagen, karena proteoglikan lebih peka terhadap
enzim degradasi. Pada turn-over normal akan dilepaskan se-
jumlah besar fragmen proteoglikan yang menunjukkan bahwa
bagian yang terputus (cleavage) adalah pada inti protein di
tempat yang berdekatan dengan domain G1 dan G2 sehingga
memisahkan ikatan HA dari regio pembawa glikosaminogli-
kan. Degradasi makromolekul ini dikontrol oleh enzim pro-
teolitik yang disintesis oleh kondrosit
(2)
. Enzim proteolitik
yang berperan pada proses ini ialah Metaloprotease 1 (MMP1
atau kolagenase) dan Metaloprotease 3 (MMP 3 atau strome-
lisin). Aktivitas enzim tersebut dikontrol oleh inhibitor endo-
gen yang dikenal sebagai Tissue Inhibitor of Metalloproteinase
(TIMP)
(15)
. Kecepatan degradasi ditentukan pula oleh kadar
enzim sintesis dan aktivitas dalam jaringan.
Pada keadaan normal, proses degradasi dan sintesis harus
terkoordinasi secara reguler agar jumlah makromolekul tetap
terpelihara. Berbagai faktor berperan dalam menjaga kese-
imbangan antara proses degradasi dan sintesis matriks makro-
molekuler ini, tetapi secara in vivo kontrol mekanisme ini
belum diketahui secara pasti. Berbagai faktor anabolik dan
katabolik diketahui mempunyai kemampuan untuk mempeng-
aruhi metabolisme kondrosit dalam turn-over matriks rawan
sendi. Sitokin, seperti interleukin-1 (IL-1) dan tumor necrosis
factor-
(TNF-) merangsang sintesis enzim proteolitik dan
menginduksi degradasi kolagen dan proteoglikan yang secara
simultan menghambat sintesa proteoglikan. Sitokin ini ter-
utama disintesis oleh makrofag, yang lebih nyata pada keadaan
inflamasi sendi. Hormon pertumbuhan seperti transforming
growth factor (TGF-
) dan Insulin-like growth factor-1
(IGF-1) sebaliknya mempunyai efek anabolik terhadap meta-
bolisme kondrosit. Peranannya sangat unik karena tidak hanya
menstimulasi sintesis proteoglikan tetapi punya efek melawan
aksi IL-1 pada metabolisme kondrosit dengan menghambat
efek katabolik padsa rawan sendi
(16)
.
RAWAN SENDI OSTEOARTRITIS
Pada Osteoartritis hilangnya rawan sendi merupakan titik
sentral, rawan sendi secara bertahap akan mengalami degradasi
dengan penurunan progresif jumlah proteoglikan. Oleh karena
sintesis proteoglikan kolagen dan hialuronan meningkat pada
OA, berarti aktivitas kataboliknya sangat tinggi. Walaupun
mungkin penggunaan sendi berlebih merupakan faktor ter-
jadinya kehilangan rawan sendi tetapi peranan lysozom pro-
tease (Cathepsin) dan metalloprotease seperti stromelisin,
kolagenase dan gelatinase cukup besar. Banyak peneliti ber-
pendapat bahwa interleukin-1 sangat berperan pada prog-
resivitas kerusakan rawan sendi. Sitokin ini diproduksi oleh sel
mononuklear termasuk sel sinovia. IL-1 akan menstimulasi
sintesis dan sekresi dan stromelisin, kolagenase, gelatinase dan
tissue plasminogen activator. Diduga jumlah reseptor II-1 pada
kondrosit sangat meningkat, sehingga meningkatkan sensi-
tivitas terhadap IL-1. Growth factor berperan pada proses
perbaikan, faktor pertumbuhan ini akan memodulasi meta-
bolisme kondrosit baik pada faktor katabolik rnaupun pada
faktor anabolik. Growth factor tidak hanya meningkatkan sin-
tesa proteoglikan, tetapi juga mengurangi reseptor II-1 pada
kondrosit dan menurunkan degradasi proteoglikan. Kualitas
rawan sendi yang diperbaiki umumnya tidak sebagus rawan
sendi normal dalam menghadapi tekanan mekanik dan akhir-
nya sintesis proteoglikan akan merosot, kondrosit tidak mampu
lagi memelihara rawan sendi dan terjadilah stadium akhir dari
OA yang disertai dengan hilangnya seluruh rawan sendi.
Tabel 1. Uji Fungsi Rawan Sendi
Komponen yang dinilai
Anabolik
Katabolik
Kolagen tipe
Propeptide
Piridinolin
Proteoglikan
Epitop 3B3
Keratan sulfat
Protease TIMP
Stromielisn,
kolagenase
Sitokin
TGF
IL-, TNF-
PETANDA DIAGNOSTIK
Hingga saat ini diagnosis osteoartritis masih didasarkan
pada gejala klinik dan penemuan radiologik. Pemeriksaan
laboratorik tidak ada yang spesifik. Kekurangan dari diagnosis
yang didasarkan gejala klinik dan radiologik ialah penyakit
sudah berlangsung lama dan lanjut. Diagnosis dini dan peman-
tauan aktivitas penyakit diperlukan terutama untuk menilai
hasil pengobatan bila di kemudian hari digunakan obat yang
dapat menghambat perjalanan penyakit ini (Disease Modifying
Osteoarthritis Drugs = DMOA). Pada tabel 2 dapat dilihat ber-
bagai marker serum yang sedang diteliti, sayang sekali hingga
saat ini hasilnya belum spesifik dan masih diperlukan peneliti-
an yang lebih mendalam.
PENGOBATAN
Pengobatan OA yang ada saat ini barulah bersifat simpto-
matik dengan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) dikom-
binasi dengan program rehabilitasi dan proteksi sendi. Pada
stadium lanjut dapat dipikirkan berbagai tindakan operatif.
Pengetahuan tentang patogenesis OA mendorong para peneliti
untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat menghambat
perjalanan/progresivitas penyakit yang disebut sebagai
Disease-Modifying Osteoarthritis Drugs (DMOA), sayang
hingga saat ini obat tersebut masih dalam taraf penelitian.
(Tabe1 2)
(17)
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 7
background image
2. Ghosh P. Osteoarthritis and future prospects for management. Not
published.
Tabel 2. Obat-obatan pada Penatalaksanaan OA
3.
Kris Jasani M. Current issues and prospects in osteoarthritis. In Feng PH
et al (eds). Fourth Asean Congress of Rheumatology. Proc. 31
st
October
4
th
November 1993. Singapore : Communication Consultants 1993;
127-42.
Pengobatan simptomatik (* dalam penelitian)
Short acting
Obat antiinflamasi non steroid
Analgetik non-antiinflamasi (opioid, non-opioid)
Antispasmodik
Long acting
Depokortikosteroid infra-artikuler
Asam hialuronat infra-artikuler*
S-adenosilmetionin (SAM)*
Kondroitin-sulfat oral*
Glukosamin-sulfat (Dona)*
Orgotein intra-artikuler*
Diacerhein*
Avocado/soy nonsaponifiables*
4. Hutton CW. Osteoarthritis : The cause not result of joint failure? Ann
Rheum Dis. 48 : 948-61.
5.
Brandt KD. Osteoarthritis : Clinical pattern and pathology. On : Kelly
EH, Ruddy S, Spedge CB (eds). Textbook of Rheumatology 2
nd
ed.
Philadelphia: WB Saunders Co 1985; 1431-48.
6. Dieppe P. Osteoarthritis. Introduction. In : Klipel J, Dieppe J (eds).
Rheumatology. New York : Mosby. 1994; 7.2.1-6.
7.
Cooper C. The Epidemiology of osteoarhritis. In : Klippel J, Dieppe P
(eds). Rheumatology. New York : Mosby 1994; 18-24.
8.
Hertz AJ, Fischer ME, Brit G, et al (eds). The association of obesity with
joint pain and osteoarthritis. in the HANES data. J Chron Dis 1986; 39
(4) : 311-9.
9. Felson DT, Anderson JJ, Naimark A et at (eds). Obesity and knee
osteoarthritis. Ann Intern Med. 1988; 109 : 18-24.
10. Dieppe PA. Advances in osteoarthritis. In : Nasution AR, Darmawan J,
Isbagio H (eds). Rheumatology APLAR 1992 New York : Churchill
Livingstone 1992; 29-31.
Disease Modifying Osteoarthritis Drugs (* dalam penelitian)
Tetrasiklin*
Glycosaminoglycan polysulfuric acid (GAPS)*
Glycosaminoglycan peptide complexes*
Pentosan polysulfate*
Growth factors dan sitokin (TGF-()*
Tetapi genetik*
Transplantasi stem cell den Osteochondral Graft*
11. Kalim H. Rawan Sendi. Dalam : Noer MS dkk (ed) Buku Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I. Edisi 3. Jakarta: PAPDI 1996; 7-11.
12. Pelletier JP, Pelletier JM.B. Articular cartilage. In : McCarty DJ,
Koopman WJ (eds). Primer on the Rheumatic Diseases. 10
th
ed. Atlanta :
Arthritis Foundation 1993; 8-11.
13. Pooled AR. Cartilage in health and disease. In : McCarty DJ, Koopman
WJ (eds) Arthritis and Allied Conditions. 12
th
ed. Philadelphia : Lea &
Febiger 1993; 279-334.
14. Hardingham TE, Fosang AJ. The Structure of aggrecan and its turn over
in cartilage: J Rheumatol 1995; (suppl 43) 22.
15. Shinmei M, Kabayashi T, Yashihara Y, et al (eds). Significance of the
level of carboxy terminal type II procolagen peptide, chondroitin sulfate
isomers, TIMP and metalloproteinase in OA joint fluid. 1 Rheumatol
1995; (suppl 43) 22 : 78-81.
16. Campion B, Watt I. Imaging and laboratory investigation. In: Klippel J.
Dieppe P (eds). Rheumatology. New York: Mosby 1994; 7.5.1-14.
KEPUSTAKAAN
17. Lozada CJ, Altman RD. Management of Osteoarthritis. In : Koopman
WJ (ed). Arthritis and Allied Condition. 13
th
ed. Baltimore: William &
Wilkins 1997; 2013-26.
1.
Brandt KD. Osteoarthritis A. Epidemiology, pathology and pathogenesis.
In: Schumacher HR, Klippel JH et al (eds). Primer on the Rheumatic
Diseases. 10
th
ed. Atlanta: Arthritis Foundation 1993; 184-8.
Chance generally favours the prudent
(Joubert)
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
8