Artikel
ULASAN
Sekelumit Mengenai Obat Nabati dan
Sistim Imunitas
Djoko Hargono
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini dunia, khususnya dunia Barat mulai me-
malingkan kembali perhatiannya ke alam, yang terkenal dengan
semboyannya back to nature, mengikuti jejak dunia Timur,
khususnya Asia yang sampai detik inipun masih tetap meman-
faatkan obat-obat dalam dalam upaya-upaya pelayanan
kesehatan di samping obat-obat farmasetik.
Kembalinya perhatian dunia Barat ke obat-obat alam ini ti-
dak lain adalah karena kembali tumbuhnya kepercayaan masya-
rakat Barat bahwa obat-obat alamiah, termasuk obat-obat nabati,
dapat memberikan peranannya dalam upaya pemeliharaan, pe-
ningkatan dan pemulihan kesehatan serta pengobatan penyakit.
Di samping itu diyakini pula bahwa obat-obat alamiah kurang
memberikan efek samping jika dibandingkan dengan obat-obat
farmasetik.
Obat-obat alam, termasuk obat-obat nabati diakui masya-
rakat mempunyai peranan dalam upaya-upaya pemeliharaan,
peningkatan dan pemulihan kesehatan maupun pengobatan pe-
nyakit didasarkan atas pertimbangan, bahwa menurut pandang-
an Sistem Pengobatan Tradisional, obat-obat alam, termasuk
obat-obat nabati, dapat mèmpengaruhi mekanisme pertahanan
alamiah tubuh
(2)
. Mekanisme pertahanan alamiah tubuh itu
meliputi reaksi-reaksi spesifik maupun reaksi non spesifik yang
berperan dalam proses eliminasi penyebab penyakit, khususnya
mikroba.
SISTEM IMUNITAS
Pada hakekatnya sistem imunitas tubuh terdiri atas tiga
bagian, dimulai dan bagian luar sampai ke bagian dalam tubuh,
yakni:
1) Pertahanan terluar disebut pertahanan barier epitel (kulit
dan selaput lendir).
2) Pertahanan lapis ke dua disebut mekanisme pertahanan
(sistem imunitas) tak spesifik, yang meliputi
a) Sistem komplemen.
b) Fagositosis.
3) Pertahanan lapis ke tiga merupakan reaksi-reaksi imuno-
logik.
Dengan sistem imunitas seperti diuraikan di atas, maka jika
mikroba mampu menembus ketiga sistem pertahanan tubuh ter-
sebut, barulah mikroba penyerang berkembang dan tubuh pen-
derita mulai merasakan akibatnya, yaitu menderita penyakit
yang ditimbulkan oleh mikroba yang bersangkutan.
Pertahanan terluar yang disebut pertahanan barier epitel
merupakan lapisan jaringan sel epitel. Lapisan jaringan sel epitel
ini dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai macam
mikroba, sehingga terjadi koloni-koloni mikroba yang menem-
pel pada lapisan sel-sel epitel tadi. Jika jumlah mikroba tersebut
cukup banyak, maka mulailah mikroba itu berupaya menembus
ke dalam tubuh. Jika mampu menembus barier pertahanan la-
pisan pertama ini,maka mikroba tadi akan mulai masuk ke dalam
tubuh dan berhadapan dengan sistem pertahanan lapisan ke dua,
yang terdapat di dalam tubuh. Dalam sistem pertahanan lapisan
ke dua ini terdapat pula suatu sistem enzim yang kompleks dan
merupakan kandungan cairan tubuh pada umumnya. Sistem
enzim yang kompleks ini disebut juga sistem komplemen. Di
samping itu dalam sistem pertahanan lapisan ke dua ini termasuk
pula sel-sel fagositik yang terdapat baik di dalam jaringan-
jaringan tubuh maupun darah. Sistem komplemen dan fagosit
inilah yang bertanggung jawab atas upaya eliminasi mikroba
yang berhasil menembus sistem pertahanan lapisan pertama tadi.
Selanjutnya jika sistem pertahanan pertama dan ke dua tidak
mampu menggagalkan penetrasi mikroba tersebut, maka tinggal
sistem pertahanan lapisan ke tiga yang harus menggagalkan
penetrasi mikroba tadi lebih lanjut; sistem pertahanan lapisan ke
tiga ini mengerahkan limfosit-limfosit yang mampu mengerahkan
reaksi-reaksi imunologik. Berbeda sekali dengan mekanisme
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
5
sistem pertahanan pertama dan ke dua yang tidak membeda-
bedakan mikroba yang masuk, maka reaksi-reaksi imunologik
yang dikerahkan oleh limfosit lebih selektif tertuju kepada
mikroba patogen saja.
Sistem komplemen tersebut merupakan suatu sistem enzim,
yang terdapat baik dalam plasma darah maupun cairan tubuh
pada umumnya. Reaksi sistem komplemen ini terhadap mikroba
patogen yang masuk berupa aktifitas untuk :
a) Memobilisasi fagosit.
b) Menstimulasi terjadinya fagositosis (opsonisasi).
c) Menginaktifkan mikroba secara langsung.
d) Mengeliminasi agregat-agregat imunitas.
Sistem komplemen ini mengandung 12 komponen, yang dapat
diaktifkan dengan cara cascade (air terjun), yakni proses peng-
aktifan suatu komponen oleh kompleks imunitas sedemikian
rupa, sehingga komponen tersebut memiliki kemampuan untuk
mengaktifkan komponen-komponen terkait berikutnya secara
berurutan; setiap molekul komponen yang telah diaktifkan
sanggup bereaksi lagi terhadap molekul komponen berikutnya,
begitu seterusnya
(2,4)
.Seperti halnya sistem penggumpalan, proses
pengaktifan sistem komplemen tergantung pada adanya kation-
kation divalen dan sangat diatur oleh inhibitor-inhibitor yang
terlarut maupun yang terikat pada sel.
Selanjutnya sistem komplemen ini terdiri atas tiga unit
fungsional (jalur aktifasi), yaitu:
a) Unit fungsional (jalur) klasik (Komponen-komponennya:
Cl, C4, C2, C3; ion Ca
2+
/Mg
2+
).
b) Unit fungsional (jalur) alternatif (C3b, fB, fD, fP; Mg
2+
).
Kedua unit fungsional tersebut merupakan unit fungsional yang
berfungsi sebagai aktivator.
c) Unit fungsional (jalur) terminal (C5, C6, C7, C8 dan C9).
Jalur ini merupakan unit fungsional efektor biasa.
Unit fungsional (jalur) terminal ini diaktifkan oleh enzim-
enzim kompleks yang terbentuk sebagai hasil proses aktifasi
jalur klasik dan jalur alternatif. Pengaktifan oleh unit fungsional
(jalur) klasik tergantung pada adanya antibodi-antibodi tertentu
yaitu IgM dan lgG, sedang unit fungsional (jalur) alternatif dapat
diaktifkan oleh adanya mikroba atau kombinasi antara mikroba
dengan antibodi. Pengaktifan komplemen baik yang melalui unit
fungsional klasik maupun unit fungsional alternatif tersebut akan
menyebabkan perubahan letak molekul-molekul C3 yang ter-
dapat pada permukaan benda yang sedang mengaktifkan, yaitu
mikroba. Molekul-molekul C3 tersebut bersifat sangat opsonik
(menstimulasi terjadinya fagositosis). Selanjutnya pengaktifan
unit fungsional terminal dalam sistem komplemen ini menyebab-
kan terbentuknya senyawa-senyawa hasil uraian C5, yakni C5a
yang sebagian besar merupakan zat-zat yang dapat memobilisasi
fagosit dan di dalam apa yang disebut senyawa-senyawa kom-
pleks penyerang membran (C5b-8[9]
n
) dapat membunuh langsung
mikroba gram negatif. Sedang mikroba gram positif yang ter-
tutup oleh dinding sel yang ker umumnya tidak sensitif ter-
hadap proses pembunuhan oleh sistem komplemen
(1,2,4)
.
Fagosit dan fagositosis
Fagositosis adalah proses penyerapan dan eliminasi mikroba
atau partikel lain oleh sel-sel khusus yang disebut fagosit. Fagosit
adalah sel-sel darah putih atau sel-sel yang berasal dari sel-sel
darah putih tersebut, yang terdapat di dalam aliran darah.
Fagosit itu terdiri atas dua kelompok, yaitu:
1) Granulosit (lekosit polimorfonuklear) : 70% jumlah sel
darah putih.
Kelompok ini terdiri atas tiga macam fagosit, yaitu:
a) Netrofil (menghasilkan senyawa yang dapat melepaskan
oksigen reaktit) : 68% jumlah sel darah putih.
b) Eosinofil: 1% jumlah sel darah putih.
c) Basofil: 1% jumlah sel darah putih.
2) Agranulosit (sel-sel mononuklear) : 30% jumlah lekosit.
Kelompok ini terdiri atas 2 macam, yaitu:
a) Limfosit: 25% jumlah lekosit.
b) Monosit/makrofag : 5% jumlah lekosit.
Ciri-ciri serta fungsi lekosit polimorfonuklear (PMN),
monosit atau makrofag yang berasal dari monosit itu sangatlah
berbeda satu dengan yang lain. PMN mempunyai waktu paruh
(half life) pendek, kira-kira hanya 2 hari dan yang dianggap
sebagai pemberi komando pembunuhan, sedang monosit rata-
rata waktu paruhnya kira-kira 3 bulan. Umumnya diakui bahwa
PMN hanya dapat melakukan fagositosis terhadap partikel-
partikel yang telah mengalami opsonisasi (stimulasi fagositosis)
oleh antibodi bersama dengan komplemen, dan makrofag dapat
melakukan endositosis tanpa opsonin atau dengan komplemen
jika ada opsonin (pada jalur alternatif). Zat-zat utama yang ikut
berperan dalam proses pembunuhan mikroba melalui proses
fagositosis oleh PMN adalah senyawa-senyawa yang dapat
menghasilkan oksigen reaktif, seperti anion superoksida, hidro-
gen peroksida, radikal hidroksil dan hipokiorit. Sebagian besar
komponen makrofag yang membunuh mikroba adalah oksida-
oksida nitrat. Lagi pula makrofag memiliki kaitan langsung
dengan sistem imunitas spesifik, memenuhi peranan sel-sel yang
menunjukkan determinan-determinan esensial antigen (yaitu
mikroba-mikroba) terhadap sistem imunitas. Terbentuknya
senyawa-senyawa yang menghasilkan oksigen reaktif oleh PMN
dapat diketahui secara in vitro dengan menggunakan suatu
luminometer, karena atom-atom oksigen yang terbentuk
mengeluarkan sinar
(1,2,4)
.
PENGARUH OBAT NABATI PADA SISTEM IMUNITAS
Obat alam, tenmasuk obat nabati dapat mempengaruhi
mekanisme pertahanan atau sistem imunitas tubuh, yang me-
liputi sistem irnunitas spesifik maupun non spesifik. Namun
pengaruh tersebut lebih tertuju pada sistem imunitas tubuh yang
tidak spesifik, suatu sistem imunitas yang terdiri atas komplemen
dan sel-sel fagositik. Pengaruh obat nabati tersebut dapat bersifat
meningkatkan (stimulasi) dan dapat pula bersifat menurunkan
(supresi) derajat imunitas yang bersangkutan. Obat yang dapat
meningkatkan derajat imunitas disebut imunostimulator, sedang
yang menekan atau menurunkan derajat imunitas disebut imuno-
supresor. Keduanya termasuk dalam imunomodulator yakni
obat yang dapat mengatur sistem imunitas (to modulate =
memodulasi = mengatur). Di samping imunostimulator dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
6
imunosupresor tadi maka imunomodulator mempunyai anggota
yang ketiga yakni imunorestorator. Imunorestorator adalah obat
yang dapat mengembalikan fungsi sistem imunitas yang ter-
ganggu
(1)
.
Untuk menunjukkan pengaruh obat nabati terhadap sistem
imunitas dapat dimulai dan upaya untuk menunjukkan pengaruh
sediaan-sediaan nabati tadi pada sistem komplemen dan sel-sel
fagositik
(2)
. Pandangan tersebut didasarkan atas pertimbangan
bahwa pengalaman mengenai cara-cara pengujiannya secara in
vitro sudah ada, dan cara pengujian tersebut relatif mudah pelak-
sanaannya. Di samping itu telah diketahui pula bahwa zat-zat
yang menghambat komplemen selain merupakan zat-zat yang
bersifat anti inflamasi ternyata juga bersifat menunjang respon
sistem imunitas spesifik, yang dikenal juga dengan sebutan
ajuvan imunitas (immune adjuvant).
Pengaruh obat nabati terhadap sistem komplemen yang
merupakan bagian dan sistem imunitas non spesifik itu dapat
dibuktikan melalui pengujian in vitro, dengan parameter proses
peruraian butir darah merah. Diketahui bahwa untuk mengin-
aktifkan mikroba, suatu antibodi memerlukan bantuan aktifitas
komplemen. Telah diketahui pula bahwa sistem komplemen
dapat diaktifkan melalui dua jalur, yaitu jalur klasik dan jalur
alternatif. Pengaktifan jalur klasik ini terjadi selain disebabkan
oleh adanya mikroba dapat pula terjadi karena adanya sel-sel
darah merah asing sebagai sel-sel target. Dalam uji in vitro ini
pengaktifan jalur klasik dilakukan dengan menambahkan sel-sel
darah merah domba untuk dijadikan sebagai sel-sel target. Na-
mun terlebih dahulu sel-sel darah merah ini perlu dibuat sensitif
dengan menggunakan antibodi-antibodi tertentu sebelum
digunakan untuk mengaktifkan jalur klasik tersebut. Untuk uji in
vitro ini yang digunakan sebagai sumber komplemen adalah
serum manusia yang telah diencerkan sampai derajat tertentu.
Agar dapat terjadi pengaktifan jalur klasik ini maka perlu ditam-
bahkan larutan buffer yang mengandung Ca
2+
dan Mg
2+
. Se-
lanjutnya pengaktifan jalur terminal dapat diketahui dengan
terurainya sel-sel darah merah domba tadi. Sementara itu peng-
aktifan jalur alternatif dapat dibuktikan dengan cara yang sama
yakni dengan menggunakan larutan buffer yang mengandung
Mg
2+
dan ion Ca khelat tertentu, sedang sel-sel darah merah
kelinci atau mencit digunakan sebagai sel target. Terurainya sel-
sel darah merah dapat ditunjukkan dengan terlepasnya hemo-
globin, yang kadarnya dapat ditetapkan secara fotometri.
Hambatan atau gangguan terhadap sistem komplemen oleh
obat nabati akan mengakibatkan proses aktifasi komplemen ter-
ganggu pula. Dengan demikian terjadi hambatan peruraian sel-
sel darah merah, sehingga kadar hemoglobin akan berkurang.
Jadi jika terjadi penurunan kadan hemoglobin setelah penam-
bahan obat nabati ke dalam pengujian tersebut, berarti obat nabati
tadi menimbulkan gangguan terhadap sistem komplemen.
Dengan menggunakan sistem yang sama telah dilakukan
pengujian terhadap sediaan-sediaan obat, baik yang berupa
senyawa murni hasil isolasi maupun fraksi ekstrak yang diper-
kaya kandungannya, keduanya bersumber dan ekstrak-ekstrak
tunggal tumbuhan. Pengujian dilakukan untuk mengetahui
besarnya pengaruh aktifasi komplemen atau emisi ringan yang
ditimbulkan oleh PMN yang telah terstimulasi oleh sediaan obat
tersebut. Sediaan obat tadi meliputi senyawa atau sediaan obat
nabati yang bersifat menghambat komplemen, anti inflamasi dan
antibiotik. Kelompok senyawa-senyawa yang menghambat
komplemen meliputi senyawa-senyawa bertipe khusus, yakni
oligopeptida siklik. Peptida-peptida siklik itu terdapat dalam
getah berbagai spesies genus Jatropha. Senyawa-senyawa yang
menghambat komplemen sebagian menunjukkan aktifitas se-
bagai ajuvan imunitas, sedang sebagian lagi merupakan senyawa
pembentuk senyawa kelat dengan Ca
2+
.
Senyawa yang bersifat anti inflamasi dapat diuji lebih lanjut
dalam suatu model in vivo dalam tikus terhadap artritis yang
disebabkan oleh kolagen. Terhadap obat-obat yang berdasarkan
pengamatan dalam pengujian ini tetap menunjukkan efek far-
makologinya walaupun telah dihentikan penggunaannya, perlu
diteruskan penelitiannya dalam sistem pengujian in vitro ter-
hadap artritis rematoid manusia. Jika hasilnya menunjukkan efek
yang diharapkan, maka senyawa ini dapat dijadikan sasaran
isolasi. Dengan cara ini kegiatan isolasi secara terarah (terpim-
pin) terhadap zat kandungan ekstrak tumbuhan dapat dilakukan.
Hal ini lebih memberikan keyakinan bahwa obat-obat nabati
memang berkhasiat, dapat diteliti dan dijelaskan mekanisme
kerjanya. Selanjutnya keberhasilan ini telah membuka jalan
untuk menemukan cara-cara standarisasinya, bahkan mendo-
rong diketemukannya senyawa-senyawa baru yang penting bagi
sistem pengobatan alopati
(2)
.
Obat-obat yang berpengaruh terhadap sistem imunitas non
spesifik merupakan obat-obat yang bersifat non antigen. Obat-
obat non antigen tersebut ada yang mempengaruhi sel-sel memor
(ingatan) imunologik dan ada pula yang tidak. Untuk yang tidak
dapat mempengaruhi sel-sel memoni, efek farmakologinya
menurun dengan cepat, oleh karena itu perlu digunakan secara
terus menerus (bersinambungan) atau dalam interval
(5,7)
.
Umumnya obat-obat nabati digunakan secara oral. Diduga
sekurang-kurangnya obat-obat ini berpengaruh pula terhadap
sistem imunitas mukosa. Sistem imunitas ini kurang lebih man-
diri, terlepas dan sistem imunitas sentral, dan memiliki jalan
masuk primer melalui sel-sel yang tidak menghasilkan lendir dan
terdapat dalam usus halus. Sel-sel ini disebut sel-sel membran
(sel-sel M). Jika antigen masuk melalui sel-sel M ini, maka
antigen tersebut dipindahkan ke simpul-simpul kecil getah bening
(lymph) di situ,yang disebut Peyer's patches dan bereaksi dengan
sistem imunitas mukosa. Umumnya antigen masuk ke dalam
tubuh secara oral juga dan diserap oleh sel-sel epitel normal.
Masuknya antigen dengan cara ini tidak menimbulkan respon
imunitas (tubuh toleran). Dalam hal ini antigen tadi terperangkap
oleh bulatan-bulatan kecil (microspheres) dengan ukuran tertentu
yang dapat mengalami biodegradasi, atau bergabung dengan
subunit B toksin kolera yang non toksik. Terperangkapnya anti-
gen oleh microspheres atau bergabungnya dengan subunit B
toksin kolera yang non toksik tersebut telah mendorong terben-
tuknya antibodi IgA mukosal. Karena itu baik microspheres
maupun subunit B toksin kolera tadi dianggap sebagai ajuvan
imunologik oral, yang mengarahkan antigen tersebut ke sel-sel
M. Membran sel-sel M mengandung suatu glikolipida (Gml
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
7
gangliosida). Senyawa ini menjadi perantara aktifitas stimulasi
imunitas subunit B toksin kolera, maka ekstrak-ekstrak tum-
buhan yang dinyatakan memiliki aktifitas stimulasi imunitas
dapat diteliti secara in vitro melalui reaktifitasnya terhadap sel-
sel yang mengandung Gml gangliosida tersebut. Dengan sistem
pengujian ini pula dapat diupayakan agar kegiatan isolasi zat
berkhasiat dan tumbuhan yang mengandungnya lebih terarah.
Demikian pula fraksi ekstrak yang telah diperkaya kandungan-
nya dan digunakan secara oral dapat diuji pengaruh stimulasinya
terhadap IgA
(2)
.
Untuk lebih memperjelas informasi tentang pengaruh obat-
obat nabati terhadap sistem imunitas ini, diberikan pula contoh
tentang pengaruh beberapa obat nabati terhadap imunitas tubuh,
antara lain misalnya obat-obat nabati dengan aktifitas tonika.
Ternyata obat-obat ini memiliki sifat meningkatkan imunitas
tubuh. Obat nabati yang termasuk kelompok ini misalnya Astra-
gali Radix, Codonopsis pilosula Radix dan Cordyceps sinensis
Radix. Berdasarkan penelitian terhadap pengaruh Astragali
Radix pada sistem imunitas tubuh, maka mekanismenya dapat
dikaitkan dengan adanya perubahan c AMP dan c GMP sebagai
akibat dan pengaruh obat nabati tersebut terhadap aktifitas enzim
adenil siklasa dan fosfodiesterasa, atau karena adanya pengham-
batan terhadap aktifitas RNasa (RI), yang mengakibatkan ber-
kurangnya katabolisme mRNA aktif, sehingga terjadi sintesis
limfokin-limfokin serta meningkatkan fungsi imunitas tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat hambatan yang
ditimbulkan oleh Astragali Radix terhadap RNasa bebas dalam
limpa dapat mencapai 59%.
Pengaruh Cordyceps sinensis Radix terhadap sistem imuni-
tas tubuh dapat ditunjukkan dengan cara memberikannya secara
intramuskuler kepada tikus dengan dosis 5 g/kg selama 4 hari.
Hasilnya menunjukkan bahwa indeks fagositik dan prosentase
fagositosis makrofag-makrofag peritoneal murina bertambah
secara nyata. Jumlah sel-sel Kupffer dan fagosit-fagosit dalam
getah bening bertambah. Demikian pula ekstrak (alkohol-air)
Cordyceps sinensis Radix dapat menyebabkan pembesaran
limpa. Bertambahnya DNA, RNA dan protein dalam limpa yang
membesar tadi secara bermakna dapat ditunjukkan. Penggabun-
gan 3H-TdR ke dalam DNA limpa in vivo serta proliferasi sel-
sel limpa dalam pembiakan in vitro dapat ditingkatkan dengan pe-
nambahan Cordyceps sinensis Radix. Lebih-lebih lagi Cordyceps
sinensis Radix merangsang E-RFC dan melawan hambatan ter-
hadap besarnya limpa serta E-RFC sel-sel limpa tikus yang
disebabkan oleh prednisolon dan siklofosfamida. Kenyataan-
kenyataan ini menunjukkan bahwa Cordyceps sinensis Radix
memiliki pengaruh imunopotensiasi. Obat-obat nabati seperti
Scutellariae Radix, Glycyrrhizae Radix dan Persicae Semen
sebaliknya memiliki sifat sebagai imunosupresor
(3)
.
Prof. H. Wagner juga melakukan penelitian terhadap pe-
ngaruh obat nabati pada sistem imunitas tubuh tersebut. Tum-
buhan yang diteliti antara lain adalah Uncaria tomentosa yang
berdasarkan informasi digunakan masyarakat untuk menyem-
buhkan luka. Diketemukan bahwa fraksi alkaloid yang diisolasi
dari tumbuhan tersebut menunjukkan aktifitas biologik.Diketahui
juga bahwa campuran alkaloid ini menunjukkan efek sitotoksik
atau imunosupresif pada kadar 10
-1
l0
-3
%. Hal ini menunjuk-
kan bahwa sesuatu obat yang dalam keadaan normal bersifat
sitotoksik dapat menjadi imunostimulan jika diberikan dalam
bentuk yang sangat diencerkan. Kenyataan ini dapat pula ditun-
jukkan pada emetin-HCI, yang seperti diketahui sampai sekarang
aktifitas biologiknya yang dikenal hanyalah sebagai amubisid
dan ekspektoran. Ternyata sampai batas tertentu berdasarkan
laporan Vidal (1952), Hanisch dkk (1966), Del Puerto dkk (1968)
dan penelitian yang dilakukan oleh Bauer (1979) dengan fibro-
blast embrio mencit yang diinfeksi dengan virus cytornegalo,
emetin menunjukkan aktifitas sebagai antivirus. Bauer (1984)
menunjukkan pula bahwa emetin yang digunakan selama empat
hari pada kadar lebih dan 10
-8
ug/ml mencegah efek sitopatik.
Alkaloid-alkaloid indol yang lain seperti hirsutina, hirsuteina,
speziofilina, gelsemina atau dihidrokorianteina menstimulasi
fagositosms granulosit pada kadar 10
-3
10
-5
%. Kemampuan sti-
mulasi ini tidak hanya terbatas pada alkaloid indol saja. Alkaloid
bisklaurina,yakni sefarantina yang berasal dan tumbuhan Stepha-
nia cepharantha dan S. susakii dilaporkan dapat menstimulasi
produksi antibodi (Sugiyoshi 1976; Kasajima 1974). Penelitian
terhadap aktifitas imunostirnulasi beberapa alkaloid ini telah
mendorong pula ditelitinya senyawa-senyawa seskuiterpenlakton,
yang termasuk kelompok lain senyawa sitotoksik kuat atau anti-
tumor, yang sebagian dinyatakan sebagai imunostimulan dan
sebagian lagi sebagai imunosupresor. Dalam hal ini H. Wagner
telah meneliti fraksi lipofil yang diperoleh dan tumbuhan Eupato-
rium perfoliatum dan E. cannabinum, yang dalam sistem peng-
obatan alopati dan homeopati digunakan sebagai obat influenza.
Diketemukan bahwa fraksi eter minyak tanah yang mengandung
senyawa-senyawa seskuiterpenlakton itu menstimulasi fagosi-
tosis pada kadar l0
-5
10
-6
%. Dan hasil penelitiannya pula di-
ketahui bahwa glikoprotein, polisakanida, nukleotida atau pro-
tein (peptida) tertentu merupakan senyawa-senyawa yang aktif
terhadap sistem imunitas. Banyak polisakanida yang bukan berasal
dan mikroba seperti agar, gom, lendir mampu menimbulkan
reaksi silang dengan serum antipneumokokus atau antisera yang
lain, dengan demikian observasi ini rnenunjukkan kemampuan
banyak polimer untuk berikatan dengan membran sel-sel yang
kompeten terhadap imunitas. Polisakanida-polisakanida yang
berasal dan fungi, lichenes dan algae yang bersifat imunostimu-
lator antara lain adalah:
1. Fungi : Glukan (zimosan, lentinan, pakiman, pakimaran,
skizofilan, krestin), manan (manozim).
2. Lichenes, Algae : Glukan (pustulan, linenan, isolikenan,
laminaran)
(5)
.
PENUTUP
Telah diuraikan mengenai sistem imunitas tubuh, bagian-
bagiannya, mekanisme penyerangan mikroba patogen terhadap
tubuh serta bagaimana tubuh dengan semua sistem imunitas yang
dimilinya berusaha untuk mempertahankan diri terhadap serang-
an kuman penyakit tersebut.
Selanjutnya telah diuraikan pula bagaimana pengaruh obat
obat alam, khususnya obat nabati terhadap sistem imunitas
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
8
tubuh, yang meliputi sistem imunitas spesifik dan sistem imuni
tas non spesifik itu. Ternyata pengaruh obat-obat nabati tersebut
lebih banyak tertuju kepada sistem imunitas yang tidak spesifik,
yang meliputi komplemen dan sel-sel fagositik.
Pengaruh obat-obat nabati tersebut ada yang bersifat me-
ningkatkan, namun ada pula yang bersifat menekan sistem imu-
nitas non spesifik. Yang bersifat meningkatkan sistem imunitas
non spesifik disebut obat-obat yang mempunyai pengaruh imuno-
stimulasi atau imunostimulator (immunostimulating agents),
sebaliknya yang bersifat menekan sistem imunitas non spesifik
disebut obat-obat yang memiliki pengaruh imunosupresi atau
imunosupresor (immunosuppressing agents). Di samping itu
terdapat pula obat-obat yang merestorasi sistem imunitas yang
terganggu atau imunorestorator. Ketiganya termasuk ke dalam
kelompok obat yang memiliki pengaruh imunomodulasi atau
imunomodulator.
Obat-obat yang mempengaruhi sistem imunitas non spesifik
merupakan obat-obat yang bukan antigen. Obat-obat ini ada yang
dapat mempengaruhi sel-sel memori dan ada pula yang tidak.
Yang tidak dapat mempengaruhi sel-sel memori efek farmako-
loginya berkurang dengan cepat. Karena itu untuk obat-obat ini
perlu digunakan secara terus menerus atau dalam interval.
Selanjutnya obat-obat yang menghambat komplemen dan
sel-sel fagositik (sistem imunitas non spesifik) merupakan obat-
obat anti inflamasi. Obat-obat ini sebaliknya menunjang terjadi-
nya respons imunitas spesifik.
Pengetahuan tentang imunomodulator ini masih perlu
ditingkatkan terus, karena dengan makin dikuasainya ilmu ini
akan sangat besar bantuannya bagi upaya pembangunan kese-
hatan masyarakat, mengingat tumbuhan obat sejauh diperhati-
kan pelestariannya merupakan potensi yang tak akan ada habis-
habisnya digunakan. Dan penggunaannya dalam pembangunan
kesehatan akan merupakan alternatif maupun suplemen bagi
kemoterapi konvensional dan profilaksi terhadap infeksi, tumor
maupun penyakit-penyakit autoimunitas, khususnyajika sistem
imunitas tubuh penderita lemah.
KEPUSTAKAAN
1. Baratawidjaja, Karnen Garna. Imunologi Dasar, Edisi kedua, 1991.
2. Dijk, H, van. Phytomedicines and the Immune System, 1994.
3. Kan Chan Wei, Wen Li. Recent Aspects of Immunopharmacological Study
of Chinese Medicine in China, 1989.
4. Roitt IM. Pokok-pokok Ilmu Kekebalan, 1990.
5. Wagner H. Immunostimulants of Fungi and Higher Plants, Definition,
Scope and Aims of Immunostimulants, 1984.
6. Wagner H. Immunostimulants from Medicinal Plants, 1985.
7. Wagner H. Recent Advances in the Research of 1nm Plant Drugs, 1989.
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
9