background image
Artikel
ANALISIS
Pola Penggunaan Obat
dan Obat Tradisional
dalam Upaya Pengobatan Sendiri
di Pedesaan
Sudibyo Supardi, Sriana Aais, Nani Sukasediati
Pusat Penelitian Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Menurut SKRT 1992, prevalensi penduduk Indonesia yang mengeluh sakit sebulan
terakhir 21%, terendah (12%) di Propinsi Lampung. Untuk mengatasi keluhan tersebut,
sebagian besar masyarakat melakukan pengobatan sendiri pada tindakan pertama,
umumnya menggunakan obat dan obat tradisional. Dalam upaya peningkatan peran
serta masyarakat untuk mengobati sendiri keluhannya sebelum mendapat pertolongan
puskesmas, dibutuhkan informasi tentang pola penggunaan obat dan obat tradisional.
Penelitian cross sectional dilakukan di dua desa di Kecamatan Tanjung Bintang,
Lampung Selatan. Responden adalah ibu rumah tangga/wanita menikah yang meng-
gunakan obat dan obat tradisional dalam upaya pengobatan sendiri sebulan terakhir.
Responden diambil secara acak bertingkat (multi stage random sampling) berdasarkan
jumlah rukun warga, rukun tetangga dan rumah tangga sebanyak 320 orang. Data
dikumpulkan dengan wawancara dan observasi. Analisis data berupa distribusi fre-
kuensi dan nilai rata-rata.
Dari pembahasan, diambil kesimpulan sebagai berikut :
Prevalensi penggunaan obat dan obat tradisional di desa sebulan terakhir sekitar 74,4%,
lebih banyak yang menggunakan obat daripada obat tradisional.
Umumnya responden menggunakan obat untuk mengatasi keluhan pusing, demam
dan batuk, sesuai dengan pengetahuan mereka, dan sebagian besar menyatakan
sembuh. Umumnya responden membeli obat dari warung, dengan biaya rata-rata Rp
194, tanpa biaya dan alat transportasi, dan sumber informasi dari iklan televisi dan
radio.
Umumnya responden menggunakan obat tradisional untuk menjaga kesehatan dan
mengatasi keluhan diare dan pegel linu, sesuai dengan pengetahuan mereka, dan se-
bagian besar menyatakan sembuh. Umumnya responden membeli obat tradisional dari
pedagang keliling, dengan biaya rata-rata Rp 407, tanpa biaya dan alat transportasi, dan
sumber informasi dari tetangga.
PENDAHULUAN
Pengobatan sendiri merupakan bagian dari kebijakan
World Health Organization (WHO) dan pemerintah dalam
upaya pemerataan pelayanan kesehatan. Salah satu kebijakan
WHO tentang pelayanan kesehatan primer adalah upaya men-
capai kesehatan bagi semua penduduk (Health for all by the
year 2000)
(1)
.
Juga menurut Undang-undang nomor 23 tahun 1992 ten-
tang kesehatan, dinyatakan Kesehatan merupakan kewajiban
dan tanggung jawab setiap penduduk
(2)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 125,1999 5
background image
Pengobatan sendiri adalah upaya yang dilakukan orang
awam untuk mengatasi sakit atau keluhan yang dialaminya,
tanpa bantuan tenaga ahli medis/tradisional
(3)
. Pengobatan sen-
diri dapat menggunakan obat (OB), obat tradisional (OT) atau
cara tradisional. OB yang digunakan umumnya golongan obat
bebas dan obat bebas terbatas. Sedangkan OT yang digunakan
meliputi simplisia, jamu gendong dan jamu berbungkus.
Prevalensi penduduk Indonesia yang sakit selama sebulan
terakhir rata-rata 21%, terendah (12%) di Propinsi Lampung
(4)
.
Untuk mengatasi keluhan tersebut, sekitar 60% masyarakat per-
kotaan melakukan pengobatan sendiri menggunakan OB pada
tindakan pertama
(5)
. Menurut SKRT 1986, pengobatan sendiri :
69;7% menggunakan OB dan 23,2% menggunakan OT
(6)
.
Mengingat cukup besar persentase masyarakat yang mela-
kukan pengobatan sendiri, maka perlu upaya meningkatkan
mutu pengobatan sendiri agar lebih efisien. Penelitian ini
menggali informasi tersebut dan memformulasikannya, agar
dapat dimanfaatkan dalam kebijakan yang mendukung upaya
peningkatan mutu pengobatan sendiri.
METODA PENELITIAN
Penelitian cross sectional dilakukan di dua desa di Keca-
matan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, pada tahun 1996.
Sebagai responden adalah ibu rumah tangga/wanita menikah
yang menggunakan OB atau OT dalam upaya pengobatan sen-
diri sebulan terakhir. Responden diambil secara acak bertingkat
(multi stage random sampling) berdasarkan jumlah rukun
warga, rukun tetangga dan keluarga di desa terpilih. Jumlah
responden dihitung menurut rumus berikut
(7)
: SE = Z
p.q/n.
dengan p = 0,70 (pengobatan sendiri menggunakan OB
menurut SKRT 1986); untuk derajat kemaknaan 5% dibutuh-
kan minimal 320 responden. Data dikumpulkan dengan wa-
wancara dan observasi di rumah responden. Data diolah dalam
bentuk distribusi frekuensi dan perhitungan nilai rata-rata.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ibu rumah tangga
yang menggunakan OB atau OT dalam upaya pengobatan sen-
diri sebulan terakhir sebesar 74,4%. Persentase terbesar respon-
den menggunakan OB (80,9%) dan hanya sebagian kecil meng-
gunakan OT (19,1%). Pola ini nampaknya tidak berbeda jauh
dengan hasil SKRT 1986, yang menyatakan masyarakat dalam
melakukan pengobatan sendiri 69,7% menggunakan OB dan
23,3% menggunakan OT
(6)
.
Karakteristik responden, persentase terbesar berumur
kurang dari 30 tahun, tidak tamat SD, pekerjaan ibu rumah
tangga/petani dan pengeluaran per bulan tidak lebih dari Rp
200.000. Pola penggunaan OB dan OT oleh responden antara
lain berkaitan dengan pengetahuan tentang OB dan OT, tujuan
penggunaan, hasil pengobatan, sumber OB dan OT, biaya yang
dikeluarkan untuk membeli OB dan OT, biaya transportasi
untuk mendapatkan OB dan OT, jenis transportasi yang di-
gunakan dan sumber informasi (Tabel 1-8).
Tabel 1 menunjukkan pengetahuan responden tentang
nama-nama OB dan OT untuk mengatasi beberapa keluhan
umum. Persentase terbesar responden mampu menyebutkan
nama OB untuk demam, pusing dan batuk, dan menyebutkan
nama OT untuk diare dan pegel linu.
Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan pengetahuan tentang nama
obat dan obat tradisional.
Obat Obat
tradisional
Nama OB dan OT
untuk keluhan
Tahu
(%)
Tidak tahu
(%)
Tahu
(%)
Tidak tahu
(%)
Demam 58,4
41,6
24,7
75,3
Batuk 73,8
26,3
33,1
66,9
Pusing 88,4
11,6
6,6
93,4
Diare 41,9
58,1
54,7
45,3
Pegel linu
8,8
91,3
51,3
48,8
Promotif 5,6
94,4
47,5
52,5
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan tujuan penggunaan obat dan
obat tradisional.
Pengguna OB
Pengguna OT
Tujuan penggunaan
Jumlah (%) Jumlah (%)
Menjaga kesehatan
Pengobatan
12
247
4,6
95,4
43
18
70,5
29,5
Jumlah 259
100,0
61
100,0
Tabel 2 menunjukkan tujuan penggunaan OB dan OT oleh
responden. Persentase terbesar responden menggunakan OB
untuk pengobatan (kuratif), tetapi menggunakan OT untuk
menjaga kesehatan (promotif). Hal ini menunjukkan penge-
tahuan responden sesuai dengan tindakan mereka. Juga sesuai
dengan Supardi (1992), yang menyatakan ibu rumah tangga
cenderung menggunakan OB dan OT untuk tujuan berbeda. OB
cenderung digunakan untuk pengobatan keluhan : sakit kepala,
pilek, dan batuk, tetapi OT untuk keluhan : sariawan, pegel
linu, menjaga kesehatan sehabis melahirkan atau menstruasi,
dan melancarkan air susu ibu
(8)
.
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan penggunaan obat dan obat
tradisional untuk pengobatan (n = 265).
Pengguna OB
Pengguna OT
Keterangan
Jumlah (%) Jumlah (%n)
Pengobatan :
- Demam
31
12,6
1
5,6
- Batuk
28
11,3
1
5,6
- Pusing
139
56,3
3
16,6
- Diare/sakit perut
1l
4,5
8
44,4
- Pegel linu
3
1,2
5
27,8
- Sakit gigi
17
6,9
-
-
- Sesaknapas
4
1,6
-
-
- Flu/pilek
14
5,6
-
-
Hasil pengobatan :
- Tidak sembuh
53
21,5
5
27,8
- Sembuh
194
78,5
13
72,2
Jumlah 247
100,0
18
100,0
Tabel 3 menunjukkan indikasi penggunaan OB dan OT
untuk pengobatan (kuratif) dan hasilnya. Persentase terbesar
responden menggunakan OB untuk keluhan pusing, demam
dan batuk, dengan hasil 78,5% menyatakan sembuh; tetapi
menggunakan OT untuk keluhan diare dan pegel linu, dengan
hasil 72,2% menyatakan sembuh. Sembuh menurut responden
yaitu mampu menghilangkan keluhan, tanpa dikonfirmasikan
secara klinik. Responden yang menggunakan OT relatif lebih
sedikit, dan tampaknya merupakan alternatif dalam pengguna-
an OB. Keluhan pegel linu misalnya, seringkali etiologi dan
jenisnya berbeda, sehingga OB yang termasuk golongan obat
bebas atau obat bebas terbatas kurang dikenal, karena lebih
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
6
background image
banyak dalam golongan obat keras (harus dengan resep dokter).
Tabel 4. Distribusi responden berdasarkan sumber OB dan OT yang
digunakan.
Pengguna OB
Pengguna OT
Sumber OB dan OT
Jumlah (%) Jumlah (%)
Warung 246
95,0
17
27,8
Pedagang keliling
3
1,2
30
49,2
Tersedia di rumah
5
1,9
7
11,5
Toko obat
5
1,9
7
11,5
Jumlah 259
100,0
61
100,0
Tabel 4 menunjukkan tempat responden membeli OB atau
OT untuk mengatasi keluhannya. Persentase terbesar responden
mendapatkan OB dari warung, tetapi rnendapatkan OT dari
pedagang keliling. Toko obat sebagai outlet resmi kurang di-
manfaatkan masyarakat. Hal ini menunjukkan posisi warung
dan pedagang keliling (termasuk penjual jamu gendong) cukup
strategis untuk berperan serta dalam upaya meningkatkan mutu
pengobatan sendiri di desa.
Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan biaya obat dan obat tradi-
sional.
Biaya OB dan OT
Pengguna OB
Pengguna OT
Jumlah (%) Jumlah (%)
Tidak
membayar 6 2,3 6 9,8
Rp 1 ­ 250
227
87,6
28
45,9
Rp 251 ­ 500
16
6,2
17
27,9
Rp 501 ­ 1000
3
1,2
6
9,8
> Rp 1000
7
2,7
4
6,6
Jumlah 259
100,0
61
100,0
Tabel 5 menunjukkan biaya yang dikeluarkan responden
untuk membeli OB dan OT dalam upaya pengobatan sendiri,
tanpa memperhitungkan bentuk sediaan dan dosis yang diguna-
kan. Persentase terbesar responden menggunakan OB dengan
biaya Rp 1­250, demikian pula responden yang menggunakan
OT. B iaya untuk membeli OB rata-rata Rp 194 ± 289 dan OT
rata-rata Rp 407 ± 500. Biaya OT relatif lebih mahal daripada
biaya OB mungkin karena perbedaan bentuk sediaan, kemasan,
dan tujuan penggunaan.
Tabel 6 menunjukkan biaya transportasi yang dikeluarkan
responden untuk mendapatkan OB atau OT. Persentase terbesar
responden tidak membayar biaya transportasi untuk mendapat-
kan OB, demikian pula untuk OT. Hal ini menunjukkan bahwa
responden dapat mencapai sumber penjualan OB dan OT tanpa
rnenggunakan sarana transportasi umum.
Tabel 7 menunjukkan alat transportasi yang digunakan
responden untuk mencapai sumber OB dan OT. Persentase ter-
besar responden tidak menggunakan alat transportasi untuk
mencapai sumber OB, juga sumber OT. Bila dikaitkan dengan
Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan biaya transportasi ke sumber
obat dan obat tradisionai.
Pengguna OB
Pengguna OT
Biaya transportasi
Jumlah (%) Jumlah (`%)
Tidak membayar
257
99,2
57
93,5
Rp200-450 2
0,8
1
1,6
Rp 1000-20(X)
-
-
3
4,9
Jumlah 259
100,0
61
100,0
Tabel 7. Distribusi responden berdasarkan alat transportasi ke sumber
obat dan obat tradisional.
Pengguna OB
Pengguna OT
Alat transportasi
Jumlah (%) Jumlah (%)
Tidak menggunakan
252
97,3
49
80,3
Sepeda 3
1,2
7
11,5
Angkot 3
1,2
3
4,9
Motor 1
0,4
1
1,6
Becak -
-
1
1,6
Jumlah 259
100,0
61
100,0
biaya transportasi yang dikeluarkan responden (Tabel 6), dapat
disimpulkan bahwa sumber OB dan OT cukup merata sampai
di pelosok desa, sehingga mudah dijangkau dengan jalan kaki.
Tabel 8. Distribusi responden berdasarkan sumber informasi obat dan
obat tradisional.
Sumber informasi
Pengguna OB
Pengguna OT
Jumlah
(%)
Jumlah
(%)
Keluarga/tetangga 65 25,1 37 60,7
Iklan tv/radio
152
58,7
14
23,0
Penjual/brosur/wadah 34 13,1
5
8,2
Mantri/dukun/dll 8
3,1
5
8,2
Jumlah 259
100,0
61
100,0
Tabel 8 menunjukkan surnber informasi tentang OB dan
OT yang digunakan responden. Persentase terbesar responden
mendapat informasi tentang OB dari iklan radio atau televisi;
tetapi mendapat informasi OT dari keluarga/tetangga. Brosur
dan wadah sebagai sumber informasi resmi OB untuk peng-
obatan sendiri kurang dimanfaatkan masyarakat. Iklan televisi
dan radio menduduki posisi cukup strategis sebagai alat KIE
dalam upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri meng-
gunakan OB di desa. Supardi (1989), juga menyatakan bahwa
informasi OT umumnya berasal dari orang-orang tua. Dalam
hal ini upaya penyuluhan OT secara tidak langsung dapat
dilakukan melalui tokoh masyarakat.
KESIMPULAN
1) Penggunaan OB dan OT di masyarakat pedesaan sebulan
terakhir 74,4%, lebih banyak yang menggunakan OB daripada
OT.
2) Umumnya responden menggunakan OB untuk mengatasi
keluhan pusing, demam dan batuk, sesuai dengan pengetahuan
mereka, dan sebagian besar menyatakan sembuh.
3) Umumnya responden membeli OB dari warung, dengan
biaya rata-rata Rp 194, tanpa biaya dan alat transportasi, dan
sumber informasi dari iklan televisi dan radio.
4) Umumnya responden menggunakan OT untuk menjaga
kesehatan, dan mengatasi keluhan diare atau pegel linu, sesuai
dengan pengetahuan mereka, dan sebagian besar menyatakan
sembuh.
5) Umumnya responden membeli OT dari pedagang keliling
dengan biaya rata-rata Rp 407, tanpa biaya dan alat
transportasi, dan sumber informasi dari tetangga.
Dalam upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri di
pedesaan, disarankan agar: (a) warung sebagai outlet OB dan
penjual OT keliling di desa perlu diikut sertakan dalam penyu-
luhan, (b) penyuluhan OB lebih baik dilakukan melalui televisi
Cermin Dunia Kedokteran No. 125,1999 7
background image
dan radio, serta penyuluhan OT melalui tokoh masyarakat, (c)
materi penyuluhan diarahkan dan disesuaikan dengan penge-
tahuan dan penggunaan OB atau OT di masyarakat.
4.
Sumantri S et al. Survai Kesehatan Rumah Tangga. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Depkes RI, Jakarta 1992 : 60-3.
5.
Ministry of Health, WHO, FK-UNIKA Atma Jaya. Penggunaan obat pada
masyarakat perkotaan di tiga kota besar di Jawa. Jakarta 1993.
6.
Budiarso dkk. Survai Kesehatan Rumah Tangga 1986. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, Jakarta 1986 : 60-3.
KEPUSTAKAAN
1.
World Health Organization. Primary health care. Geneva 1978 : 7-8.
7.
Lwanga SK, Lemeshow S. Sample size determination in health studies (a
practical manual). World Health Organization, Geneva 1991 : 50-1.
2. Departemen Kesehatan. Undang-undang Republik Indonesia nomor: 23
tahun 1992 tentang kesehatan. Bab I pasal 1.
8. Supardi S. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat
tradisional dan obat di desa Tapos, Bogor. Cermin Dunia Farmasi 1992;
12: 1l-6.
3. Sukasediati N dkk. Temuan beberapa faktor penentu yang dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu pengobatan sendiri dari beberapa
desa di Kabupaten Lamongan dan Lombok Barat. Maj Kes Masy Indon
1992; 45: 14-9.
Telah diketemukan :
`gen penyebab kebotakan'
pada kromosom
penderita !
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
8