Artikel
Prinsip Penatalaksanaan Lekemia
A. Harryanto Reksodiputro, Chairul Amal Nasution
Subbagian Hematologi-Onkologi Medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Lekemia dilaporkan sebagai suatu kesatuan penyakit pada
tahun 1845 oleh Bennet dan Virchow. Kedua orang ini mene-
mukan adanya pembesaran limpa dan darah yang menyerupai
nanah pada otopsi penderita penyakit menahun dan progresif,
dengan penyebab yang tidak diketahui. Virchow (tahun 1847)
menyebut penyakit ini sebagai lckemia.
Penyakit lekemia ditandai oleh adanya proliferasi tak ter-
kendali dari satu atau beberapa jenis sel darah. Hal ini terjadi
karena adanya perubahan pada kromosom sel induk sistim
hemopoetik.
Pada orang dewasa set sistim hemopoetik dan limfoid ber-
asal dari scl induk multipotensial dalam sumsum tulang. Sel
sistim hemopoctik adalah scl yang terus menerus berproliferasi,
karena itu set ini lcbih potensial untuk bcrtransformasi menjadi
set ganas dan lebih peka terhadap obat toksik seperti sitostatika
dan radiasi. Akibat proliferasi sel yang tidak terkendali ini tcrjadi
kenaikan kadar satu atau beberapa jenis sel darah dan pengham-
batan pembentukan set darah lainnya dcngan akibat terjadinya
anemi, trombositopeni dan granulositopcni.
Perubahan kromosom yang terjadi merupakan tahap awal
onkogenesis dan prosesnya sangat kompleks, melibatkan faktor
intrinsik (host) dan ekstrinsik (lingkungan). Pengetahuan ten-
tang patogenesis terjadinya lekemia diperolch bcrkat hasil pene-
litian bcrbagai disiplin ilmu, terutama ahli gcnctik, ahli biologi
molekul, ahli virus dan ahli imunologi.
Perkembangan teknik sitokimia, petanda imunologik sel,
teknik genetika sel, dan adanya mikroskop elektron me-
mungkinkan adanya pembagian atau subklasifikasi lekemia.
Dibacakan di Simposiwn Lekemia dan Limfome Malignum, Padang, 25 Ju1i 1992
ETIOLOGI
Walaupun penyebab Ickemia bclum sepcnuhnya diketahui,
sejumlah faktor terbukti berpengaruh dan dapat menyebabkan
lekemia, baik faktor intrinsik (host) ataupun faktor ekstrinsik
(lingkungan).
A. Faktor intrinsik
Keturunan
Lekemia tidak diwariskan, tetapi sejumlah individu me-
miliki faktor predisposisi untuk mendapatkannya. Risiko ter-
jadinya lekemia mcningkat pada kembar identik pcnderita
lekemia akut, demikian pula walaupun jarang, pada saudara
lainnya.
Kelainan kromosom
Kejadian lckemia meningkat pada penderita dcngan ke-
lainan fragilitas kromosom (Sindrom Bloom dan Anemia
Fanconi) atau pada pcndcrita dcngan jumlah kromosom yang
abnormal seperti pada Sindrom Down, Klinefcltcr, dan Turner.
Defisiensi imun
Sistim imunitas tubuh kita mcmiliki kemampuan untuk
mengidentifikasi scl yang berubah menjadi scl ganas. Ganggu-
an pada sistim tersebut dapat menyebabkan beberapa sel ganas
lolos dan selanjutnya berproliferasi hingga menimbulkan pe-
nyakit.
Disfungsi sumsum tulang, scperti sindrom mielodisplastik,
mieloproliferatif, anemia aplastik dan hemoglobinuria noktur-
nal paroksismal.
B. Faktor Lingkungan
Radiasi
Adanya efek lekemogenik dan ionisasi radiasi, dibuktikan
dengan tingginya insidens lekemia pada ahli radiologi (sebelum
ditemukannya alat pelindung), penderita dengan pembesaran
kelenjar timus, ankilosing spondilitis, dan penyakit Hodgkin
yang mendapat terapi radiasi. Diperkirakan 10 persen penderita
lekemia memiliki latar belakang radiasi. Bukti yang kuat adalah
tingginya insidens lekemia setelah peristiwa pemboman Hiro-
shima dan Nagasaki.
Bahan kimia dan obat-obatan
Pemaparan terhadap benzen dalam jumlah besar dan ber-
langsung lama dapat menimbulkan lekemia. Kejadian ini akan
sangat meningkat pada penderita anemia aplastik. Demikian
pula halnya setelah pengobatan dengan obat golongan antra-
siklin.
Infeksi
Belum dapat dibuktikan bahwa penyebab lekemia pada
manusia adalah virus, walaupun ada beberapa penelitian yang
menyokong teori tersebut antara lain dengan ditemukannya
enzim reverse transcriptase dalam darah penderita lekemia.
Kelainan paling mendasar dalam proses terjadinya kega-
nasan adalah kelainan genetik sel. Proses transformasi menjadi
sel ganas dimulai saat DNA gen suatu sel mengalami perubahan.
Perlu diingat bahwa adanya gangguan pada beberapa
tingkatan dan aktifitas faktor-faktor yang diperlukan dalam gra-
nulopoesis yang normal, merupakan faktor yang diperlukan
untuk perkembangan dan progresifitas dari lekemia akut dan
menahun. Kejadian lekemia berbeda pada berbagai umur, pe-
nampilan klinik, kelangsungan hidup dan respons terhadap
pengobatan. Hal ini disebabkan adanya variasi respons pejamu-
nya.
PEMBAGIAN LEKEMIA
Lekemia dibagi menjadi lekemia akut dan menahun. Pem-
bagian ini tidak mencerminkan lamanya harapan hidup, tetapi
masih menggambarkan kecepatan timbulnya gejala clan kom-
plikasi. Lekemia yang terjadi akibat proliferasi set muda, perja-
lanan penyakitnya cepat menjadi buruk dan fatal. Penyakit ini
digolongkan dalam kelompok lekemia akut; hal sebaliknya ter-
jadi pada lekemia menahun.
Semua lekemia dibagi menurut set asalnya yaitu lekemia
yang berasal dari seri limfoid dan yang berasal dari seri bukan
limfoid atau mielosit, yaitu sel yang hanya dapat dibentuk dan
berdiferensiasi dalam sumsum tulang.
Lekemia non limfoid akut
Lekemia non limfoid akut merupakan 25 persen dari seluruh
penderita lekemia, yang menyerang golongan umur menengah
dan setengah tua. Harapan hidup median bila tidak diobati hanya
12 bulan.
Menurut klasifikasi French American British (FAB) lekemia
non limfoblastik akut dibagi menjadi :
Ml : Lekemia mieloblastik tanpa pematangan
M2 : Lekemia mieloblastik dengan berbagai derajat pematangan
M3 : Lekemia progranulositik
M4 : Lekemia mielo-monoblastik
M5 : Lekemia monoblastik
M6 : Eritrolekemia
M7 : Lekemia megakariositik
Lekemia limfoblastik akut
Penderita lekemia limfoblastik akut menunjukkan sekitar
20 persen dari seluruh penderita lekemia dan pada anak-anak
merupakan lekemia yang paling sering ditemukan. Sel ganasnya
dapat berasal dari sumsum tulang, tumor, dan kelenjar getah
bening. Penyakit ini dibagi menurut sifat dan petanda imuno-
logis yang dimilikinya menjadi lekemia limfoblastik akut sub
jenis sel T dan sel B. Menurut klasifikasi FAB, lekemia limfo-
blastik akut dibagi menjadi 3 sub jenis, yaitu L1, L2 dan L3
(Burkitt).
Jangkitan di Iuar sumsum tulang lebih sering ditemukan
pada lekemia limfoblastik akut dibandingkan dengan lekemia
non limfoblastik akut. Organ yang sering terjangkit adalah su-
sunan saraf pusat dan testis (terutama pada anak).
Lekemia granulositik kronik
Penyakit lekemia granulositik kronik (LGK) terjadi akibat
proliferasi ganas pada sekelompok sel induk multipotensial yang
mengalami translokasi kromosom yaitu translokasi sebagian
lengan panjang kromosom nomor 22 ke nomor 9. Kromosom
yang telah mengalami kelainan ini dinamakan kromosom
Philadelphia. Secara klinis LGK dibagi dalam fase kronis,
akselerasi dan krisis blastik, yang berbeda dalam penatalaksana-
annya.
Lekemia limfositik kronik
Di negara banal lekemia limfositik kronik merupakan 25
persen dari seluruh penderita lekemia yang menyerang terutama
pada usia menengah dan lanjut. Di Indonesia belum diketahui
berapa besar presentasinya, nampaknya lebih rendah apabila
dibanding dengan kejadian di negara Barat.
Lekemia limfositik menahun adalah satu-satunya jenis
lekemia dimana pembagian menjadi beberapa stadium penyakit
bermanfaat untuk pengobatan penderita. Sesuai kepentingan
pengobatan jenis lekemia ini dibagi menjadi stadium 0, 1, 2, 3,
dan 4. Harapan hidup seluruh penderita adalah sekitar 5 tahun.
Sebagian kecil penderita lekemia limfositik kronik memiliki
petanda dari sifat set T pada sel lekemianya; disebut lekemia
limfositik kronik set T.
PERBEDAAN LEKEMIA AKUT DAN LEKEMIA KRO-
NIK :
Lekemia akut
Lekemia kronik
Umur
Onset penyakit
Perjalanan penyakit
Sel lekemia
Anemi, trombositopeni
Jumlah lekosit
Pembesaran kelenjar
Pembesaran limpa
Semua umur
Tiba-tiba
< 6 bulan
Sel-sel tidak
matang
Menonjol
Bervariasi
Ringan
Ringan
Dewasa
Perlahan
26 tahun
Sel matang
Ringan
Meningkat
Jelas
Jelas
GAMBARAN KLINIS
Pada dasarnya sukar membedakan gejala klinis penderita
lekemia akut yang satu dengan yang lainnya, kecuali beberapa
gejala spesifik seperti hipertropi gusi, ulkus rektum dan vagina
yang ditemukan pada lekemia akut mielo-monositik. Pembesar-
an kelenjar getah bening ditemukan terutama pada lekemia akut
limfoblastik.
Perasaan lelah, pucat, demam dan perdarahan adalah gejala
utama pada penderita lekemia akibat terdcsaknya hemopoesis sel
normal di dalam sumsum tulang.
Perdarahan gusi, epistaksis, ataupun perdarahan saluran
cema, cepat menarik perhatian dan tak jarang merupakan gejala
utama yang menyebabkan penderita memeriksakan diri. Pen-
derita lekemia progranulositik akut umumnya mengalami per-
darahan sedang sampai berat dengan adanya ekimosis yang luas
di kulit serta cenderung mengalami koagulasi intravaskular
diseminata. Pada lekemia limfoblastik akut perdarahan biasanya
ringan.
Infeksi, seperti abses piogenik dan atau adanya septikemia,
biasanya sering terjadi, terutama pada lekemia non limfoblastik
akut yang dapat berakhir fatal dan merupakan keadaan yang
segera harus diatasi. Hal ini berhubungan dcngan terjadinya
neutropeni dan adanya defisiensi imun. Infcksi yang sering
dijumpai adalah infeksi saluran napas atas dan bawah, selulitis,
paronikia, dan otitis media.
Adanya pembesaran kclenjargctah bening dan limpa dalam
ukuran ringan sampai sedang, suing dijumpai pada penderita
lekemia limfoblastik akut tapi jarang pada lekemia non limfo-
blastik.
Gangguan susunan saraf pusat dapat terjadi akibat adanya
perdarahan, infiltrasi sel lekemia atau infcksi. Perdarahan dalam
susunan saraf pusat acapkali merupakan masalah gawat dan
biasanya terjadi akibat kenaikan jumlah lekosit dengan cepat,
trombositopeni yang cepat dan adanya koagulopati intravaskular
diseminata.
Lekcmia meningeal suing terjadi padaanak dcngan lekemia
limfoblastik akut. Gejala utama komplikasi ini berupa sakit
kepala, muntah, gelisah, kelumpuhan saraf otak, meningitis, dan
edema papil. Pemeriksaan cairan serebrospinal perlu dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah lekosit yang
umumnya normal atau meningkat, biasanya kurang dari 50.000/
mm3, atau dapat juga lekopcni. Pada lekemia limfoblastik akut
sckurangnya terdapat 50% limfoblas pada 2/3 kasus, sedangkan
pada non limfoblastik biasanya bias ditemukan kurang dari 10
perscn. Trombositopenia yang bcrat (< 20.000/mm3), suing di-
jumpai pada pendcrita dengan lekemia akut non limfoblastik.
Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan hiperseluler, dengan
penurunan jumlah critrosit dan granulosit. Dapat juga ditemukan
kcadaan hiposclulcr seperti pada pendcrita lekemia non limfo-
blastik yang berkembang dari anemia aplastik atau nokturnal
naroksismal hacmoglobinuria atau setclah pengobatan dengan
radiasi atau kemoterapi. Umumnya terdapat peningkatan enzim
LDH dan asam urat scrum.
Gambaran klinis pendcrita lekemia granulositik kronik ti-
dak jelas. Biasanya penderita mengeluh rasa lemas, perut terasa
penuh dan kadang-kadang sakit akibat limpa yang membesar.
Pada darah tepi didapatkan lekositosis yang amat mencolok
dengan pergeseran ke kiri. Promielosit dan mieloblas dapat
mencapai 510 persen, sedang jumlah trombosit biasanya
meningkat. Sumsum tulang hiperseluler dengan dominasi seri
granulositik. Pada 90% penderita dijumpai kromosom Phila-
delphia.
Gejala klinis yang sering ditemukan pada lekemia limfosi-
tik kronik adalah pembesaran kelenjar getah bening dan limpa.
Akibat terjadinya penurunan imunitas humoral, frekuensi ter-
jadinya infeksi bakterial meningkat. Pemeriksaan darah tepi
menunjukkan kenaikan jumlah limfosit dan pada sumsum tulang
ditemukan dominasi sel limfosit tua. Sel ganas pada penyakit ini
berada dalam tingkat pematangan yang cukup lanjut sehingga
bisa turut dalam sirkulasi.
DIAGNOSIS
Hal terpenting dalam menegakkan diagnosis lekemia, ter-
utama pada jenis akut, adalah mengenal dan membedakan
lekemia limfoblastik akut atau lekemia non limfoblastik akut,
karena keduanya berbeda pengobatannya. Penentuan jenis leke-
mia dapat melalui interpretasi gambaran morfologi sel dan reaksi
pewarnaan histokimia.
Aktifitas Tdt pada inti sel lekemia sangat membantu, men-
diagnosis lekemia limfoblastik akut.
Lekemia dapat didiagnosis melalui pemeriksaan dan pe-
wamaan sediaan darah tepi pada sebagian besar kasus, namun
pemcriksaan aspirasi sumsum tulang selalu dilakukan pada
penderita lekemia yang barn untuk mengetahui klasifikasi dan
subklasifikasinya. Hal ini schubungan dengan banyaknya obat
atau regimen baru dengan spesifikasi tertentu.
PENGELOLAAN
Pengelolaan penderita dengan kecurigaan lekemia adalah
sebagai bcrikut :
Membuat riwayat penyakit yang lengkap termasuk riwayat
pengobatan yang pernah diperoleh, pekerjaan, radiasi, dan pe-
maparan dcngan bahan-bahan kimia.
Pemeriksaan fisik yang lengkap, dengan perhatian khusus
pada suhu, kelenjar getah bening, susunan saraf pusat, dan
tempat-tempat yang potensial terinfeksi (kulit, kaiak, mulut
termasuk gusi, paru-paru dan daerah perianal).
Pemeriksaan darah tepi berupa hematokrit, lekosit, from-
bosh, dan hitung jenis lekosit.
Pemcriksaan sumsum tulang, baik biopsi untuk mengetahui
scluleritas ataupun aspirasi sumsum tulang, dcngan pewarnaan
Wright dan Sudan Black.
Pemcriksaan kimia darah bcrupa elcktrolit, asam urat,
urcum, krcatinin, dan hemostasis.
Pemeriksaan cairan scrcbrospinal pada kasus-kasus ter-
tcntu.
- Foto toraks.
- Pemeriksaan golongan darah pendcrita dan keluarganya.
Khusus pada penderita lekemia limfoblastik akut periling
diperiksa petanda sel B dan T pada permukaannya. Bila hal ini
tidak memungkinkan, lakukan pewarnaan fosfatase asam sedia-
an sumsum tulang. Hal ini periling untuk mengidentifikasikan
adanya leukemia associated antigen yaitu B ALL, T ALL, Non
B Non T, yang sangat berguna untuk mengetahui harapan hidup
dan prognosis penderita.
PROGNOSIS
Telah dilaporkan bahwa penderita lekemia akut limfoblastik
dengan CALLA positif, baik pada anak atau dewasa, memiliki
prognosis yang baik.
PENGOBATAN
Pengobatan lekemia akut bertujuan untuk mencapai keada-
an bebas penyakit (remisi sempurna), untuk waktu yang cukup
lama. Bila mungkin dicapai kesembuhan sempuma.
Di antara penderita yang mencapai remisi sempurna 15
sampai 30 persen diharapkan akan sembuh, sedangkan di antara
penderita yang telah berada dalam keadaan remisi sempurna
selama lima tahun, 4050% diharapkan akan sembuh. Faktor
yang berperan dalam keberhasilan pengobatan pada penderita
adalah :
Keadaan umum penderita.
Usia penderita.
Jenis lekemia. Angka kesembuhan lekemia limfoblastik
akut lebih besar dari pada lekemia akutnon limfoblastik. Progno-
sis lekemia non limfoblastik akut bergantung pada subjenisnya.
Ml (klasifikasi FAB) memiliki prognosis paling baik, sedangkan
M7 paling buruk.
Jumlah lekosit sebelum diobati. Penderita dengan jumlah
lekosit tinggi hasil pengobatannya kurang baik dibandingkan
dengan lekosit rendah.
Tahap pengobatan lekemia akut dengan sitostatika :
induksi : bertujuan untuk menurunkan jumlah sel lekosit
muda ke tingkat yang normal, atau disebut keadaan remisi
lengkap. Tahap ini berlangsung 11,5 bulan.
konsolidasi : bertujuan untuk lebih menurunkan kadar sel
lekemia serendah mungkin. Berlangsung 11,5 bulan.
maintenance : bertujuan untuk menjaga agar kadar sel leke-
mia tetap pada tingkat serendah-rendahnya.
Alternatif pengobatan lekemia akut adalah sebagai berikut:
Pengobatan dengan sitostatika konvensional.
Pengobatan dengan sitostatika, yang setelah dicapai keada-
an remisi dilanjutkan dengan transplantasi sumsum tulang. Trans-
plantasi sumsum tulang dimaksudkan untuk mencapai presentasi
kesembuhan yang lebih tinggi.
OBAT SITOSTATIKA YANG SERING DIPAKAI DALAM
LEKEMIA
Lekemia Akut Limfoblastik :
Induksi : Kombinasi vinkristin, daunorubisin, prednison
asparaginase, (Remisi komplit mencapai 94%).
Konsolidasi, dengan komposisi yang sama seperti fase
induksi atau kombinasi tenoposide dengan sitosin arabinose
atau metotreksat dengan leucovorin.
* Diberikan profilaksis lekemia meningeal segera sebelum
atau sesudah pengobatan konsolidasi dcngan metotreaksat se-
cara intratekal.
Maintenance, dengan 6 merkaptopurin dan methotrexat
selama 30 bulan.
Bila terjadi relaps diberikan Amsacrine 7590 mg/m2/hari
selama 7 hari atau Mitoxantron.
Lekemia granulositik akut
Induksi : daunorubisin dan sitosin arabinosida. Remisi
komplit mencapai lebih 65% dalam 23 minggu.
Post remisi : Sitosin arabinosida dengan 6 merkaptopurin
setiap 3 bulan selama 3 tahun.
Profilaksis lekemia meningeal tidak diberikan.
Saat ini diketahui pula bahwa lekemia promielogranulositik
akut sensitif terhadap daunorubisin, sedangkan lekemia mono-
sitik akut sensitif terhadap etoposide. Juga diketahui pula bahwa
lekemia promieolositik akut juga responsif terhadap tretinoin
(all-trans retinoic acid).
Lekemia granulositik kronik
Pengobatan lekemia granulositik kronik bertujuan untuk
mengatasi gejala yang diakibatkan oleh sel lekemia, baik yang
terdapat dalam darah maupun dalam berbagai organ tubuh lain-
nya (limpa, hati).
Pengobatan dengan obat hanya mampu memperbaiki kuali-
tas hidup penderita namun tidak banyak pengaruhnya pada per-
jalanan penyakit penderita. Yang dapat mengubah perjalanan
penyakit penderita adalah transplantasi sumsum tulang. Trans-
plantasi sumsum tulang alogenik dapat menyembuhkan sebagian
penderita. Tanpa transplantasi harapan hidup penderita lekemia
granulositik kronik adalah 34 tahun.
Obat yang paling sering digunakan termasuk kelompok
obat-obat alkylating yaitu busulfan dan hidroksiurea. Radiasi
dapat mengecilkan splenomegali.
Lekemia limfositik kronik
Pengobatan lekemia limfositik kronik pada dasamya tidak
akan mengubah harapan hidup, karena itu pengobatan bertujuan
untuk mengatasi gejala penyakit dan komplikasinya. Penyakit ini
berespon terhadap kortikosterioid dan obat-obat alkylating
(siklofosfamid, klorambusil).
Pengobatan sebaiknya dilakukan pada tempat yang me-
miliki kemampuan pengobatan suportif, misalnya sarana trans-
fusi trombosit, di samping kelengkapan tenaga dan ruangan yang
dapat mengurangi kejadian infeksi selama pengobatan dengan
sitostatika, terutama pada saat aplastik. Keberadaan ruangan
semi steril bahkan ruangan steril sangat menunjang keberhasilan
pengobatan.
KEPUSTAKAAN
1. IsbiterJP. Clinical Haematology. A Clinical Oriented Approach. Williams &
Wilkins Adis Pty Limited. NSW, Australia, 1986.
2. Buchner T, Schellong G, Hidenman W, Urbanitz D, Rittu J (eds), Acute
Leukemias, Prognostic factors and treatment strategies. Berlin Heidelberg:
Springer-Verlag, 1987.
3. Firkin F, Chesterman C, Penington D, Rush B. de Gruchy
'
s Clinical Haema-
tology in Medical Practice. 5th eds. Oxford London Edinburg: Blackwei.
Scient Pub], 1989. 5. Fralkov RJ. Chronic Leukemia. p. 1816-1847.
4. Wiemik PH. Acute leukemias cancer. Principles and Practice of Oncology,
in Vincent Devita Jr et al 3rd ed. Philadelphia: JB Lippincott CO, 1991,
1809-24.
5. Fralkov RJ, Chronic Leukemia, p. 18161847
6. Roy ES. Leukemia. Fundamental of Clinical Hematology, Laurell and
Thomp's, 5th ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 1987, 578-606.