Sejarah dan Pengembangan Ilmu Bedah
Prof. Dr. Eri Soedewo
Guru--besar Emeritus dalam Ilmu--bedah Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga
.
Motto : (1) "Barang siapa tak mampu mengingat masa
lampau, nasibnya
akan harus
mengulangi"
(SANTAYANA)
(2) "Ojo dumeh !" (filsuf Jawa)
Sebagai pendahuluan saya utarakan sebuah ceritera Sahibul
hikayat, sbb :
Syahdan - kata
yang
empunya ceritera
Hindu
kuno - pada jaman
dahulu kala sekali, sewaktu segala sesuatu baru saja diciptakan; demi-
kian barunya sehingga para Dewa masih belum mempunyai nama-nama
dan Manusia masih
,
basah
,
dari tanah liat darimana ia diciptakannya;
Manusia menyatakan bahwa ia
pun memiliki sifat-sifat kedewaan.
Para
Dewa,
yang
juga pada waktu itu memliliki perasaan keadilan, memper-
timbangkan pernyataan
yang diajukan oleh Manusia, kemudian me-
mutuskan bahwa tuntutan Manusia adalah beralasan dan benar. Bahwa
Manusia
.
sesungguhnya merupai Dewa,
yang berarti bahwa ia berhak
untuk bebas dari hambatan
-
hambatan akibat naluri kebinatangan, dan
berhak untuk menikmati akibat
-
akibat daripada kelakuannya sendiri.
Namun, pada waktu itu
pun
telah diketahui bahwa para Dewa tidak
pernah memberikan sesuatu dengan cuma-cuma.
Maka kata ceritera selanjutnya sesudah para Dewa mempersoal-
kan tuntutan Manusia, dengan cara diam-diam mereka mencuri sifat
kedewaan tadi dengan maksud disembunyikan
di s atu tempat yang tak
mungkin ditemukan oleh Manusia.
Akan tetapi, menemukan tempat
demikian
yang
tepat, tidaklah mudah. Apabila disembunyikan pada
s atu tempat
di dunia ini, para Dewa memperkirakan bahwa Manusia,
s ebagai pemburu ahli, tak ada gunung
yang
tak didaki, tak ada hutan
yang
tak dilampaui, tak ada laut
yang
tak diarungi, sebelum ia menemu-
kan
yang
dicari. Apabila disembunyikan
di antara mereka sendiri,
mereka bahkan takut bahwa Manusia tak akan ragu-ragu akan mener-
jang jalannya sampai ke langit dan kayangan. Ketika mereka sedang
hangat-hangatnya mempersoalkan hal ini, berkatalah Dewa
yang paling
bijaksana,
yang di jaman kemudian akan disebut Dewa
Brahma :
"Saya
tahu. Berikanlah padaku!" Maka ia sungkupkan tangannya
di
atas api
s uci daripada kedewaan Manusia tersebut, dan sewaktu tangannya di-
buka lagi, maka hilanglah api itu dari pandangan. "Sudah, beres" kata
Brahma, "saya
telah sembunyikannya
di s uatu tempat
di
mana Manusia
tak mungkin memimpikan untuk mencarinya".
Brahma
ketawa
kecil,
"saya sembunyikan
di
dalam Manusia sendiri".
"Ha, ha, ha"
ketawa
para Dewa lainnya. Mereka bertanya, "
di
manakah dalam Manusia di-
s embunyikannya ?" Jawab
Brahma:, "
Biarlah, itu rahasiaku, dan
se-
baiknya agar tetap tinggal sebagai rahasiaku. Kecuali, apabila Manusia
s endiri dapat menemukannya!".
Ceritera Sahibul hikayat dan beberapa hal
lain
diambil dari Pidato
pengukuhan
Dr.
Eri Soedewo sebagai
guru
besar luar biasa dalam
llmu-bedah pada Fak. Kedokteran Universitas Airlangga
di Surabaya
pada tgl.
19
Desember
1970,
dengan judul "Ilmu Bedah Jantung
s elayang pandang
"
.
Didalam Sahibul Hikayat diatas digambarkan asal mulanya
prototip manusia: Manusia yang penuh dengan ambisi, tapi
penuh pula dengan rasa kepercayaan pada diri sendiri, yang
oleh Dewa-dewa digambarkan sebagai pemburu ahli yang di-
segani kawan dan lawan. Yang telah memutuskan, pantang
mundur untuk mencari, memburu dan menemukan yang ia
cari. Yang yakin, bahwa dirinya memiliki sifat-sifat yang lebih
dari biasa, "sifat-sifat kedewaan", yang ia harus temukan
kembali; yang makin menjadi tebal lagi keyakinannya, dikare-
nakan sukses-sukses yang dialaminya sepanjang perjalanannya.
Prototip tersebut menggambarkan seorang manusia tabib yang
dinamis dan penuh inisiatif, tidak lain ialah si ahli-bedah.
Si ahli-bedah
yang
dalam usaha dan perjalanan panjang dalam
mengurangi penderitaan sesamanya, menemui sukses demi
sukses; yang sebagai ilmuwan tak kunjung hentinya terus
memburu, menggali untuk mencari dan menemukan cara-cara
yang lebih unggul lagi, demi memperpanjang hidup manusia
bila mungkin menghindarkan manusia dari maut ( !? ). Karena
bukankah kemampuan demikian itu yang dimiliki Dewa ?
Sesudah pendahuluan di atas, marilah kini kita uraikan
Sejarah llmu-bedah. "Seni penyembuhan" mempunyai dua
cabang utama atau dua disiplin, yang terpisah, yaitu (1)
Ilmu penyakit-dalam, dan
(2)
Ilmu-bedah. Sesungguhnya
kedua disiplin tadi tidak dapat di-isolasikan satu dari lainnya.
Yang mula-mula menonjol adalah si Ahli penyakit-dalam; ia
menyembuhkan si penderita dengan nasihat-nasihatnya,
dengan penentuan apa yang boleh dan tak boleh dimakan,
dengan pemberian obat-obat. Ia telah mendapat pendidikan
kedokteran dan merupakan orang pandai dan terpandang.
Sedangkan si ahli-bedah mula-mula dipandang rendah; ia
dilihat sebagai orang pekerja-tangan dan ahli teknik: kerjanya
ialah memotong menggunakan alat pisau dan lainnya; ia tak
mendapatkan pendidikan medis pada universitas. Konsepsi
pada jaman dahulu ialah bahwa seorang yang bekerja dengan
tangannya tidak mungkin sempat untuk menggunakan atau
mempertajam otaknya. Ada masa dalam
sejarah dimana
profesi pembedahan dirangkap oleh seorang "barber
"
, yaitu
tukang-potong rambut. Pada banyak bala-tentara si-barber ini
pada pagi hari memotong rambut-kumis-jenggot para perwira
tentara dan sore harinya melakukan amputasi pada prajurit
terluka yang dibawa kembali dari medan pertempuran.
Kita ketahui sekarang, bahwa seorang chirurg jaman
modern memang tetap harus seorang ahli-teknik yang ulung,
1 2
Cermin Dunia Kedokteran
No. 21, 1981
namun ia pula harus memiliki jauh lebih banyak pengetahuan
daripada hanya merupakan orang tangkas dengan tangannya.
Ia terlebih dahulu harus menguasai ilmu kedokteran secara
keseluruhan, termasuk pokok-pokok dari ilmu penyakit-dalam,
sebelum ia diperbolehkan memperdalam dirinya untuk bisa
menjadi seorang ahli-bedah. Ia harus seorang lulusan Univer-
sitas, harus lulus menjadi tabib umum dahulu. Seorang ahli-
bedah kini bahkan dengan pekerjaan-pekerjaan klinik dan riset
memberikan sumbangan-sumbangan penting dalam ilmu medis;
bekerja dalam bidang-bidang non-teknik seperti bidang meta-
bolisme, kimia atau genetik.
Apabila perlu dicari perbedaan antara si ahli penyakit-dalam
dan si ahli-bedah, hal itu mungkin dapat ditemukan dalam
tanggung jawab yang harus dipikul si ahli-bedah dalam "mema-
suki" badan manusia guna menyembuhkannya dari penyakit.
Dalam melakukan pembedahan, selalu ada risiko, karena
diberikannya pembiusan
dan dilakukannya pemotongan
jaringan-jaringan. Karena itu dari seorang calon ahli-bedah
dituntut persyaratan-persyaratan tinggi: memiliki watak, moral
dan prinsip-prinsip yang utama, memiliki rasa peri-kemanusia-
an yang tinggi, kepribadian yang dapat dipercaya, disamping
ketangkasan tangannya.
Sukarlah sesungguhnya untuk memberi sebuah definisi
singkat bagi Ilmu bedah :
"Ilmu-bedah adalah seni dan ketangkasan penyembuhan
secara operasi manuil dengan menggunakan alat-alat pem-
bedahan. Ditambah dengan: semua ikhtisar non-operatif guna
mempertahankan kondisi optimal badan penderita sebelum,
sewaktu dan sesudah tindakan operasi".
Yang perlu disembuhkan oleh ahli-bedah ialah keadaan
penyakit akibat :
(1) Luka, karena: kecelakaan, perang ataupun akibat tindakan
pembedahan.
(2) Kelainan-bentuk (deformitas), karena bawaan-lahir atau-
pun lain.
(3) Kehilangan cairan-badan: darah atau air-badan.
(4) Infeksi, akibat invasi kuman-kuman penyakit.
Semua ikhtisar penyembuhan harus dilakukan dengan cara
yang menyebabkan trauma maupun kontaminasi kuman yang
seminimal mungkin.
Sejarah adanya penyakit, termasuk penyakit yang harus
dibedah, adalah sama lamanya dengan sejarah adanya manusia
di bumi ini. Dari sejak mula itu masih tetap dan sama adanya
penyakit-penyakit pokok seperti: luka, tumor, penyakit
bawaan-dari-lahir, infeksi. Untuk menyembuhkan pelbagai
penyakit tadi, mungkin kini dilakukan tindakan penyembuhan
yang lain, namun banyaklah cara-cara penyembuhan bedah
yang dilakukan sekarang adalah sama dengan cara dahulu.
Dahulu tidak ada cara pengobatan yang khusus disebut chirur-
gis, namun banyaklah cara-cara pengobatan jaman dahulu,
yang sekarang kita sebut chirurgis.
Kalau kita ingin membuat uraian tentang sejarah ilmu-
bedah, baiklah kita bagi itu dalam beberapa masa :
I.
Masa pra-sejarah, jaman purbakala sampai abad ke--V
II. Masa abad pertengahan, abad ke--V s/d abad ke--X1V
III. Masa Renaissance, abad ke--XV dan XVI
IV. Masa pra modern, abad ke--XVII dan XVIII
V. Masa modern, abad ke--XIX dan XX.
I. Masa pra-sejarah.
Sejak dari semula adanya manusia, si manusia ini bisa men-
dapat luka karena kecelakaan, karena terjatuh, diserang
binatang atau karena berkelahi; bisa mempunyai penyakit
tumor atau penyakit bawaan-lahir, dls. mendapat penyakit
yang sekarang disebut infeksi, atau giginya goyah, dls. Pada
jaman pubakala itu, katakanlah masa 3000 tahun SM (sebelum
masehi), belum ada yang disebut tabib yang profesional;
seluruh masyarakat adalah penyembuh. Timbulnya bisul,
adanya gigi yang goyah ditolong oleh kawan-kawan sehat yang
lebih berpengalaman: bisul dicoblos dengan batu tajam yang
dipanasi, gigi ditarik dengan dua potong besi yang diikat, d.l.s.
Cara-cara penyembuhan demikian bisanya disertai dengan
doa-doa kepada para dewa. Maka timbullah kemudian dukun-
dukun dan ahli-ahli penyakit tertentu. Bukti-bukti ditemukan,
bahwa pada jaman purbakala itu telah dilakukan tindakan
trepanasi untuk menyembuhkan penyakit ayan atau penderita
yang gila; bukti tentang sudah dilakukannya circumcisi;
bukti-bukti tentang penyembuhan patah-tulang, yang rupanya
di-"spalk". Luka diusahakan dijahit, perdarahan dicoba di-
hentikan. Manusia-manusia arif dalam masa itu agaknya
mengetahui pula, bahwa alam semesta sendiri merupakan
penyembuh yang amat utama. Luka dapat menyembuh sendiri
apabila si penderita beristirahat. Pada masa itu, manusia hidup
di dalam masyarakat-masyarakat kecil yang terpencil. Mungkin
tidak terlampau jauh dari suatu masyarakat kecil terpencil
ditemukan masyarakat lain yang memiliki tingkat kebudayaan
yang lebih tinggi, dimana anggota-anggotanya lebih berminat
mempelajari sifat-sifat kemanusiaan. Di situ akan ditemukan
pula ilmu pengobatan yang lebih maju. Dari situ, tergantung
dari kemungkinan komunikasi, tingkat menulis dan berbahasa,
minat bepergian, akan dapat meluas kebudayaan dan ilmu
pengetahuan, termasuk ilmu pengobatan. Apabila masyarakat--
masyarakat demikian menjadi musnah, akan musnah pula
kebudayaan dan kemajuannya.
Dari bangsa jaman purbakala yang kita ketahui sudah dini-
dini memiliki kebudayaan dan ilmu pengetahuan maju, adalah
bangsa Mesir, Hindu, Cina dan Yahudi. Mesir dan Hindu di-
kenal memiliki para ahli-bedah unggul, sedangkan Yahudi
dikenal karena ahli-ahli higiene.
Mesir dengan jaman kebudayaannya yang panjang memiliki
ilmu pengobatan yang unggul, termasuk ilmu-bedahnya.Dite-
mukan tulisan-tulisan kuno, antara lain Papyrus Edwin Smith
yang menguraikan ilmu pembedahan yang tertua, kurang lebih
1700 SM. Di dalam itu telah disebut: pengobatan bagi luka--
luka kecelakaan, fraktur, dislokasi, luka kepala, cara menyu-
nati (circumcisi). Tidak ditemukan bukti, bahwa ahli-bedah
waktu itu masuk ke dalam tubuh manusia. Walaupun sudah
diketahui cara-cara mumifikasi dengan mengeluarkan isi rongga
badan secara kasar; cara unggul, yang ternyata mampu meng-
awetkan badan manusia selama berpuluhan abad dan sampai
kini demikian dikagumi, waktu itu biasanya dilakukan oleh
pekerja-pekerja -tukang rendahan, yang tidak berpendidikan
medis. Diperkirakan, bahwa pengetahuan tentang anatomi di
Mesir pada waktu itu masih amat rendah.
Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981
1 3
Hindu purbakala juga meninggalkan warisan medis yang
kaya. Di dalam tulisan Susruta dibentangkan tentang beratus
alat-alat bedah. Para ahli-bedah India terkenal sudah mengenal
cara-cara vesico-lithiasis dan operasi bedah -plastik organ
hidung dan telinga.
Kemudian dikenal masa kebudayaan Yunani dan Alexan-
dria (kota), dari 500 - 100 SM. Jaman klasik ini berkisar se-
kitar kehidupan
Hippocrates (460 - 130 SM). Di sekolah
Hippocrates dipelajarkan ilmu bedah secara mendalam dan
meluas, dititikberatkan pada analisis yang logis dan rasio sehat
dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit, cara-cara meng-
obati luka, fraktur dan dislokasi. Hippocrates mengajar pula
satu dogma amat penting yang disebut "vis medicatrix naturae"
: betapa besar daya kemampuan untuk menyembuhkan yang
di miliki oleh alam semesta ! Kita harus meniru, bila mungkin
memperbaiki,
cara-cara alam
menyembuhkan penyakit.
Kemunduran negara Yunani dikarenakan perang Peloponnesia
menyebabkan pula kemunduran dalam bidang kebudayaan dan
ilmu pengetahuan. Kota Alexandria yang kemudian menjadi
masyarakat makmur dan maju (330 SM) menonjol dalam
memajukan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu bedah, karena
Sekolah Alexandria-lah yang pertama mengajar ilmu anatomi.
Pada masa inilah pertama dilakukan tindakan mengikat pem-
buluh darah (ligature) guna menghentikan perdarahan.
Kebudayaan Yunani -Alexandria diteruskan dalam jaman
Romawi (100 SM -- 500 AD). Celsus, ia sendiri bukan dokter,
banyak menulis tentang ilmu kedokteran. Kemudian seorang
ilmuwan bernama Galen muncul, menonjol dan menjadi amat
berpengaruh dalam abad-abad jauh sesudah jamannya, dengan
dalih-dalih "humoral" yang dikemukakannya, yang sedikit
banyak menyebabkan terhentinya kemajuan dalam ilmu bedah.
Menurut dalihnya, penyakit disebabkan oleh kelainan harmoni
daripada cairan badan "humor": empedu-kuning, empedu-
hitam, darah, phlegm. Penyakit demikian tidak dapat dibedah;
cara lain diperlukan guna memperbaiki harmoni. Kecuali bisul
yang mengandung nanah, yang dapat dikeluarkan dengan
pembedahan. Galen mengajarkan agar dapat sembuh, luka
sebaiknya bernanah dahulu. Dalam jaman-jaman sejak Masehi
selama berabad-abad ilmu bedah diketahui menjadi stagnant
dan baru mengalami kemajuan kembali belasan abad kemudian.
.
II. Masa Abad pertengahan.
Juga dalam masa Kerajaan Byzantine (500 -- 1000 AD)
ilmu kedokteran tidak menunjukkan banyak kemajuan.
Alexandria masih tetap merupakan pusat studi kedokteran.
Tulisan Paul Aegina masih menunjukkan adanya interesse
dalam ilmu penbedahan. Kemudian selama empat abad (ke--
VII -- ke --XI) berkembanglah Dunia Islam serta kebudayaannya,
yang membawa perkembangan Periode Kedokteran Arab.
Bangsa Arab mewarisi ilmu ketabiban dari orang-orang Nestori,
sebuah suku yang berkebudayaan tinggi, yang dikejar-kejar
oleh orang-orang beragama Kristen dan kemudian melarikan
diri untuk bersembunyi di padang pasir. Ilmu yang diwarisi ini
dikatakan berasal dari ilmu asal Yunani. Kebudayaan dan
ilmu pengetahuan Arab, karena diterjemahkan dalam bahasa
Yunani dan Romawi pada masa-masa kemudian, amat dikenal
di dunia Eropa Barat. Dalam jaman Arab ini dikenal beberapa
14 Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981
nama ilmuwan unggul, seperti Rasis (Abad ke--X), Avicenna
(Abad ke --XI) dan juga Albucusis, yang menulis buku tentang
pengobatan pembedahan, dimana diuraikan pula pengalaman-
pengalamannya yang mempunyai hasil-hasil baik. Ia banyak
menggunakan cara pengucuran halus pada luka infeksi; juga
pengikatan pembuluh darah banyak digunakan, dengan hasil-
hasil memuaskan. Kemudian ia mengintroduksi cara penyem-
buhan dengan metoda termokauter, menggunakan alat yang
dipanaskan, dengan hasil-hasil yang kontroversil. Kecuali
kegiatan -kegiatan para ilmuwan Arab tersebut, dapat dikata-
kan bahwa ilmu bedah pada jaman abad pertengahan ini
tidak menunjukkan kemajuan yang sungguh-sungguh. Hal ini
ditambah dengan gejala, yang sudah mulai sejak jaman Galen.
yaitu bahwa bidang ilmu bedah makin menjadi terpisah dari
ilmu kedokteran (penyakit dalam) pada umumnya. Kemundur-
an ilmu bedah, dan juga ilmu kedokteran umumnya, banyak
disebabkan karena makin berpengaruhnya gereja Kristen dalam
jaman abad pertengahan ini. Yang paling mempunyai ke-
mampuan dan kesempatan untuk mempelajari ilmu, kedokter-
an ataupun hukum, ialah para pendeta dan para biarawan yang
memang sudah harus belajar bahasa Latin. Kemudian pendirian
sekolah-sekolah
katedral
semacam universitas,
memberi
fasilitas lebih besar kepada para pendeta dan biarawan untuk
mendapatkan pendidikan tinggi. Tidak mengherankan bahwa
pada suatu masa bidang ilmu kedokteran dan ilmu hukum di-
jalankan oleh hampir semua pendeta gereja. Doktrin gereja
"Ecclesia abhorret a sanguine" (gereja mengharamkan darah),
menyebabkan ilmu bedah makin disingkiri. Derajat ilmu bedah
merosot; merosot pula citra si ahli-bedah. Pembedahan dijalan-
kan oleh para teknisi yang tidak memiliki pendidikan univer-
siter, dan mereka ini dipandang rendah oleh dokter penyakit
dalam. Pada waktu itu tidak disadari, betapa pemisahan ilmu
bedah dari ilmu kedokteran umum sesungguhnya merosot-
kan ilmu terakhir ini sendiri.
Baru dalam abad-abad ke--XII dan XIII gereja menyadari,
bahwa keterlibatan para biarawan gereja dalam ilmu-ilmu
(hukum dan ked
okteran) sesungguhnya tidak sesuai dengan
tugas gereja. Banyak pendeta dan biarawan demikian terlibat
dalam ilmu-ilmu.tadi, sehingga mereka tidak lagi mempunyai
waktu untuk menunaikan tugasnya sebagai pengabdi agama.
Si pendeta-dokter lebih melayani jasmani manusia daripada
rohaninya. Pada suatu waktu dikeluarkan peraturan yang me-
larang semua pendeta gereja untuk berpraktek hukum atau
kedokteran; peraturan demikian itu berlaku sampai jaman
sekarang. Sejak dikeluarkan peraturan tersebut, mulailah
membanjir orang-orang awam-bukan biarawan gereja meng-
ikuti ilmu pengetahuan di sekolah -sekolah katedral dan di
universitas awam yang mulai didirikan di sana sini.
Universitas pertama yang diketahui pendiriannya ialah
universitas di Salerno pada abad ke--IX dengan sekolah ke-
dokteran utama yang pertama. Keharuman Universitas Salerno
ini tetap semerbak hingga abad ke--XIII dan XIV. Buku
"Fabrica" tulisan Roger dari Salerno menjadi "textbook"
mengenai ilmu -bedah, yang digunakan selama berabad-abad.
Bersama muridnya bernama Roland, ia mengajarkan cara
jahitan sirkuler bagi penyambung usus; mereka meninggalkan
cara termokauter yang diajarkan kedokteran Arab; mereka
mengajarkan metoda menyembuhkan luka secara sekunder.
Pada jaman ini para ahli-bedah masih menganut ajaran Galen,
yaitu membiarkan luka mengandung nanah dahulu supaya
kemudian dapat menjadi sembuh.
Dua buah universitas lainnya didirikan di Itali, yaitu di
Padua dan di Bologna dan makin banyak lagi siswa-siswa
non-gereja mendapatkan ilmu-ilmu. Bologna-lah yang pertama
memasukkan bidang anatomi dalam kurikulumnya. Kemudian
mulai pula didirikan rumah-rumah sakit guna merawat orang
sakit, juga di Itali. Pada akhir-akhir abad-pertengahan oleh
gereja dibenarkan cara-cara penelitian medis, antara lain diizin-
kan otopsi pada jenazah di rumah sakit. Kejadian semua itu
merupakan sebab bahwa ilmu kedokteran mendapat stimulans
untuk dapat maju secara pesat. Amat disayangkan, bahwa
bidang ilmu-bedah yang masih tetap terpisah dari ilmu ke-
dokteran-umum dan masih dijalankan oleh orang-orang pe-
kerja-tangan yang tak berstudi, tetap tinggal stagnant. Sedikit
sekali dikenal nama-nama ahli-bedah, antara lain ialah Theodo-
ric. yang membuat kejutan, karena berani meninggalkan
ajaran Galen; ia menentang terjadinya pernanahan, sebaliknya
menganjurkan penyembuhan luka dengan applikasi obat-obat
lunak, atau kucuran bebas dengan larutan-larutan lunak.
Ia pula menganut ajaran, bahwa alam merupakan penyembuh
utama.
Sesudah Itali, kemudian Perancis menyusul mendirikan
universitas-universitas, yaitu di Paris, Montpellier dan Lyon.
Ahli-ahli-bedah terkenal ialah: Lanfranc, yang menentang
ajaran Galen: sebaliknya Guy de Chauliac, yang menulis
vademecum bedah "la grande chirurgie" merupakan pengagum
besar ajaran Galen dan kedokteran Arab. Ajaran de Chauliac
berpengaruh selama empat abad di Perancis yang berarti
merupakan faktor penghambat bagi ilmu-bedah untuk maju.
Bahwa ilmu-bedah dalam masa abad-pertengahan meng-
alami stagnasi, bahkan kemunduran, adalah jelas. Dua sebab
merupakan dasar bagi stagnasi ini, pertama: pemisahan ilmu-
bedah dari ilmu kedokteran umum; dan kedua: diabaikannya
ilmu anatomi. Para ahli bedah dipandang rendah oleh dokter,
pada umumnya tidak berpendidikan tinggi, dan mereka tidak
dibenarkan menjadi anggota masyarakat kedokteran. Semen-
tara itu pula timbul profesi "barber", tukang-potong-rambut
yang juga mahir dan diakui melakukan tindakan-tindakan
pembedahan, yang terutama bertugas banyak di dalam ke-
tentaraan. Ahli-bedah bersama barber tersebut mendirikan
assosiasi-nya sendiri, namun ilmu-bedah tetap tidak dapat
menunjukkan kemampuan untuk maju. Sebagai seni-bedah
mundur, sebagai ilmu pengetahuan berhenti. Sampai timbul-
nya pada suatu waktu dua kejadian yang akan merubah
jalannya ilmu bedah kemudian: yaitu pertama: ditemukannya
mesiu sebagai bahan peledak; dan kira-kira bersamaan dengan
itu: kedua: timbulnya minat hebat mempelajari anatomi.
Penemuan mesiu melipatgandakan ratusan kali jumlah pen-
derita terluka di dalam dan di luar ketentaraan dengan akibat
meningkat pula kebutuhan akan para ahli-bedah yang cakap
dan mahir. Mengenai ilmu anatomi, ilmu ini sudah diajarkan
pada sekolah-sekolah Hippocrates dan Alexandria, kemudian
menjadi sarna sekali diabaikan dalam masa abad-pertengahan.
Minat akan anatomi timbul kembali karena gugahan lukisan -
lukisan yang menonjolkan bentuk badan manusia oleh seni-
man-seniman termasyhur seperti Leonardo da Vinci dan
Michaelangelo, kemudian pula karena penemuan cetakan
buku. Pada masa akhir abad-pertengahan para ilmuwan men-
jadi yakin, bahwa pengetahuan anatomi mutlak harus dikuasai
sebagai dasar bagi ilmu kedokteran. Otopsi pada jenazah,
terutama yang sebab kematiannya mencurigakan, makin
banyak dilakukan. Universitas-universitas Bologna dan Padua
mengadakan teater-teater khusus dimana studi tentang anato-
mi diperdalam. Ahli-bedah merangkap ahli-anatomi Andreas
Vesalius-lah ilmuwan pertama yang menulis buku anatomi
terpenting jaman itu, yaitu "Fabrica" yang menjadi buku-
tuntunan selama berabad-abad. Ke
majuan ilmu anatomi
kemudian merupakan pendorong besar bagi kemajuan ilmu -
bedah.
III. Masa Renaissance, abad-peralihan
Masa renaissance (yang dalam kata berarti: lahir kembali)
merupakan masa transisi jaman lama ke jaman modern. Yang
menonjol ialah: desakan dan minat untuk menggali dan men-
cari apa yang sesungguhnya benar: tidak lagi mengikuti segala
sesuatu yang pernah diajarkan oleh masa lampau tanpa boleh
mempersoalkan benar atau tidaknya. Ilmu pengetahuan sudah
berada dalam tangan ilmuwan-ilmuwan muda non-gereja yang
dapat berpikir lebih bebas, menitikberatkan pada logika dan
rasio dan ingin ta
hu kebenaran. Martin Luther yang juga me-
rasakan banyak hal tidak masuk akal, melancarkan Reformasi
Protestant-nya. Studi ilmu anatomi yang lebih diperdalam
merombak sendi-sendi ajaran Galenis; ilmu fisiologi badan
manusia juga diperdalam. Andreas Vesalius yang menulis
buku masyhur "Fabrica" pada umur 28 tahun, merupakan
ahli-bedah sipil dan militer ternama, juga bertugas sebagai
ahli-bedah pribadi bagi raja Charles V. Di Jerman ahli-bedah
Paracelsus menonjol; ia merupakan penganut ajaran bahwa
alam adalah penyembuh utama; ia pernah disebut Luther-nya
dalam ilmu kedokteran. Ia pula antara lain merupakan salah
seorang penganjur kuat agar ilmu-bedah dan ilmu-penyakit-
dalam dipersatu-kembali, seperti keadaannya dahulu kala
dalam jaman Hippocrates dan Alexandria. Si teoretikus-ahli-
-penyakit-dalam harus bersatu dengan si penyembuh-ahli-bedah.
Sesungguhnya tidak mungkin orang menjadi ahli-bedah yang
utama tanpa menguasai ilmu kedokteran umum. Maka mulailah
diterima kembali para ahli-bedah dalam barisan ilmuwan
kedokteran umum dan mulailah terintis jalan bagi kemajuan
ilmu-bedah. Assosiasi barber-ahli-bedah mulai di kontrol oleh
ilmuwan-ilmuwan bertanggung jawab, pendidikan untuk
menjadi ahli-bedah dilakukan melalui kurikulum bedah dalam
pendidikan kedokteran. Seorang pengajar bedah ternama
adalah barber tak-berpendidikan dari Perancis bernama
Ambroise Pare yang menjadi dokter-pribadi bagi raja-raja
Perancis. la mengutuk cara-cara Gelenis, memilih pengucuran
bebas dan menganut aliran penyembuhan oleh alam; ia pula
menggunakan ligatur dalam perdarahan.
IV. Masa pra-modern, abad ke--XVII dan XVIII
sampai 1850.
Masa ini ditandai oleh intensifikasi studi dalam bidang anatomi,
Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981 1 5
patologi dan fisiologi, yang melahirkan ilmu kedokteran baru
dan kemajuan dalam ilmu pengetahuan umumnya. Nama-nama
ilmuwan yang sangat produktif dalam jaman ini adalah William
Harvey, John Hunter dan Morgagni. Ilmu-bedah yang akhir-
akhir ini makin mendekat pada ilmu kedokteran umum,
mengalami gerak maju dari stagnasi, disebabkan dua hal.
Pertama, pendidikan dan praktek bagi pembedahan dikelola
oleh profesi kedokteran; kedua, terjadi pengembangan maju
dari ketangkasan tangan dan teknik pembedahan. Orang-orang
yang lebih mengetahui tentang anatomi dan lebih mengerti
tentang seluk-beluk penyakit, kini melakukan pembedahan
dengan ketangkasan yang lebih mahir dan menggunakan alat--
alat yang lebih baik, serta kecepatan yang lebih tinggi; hal-hal
mana sangat mengurangi terjadinya gejala "shock" sehingga
memperkecil angka kematian pada penderita yang pada operasi
tidak dibius. Namun tidak ada prinsip-prinsip baru yang timbul
dalam masa dua abad ini. Dapat dikatakan, bahwa dalam masa
ini ilmu-bedah yang pernah stagnant, kini bergerak cepat
untuk mengejar keterbelakangannya dari ilmu penyakit-dalam.
Maka dipersiapkanlah dasar-dasar bagi lahirnya ilmu-bedah
mode
rn.
Dalam masa ini pula terjadi gejala kejutan-kejutan dalam
bidang sosial dan politik: Revolusi kemerdekaan Amerika
1776, Revolusi Bastille menentang feodalisme 1789 di Perancis
Revolusi mesin uap di Inggris. Timbulnya rakyat jelata yang
menuntut persamaan hak dan milik-materi. Walaupun pada
saat-saat kejadian itu pengembangan ilmu pengetahuan ter-
hambat, namun kemudian terciptakan suasana yang lebih
dapat men-stimulir pengembangan. Si rakyat jelata kini me-
nemukan kesempatannya untuk menuntut ilmu di dalam
universitas. Jiwa-bebas mempermudah pencaharian kebenaran
secara bebas pula. Maka berakhirlah pula dogma yang kurang
masuk akal yang pernah diberikan oleh para ilmuwan jaman
dahulu mengenai fenomena biologis.
Nama ahli-bedah ulung dalam masa ini adalah Larrey, ahli-
bedah dalam tentara Napoleon. Diceritakan pada hari-hari
pertempuran ia melakukan bedah amputasi pada prajurit
sebanyak lebih dari 200 kali. Cara pembedahannya yang cepat
menghindarkan terjadinya infeksi yang serius, dengan demiki-
an amat menurunkan angka mortalitas. Inovasi lain penemuan
Larrey ialah organisasi sistem-bedah-di-lapangan dan sistem
ambulans-lapangan, yang dapat dianggap sebagai permulaan
daripada sistem-bedah-militer jaman mode
rn kita sekarang ini.
Namun dapat dimengerti bahwa angka kematian di antara
prajurit terluka masih cukup tinggi, bila diingat bahwa waktu
itu belum diterapkan cara-cara pembiusan, pula belum di-
ketahui tentang anti- dan asepsis. Shock dan sepsis masih
banyak meminta korban dari mereka yang berhasil mengatasi
tindakan operasinya sendiri.
Maka dalam masa permulaan abad ke--XIX ilmu-bedah
telah kembali menduduki tempat yang kokoh disamping ilmu
penyakit-dalam, si ahli-bedah adalah seorang tabib terpelajar
yang disegani dan yang memiliki kemahiran pribadi, serta
menguasai ilmu anatomi dan patologi. Hanya dua hal yang
pada waktu itu merupakan rintangan untuk dapat pesat
majunya ilmu-bedah, yaitu anestesi bagi penderita dan metoda
antiseptis pada pembedahan.
V. Bedah modern : sejak tahun 1846.
Pengembangan ilmu-bedah sehingga membumbung setinggi
kita kenal pada jaman modern sekarang ini, dimungkinkan
karena dua peristiwa penemuan sangat fenomenal yang terjadi
dalam pertengahan abad ke--XIX :
(1) Anestesi.
Sebelum tahun 1840 tak pernah diberikan pembiusan kepada
pasien yang dioperasi. Maka tak terhitung jumlah penderita
yang mengalami shock karena kesakitan. Demikianpun si ahli-
bedah terpaksa tidak dapat melakukan tindakannya secara
tenang dan ha
rus berusaha menyelesaikan operasinya dalam
waktu sesingkat-singkatnya. Dokter pertama yang dikatakan
menggunakan pembiusan adalah Crawford Long di Amerika
pada operasinya tahun 1842; ia menggunakan ether sulfat.
Tahun 1844 dokter gigi H. Wells menggunakan nitrous oxide
untuk extraksi gigi. Tapi baru tahun 1846 oleh Morton dan
Warren di RSU Massachusetts dipertunjukkan ketangguhan
ether sebagai anestetikum pada operasi. Sesudah pertunjukkan
ini maka dalam beberapa bulan saja ether digunakan di seluruh
dunia untuk menunjang operasi-operasi kecil dan besar. Dalam
tahun 1847 oleh Simpson digunakan chloroform di Edinburgh.
Bagi kita yang tak dapat membayangkan tindakan operasi
tanpa pembiusan, amat sukar guna memperkirakan betapa
besar perbedaan yang dialami ilmu-bedah dengan penemuan
anestesi ini. Shock karena sakit lenyap, pasien terletak tenang
untuk dibedah, si ahli-bedah dapat melakukan operasinya
dengan tenang tanpa diganggu oleh gerakan dan teriakan si
pasien. Dalam jaman purbakala, untuk mencapai keadaan
demikian, si pasien terlebih dahulu dipukul kepalanya dengan
batu dan dalam keadaan pingsan baru diletakkan di atas meja
operasi. Dalam jaman pre-anestesi, apabila tersedia si pasien
diberi minum alkohol agar menjadi mabok dan kurang merasa
sakitnya.
Mula-mula pembiusan dilakukan secara inhalasi terbuka,
yang mencukupi hanya bagi operasi-operasi sederhana yang
tidak berlangsung terlampau lama. Operasi-operasi lebih
rumit
membutuhkan cara pembiusan lain guna mengurangi risiko
terhadap pasien. Maka terjadilah perkembangan anestesi ke
cara-cara
yang lebih "sofisticated" selama 50 tahunan
kemudian. Anestesi secara intratracheal diterapkan pertama
kali tahun 1878 oleh Mac Ewen, yang memasukkan pipa
melalui mulut ke dalam trachea. Kateter intratracheal ini me-
rupakan alat fenomenal bagi pengembangan ilmu anestesi.
Antara lain kateter inilah yang memungkinkan dilakukannya
pembukaan rongga dada untuk mengoperasi organ-organ di
dalamnya: paru-paru, jantung terutama. Menerapkan kateter-
intratracheal secara sistem-tertutup ditambah dengan meng-
gunakan tekanan positif secara intermittent, dapat mengatasi
problema-tekanan antara rongga dada dan luar, apabila rongga
dada dibuka. Tanpa ditemukannya kateter tersebut tak akan
mungkin dilakukan operasi-operasi pada paru-paru dan jantung
secara sempurna, seperti kita lihat sekarang ini. Cara anestesi
intratracheal tersebut kemudian disempurnakan dengan me-
nambah padanya: teknik insufflasi memberi zat oxigen,
akhirnya teknik absorbsi karbon-dioxida.
Sejak tahun 1884 mulai berkembang anestesi setempat,
sewaktu Koller menggunakan kokain pada operasi mata. Juga
1 6 Cermin Dunia. Kedokteran No. 21, 1981
tahun 1884 Corning secara tak sengaja.memasukkan kokain ke
dalam rongga sub-arachnoid dan melihat terjadinya anestesi
pada kedua tungkai pasien. Ketidaksengajaan tersebut kemudi-
an dapat dikembangkan menjadi anestesi spinal oleh R. Matas
di Amerika tahun 1899. Einhorn-lah yang tahun 1905 me-
nemukan prokain hidrokhlorida yang selanjutnya digunakan
sebagai anestetikum paling utama secara lokal atau regional,
sedangkan kokain akhirnya tidak lagi digunakan karena
bahaya adiksi.
Akhirnya dalam waktu kurang dari 50 tahun berkembang
anestesi menjadi bidang ilmu tersendiri. Bila pada permulaan
pembiusan dilakukan oleh dokter junior, asisten atau mantri,
akhirnya diperlukan dokter-dokter yang menguasai ilmu
fisiologi dan farmakologi, untuk dapat dipercayakan bekerja-
sama sebagai partner bagi ahli-bedah, sehingga yang akhir ini
dapat memusatkan diri hanya kepada teknik operasi, sedang-
kan keadaan pasien dikelola oleh anestetist. Ahli-bedah dan
anestetist merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-
-pisahkan.
(2) Antisepsis dan asepsis.
Dari sejak pertama-tama kali dilakukan pembedahan, empat
buah musuh kejam dihadapi oleh si ahli-bedah dan sampai
150 tahun yang lalu merupakan rintangan bagi ilmu-bedah
untuk dapat maju, yaitu: rasa nyeri, infeksi, perdarahan, dan
shock. Sampai 150 tahun y.l . para ahli-bedah segan sekali
untuk melakukan suatu pembedahan, apalagi apabila dianggap
tidak sangat diperlukan guna menolong jiwa. Jumlah operasi
di rumah-rumah sakit minim sekali. Angka kematian bagi
pembedahan amat tinggi, 40 sampai 60%. Menganjurkan se-
seorang untuk dioperasi sering kali berarti menjatuhkan
hukuman mati padanya. Apabila ia tidak mati dikarenakan
terjadinya perdarahan dan shock, maka sebab kematiannya
hampir selalu infeksi, gangren atau sepsis.
Rasa nyeri dapat diatasi dengan penemuan obat bius dan
prokain. Perdarahan biasanya dapat dihentikan apabila pem-
buluh yang terobek dapat diketahui dan dapat diikat. Infeksi-
lah yang sejak dahulu kala hingga waktu itu tetap amat mem-
bingungkan
para ahli-bedah. Praktis tiap pasien yang di-
operasi menjadi panas suhu badannya, luka operasinya menjadi
merah dan bengkak, kemudian memproduksi nanah; pasien
tampak lebih menderita. Apabila nanah tadi dapat dikeluarkan,
maka biasanya si pasien sesudah perawatan yang lama, bisa
menjadi sembuh. Tapi apabila tidak timbul pernanahan sering-
kali si pasien akan mati, dikarenakan sepsis. Karena itu men-
jadi tujuan bagi ahli-bedah yang melakukan operasi, agar
sesudah pembedahan justru timbul nanah, yang mereka
namakan
"
pus laudabile", kira-kira berarti: nanah ber-hikmah,
karena merupakan tanda kurnia-baik.
Hippocrates sudah dari semula menasehatkan agar pem-
bedahan dilakukan pada tempat dan dalam suasana yang
bersih; agar berhasil baik. Namun hampir tiap operasi ber-
akibat dengan infeksi dan pernanahan. Sampai waktu Lister,
para ahli-bedah mengira, bahwa infeksi luka sesudah operasi
disebabkan oleh faktor atau substansi kimia yang timbul di
dalam jaringan, sebagai reaksi karena ruda dan disintegrasi.
Mereka yakin bahwa sebab pernanahan datangnya dari dalam
jaringan; mereka tidak dapat memikirkan bahwa infeksi dapat
dikarenakan sebab dari luar badan penderita. Tidak ada pasien
yang sudah dioperasi di rumah sakit manapun yang tidak
mengalami infeksi. Mustahil terpikirkan, bahwa infeksi di-
sebarkan oleh si dokter, asisten atau si perawat, dari satu
pasien yang sudah terinfeksi kepada pasien-pasien yang baru
dioperasi, pada tiap penggantian balut luka. Pada tiga orang
ilmuwan jatuh kehormatan untuk menyingkapkan tabir
rahasia infeksi. Ketiga ilmuwan tadi: Pasteur, Lister dan Koch
adalah pengambil inisiatif bagi pengembangan ilmu bakterio-
logi.
Joseph Lister, seorang guru-besar ilmu-bedah di Glasgow,
membuat observasi, bahwa luka tertutup (kulitnya tidak ter-
robek) tidak pernah menjadi bernanah, sedangkan semua
luka berkomplikasi terbuka selalu akan bernanah. la menjadi
yakin, bahwa pasti terdapat agen-agen jahat di sekitar luka
yang kemudian akan menyebabkan pernanahan. Ia kemudian
membaca tulisan-tulisan Louis Pasteur tentang penelitian dan
teorinya mengenai adanya kuman-kuman bakteri yang dapat
menyebabkan pernanahan. Maka menjadi yakinlah Lister,
bahwa infeksi disebabkan oleh invasi kuman bakteri dari udara
luar, yang langsung dapat masuk ke dalam luka kecelakaan
ataupun luka pembedahan. Kuman juga dapat dimasukkan ke
dalam luka oleh instrumen atau benda lain, oleh jari-jari
dokter atau perawat, oleh balut-balut yang tidak mungkin bisa
bebas dari kuman. Lister kemudian mengemukakan teorinya
tentang antisepsis, memerangi infeksi, kira-kira tahun 1860.
Didukung oleh penemuan Pasteur tentang berbagai kuman
serta hubungannya dengan penyakit, ,Lister mengajar bahwa
infeksi datang sebagai kontaminasi dari luar. Ia mulai mem-
buktikan kebenaran teorinya dengan merawat luka-luka
terbuka dengan balutan asam karbolat, dengan mana ia ber-
hasil membunuh kuman-kuman dan menghindarkan terjadinya
infeksi. Kemudian ia mengambil tindakan-tindakan di dalam
ruangan perawatan agar tidak mungkin terjadi infeksi-silang
antara pasien satu dengan pasien lainnya. Akhirnya teorinya
dibawa pula ke dalam ruangan operasi, dimana segalanya:
meja-operasi, alat-alat, kain-kain dan badan pasien sendiri
disemprot dengan larutan asam karbolat, sebelum operasi
dimulai. Hasil-hasil yang ia capai sungguh mengagumkan;
infeksi terjadi jarang sekali. Pengalaman-pengalaman ini ia
publikasikan. Walaupun demikian, masih sukar sekali untuk
meyakinkan para ahli-bedah termasyhur lainnya akan kebenar-
an teori Lister. Baru 20 sampai 30 tahun kemudian cara-cara
Lister diikuti oleh lain-lain ahli-bedah. Tidaklah mengherankan
bahwa kemudian teknik-teknik bakteriologi diterapkan pula ke
dalam kamar operasi. Cara-cara penyemprotan dengan asam
karbolat diganti dengan persiapan aseptik terhadap semua
instrumen, kain dan tangan si ahli-bedah. Teknik aseptik ini
dikembangkan oleh Von Bergmann dan muridnya Schimmel-
busch. Kemudian teknik aseptik ini diterima di semua klinik,
menggantikan teknik antiseptik yang terdahulu dikemukakan
oleh Lister. Terhadap ke-dua kata antisepsis dan asepsis ini
terjadi suatu kontroversi semantik dan kontroversi yang mana
antara dua lebih utama. Dikatakan bahwa pengertian asepsis
adalah teoretis tidak mungkin: tidak dimungkinkan diciptakan
keadaan dimana sama sekali tidak ada kuman-kuman sebuah-
pun; kemudian, kata dan pengertian asepsis dapat membuat
si ahli-bedah menjadi lengah terhadap kemungkinan masih
Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981 1 7
dapat timbulnya infeksi. Sedangkan kata antisepsis mengan-
dung arti: memerangi dan kewaspadaan terhadap infeksi.
Akhirnya disetujui, kata manapun yang digunakan, pengertian
pokok ialah, agar seminimal mungkin terjadi kontaminasi
kuman pada luka operasi dan menghindarkan jangan sampai
kontaminasi-minim ini menjadi suatu infeksi dalam arti klinik.
Dalam hubungan pengertian asepsis ini perlu disebut nama
seorang ilmuwan utama lain bernama
Semmelweis, seorang
guru-besar obstetri di Wina dan Budapest. Ia meng-observasi
kesamaan antara wanita-baru-melahirkan yang mati karena
sepsis-puerpureal dan pasien-pasien yang mati karena luka
infeksi. Sepsis puerpureal tampak meningkat apabila para
mahasiswa yang bekerja di ruangan baru-melahirkan, baru
datang dari ruangan penderita infeksi atau dari laboratorium
patologi. Sedangkan, apabila si obstetrikus mencuci tangannya
secara seksama sebelum menolong kelahiran, dan semua alat
dan bahan yang digunakan diusahakan sebersih mungkin,
maka jumlah terjadinya sepsis akan minimal sekali. Semmel-
weis membuktikan, bahwa panas puerpureal disebabkan
karena septikemia. Ia orang kedua sesudah Lister yang disebut
sebagai penegak "teknik aseptik".
Sudah disebut diatas, bahwa empat musuh bebuyutan yang
sejak dari semula dihadapi ahli-bedah, yaitu: rasa nyeri,
infeksi, perdarahan dan shock. Berbagai hal dapat menimbul-
kan keadaan shock, namun tiga merupakan sebab utama,
yaitu yang sudah disebut lebih dahulu : nyeri, infeksi dan
perdarahan. Rasa nyeri dapat diatasi dengan menggunakan
pembiusan dan anestesi; infeksi diusahakan pemberantasannya
secara effektif dengan teknik anti- dan aseptik. Juga penghentian
perdarahan atau hemostasis sudah diusahakan sejak mula-buka
adanya pembedahan. Usaha pertama ialah menggunakan
tekanan dengan bahan yang diletakkan di atas luka, kemudian
ditekankan atau diikat. Kemudian digunakan cara kauterisasi:
membakar tempat berdarah dengan alat besi yang dipanaskan.
Lalu tiba masa digunakan ikatan ligatur yaitu ikatan dengan
jahitan benang. Metoda tourniket digunakan, dengan mengikat
lengan atau tungkai pada tempat sebelah proksimal dari
tempat berdarah. Cara-cara tersebut di atas masih dilakukan
waktu sekarang dimana keadaan mengizinkan, tapi cara utama
yang sudah menjadi lazim digunakan, ialah sejak ahli-bedah
Perancis Pean menemukan forceps arterinya: sebuah tang pem-
buluh yang tajam dan halus, yang bila dijepitkan pada tempat
berdarah menggigit jaringan secara minim; jaringan bersama
pembuluh yang berdarah kemudian diikat dengan sutera halus.
Walaupun kemudian ternyata masih ditemukan beberapa
hal yang dapat menimbulkan keadaan shock, pemberantasan
musuh-musuh: nyeri, infeksi dan perdarahan ternyata cukup
tangguh untuk menundukkan shock. Maka dapat dikatakan
bahwa sejak era Lister bagi ilmu-pembedahan tidak ada lagi
rintangan-rintangan yang dapat menghalanginya masuk ke
jaman modern dan berkembang membumbung setinggi yang
kita kenal sekarang ini. Bagi para ahli-bedah masa post-Lister
sepertinya tak ada batas-batas untuk melakukan macam
pembedahan apapun, karena tak perlu lagi ditakuti timbulnya
rasa nyeri, infeksi dan shock. Ahli-ahli-bedah yang ulung men-
dapatkan pengalaman yang tak terhingga nilainya. Hampir
semua cara pembedahan yang diketahui dan dilakukan jaman
sekarang, sudah dilakukan selama masa paroan ke-2 abad ke-
XIX.
"Petualangan" besar dalam era itu ialah masuknya si ahli -
bedah ke dalam rongga perut tanpa risiko, karena mengguna-
kan metoda aseptik, dan dilakukan secara aktif sekali terutama
di J
erman. Tahun 1883 Theodor Billroth di Wina melakukan
reseksi lambung karena kanker dengan hasil baik. Ia, kecuali
seorang ahli-bedah yang ulung, juga seorang guru yang utama
dan seorang peneliti yang tekun; sebelum menerapkan macam
operasi baru dicobanya dahulu pada anjing. Reseksi usus besar
karena kanker pula dilaporkan. Hampir tak ada organ atau
bagian badan yang tak bisa dilakukan pembedahan padanya,
kecuali didalam rongga dada, yang mula-mula belum berani
dibukanya, berhubung rintangan
dikarenakan
perbedaan
tekanan di dalam dan di luar rongga. Namun rintangan ini
tidak lama dapat menghalangi si ahli-bedah, manusia-pemburu
kawakan untuk menerobos dan masuk ke dalam rongga-dada
guna menemukan rahasia yang dicarinya.
Terbatasnya ilmu-bedah dari rintangan-rintangan nyeri,
infeksi, perdarahan dan shock belum berarti bahwa si ahli-
bedah dengan kemahiran tangannya sudah bisa menolong jiwa
semua pasien chirurgis. Teknik operasi merupakan hanya satu
dari lima rangkaian tindakan pembedahan, yaitu: (1) diagnosis
yang benar, (2) indikasi yang tepat untuk operasi, (3) usaha
keadaan optimal pre-operatif, (4) teknik yang baik pada pem-
bedahan, (5) usaha mempertahankan keadaan optimal post-
operatif. Baru, apabila ke-lima-lima syarat dipenuhi secara me-
muaskan, dapat dijamin akan hasil yang memuaskan pula.
Namun, apabila salah satu dari lima faktor di atas kurang
betul, maka hal itu akan mempengaruhi operasi berhasil atau
tidak, pasien akan sembuh atau mati. Sesudah era Lister,
sungguhpun angka mortalitas operasi menurun secara drastis,
namun masih tetap dalam rangka memrihatinkan. Hal ini
disebabkan, karena banyak hal dalam rangka ke-4 persyaratan
di atas tidak atau belum dipenuhi dengan baik. Dalam rangka
pemenuhan persyaratan itu, kini secara beruntun akan di-
uraikan :
(i) Sinar Rontgen
(ii) Golongan darah dan transfuri darah
(iii) Fisiologi, balans cairan dan elektrolit
(iv) Kemoterapi dan antibiotik
(i) Sinar Rontgen
Penemuan sinar-X oleh Rontgen tahun 1895 merupakan
tonggak baru dalam kemajuan ilmu kedokteran, khususnya
ilmu-bedah. Sinar-X dapat menembus jaringan jaringan badan
dan disebabkan perbedaan kepadatan berbagai jaringan mem-
berikan gambaran bayangan yang akurat sekali bagi penilaian
keadaan badan. Adanya patah tulang, adanya benda asing di
dalam badan secara mudah dapat dilihat. Kemudian ber-
kembang cara-cara mengisi alat pencernaan, pembuluh darah
dan rongga badan lain dengan cairan kontrast (barium, bis-
muth dll.) sehingga dapat tampak bentuk serta faal dari
berbagai organ. Pelbagai cara pemeriksaan dengan sinar-X
kemudian dikembangkan, yang semuanya sangat membantu
ahli-bedah dalam membuat diagnosis dan indikasi yang lebih
tepat, kemudian juga mengontrol apakah tindakan pembedah-
an yang dilakukan mencapai hasil yang direncanakan. Akhir-
1 8 Cermin Dunia Kedokteran No. 2I, I981
nya penerapan sinar-X ditujukan sebagai pengobatan, antara
lain: untuk memberantas penyakit kanker, terhadap terjadinya
pelekatan jaringan karena infeksi atau operasi, untuk meng-
hindarkan timbulnya jaringan keloid, untuk membunuh sel-sel
tertentu atau organ tertentu (ovarium) yang dianggap mem-
bahayakan. Rontgen memberi bantuan amat besar sehingga
ilmu-bedah dapat maju lebih pesat. Dalam jaman ultra-modern
ditemukan cara-cara yang lebih unggul lagi daripada sinar-X
untuk membuat diagnosis dan menentukan indikasi bagi
operasi:
(a) Ultrasonografi (USG): melihat gambaran bayangan
badan dengan menggunakan gelombang suara amat kecil.
Gelombang-gelombang ini dikatakan sama sekali tidak me-
ngandung bahaya, tidak seperti sinar-X, yang dapat merusak
sel-sel badan yang hidup, apabila dosisnya tinggi.
(b) CT-scanning, menggunakan alat elektronik yang amat
"sophisticated" yang amat mahal harganya; dengan alat ini
dapat diperoleh gambaran bagian badan dalam jurusan mana-
pun, dan dapat dilihat kelainan secara detail.
(ii) Transfusi dan penggolongan darah.
Diketahui dari sejarah bahwa tahun 1667 J.B. Fenis pernah
mentransfusi darah dari seekor kambing kepada manusia;
ia melakukannya sebanyak lima kali, dua diantara resipien
meninggal dunia. Tabun 1818 J. Blundell melakukan pertama
kali transfusi darah dari manusia ke manusia. Transfusi darah
menjadi populer dalam masa post-Lister, dengan Halsted
sebagai penganjur giat. Sebab-sebab kematian pada resipien
tidak dimengerti hingga tahun 1900 sewaktu Landsteiner
menemukan pokok-pokok golongan darah A, B, 0, AB untuk
mana ia kemudian dianugerahi hadiah Nobel. Dikatakan,
bahwa penemuannya ini merupakan sumbangan terbesar dalam
abad ke-XX ini bagi kemajuan ilmu-bedah. Ta
hun 1926 ia
menemukan golongan darah MN dan P. Ta
hun 1940 ditemu-
kan grup Rh. Penemuan-penemuan ini, kemudian pengalaman
yang didapat selama dua perang dunia dan perbaikan cara-cara
untuk mendapatkan, menyimpan dan mentransfusikan men-
jadikan transfusi-darah cara aman yang tak dapat lagi ditinggal-
kan pada tiap tindakan operasi, pre-, durante maupun post-
operatif. Dalam dekade-dekade terakhir di kota-kota besar
seluruh dunia didirikan bank-bank darah, yang lebih lagi
mempermudah dan menunjang keberhasilan ilmu-bedah.
(iii) Fisiologi terhadap ilmu-bedah.
Walaupun hubungan tak seerat seperti dengan ilmu anatomi,
namun tak mungkin pula pembedahan dilakukan dengan
sempurna tanpa dikuasainya ilmu fisiologi. Haller ahli-bedah
merangkap ahli-fisiologi adalah salah seorang penganjur ahli-
bedah untuk mempelajari ilmu-faal secara seksama. Terutama
dalam masa post-Lister disadari betapa pentingnya menguasai
faal-faal alat pencernaan, alat pernafasan dan organ-organ lain
untuk berhasilnya berbagai operasi besar.
Balans cairan dan elektrolit
Konsepsi "balans" telah ada sejak jaman purbakala. Sebelum
Hippocrates sudah dikatakan, bahwa kesehatan seseorang ter-
gantung dari kombinasi harmonis empat elemen: tanah -- air --
api -- udara; apabila salah satu berkurang atau berlebihan,
maka akan timbul penyakit. Tabib Cina kuno juga mengatakan
bahwa kesehatan tergantung dari keseimbangan antara Yin dan
Yang, yang jangan sampai terganggu. Dalam konsepsi ke-
dokteran Barat pun ditekankan keharusan akan adanya ke-
seimbangan cairan dan elektrolit di dalam badan. Apabila
badan kehilangan banyak air (dehidrasi) atau jaringan menahan
terlampau banyak air, maka terjadi penyakit. Demikian pula
akan terjadi penyakit, apabila oleh karena sesuatu sebab, salah
suatu elemen terdapat kurang atau kelebihan. Keadaan demi-
kian dapat diperhebat lagi apabila dilakukan pembedahan
pada orang itu. Karena itu, sebelum dan sesudah dilakukan
pembedahan perlu diketahui balans-balans tersebut tadi.
Karena itu pada tiap penderita operasi perlu diamati banyak-
nya cairan yang masuk diminum atau di-infus-kan dan yang
dikeluarkan, agar balans sebaik mungkin dipertahankan.
Balans yang terganggu dapat menggagalkan pembedahan yang
secara teknis telah dilakukan dengan sebaik-baiknya. Pemerik-
saan tentang balans cairan dan elektrolit ini pada masa-masa
terakhir sudah amat diperbaiki.
(iv) Kemoterapi dan Antibiotika.
Kisah kemoterapi modern dimulai dengan penemuan Paul
Ehrich yaitu salvarsan atau "606" (bahan arsenik), yang di-
gunakan secara gemilang dalam memberantas penyakit syphilis
(tahun 1910 bersama Sahachiro Hata). Alexander Fleming,
seorang ahli bakteriologi lain, menyelidiki fenomena pem-
berantasan kuman-kuman oleh kuman lainnya. Ta
hun 1921 ia
dapat memisahkan agens pemberantasan kuman yang ia sebut
"lysozyme", namun kuman yang diberantas bukanlah yang
berbahaya terhadap manusia. Baru tahun 1928 ia pisahkan
agens-jamur pemberantas stafilokok yang ia sebut penisilin.
Penemuan ini tidak segera menjadi terkenal. Baru sesudah
G. Fomagk menunjukkan berhasilnya penemuannya sulfona-
mide memberantas kuman-kuman, para ilmuwan menaruh
perhatian terhadap penisillin sebagai antibiotika. Sesudah ikut-
sertanya pabrik-pabrik Amerika secara komersiil, penisillin
sejak tahun 1940 dan dalam perang dunia ke--I dipergunakan
secara meluas dengan hasil-hasil yang mengagumkan. Dalam
dasawarsa-dasawarsa kemudian ditemukan antibiotika lain-
lainnya seperti streptomisin, khloramfenikol, eritromisin, d.l.s
.
Penggunaan obat-obat pemberantas kuman tersebut di atas
memungkinkan ilmu-bedah mencapai hasil-hasil yang hingga
waktu itu tak dapat dibayangkan. Sebaliknya pun benar,
bahwa pemakaian
obat-obat
antibiotika mengakibatkan
timbulnya problema tertentu sendiri: para dokter mengguna-
kan antibiotika secara berlebihan, secara kurang perlu, bahkan
sering menyalahgunakannya. Namun pada umumnya, anti-
biotika merupakan penolong terhadap manusia menderita.
Demikianlah kisah tentang ilmu-bedah masa periode post-
Lister, yang dapat berkembang terbang membumbung tinggi,
karena dapat
dilenyapkannya musuh-musuh penghalang
seperti rasa nyeri, infeksi, perdarahan dan shock; kemudian
ditemukannya cara-cara baru yang mendukung, membantu
serta memperlancar pembedahan, sehingga hampir selalu dapat
dijamin berhasilnya operasi apa pun dan betapa besarnya pun.
Untuk melengkapi kisah pengembangan ilmu bedah, terutama
dalam abad ke--XX, pada tempatnya diteruskan dengan uraian
mengenai: pengalaman PD ke--I dan ke--II, bedah syaraf dan
otak, bedah toraks dan jantung dan akhirnya mengenai bedah
transplantasi. Si ahli-bedah pencari ilmu belum puas dengan
hasil-hasil yang ia capai hingga sekarang, ia ingin terus mencari.
Cermin
Dania
Kedokteran
No. 21, 1981 1 9
Pengalaman Perang--Dunia ke--I dan ke--II.
Korban yang mati selama PD--I adalah dalam jumlah besar,
terutama karena luka-luka yang mengena rongga-rongga perut,
dada dan kepala. Pada waktu itu belum ditemukan obat-obat
antibiotika guna memberantas infeksi dan septikemia. Pada
kedua PD itu dapat makin disempurnakan organisasi pertolong-
an para prajurit di daerah pertempuran, melalui: stasiun pem-
balut di depan, cara pengangkutan penderita, rumah sakit
evakuasi guna perawatan dini, kemudian rumah sakit basis
guna perawatan lebih definitif. Juga menjadi cara umum yang
pasti, cara pengobatan terhadap luka-luka pertempuran, yaitu
(1) debridement dan toilet, berarti luka dibersihkan seseksama
mungkin dari semua jaringan mati dan benda asing, (2) pe-
rawatan terbuka, dan (3) penutupan tertunda, luka dijahit
-tutup baru pada fase kemudian. Cara tersebut terbukti cara
yang paling baik untuk menyembuhkan luka pertempuran
dalam waktu yang relatif singkat, apalagi sesudah dalam PD II
dapat diberikan obat-obat antibiotika.
Besar jumlahnya berbagai macam luka pertempuran di-
karenakan penemuan-penemuan baru senjata kecil dan besar,
memberi pula pengalaman yang amat berharga bagi beberapa
bidang bedah seperti: bedah rekonstruktif atau "plastik",
bedah ortopedik dan bedah syaraf-dan-otak. Tak terhitung
banyaknya prajurit yang terluka tangannya, kakinya, jari-jari-
nya, telinga, mulut, hidung dan matanya, yang harus dibentuk
kembali. Demikian pula halnya dengan kasus-kasus patah atau
kehilangan sebagian tulang. Neuro-chirurg sebelum perang
dunia hanya mengobati luka-luka-kepala-tertutup, penyakit
syaraf atau selaput otak. Luka-luka pertempuran memberi
padanya pengalaman mengobati luka pada otak sendiri dan
membuka jalan bagi pengembangan neuro-chirurgi seperti
yang kita kenal sekarang. Kemudian ada satu faset dari perang
dunia yang menguntungkan masyarakat luas, yaitu kembalinya
para ahli-bedah muda dari medan perang dan membawa ikut
serta pulang ke kota-kota-kecil-asalnya pengalaman-bedah
yang kaya. Sesudah PD ke--II, diperkaya dengan pengalaman
selama perang, ilmu-bedah makin menjadi agresif dan meluas:
seolah-olah kini tak ada batas-batas lagi dimana ilmu-bedah
tak mampu melakukan kegiatannya guna menolong si manusia
yang menderita. Mulai tampaklah timbulnya sikap congkak
pada si ahli-bedah.
· Bedah-toraks dan bedah-jantung.
Di atas diuraikan, dikarenakan penemuan-penemuan ilmiah
yang beruntun, maka pengetahuan bedah dapat mengalami
kemajuan yang amat menyolok, sehingga lambat laun dirasa-
kan kebutuhan untuk diadakannya spesialisasi dalam cabang-
cabang bidang bedah. Dengan makin memantapnya bidang-
bidang cabang ilmu-bedah tadi, maka hampir-hampir tak ada
bagian atau organ di dalam tubuh manusia yang tak dapat di-
capai dengan pisau bedah. Karena si sakit terbius berdiam diri
tak merasakan nyeri, karena organ-organ dapat diusahakan
tampak sejelas-jelasnya pada mata dan terletak diam tak ber-
gerak, maka hanya kehendak, kemahiran dan keberanian si
ahli-bedah saja yang menentukan apakah, organ manakah, dan
sampai manakah dibedah atau tidak dibedah. Akhirnya ada
hanya satu organ yang masih merupakan tantangan dahsyat
bagi si ahli-bedah, yaitu organ jantung. Organ ini merupakan
organ tunggal (bukan organ ganda-dua seperti ginjal), organ
vital dan berfaal sentral; organ ini tidak terletak diam, sehingga
mudah untuk dilakukan operasi, tapi berdenyut, terus ber-
gerak. Namun, juga rintangan-rintangan ini tidak menyebabkan
ahli-bedah menjadi putus asa.
Bedah-toraks sesungguhnya baru mulai berkembang sejak
awal abad ke--XX ini. Sebelum tahun 1900 operasi toraks
dilakukan terutama untuk melakukan dekortikasi pada paru-
paru yang telah terselubungi oleh selaput sangat tebal akibat
empyema yang menahun. Pembedahan macam itu dijalankan
antaranya oleh Beck (.lerman), Fowler (Amerika), Felorme
(Perancis), dan Lambotte (Belgia), pada umumnya dengan
hasil-hasil yang kurang memuaskan, terutama karena sesudah
rongga dada dibuka kemudian dilakukan drenase secara
terbuka, keadaan pnemotoraks tak dapat dikuasainya.
Dasar-dasar bagi bedah-toraks modern baru diletakkan oleh
Ferdinand Sauerbruch yang pada tahun 1904 membuat kamar
bertekanan negatif, dalam mana dilakukan pembedahan toraks
olehnya. Cara demikian amat rumit dan tidak praktis, akhirnya
diganti dengan penemuan Meltzer dan Auer yang membuat
alat anestesi endotracheal bertekanan positif. Tabun 1907
Mann mulai dan menganjurkan melakukan drenase rongga
toraks secara tertutup, di bawah permukaan air di dalam botol;
sesungguhnya, cara ini sudah terlebih dahulu dikemukakan
tahun I891 oleh Bulau. Dalam dua dasawarsa yang pertama,
bedah-toraks dipergunakan guna menolong para penderita
dengan tuberkulosis, dimana cara-cara kollaps-paru-paru me-
nurut Sauerbruch sangat banyak diterapkan. Kemudian me-
nyusul tindakan-tindakan "torako-plastik", yaitu memotong
beberapa tulang iga bagian atas untuk menyesuaikan bentuk
rongga dada kepada paru yang dikempiskan. Menyusul lalu
tindakan-tindakan lobektomi pada penyakit bronchiektasi;
tindakan pnemektomi, memotong seluruh paru sebelah, pada
penyakit ini, dilakukan pertama kali tahun 1931. Akhirnya
penyakit kanker paru-paru juga diobati dengan cara ektomi.
Selama tahun-tahun berkecamuknya PD ke--I dan ke--II ilmu
bedah toraks mendapatkan pengalaman-pengalaman yang
sangat berharga.
· Bedah jantung.
Sampai dengan berakhirnya PD ke--II bedah jantung jarang
sekali dilakukan. Kalau kita mengikuti sejarah, maka sudah
pada tahun I628 Harvey pertama menguraikan tentang sistem
peredaran darah. Namun baru tiga abad kemudian bedah
kardiovaskuler memulai perkembangannya. Terutama pem-
bedahan pada jantung merupakan kisah abad ke--XX. Seorang
ilmuwan ahli sejarah bernama Stephen Paget tahun 1896
dalam buku "The surgery of the Chest" yang ia tulis sendiri,
mengatakan "Agaknya pembedahan pada jantunglah batas
yang ditentukan oleh alam kepada ilmu-bedah. Tak ada pe-
nemuan atau metoda baru yang mampu untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan dalam menolong luka pada jantung".
Namun, satu tahun kemudian, Rehn orang pertama yang ber-
hasil menjahit luka pada jantung yang tertusuk pisau. la pula
yang pertama kali dengan menggunakan jarum suntikan me-
nyerap darah dari dalam perikardium, saku yang membungkus
jantung. Sekitar waktu itu Felorme mencoba melakukan
perikardiektomi pada kasus perikarditis konstriktiva kronika.
20 Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981
Namun ia gagal, pasiennya meninggal. Baru tahun 1920
Schmieden melakukan operasi ini dengan sukses.
Dasar-dasar bagi bedah-vaskuler diletakkan oleh Alexis
Carrel, yang tahun 1905 menguraikan cara yang ia pakai
dalam menyambung pembuluh darah. Tahun 1908 ia melapor-
kan usahanya yang berhasil dalam menyambungkan pada
aorta anjing sebuah graft aorta yang telah disimpannya selama
30 hari. Kemudian menyusul laporan sarjana-sarjana lain yang
melakukan pembedahan pada aneurysmata.
Apabila selama 100 tahun sesudah Lister perkembangan
yang dialami ilmu-bedah pada umumnya sudah demikian
mengagumkan, maka lebih mempesonakan lagi pengembangan
bedah-jantung selama 2 - 3 dasawarsa sesudah berakhirnya
PD ke--II. Sebelum PD ini pembedahan terhadap kelainan
jantung belum pernah dilakukan dengan sukses. Sedangkan
hanya 20 tahun sesudah akhir perang itu seluruh dunia men-
jadi tercengang, karena praktis tak ada suatu penyakit atau
kelainan yang diderita organ jantung, yang tak dapat ditolong
dengan cara pembedahan. Dalam waktu hanya 20 tahun ilmu-
bedah-jantung mengalami kemajuan yang tak ada taranya.
Sebab utama ialah, karena negara-negara maju di Eropa dan
terutama Amerika, mengerahkan sarjana-sarjananya yang
terpandai dan dana yang tak terbatas untuk menyelidiki
sebab-musabab penyakit jantung, cara-cara pengobatannya
dan peralatan yang diperlukan untuk itu.
Jantung, organ vital di dalam tubuh manusia, adalah ciptaan
Tuhan yang sungguh sangat menakjubkan, yang tak henti-
hentinya mengingatkan kita kepada ke mahakuasaan Tuhan.
Sejak terciptakannya foetus dan dilahirkannya si bayi organ
ini mendenyut secara sangat teratur, sekian kali dalam semenit,
tiap jam, tiap hari, tiap bulan, tiap tahun, tanpa hentinya;
sampai akhirnya ia berhenti, dan berakhirlah hidup si manusia.
Tugas organ jantung ialah sebagai pompa mengalirkan darah,
untuk mengambil zat perncernaan dan zat asam dari tempat-
tempat tertentu dalam tubuh, kemudian membagikannya ke
seluruh tubuh pula. Agar tugas ini ditunaikan secara baik, tak
boleh ada gangguan dalam sistem saluran di dalam pompa, dan
dinding pemompa harus tetap terpelihara dengan sempurna.
Beberapa penyakit pada orang dewasa dapat menyebabkan
kerusakan atau kelemahan pada dinding pompa, atau me-
nyebabkan katup-katup dalam pompa menjadi kaku sehingga
tak dapat berfaal dengan baik. Demikian pula, gangguan dalam
pertumbuhan foetus dapat menyebabkan timbulnya kelainan
pada bagian-bagian pompa atau sistem saluran dalam pompa,
sehingga perimbangan peredaran dalam pompa menjadi ter-
ganggu, yang akhirnya tak dapat dilayani oleh dinding pompa.
Sebab-sebab, hakekat dan sifat-sifat penyakit jantung ini
memang sudah sejak lama diketahui, namun manusia tidak
berdaya untuk menanggulanginya, kecuali sekedar memberi
obat-obat. Para penderita dengan kelainan jantung akhirnya
semua mati akibat penyakitnya tadi. Manusia tak mampu
untuk memperbaiki kelainan yang terdapat di dalam jantung.
Mengapa ? Karena jantung tidak dapat dihentikan dari denyut-
an sehingga diam dan dapat dibuka untuk diperbaiki kelainan-
nya. Kalau jantung berhenti berdenyut, maka peredaran darah
yang membawa zat-zat hidup ke seluruh tubuh, terutama otak,
akan terhentikan pula. Otak misalnya, apabila terhentikan
dari pembagian zat asam selama lebih dari 4 menit, akan
mengalami kerusakan-kerusakan yang ireversibel dan tak dapat
diperbaiki lagi. Jadi, yang menjadi problema pokok ialah:
bagaimana caranya dapat masuk ke dalam jantung yang ber-
henti berdenyut guna memperbaiki kelainannya, tanpa darah
sendiri berhenti beredar. Problema ini diatasi oleh si manusia
pemburu kawakan, oleh si ahli-bedah pencari ilmu. Tugas me-
mompa oleh jantung diganti dilakukan oleh mesin-jantung-
paru-paru buatan, kemudian jantung sementara dihentikan dari
tugas memompa, dihentikan berdenyut untuk dibuka dan
dioperasi. Sesederhana itu caranya, seribu kali rumit pelaksana-
an dalam kenyataannya.
Tahap-tahap pengembangan bedah-jantung adalah sebagai
berikut :
(1) Bedah-jantung secara "tertutup". Pembedahan mula-
mula pada jantung dilakukan pada kelainan yang berada di
dalam dan di sekitar jantung, dimana tidak diperlukan mem-
buka rongga jantung, misalnya: mitral stenosis, pulmonary
stenosis, patent ductus arteriosus dan coarctation aortae.
(2) Bedah-jantung "terbuka" dengan menggunakan hipoter-
mi buatan. Pada tahap ini, faal jantung dihentikan selama
waktu terbatas (pendek) dengan cara mendinginkan pasien.
Dengan menurunkan suhu badan, maka intensitas pertukaran
zat diturunkan pula, sehingga peredaran darah ke otak, ke
jantung dan ke sungsum belakang dapat dihentikan untuk
waktu pendek terbatas. Dan dalam batas waktu terbatas ini,
sekitar 8 menit, perbaikan kelainan jantung sudah ha
rus selesai
dilaksanakan.
(3) Bedah-jantung terbuka secara "by-pass" jantung-paru-
pa
ru (sekaligus), dengan menggunakan mesin jantung-paru-
paru buatan, yang makin disempurnakan keamanan kerjanya,
sejak tahun 1955 banyak dilakukan, dan kini di rumah-rumah
sakit besar negara-negara maju seolah-olah merupakan pro-
sedur rutin sehari-hari. Selama masa perkembangan bedah-
jantung terbuka bermacam mesin jantung-paru-paru di design
dan dijualnya, misalnya mesin-mesin macam: Mayo-Gibbon,
Lillehei-de Wall, Kolff, Rygg-Kyvsgaard, dll. Mesin dapat
menggantikan tugas jantung (dan paru-paru) selama beberapa
jam bila diperlukan; jantung dapat dihentikan dari tugasnya
selama waktu yang diperlukan untuk memperbaiki kelainan,
tanpa membahayakan keadaan metabolik bagi otak, otot
jantung, sungsum belakang, ginjal, hati dan organ-organ vital
lainnya. Sesudah diasingkan dari tugas memompa, jantung
bila dianggap perlu dapat dihentikan mendenyut (kardioplegi),
dibuka, dikeringkan dari darah, sehingga kelainan tampak
dengan mata, kemudian dapat diperbaiki secara tenang dan
cermat.
Tahap-tahap kemajuan yang dialami bedah-jantung tersebut
tadi sungguh tak akan mungkin berlangsung, tanpa penggunaan
penemuan-penemuan seperti diuraikan diatas; pula tak mung-
kin tanpa pengerahan sarjana-sarjana yang terpandai, yang
pada gilirannya memeras kepandaian otaknya, mencurahkan
ketrampilan dan dedikasinya. Untuk lengkapnya, di sini akan
disebut beberapa penemuan dan cara pemeriksaan, yang me-
rupakan faktor-faktor penting, sehingga pembedahan-pem-
bedahan dalam jantung dapat dilaksanakan dengan hasil-hasil
yang demikian menakjubkan.
Cermin
Dunia
Kedokteran
No. 21, 1981 2I
(i) Pemeriksaan dengan sinarX;
sudah diuraikan lebih
dahulu.
(ii) Elektrokardiografi (EKG).
Cara pemeriksaan elektro-
kardiografis sendiri dalam sejarahnya mengalami perkembang-
an secara meluas dan mendalam, sehingga dapat memberi
data-data yang lebih cermat lagi mengenai keadaan kesehatan
berbagai dinding jantung, sehingga dapat dibuat diagnosis dan
indikasi operasi yang lebih cermat.
(iii) Kateterisasi jantung.
Adalah Forsman yang tahun 1929
memeriksa keadaan dalam jantung dengan memasukkan
kateter melalui pembuluh vena ke dalam rongga jantung:
memasukkannya ke dalam jantung badannya sendiri. Ia ber-
sama Cournand yang tahun 1941 juga melakukan kateterisasi
jantung, keduanya mendapatkan hadiah Nobel. Melalui kateter
itu dapat diukur tekanan-tekanan di dalam bermacam rongga
jantung; dapat ditentukan kadar zat 02 dan CO2 darah di
dalam rongga-rongga tadi; pula dapat disuntikkan zat kontrast
ke dalam rongga untuk kemudian dilakukan pemotretan,
sehingga dapat dilihat adanya kelainan. Sternberg-lah yang
tahun 1938 memulai cara pemeriksaan angiokardiografis ini,
yang kemudian dapat berkembang menjadi cara cineangio-
kardiografi. Sones melanjutkan cara pemeriksaan itu dengan
memulai cineangiografi bagi pembuluh-pembuluh koroner,
sehingga dapat tampak kelainan penyumbatan koroner.
Cara ini kemudian dapat mengembangkan metoda bedah-
koroner-bypass , yaitu metoda menjahitkan sepotong pem-
buluh vena kepada pembuluh koroner yang tersumbat dengan
melintasi tempat penyumbatan tadi. Dengan cara koroner-
bypass ini, yang dalam dasawarsa akhir ini menjadi amat
populer, supply darah kepada bagian dinding jantung yang
lemah dapat diperbaiki kembali.
Ke-tiga metoda yang diuraikan diatas tadi merupakan tambah-
an cara pemeriksaan sebagai kelengkapan persiapan pre-
operatif. Tidak kalah pentingnya ialah dilakukannya ke-
lengkapan perawatan secara post-operatif yang disebut :
(iv) "Intensive Care Unit"
(ICU). Pembedahan jantung baru
dapat dipertanggung jawabkan apabila dipenuhi keharusan
mutlak, yaitu adanya fasilitas ICU. Unit demikian meliputi :
ruangan perawatan yang memenuhi persyaratan dan di-
organisasi sebagai "intensive care".
alat monitoring modern dan alat-alat lain yang diperlukan
untuk mengetahui keadaan pasien setiap detik dan dapat
memberi pertolongan dengan sangat segera kepadanya.
personil medis dan para-medis yang berpengetahuan,
trampil dan terlatih.
Semua kelengkapan seperti disebut di atas tadi ikut me-
nyebabkan sehingga bedah-jantung dalam jangka waktu dua
dasawarsa saja dapat berkembang secara revolusioner dan
sangat menakjubkan, hal mana tidak pernah dialami oleh
bidang manapun dalam ilmu kedokteran. Dengan mengguna-
kan segala akal dan inisiatifnya, dengan mempergunakan
semua hasil penemuannya, akhirnya terpenuhilah ambisi si
manusia-ilmuwan
dalam keinginannya
dapat
menguasai
rahasia-rahasia yang berada di dalam jantung, yang hingga kini
membuatnya merasa tak berdaya untuk mendekatinya.
Dengan kemajuan pesat yang dialami bedah-jantung tadi,
akhirnya hampir semua macam penyakit jantung dapat di-
tolong dengan cara pembedahan. Penyakit-penyakit ini dapat
dibagi dalam kelompok-kelompok sbb :
(1) Penyakit bawaan-dari-lahir pada anak ("congenital heart
diseases"), yang dibagi lagi dalam 2 golongan :
golongan non-sianotik, yang tidak sampai menimbulkan
kulit anak berwarna biru;
- golongan sianotik, yang menyebabkan anak menjadi tam-
pak biru pada gerakan jasmani.
(2) Penyakit-diperdapat ("acquired heart diseases") pada
orang dewasa :
kelainan yang biasanya disebabkan karena penyakit rheu-
ma, dan menyebabkan menjadi rusaknya katup-katup
jantung;
kelainan penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh
koroner yang dapat disebabkan oleh hiperkholesterolemia,
aterosklerosis, diabetes mellitus, hipertensi.
Penguasaan penyakit jantung demikian hanya dapat di-
laksanakan oleh yang disebut "unit bedah-jantung", tidak
mungkin oleh seorang ahli-bedah jantung sendirian atau
dengan menggunakan unit sederhana. Suatu unit bedah-
jantung agar dapat berfungsi dan bekerja dengan baik, harus
merupakan :
perpaduan kerja yang harmonis antara: ahli-bedah dan
asisten-asistennya, ahli anestesi, tenaga-tenaga para-medis,
ahli teknik mesin-jantung, ahli fisiologi, ahli paru-paru, ahli
laboratorium, ahli rontgen, ahli tenggorokan;
unit yang memiliki peralatan "sophisticated" guna melaku-
kan pemeriksaan-pemeriksaan diagnostik, perawatan pre-
operatif, tindakan-tindakan dan kontrol selama operasi,
kontrol dan tindakan-tindakan selama perawatan post-operatif;
Unit demikian untuk dapat bergerak secara harmonis dan
efisien memerlukan kemampuan organisasi dan management
disamping penguasaan ilmu-bedah, dan jelas membutuhkan
biaya yang amat besar sekali, karena itu dapat berkembang
dengan leluasa di negara-negara industriil-maju, tidak di negara-
negara sedang-berkembang, yang meletakkan prioritas lebih
dahulu kepada pembangunan ekonomi bagi rakyat banyak.
Bagaimanakah keadaan, pengembangan dan prospek ilmu-
bedah di Indonesia ? Indonesia berkenalan dengan ilmu-
pengetahuan Barat pada umumnya baru sejak abad keXX ini
saja, melalui ilmuwan-ilmuwan Belanda. Demikianpun ilmu-
bedah baru mulai dipelajarkan sedikit-sedikit kepada orang-
orang Indonesia dalam Sekolah Dokter Jawa dahulu, sekolah
kedokteran NIAS sejak tahun 1912 di Surabaya dan "Genees-
kundige Hooge School" tahun 1920-an di
Jakarta. Dapat di-
katakan, sesudah kemerdekaan negara, mentor-mentor per-
tama dalam ilmu-bedah adalah Profesor-profesor Soekarjo dan
Oetama di Jakarta, Salim di
Jawa Tengah, M. Soetojo di Jawa
Timur, Picauly di Sumatera Utara. Generasi murid-murid yang
kemudian mengganti generasi tua tadi antara lain terdiri, atas
Djamaludin, Koestedjo, Ramlan Mochtar, Bert Djohar, Soenar-
jo, Harjono, Irsan Radjamin dll. untuk bedah-umum; Irwan
Soerjo Santoso, Achmad Djohar, Eri Soedewo untuk bedah-
toraks; Soejoto dan Soebiakto untuk bedah-ortopedi; S.K.
Handojo dan Basoeki untuk bedah-syaraf dan otak; Moenadjat
untuk bedah-plastik; d.l.s. Generasi ini pada gilirannya men-
didik murid-murid penggantinya, antara lain dapat disebut dua
2 2 Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981
orang yang sangat aktif dan mahir dalam bedah toraks-dan-
jantung: Soerarso di Jakarta dan Puruhito di Surabaya.
Pada umumnya, ilmuwan-ilmuwan "baru" bangsa Indonesia
secara luwes sekali dapat menerima dan meneruskan ilmu yang
diajarkan atau ditinggalkan oleh sarjana-sarjana Belanda,
termasuk ilmu-bedah. Maka, sesudah kemerdekaan politis
dicapai oleh negara, tanggung-jawab keilmuan dipikul dan di-
teruskan oleh ilmuwan-ilmuwan bangsa sendiri, termasuk ilmu-
bedah dan dapat terus berjalan dan berkembang secara lancar,
tanpa terlampau ketinggalan bila dibanding dengan pelaksana-
an dalam dunia internasional. Apabila toh terdapat "ketinggal-
an", maka hal itu terletak dalam kekurangan alat-alat teknis
"sophisticated" modern, yang belum terjangkau terbeli oleh
kemampuan negara yang masih muda. Hal "ketinggalan"
demikian itu lebih lebih tampak dalam bidang bedah-jantung,
dimana semua alat-alat dan bahan-bahan yang dipakai mahal
sekali harganya. Secara kasar dapat dikatakan bahwa hal
tersebut menyebabkan Indonesia dalam bidang kedokteran-
umum dan bedah-umum mungkin ketinggalan sebanyak 3
sampai 5 tahun, sedangkan dalam bidang bedah-jantung
mungkin ketinggalan sebanyak 10 sampai 15 tahun, bila di-
bandingkan dengan keadaan maju di Eropa atau Amerika.
Namun, apabila nanti negara kita telah dapat mengejar ke-
terbelakangan dalam bidang ekonomis-finansiil, maka dengan
kemampuan pengadaan alat-alat modern ilmuwan-ilmuwan
Indonesia yang secara pengetahuan teori maupun kemahiran
tangan tidak banyak berbeda dengan sejawat-sejawatnya di
negara maju; pasti segera akan dapat mengejar keterbelakangan
tersebut di atas itu.
· Bedah-transplantasi.
Kini sampailah kita pada bagian akhir (sementara ini) dari-
pada perkembangan ilmu-bedah, yang tidak akan menjadi
lengkap, tanpa dibentangkannya bagian bedah, yang teramat
menonjol, yang telah menghebohkan dan dihebohkan oleh
dunia keilmiahan, bahkan juga oleh dunia non-ilmiah, yaitu
bedah-transplantasi. Transplantasi jantung telah mengheboh-
kan dan dihebohkan karena kemampuan dan keberanian
manusia untuk membuang jantung sesama manusia yang sakit
dan menggantikannya dengan sebuah jantung lainnya yang
masih sehat. Kemampuan melakukan transplantasi jantung
dianggap sebagai puncak kemampuan dan ketrampilan manusia
-ilmuwan di dalam dunia kedokteran. Namun, apakah keber-
hasilan unggul itu sungguh merupakan sukses yang bermanfaat
bagi si sakit, masih merupakan perdebatan yang sengit.
Pernah diuraikan di atas, bahwa hampir tak ada lagi pe-
nyakit jantung, dimana ahli penyakit-dalam telah berputus-asa
untuk menyembuhkannya, yang tak dapat ditolong dengan
cara bedah-jantung. Namun, sesuatu waktu (pada dasawarsa
60-an) dihadapi beberapa penyakit-jantung, yang ahli-bedah
jantung terulung pun harus mengakui belum mampu me-
nolongnya. Misalnya: keadaan jantung yang amat lemah
disebabkan kerusakan-kerusakan pada otot dinding ventrikel
sebagai akibat penyakit pembuluh koroner, yang disebut
"arterio-sclerotic coronary heart disease", keadaan jantung
yang ke-4 katupnya mengalami kerusakan akibat rheuma
atau lainnya, jantung bayi baru lahir yang menunjukkan
kelainan-bawaan sangat abnormal. Terhadap penyakit jantung
yang demikian itu, sejak dari mula dikandung pemikiran,
apakah jantung sakit demikian itu tak sebaiknya dibuang saja
dan diganti dengan jantung lainnya yang sehat, apabila ter-
sedia; jadi mencangkokkan jantung lain.
Sebelum tahun 1900, pemikiran tentang mencangkokkan
jantung manusia merupakan impian dan keinginan khayalan
belaka. Tahun 1905 Carrel dan Gutrie yang pertama kali men-
cangkok sebuah jantung anjing pada leher seekor anjing lain;
jantung tadi dapat tetap mendenyut selama 21 jam. Baru 30
tahun kemudian Mann dick melakukan lagi pencangkokkan
.
jantung meniru Carrel namun dengan teknik yang berbeda;
jantung mereka "hidup" selama 8 hari, sebelum terjadi peris-
tiwa pelemparan ("rejection"). Eksperimen transplantasi
jantung binatang selama 50-an tahun sejak Carrel berjumlah
ratusan sudah, dilakukan antara lain oleh ilmuwan-ilmuwan
seperti: Fownie, Marcus, Femichow Webb, Goldberg, dll,
semua dilakukan di dalam laboratorium eksperimen besar-
besar: Teknik pencangkokkan sudah cukup dikuasai, berkat
pengalaman yang banyak itu. Lazimnya dipakai sebagai cara-
dasar ialah metoda yang pertama kali diberitakan oleh Shum-
way dan Lower. Namun cukup disadari, bahwa data-data yang
diperoleh dengan percobaan pada hewan, tak dapat begitu
saja di-extrapolasikan kepada manusia.
Riwayat eksperimentasi pendahuluan selama setengah abad
tadi kemudian memungkinkan bedah-transplantasi jantung
modern mengembang sejak tahun 1960-an. Kalau kita mem-
bentangkan tentang pengembangan transplantasi jantung,
maka segera akan timbul menonjol nama-nama seperti
Chris-
tiaan Barnard dengan pasien-pasiennya pertama Louis Wash-
kansky dan Philip Blaiberg; Hardy, Norman Shumway dan
Lower, Denton A. Cooley, Michael de Bakey, dll. lagi.
Adalah Hardy, yang laboratoriumnya telah merniliki
pengalaman transplantasi jantung-hewan 200 kali lebih, tahun
1964 melakukan transplantasi jantung pertama kali pada
manusia. Pasiennya seorang pria berumur 68 tahun dengan
90% pembuluh koronernya dalam keadaan tersumbat dan
suatu waktu dalam keadaan shock karena "terminal myocar-
dial failure". Baginya sudah tersedia dua donor: di sebuah
kamar seekor chimpanzee yang telah dibius; di kamar samping-
nya seorang muda korban kecelakaan dengan kerusakan
otaknya dan dirawat sebagai "prospective heart donor
"
Namun, walaupun diketahui bahwa pemuda ini tak akan
mungkin menjadi sembuh dan terus hidup, keadaannya
sedemikian rupa sehingga ia tak dapat dinyatakan sudah mati
untuk dapat diambil jantungnya sebagai donor. Maka akhirnya
diputuskan untuk menggunakan jantung chimpanzee sebagai
jantung donor. Operasi pencangkokkan berlangsung selama
2½ jam, jantung cangkokkan mulai mendenyut secara cukup
kuat. Akan.tetapi, jantung chimpanzee yang berberat 43 kg itu
tidak cukup kuat untuk menanggulangi banyaknya peredaran
darah pasien. Pasien meninggal satu jam sesudah pencangkok-
kan. Hardy sendiri menyadari, bahwa transplantasi jantung
mengandung faktor-faktor emosionil
yang fundamentil;
penerapannya secara klinis menimbulkan berbagai pertanyaan
emosionil. Melakukan pembedahan pada pasien
yang
sedang
menghadapi ajalnya, sekaligus menghadapi prospective donor
yang belum meninggal pula, menimbulkan persoalan-persoalan
kerohanian. Hardy memang menetapkan syarat, bahwa donor
Cermin Dunia Kedokteran
No. 2 1, 1981 2 3
seyogyanya seorang muda yang menghadapi ajalnya karena
kerusakan jaringan otaknya. Namun masih tinggal pertanyaan
yang harus dijawab: " Berapa lama-kah sesudah
donor
"meninggal", atau berapa lamakah sebelum ia "meninggal",
jantungnya dapat diambil ?
Kemudian, Christiaan Barnard, ahli-bedah toraks berbangsa
Afrika Selatan, namanya terjun ke dalam sejarah kedokteran
karena keberaniannya, untuk pertama kali melakukan bedah-
transplantasi jantung secara klinis dari manusia ke manusia di
rumah sakit Groote Schuur di Kaapstad. Pasiennya pertama
yang menyatakan bersedia mengalami operasi transplantasi
jantung ialah Louis Washansky umur 54 tahun, seorang pen-
derita diabetes yang tiga pembuluh koronernya dalam keadaan
tersumbat. Pada tanggal 10 Desember 1967 keadaannya men-
jadi amat buruk; kebetulan pada hari sama itu masuk dirawat
seorang wanita berumur 25 tahun karena mendapat kecelaka-
an; pasien ini merupakan seorang donor yang ideal. Sesudah
donor ini di-sertifikasikan "telah meninggal", maka dimulai
pembedahan transplantasi. Jantung Washansky dipotong-
buang, dan jantung wanita dicangkokkan kepada resipien.
Operasi berlangsung dan berakhir secara baik. Pada hari ke-12
pasien diperbolehkan keluar dari tempat tidur untuk berjalan-
jalan. Namun pada hari ke-18 Washansky meninggal dunia
akibat radang paru-paru. Pada obduksi tampak pada jantung
cangkokan adanya gejala serangan imunologik. Pasiennya
ke-2 adalah dokter gigi Philip Blaiberg, yang dioperasi tanggal
2 Januari 1968. Juga padanya operasi berhasil, ia keluar
perawatan pada hari ke-74. Ia meninggal 19 1/2 bulan sesudah
operasi.
Tiga hari sesudah operasi pertama Barnard, Adriaan Kantro-
witz melakukan transplantasi jantung pada bayi berumur 2½
minggu, diambil dari seorang bayi pula yang an-encephal
(tak berkepala). Pasiennya meninggal 6 jam sesudah operasi.
Empat hari sesudah operasi Barnard ke-2, Norman Shum-
way melakukan bedah transplantasi pada seorang resipien
berumur 54 tahun. Pasien ini meninggal 2 minggu sesudah
operasi.
Michael de Bakey, selah seorang ahli-bedah jantung ber-
kaliber raksasa di Houston, dalam jangka waktu 4 bulan tahun
1968 melakukan 10 kali operasi transplantasi. Hanya tiga
orang dapat hidup 6 sampai 8 bulan sesudah operasi.
Denton Cooley, di dalam rumah sakit di seberang jalan,
selama 7 bulan melakukan 18 kali pembedahan transplantasi
jantung. Lima penderita hidup 6 bulan sesudah operasi.
Berpuluh-puluh ahli-bedah lainnya tersebar di seluruh dunia
sesudah itu melakukan pembedahan transplantasi jantung,
seolah-olah hal itu merupakan suatu persoalan prestise nama
klinik, nama ahli-bedah, bahkan merupakan mode. Bahnson
dari Pittsburg menyamakan "rage transplantasi" itu dengan
suatu epidemi yang melanda mula-mula benua Amerika Serikat,
kemudian Eropa, akhirnya seluruh dunia. Sekitar tahun 1970
itu pada beratus orang dilakukan pembedahan transplantasi
jantung. Beratus orang itu diketahui secara pasti oleh dokter
akan meninggal dunia dalam waktu singkat karena jantungnya
sakit parah, maka diikhtiarkan oleh si ahli-bedah agar dapat
hidup lebih lama. Pada waktu bersamaan itu, beratus orang
lainnya yang menurut pengertian lama mungkin belum "mati
"
,
dinyatakan " sudah mati", agar dapat diambil jantungnya
untuk dicangkokkan kepada orang-orang pertama tadi. Disini
sejarah menyaksikan bahwa ilmu pengetahuan sampai pada
titik dimana si ilmuwan bergerak dekat sekali dengan batas
antara hidup dan mati: kepastian mat belum mau diterima
secara pasti, sedangkan masih adanya hidup ditetapkan sebagai
kepastian mati.
Apakah si manusia-pemburu-kawanan dalam ikhtiarnya menemukan
kembali sifat kedewaannya, menganggap telah berhasil menemukannya,
kemudian ber-prestasi berhak, sama dengan Dewa, untuk dapat me-
nentukan batas antara hidup dan mati ?
Laporan-laporan kemudian menyatakan, seperti juga di-
bentangkan oleh keluarga pasien Blaiberg, bahwa semua pasien
dengan jantung-cangkokan hidupnya menderita . Sebagian
besar resipien meninggal dalam waktu singkat sesudah operasi;
ada yang hidup selama beberapa bulan, beberapa pasien dapat
hidup satu atau beberapa tahun. Akhirnya semua pasien me-
ninggal akibat transplantasinya.
Sejak tahun 1970-an pemberitaan mengenai transplantasi-
jantung menjadi sangat berkurang. Agaknya para ahli-bedah
jantung menjadi lebih cenderung untuk menunggu berhasil
diciptakannya jantung-buatan dari bahan sintetis, yang di-
rencanakan memiliki mekanisme memompa secara terus-
menerus. Agaknya tampak kecenderungan untuk meninggal-
kan cara men-transplantasikan jantung dari seorang donor.
Bedah transplantasi, sesungguhnya sudah lama bukan lagi
merupakan tindakan yang menakjubkan. Mesir purbakala
misalnya sudah mengenal oto-transplantasi: memindahkan
jaringan pasien sendiri untuk menutup kerusakan hidung.
Transplantasi kulit, juga transplantasi tulang sudah lama di-
kenal dan diterapkan. Transplantasi kornea dalam tiga dasa-
warsa terakhir ini sudah banyak sekali dilakukan, juga di
Jakarta tindakan ini sudah hampir menjadi rutin. Juga sejak
tahun 1950-an ilmu-bedah mulai pengalamannya dengan
transplantasi ginjal, yaitu transplantasi antara donor dan
resipien yang keluarga maupun bukan-keluarga. Mula-mula
paling banyak 25% dari ginjal-ginjal "tamu" tetap berfaal baik
sesudah 1 tahun operasi. Angka "survival" ini kemudian men-
jadi lebih baik lagi, sesudah dapat diberikan obat-obat immu-
no-suppressif post-operatif, seperti: serum anti-limfositik,
globulin anti-limfosit, azathioprin dan kortikosteroid, dll.
yang dapat mencegah proses "rejection . Sesudah itu dilapor-
kan operasi-operasi transplantasi hati sebanyak beberapa kali,
tetapi dengan hasil-hasil yang masih jauh dari memuaskan.
Akhirnya operasi transplantasi jantung masuk dalam sejarah
kedokteran secara sangat mengesankan.
Usaha manusia dalam bidang transplantasi tidak berhenti
disini. Sumber yang tidak pasti memberitakan dilakukannya
transplantasi organ mata keseluruhan. Orang-orang Rusia
dengan bangga melaporkan dilakukannya transplantasi penis
yang berhasil di Moskow. Diberitakan tentang Prof. David
Hun7e dari Virginia yang menguraikan tentang kemungkinan
mentranplantasikan otak manusia, yaitu secara mencangkok-
kan seluruh kepala kepada badan manusia "yang masih sehat".
Dalam hal ini menjadi pertanyaan yang manakah yang harus
dipandang sebagai resipien: badankah, kepalakah ?
Apabila kita meneruskan iinajinasi kita, maka sebentar lagi
mungkin akan muncul seorang "ilmuwan" yang akan meng-
uraikan tentang kemungkinan mencangkokkan nyawa atau roh
24 Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981
manusia kepada manusia
lain yang
"sudah meninggal dunia
tetapi badannya masih sehat" ?
Epilog.
Manusia,
si
pemburu-kawakan, memang merasa yakin pasti akan
dapat menemukan tempat rahasia dimana
Brahma
menyembunyikan
sifat kedewaan manusia. Ia merasa pasti dapat menemukan jawaban atas
semua rahasia
yang
tersimpan
di
dalam tubuh manusia. Rintangan-
-rintangan yang dipasang untuk menghalanginya dapat ia singkirkan satu
demi satu.
Dan
masuklah ia ke dalam tubuh manusia. Pisaunya menya-
yat semakin dalam, terus mencari dan meneliti apa
yang
ia jumpai.
Sewaktu mendekati jantung, terhentilah ia. Ia merasa tertarik, terpe-
sona. Inikah tempat rahasia dimana
Brahma
menyembunyikan ? Atau
di
tempat lainkah ? Ia
harus
dapat membuka d
an
masuk ke dalam
jantung ! Disini pula banyak dan besar rintangan yang ia hadapi; Dewa-
-dewa berusaha dengan segala daya untuk mencegahnya. Namun, demi-
kianlah sifat manusia
-
pemburu itu: tak ada
pintu
tertutup
yang
tak ia
coba untuk didobraknya.
Dan
berhasillah akhirnya ia masuk ke dalam
jantung. Teruslah ia mencari, meneliti. Sukses
-
sukses
yang
ia alami,
makin memperbesar semangatnya akhirnya membuat ia menjadi taka-
bur. Seolah-olah ia merasa yakin rahasia
Brahma
telah berada dalam
jangkauan tangannya! Sehingga ia menjadi cenderung untuk melakukan
hal-hal
yang
sesungguhnya
di
luar batas kemampuannya.
Dan di
sinilah
ia akan mengalami kegagalan !
Kita, manusia
Indonesia,
menganut filsafah hidup Pancasila,
yang
mengajarkan bahwa Tuhan-lah
Yang
Maha Esa. Ia
yang
menciptakan alam semesta serta makhluk
-
makhluk
di
dunia,
di
antara mana manusia
yang
tertinggi. Ia
yang
menentukan
manusia hidup
di
dalam dunia
yang
fana
Ia pula menentu-
kan manusia pada suatu waktu akan mati. Bagi-Nya tak ada
perbedaan antara hidup dan mati. Namun bagi makhluk-
-makhluk ciptaan-Nya Ia
yang
menentukan batas antara hidup
dan mati, batas antara dunia sekarang dan dunia akhirat.
Melalui Rasul-Rasul dipelajarkan kepada manusia tentang ada
nya dunia akhirat itu, tentang cara-cara baik mana manusia
harus hidup sekarang ini, mengabdi kepada Tuhan, agama,
keluarga dan sesama manusia. Memang manusia diciptakan
sebagai makhluk
yang
bermartabat lebih tinggi, yakni memiliki
akal
-
pikiran serta dapat menggunakan bahasa, sehingga ia
dapat menguasai kehidupan
di
dunia ini. Ia memang diciptakan
beserta budi
-
nuraninya
yang
merupakan cerminan daripada
sifat-sifat ke-Tuhan
-an.
Dengan karunia akal
-
pikiran dan
bahasa ia dapat menggali dan terus berusaha mempelajari
segala ciptaan Tuhan
di
alam semesta ini. Memang, sejak mula
terciptanya manusia mencobalah ia mencari jawaban-jawaban
atas pertanyaan
-
pertanyaan hakiki mengenai maksud
-
maksud
terciptanya alam semesta dan mengenai maksud
-
maksud
beradanya manusia dalam dunia ini. Namun ia tidak sampai
dapat menjangkau apa dunia akhirat itu dan apa maksud
manusia hidup dalam dunia ini beserta suka dan duka
yang
ia
kecap dan derita. Karena sifat ke-Tuhan
-an yang
tercermin
pada manusia itu adalah sangat terbatas dan sangat tidak
sempurna, tidak mungkin sama dengan sifat-sifat
yang
dimiliki
Tuhan. Manusia tidak mungkin sama dengan Tuhan. Pastilah
salah dan pastilah ia akan mengalami kegagalan, apabila ia
suatu waktu mengira memiliki kemampuan
yang
sama dengan
kemampuan Tuhan atau
yang
melampaui batas-batas
yang
telah ditetapkan oleh Tuhan.
Demikian pula, si ahli-bedah jantung, si sarjana penggali
ilmu pengetahuan
yang
penuh dengan inisiatif dan kepercaya-
an
pada diri
sendiri ,
dalam melakukan tindakan pembedahan
transplantasi, berada
di
sekitar batas-batas kemampuannya
sebagai manusia
yang
telah ditetapkan Tuhan. Apabila ia
kurang tahu diri, bersikap
"
mentang
-
mentang" karena merasa
dirinya amat pintar, hendak melampaui batas-batas
yang
telah
ditetapkan oleh Tuhan, ia pasti akan mengalami kegagalan.
APA
YANG AN
D
A LAKUKAN BILA AN
D
A LUPA AKAN NAMA SESEORANG ?
Anda pasti merasa kikuk bila mendadak ditegur oleh
seseorang dan anda tak ingat siapa namanya. Dia mungkin
seorang kawan
lama,
atau kenalan
di
tempat kerja, tapi
sementara anda saling bertegur sapa, anda sadar bahwa anda
lupa akan nama teman
tsb.
Celakanya, percakapan tadi berlarut-larut dan terlambat
untuk bertanya "maaf, saya lupa namamu.
"
Keadaan ini
membuat anda lebih canggung lagi, karena kini anda me-
ngaku tidak hanya lupa akan namanya, tapi telah "berpura-
pura tahu
"
selama beberapa menit bercakap-cakap tadi.
Bagaimana pemecahannya ? Mungkin cara terbaik ialah
menyadari secepat-cepatnya bahwa anda perlu segera me-
ngetahui/mengingat kembali namanya. Karena kejadian ini
dapat terjadi setiap saat, lebih baik anda bersiap-siap.
Begitu anda lupa akan nama teman bicara anda, pada
permulaan percakapan segera anda mengaku lupa akan
namanya, dan menanyakannya. Umumnya, lebih cepat ini
dilakukan,lebih cepat keadaan canggung dihindarkan dan
dilupakan.
Executive s Personal Development Letter, Des. 1980
Cermin
Dunia Kedokteran
No. 21, 1981 2 5